Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23055 | 28 Nov 2025
Klinis : Tonsillitis Membranosa – risiko jalan napas terhambat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Tonsillitis Membranosa – risiko jalan napas terhambat
Kode SDKI: A0003
Deskripsi Singkat: Risiko Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SLKI: L03101
Deskripsi : SLKI dengan kode L03101 adalah "Pemeliharaan jalan napas paten". Tujuan dari intervensi keperawatan ini adalah untuk memastikan bahwa jalan napas pasien tetap terbuka dan bersih, sehingga pertukaran gas (oksigen dan karbon dioksida) dapat berlangsung secara optimal. Pada pasien dengan tonsillitis membranosa, kondisi ini sangat kritis karena pembengkakan amandel yang parah dan adanya membran (lapisan) yang dapat menyumbat saluran napas. Implementasi SLKI ini melibatkan serangkaian tindakan yang sistematis dan berkelanjutan. Pertama, perawat akan memantau status pernapasan pasien secara ketat, termasuk frekuensi, irama, kedalaman napas, serta adanya suara napas tambahan seperti stridor, mengi, atau suara napas yang melemah. Stridor adalah tanda bahaya yang menunjukkan adanya obstruksi (sumbatan) pada saluran napas bagian atas. Pemeriksaan saturasi oksigen (SpO2) dengan pulse oximeter dilakukan secara berkala untuk mendeteksi hipoksia (kekurangan oksigen) sedini mungkin. Posisi pasien juga diatur untuk memaksimalkan ventilasi, misalnya dengan posisi semi-Fowler atau posisi yang memudahkan pasien untuk bernapas. Jika terdapat sekret atau membran yang dapat dibersihkan, perawat akan membantu pasien untuk melakukan batuk efektif atau melakukan suction (penyedotan) jika diperlukan dan sesuai dengan prosedur. Pemberian oksigen tambahan juga merupakan bagian dari intervensi ini jika saturasi oksigen menunjukkan nilai di bawah normal. Secara keseluruhan, SLKI ini bertindak sebagai garis pertahanan pertama untuk mencegah terjadinya gagal napas yang merupakan komplikasi paling berbahaya dari tonsillitis berat.
Kode SIKI: I0583
Deskripsi : SIKI dengan kode I0583 adalah "Manajemen Jalan Napas". Ini adalah serangkaian tindakan keperawatan yang spesifik, prosedural, dan bertujuan langsung untuk mencapai tujuan dari SLKI L03101. Intervensi ini bersifat lebih teknis dan seringkali memerlukan keterampilan klinis tertentu. Pada konteks tonsillitis membranosa, manajemen jalan napas dimulai dengan penilaian yang komprehensif. Perawat akan melakukan auskultasi (mendengarkan) suara napas untuk mengidentifikasi area yang terdengar bunyi napas abnormal atau tidak terdengar sama sekali, yang mengindikasikan sumbatan. Tindakan memantau tanda-tanda vital, khususnya pernapasan dan saturasi oksigen, dilakukan dengan interval yang lebih sering, misalnya setiap 1-2 jam atau bahkan lebih ketat tergantung kondisi pasien. Memastikan ketersediaan alat resusitasi dan alat emergensi di dekat pasien, seperti alat suction, bag-valve-mask (Ambu bag), dan intubasi set, adalah bagian kritis dari kesiapsiagaan. Perawat akan melatih dan mendorong pasien untuk melakukan napas dalam dan batuk efektif jika kondisinya memungkinkan. Jika pasien mengalami distress pernapasan, perawat dapat memposisikan pasien untuk memungkinkan jalan napas yang lebih optimal, seperti posisi tripod atau memiringkan kepala jika tidak ada kecurigaan cedera spinal. Tindakan suction orofaring atau nasofaring mungkin diperlukan untuk membersihkan sekret atau bagian membran yang longgar yang menghambat jalan napas, namun ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk tidak menyebabkan trauma atau perdarahan. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat-obatan seperti kortikosteroid (untuk mengurangi edema/radang) atau nebulisasi juga merupakan bagian dari manajemen jalan napas. Dalam situasi yang mengancam jiwa, perawat harus siap membantu dalam prosedur invasif seperti intubasi endotrakeal atau trakeostomi. Inti dari SIKI I0583 adalah kewaspadaan tinggi, pemantauan berkelanjutan, dan kesiapan untuk melakukan tindakan eskalasi guna mempertahankan kelangsungan hidup pasien dengan mencegah hipoksia dan gagal napas.
-
Article No. 23056 | 28 Nov 2025
Klinis : tersapat benjolan di dahi, membesar, dan rencana operasi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Kista Sebasea pada Dahi
Kode ICD-10: L72.3
Deskripsi Singkat : Kista sebacea adalah benjolan jinak dan non-kanker yang tumbuh di bawah kulit, berasal dari kelenjar sebaceous (minyak) yang tersumbat atau rusak. Kondisi ini ditandai dengan benjolan yang biasanya teraba lunak, berisi materi keratin, dan dapat membesar secara perlahan. Rencana operasi (eksisi) umumnya direkomendasikan jika benjolan membesar, menyebabkan nyeri, terinfeksi, atau untuk alasan kosmetik. Kode ICD-10 L72.3 secara spesifik mengklasifikasikan kista epidermis dan kista sebacea sebagai bagian dari kategori 'Kista kulit dan struktur kulit subkutan lainnya'. Kode ini membantu dalam pencatatan medis, perencanaan perawatan, dan proses administratif seperti klaim asuransi terkait prosedur pengangkatan benjolan tersebut.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23057 | 28 Nov 2025
Klinis : Tn. H menyetujui untuk menjalani operasi dan kembali ke unit medis pascaoperasi. Dia memiliki infus larutan Ringer laktat IV dengan kecepatan 125 mL/jam dan Anda mencatat hal berikut: 1. Frekwensi nadi 90 x/menit, Pernapasan 20 x/menit, TD 130/76 mmHg 2. Dia waspada dan berorientasi serta kulitnya hangat dan kering 3. Selang Nasogastrik mengeluarkan cairan berwarna cokelat kemerahan (300 mL dalam 4 jam terakhir) 4. Kateter urin terpasang mengeluarkan urin berwarna kuning jernih (700 mL dalam 4 jam terakhir) Diskusikan dengan kelompok anda: 1. Berdasarkan pengkajian terkini, pilih satu diagnosis keperawatan yang menjadi prioritas saat ini 2. Berikan alasan pemilihan anda, dan 3. Buat daftar tiga intervensi keperawatan yang memenuhi kebutuhan Tn. H
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Ketidakseimbangan Volume Cairan, Risiko terhadap
Kode ICD-10: E86.0
Deskripsi Singkat : Kode E86.0 menggambarkan kondisi Dehidrasi, yang merupakan defisit volume cairan tubuh. Meskipun tanda-tanda vital Tn. H saat ini (nadi, TD) masih dalam rentang yang dapat ditoleransi dan kulitnya hangat serta kering, terdapat faktor risiko signifikan yang mengarah pada potensi ketidakseimbangan volume cairan. Output cairan melalui selang nasogastrik (300 mL/4 jam) dan kateter urin (700 mL/4 jam) total 1000 mL, sementara input cairan intravena hanya 500 mL (125 mL/jam x 4 jam). Hal ini menciptakan defisit bersih 500 mL dalam periode 4 jam, yang jika berlanjut dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi dan gangguan hemodinamik. Kondisi pascaoperasi dan adanya drainase nasogastrik merupakan faktor penyerta yang memperberat risiko ini. Oleh karena itu, diagnosis keperawatan prioritas adalah Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan, dengan kode ICD-10 yang mendasari untuk dehidrasi sebagai kondisi potensial yang harus dicegah. Tiga intervensi keperawatan yang memenuhi kebutuhan Tn. H adalah: 1) Memantau ketat keseimbangan cairan input dan output setiap jam, 2) Berkolaborasi dengan dokter untuk menyesuaikan kecepatan infus atau rencana rehidrasi berdasarkan defisit yang terhitung, dan 3) Memantau tanda-tanda vital dan status perfusi (seperti pengisian kapiler, membran mukosa) secara berkala untuk mendeteksi dini tanda dehidrasi.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23058 | 28 Nov 2025
Klinis : Tn. H menyetujui untuk menjalani operasi dan kembali ke unit medis pascaoperasi. Dia memiliki infus larutan Ringer laktat IV dengan kecepatan 125 mL/jam dan Anda mencatat hal berikut: 1. Frekwensi nadi 90 x/menit, Pernapasan 20 x/menit, TD 130/76 mmHg 2. Dia waspada dan berorientasi serta kulitnya hangat dan kering 3. Selang Nasogastrik mengeluarkan cairan berwarna cokelat kemerahan (300 mL dalam 4 jam terakhir) 4. Kateter urin terpasang mengeluarkan urin berwarna kuning jernih (700 mL dalam 4 jam terakhir) Diskusikan dengan kelompok anda: 1. Berdasarkan pengkajian terkini, pilih satu diagnosis keperawatan yang menjadi prioritas saat ini 2. Berikan alasan pemilihan anda, dan 3. Buat daftar tiga intervensi keperawatan yang memenuhi kebutuhan Tn. H
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: 0202
Deskripsi Singkat: Risiko Defisit Volume Cairan didefinisikan sebagai keadaan dimana individu berisiko mengalami penurunan volume cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular. Kondisi ini mengacu pada keadaan di mana terdapat kerentanan untuk mengalami kekurangan cairan dan elektrolit, yang dapat membahayakan kesehatan. Pada kasus Tn. H, risiko ini sangat nyata mengingat kondisi pascaoperasinya. Meskipun tanda-tanda vitalnya masih dalam batas normal (nadi 90x/menit, TD 130/76 mmHg) dan kulitnya hangat serta kering, terdapat dua faktor utama yang menjadi sumber kehilangan cairan potensial yang signifikan. Pertama, output dari selang nasogastrik (NGT) yang berwarna cokelat kemerahan sebanyak 300 mL dalam 4 jam merupakan kehilangan cairan aktif dari saluran cerna. Warna cokelat kemerahan dapat mengindikasikan adanya darah lama atau drainase lambung yang berlebihan. Kedua, output urin sebanyak 700 mL dalam 4 jam (setara dengan 175 mL/jam) menunjukkan diuresis yang cukup tinggi. Meskipun ini bisa menjadi tanda fungsi ginjal yang baik, dalam konteks pascaoperasi dengan kehilangan cairan dari NGT, output urin yang tinggi ini dapat berkontribusi pada ketidakseimbangan antara intake dan output cairan. Asupan cairan Tn. H melalui infus Ringer Laktat adalah 125 mL/jam. Dalam 4 jam, intake-nya adalah 500 mL, sementara output totalnya (NGT + Urin) adalah 1000 mL. Hal ini menciptakan defisit bersih 500 mL dalam periode 4 jam, yang secara jelas mendukung diagnosis risiko defisit volume cairan. Jika tidak segera diantisipasi, kondisi ini dapat berkembang menjadi defisit volume cairan aktual yang ditandai dengan takikardia, hipotensi, penurunan turgor kulit, dan syok hipovolemik.
Kode SLKI: 2009
Deskripsi : SLKI 2009 berfokus pada Pemantauan Keseimbangan Cairan. Tujuan kriteria hasil ini adalah untuk memastikan bahwa status hidrasi dan keseimbangan cairan pasien tetap dalam batas yang diharapkan, sehingga mencegah terjadinya defisit volume cairan yang aktual. Pencapaian SLKI ini ditandai dengan beberapa indikator kunci. Pertama, keseimbangan cairan (balance) harus dipantau secara ketat dengan menghitung selisih antara total intake (cairan infus, oral jika ada) dan total output (urine, drain NGT, drainase luka, dan kehilangan insensible). Pada Tn. H, pemantauan ini harus dilakukan setidaknya setiap 1-2 jam pada fase akut pascaoperasi. Kedua, tanda-tanda vital (nadi, tekanan darah, frekuensi napas, suhu) harus dipantau secara berkala untuk mendeteksi adanya perubahan awal yang mengarah pada hipovolemia, seperti peningkatan frekuensi nadi atau penurunan tekanan darah. Ketiga, status membran mukosa (seperti kekeringan pada mulut dan bibir) dan turgor kulit dinilai untuk mendeteksi tanda-tanda dehidrasi. Keempat, pemantauan terhadap warna, jumlah, dan konsentrasi urine sangat penting; output urine yang sangat jernih dan banyak dapat mengindikasikan upaya tubuh untuk mengatur volume, namun dalam konteks defisit, output yang menurun adalah tanda bahaya. Kelima, pemantauan terhadap drainase dari selang NGT, termasuk volume, warna, dan konsistensi, merupakan bagian integral untuk menghitung kehilangan cairan yang akurat. Dengan menerapkan SLKI 2009 secara komprehensif, perawat dapat mengambil tindakan korektif sebelum kondisi Tn. H memburuk.
Kode SIKI: 4020
Deskripsi : SIKI 4020 adalah Manajemen Cairan. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan yang terencana dan terarah untuk mempertahankan atau memulihkan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Pada Tn. H, intervensi ini diimplementasikan melalui tiga tindakan prioritas. Pertama, Mempertahankan dan Menyesuaikan Terapi Cairan Intravena. Perawat harus memastikan kecepatan infus Ringer Laktat 125 mL/jam berjalan dengan benar dan tidak tersumbat. Namun, berdasarkan perhitungan defisit cairan (output 1000 mL vs input 500 mL dalam 4 jam), kolaborasi dengan dokter sangat diperlukan untuk mengevaluasi dan kemungkinan menaikkan kecepatan infus guna menutupi defisit dan memenuhi kebutuhan cairan maintenance dan pengganti. Ringer Laktat dipilih karena komposisi elektrolitnya yang mirip dengan plasma dan dapat membantu mengoreksi keasaman metabolik ringan pascaoperasi. Kedua, Memantau dan Mencatat Keseimbangan Cairan Secara Akurat. Perawat harus mencatat semua intake (cairan IV) dan output (urine, drainase NGT) secara detail pada lembar balance cairan. Pencatatan yang akurat setiap jam atau setiap shift adalah dasar objektif untuk mengevaluasi efektivitas terapi cairan dan menentukan kebutuhan penyesuaian lebih lanjut. Ketiga, Memantau Tanda-Tanda Klinis Defisit Volume Cairan. Meskipun tanda vital Tn. H saat ini stabil, perawat harus waspada terhadap tanda-tanda awal kompensasi tubuh terhadap hipovolemia, seperti peningkatan frekuensi nadi (>100x/menit), penurunan tekanan darah sistolik (<100 mmHg), penurunan produksi urine (<30 mL/jam), kulit yang dingin atau lembap, serta rasa haus yang meningkat. Tindakan ini bersifat proaktif dan preventif, bertujuan untuk mencegah risiko berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, sehingga memastikan keselamatan dan stabilitas hemodinamik Tn. H selama masa pemulihan pascaoperasi.
-
Article No. 23059 | 28 Nov 2025
Klinis : 1. Terdapat lubang trakeostoomi, terdapat kemerahan di sekitar lubang, keluar cairan fistul, banyak, berwarna kuning 2. Leukosit : 7.2 10^3/µL 3. Terpasang infus H0 4. Terpasang NGT H1 5. Terpasang DC H1
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0072
Deskripsi Singkat: Peningkatan risiko patogen memasuki tubuh yang dapat menyebabkan respons merugikan.
Kode SLKI: L.03138
Deskripsi : SLKI L.03138 berfokus pada Pencegahan Infeksi. Tujuan dari kriteria hasil ini adalah untuk mencegah masuk dan berkembangnya patogen dalam tubuh pasien, sehingga menghindari terjadinya infeksi. Pada pasien dengan kondisi seperti ini, perawat akan melakukan pemantauan ketat terhadap tanda-tanda infeksi, seperti kemerahan, bengkak, nyeri, demam, atau keluarnya drainase purulen (nanah) dari lokasi insisi atau lubang trakeostomi. Intervensi pencegahan yang spesifik akan diterapkan, termasuk mempertahankan teknik aseptik yang ketat selama perawatan luka atau manipulasi perangkat invasif seperti infus dan NGT. Perawat akan memastikan perawatan luka trakeostomi dilakukan dengan benar, membersihkan area sekitar stoma dengan larutan steril sesuai protokol, dan mengganti balutan yang basah atau kotor secara teratur. Selain itu, perawat akan memantau hasil laboratorium, khususnya hitung leukosit, meskipun dalam batas normal, tetap perlu diwaspadai karena bisa saja berada pada fase awal infeksi. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya kebersihan tangan, baik dengan cuci tangan menggunakan sabun maupun handrub, menjadi komponen krusial. Keluarga juga akan diajarkan untuk mengenali tanda-tanda infeksi dini sehingga dapat segera melaporkan kepada tenaga kesehatan. Pemantauan kondisi kulit di sekitar area penempelan selang NGT dan tempat pemasangan infus juga termasuk dalam lingkup SLKI ini untuk mencegah infeksi lokal. Dengan penerapan SLKI ini, diharapkan tidak terjadi peningkatan suhu tubuh yang signifikan, tidak ada tanda-tanda sepsis, dan semua luka atau lubang invasif menunjukkan proses penyembuhan yang baik tanpa indikasi infeksi.
Kode SIKI: I.08090
Deskripsi : SIKI I.08090 adalah Pemantauan Tanda dan Gejala Infeksi. Intervensi ini merupakan tindakan sistematis dan berkelanjutan untuk mengidentifikasi secara dini adanya indikasi infeksi pada pasien. Pada kasus pasien ini, perawat akan secara teratur dan detail menginspeksi area sekitar lubang trakeostomi. Tanda-tanda seperti kemerahan (eritema), pembengkakan (edema), peningkatan kehangatan lokal, nyeri tekan, dan karakteristik drainase (seperti banyaknya jumlah, warna kuning yang mengindikasikan kemungkinan pus/nanah, konsistensi, dan bau) akan dicatat dan didokumentasikan dengan cermat. Pengukuran tanda-tanda vital, terutama suhu tubuh, akan dilakukan secara berkala untuk mendeteksi adanya demam atau hipotermia yang dapat menjadi pertanda respons sistemik terhadap infeksi. Meskipun nilai leukosit pasien (7.2 10^3/µL) masih dalam rentang normal, pemantauan serial (pemeriksaan berulang) sangat penting untuk melihat tren peningkatan yang mungkin terjadi. Perawat juga akan memantau kondisi di sekitar lokasi pemasangan infus dan NGT untuk melihat adanya flebitis, infiltrat, atau iritasi kulit yang dapat menjadi pintu masuk infeksi. Selain observasi fisik, perawat akan mewawancarai pasien (jika kooperatif) mengenai perasaan tidak nyaman, nyeri, atau sensasi lainnya di area-area kritis tersebut. Semua data yang dikumpulkan dari pemantauan ini akan dianalisis untuk mengevaluasi efektivitas intervensi yang diberikan dan untuk mengambil keputusan klinis lebih lanjut, seperti kebutuhan untuk kultur luka atau penyesuaian terapi antibiotik jika diperlukan. Intervensi ini bersifat proaktif dan sentral dalam mencegah komplikasi infeksi yang lebih serius seperti sepsis.
Kondisi: Kerusakan Integritas Jaringan
Kode SDKI: D.0099
Deskripsi Singkat: Kerusakan pada membran mukosa, kornea, integumen, atau jaringan subkutan.
Kode SLKI: L.03204
Deskripsi : SLKI L.03204 bertujuan untuk mencapai Penyembuhan Luka. Kriteria hasil ini diharapkan dapat mengembalikan integritas kulit dan jaringan di bawahnya yang mengalami kerusakan. Pada pasien dengan trakeostomi yang menunjukkan kemerahan dan keluarnya cairan fistel, tujuan utamanya adalah mengurangi kemerahan, menghentikan atau mengurangi signifikan keluarnya drainase, dan memulai proses granulasi jaringan yang sehat. Penyembuhan luka trakeostomi dinilai dari berkurangnya area eritema (kemerahan) di sekitar stoma, menurunnya edema, dan perubahan karakteristik drainase dari purulen (kuning, kental) menjadi serous (jernih) atau bahkan tidak ada drainase sama sekali. Kulit di sekitar stoma harus tetap utuh, tidak lecet, dan tidak menunjukkan tanda-tanda iritasi lebih lanjut. Perawat juga akan memastikan bahwa tidak ada kerusakan kulit di sekitar area penempelan plester NGT atau pemasangan infus. Keberhasilan SLKI ini ditandai dengan epitelisasi yang progresif pada area luka, tidak adanya nekrosis jaringan, dan pengurangan nyeri atau ketidaknyamanan yang dilaporkan oleh pasien. Pemantauan terhadap kemungkinan perluasan area kerusakan jaringan juga sangat penting untuk mengevaluasi keberhasilan perawatan yang diberikan.
Kode SIKI: I.08040
Deskripsi : SIKI I.08040 adalah Perawatan Luka. Ini adalah intervensi langsung untuk merawat dan mengelola luka, termasuk luka insisi, luka tekan, atau luka pada stoma seperti trakeostomi. Pada pasien ini, perawat akan melakukan perawatan luka trakeostomi secara rutin dengan teknik steril. Langkah-langkahnya meliputi membersihkan area stoma dan kulit di sekitarnya dengan larutan saline steril atau antiseptik sesuai kebijakan institusi, membersihkan dari area yang paling bersih ke arah yang lebih kotor untuk mencegah kontaminasi. Kanul trakeostomi dalam (jika ada) akan dibersihkan atau diganti sesuai jadwal. Sekresi atau drainase yang berlebihan akan dibersihkan untuk menjaga kulit sekitar tetap kering dan mencegah maserasi. Perawat mungkin akan menerapkan salep atau dressing pelindung yang diresepkan oleh dokter untuk melindungi kulit dan mendukung penyembuhan. Balutan yang basah atau terkontaminasi akan segera diganti. Selain perawatan trakeostomi, perawat juga akan melakukan perawatan pada area pemasangan NGT, memastikan lubang hidung dan kulit pipi tidak mengalami iritasi atau tekanan, serta melakukan perawatan pada area pemasangan infus untuk mencegah flebitis dan infiltrasi. Dokumentasi yang akurat mengenai karakteristik luka, jenis perawatan yang diberikan, dan respons luka terhadap terapi merupakan bagian integral dari intervensi ini.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0012
Deskripsi Singkat: Risiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cairan yang cepat dari intravaskuler ke intraseluler atau intersisial.
Kode SLKI: L.03015
Deskripsi : SLKI L.03015 berfokus pada Pemeliharaan Keseimbangan Cairan. Tujuannya adalah untuk mempertahankan status hidrasi yang adekuat dan mencegah komplikasi akibat kelebihan atau kekurangan cairan. Pada pasien ini, keluarnya cairan fistul yang banyak dari area trakeostomi dapat menyebabkan kehilangan cairan ekstra yang signifikan, meningkatkan risiko defisit volume cairan. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi tanda-tanda vital yang stabil (terutama denyut nadi dan tekanan darah), turgor kulit yang baik, membran mukosa yang lembab, dan produksi urin yang adekuat (output melalui DC sesuai dengan input cairan yang diberikan via infus). Perawat akan memastikan bahwa asupan cairan melalui infus (H0) dan NGT (H1) mencukupi untuk menggantikan cairan yang hilang melalui drainase fistul dan jalur lainnya. Tanda-tanda dehidrasi seperti peningkatan denyut jantung, penurunan tekanan darah, kulit kering, dan penurunan output urin akan dipantau secara ketat. Keseimbangan cairan (balance cairan) akan dihitung dengan cermat dengan mempertimbangkan semua input (infus, NGT) dan output (urine dari DC, drainase fistul, insensible water loss).
Kode SIKI: I.05017
Deskripsi : SIKI I.05017 adalah Manajemen Keseimbangan Cairan. Intervensi ini melibatkan serangkaian tindakan untuk memantau, mengatur, dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh pasien. Perawat akan menghitung dan mendokumentasikan keseimbangan cairan secara ketat setiap shift atau sesuai protokol, dengan memperhitungkan cairan yang masuk (infus H0, cairan NGT H1) dan cairan yang keluar (output urin melalui DC H1, serta estimasi kehilangan cairan dari drainase fistul trakeostomi). Tanda-tanda vital akan dipantau secara berkala untuk mendeteksi early shock hipovolemik. Perawat akan berkolaborasi dengan dokter dan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan cairan total pasien per 24 jam, dengan mempertimbangkan faktor kehilangan cairan yang tidak biasa dari fistul. Keakuratan dalam pemberian cairan infus dan diet melalui NGT harus dipastikan. Perawat juga akan memantau status mukosa oral, turgor kulit, dan adanya rasa haus pada pasien sebagai indikator klinis status hidrasi. Jika terdapat indikasi ketidakseimbangan, perawat akan segera melaporkannya untuk
Article No. 23060 | 28 Nov 2025
Klinis : pasien usia 60 tahun keluhan sesak nafas dan mudah lelah, riwayat hipertensi 10 tahun dan infark miokard 5 tahun. TD 160/90 mmHg, HR 98 x/menit, edema ektstremitas derajat 2, crt >3 detik, suara napas ronkhi, peningkatan JVP
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gagal Jantung Kongestif (CHF)
Kode ICD-10: I50.9
Deskripsi Singkat : Gagal Jantung Kongestif (CHF) adalah suatu kondisi kronis dan progresif di mana otot jantung menjadi lemah atau kaku, sehingga tidak mampu memompa darah secara efektif untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh. Deskripsi pasien menunjukkan gambaran klasik CHF. Riwayat infark miokard (serangan jantung) merusak otot jantung, mengurangi daya pompa. Hipertensi yang tidak terkontrol memberikan beban tekanan berkelanjutan pada jantung. Gejala sesak napas dan ronkhi (suara napas tambahan) disebabkan oleh penumpukan cairan di paru-paru (edema paru). Mudah lelah terjadi karena jantung tidak dapat memompa darah kaya oksigen yang cukup ke otot dan jaringan. Edema ekstremitas derajat 2, peningkatan JVP (tekanan vena jugularis), dan waktu pengisian kapiler (crt) yang memanjang semuanya merupakan tanda-tanda gagal jantung kanan, di mana jantung gagal memompa darah balik dari vena secara efektif, menyebabkan penumpukan cairan di tubuh. Kode ICD-10 I50.9 secara spesifik mengacu pada 'Gagal Jantung, tidak ditentukan', yang mencakup gagal jantung kongestif tanpa spesifikasi lebih lanjut seperti sisi jantung yang terdampak (kiri/kanan) atau jenis disfungsi (sistolik/diastolik). Kode ini digunakan ketika gambaran klinis jelas mengarah pada CHF, seperti yang ditunjukkan oleh kombinasi gejala dan tanda fisik pada pasien ini.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 23061 | 28 Nov 2025
Klinis : pasien usia 60 tahun keluhan sesak nafas dan mudah lelah, riwayat hipertensi 10 tahun dan infark miokard 5 tahun. TD 160/90 mmHg, HR 98 x/menit, edema ektstremitas derajat 2, crt >3 detik, suara napas ronkhi, peningkatan JVP
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0013
Deskripsi Singkat: Kondisi dimana volume darah yang dipompa oleh jantung per menit (curah jantung) tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI untuk diagnosa ini adalah "Kinerja Jantung Tertata". Tujuan dari seluruh intervensi keperawatan adalah untuk mengembalikan atau mempertahankan kinerja jantung yang adekuat. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: Tanda-tanda vital dalam batas yang dapat diterima atau yang ditargetkan untuk pasien (misalnya, penurunan tekanan darah sistolik dari 160 mmHg mendekati normal, penurunan denyut nadi dari 98 x/menit), tidak adanya atau berkurangnya edema perifer (edema ekstremitas derajat 2 menjadi derajat 1 atau hilang), pengisian kapiler (CRT) kembali normal (kurang dari 3 detik), bunyi jantung dan paru normal (ronkhi menghilang), tekanan vena jugularis (JVP) tidak lagi meningkat, serta pasien melaporkan penurunan keluhan sesak napas dan peningkatan toleransi terhadap aktivitas (tidak mudah lelah). Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa intervensi yang diberikan efektif dalam meningkatkan fungsi pompa jantung.
Kode SIKI: I.08010
Deskripsi : SIKI untuk mendukung SLKI "Kinerja Jantung Tertata" adalah "Manajemen Curah Jantung". Ini adalah serangkaian tindakan keperawatan yang komprehensif dan sistematis. Pertama, perawat akan memantau status kardiovaskular dan pernapasan secara ketat, termasuk tekanan darah, denyut nadi, frekuensi pernapasan, suara napas (mencatat adanya ronkhi), saturasi oksigen, dan pengisian kapiler. Pemantauan berat badan harian dan pengukuran edema ekstremitas juga dilakukan untuk menilai status cairan. Kedua, perawat mengatur posisi pasien untuk memfasilitasi pertukaran gas, biasanya dengan posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi untuk mengurangi sesak napas. Pemberian oksigen sesuai program medis sangat penting untuk mengatasi hipoksia. Ketiga, manajemen beban kerja jantung dilakukan dengan membatasi aktivitas fisik, mendorong tirah baring atau aktivitas terbatas, serta membantu pasien dalam aktivitas perawatan diri untuk menghemat energi dan mengurangi kelelahan. Keempat, manajemen cairan dan elektrolit dilaksanakan dengan membatasi asupan cairan dan natrium sesuai resep dokter, serta memantau keseimbangan cairan masuk dan keluar. Kelima, pemberian obat-obatan seperti diuretik (untuk mengurangi edema dan sesak), vasodilator, atau inotropik sesuai resep diawasi dengan cermat, termasuk memantau efek terapi dan efek sampingnya. Terakhir, edukasi kesehatan kepada pasien dan keluarga mengenai kondisi penyakit, pentingnya diet rendah garam, pembatasan cairan, pengenalan tanda-tanda memburuknya kondisi (seperti sesak bertambah atau edema meningkat), dan pentingnya kepatuhan pengobatan hipertensi dan jantung merupakan bagian integral dari SIKI ini untuk mencapai hasil yang berkelanjutan.
Article No. 23062 | 28 Nov 2025
Klinis : 4. Pengkajian: a. Anamnesis 1) Identitas: Laki-laki, 21 tahun. Dirawat di bangsal penyakit dalam. 2) Keluhan Utama: Demam 38,1°C yang dirasakan terus-menerus. 3) Keluhan Tambahan: Sakit kepala berat Nyeri otot dan pegal seluruh badan Nyeri ulu hati Mual 4) Riwayat Penyakit Sekarang: Demam sudah berlangsung ±5 hari sebelum masuk RS. Demam tidak turun dengan obat bebas (tidak disebutkan tapi lazim diasumsikan). 5) Riwayat Penyakit Dahulu: Tidak disebutkan. 6) Riwayat Alergi: Tidak disebutkan. b. Pemeriksaan Fisik 1) Tanda Vital: Suhu: 38,1°C (demam) Tekanan darah, nadi, RR: tidak dicantumkan (kosong) 2) Inspeksi Umum: Tampak lemas 3) Abdomen: Nyeri tekan ulu hati c. Pemeriksaan Penunjang (Lab) 1) Darah rutin Parameter Hasil Interpretasi: WBC 2.57 ×10³/µL ↓ Leukopenia → khas DBD PLT 24.5 ×10³/µL ↓↓↓ Trombositopenia berat HCT 42.8% (normal ke arah tinggi) Risiko hemokonsentrasi LYM 17.6% ↓ Limfositopenia MONO 23% ↑ Monositosis MCV 79.6 fL ↓ sedikit Tidak signifikan EOS 0.043% ↓ Eosinopenia → infeksi virus BASO 1.13% ↑ Tidak khas TROM 75 ×10³ µL Rendah LEU 4.5 ×10³ µL Normal rendah Irsyadiyah, P. N., & Ratnaningsih, T. (2022). Asuhan Keperawatan Dengan Masalah Keperawatan Hipertermi Pada Pasien Dengue Haemoragic Fever (Dhf) Di Rsud Ra Basoeni (Doctoral dissertation, Perpustakaan Bina Sehat).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermi
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal sebagai respons fisiologis terhadap patogen, lingkungan, atau trauma.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI untuk Hipertermi berfokus pada upaya menurunkan dan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal, serta mencegah komplikasi. Intervensi utamanya adalah pemantauan tanda-tanda vital, khususnya suhu, secara berkala untuk menilai perkembangan dan respons terhadap terapi. Tindakan utama yang dilakukan adalah memberikan terapi kompres hangat atau tepid sponge pada area tubuh dengan pembuluh darah besar (seperti aksila, lipat paha, dan dahi) untuk meningkatkan pelepasan panas melalui konduksi dan evaporasi. Selain itu, kolaborasi pemberian obat antipiretik seperti parasetamol sesuai resep dokter sangat penting untuk menurunkan titik setel suhu di hipotalamus. Pasien juga didorong untuk meningkatkan asupan cairan secara oral untuk mencegah dehidrasi yang dapat memperparah hipertermi. Lingkungan pasien diatur agar tetap sejuk dan nyaman, misalnya dengan memastikan sirkulasi udara yang baik dan menggunakan pakaian yang tipis serta menyerap keringat. Edukasi diberikan kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya istirahat untuk mengurangi produksi panas metabolik dan tanda-tanda bahaya yang perlu dilaporkan.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : SIKI mengukur keberhasilan dari SLKI yang dilaksanakan. Kriteria utamanya adalah suhu tubuh pasien kembali dalam rentang normal (36,5°C - 37,5°C). Selain itu, kulit pasien teraba hangat tanpa disertai kemerahan yang berlebihan atau tanda iritasi lainnya. Tanda-tanda vital lain seperti denyut nadi dan laju pernapasan juga harus stabil dan dalam batas normal, menunjukkan bahwa tubuh tidak berada dalam stres fisiologis yang berat. Pasien diharapkan melaporkan penurunan perasaan tidak nyaman yang berkaitan dengan demam, seperti perasaan gerah atau kedinginan. Tingkat kesadaran pasien harus compos mentis (GCS 15) dan tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan kesadaran seperti delirium atau kejang yang dapat dipicu oleh demam tinggi. Asupan cairan pasien adekuat, yang ditandai dengan mukosa bibir yang lembab dan haluaran urine yang cukup. Pasien dan keluarga juga diharapkan dapat mendemonstrasikan pemahaman tentang cara mengelola demam di rumah, seperti penggunaan kompres yang benar dan kapan harus mencari pertolongan medis lebih lanjut.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang timbul secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.07001
Deskripsi : SLKI untuk Nyeri Akut bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri serta meningkatkan kenyamanan pasien. Langkah pertama adalah melakukan penilaian nyeri yang komprehensif menggunakan skala yang valid (misalnya, skala 0-10 atau wajah) untuk menentukan lokasi, karakteristik, intensitas, dan faktor yang memperingan atau memperberat nyeri (sakit kepala, nyeri otot, dan nyi ulu hati). Manajemen nyeri farmakologis dilakukan dengan mengkolaborasikan pemberian analgesik sesuai resep dokter, seperti parasetamol untuk nyeri ringan-sedang atau obat yang lebih kuat jika diperlukan, dengan mempertimbangkan kondisi trombositopenia pasien (menghindari NSAID). Terapi non-farmakologis sangat dianjurkan, termasuk teknik distraksi seperti mendengarkan musik atau relaksasi napas dalam untuk mengalihkan perhatian dari sensasi nyeri. Penataan posisi tubuh yang nyaman dan dukungan dengan bantal dapat membantu mengurangi ketegangan otot. Lingkungan yang tenang dan redup cahaya dapat membantu meringankan nyeri kepala. Pasien dan keluarga juga diedukasi tentang pentingnya melaporkan nyeri secara dini sebelum nyeri menjadi berat, serta teknik non-farmakologis yang dapat dilakukan secara mandiri.
Kode SIKI: I.07001
Deskripsi : SIKI mengevaluasi efektivitas manajemen nyeri. Kriteria utamanya adalah penurunan skala nyeri yang dilaporkan pasien hingga mencapai tingkat yang dapat ditoleransi atau hilang sama sekali. Ekspresi wajah pasien tampak rileks, tidak lagi meringis atau tegang. Perilaku gelisah atau melindungi area tertentu yang nyeri (seperti memegangi kepala atau ulu hati) harus berkurang atau hilang. Tanda-tanda vital yang sebelumnya mungkin meningkat karena nyeri (seperti takikardia atau hipertensi) kembali stabil. Pasien mampu beristirahat dan tidur dengan lebih nyenyak tanpa terganggu nyeri. Pasien juga dapat berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri secara mandiri atau dengan bantuan minimal, yang menunjukkan bahwa nyeri tidak lagi membatasi mobilitas dan fungsi sehari-hari. Laporan verbal dari pasien menyatakan peningkatan kenyamanan dan kemampuan untuk mengatasi nyeri yang dialami.
Kondisi: Risiko Syok
Kode SDKI: D.0186
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap penurunan perfusi jaringan yang mengancam jiwa, yang dapat mengakibatkan kegagalan multi-organ.
Kode SLKI: L.15005
Deskripsi : SLKI untuk Risiko Syok berfokus pada pemantauan ketat dan tindakan pencegahan untuk mendeteksi dini tanda-tanda syok, khususnya syok hipovolemik yang berisiko terjadi pada fase kritis DBD. Intervensi utamanya adalah pemantauan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan) secara ketat dan berkelanjutan, dengan perhatian khusus pada tanda-tanda hipotensi dan takikardia. Pemantauan keseimbangan cairan sangat penting, termasuk mencatat asupan dan haluaran urine; pemasangan kateter urine mungkin diperlukan untuk memantau produksi urine per jam (output minimal 0.5 mL/kgBB/jam). Tirah baring mutlak diperlukan untuk mengurangi beban kerja jantung dan mencegah perdarahan spontan akibat trombositopenia berat. Observasi ketat terhadap tanda-tanda perdarahan (petekie, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, melena, atau hematemesis) dilakukan secara rutin. Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai protokol DBD untuk menjaga volume intravaskuler sangat krusial. Pasien dan keluarga diedukasi untuk segera melaporkan jika muncul tanda bahaya seperti perdarahan, rasa lemas yang sangat berat, pusing, atau penurunan kesadaran.
Kode SIKI: I.15001
Deskripsi : SIKI mengukur keberhasilan dalam mencegah terjadinya syok. Kriteria utamanya adalah tanda-tanda vital pasien tetap stabil dalam rentang normal yang dapat diterima untuk kondisinya, tanpa adanya tanda-tanda hipotensi ortostatik atau takikardia yang signifikan. Keseimbangan cairan tercapai, ditandai dengan asupan dan haluaran yang seimbang, serta produksi urine yang adekuat (>0.5 mL/kgBB/jam). Tidak ditemukan tanda-tanda perdarahan aktif atau memburuknya perdarahan spontan. Status mental pasien tetap sadar dan responsif (compos mentis), tanpa tanda penurunan kesadaran seperti gelisah, bingung, atau apatis yang dapat menjadi pertanda awal syok. Warna kulit dan membran mukosa tetap normal, tidak pucat, sianosis, atau dingin dan lembab. Parameter laboratorium, khususnya nilai hematokrit, tidak menunjukkan peningkatan yang drastis yang mengindikasikan kebocoran plasma yang signifikan. Pasien dapat melalui fase kritis DBD tanpa mengalami episode syok.
Article No. 23063 | 28 Nov 2025
Klinis : pada seseorang yang naik gunung biasanya keinginan berkemih menjadi berkurang, tetapi ketika berhenti menjadi ingin buang air kecil. warna urine menjadi pekat selama mendaki, dan kembali jernih setelah istirahat dan rehidrasi. Data fokus apa yang harus dikaji perawat terkait pola dan karakteristik urine (frekuensi, warna, jumlah) selama aktivitas berat dan setelah istirahat? Tentukan Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Status dimana individu berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular. Kondisi ini mengacu pada kehilangan atau kelebihan cairan, elektrolit, atau perpindahan cairan, serta risiko dehidrasi atau overhidrasi.
Kode SLKI: L.03114
Deskripsi : SLKI L.03114 berfokus pada pemantauan keseimbangan cairan untuk mencegah komplikasi. Intervensi keperawatan yang direncanakan mencakup pengkajian tanda-tanda vital (denyut nadi, tekanan darah, frekuensi pernapasan) secara berkala untuk mengidentifikasi tanda awal syok hipovolemik atau dehidrasi, seperti takikardia dan hipotensi. Memonitor asupan dan haluaran cairan dengan ketat, termasuk mencatat frekuensi, volume, dan karakteristik urine (warna, bau, berat jenis). Pada kasus pendaki, ini berarti membandingkan volume urine yang sedikit dan pekat selama pendakian dengan volume setelah rehidrasi. Melakukan penimbangan berat badan harian jika memungkinkan, karena penurunan berat badan yang cepat dapat mengindikasikan kehilangan cairan. Memeriksa turgor kulit, kelembaban membran mukosa, dan adanya rasa hait sebagai indikator status hidrasi. Selain itu, perawat akan mendidik pasien tentang pentingnya rehidrasi oral yang adekuat sebelum, selama, dan setelah aktivitas berat, dengan menekankan untuk tidak hanya minum saat haus, tetapi berdasarkan jadwal yang teratur. Menganjurkan jenis cairan yang sesuai, seperti air atau cairan yang mengandung elektrolit untuk menggantikan yang hilang melalui keringat. Membuat rencana hidrasi individu berdasarkan intensitas aktivitas dan kondisi lingkungan juga merupakan bagian kunci dari intervensi ini.
Kode SIKI: I.08039
Deskripsi : SIKI I.08039 adalah Manajemen Cairan, yang merupakan serangkaian tindakan langsung untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan mencegah komplikasi. Tindakan ini dimulai dengan pengkajian menyeluruh terhadap status hidrasi pasien, yang dalam konteks ini adalah pendaki. Perawat akan mengkaji pola berkemih, termasuk penurunan frekuensi (oliguria) dan perubahan warna urine menjadi pekat (konsentrasi tinggi) selama aktivitas mendaki, serta normalisasinya setelah istirahat dan minum. Data fokus yang harus dikaji perawat meliputi: 1) Frekuensi berkemih selama pendakian (biasanya berkurang) dan setelah istirahat (biasanya meningkat), 2) Warna urine (dari pekat/kuning tua selama dehidrasi menjadi jernih/kuning muda setelah hidrasi adequat), dan 3) Volume urine (jumlah output yang sedikit selama aktivitas berat dibandingkan dengan output yang lebih banyak setelah rehidrasi). Tindakan lanjutan termasuk mendokumentasikan asupan dan haluaran cairan secara akurat, memberikan cairan intravena jika dehidrasi berat dan sesuai instruksi dokter, serta memposisikan pasien untuk kenyamanan dan sirkulasi yang optimal. Perawat juga akan memantau hasil pemeriksaan laboratorium terkait, seperti kadar elektrolit dan berat jenis urine, jika tersedia. Yang terpenting, perawat akan memberikan edukasi kesehatan yang komprehensif kepada pasien/pendaki tentang pentingnya hidrasi proaktif, mengenali tanda-tanda awal dehidrasi (seperti urine pekat, haus berlebihan, lemas, pusing), dan teknik rehidrasi yang efektif setelah aktivitas berat untuk memulihkan keseimbangan cairan tubuh secara optimal.
Article No. 23064 | 28 Nov 2025
Klinis : Pola nafas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi Berdasarkan PPNI
Sebagai seorang perawat profesional, pemahaman dan penerapan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), serta Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) adalah esensial dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif, terstruktur, dan berbasis bukti. Ketiga standar ini, yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), menjadi panduan utama dalam proses keperawatan.
Penjelasan Singkat SDKI, SLKI, SIKI
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Merupakan sistem klasifikasi diagnosis keperawatan yang distandardisasi untuk mengidentifikasi masalah kesehatan pasien yang dapat diatasi melalui intervensi keperawatan. Diagnosis keperawatan berfokus pada respons manusia terhadap masalah kesehatan aktual atau potensial.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Adalah sistem klasifikasi luaran keperawatan yang distandardisasi untuk mengukur dan mengevaluasi respons pasien terhadap intervensi keperawatan. Luaran ini menggambarkan kondisi, perilaku, atau persepsi pasien yang diharapkan membaik setelah diberikan asuhan keperawatan.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Merupakan sistem klasifikasi intervensi keperawatan yang distandardisasi untuk merencanakan dan mendokumentasikan tindakan keperawatan yang akan dilakukan. Intervensi ini dirancang untuk mencapai luaran yang diinginkan dan mengatasi diagnosis keperawatan.
Kondisi Pasien: Pola Nafas Tidak Efektif
Berdasarkan kondisi pasien "Pola Nafas Tidak Efektif", berikut adalah diagnosis keperawatan, luaran, dan intervensi yang relevan sesuai standar PPNI:
1. Diagnosis Keperawatan (SDKI)
Komponen
Detail
Diagnosis Keperawatan
Pola Nafas Tidak Efektif
Kode SDKI
D.0005
Definisi
Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat.
Penyebab (Etiologi)
- Depresi pusat pernapasan
- Hambatan upaya napas (mis. nyeri saat bernapas, kelemahan otot pernapasan)
- Deformitas dinding dada
- Gangguan neuromuskular
- Kerusakan inervasi diafragma (mis. cedera tulang belakang)
- Cedera pada medula spinalis
- Efek agen farmakologis
- Kecemasan
Gejala dan Tanda Mayor (Data Kritis)
Subjektif:
- Dispnea
Objektif:
- Takipnea
- Bradipnea
- Pernapasan cuping hidung
- Ortopnea
- Fase ekspirasi memanjang
- Pola napas abnormal (mis. Cheyne-Stokes, Kussmaul)
Gejala dan Tanda Minor (Data Pendukung)
Subjektif:
- (Tidak tersedia)
Objektif:
- Penggunaan otot bantu pernapasan
- Penurunan tekanan inspirasi/ekspirasi
- Penurunan ventilasi semenit
- Penurunan kapasitas vital
- Retraksi dinding dada
- Sianosis
- Bunyi napas tambahan (mis. krekels, ronkhi, mengi)
- Penurunan saturasi oksigen
2. Luaran Keperawatan (SLKI)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan Pola Nafas pasien membaik.
Komponen
Detail
Luaran Utama
Pola Nafas
Kode SLKI
L.01004
Definisi
Inspirasi dan/atau ekspirasi yang memberikan ventilasi adekuat.
Kriteria Hasil (Indikator)
Tingkat keberhasilan diukur dengan skala 1 (memburuk/menurun) hingga 5 (membaik/meningkat).
- Dispnea menurun (dari 1 ke 5)
- Penggunaan otot bantu pernapasan menurun (dari 1 ke 5)
- Fase ekspirasi memanjang menurun (dari 1 ke 5)
- Pernapasan cuping hidung menurun (dari 1 ke 5)
- Ortopnea menurun (dari 1 ke 5)
- Pola napas membaik (dari 1 ke 5)
- Frekuensi napas membaik (dari 1 ke 5)
- Kedalaman napas membaik (dari 1 ke 5)
- Saturasi oksigen meningkat (dari 1 ke 5)
- Retraksi dinding dada menurun (dari 1 ke 5)
- Bunyi napas tambahan menurun (dari 1 ke 5)
- Sianosis menurun (dari 1 ke 5)
- Takipnea menurun (dari 1 ke 5)
- Bradipnea menurun (dari 1 ke 5)
3. Intervensi Keperawatan (SIKI)
Untuk mencapai luaran Pola Nafas yang membaik, intervensi utama yang dapat dilakukan adalah Manajemen Jalan Napas, didukung oleh intervensi lain yang relevan.