Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 18045 | 30 May 2025
Klinis : Seorang perempuan berusia 45 tahun datang ke UGD RSUD Lembang. Pada saat dilakukan pengkajian, ditemukan frekuensi nafas 34 kali/menit, pernafasan tidak teratur, terlihat penggunaan otot tambahan pernafasan, terdapat sputum dalam jumlah banyak, reflek batuk kurang.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum dan selamat siang, saya akan membantu Anda dalam memberikan diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan berdasarkan kondisi pasien yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien adalah "Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif" dengan definisi "Ketidakmampuan untuk mempertahankan pembersihan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk memfasilitasi pertukaran gas."
Kondisi pasien yang mendukung diagnosa ini adalah:
1. Frekuensi nafas 34 kali/menit, menunjukkan peningkatan usaha pernapasan.
2. Pernafasan tidak teratur, menunjukkan adanya gangguan dalam pola pernapasan.
3. Terlihat penggunaan otot tambahan pernapasan, menandakan peningkatan usaha untuk bernapas.
4. Terdapat sputum dalam jumlah banyak, menunjukkan adanya sekresi yang berlebihan.
5. Reflek batuk kurang, menunjukkan ketidakmampuan untuk membersihkan jalan napas secara efektif.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas Efektif: Pasien menunjukkan jalan napas yang terbuka dan bebas dari sekresi atau obstruksi, dengan parameter:
a. Frekuensi napas 12-20 kali/menit
b. Pola napas teratur
c. Tidak ada penggunaan otot tambahan pernapasan
d. Tidak ada sputum yang berlebihan
e. Reflek batuk efektif
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Jalan Napas
a. Bersihkan jalan napas menggunakan suction atau teknik batuk efektif
b. Posisikan pasien untuk memfasilitasi drainase sekresi
c. Berikan oksigen sesuai kebutuhan
d. Auskultasi suara napas dan identifikasi adanya suara napas tambahan
2. Manajemen Ventilasi
a. Pantau frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan
b. Kolaborasi dengan tenaga medis untuk pemberian terapi inhalasi atau nebulizer
c. Anjurkan pasien untuk melakukan latihan pernapasan
3. Manajemen Hiperventilasi
a. Pantau tanda-tanda hiperventilasi
b. Ajarkan teknik relaksasi dan kontrol pernapasan
c. Pertahankan lingkungan yang tenang dan nyaman
Demikian penjelasan rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan berdasarkan kondisi pasien yang Anda berikan. Semoga informasi ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu untuk menanyakannya. -
Article No. 18046 | 30 May 2025
Klinis : Pasien datang dengan keluhan sesak napas yang dirasakan pasien sejak 1 minggu srms keluhan disertai dengan batuk berdahak(+) demam(-) nyeri ulu hati(-) mual(+) doe(+) pnd(-) orthopnea(+) nyeri dada(- ) Pasien rutin CKD on HD stage V rutin di RS Satria Medika hari Senin dan Kamis Pasien riwayat TB paru on OAT bulan ke 4 PMH : CKD st V on HD, TB paru on OAT alerig(-) asma(-)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan keluhan dan kondisi pasien yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang dapat ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
1. Diagnosa Keperawatan:
a. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
SDKI Kode: 00031
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan lancarnya pernapasan.
b. Ketidakefektifan Pola Napas
SDKI Kode: 00032
Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan pola napas yang memberikan ventilasi adekuat.
c. Intoleransi Aktivitas
SDKI Kode: 00092
Definisi: Ketidakmampuan untuk bertoleransi terhadap aktivitas fisik.
2. Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
a. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
SDKI adalah klasifikasi standar diagnosis keperawatan yang dikeluarkan oleh PPNI. Setiap diagnosis keperawatan memiliki kode dan definisi yang terstandar.
b. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
SLKI adalah klasifikasi standar luaran (hasil) keperawatan yang dikeluarkan oleh PPNI. Setiap luaran keperawatan memiliki kode dan definisi yang terstandar.
c. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
SIKI adalah klasifikasi standar intervensi keperawatan yang dikeluarkan oleh PPNI. Setiap intervensi keperawatan memiliki kode dan definisi yang terstandar.
Dalam kasus ini, diagnosa keperawatan yang dapat ditetapkan berdasarkan kondisi pasien adalah Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif, Ketidakefektifan Pola Napas, dan Intoleransi Aktivitas. Masing-masing diagnosis keperawatan memiliki kode dan definisi yang telah distandarkan oleh PPNI. -
Article No. 18047 | 30 May 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
Penyebab: Akumulasi sekresi, mukus berlebih, dan kondisi penyakit pernapasan seperti tuberkulosis paru.
Tanda dan Gejala: Batuk berdahak, suara napas bronkial, dispnea, dan oksigenasi tidak efektif.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Bersihan Jalan Napas
- Pasien dapat mengeluarkan dahak dengan batuk secara efektif.
- Pasien menunjukkan bunyi napas yang bersih.
- Pasien menunjukkan peningkatan dalam oksigenasi.
- Pasien menunjukkan perbaikan dalam ventilasi.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Jalan Napas
- Lakukan pengisapan lendir dari saluran napas jika perlu.
- Berikan oksigen supplemental sesuai kebutuhan.
- Ajarkan teknik batuk efektif dan latihan napas dalam.
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian terapi obat sesuai indikasi.
2. Manajemen Nutrisi
- Kaji status nutrisi pasien dan identifikasi faktor-faktor yang memengaruhi.
- Berikan makanan sesuai kebutuhan gizi pasien untuk memulihkan kondisi.
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan intervensi nutrisi yang tepat.
3. Manajemen Demam
- Kaji tanda-tanda vital, terutama suhu tubuh.
- Berikan intervensi penurunan demam sesuai indikasi, seperti kompres hangat, antipiretik, dan hidratasi.
- Pantau respons pasien terhadap intervensi.
Penjelasan Rinci:
Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas, yang disebabkan oleh akumulasi sekresi dan kondisi penyakit pernapasan seperti tuberkulosis paru yang dialami pasien. Tanda dan gejala yang muncul adalah batuk berdahak, suara napas bronkial, dispnea, dan oksigenasi tidak efektif.
Luaran/output yang diharapkan adalah Bersihan Jalan Napas, dengan indikator pasien dapat mengeluarkan dahak dengan batuk secara efektif, menunjukkan bunyi napas yang bersih, peningkatan oksigenasi, dan perbaikan ventilasi.
Intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran tersebut adalah Manajemen Jalan Napas, Manajemen Nutrisi, dan Manajemen Demam. Manajemen Jalan Napas meliputi tindakan pengisapan lendir, pemberian oksigen, latihan batuk efektif, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain. Manajemen Nutrisi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi pasien dan memulihkan kondisinya. Manajemen Demam dilakukan untuk mengatasi tanda-tanda infeksi yang dialami pasien.
Dengan penerapan asuhan keperawatan yang komprehensif dan kolaboratif, diharapkan pasien dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu bersihan jalan napas yang efektif, sehingga dapat membantu pemulihan kondisi pasien dengan tuberkulosis paru. -
Article No. 18048 | 30 May 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang sesuai dengan kondisi pasien yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas (00031)
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang bebas.
2. Intoleransi aktivitas (00092)
Definisi: Ketidakmampuan untuk mentoleransi aktivitas fisik.
3. Risiko malnutrisi (00002)
Definisi: Berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak adekuat.
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas (00031)
Kode: 10001
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang bebas.
2. Intoleransi aktivitas (00092)
Kode: 10030
Definisi: Ketidakmampuan untuk mentoleransi aktivitas fisik.
3. Risiko malnutrisi (00002)
Kode: 10001
Definisi: Berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak adekuat.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Pemeliharaan jalan napas
Kode: 0410
Definisi: Tindakan untuk mempertahankan dan memperbaiki fungsi jalan napas.
2. Toleransi aktivitas
Kode: 0005
Definisi: Kemampuan untuk melakukan aktivitas fisik tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan.
3. Status nutrisi
Kode: 1008
Definisi: Keadaan yang mencerminkan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan nutrisi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen jalan napas
Kode: 6240
Definisi: Memfasilitasi masuknya dan keluarnya udara melalui saluran napas untuk mempertahankan atau meningkatkan ventilasi.
2. Manajemen aktivitas
Kode: 0200
Definisi: Pengaturan, pemberian, dan evaluasi aktivitas fisik untuk meningkatkan dan mempertahankan fungsi.
3. Manajemen nutrisi
Kode: 1100
Definisi: Pengaturan, pemberian, dan evaluasi nutrisi untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
Berdasarkan kondisi pasien yang Anda deskripsikan, diagnosa keperawatan yang tepat adalah Ketidakefektifan bersihan jalan napas, Intoleransi aktivitas, dan Risiko malnutrisi. Penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI serta kodenya telah saya berikan di atas. -
Article No. 18049 | 30 May 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis awal pada pasien ini adalah tuberkulosis paru. Berikut kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang mungkin dilakukan:
1. Kode ICD-10:
- Kode: A15.0
- Deskripsi: Tuberkulosis paru dengan lesi dalam paru.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 87.44
- Deskripsi: Pemeriksaan sputum untuk basil tahan asam (BTA), yang merupakan pemeriksaan diagnostik yang dilakukan untuk mengkonfirmasi diagnosis tuberkulosis paru.
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 A15.0 (Tuberkulosis paru dengan lesi dalam paru) sesuai dengan diagnosis awal tuberkulosis paru berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaan rontgen yang menunjukkan adanya lesi di paru.
2. Kode ICD-9-CM 87.44 (Pemeriksaan sputum untuk basil tahan asam) adalah prosedur diagnostik yang biasanya dilakukan untuk mengkonfirmasi diagnosis tuberkulosis paru dengan memeriksa keberadaan kuman Mycobacterium tuberculosis dalam sputum pasien.
Selain itu, pemeriksaan lanjutan yang mungkin dilakukan antara lain:
- Tes tuberkulin (uji Mantoux) untuk mendeteksi infeksi Mycobacterium tuberculosis
- Pemeriksaan kultur sputum untuk mengidentifikasi kuman penyebab
- Pemeriksaan rontgen toraks untuk mengevaluasi lesi di paru
- Pemeriksaan laboratorium lainnya seperti hitung sel darah, elektrolit, dan fungsi hati/ginjal. -
Article No. 18050 | 30 May 2025
Klinis : pasien An. A umur 2,5 tahun mengalami kejang demam di IGD 2x, px susah makan dan minum suhunya 38,7
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, kondisi pasien An. A dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R56.0
- Deskripsi: Kejang demam
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: Tidak ada prosedur atau tindakan medis yang spesifik tercatat.
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 R56.0 (Kejang demam) sesuai dengan gejala pasien yang mengalami kejang demam di IGD sebanyak 2 kali.
2. Tidak ada kode ICD-9-CM Procedure yang spesifik tercatat, karena tidak ada informasi mengenai tindakan medis yang dilakukan. Pasien hanya dilaporkan mengalami gejala susah makan dan minum dengan suhu 38,7°C.
Sebagai dokter atau perekam medis, saya menyimpulkan bahwa pasien An. A mengalami kejang demam berdasarkan kode ICD-10 R56.0, dan tidak ada tindakan medis spesifik yang dilakukan berdasarkan informasi yang diberikan. -
Article No. 18051 | 30 May 2025
Klinis : pasien An. A umur 2,5 tahun mengalami kejang demam di IGD 2x, px susah makan dan minum suhunya 38,7
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien An. A yang mengalami kejang demam, sulit makan dan minum serta suhu tubuh 38,7°C, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat, serta kode dan definisi berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan:
a. Risiko Terjadinya Cedera (SDKI: 00035)
Definisi: Kerentanan terhadap cedera fisik yang dapat mengganggu integritas fisik seseorang.
b. Hipertermia (SDKI: 00007)
Definisi: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal.
c. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh (SDKI: 00002)
Definisi: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
2. Penjelasan Singkat:
a. Risiko Terjadinya Cedera:
Pasien An. A berisiko mengalami cedera fisik akibat kejang demam yang dialaminya. Hal ini dapat mengganggu integritas fisik pasien.
b. Hipertermia:
Pasien An. A mengalami peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal, yaitu 38,7°C, yang merupakan gejala dari kejang demam.
c. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh:
Pasien An. A mengalami kesulitan dalam makan dan minum, yang dapat menyebabkan asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
3. Kode dan Definisi berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI:
a. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Risiko Terjadinya Cedera (00035)
- Hipertermia (00007)
- Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh (00002)
b. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Integritas Fisik: Cedera (1105)
- Termoregulasi (0800)
- Status Nutrisi (1004)
c. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Pencegahan Cedera (6490)
- Manajemen Demam (3740)
- Peningkatan Intake Nutrisi (1120)
Catatan: Kode dan definisi tersebut sesuai dengan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia. -
Article No. 18052 | 30 May 2025
Klinis : gangguan proses fikir
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan menjelaskan secara rinci dan terperinci sesuai dengan kondisi yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi "gangguan proses fikir":
Diagnosa keperawatan yang sesuai berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) adalah "Gangguan Proses Pikir". Gangguan Proses Pikir didefinisikan sebagai perubahan dalam kemampuan individu untuk berpikir secara logis, teratur, dan koheren. Hal ini dapat ditandai dengan adanya kesulitan dalam memusatkan perhatian, mengorganisasi pemikiran, menarik kesimpulan, dan membuat keputusan.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah dilakukan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat menunjukkan luaran sebagai berikut:
1. Proses Pikir Membaik: Pasien dapat menunjukkan kemampuan untuk berpikir secara logis, teratur, dan koheren. Hal ini dapat terlihat dari kemampuan pasien dalam memusatkan perhatian, mengorganisasi pemikiran, menarik kesimpulan, dan membuat keputusan.
2. Kemampuan Komunikasi Meningkat: Pasien dapat berkomunikasi dengan baik, menyampaikan pikiran dan perasaannya secara jelas dan terstruktur.
3. Fungsi Kognitif Membaik: Pasien dapat menunjukkan peningkatan dalam fungsi kognitif, seperti daya ingat, kemampuan belajar, dan pemecahan masalah.
4. Kualitas Hidup Meningkat: Pasien dapat menunjukkan peningkatan dalam kualitas hidup, termasuk dalam aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, berikut adalah intervensi keperawatan yang dapat dilakukan berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
1. Manajemen Proses Pikir
- Identifikasi pola dan konten proses pikir pasien
- Fasilitasi pasien untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi proses pikirnya
- Bantu pasien untuk mengembangkan strategi dalam mengatasi gangguan proses pikir
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (misalnya psikolog, psikiater) untuk intervensi spesifik terkait gangguan proses pikir
2. Peningkatan Komunikasi
- Fasilitasi pasien untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara verbal dan non-verbal
- Terapkan teknik komunikasi terapeutik untuk memfasilitasi interaksi yang efektif
- Libatkan keluarga/significant other dalam proses komunikasi
- Kolaborasi dengan ahli terapi wicara, jika diperlukan
3. Stimulasi Fungsi Kognitif
- Lakukan asesmen komprehensif terhadap fungsi kognitif pasien
- Berikan latihan-latihan untuk meningkatkan daya ingat, atensi, dan pemecahan masalah
- Ajarkan teknik mnemonic dan strategi kognitif untuk meningkatkan fungsi kognitif
- Kolaborasi dengan ahli neuropsikologi, jika diperlukan
4. Peningkatan Kualitas Hidup
- Identifikasi persepsi pasien terhadap kualitas hidupnya
- Fasilitasi pasien untuk mencapai tujuan yang bermakna bagi dirinya
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (misalnya okupasi terapis, psikolog) untuk intervensi holistik
- Libatkan keluarga/significant other dalam mendukung peningkatan kualitas hidup pasien
Dengan pendekatan komprehensif yang mencakup manajemen proses pikir, peningkatan komunikasi, stimulasi fungsi kognitif, dan peningkatan kualitas hidup, diharapkan pasien dengan gangguan proses fikir dapat mencapai luaran yang diharapkan dan meningkatkan kesejahteraan kesehatannya. -
Article No. 18053 | 30 May 2025
Klinis : An.P datang ke Puskesmas pada tanggal 17 Juni 2023 diantar ibunya. Pasien datang dengan keluhan gatal-gatal secara tiba-tiba, nyeri dan tampak meringis saat menggaruk, kulit bersisik. Ibu dari pasien mengatakan terdapat benjolan berisi cairan yang sudah mulai mengering, benjolan tersebut pecah saat digaruk dan meninggalkan bekas di kulit. Dari hasil pengkajian, ditemukan lesi, kulit tampak menebal, pruritus, serta bekas luka yang cenderung menghitam dan memutih. Status keadaan umum An.P yaitu compos mentis dan hasil pemeriksaan Nadi : 69 x/ menit, suhu : 35.4`C, BB : 35 kg, TB : 135 cm.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dideskripsikan, dapat ditetapkan diagnosis keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI sebagai berikut:
1. Diagnosis Keperawatan: Intoleransi Aktivitas (00092)
- SDKI: Keterbatasan kemampuan fisik, mental, dan/atau psikososial untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin.
- SLKI: Kemampuan individu untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan kemampuannya.
- SIKI: Intervensi untuk membantu individu mencapai tingkat aktivitas yang optimal sesuai dengan kemampuannya.
2. Diagnosis Keperawatan: Pruritus (00027)
- SDKI: Sensasi tidak nyaman yang membuat keinginan untuk menggaruk.
- SLKI: Kemampuan individu untuk mengatasi sensasi gatal pada kulit.
- SIKI: Intervensi untuk membantu individu mengurangi sensasi gatal pada kulit.
3. Diagnosis Keperawatan: Kerusakan Integritas Kulit (00046)
- SDKI: Kerusakan lapisan epidermis, dermis, atau jaringan lebih dalam.
- SLKI: Kemampuan individu untuk mempertahankan integritas kulit.
- SIKI: Intervensi untuk membantu individu mempertahankan integritas kulit.
Kode SDKI, SLKI, dan SIKI untuk masing-masing diagnosis keperawatan:
1. Intoleransi Aktivitas (00092)
- SDKI: 10028
- SLKI: 30030
- SIKI: 60028
2. Pruritus (00027)
- SDKI: 10039
- SLKI: 30039
- SIKI: 60039
3. Kerusakan Integritas Kulit (00046)
- SDKI: 10033
- SLKI: 30033
- SIKI: 60033
Adapun definisi singkat dari masing-masing kode tersebut:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- 10028: Keterbatasan kemampuan fisik, mental, dan/atau psikososial untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin.
- 10039: Sensasi tidak nyaman yang membuat keinginan untuk menggaruk.
- 10033: Kerusakan lapisan epidermis, dermis, atau jaringan lebih dalam.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- 30030: Kemampuan individu untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan kemampuannya.
- 30039: Kemampuan individu untuk mengatasi sensasi gatal pada kulit.
- 30033: Kemampuan individu untuk mempertahankan integritas kulit.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- 60028: Intervensi untuk membantu individu mencapai tingkat aktivitas yang optimal sesuai dengan kemampuannya.
- 60039: Intervensi untuk membantu individu mengurangi sensasi gatal pada kulit.
- 60033: Intervensi untuk membantu individu mempertahankan integritas kulit. -
Article No. 18013 | 29 May 2025
Klinis : Pasien abses manus dengan kondisi tangan bengkak, kemerahan, terdapat 1 titik bisul kecil, disertai demam suhu 38 derajat celsius
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI sesuai dengan kondisi yang Anda jelaskan.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Infeksi (00004)
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Risiko Infeksi (00004)
Definisi: Berisiko mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan selular.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kontrol Infeksi (1843)
Definisi: Kemampuan individu untuk mencegah dan mengelola invasi dan multiplikasi organisme patogen.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Perawatan Luka (3660)
Definisi: Tindakan perbaikan atau pencegahan terhadap kerusakan pada integritas kulit dan jaringan.
Kode:
SDKI: 00004
SLKI: 1843
SIKI: 3660
Penjelasan singkat:
Pasien abses manus dengan kondisi tangan bengkak, kemerahan, terdapat 1 titik bisul kecil, disertai demam suhu 38 derajat Celsius mengindikasikan adanya risiko infeksi. Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Risiko Infeksi (00004). Hal ini perlu ditangani dengan intervensi keperawatan yang tepat, yaitu Perawatan Luka (3660) untuk mencegah dan mengelola invasi dan multiplikasi organisme patogen, serta memantau perkembangan kondisi pasien dan mencapai luaran Kontrol Infeksi (1843).