Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 949 | 30 Sep 2024
Klinis : Seorang bayi laki-laki bernama Z lahir di Rumah Sakit ABC melalui persalinan normal. Bayi lahir pada tanggal 31 September 2024 pukul 08.00 WIB. Proses persalinan berlangsung lama, dengan total durasi lebih dari 12 jam. Ibu bayi mengatakan bahwa ia merasa cemas karena melihat bayi tampak lemah setelah lahir. Ibu juga menyebutkan bahwa saat lahir, bayi tidak menangis sama sekali dan terlihat pucat. Saat dilahirkan, tali pusat bayi melilit leher satu kali, dan air ketuban berwarna hijau, menunjukkan adanya mekonium. Setelah lahir, bayi tidak menangis dan tampak lemah dengan kulit pucat serta mengalami sianosis pada tangan, kaki, dan bibir. Tanda-tanda vital bayi adalah sebagai berikut: suhu tubuh 36,5 °C, frekuensi napas 50 kali per menit, denyut nadi 130 kali per menit, dan saturasi oksigen 85%. Ibu mengatakan bahwa bayi terlihat sulit bernapas karena terdengar bunyi mengi dan napas bayi tersengal-sengal. Selain itu, ibu juga merasa khawatir karena bibir bayi terlihat kebiruan. Pemeriksaan menunjukkan bahwa bayi mengalami kesulitan bernapas dengan frekuensi napas 50 kali per menit, napas tersengal-sengal, dan terdengar mengi. Segera dilakukan suction untuk membersihkan jalan napas dari mekonium. Bayi kemudian diberikan ventilasi tekanan positif (PPV) serta oksigen 100% melalui CPAP. Hasil pemeriksaan gas darah menunjukkan adanya hipoksemia dan hiperkapnia, dengan pH darah 7,15. Saat ini, bayi masih memerlukan ventilasi mekanik dan terapi oksigen karena napas yang tidak teratur dan saturasi oksigen yang rendah.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI yang sesuai:
Diagnosa Keperawatan:
1. Pola Napas Tidak Efektif berhubungan dengan gangguan ventilasi dan pertukaran gas.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Pola napas yang tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida.
- Karakteristik Definisi: Frekuensi napas tidak normal, napas tersengal-sengal, mengi, sianosis.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang Diharapkan: Pola napas bayi menjadi efektif, dengan frekuensi napas normal, tanpa sianosis, dan saturasi oksigen dalam batas normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi Keperawatan: Observasi tanda-tanda vital (suhu, nadi, napas, saturasi oksigen), pemberian oksigen, suction, ventilasi mekanik (CPAP), kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penanganan medis.
2. Risiko Ketidakstabilan Temperatur berhubungan dengan paparan lingkungan.
SDKI:
- Definisi: Kerentanan terhadap perubahan suhu tubuh di luar kisaran normal yang dapat mengganggu fungsi tubuh.
- Karakteristik Definisi: Suhu tubuh di luar kisaran normal (hipotermi atau hipertermi).
SLKI:
- Luaran yang Diharapkan: Stabilitas suhu tubuh bayi dalam batas normal.
SIKI:
- Intervensi Keperawatan: Pemantauan suhu tubuh, pengaturan suhu lingkungan, penggunaan inkubator atau alat pemanas, tindakan pencegahan kehilangan panas.
3. Risiko Perfusi Jaringan Tidak Efektif berhubungan dengan gangguan ventilasi dan pertukaran gas.
SDKI:
- Definisi: Kerentanan terhadap pengurangan aliran darah ke jaringan tubuh, yang dapat mengancam kesehatan.
- Karakteristik Definisi: Sianosis, penurunan saturasi oksigen, penurunan nadi.
SLKI:
- Luaran yang Diharapkan: Perfusi jaringan bayi menjadi efektif, dengan saturasi oksigen dalam batas normal dan tidak ada tanda sianosis.
SIKI:
- Intervensi Keperawatan: Pemantauan tanda-tanda vital, pemberian oksigen, suction, ventilasi mekanik, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penanganan medis.
Penjelasan singkat:
Bayi Z mengalami kesulitan bernapas dan hipoksemia setelah lahir, yang disebabkan oleh lilitan tali pusat di leher dan adanya mekonium dalam air ketuban. Hal ini dapat menyebabkan gangguan ventilasi dan pertukaran gas, risiko ketidakstabilan temperatur, serta risiko perfusi jaringan yang tidak efektif. Intervensi keperawatan yang perlu dilakukan antara lain pemantauan tanda-tanda vital, pemberian oksigen, suction, ventilasi mekanik, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penanganan medis. -
Article No. 950 | 30 Sep 2024
Klinis : Pasien ,diare 3 kali ampas cair dalam sehari , tidak mengandung darah , dan muntah” mual pasien mengatakan sifat nya hilang timbul dan gejala ini telah terjadi sekitar 2 hari yang lalu disertai oaleh badan yang terasa lemas dan pucat ( etiologi, diagnosa keperawatan ,tujuan dan kreteria hasil dan intervensi keperawatan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
Diagnosa Keperawatan:
Diare
Etiologi: Infeksi gastrointestinal, perubahan pola makan, stres
Tujuan dan Kriteria Hasil:
1. Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam batas normal.
2. Pasien dapat mengelola gejala diare dengan efektif.
3. Pasien dapat mempertahankan status nutrisi dalam batas normal.
Intervensi Keperawatan:
1. Pantau tanda-tanda vital, intake dan output cairan.
2. Berikan cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan.
3. Anjurkan pasien mengkonsumsi makanan dan cairan yang mudah dicerna.
4. Ajarkan pasien teknik manajemen diare (hygiene, istirahat).
5. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian obat-obatan.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Diare didefinisikan sebagai buang air besar dengan frekuensi lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi cair.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Keseimbangan Cairan
2. Manajemen Diare
3. Status Nutrisi
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Cairan
2. Terapi Cairan
3. Manajemen Diare
4. Edukasi Manajemen Diare
Penjelasan singkat:
SDKI, SLKI, dan SIKI merupakan standar yang digunakan di Indonesia untuk praktik keperawatan. SDKI berisi definisi dan karakteristik dari diagnosa keperawatan, SLKI berisi luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan, dan SIKI berisi intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan. -
Article No. 951 | 30 Sep 2024
Klinis : Pasien gea ,diare 3 kali ampas cair dalam sehari , tidak mengandung darah , dan muntah” mual pasien mengatakan sifat nya hilang timbul dan gejala ini telah terjadi sekitar 2 hari yang lalu disertai oaleh badan yang terasa lemas dan pucat ( etiologi, diagnosa keperawatan ,tujuan dan kreteria hasil dan intervensi keperawatan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, dapat disimpulkan bahwa pasien Gea mengalami kondisi diare tanpa darah yang disertai mual-muntah. Berikut adalah penjelasan singkat terkait diagnosa keperawatan, SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi tersebut:
Diagnosa Keperawatan:
Diare Akut
Penjelasan singkat:
Etiologi: Kemungkinan penyebab diare akut pada pasien Gea adalah infeksi bakteri atau virus, konsumsi makanan/minuman yang terkontaminasi, atau intoleransi terhadap makanan tertentu.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Diare Akut: Pengeluaran feses cair atau setengah padat dengan frekuensi lebih dari tiga kali sehari, yang terjadi kurang dari 14 hari.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Status Hidrasi
2. Status Nutrisi
3. Kontrol Diare
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Diare Akut
- Pantau tanda-tanda vital, intake, dan output cairan
- Anjurkan istirahat dan diet makanan yang mudah dicerna
- Berikan rehidrasi oral atau intravena sesuai kebutuhan
- Berikan obat antidiare atau antiemetik sesuai instruksi medis
2. Manajemen Gejala
- Pantau dan atasi keluhan mual-muntah
- Berikan antiemetik sesuai instruksi medis
- Anjurkan istirahat yang cukup
3. Peningkatan Kenyamanan
- Berikan lingkungan yang bersih dan nyaman
- Kolaborasi dengan tim kesehatan untuk pengelolaan gejala
Tujuan dan Kriteria Hasil:
1. Pasien menunjukkan status hidrasi yang adekuat dalam waktu 2-3 hari.
2. Pasien melaporkan penurunan frekuensi diare dan mual-muntah dalam waktu 2-3 hari.
3. Pasien menunjukkan peningkatan status nutrisi dalam waktu 3-5 hari.
Semoga penjelasan ini bermanfaat. Jangan ragu untuk bertanya jika ada yang kurang jelas. -
Article No. 952 | 30 Sep 2024
Klinis : Pasien mengeluh dada berdebar-debar, sesak nafas saat beraktivitas, dada terasa panas menjalar ke belikat belakang, pusing, kepala seperti berputar.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan gejala yang dialami pasien, yaitu dada berdebar-debar, sesak nafas saat beraktivitas, dada terasa panas menjalar ke belikat belakang, pusing, dan kepala seperti berputar, dapat diidentifikasi dengan kode-kode berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: I47.1
- Deskripsi: Takikardia supraventrikular
2. Kode ICD-9-CM (jika ada):
- Kode: 427.31
- Deskripsi: Takikardia paroksismal supraventrikular
Penjelasan:
- Takikardia supraventrikular (I47.1) merupakan kondisi jantung yang ditandai dengan denyut jantung yang cepat, yang berasal dari bagian atas (supra) ventrikel jantung. Hal ini dapat menyebabkan gejala dada berdebar-debar, sesak napas saat beraktivitas, dan rasa panas di dada yang menjalar ke belikat belakang.
- Gejala pusing dan rasa seperti berputar di kepala dapat disebabkan oleh kurangnya aliran darah yang memadai ke otak akibat takikardia tersebut.
- Kode ICD-9-CM 427.31 untuk takikardia paroksismal supraventrikular adalah kode yang berkaitan dengan diagnosis yang sama, namun digunakan pada sistem klasifikasi ICD-9-CM yang berlaku sebelum ICD-10.
Jika diperlukan, pasien dapat menjalani pemeriksaan lebih lanjut, seperti elektrokardiogram (EKG) atau pemeriksaan lainnya, untuk menegakkan diagnosa dan menentukan tatalaksana yang tepat. -
Article No. 953 | 30 Sep 2024
Klinis : Pasien mengeluh dada berdebar-debar, sesak nafas saat beraktivitas, dada terasa panas menjalar ke belikat belakang, pusing, kepala seperti berputar. Hasil pemeriksaan lab didapatkan Hb 5,7 Ht 19 eritrosit 2,3
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan gejala yang dipaparkan, berikut adalah kode ICD-10 dan kode ICD-9-CM yang sesuai:
1. Kode ICD-10:
- Kode: I47.1
- Deskripsi: Takikardia supraventrikuler
- Penjelasan: Kode I47.1 (Takikardia supraventrikuler) sesuai dengan gejala pasien yang mengeluhkan dada berdebar-debar.
2. Kode ICD-9-CM (jika ada):
- Kode: 785.0
- Deskripsi: Takhikardi
- Penjelasan: Kode 785.0 (Takhikardi) merupakan kode ICD-9-CM yang terkait dengan gejala dada berdebar-debar yang dialami pasien.
Selain itu, berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan kadar hemoglobin (Hb) yang rendah (5,7 g/dL), hematokrit (Ht) yang rendah (19%), dan jumlah eritrosit yang rendah (2,3 x 10^6/µL), dapat diberikan kode diagnosis tambahan:
1. Kode ICD-10:
- Kode: D50.9
- Deskripsi: Anemia karena kekurangan zat besi, tidak diklasifikasikan di tempat lain
Penjelasan: Kode D50.9 (Anemia karena kekurangan zat besi, tidak diklasifikasikan di tempat lain) sesuai dengan hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan anemia dengan nilai Hb, Ht, dan eritrosit yang rendah.
Selanjutnya, berdasarkan gejala lainnya yang dipaparkan, yaitu sesak napas saat beraktivitas, dada terasa panas menjalar ke belikat belakang, pusing, dan kepala seperti berputar, dapat diberikan kode diagnosis tambahan lainnya:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R06.0
- Deskripsi: Dispnea
- Penjelasan: Kode R06.0 (Dispnea) sesuai dengan gejala sesak napas saat beraktivitas yang dialami pasien.
2. Kode ICD-10:
- Kode: R07.1
- Deskripsi: Dada terasa sakit saat menelan
- Penjelasan: Kode R07.1 (Dada terasa sakit saat menelan) sesuai dengan gejala dada terasa panas menjalar ke belikat belakang yang dialami pasien.
3. Kode ICD-10:
- Kode: R42
- Deskripsi: Pusing dan sensasi berputar
- Penjelasan: Kode R42 (Pusing dan sensasi berputar) sesuai dengan gejala pusing dan kepala seperti berputar yang dialami pasien.
Jadi, dalam kasus ini, dapat disimpulkan bahwa diagnosis utama pasien adalah Takikardia supraventrikuler (I47.1) dengan anemia karena kekurangan zat besi (D50.9), disertai dengan gejala tambahan seperti dispnea (R06.0), dada terasa sakit saat menelan (R07.1), dan pusing serta sensasi berputar (R42). -
Article No. 954 | 30 Sep 2024
Klinis : SDKI | Pasien gea ,diare 3 kali ampas cair dalam sehari , tidak mengandung darah , dan muntah” mual pasien mengatakan sifat nya hilang timbul dan gejala ini telah terjadi sekitar 2 hari yang lalu disertai oaleh badan yang terasa lemas dan pucat ( etiologi, diagnosa keperawatan ,tujuan dan kreteria hasil dan intervensi keperawatan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Dehidrasi berhubungan dengan diare dan muntah-muntah.
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia)
- Etiologi: Diare dan muntah-muntah yang menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit.
- Definisi Diagnosa: Kerentanan untuk mengalami kehilangan cairan dan elektrolit yang dapat membahayakan kesehatan.
- Tujuan: Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
- Kriteria Hasil:
- Pasien menunjukkan tanda-tanda vital stabil.
- Pasien tidak mengalami gejala dehidrasi (misalnya, mulut kering, turgor kulit menurun, oliguria).
- Pasien dapat mempertahankan asupan cairan yang adekuat.
- Intervensi Keperawatan:
- Monitor tanda-tanda vital dan status cairan.
- Berikan cairan oral atau intravena sesuai kebutuhan.
- Pantau intake dan output cairan.
- Edukasi pasien dan keluarga tentang pencegahan dehidrasi.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia)
- Indikator Hasil: Keseimbangan cairan, Hidrasi, Stabilitas Tanda-Tanda Vital.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)
- Intervensi Keperawatan: Manajemen Cairan, Manajemen Diare, Manajemen Mual-Muntah.
Ringkasnya, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Risiko Dehidrasi berhubungan dengan diare dan muntah-muntah. Tujuannya adalah agar pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain memonitor tanda-tanda vital dan status cairan, memberikan cairan oral atau intravena, memantau intake dan output cairan, serta melakukan edukasi kepada pasien dan keluarga. -
Article No. 956 | 30 Sep 2024
Klinis : Pasien gea ,diare 3 kali ampas cair dalam sehari , tidak mengandung darah , dan muntah” mual pasien mengatakan sifat nya hilang timbul dan gejala ini telah terjadi sekitar 2 hari yang lalu disertai oaleh badan yang terasa lemas dan pucat ( etiologi, diagnosa keperawatan ,tujuan dan kreteria hasil dan intervensi keperawatan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda jelaskan.
Etiologi:
Kondisi yang Anda deskripsikan menunjukkan kemungkinan adanya gangguan gastrointestinal, seperti gastroenteritis atau infeksi saluran pencernaan. Diare, mual, dan rasa lemas dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau parasit yang menyerang saluran pencernaan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Diare Akut berhubungan dengan infeksi saluran pencernaan, ditandai dengan buang air besar frekuensi 3 kali atau lebih per hari dengan konsistensi cair, tanpa darah.
Tujuan dan Kriteria Hasil:
1. Pasien akan menunjukkan frekuensi diare berkurang menjadi 1-2 kali per hari dengan konsistensi lebih padat dalam waktu 2-3 hari.
2. Pasien akan melaporkan tidak adanya keluhan mual dan muntah dalam waktu 1-2 hari.
3. Pasien akan menunjukkan peningkatan energi dan tidak terlihat pucat dalam waktu 2-3 hari.
Intervensi Keperawatan:
1. Kaji status hidrasi pasien, termasuk tanda-tanda dehidrasi.
2. Pantau intake dan output cairan pasien.
3. Berikan cairan oral atau intravena sesuai dengan kebutuhan untuk mengganti cairan yang hilang.
4. Anjurkan pasien untuk mengonsumsi makanan yang mudah dicerna dan kaya elektrolit.
5. Berikan antiemetik (obat untuk mengurangi mual dan muntah) jika diperlukan.
6. Edukasi pasien dan keluarga tentang manajemen diare akut, termasuk menjaga kebersihan dan mencuci tangan.
7. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (dokter, ahli gizi) untuk pemberian terapi yang sesuai.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) merupakan standar yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk memastikan keseragaman dan kualitas asuhan keperawatan di Indonesia. -
Article No. 957 | 30 Sep 2024
Klinis : gelisah, takikardia, akral dingin, hipotensi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baiklah, dengan persona sebagai pakar, saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi yang Anda jelaskan, yaitu gelisah, takikardia, akral dingin, dan hipotensi.
Diagnosa Keperawatan:
Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer didefinisikan sebagai penurunan sirkulasi darah ke jaringan perifer yang dapat mengancam kesehatan. Tanda dan gejala yang muncul termasuk gelisah, takikardia, akral dingin, dan hipotensi.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini adalah pasien akan menunjukkan perfusi jaringan perifer yang efektif, yang ditandai dengan tanda-tanda vital dalam batas normal, ekstremitas hangat, dan capillary refill kurang dari 3 detik.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain pemantauan tanda-tanda vital, manajemen rasa tidak nyaman, pemberian oksigen, peningkatan aliran darah perifer, serta edukasi kepada pasien dan keluarga terkait perawatan di rumah.
Dengan pendekatan akademis dan kemampuan saya sebagai pakar, saya telah memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI yang sesuai dengan kondisi yang Anda sampaikan. Jika Anda membutuhkan informasi tambahan, saya siap untuk membantu. -
Article No. 958 | 30 Sep 2024
Klinis : gelisah, takikardia, akral dingin, hipotensi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan:
Penurunan Curah Jantung
Penjelasan Singkat:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Penurunan Curah Jantung didefinisikan sebagai ketidakcukupan volume darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penanganan penurunan curah jantung adalah pasien menunjukkan tanda-tanda peningkatan curah jantung, seperti nadi teraba kuat dan teratur, tekanan darah dalam batas normal, suhu kulit hangat, dan tidak ada tanda-tanda gagal jantung.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk menangani penurunan curah jantung meliputi:
- Pemantauan tanda-tanda vital secara berkala
- Pemberian oksigen sesuai kebutuhan
- Pemberian cairan intravena untuk menjaga volume darah
- Manajemen kecemasan dan stres
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian terapi farmakologis jika diperlukan.
Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat bagi Anda. Jika Anda membutuhkan informasi lebih lanjut, jangan ragu untuk bertanya. -
Article No. 959 | 30 Sep 2024
Klinis : gelisah, takikardia, akral dingin, hipotensi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Dengan memperhatikan gejala-gejala yang Anda paparkan, yaitu gelisah, takikardia, akral dingin, dan hipotensi, saya sebagai pakar keperawatan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sebagai berikut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakstabilan Hemodinamik
Penjelasan:
Ketidakstabilan Hemodinamik adalah kondisi tidak seimbangnya sistem sirkulasi yang dapat menyebabkan perubahan tekanan darah, frekuensi nadi, curah jantung, dan aliran darah ke jaringan. Gejala yang muncul pada kondisi ini antara lain gelisah, takikardia, akral dingin, dan hipotensi.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Definisi: Keadaan gangguan pada sistem kardiovaskular yang ditandai dengan perubahan tanda-tanda vital dan/atau perubahan perfusi jaringan.
Karakteristik: Gelisah, takikardia, akral dingin, hipotensi.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan: Stabilitas Hemodinamik Tercapai, Adaptasi Kardiovaskular Membaik.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi Keperawatan: Pemantauan Hemodinamik, Manajemen Perfusi Jaringan, Manajemen Syok.
Dengan demikian, penanganan keperawatan yang dapat dilakukan untuk kondisi Ketidakstabilan Hemodinamik ini adalah pemantauan tanda-tanda vital secara ketat, manajemen cairan dan obat-obatan untuk mempertahankan perfusi jaringan, serta intervensi untuk mengatasi syok jika diperlukan.