Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24521 | 18 Mar 2026
Klinis : pasien dengan penurunan kesadaran RPD/ DM dan HT KU: lemah, E4V1M5 TD: 145/86 HR: 98 S: 38 RR: 32 SPO2: 99% Status Generalis Mata CA -/-, SI -/-, RC +/-, pupil isokor 3mm/3mm, refleks kornea (+/+) Mulut : lidah kotor (-), mukosa bibir kering (+) Thorax : SDV +/+ rhonki -/- , wheezing -/-, retraksi -/- Jantung : BJ I-II reguler (+), murmur (-) Abdomen : supel, BU (+) dbn, timpani (+), nyeri tekan (+) Eks. superior : akral hangat (+/+), oedem (-/-), ikterik (-/-), CRT <2 detik Eks. inferior : akral hangat (+/+), oedem (-/-), ikterik (-/-), CRT <2 detik Status Neurologis Sensorik sde Kekuatan motorik sde Refleks fisiologis: +3/+3//+3/+3 Refleks patologis: (-) Parese NC VII (-) Meningeal sign (-) lab 16/3/26 ur 120.0 kr 1.63 albumin 3.03 lab 17/3/26 hb 10.65 eritrosit 3.85 hmt 32.1 lekosit 9.55 trombosit 243 thorax: Kesan : - Bronchitis dan besar cor normal CT scan (-)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat menyebabkan kerusakan neurologis ireversibel. Kondisi ini sangat relevan pada pasien dengan penurunan kesadaran (E4V1M5/GCS 10), riwayat hipertensi (TD 145/86 mmHg), dan temuan laboratorium yang menunjukkan gangguan fungsi ginjal (ureum 120, kreatinin 1.63) serta albumin rendah (3.03). Kombinasi faktor-faktor ini (hipertensi, kemungkinan nefropati diabetik, infeksi sistemik dengan S: 38°C dan RR: 32x/menit, serta hipoalbuminemia) meningkatkan risiko terjadinya perfusi serebral yang tidak adekuat. Penurunan kesadaran itu sendiri merupakan manifestasi utama dari gangguan perfusi atau metabolisme otak.
Kode SLKI: L.14016
Deskripsi : Perfusi serebral membaik, ditandai dengan kesadaran kembali normal atau mendekati normal, tanda-tanda vital stabil dalam rentang yang dapat diterima, dan tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Peningkatan skor Glasgow Coma Scale (GCS) menuju 15, 2) Tekanan darah terkontrol dalam rentang target untuk mencegah hipoperfusi atau hiperperfusi, 3) Denyut jantung dan pernapasan dalam batas normal, 4) Saturasi oksigen terjaga >95%, 5) Tidak ditemukan tanda-tanda neurologis fokal baru (seperti paresis, perubahan pupil), 6) Tanda-tanda infeksi sistemik (demam, takipnea) teratasi. Pencapaian SLKI ini memerlukan manajemen komprehensif terhadap penyebab dasar (hipertensi, infeksi, gangguan metabolik) untuk memastikan suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan otak tercukupi.
Kode SIKI: I.14066
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk memantau dan mempertahankan perfusi serebral. Intervensi ini meliputi: 1) Pemantauan Neurologis Ketat: Menilai GCS (E, V, M) secara berkala (setiap 1-2 jam atau sesuai protokol), ukur dan catat reaksi pupil terhadap cahaya (isokor 3mm/3mm, refleks +/+ harus dipertahankan), dan pantau kekuatan motorik serta refleks. 2) Manajemen Tekanan Darah: Memantau TD secara reguler, kolaborasi pemberian obat antihipertensi sesuai order, dan hindari manuver yang dapat menaikkan tekanan intrakranial (seperti mengejan). 3) Optimalisasi Oksigenasi dan Ventilasi: Mempertahankan jalan napas, memantau saturasi oksigen (99% harus dipertahankan), dan memberikan oksigen tambahan jika diperlukan. Pantau pola pernapasan (RR 32x/menit menunjukkan distress/kompensasi). 4) Manajemen Suhu: Memberikan tindakan untuk menurunkan suhu tubuh (38°C) seperti kompres hangat, pemberian antipiretik sesuai kolaborasi, untuk mengurangi kebutuhan metabolisme otak. 5) Manajemen Cairan dan Elektrolit: Mengatur keseimbangan cairan dengan ketat berdasarkan status ginjal (ureum & kreatinin tinggi), memantau balance cairan, dan kolaborasi pemberian cairan intravena untuk menjaga tekanan perfusi serebral yang adekuat tanpa menyebabkan overload. 6) Posisi Tubuh: Menempatkan pasien dengan posisi kepala sedikit ditinggikan (30 derajat) untuk memfasilitasi aliran balik vena serebral, kecuali ada kontraindikasi. 7) Pencegahan Komplikasi Imobilisasi: Melakukan perawatan kulit, perubahan posisi, dan latihan rentang gerak pasif untuk mencegah dekubitus, kontraktur, dan trombosis. 8) Kolaborasi dan Edukasi Keluarga: Berkolaborasi dengan tim medis untuk penanganan penyebab (infeksi/bronkitis, gagal ginjal akut/prerenal, krisis hipertensi). Memberikan penjelasan kepada keluarga tentang kondisi pasien, tujuan pemantauan, dan pentingnya melaporkan setiap perubahan status neurologis.
-
Article No. 24522 | 18 Mar 2026
Klinis : pasien datang dgn keluhan sesek napas, badan lemes, dan demam sudah sejak 1 hari SMRS. Pasien juga mengeluhkan kedua kaki bengkak sudah 1 minggu RPD: asma KU sedang, CM TD: 110/78 mmhg SB: 38,1 C HR:92 x/m RR: 22 x/m SpO2: 97% on room air Mata : cowong -/- CA -/-, SI +/+ Thorax : SDV +/+ rh -/- wh -/-, S1S2 reguler, BJ (-) Abdomen : supel, BU (+), NT (-) epigastrium Ext : Akral hangat +/+, oedem +/+,pucat -/-, CRT <2dt
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Diagnosis keperawatan ini ditegakkan berdasarkan keluhan utama pasien yaitu sesak napas, dengan data pendukung demam (SB 38.1°C) dan riwayat penyakit asma. Demam dapat meningkatkan metabolisme dan kebutuhan oksigen, sementara asma merupakan kondisi inflamasi kronis jalan napas yang dapat menyebabkan bronkospasme, edema mukosa, dan peningkatan produksi sekret, sehingga mengganggu proses difusi oksigen dan karbon dioksida di alveolus. Meskipun SpO2 97% dalam kondisi istirahat, peningkatan frekuensi napas (RR 22x/menit) menunjukkan adanya upaya kompensasi tubuh untuk mempertahankan oksigenasi. Kombinasi faktor-faktor ini mengindikasikan adanya ancaman atau gangguan aktual pada pertukaran gas.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah "Perbaikan Pertukaran Gas". Target luaran ini mencakup beberapa indikator kunci yang harus dipantau. Pertama, status pernapasan harus membaik, ditandai dengan frekuensi pernapasan dalam rentang normal (16-20x/menit) tanpa penggunaan otot bantu napas, serta tidak adanya keluhan sesak napas (dispnea) atau napas pendek (ortopnea). Kedua, status oksigenasi harus optimal, dengan saturasi oksigen (SpO2) dipertahankan ≥95% pada udara ruangan dan nilai analisis gas darah (jika dilakukan) dalam batas normal. Ketiga, status neurologis harus baik, ditunjukkan dengan tingkat kesadaran compos mentis (CM) dan tidak adanya tanda hipoksia seperti gelisah, cemas, atau penurunan kesadaran. Keempat, pola napas harus efektif, dengan irama teratur dan kedalaman adekuat. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil mengatasi gangguan yang mendasari, memastikan suplai oksigen ke jaringan tubuh tercukupi.
Kode SIKI: I.08041
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama adalah "Manajemen Jalan Napas". Intervensi ini bersifat komprehensif dan meliputi serangkaian tindakan. Pertama, memantau status pernapasan secara ketat termasuk frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas, serta adanya suara napas tambahan seperti wheezing atau ronki. Kedua, memposisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau tinggi untuk memudahkan ekspansi dada dan mengurangi kerja napas. Ketiga, mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam serta batuk efektif untuk membersihkan jalan napas dan meningkatkan ventilasi. Keempat, memastikan kecukupan hidrasi (baik oral atau parenteral) untuk mengencerkan sekret sehingga mudah dikeluarkan. Kelima, mengelola faktor penyebab, seperti pemberian terapi oksigen jika diperlukan sesuai order, dan memastikan kepatuhan terhadap terapi farmakologis untuk asma (seperti bronkodilator dan kortikosteroid) yang telah diresepkan. Keenam, menciptakan lingkungan yang nyaman, tenang, dan dengan sirkulasi udara baik untuk mengurangi kebutuhan oksigen dan kecemasan. Tindakan-tindakan ini bertujuan untuk mempertahankan patensi jalan napas, meningkatkan pertukaran gas, dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti hipoksemia.
Kondisi: Kelebihan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan temuan objektif edema pada kedua kaki yang sudah berlangsung satu minggu. Edema perifer merupakan manifestasi klinis klasik dari kelebihan cairan interstitial. Meskipun tanda vital seperti TD (110/78 mmHg) masih dalam batas normal dan tidak ada bunyi jantung tambahan (BJ -), akumulasi cairan sudah terlihat jelas di ekstremitas bawah. Kondisi ini dapat terkait dengan berbagai faktor, termasuk gangguan kardiovaskular, ginjal, atau hati, namun pada pasien ini perlu dieksplorasi lebih lanjut kemungkinan hubungannya dengan kondisi dasar asma atau penyakit penyerta lainnya. Kelebihan volume cairan meningkatkan beban kerja jantung dan dapat memperburuk kondisi pernapasan jika terjadi edema paru, sehingga memerlukan penanganan segera.
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah "Keseimbangan Cairan". Target luaran ini diukur melalui beberapa parameter. Pertama, status hidrasi harus seimbang, ditandai dengan tidak adanya edema perifer (seperti pada kaki) atau edema dependen lainnya, serta tidak adanya tanda dehidrasi seperti kulit kering dan turgor menurun. Kedua, berat badan harus stabil dan kembali ke berat badan dasar (dry weight), tanpa fluktuasi yang signifikan dari hari ke hari. Ketiga, asupan dan haluaran cairan harus seimbang dalam periode 24 jam. Keempat, tanda-tanda vital harus dalam rentang normal untuk pasien, termasuk tekanan darah, nadi, dan frekuensi pernapasan. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa tubuh pasien mampu mempertahankan homeostasis cairan dan elektrolit.
Kode SIKI: I.06017
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama adalah "Manajemen Kelebihan Volume Cairan". Tindakan ini meliputi: pertama, pemantauan ketat tanda-tanda kelebihan cairan seperti edema (lokasi, derajat pitting), berat badan harian dengan timbangan yang sama di waktu yang sama, serta keseimbangan cairan (balance cairan) dengan mencatat semua asupan (oral, parenteral) dan haluaran (urine, drainase). Kedua, kolaborasi dalam pembatasan asupan cairan dan natrium sesuai instruksi dokter atau ahli gizi. Ketiga, memposisikan pasien dengan elevasi ekstremitas yang edema untuk meningkatkan venous return dan mengurangi pembengkakan. Keempat, memantau respons terhadap terapi diuretik jika diberikan (seperti peningkatan output urine, penurunan edema). Kelima, edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya pembatasan garam, pemantauan berat badan mandiri, dan tanda-tanda kelebihan cairan yang harus diwaspadai. Intervensi ini bertujuan untuk mengurangi edema, mencegah komplikasi seperti gagal jantung kongestif, dan mengembalikan keseimbangan volume cairan tubuh.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0027
Deskripsi Singkat: Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data suhu tubuh di atas normal, yaitu 38.1°C (demam). Hipertermia didefinisikan sebagai peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal akibat kegagalan mekanisme termoregulasi tubuh. Demam pada pasien ini kemungkinan besar terkait dengan proses infeksi atau inflamasi yang mendasari keluhan pernapasannya, mengingat ada riwayat asma yang bisa mengalami eksaserbasi akibat infeksi. Demam meningkatkan metabolisme basal, konsumsi oksigen, dan beban kerja jantung serta pernapasan, yang dapat memperburuk keluhan sesak napas dan kelemahan yang dialami pasien. Oleh karena itu, penanganan hipertermia penting untuk mengurangi ketidaknyamanan dan beban fisiologis pada tubuh.
Kode SLKI: L.07001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah "Kontrol Suhu Tubuh". Target luaran ini dicapai ketika suhu tubuh pasien kembali dalam rentang normal (36.5 - 37.5°C) yang dipertahankan secara stabil. Selain suhu aksila yang normal, tanda-tanda vital lain seperti denyut nadi dan frekuensi pernapasan juga harus menunjukkan tren penurunan menuju rentang normal seiring dengan turunnya suhu. Pasien juga harus melaporkan atau menunjukkan penurunan ketidaknyamanan yang terkait dengan demam, seperti perasaan panas, berkeringat, atau menggigil. Kulit pasien teraba hangat, tidak panas, dan tidak pucat atau kemerahan secara abnormal. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa proses penyebab demam terkontrol dan mekanisme termoregulasi tubuh berfungsi kembali dengan baik.
Kode SIKI: I.07029
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama adalah "Manajemen Hipertermia". Tindakan ini mencakup: pertama, memantau suhu tubuh secara berkala (setiap 2-4 jam atau sesuai kebutuhan) untuk menilai tren dan respons terhadap intervensi. Kedua, melakukan tindakan pendinginan secara fisik, seperti kompres hangat (bukan dingin) pada area lipatan tubuh (aksila, lipat paha) dan dahi, serta memandikan dengan air hangat. Tindakan kompres hangat membantu vasodilatasi pembuluh darah perifer sehingga panas dapat dibuang melalui proses radiasi dan konduksi. Ketiga, meningkatkan asupan cairan untuk mencegah dehidrasi yang dapat memperparah demam dan membantu proses pengaturan suhu melalui evaporasi keringat. Keempat, memastikan lingkungan yang nyaman dengan sirkulasi udara baik dan suhu ruangan yang sejuk. Kelima, kolaborasi pemberian antipiretik (obat penurun panas) sesuai resep dokter, seperti parasetamol, dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. Keenam, edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya istirahat, hidrasi, dan teknik kompres yang benar. Intervensi ini bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh, mengurangi ketidaknyamanan, dan mencegah komplikasi seperti kejang demam atau dehidrasi berat.
-
Article No. 24523 | 18 Mar 2026
Klinis : nyeri dada berkurang KU lemah, CM TD: 156/99 HR: 58 x/m RR: 19 x/m SpO2: 97% in O2 NK SB: 36.4 JVP 5+2 RBH -/- WHZ -/- edem -/- CKMB 90
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah cedera tersebut (International Association for the Study of Pain); onset yang tiba-tiba atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi ≤ 3 bulan.
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Pasien mampu mengontrol nyeri. Indikator: 1) Melaporkan nyeri dapat ditoleransi; 2) Mengenali faktor pencetus; 3) Mengenali onset nyeri; 4) Menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri; 5) Menggunakan analgesik sesuai resep; 6) Melaporkan berkurangnya nyeri setelah intervensi; 7) Mempertahankan tingkat fungsi yang diinginkan; 8) Tanda vital dalam rentang yang diharapkan.
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat kenyamanan yang dapat diterima oleh pasien. Aktivitas: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor pencetus); 2) Observasi adanya tanda-tanda nonverbal dari ketidaknyamanan, terutama pada pasien yang tidak mampu berkomunikasi; 3) Tentukan dampak nyeri terhadap kualitas hidup (tidur, nafsu makan, aktivitas, hubungan, emosi, konsentrasi); 4) Gunakan pendekatan terapeutik (farmakologis dan nonfarmakologis) untuk mengatasi nyeri; 5) Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi (relaksasi, distraksi, imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin) sebelum, selama, dan setelah aktivitas yang menimbulkan nyeri; 6) Berikan analgetik sesuai resep, evaluasi keefektifan dan efek samping; 7) Evaluasi keefektifan intervensi pengontrolan nyeri dalam waktu yang sesuai; 8) Modifikasi rencana pengontrolan nyeri sesuai kebutuhan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: 00094
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: 0001
Deskripsi : Status Energi. Pasien menunjukkan peningkatan energi. Indikator: 1) Melaporkan peningkatan energi; 2) Melakukan aktivitas sesuai kemampuan; 3) Tanda vital dalam rentang normal selama aktivitas; 4) Pernapasan dalam rentang normal selama aktivitas; 5) Nadi dalam rentang normal selama aktivitas.
Kode SIKI: 5614
Deskripsi : Manajemen Energi. Pengaturan energi untuk memperlakukan atau mencegah kelelahan dan mengoptimalkan fungsi. Aktivitas: 1) Monitor respons pasien terhadap aktivitas (nadi, tekanan darah, pernapasan, kulit, tingkat kelelahan); 2) Ajarkan teknik penghematan energi; 3) Bantu pasien untuk mengidentifikasi aktivitas yang dapat didelegasikan; 4) Rencanakan periode istirahat yang cukup; 5) Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan; 6) Tingkatkan partisipasi pasien secara bertahap dalam aktivitas sesuai toleransi; 7) Atur lingkungan untuk meminimalkan pengeluaran energi; 8) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi guna mendukung peningkatan energi.
Kondisi: Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: 00292
Deskripsi Singkat: Risiko terjadinya ketidakadekuatan darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Status Sirkulasi. Sirkulasi darah adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan. Indikator: 1) Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan; 2) Denyut nadi dalam rentang yang diharapkan; 3) Kualitas nadi perifer normal; 4) Tidak ada edema; 5) Warna kulit normal; 6) Pengisian kapiler < 3 detik; 7) Tidak adanya distensi vena jugularis.
Kode SIKI: 4010
Deskripsi : Pemantauan Hemodinamik. Pengukuran dan interpretasi komprehensif terhadap data hemodinamik pasien untuk memastikan intervensi yang tepat. Aktivitas: 1) Kaji status hemodinamik (tekanan darah, nadi, frekuensi dan irama jantung, pengisian kapiler, suhu ekstremitas); 2) Identifikasi faktor yang mempengaruhi curah jantung (preload, afterload, kontraktilitas); 3) Pantau tanda dan gejala penurunan curah jantung (hipotensi, takikardia/bradikardia, penurunan kesadaran, penurunan output urin, dyspnea, kelelahan, edema, distensi vena jugularis); 4) Pantau hasil pemeriksaan penunjang terkait (CKMB, troponin, EKG); 5) Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan; 6) Atur keseimbangan cairan; 7) Berikan obat-obatan yang mempengaruhi kontraktilitas, preload, dan afterload sesuai resep (mis., nitrat, beta blocker, diuretik); 8) Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala penurunan curah jantung yang harus dilaporkan.
-
Article No. 24524 | 18 Mar 2026
Klinis : PEREMPUAN 48 TAHUN DIAGNOSA MEDIS HEPATITIS B, KELUHAN PASIEN MENGATAKAN LEMAH BADAN DAN TERASA PUSING
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Kelemahan dan Pusing pada Pasien Hepatitis B
Kode SDKI: B.1.1.1
Deskripsi Singkat: Intoleransi Aktivitas
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Pasien menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas. Kriteria hasil: 1) Pasien melaporkan peningkatan energi. 2) Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari sesuai kemampuan. 3) Tanda vital dalam rentang normal selama dan setelah aktivitas. 4) Tidak mengalami kelelahan yang berlebihan. 5) Tidak mengalami pusing atau sinkop selama beraktivitas.
Kode SIKI: I.1.1.1
<>Deskripsi : Manajemen Energi. Intervensi keperawatan: 1) Kaji faktor penyebab intoleransi aktivitas (seperti proses penyakit, nyeri, efek pengobatan, gangguan tidur, malnutrisi). 2) Monitor tanda vital sebelum, selama, dan setelah aktivitas (denyut nadi, tekanan darah, pernapasan, saturasi oksigen). 3) Ajarkan teknik penghematan energi: merencanakan aktivitas, menyelingi aktivitas dengan istirahat, duduk saat melakukan aktivitas, menghindari aktivitas berat setelah makan. 4) Bantu pasien mengidentifikasi aktivitas prioritas dan mendelegasikan tugas yang tidak esensial. 5) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memastikan asupan nutrisi yang adekuat sesuai kebutuhan metabolik. 6) Atur lingkungan untuk meminimalkan upaya yang dibutuhkan (misalnya, menempatkan barang-barang yang sering digunakan dalam jangkauan). 7) Anjurkan aktivitas ringan dan bertahap sesuai toleransi, hindari tirah baring total yang dapat memperburuk kelemahan. 8) Edukasi pasien dan keluarga tentang hubungan antara penyakit hepatitis, kelemahan, dan pentingnya manajemen energi. 9) Kolaborasi dalam pemberian terapi medis untuk mengatasi penyebab dasar (hepatitis B) sesuai instruksi dokter. 10) Evaluasi respons pasien terhadap aktivitas dan modifikasi rencana sesuai kebutuhan.
-
Article No. 24525 | 18 Mar 2026
Klinis : Pasien datang dengan keluhan sesak nafas, terdengar suara ronki d semua lapang paru, RR 30x/ menit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00031
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan patensi jalan napas.
Kode SLKI: 3201
Deskripsi : Bersihan jalan napas. Tindakan untuk memfasilitasi patensi jalan napas. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan yang sistematis dan berkelanjutan untuk memastikan jalan napas pasien tetap terbuka dan bersih dari hambatan. Tindakan dimulai dengan pemantauan status pernapasan secara ketat, termasuk frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha bernapas, serta suara napas tambahan seperti ronki, wheezing, atau stridor. Posisi pasien diatur untuk optimalisasi pertukaran udara, seperti posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi, dan dilakukan teknik drainase postural jika diperlukan. Terapi nebulisasi dengan bronkodilator atau mukolitik diberikan sesuai resep untuk mengurangi bronkospasme dan mengencerkan sekret. Fisioterapi dada, termasuk perkusi, vibrasi, dan latihan batuk efektif (seperti batuk terkontrol atau huffing) diajarkan dan dibantu perawat untuk mobilisasi sekret. Suctioning jalan napas (oral, nasal, atau endotrakeal) dilakukan dengan teknik steril dan tepat indikasi untuk menghisap sekret yang tidak dapat dikeluarkan pasien sendiri. Pemberian oksigen sesuai kebutuhan untuk mengatasi hipoksia. Hidrasi adekuat, baik secara oral maupun intravena, dipantau untuk menjaga kekentalan sekret tetap encer. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya latihan napas dalam, penggunaan alat bantu seperti incentive spirometry, serta tanda-tanda gangguan jalan napas yang harus diwaspadai juga merupakan bagian integral dari intervensi ini. Seluruh tindakan didokumentasikan dengan cermat dan evaluasi efektivitasnya dilakukan secara berkala berdasarkan kriteria hasil yang ditetapkan.
Kode SIKI: 3201A
Deskripsi : Mempertahankan jalan napas paten. Kriteria hasil ini mengukur keberhasilan intervensi dalam mencapai dan mempertahankan keterbukaan jalan napas. Hal ini dievaluasi melalui beberapa indikator objektif. Pertama, suara napas bersih atau jelas di semua lapang paru, tanpa adanya ronki, wheezing, atau suara tambahan lainnya yang mengindikasikan obstruksi. Kedua, frekuensi pernapasan (RR) kembali dalam rentang normal sesuai usia (untuk dewasa biasanya 12-20 kali/menit) dengan irama yang teratur. Ketiga, pasien mampu mengeluarkan sekret secara efektif baik dengan batuk spontan maupun dengan bantuan suctioning. Keempat, tidak terdapat tanda-tanda distress pernapasan seperti penggunaan otot bantu napas, retraksi, nasal flaring, atau sianosis. Kelima, nilai saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang target yang ditetapkan (biasanya >94% pada udara ruangan atau sesuai target terapi oksigen). Keenam, analisis gas darah (jika dilakukan) menunjukkan nilai yang membaik, seperti peningkatan PaO2 dan penurunan PaCO2. Ketujuh, pasien melaporkan atau menunjukkan penurunan keluhan sesak napas dan merasa lebih nyaman saat bernapas. Pencapaian kriteria ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan untuk membersihkan jalan napas telah efektif dalam mengatasi masalah utama pasien.
-
Article No. 24526 | 18 Mar 2026
Klinis : Pasien datang dengan keluhan nyeri dada menyebar ke punggung bagian belakang, pasien tampak sesak, SPO2 90 %, hasil EKG yaitu st depresi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut dan Penurunan Pertukaran Gas terkait Iskemia Miokard
Kode SDKI: D.0006 & D.0012
Deskripsi Singkat: Berdasarkan data pasien (nyeri dada menyebar ke punggung, sesak, SpO2 90%, dan EKG menunjukkan depresi segmen ST), dua diagnosa keperawatan utama yang sangat relevan adalah **Nyeri Akut (D.0006)** dan **Penurunan Pertukaran Gas (D.0012)**. Nyeri dada merupakan manifestasi utama iskemia miokard akibat ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen jantung. Sementara itu, sesak napas dan SpO2 90% mengindikasikan kegagalan sistem pernapasan untuk mempertahankan pertukaran oksigen dan karbon dioksida yang adekuat, yang pada kondisi gagal jantung dapat terjadi akibat kongesti paru atau penurunan curah jantung.
Kode SLKI: L.08016 & L.04011
Deskripsi : Untuk diagnosa **Nyeri Akut (D.0006)**, luaran yang diharapkan (SLKI) adalah **Kontrol Nyeri (L.08016)**, yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengendalikan dan menoleransi nyeri. Kriteria luaran mencakup pasien mampu melaporkan penurunan intensitas nyeri (misalnya, dari skala 8/10 menjadi ≤3/10), menunjukkan perilaku nyaman (wajah rileks, tidak gelisah), mampu mendemonstrasikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri, dan mengonsumsi analgesik sesuai program. Untuk diagnosa **Penurunan Pertukaran Gas (D.0012)**, luaran yang diharapkan adalah **Status Pernapasan: Pertukaran Gas (L.04011)**, yaitu kemampuan untuk mempertahankan pertukaran oksigen dan karbon dioksida yang adekuat di tingkat alveoli. Kriteria luaran meliputi saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal (≥95%), frekuensi pernapasan dalam rentang normal, tidak ada sianosis atau dispnea, serta hasil analisis gas darah (jika tersedia) dalam batas normal.
Kode SIKI: I.08016 & I.04011
Deskripsi : Intervensi keperawatan (SIKI) untuk mencapai luaran **Kontrol Nyeri (L.08016)** adalah **Manajemen Nyeri (I.08016)**. Intervensi ini meliputi: 1) **Pengkajian Komprehensif**: menilai karakteristik nyeri (PQRST), skala intensitas, dan faktor pencetus/pereda. 2) **Pemberian Terapi Farmakologis**: kolaborasi pemberian nitrogliserin, morfin, atau analgesik lain sesuai protokol sindrom koroner akut, disertai pemantauan efek dan efek samping. 3) **Intervensi Non-Farmakologis**: menciptakan lingkungan tenang, mengajarkan teknik relaksasi napas dalam, serta memberikan dukungan emosional dan edukasi. 4) **Pemantauan**: evaluasi respons nyeri setelah intervensi dan pantau tanda vital. Untuk mencapai luaran **Status Pernapasan: Pertukaran Gas (L.04011)**, intervensinya adalah **Manajemen Pernapasan (I.04011)**. Intervensi ini mencakup: 1) **Optimalisasi Oksigenasi**: pemberian oksigen nasal kanul/masker dengan aliran sesuai kebutuhan (misal, 2-6 L/menit) untuk mempertahankan SpO2 >95%, memposisikan pasien semi-Fowler untuk memudahkan ekspansi dada. 2) **Pemantauan Fungsi Pernapasan**: memantau terus menerus SpO2, frekuensi, irama, dan usaha napas, serta auskultasi bunyi napas. 3) **Manajemen Jalan Napas**: membantu pasien batuk efektif jika ada sekret. 4) **Konservasi Energi**: mengatur aktivitas untuk mencegah kelelahan dan meningkatkan efisiensi pernapasan. 5) **Kolaborasi**: mempersiapkan dan membantu pemeriksaan penunjang seperti foto toraks, serta pemberian terapi farmakologis (seperti diuretik atau nitrogliserin) untuk mengurangi kongesti paru jika diperlukan. Kedua intervensi ini harus didokumentasikan, dievaluasi, dan disesuaikan secara dinamis sesuai respons pasien.
-
Article No. 24527 | 18 Mar 2026
Klinis : SLKI reduksi ansietas
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Ansietas (Kecemasan)
Kode ICD-10: F41.9
Deskripsi Singkat : Ansietas atau kecemasan adalah kondisi emosional yang ditandai dengan perasaan khawatir, gugup, atau takut yang berlebihan dan sulit dikendalikan, seringkali disertai gejala fisik seperti jantung berdebar, berkeringat, dan gelisah. Kode ICD-10 F41.9 mengacu pada "Gangguan kecemasan, tidak spesifik" di bawah kategori F41 (Gangguan kecemasan lainnya). Kode ini digunakan ketika manifestasi kecemasan hadir tetapi tidak memenuhi kriteria lengkap untuk gangguan kecemasan spesifik lain seperti gangguan panik (F41.0) atau gangguan kecemasan menyeluruh (F41.1). Dalam konteks SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) "Reduksi Ansietas", tujuan asuhan keperawatan adalah mengurangi tingkat kecemasan klien melalui intervensi seperti terapi relaksasi, edukasi, dan dukungan psikososial. Penggunaan kode ini dalam simulasi pelatihan menekankan pentingnya dokumentasi yang akurat untuk menilai luaran keperawatan, di mana penurunan skor ansietas menjadi indikator keberhasilan intervensi.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24498 | 17 Mar 2026
Klinis : sesak nafas dan dada berat Telaahdialami hilang timbul sudah 1 minggu ini namun memberat sejak malam, os merasakan sesak dan dada berat dan terasa sulit bernafas, os juga merasakan batuk sesekali Riwayat Penyakit DahuluHT,TONSILOFARINGITIS AKUT,CAD OKes:CM KU: sedang VAS:8 TD:179/103 HR:102x/i RR:24x/i T:36.3 Spo2 :94% Pemeriksaan fisik Thorax: PUL: vesikuler (+/+) ronki (+), wheezing (-) COR: BJ I/II regular Abdomen: nyeri tekan epigastrium,peristaltik baik Ekstremitas:akral hangat,CRT<2
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Status Pernapasan: Ventilasi. Tujuan: Pasien menunjukkan perbaikan dalam pertukaran gas, dibuktikan dengan parameter pernapasan dalam rentang normal atau mendekati normal untuk pasien, serta tidak adanya distress pernapasan. Kriteria hasil spesifik meliputi: 1) Frekuensi pernapasan dalam rentang normal yang diharapkan; 2) Irama pernapasan reguler; 3) Saturasi oksigen (SpO2) ≥95% pada udara ruangan; 4) Tidak adanya sianosis; 5) Bunyi napas vesikuler jelas di semua lapang paru; 6) Tidak adanya keluhan sesak napas atau nyeri dada; 7) Ekspansi dada simetris; 8) Penggunaan otot bantu napas tidak ada atau minimal; 9) Gas darah arteri dalam rentang normal.
Kode SIKI: 3310
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi ini melibatkan serangkaian tindakan untuk memastikan patensi dan kebersihan jalan napas, serta mengoptimalkan pertukaran gas. Penjelasan rinci: Intervensi ini dimulai dengan pemantauan ketat tanda-tanda vital pernapasan (RR, pola, usaha napas, SpO2) dan bunyi napas. Posisi pasien diatur semi-Fowler atau Fowler tinggi untuk memudahkan ekspansi paru. Dilakukan pemberian oksigen sesuai program terapi dokter (dengan kanul nasal atau masker) dan memastikan kelembaban oksigen yang adekuat. Perawat mengajarkan dan mendorong teknik batuk efektif serta latihan napas dalam. Fisioterapi dada (seperti perkusi, vibrasi, dan drainase postural) dapat dilakukan jika indikasi untuk membantu mobilisasi sekret. Lingkungan dijaga tetap bersih dari alergen atau iritan. Asupan cairan yang adekuat dianjurkan untuk mengencerkan sekret, kecuali ada kontraindikasi. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat bronkodilator, mukolitik, atau kortikosteroid sesuai resep, serta evaluasi hasil pemeriksaan penunjang seperti foto toraks dan analisa gas darah. Edukasi pada pasien dan keluarga mengenai kondisi, pengobatan, teknik pernapasan, dan kapan harus mencari bantuan darurat merupakan bagian integral dari intervensi ini. Tindakan ini bersifat dinamis dan terus dievaluasi berdasarkan respons klinis pasien.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset yang tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu 3 bulan.
Kode SLKI: 1402
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Tujuan: Pasien melaporkan nyeri terkontrol atau hilang, ditunjukkan oleh skala nyeri yang menurun dan perilaku yang menunjukkan kenyamanan. Kriteria hasil spesifik meliputi: 1) Skala nyeri (misal, VAS/NRS) ≤3 dari skala 0-10; 2) Ekspresi wajah rileks; 3) Tidak ada gelisah atau perilaku melindungi area nyeri; 4) Tanda-tanda vital dalam rentang normal; 5) Pasien mampu menunjukkan teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri; 6) Pasien melaporkan peningkatan kemampuan untuk beristirahat dan beraktivitas.
Kode SIKI: 0843
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi ini mencakup tindakan komprehensif untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Penjelasan rinci: Dimulai dengan penilaian nyeri yang komprehensif menggunakan skala yang valid (seperti VAS/NRS), meliputi lokasi, karakteristik, durasi, faktor pencetus dan pereda. Perawat memantau respons fisiologis dan perilaku terhadap nyeri. Tindakan non-farmakologis diterapkan seperti terapi distraksi (misal, mendengarkan musik), relaksasi napas dalam, dan penciptaan lingkungan yang tenang. Posisi tubuh diatur untuk kenyamanan maksimal. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik sesuai resep (misal, analgesik untuk nyeri dada atau epigastrium), dengan prinsip tepat jenis, dosis, waktu, dan rute pemberian. Evaluasi efektivitas dan efek samping obat analgesik dilakukan secara berkala. Pasien dan keluarga diedukasi tentang pentingnya melaporkan nyeri secara dini, teknik manajemen nyeri mandiri, serta penggunaan obat sesuai aturan. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan pendekatan farmakologis dan non-farmakologis, serta melibatkan pasien secara aktif dalam perencanaan perawatan nyerinya.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko perubahan tekanan darah sistolik dan/atau diastolik yang dapat mengakibatkan ketidakadekuatan perfusi jaringan pada organ vital.
Kode SLKI: 0701
Deskripsi : Status Sirkulasi: Tekanan Darah. Tujuan: Tekanan darah pasien terkontrol dalam rentang target yang ditetapkan, mencegah komplikasi akibat hipertensi. Kriteria hasil spesifik meliputi: 1) Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan (target terapi); 2) Denyut nadi dalam rentang normal; 3) Tidak adanya keluhan sakit kepala hebat, pandangan kabur, atau epistaksis; 4) Tidak adanya tanda syok atau hipoperfusi; 5) Pasien memahami dan kooperatif dengan regimen terapi; 6) Hasil pemeriksaan fungsi organ target (jantung, ginjal) stabil.
Kode SIKI: 2120
Deskripsi : Pemantauan Hemodinamik. Intervensi ini berfokus pada pengukuran dan interpretasi data tekanan darah serta parameter terkait untuk mendeteksi dini ketidakstabilan. Penjelasan rinci: Perawat melakukan pemantauan tekanan darah secara rutin dan akurat (dibandingkan kedua lengan jika diperlukan), serta memantau denyut nadi, frekuensi jantung, dan perfusi perifer (seperti kehangatan akral dan CRT). Dilakukan pengkajian tanda-tanda krisis hipertensi (seperti sakit kepala, perubahan visus, nyeri dada, dyspnea) dan gejala hipotensi. Asupan dan haluaran cairan dipantau untuk menilai keseimbangan cairan. Pasien diinstruksikan untuk tirah baring atau membatasi aktivitas selama tekanan darah sangat tinggi. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat antihipertensi sesuai resep, dengan monitoring ketat terhadap efeknya. Pasien dan keluarga diedukasi mengenai penyakit hipertensi, pentingnya kepatuhan minum obat, modifikasi gaya hidup (diet rendah garam, hindari stres), dan teknik pemantauan tekanan darah mandiri. Intervensi ini bersifat preventif dan terapeutik untuk mencegah kerusakan organ lebih lanjut akibat tekanan darah yang tidak terkontrol.
-
Article No. 24499 | 17 Mar 2026
Klinis : sesak nafas disertai kejang dan neri perut bagian bawah kiri
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Kejang dan Nyeri Perut Bagian Bawah Kiri dengan Sesak Napas
Kode ICD-10: R10.2
Deskripsi Singkat : Keluhan utama pasien berupa sesak napas, kejang, dan nyeri perut bagian bawah kiri merupakan gejala yang kompleks dan memerlukan evaluasi medis menyeluruh untuk menentukan diagnosis definitif. Kode R10.2 (Nyeri panggul dan perineum) dipilih sebagai kode sementara atau gejala utama yang dapat dikodekan berdasarkan deskripsi "neri perut bagian bawah kiri". Kode ini termasuk dalam bab R00-R99 (Gejala, tanda dan temuan klinis serta laboratorium yang abnormal, tidak diklasifikasikan di tempat lain) dari ICD-10, yang digunakan untuk mencatat keluhan ketika diagnosis pasti belum ditegakkan. Nyeri di kuadran kiri bawah dapat mengindikasikan berbagai kondisi seperti divertikulitis, kista ovarium, atau masalah gastrointestinal lainnya. Gejala penyerta seperti sesak napas dan kejang sangat signifikan dan dapat mengarah pada kondisi yang lebih serius, seperti emboli paru, gangguan elektrolit, syok septik, atau komplikasi neurologis, yang memerlukan kode diagnosis yang lebih spesifik setelah pemeriksaan. Oleh karena itu, kode R10.2 berfungsi sebagai penampung sementara yang menekankan urgensi untuk investigasi lebih lanjut guna mengidentifikasi penyebab yang mendasari ketiga gejala tersebut sebelum dapat dikodekan dengan kode diagnosis penyakit yang tepat.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24500 | 17 Mar 2026
Klinis : benjol pada dahi kiri dan mimisan Telaahdialami tiba tiba saja setelah terjatuh dari tempat tidur, pingsan muntah kejang (-), os langsung menangis, mimisan tampak telah berhenti Riwayat Penyakit Dahulutidak ada OKes:CM KU: sedang VAS:8 BB:9.2kg TD:90/50 HR:118x/i RR:24x/i T:36.3 Spo2 :98%
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan otak.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Perfusi serebral membaik, ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang normal untuk usia, 2) Denyut jantung dalam rentang normal untuk usia, 3) Status mental dalam rentang normal (misalnya, sadar, orientasi baik), 4) Tidak ada keluhan sakit kepala, 5) Tidak ada muntah, 6) Tidak ada kejang, 7) Tanda-tanda vital stabil.
Kode SIKI: 3400
Deskripsi : Pemantauan Neurologis: Pengumpulan dan analisis data pasien untuk mencegah atau mendeteksi masalah sistem neurologis. Tindakan keperawatan meliputi: 1) Memantau dan mendokumentasikan status neurologis (tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil, kekuatan motorik, fungsi sensorik) secara berkala sesuai protokol atau kondisi pasien. 2) Memantau dan mendokumentasikan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) secara berkala. 3) Memantau dan mendokumentasikan adanya tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti sakit kepala, muntah proyektil, penurunan kesadaran, perubahan pola napas, perubahan ukuran dan reaksi pupil, kelemahan ekstremitas, atau kejang. 4) Memantau dan mendokumentasikan tanda-tanda perdarahan atau kebocoran cairan serebrospinal dari hidung (rhinorrhea) atau telinga (otorrhea). 5) Memposisikan kepala pasien dengan elevasi kepala 15-30 derajat (kecuali kontraindikasi) untuk memfasilitasi drainase vena dan menurunkan tekanan intrakranial. 6) Mempertahankan lingkungan yang tenang, membatasi pengunjung, dan menghindari aktivitas yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial (misalnya, mengejan, batuk kuat, fleksi kepala). 7) Kolaborasi dalam pemberian terapi oksigen jika diperlukan untuk memastikan oksigenasi adekuat ke jaringan otak. 8) Memberikan edukasi pada keluarga tentang tanda-tanda bahaya yang perlu dilaporkan segera, seperti mengantuk berlebihan, kebingungan, muntah, kejang, atau benjolan yang membesar. 9) Mendokumentasikan semua temuan dan intervensi yang dilakukan secara akurat dan tepat waktu.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan durasinya terbatas.
Kode SLKI: 0802
Deskripsi : Kontrol nyeri, ditandai dengan: 1) Mengungkapkan nyeri berkurang/hilang, 2) Ekspresi wajah rileks, 3) Dapat beristirahat/ tidur dengan tenang, 4) Tanda-tanda vital dalam rentang normal.
Kode SIKI: 0840
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Tindakan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi. Tindakan keperawatan meliputi: 1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas (menggunakan skala nyeri yang sesuai usia, seperti FLACC atau Wong-Baker Faces untuk anak). Pada pasien ini, VAS 8 menunjukkan nyeri berat. 2) Mengobservasi tanda-tanda nonverbal nyeri pada anak yang belum dapat berkomunikasi verbal dengan baik, seperti menangis, gelisah, ekspresi wajah menyeringit, postur tubuh melindungi area yang sakit. 3) Memberikan lingkungan yang nyaman dan tenang untuk mendukung istirahat. 4) Mengajarkan dan membantu teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti distraksi (misalnya, membacakan cerita, bermain), relaksasi, atau kompres dingin pada area benjol (dengan pembalut) untuk mengurangi pembengkakan dan nyeri. 5) Mengatur posisi yang nyaman untuk pasien, menghindari tekanan pada area dahi yang benjol. 6) Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik sesuai resep (seperti parasetamol atau ibuprofen dengan dosis sesuai berat badan), dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. 7) Mengevaluasi dan mendokumentasikan respons pasien terhadap intervensi pengurangan nyeri, termasuk penurunan skala nyeri dan perubahan perilaku. 8) Memberikan edukasi kepada orang tua tentang cara mengenali tanda nyeri pada anak, teknik penanganan nyeri nonfarmakologis di rumah, serta pemberian obat pereda nyeri yang aman sesuai anjuran.
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 0035
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap cedera fisik yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan atau kesehatan akibat kondisi lingkungan yang berinteraksi dengan sumber daya adaptif dan pertahanan individu.
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Keamanan fisik meningkat, ditandai dengan: 1) Lingkungan aman, 2) Bebas dari cedera, 3) Keluarga/pasien menyatakan memahami faktor risiko cedera, 4) Keluarga/pasien mendemonstrasikan perilaku pencegahan cedera.
Kode SIKI: 6490
Deskripsi : Pencegahan Cedera: Meminimalkan risiko cedera pada pasien. Tindakan keperawatan meliputi: 1) Melakukan pengkajian faktor risiko lingkungan dan individu yang dapat menyebabkan cedera berulang, khususnya pada anak dengan riwayat jatuh. 2) Memastikan lingkungan perawatan aman, seperti mengamankan side rail tempat tidur dalam posisi terpasang, menjaga lantai tetap kering dan tidak licin, serta menata perabotan agar tidak menghalangi. 3) Mengawasi pasien secara ketat, terutama dalam 24-48 jam pertama pasca cedera kepala, untuk mencegah jatuh akibat pusing, disorientasi, atau kelemahan. 4) Memberikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya pengawasan ketat pada anak, terutama saat bermain atau di tempat tidur. 5) Memberikan edukasi tentang modifikasi lingkungan rumah untuk mencegah jatuh, seperti penggunaan pengaman di tempat tidur (bed rail), penghalang di tangga, dan menghindari permainan yang berisiko tinggi. 6) Menganjurkan orang tua untuk tidak meninggalkan anak sendirian di atas permukaan yang tinggi (seperti tempat tidur, meja ganti). 7) Memberikan informasi tentang tanda-tanda bahaya cedera kepala yang memerlukan pemeriksaan ulang. 8) Mendokumentasikan upaya pencegahan cedera yang telah dilakukan dan respons keluarga terhadap edukasi.