Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23137 | 03 Dec 2025
Klinis : peningkatan penglihatan
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Peningkatan Penglihatan
Kode ICD-10: H53.8
Deskripsi Singkat : Peningkatan penglihatan (hiperopia fungsional atau peningkatan ketajaman visual yang tidak biasa) bukanlah suatu diagnosis penyakit, melainkan sebuah temuan atau gejala subjektif. Dalam konteks ICD-10, kondisi ini diklasifikasikan di bawah kode H53.8 yang mencakup "Gangguan penglihatan lain yang ditentukan". Istilah ini dapat menggambarkan situasi di mana ketajaman penglihatan seseorang dilaporkan atau diukur menjadi lebih baik dari baseline sebelumnya, yang mungkin bersifat sementara atau persisten. Penyebabnya beragam dan perlu penyelidikan lebih lanjut. Kemungkinan penyebab meliputi perubahan refraksi (misalnya, pergeseran sementara menuju hiperopia), efek pengobatan untuk kondisi lain (seperti obat-obatan yang mempengaruhi akomodasi), pemulihan dari kondisi mata tertentu (seperti berkurangnya edema makula), atau bahkan variasi pengukuran. Sangat penting untuk membedakannya dari "penglihatan normal" (kode H54.0-H54.2 untuk ketajaman penglihatan normal dengan koreksi). Kode H53.8 digunakan untuk menandai dan melacak keluhan atau temuan spesifik ini dalam rekam medis, yang kemudian memerlukan evaluasi klinis lebih lanjut oleh profesional kesehatan mata untuk menentukan etiologi yang mendasarinya, apakah bersifat fisiologis, patologis, atau terkait dengan faktor lain.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23138 | 03 Dec 2025
Klinis : DS: - Ibu mengatakan tidak ada jadwal khusus stimulasi anak. - Ibu mengatakan stimulasi perkembangan dilakukan tidak konsisten. - Ibu mengatakan keluarga belum melakukan pemantauan perkembangan anak secara terstruktur. - Ibu mengatakan pola pengasuhan tergantung waktu luang orang tua. DO: - Tugas perkembangan keluarga (pengasuhan dan stimulasi) belum terpenuhi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Perkembangan Anak
Kode SDKI: D.0150
Deskripsi Singkat: Risiko gangguan pada kemampuan anak untuk mencapai tonggak perkembangan yang diharapkan sesuai usia dalam domain motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan adaptif.
Kode SLKI: L.15002
Deskripsi : Keluarga mampu mengidentifikasi faktor risiko dan tanda-tanda gangguan perkembangan anak. Keluarga mampu merencanakan stimulasi perkembangan yang sesuai usia anak. Keluarga mampu melaksanakan stimulasi perkembangan secara konsisten dan terintegrasi dalam pola pengasuhan sehari-hari. Keluarga mampu memantau pencapaian perkembangan anak secara terstruktur. Keluarga mampu memodifikasi lingkungan dan interaksi untuk mendukung perkembangan optimal anak. Keluarga mampu memanfaatkan sumber daya dan dukungan profesional untuk mengoptimalkan perkembangan anak.
Kode SIKI: I.15078
Deskripsi : Lakukan pengkajian perkembangan anak menggunakan instrumen standar (misal: KPSP, Denver II) untuk menentukan status dan area perkembangan yang berisiko. Edukasi keluarga tentang tonggak perkembangan (milestone) normal sesuai usia anak dan pentingnya stimulasi dini. Bantu keluarga mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam pola pengasuhan saat ini terkait stimulasi perkembangan. Latih orang tua/keluarga untuk melakukan teknik stimulasi perkembangan yang spesifik sesuai usia dan kebutuhan anak (misal: bermain sensori, bercerita, bernyanyi, aktivitas motorik halus dan kasar). Bantu keluarga menyusun jadwal/rutinitas harian yang memasukkan aktivitas stimulasi secara konsisten, memanfaatkan waktu kebersamaan. Diskusikan strategi untuk melibatkan seluruh anggota keluarga dalam proses stimulasi dan pengasuhan. Ajarkan keluarga cara melakukan pemantauan perkembangan sederhana dan pencatatan (misal: diary perkembangan). Berikan reinforcement positif atas upaya dan kemajuan yang dilakukan keluarga dalam memberikan stimulasi. Fasilitasi keluarga untuk mengakses sumber daya seperti buku, materi audiovisual, atau kelompok bermain yang mendukung. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (seperti dokter anak, psikolog, atau terapis) jika ditemukan tanda-tanda penyimpangan perkembangan yang signifikan. Lakukan kunjungan tindak lanjut atau perjanjian konsultasi untuk mengevaluasi kemajuan perkembangan anak dan pelaksanaan stimulasi oleh keluarga.
-
Article No. 23139 | 03 Dec 2025
Klinis : DATA SUBJEKTIF (DS) Ibu mengatakan keputusan kesehatan lebih sering ditentukan oleh ibu sendiri. Ibu mengatakan bingung menentukan waktu membawa anak ke pelayanan kesehatan. Ibu mengatakan suami jarang terlibat dalam keputusan kesehatan karena pekerjaan. DATA OBJEKTIF (DO) Pengambilan keputusan tidak melibatkan anggota keluarga terkait. Keputusan kesehatan bersifat spontan, tidak direncanakan. Tidak ada pembagian peran dalam membuat keputusan kesehatan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidakefektifan Pengambilan Keputusan Keluarga
Kode SDKI: 00087
Deskripsi Singkat: Suatu keadaan di mana keluarga mengalami ketidakmampuan dalam mengambil keputusan yang tepat dan kolaboratif terkait perawatan kesehatan, yang ditandai dengan proses pengambilan keputusan yang tidak melibatkan anggota keluarga, bersifat spontan, dan tidak adanya pembagian peran yang jelas.
Kode SLKI: 4501
Deskripsi : Keluarga mampu mengidentifikasi masalah kesehatan dan kebutuhan pengambilan keputusan. Keluarga mampu mengumpulkan informasi yang relevan dari sumber yang dapat dipercaya terkait pilihan pengambilan keputusan. Keluarga mampu mendiskusikan pilihan-pilihan yang ada dengan melibatkan anggota keluarga yang relevan (termasuk suami/ayah). Keluarga mampu mengevaluasi keuntungan dan kerugian dari setiap pilihan yang ada. Keluarga mampu memutuskan pilihan terbaik secara bersama-sama berdasarkan pertimbangan yang matang. Keluarga mampu melaksanakan keputusan yang telah diambil. Keluarga mampu mengevaluasi hasil dari keputusan yang telah dilaksanakan.
Kode SIKI: 4501A
Deskripsi : Fasilitasi Pengambilan Keputusan. Perawat mendorong keluarga untuk mengungkapkan perasaan, persepsi, dan kekhawatiran terkait masalah kesehatan. Perawat membantu keluarga mengidentifikasi dengan jelas masalah atau situasi yang memerlukan pengambilan keputusan. Perawat membantu keluarga mengidentifikasi anggota keluarga kunci yang seharusnya terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Perawat mendorong partisipasi aktif dari semua anggota keluarga yang telah diidentifikasi, termasuk strategi untuk mengatasi hambatan partisipasi (misal: karena kesibukan kerja). Perawat menyediakan atau membantu keluarga mengakses informasi kesehatan yang akurat dan mudah dipahami terkait pilihan-pilihan yang ada. Perawat memfasilitasi diskusi keluarga untuk membahas setiap pilihan, termasuk manfaat, risiko, dan konsekuensinya. Perawat menggunakan teknik komunikasi terapeutik untuk membangun suasana diskusi yang terbuka dan saling menghargai. Perawat membantu keluarga mengembangkan kriteria untuk mengevaluasi pilihan (misal: biaya, ketersediaan, keyakinan budaya). Perawat mendukung keluarga dalam menimbang-nimbang pilihan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Perawat memfasilitasi keluarga untuk mencapai konsensus atau keputusan bersama. Perawat membantu keluarga merencanakan langkah-langkah konkret untuk melaksanakan keputusan. Perawat mendorong keluarga untuk menetapkan waktu evaluasi terhadap hasil keputusan. Perawat memberikan penguatan positif atas upaya dan kemajuan keluarga dalam proses pengambilan keputusan.
-
Article No. 23140 | 03 Dec 2025
Klinis : defisit perawatan diri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Perawatan Diri
Kode SDKI: D.0061
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri (mandi/higiene, berpakaian/berdandan, makan, toileting) secara mandiri dan memadai.
Kode SLKI: L.03103
Deskripsi : Perawatan diri pasien terpenuhi. Kriteria hasil: 1) Pasien mampu melakukan aktivitas mandi/higiene dengan bantuan sesuai kebutuhan. 2) Pasien mampu melakukan aktivitas berpakaian/berdandan dengan bantuan sesuai kebutuhan. 3) Pasien mampu melakukan aktivitas makan dengan bantuan sesuai kebutuhan. 4) Pasien mampu melakukan aktivitas toileting dengan bantuan sesuai kebutuhan. 5) Kebutuhan eliminasi terpenuhi. 6) Integritas kulit terjaga.
Kode SIKI: I.08095
Deskripsi : Bantuan perawatan diri. Tindakan keperawatan: 1) Identifikasi faktor penyebab defisit perawatan diri (kelemahan, nyeri, gangguan kognitif, depresi, dll). 2) Kaji tingkat ketergantungan pasien dalam aktivitas perawatan diri (mandi, berpakaian, makan, toileting) menggunakan skala yang valid. 3) Monitor kemampuan perawatan diri pasien setiap hari. 4) Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan kebersihan diri (mandi, perawatan mulut, perawatan kuku, dan rambut) sesuai kebutuhan dan preferensi pasien. 5) Bantu pasien dalam aktivitas berpakaian dan berdandan, sediakan pakaian yang mudah dipakai dan mendukung harga diri. 6) Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi, sediakan alat makan adaptif jika diperlukan, beri makan jika pasien tidak mampu. 7) Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan eliminasi (BAB/BAK), sediakan bedpan/urinal atau bantu ke kamar mandi, jadwalkan toileting jika diperlukan. 8) Ajarkan dan latih keluarga/caregiver dalam membantu perawatan diri pasien. 9) Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (fisioterapi, okupasi terapi, gizi) untuk meningkatkan kemandirian perawatan diri. 10) Berikan pujian dan dukungan untuk setiap usaha kemandirian yang dilakukan pasien.
-
Article No. 23141 | 03 Dec 2025
Klinis : Buatkan tujuan ,intervensi dan rasional diagnosa keperawatan gangguan integritas jaringan
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gangguan Integritas Jaringan
Kode ICD-10: L98.9
Deskripsi Singkat : Gangguan Integritas Jaringan adalah diagnosis keperawatan yang menggambarkan kerusakan atau gangguan pada kulit dan struktur jaringan di bawahnya, yang mengakibatkan kulit tidak utuh. Kondisi ini dapat bermanifestasi sebagai luka terbuka, ulkus dekubitus (luka tekan), luka bakar, luka insisi bedah, atau erosi kulit. Kode ICD-10 yang direkomendasikan untuk tujuan pelatihan ini adalah L98.9, yang berada di bawah kategori "L98 - Gangguan kulit dan jaringan subkutan lainnya yang tidak diklasifikasikan di tempat lain". Kode ini secara spesifik merujuk pada "Lesi kulit dan jaringan subkutan, tidak spesifik". Penggunaan kode ini tepat ketika gangguan integritas jaringan tidak memenuhi kriteria untuk klasifikasi yang lebih spesifik (seperti ulkus dekubitus atau luka bakar) atau ketika sifat lesi kulit belum ditentukan secara pasti. Dalam konteks keperawatan, diagnosis ini memerlukan intervensi seperti perawatan luka, manajemen nyeri, pencegahan infeksi, dan edukasi pasien untuk mendukung proses penyembuhan dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23142 | 03 Dec 2025
Klinis : Pasien datang dengan nyeri dada kanan, nyeri terasa tajam dan terasa terus menerus. Nyeri memberat saat beraktifitas. Pasien mengeluhkan sesak napas sudah 1 minggu, pasien tampak berbicara terengah-engah, pasien tampak lemah dan gelisah. Keluarga mengatakan pasien mengalami penurunan BB drastis dalam 6 bulan terakhir. Pasien sulit makan makanan yang disajikan, pasien hanya makan sekitar 3-5 sendok makan, pasien ingin makan yang manis seperti eskrim. BB: 35, TB: 160, TD: 130/90 mmHg, N: 112x/m, RR: 27x/m.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Karsinoma Paru dengan Gejala Konstitusional dan Gangguan Makan
Kode ICD-10: C34.91
Deskripsi Singkat : Kode C34.91 mengindikasikan neoplasma ganas (kanker) pada bronkus atau paru yang tidak ditentukan sebagai sisi kiri atau kanan, dengan status tidak diketahui apakah sebagai neoplasma primer atau sekunder. Deskripsi klinis pasien sangat mengarah pada kecurigaan kuat karsinoma paru: nyeri dada kanan yang memberat dengan aktivitas, sesak napas progresif dengan takipnea, dan tanda-tanda sistemik seperti penurunan berat badan drastis (cachexia), anoreksia, dan kelemahan. Gejala pernapasan (nyeri dada, sesak, takipnea) dapat disebabkan oleh massa tumor itu sendiri, efusi pleura, atau obstruksi jalan napas. Penurunan berat badan yang signifikan dan perubahan pola makan (hanya ingin makanan manis/lembut seperti es krim) merupakan manifestasi umum dari sindrom paraneoplastik atau cachexia terkait kanker, yang menunjukkan penyakit sistemik lanjut. Kode ini digunakan sebagai saran pengkodean awal untuk pelatihan, merangkum presentasi klinis yang kompleks ke dalam satu entri utama untuk neoplasma paru ganas, dengan pengakuan bahwa penilaian lebih lanjut (seperti pencitraan dan biopsi) diperlukan untuk konfirmasi definitif dan pengkodean yang lebih spesifik (misalnya, lokasi sisi yang tepat, jenis histologis).
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23114 | 02 Dec 2025
Klinis : mengeluh benjolan di area pipi kanan, mata kanan memerah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi ≤ 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI untuk diagnosa keperawatan "Nyeri Akut" adalah "Kontrol Nyeri". Tujuan akhirnya adalah pasien mampu mengontrol nyerinya. Kriteria hasilnya meliputi: 1) Pasien menyatakan nyeri berkurang atau hilang. 2) Pasien mendemonstrasikan ekspresi wajah rileks. 3) Pasien mampu beristirahat dan tidur dengan adekuat. 4) Pasien mampu melakukan aktivitas sesuai kemampuan. 5) Pasien menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal. 6) Pasien mengenali faktor pencetus dan upaya penanganan nyeri. Dalam konteks benjolan dan mata merah, perawat mengevaluasi skala nyeri, perubahan ekspresi wajah (misalnya, mengerut karena sakit), pola tidur, dan keterbatasan aktivitas seperti mengunyah atau melihat. Pencapaian SLKI ini diukur melalui penilaian verbal pasien, observasi perilaku, dan pemantauan tanda-tanda fisiologis.
Kode SIKI: I.08059
Deskripsi : SIKI untuk "Manajemen Nyeri" merupakan serangkaian intervensi keperawatan yang komprehensif. Pertama, lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi lokasi (pipi kanan, area mata), karakteristik, intensitas (skala 0-10), durasi, dan faktor yang memperberat atau meringankan. Kedua, ajarkan dan bantu teknik non-farmakologis seperti kompres (hangat atau dingin sesuai indikasi) pada area benjolan untuk mengurangi pembengkakan dan nyeri, teknik relaksasi napas dalam, dan distraksi. Ketiga, kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep dokter (seperti analgesik oral atau topikal) dengan memantau efektivitas dan efek sampingnya. Keempat, kaji dan minimalkan faktor pencetus nyeri, misalnya dengan menyarankan posisi tidur yang tidak menekan area pipi kanan. Kelima, lakukan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang pentingnya melaporkan nyeri, penggunaan obat yang benar, dan teknik penanganan mandiri. Keenam, evaluasi respons pasien terhadap intervensi yang diberikan secara berkala dan sesuaikan pendekatan. Intervensi ini harus didokumentasikan dengan baik untuk memastikan kontinuitas asuhan.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Peningkatan risiko terhadap invasi dan multiplikasi patogen yang dapat menimbulkan respons inflamasi dan gangguan integritas jaringan.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : SLKI untuk diagnosa ini adalah "Kontrol Risiko Infeksi". Tujuannya adalah mencegah terjadinya infeksi. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi seperti demam, drainage purulen, atau peningkatan kemerahan. 2) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. 3) Nilai laboratorium penunjang (seperti leukosit) dalam batas normal. 4) Pasien dan keluarga menyebutkan tanda dan gejala infeksi. 5) Pasien dan keluarga mendemonstrasikan perilaku untuk mencegah infeksi. Pada kasus benjolan dan mata merah yang kemungkinan inflamasi atau infeksi, perawat memantau secara ketat suhu tubuh, karakteristik benjolan (apakah bertambah panas, lunak, atau mengeluarkan nanah), perkembangan kemerahan pada mata, dan hasil pemeriksaan lab jika ada. Pencapaian SLKI dinilai dari tidak memburuknya kondisi lokal dan sistemik.
Kode SIKI: I.15031
Deskripsi : SIKI untuk "Perlindungan Infeksi" mencakup tindakan pencegahan dan pengawasan. Pertama, lakukan pengkajian terhadap tanda-tanda infeksi lokal (peningkatan nyeri, kemerahan, panas, bengkak, drainage) dan sistemik (demam, malaise, peningkatan leukosit) setiap shift. Kedua, pertahankan dan ajarkan kebersihan tangan (hand hygiene) yang benar baik pada perawat, pasien, maupun keluarga. Ketiga, lakukan perawatan luka atau area benjolan dengan teknik aseptik jika diperlukan (misalnya, jika benjolan mengalami ulserasi). Keempat, anjurkan pasien untuk tidak menyentuh atau menggaruk area benjolan dan mata yang merah untuk mencegah inokulasi bakteri. Kelima, monitor dan catat tanda-tanda vital, terutama suhu, secara teratur. Keenam, kolaborasi pemberian terapi antibiotik atau antivirus sesuai resep dokter jika telah ditetapkan adanya infeksi. Ketujuh, berikan edukasi pada pasien dan keluarga mengenai pentingnya menyelesaikan terapi obat, tanda-tanda infeksi yang harus dilaporkan, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Intervensi ini bersifat preventif dan kuratif untuk mengendalikan sumber infeksi potensial.
Kondisi: Kecemasan
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Perasaan tidak nyaman yang samar-samar atau takut disertai respons otonom (sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); peringatan akan bahaya yang akan datang yang memungkinkan individu untuk mengambil tindakan.
Kode SLKI: L.12001
Deskripsi : SLKI untuk "Kecemasan" adalah "Kontrol Kecemasan". Tujuannya adalah pasien dapat mengelola perasaan cemasnya. Kriteria hasilnya antara lain: 1) Pasien menyatakan perasaan cemas berkurang. 2) Pasien menunjukkan perilaku rileks (tidak gelisah, ekspresi wajah tenang). 3) Pasien mampu mengidentifikasi penyebab dan manifestasi kecemasannya. 4) Pasien mendemonstrasikan strategi koping untuk mengurangi kecemasan. 5) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. Dalam situasi munculnya benjolan dan mata merah yang tiba-tiba, pasien mungkin cemas tentang diagnosis (apakah tumor, infeksi serius), penampilan, atau biaya pengobatan. Perawat menilai tingkat kecemasan melalui wawancara, observasi perilaku gelisah, dan pemantauan tanda vital seperti peningkatan denyut nadi dan tekanan darah.
Kode SIKI: I.12025
Deskripsi : SIKI untuk "Pengurangan Kecemasan" melibatkan pendekatan terapeutik. Pertama, kaji tingkat kecemasan, sumber, dan manifestasinya (verbal dan non-verbal). Kedua, bangun hubungan saling percaya dengan menunjukkan sikap empati, mendengarkan aktif, dan memberikan waktu untuk pasien mengungkapkan kekhawatirannya. Ketiga, berikan informasi yang akurat dan jujur tentang kondisinya, prosedur pemeriksaan, dan rencana pengobatan untuk mengurangi ketidakpastian yang menjadi sumber kecemasan. Keempat, ajarkan teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam dan relaksasi otot progresif. Kelima, libatkan keluarga untuk memberikan dukungan emosional. Keenam, bantu pasien mengidentifikasi mekanisme koping yang konstruktif yang pernah berhasil digunakan sebelumnya. Ketujuh, ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman. Kedelapan, kolaborasi dengan tim kesehatan lain jika kecemasan sangat berat dan memerlukan intervensi lebih lanjut. Edukasi dan komunikasi terbuka adalah kunci dalam intervensi ini.
-
Article No. 23115 | 02 Dec 2025
Klinis : BADAN PANAS 4 HARI MUNTAH MUNTAH KEPALA PUSING
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia dan Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal yang berhubungan dengan ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan suhu dalam kondisi lingkungan yang panas atau karena proses penyakit.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Suhu Tubuh dalam Rentang Normal. Intervensi keperawatan bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh ke rentang normal (36-37,5°C) dan mengatasi penyebab yang mendasarinya. Tindakan yang dilakukan meliputi pemantauan suhu tubuh secara berkala, memberikan terapi pendinginan secara fisik (kompres hangat/tepid sponge di aksila dan lipat paha, mandi air hangat, memastikan sirkulasi udara ruangan baik), serta pemberian antipiretik sesuai resep. Selain itu, perawat akan mendorong asupan cairan yang adekuat untuk mencegah dehidrasi akibat peningkatan penguapan dari kulit dan membran mukosa selama demam. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya istirahat, pakaian tipis yang menyerap keringat, dan tanda-tanda dehidrasi juga merupakan bagian penting dari luaran ini. Evaluasi keberhasilan diukur dari penurunan suhu tubuh secara bertahap, hilangnya keluhan panas, serta tanda vital lain yang stabil.
Kode SIKI: 2610
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis untuk mengatasi hipertermia. Pertama, perawat akan mengkaji faktor penyebab, seperti infeksi (dari gejala demam 4 hari), dan memantau tanda vital (suhu, nadi, pernapasan, tekanan darah) secara teratur. Kedua, menerapkan tindakan pendinginan dengan prinsip yang benar, menghindari kompres es atau alkohol yang dapat menyebabkan menggigil dan vasokonstriksi. Ketiga, mengatur lingkungan untuk kenyamanan termal pasien. Keempat, kolaborasi pemberian obat antipiretik dan antibiotik jika diperlukan, serta memantau efektivitas dan efek sampingnya. Kelima, memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi dengan cairan hangat atau dingin sesuai toleransi, serta makanan lunak yang mudah dicerna. Keenam, memberikan edukasi kesehatan tentang proses penyakit dan penatalaksanaan demam di rumah. Tindakan ini dilakukan secara holistik, mempertimbangkan kondisi muntah-muntah yang menyertai, sehingga pemberian cairan harus hati-hati untuk tidak memicu muntah kembali.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: 00027
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1601
Deskripsi : Keseimbangan Cairan. Luaran yang diharapkan adalah pasien mempertahankan keseimbangan cairan dengan tanda-tanda hidrasi yang adekuat. Hal ini ditandai dengan membran mukosa lembab, turgor kulit baik (kembali dalam < 2 detik), haluaran urine adekuat (>0,5 ml/kgBB/jam), tanda vital stabil (terutama nadi dan tekanan darah), dan tidak ada keluhan pusing yang memberat. Perawat akan memantau asupan dan haluaran cairan secara ketat, memantau berat badan harian jika memungkinkan, serta mengobservasi tanda-tanda dini dehidrasi seperti rasa haus, penurunan elastisitas kulit, dan penurunan produksi urine. Pencapaian luaran ini sangat krusial mengingat pasien mengalami muntah-muntah yang dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit secara signifikan, diperberat oleh demam yang meningkatkan kebutuhan cairan.
Kode SIKI: 2120
Deskripsi : Manajemen Muntah. Intervensi ini difokuskan untuk mengendalikan muntah dan mencegah komplikasinya. Tindakan dimulai dengan pengkajian frekuensi, volume, dan karakteristik muntahan. Perawat akan memposisikan pasien untuk mencegah aspirasi, seperti posisi semi-Fowler atau miring jika lemah. Manajemen lingkungan untuk mengurangi pemicu muntah (seperti bau menyengat) juga penting. Pemberian cairan oral dilakukan dengan prinsip sedikit-sedikit tapi sering (misal 1-2 sendok setiap 5-10 menit) menggunakan cairan yang mengandung elektrolit, untuk meminimalkan distensi lambung yang memicu muntah. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat antiemetik sesuai resep dan evaluasi efektivitasnya. Selain itu, perawat memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang teknik pemberian cairan yang aman dan tanda-tanda dehidrasi yang perlu diwaspadai. Intervensi ini terintegrasi dengan manajemen hipertermia, karena pengendalian demam dapat membantu mengurangi rasa mual dan pusing yang dialami pasien.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 00132
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset yang mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 2105
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Luaran yang diharapkan adalah pasien melaporkan penurunan skala nyeri (kepala pusing) ke tingkat yang dapat ditoleransi atau hilang, serta mampu menunjukkan perilaku rileks dan dapat beristirahat dengan cukup. Indikatornya meliputi ekspresi wajah yang tenang, mampu berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri sesuai kemampuan, dan pola tidur yang tidak terganggu oleh nyeri. Dalam konteks pusing, kontrol nyeri juga berarti berkurangnya sensasi berputar atau sakit kepala, sehingga pasien dapat lebih kooperatif dalam menjalani terapi cairan dan istirahat yang diperlukan untuk pemulihan dari demam dan muntah.
Kode SIKI: 0840
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi ini meliputi pengkajian komprehensif tentang nyeri (lokasi, karakteristik, durasi, faktor pencetus dan pereda) menggunakan skala yang sesuai. Karena pasien mengalami "kepala pusing", perawat perlu membedakan apakah ini ny kepala tegang akibat demam atau vertigo akibat ketidakseimbangan cairan/elektrolit. Tindakan non-farmakologis yang dapat diberikan adalah menciptakan lingkungan tenang dengan cahaya redup, mengurangi kebisingan, serta teknik relaksasi napas dalam. Posisikan pasien dengan nyaman, hindari perubahan posisi yang tiba-tiba yang dapat memperberat pusing. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep dokter jika diperlukan, dengan mempertimbangkan interaksi dengan obat lain dan kondisi saluran cerna pasien yang sedang muntah-muntah. Edukasi kepada pasien tentang pentingnya melaporkan nyeri dan pusing yang dialami untuk evaluasi lebih lanjut. Manajemen nyeri ini penting karena ketidaknyamanan dapat meningkatkan stres dan memperburuk respons fisiologis terhadap demam dan muntah.
-
Article No. 23116 | 02 Dec 2025
Klinis : hipertermi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermi
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal yang berhubungan dengan ketidakmampuan tubuh dalam mempertahankan suhu.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal. Deskripsi lengkap: SLKI ini berfokus pada hasil akhir yang diharapkan, yaitu pemulihan dan pemeliharaan suhu tubuh dalam rentang normal (36-37,5°C aksila). Kriteria hasilnya meliputi: (1) Pasien menunjukkan tanda-tanda vital stabil, terutama suhu tubuh antara 36°C hingga 37,5°C; (2) Kulit teraba hangat, tidak panas atau berkeringat berlebihan; (3) Tidak ada keluhan menggigil, rasa panas, atau malaise yang berhubungan dengan suhu; (4) Tanda-tanda dehidrasi tidak ada (turgor kulit baik, mukosa lembab, produksi urin adekuat); (5) Tingkat kesadaran normal (kompos mentis) dan tidak ada tanda distress pernapasan. Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil mengatasi ketidakseimbangan termoregulasi dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti kejang atau syok.
Kode SIKI: 1400
Deskripsi : Manajemen Hipertermi. Deskripsi lengkap: Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan mandiri perawat untuk menurunkan suhu tubuh dan mengatasi penyebab serta dampak dari hipertermi. Tindakan-tindakan utamanya meliputi: (1) **Pemantauan**: Mengobservasi tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernapasan, tekanan darah) secara berkala (setiap 2-4 jam atau sesuai kondisi) untuk menilai perkembangan dan efektivitas intervensi. Memantau tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, balance cairan) dan status neurologis (tingkat kesadaran). (2) **Lingkungan Termal**: Mengatur lingkungan untuk memfasilitasi pelepasan panas, seperti mengatur suhu ruangan yang sejuk (22-24°C), menggunakan sirkulasi udara (kipas angin tidak langsung), dan mengurangi penutup bedong atau pakaian berlebihan. (3) **Pendinginan Fisik**: Memberikan kompres hangat/tepid sponge di area dengan pembuluh darah besar (aksila, lipat paha, leher) untuk meningkatkan konduksi panas. Mandi atau menyeka dengan air hangat (bukan air dingin untuk menghindari menggigil yang justru meningkatkan produksi panas). (4) **Hidrasi**: Meningkatkan asupan cairan per oral jika pasien sadar dan mampu menelan, atau kolaborasi pemberian cairan intravena sesuai program terapi untuk mengganti cairan yang hilang melalui evaporasi dan berkeringat. (5) **Istirahat**: Menganjurkan tirah baring untuk mengurangi produksi panas metabolik. (6) **Nutrisi**: Memberikan diet lunak atau cair yang mudah dicerna dan tidak meningkatkan beban metabolisme. (7) **Edukasi**: Memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang kondisi, penyebab, tujuan tindakan, dan tanda-tanda yang perlu dilaporkan. (8) **Kolaborasi**: Bekerja sama dengan tim medis dalam pemberian antipiretik (seperti parasetamol) sesuai resep, memantau efeknya, dan melakukan pemeriksaan penunjang jika diperlukan (seperti kultur darah). Intervensi ini dilakukan secara komprehensif dan dinamis, disesuaikan dengan respons pasien, dengan prinsip utama meningkatkan kehilangan panas dan mengurangi produksi panas tubuh.
-
Article No. 23117 | 02 Dec 2025
Klinis : Seorang anak laki-laki, bernama Agung berusia 14 tahun. Beberapa hari ini mengalami demam tinggi 38,8 C, yang tidak turun selama 5 hari berturut-turut, lemas, pucat, mual-mual dan muntah 3 kali dalam sehari, sesak nafas ringan, banyak sariawan, dan nyeri pada kaki dan sendi makan menurun. Pasien nampak lemah, ada ruam kebiruan pada kulit, muncul bintik-bintik merah kecil di bawah kulit (petechiae), gusi mudah berdarah dan mimisan berulang. Didapatkan hasil pemeriksaan Bb/Tb: 41 kg/ 150 cm (Underweight) Denyut jantung: 110 denyut per menit Tekanan darah: 90/60 mmHG Hb: 7,8 gr/dL Trombosit: 100.000/µL Leukosit: 100.000/µL Frekuensi napas: 25 kali per menit Saturasi oksigen: 93% Ia bilang tidak ada nafsu makan dan berat badan menurun 3 kg dalam sebulan. Orang tuanya nampak cemas dan khawatir mengenai kondisi anaknya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Jaringan Tidak Efektif dan Risiko Perdarahan pada Anak dengan Dugaan Leukemia Akut
Kode SDKI: D.0016 & D.0019
Deskripsi Singkat: Berdasarkan data klinis Agung (demam tinggi persisten, lemas, pucat, sesak napas, saturasi O2 93%, Hb 7.8, takikardia, hipotensi), terdapat ancaman serius terhadap kemampuan sistem kardiovaskular untuk memberikan darah yang cukup ke jaringan, terutama jaringan perifer dan serebral, yang dapat menyebabkan syok dan kerusakan organ. Secara bersamaan, dengan trombositopenia (100.000/µL), petekie, perdarahan gusi, dan epistaksis, ia memiliki kerentanan tinggi untuk mengalami perdarahan yang dapat membahayakan jiwa. Kedua diagnosis ini saling terkait dan memerlukan intervensi segera.
Kode SLKI: L.03115 & L.03116
Deskripsi : SLKI L.03115: Perfusi jaringan perifer adekuat, ditandai dengan: tekanan darah dalam rentang normal untuk usia, denyut nadi perifer teraba kuat dan reguler, pengisian kapiler < 3 detik, ekstremitas hangat, warna kulit normal, tingkat kesadaran baik (alert dan responsif), produksi urine adekuat (>1 mL/kg/jam), tidak ada keluhan nyeri dada atau sesak napas. SLKI L.03116: Perdarahan terkontrol, ditandai dengan: tidak ada perdarahan aktif (mimisan, gusi, saluran cerna), jumlah trombosit dalam rentang aman atau menunjukkan tren peningkatan, tanda-tanda perdarahan (petekie, ekimosis) tidak bertambah atau menghilang, nilai hemoglobin dan hematokrit stabil, tanda-tanda vital stabil, pasien dan keluarga dapat menyebutkan tanda-tanda perdarahan yang perlu dilaporkan segera.
Kode SIKI: I.05290, I.08064, I.08065, I.09029, I.09030
Deskripsi : Intervensi keperawatan difokuskan pada pemantauan ketat, pencegahan komplikasi, dan edukasi. I.05290 (Manajemen Perdarahan): Lakukan pemantauan ketat tanda-tanda perdarahan (kulit, mukosa, feses, muntah, urine). Hindari tindakan yang memicu trauma (injeksi IM, pengukuran suhu rektal, sikat gigi keras). Berikan tekanan langsung pada area perdarahan. Kolaborasi pemberian transfusi trombosit sesuai indikasi. Ajarkan pada pasien dan keluarga untuk melaporkan tanda perdarahan. I.08064 (Manajemen Syok Hipovolemik): Pantau tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, saturasi O2) setiap 1-2 jam atau lebih sering sesuai kondisi. Pantau pengisian kapiler, warna kulit, dan suhu ekstremitas. Observasi tingkat kesadaran. Pertahankan akses intravena yang paten. Kolaborasi pemberian cairan resusitasi dan transfusi sel darah merah pack (PRC) sesuai order. Posisikan pasien dengan elevasi kaki (kecuali kontraindikasi). I.08065 (Manajemen Syok Septik): Pantau suhu tubuh secara ketat. Kumpulkan kultur darah dan lainnya sebelum pemberian antibiotik. Kolaborasi pemberian antibiotik spektrum luas sesuai protokol. Berikan terapi kompres dan antipiretik untuk mengatasi demam. I.09029 (Manajemen Nyeri Akut): Lakukan penilaian nyeri komprehensif (PQRST). Berikan analgesia sesuai protokol, evaluasi efektivitas dan efek sampingnya. Lakukan intervensi non-farmakologis seperti distraksi, reposisi yang nyaman, dan lingkungan tenang. I.09030 (Manajemen Mual): Kaji frekuensi dan karakteristik muntah. Atur pola makan kecil tapi sering, hindari makanan berbau tajam. Kolaborasi pemberian antiemetik. Pertahankan kebersihan oral untuk mengurangi mual. Pantau tanda-tanda dehidrasi. Semua intervensi dilakukan dengan pendekatan keluarga, melibatkan orang tua dalam observasi dan memberikan dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan mereka.