Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23405 | 23 Dec 2025
Klinis : - Wajah tampak meringis - Uterus berkontraksi - Tanda pelepasan plasenta + - Pendarahan ± Normal TTV dalam batas normal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan berakhir kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 0800
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Tujuan akhir dari intervensi keperawatan ini adalah agar nyeri klien dapat dikontrol. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Klien melaporkan nyeri dapat dikontrol. 2) Mengenali onset nyeri. 3) Menggunakan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri. 4) Mematuhi regimen pengobatan nyeri. 5) Melaporkan efek samping atau respons yang tidak diinginkan terhadap terapi nyeri. 6) Melakukan aktivitas sehari-hari. Dalam konteks persalinan kala III, kontrol nyeri difokuskan pada pengelolaan nyeri akibat kontraksi uterus dan proses pelepasan plasenta, memastikan ibu dapat melalui tahap ini dengan kenyamanan maksimal dan mengenali pola nyeri yang normal.
Kode SIKI: 0840
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan untuk mencegah atau meringankan nyeri. Aktivitas yang dilakukan perawat meliputi: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor pencetus). 2) Observasi isyarat nonverbal dari ketidaknyamanan, terutama pada klien yang tidak dapat berkomunikasi dengan baik (misalnya, wajah meringis). 3) Tentukan dampak pengalaman nyeri terhadap kualitas hidup. 4) Gunakan pendekatan farmakologis dan nonfarmakologis untuk menangani nyeri. 5) Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologis (napas dalam, distraksi, relaksasi, posisi yang nyaman). 6) Berikan analgetik sesuai program terapi dan evaluasi keefektifannya. 7) Kurangi faktor pencetus nyeri. 8) Evaluasi keefektifan kontrol nyeri dalam interval yang tepat. Pada pasien dengan tanda-tanda persalinan kala III (kontraksi uterus, pelepasan plasenta), manajemen nyeri sangat krusial. Wajah yang meringis merupakan indikator nonverbal utama nyeri akut. Perawat harus mengkaji intensitas nyeri kontraksi yang membantu proses pelepasan plasenta dan kelahiran plasenta. Meskipun perdarahan masih normal dan TTV stabil, nyeri tetap harus dikelola. Intervensi nonfarmakologis seperti teknik pernapasan, sentuhan terapeutik, dan penjelasan tentang proses yang terjadi (bahwa kontraksi dan nyeri adalah hal normal untuk mengeluarkan plasenta dan menghentikan perdarahan) sangat penting. Pemberian analgesik dapat dipertimbangkan sesuai protokol dan kondisi ibu. Perawat juga harus memastikan bahwa lingkungan tenang dan suportif, serta memberikan pujian atas ketahanan ibu. Manajemen nyeri yang efektif pada kala III tidak hanya memberikan kenyamanan tetapi juga mendukung proses fisiologis, karena ketegangan dan kecemasan akibat nyeri yang tidak tertahankan dapat mempengaruhi refleks tubuh dan kontraksi uterus.
-
Article No. 23406 | 23 Dec 2025
Klinis : SIKI Perawatan jantung
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Perawatan jantung
Kode ICD-10: Z09.8
Deskripsi Singkat : Kode Z09.8 mengindikasikan "Pemeriksaan lanjutan setelah pengobatan untuk kondisi lain". Dalam konteks "Perawatan jantung", ini digunakan untuk kunjungan kontrol atau pemeriksaan tindak lanjut setelah selesainya pengobatan aktif untuk suatu penyakit jantung. Kode ini tidak menggambarkan penyakit jantung itu sendiri, melainkan status pasien yang sedang dalam fase pemantauan pasca-terapi. Penggunaannya tepat setelah pasien telah menjalani perawatan seperti intervensi koroner (stent), operasi bypass (CABG), pengobatan untuk gagal jantung, atau manajemen aritmia yang sukses. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi hasil pengobatan, memantau stabilitas kondisi, dan mencegah kekambuhan. Kode ini termasuk dalam Bab Faktor yang Mempengaruhi Status Kesehatan dan Kontak dengan Layanan Kesehatan (Z00-Z99). Penting untuk mencatat kode diagnosis penyakit jantung asli yang telah dirawat sebagai kode utama atau tambahan untuk memberikan konteks lengkap. Penggunaan Z09.8 membantu dalam perencanaan perawatan berkelanjutan dan alokasi sumber daya kesehatan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23407 | 23 Dec 2025
Klinis : Ibu hamil G1P0 usia kehamilan 28 minggu mengeluh cepat lelah dan sesak saat berjalan jauh. TD 110/70 mmHg, RR 24x/menit, Hb 9,6 g/dL, konjungtiva pucat, DJJ normal.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Jaringan Tidak Efektif dan Intoleransi Aktivitas pada Kehamilan dengan Anemia
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan sirkulasi oksigen, nutrisi, dan produk metabolik pada tingkat kapiler yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Perfusi jaringan perifer membaik. Ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang normal untuk individu, 2) Denyut nadi dalam rentang normal untuk individu, 3) Warna kulit dan membran mukosa normal, 4) Suhu kulit hangat, 5) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 6) Tidak ada edema, 7) Tidak ada nyeri pada ekstremitas, 8) Kekuatan otot ekstremitas normal, 9) Sensasi pada ekstremitas normal.
Kode SIKI: 4160
Deskripsi : Manajemen Anemia. Tindakan: 1) Monitor tanda dan gejala anemia (kelelahan, pucat, takikardia, sesak napas, pusing), 2) Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht, jumlah eritrosit, indeks eritrosit), 3) Kolaborasi pemberian terapi suplementasi zat besi, asam folat, atau vitamin B12 sesuai indikasi, 4) Anjurkan meningkatkan asupan makanan sumber zat besi, asam folat, dan vitamin B12, 5) Anjurkan meningkatkan asupan makanan sumber vitamin C untuk meningkatkan penyerapan zat besi, 6) Berikan pendidikan kesehatan tentang penyebab, pencegahan, dan penanganan anemia, 7) Atur aktivitas sesuai toleransi, 8) Monitor tanda-tanda perdarahan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: 0501
Deskripsi : Toleransi aktivitas meningkat. Ditandai dengan: 1) Melaporkan peningkatan energi, 2) Melaporkan penurunan keluhan lelah dan lemah, 3) Tanda vital dalam rentang normal selama dan setelah aktivitas, 4) Tidak mengalami sesak napas selama dan setelah aktivitas, 5) Tidak mengalami nyeri dada selama dan setelah aktivitas, 6) Mampu melakukan aktivitas sehari-hari sesuai rencana.
Kode SIKI: 4200
Deskripsi : Manajemen Energi. Tindakan: 1) Kaji faktor penyebab kelelahan, 2) Monitor tanda vital sebelum, selama, dan setelah aktivitas, 3) Kaji respons individu terhadap aktivitas, 4) Bantu identifikasi aktivitas yang dapat memicu kelelahan, 5) Bantu rencanakan dan atur jadwal aktivitas sesuai prioritas, 6) Anjurkan teknik penghematan energi, 7) Anjurkan meningkatkan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi, 8) Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi dan cairan, 9) Ciptakan lingkungan yang nyaman untuk beristirahat.
-
Article No. 23408 | 23 Dec 2025
Klinis : Pasien datang dengan keluhan sesak sejak 1 hari SMRS. Sesak dirasakan memberat hingga pasien tidak bisa istirahat. Mual muntah (+) muntah hari ini 2x berisi cairan. Pasien sebelumnya opname di RSDS dengan keluhan serupa dan riwayat diambil cairan paru. Pasien riwayat CKD on HD tiap Rabu dan Sabtu.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada tingkat membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Pertukaran Gas. Tujuan: Pasien menunjukkan pertukaran gas yang adekuat. Kriteria hasil: 1) Pasien menunjukkan status pernapasan yang adekuat, ditandai dengan: frekuensi pernapasan dalam rentang normal, irama pernapasan reguler, tidak ada dispnea atau ortopnea, tidak ada bunyi napas adventisius (ronkhi, wheezing), tidak ada sianosis, dan penggunaan otot bantu napas. 2) Pasien menunjukkan status kardiovaskular yang adekuat, ditandai dengan: denyut nadi dalam rentang normal, irama nadi reguler, tekanan darah dalam rentang normal, dan tidak ada edema perifer. 3) Pasien menunjukkan status neurologis yang adekuat, ditandai dengan: tingkat kesadaran compos mentis (GCS 15), orientasi orang, tempat, dan waktu, dan tidak ada gelisah atau penurunan kesadaran. 4) Pasien menunjukkan nilai analisis gas darah arteri dalam rentang normal, ditandai dengan: pH 7,35-7,45, PaO2 >80 mmHg, PaCO2 35-45 mmHg, HCO3 22-26 mEq/L, dan saturasi O2 >95%.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi: 1) Kaji status pernapasan: frekuensi, irama, kedalaman, upaya napas, penggunaan otot bantu, simetri pengembangan dada, dan bunyi napas. 2) Kaji status oksigenasi: warna kulit/membran mukosa (sianosis), saturasi oksigen (pulse oximetry), dan analisis gas darah jika diperlukan. 3) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (mis., posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi) sesuai toleransi dan kondisi. 4) Lakukan fisioterapi dada jika diindikasikan: latihan napas dalam, batuk efektif, postural drainage, perkusi, dan vibrasi. 5) Berikan terapi oksigen sesuai program dan pantau efektivitasnya. 6) Lakukan suction jalan napas jika diperlukan untuk membersihkan sekret. 7) Pantau respons hemodinamik terhadap gangguan pertukaran gas (denyut nadi, tekanan darah). 8) Kolaborasi pemberian obat bronkodilator, mukolitik, atau lainnya sesuai program. 9) Ajarkan pasien/keluarga tentang teknik pernapasan dan batuk efektif. 10) Monitor tingkat kesadaran dan tanda-tanda hipoksia/ hiperkapnia.
Kondisi: Kelebihan Volume Cairan
Kode SDKI: 00026
Deskripsi Singkat: Peningkatan retensi cairan isotonik.
Kode SLKI: 0601
Deskripsi : Status Cairan. Tujuan: Pasien menunjukkan keseimbangan cairan. Kriteria hasil: 1) Pasien menunjukkan tanda vital dalam rentang normal, ditandai dengan: tekanan darah normal, denyut nadi normal, frekuensi pernapasan normal, dan suhu tubuh normal. 2) Pasien menunjukkan keseimbangan cairan, ditandai dengan: intake dan output seimbang, tidak ada edema (perifer, sakral, anasarka), tidak ada ascites, tidak ada ronkhi basah halus di paru, berat badan stabil (tidak ada peningkatan akut), dan turgor kulit baik. 3) Pasien menunjukkan nilai elektrolit dalam rentang normal, ditandai dengan: natrium, kalium, klorida, dan ureum/kreatinin sesuai batas normal atau sesuai kondisi penyakit dasar. 4) Pasien menunjukkan membran mukosa lembab dan rasa haus tidak berlebihan.
Kode SIKI: 4120
Deskripsi : Manajemen Kelebihan Volume Cairan. Intervensi: 1) Kaji status cairan: monitor balance cairan (intake-output ketat), timbang berat badan harian dengan skala yang sama, waktu yang sama, dan pakaian yang sama. 2) Kaji tanda-tanda kelebihan cairan: edema (lokasi, derajat pitting), distensi vena jugularis, ascites, bunyi napas ronkhi (crackles), sesak napas, ortopnea. 3) Batasi asupan cairan sesuai program terapi (restriksi cairan) dan edukasi pasien/keluarga. 4) Batasi asupan natrium sesuai program dan edukasi pasien/keluarga. 5) Posisikan pasien dengan kepala ditinggikan (semi-Fowler/Fowler) untuk memfasilitasi pernapasan. 6) Lakukan perawatan kulit pada area edema untuk mencegah kerusakan integritas kulit. 7) Pantau tanda vital dan saturasi oksigen secara berkala. 8) Kolaborasi pemberian terapi diuretik sesuai program. 9) Kolaborasi persiapan dan pelaksanaan hemodialisis sesuai jadwal. 10) Pantau hasil laboratorium: elektrolit, ureum, kreatinin, BUN, dan albumin.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: 00179
Deskripsi Singkat: Risiko variasi kadar glukosa darah dari rentang normal.
Kode SLKI: 1902
Deskripsi : Kontrol Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah. Tujuan: Pasien terhindar dari ketidakstabilan kadar glukosa darah. Kriteria hasil: 1) Pasien menunjukkan kadar glukosa darah dalam rentang target yang ditetapkan. 2) Pasien tidak menunjukkan tanda dan gejala hipoglikemia (berkeringat, lemas, gemetar, pusing, lapar, penurunan kesadaran). 3) Pasien tidak menunjukkan tanda dan gejala hiperglikemia (poliuria, polidipsi, polifagi, lemas, mual, penurunan kesadaran). 4) Pasien dan keluarga menyebutkan faktor risiko dan tanda gejala ketidakstabilan glukosa darah. 5) Pasien dan keluarga menyebutkan tindakan pencegahan dan penanganan awal ketidakstabilan glukosa darah.
Kode SIKI: 2620
Deskripsi : Pemantauan Kadar Glukosa Darah. Intervensi: 1) Kaji faktor risiko ketidakstabilan glukosa darah: riwayat DM, penyakit kritis, infeksi, terapi steroid, nutrisi tidak adekuat, dan efek hemodialisis. 2) Pantau tanda dan gejala hipoglikemia dan hiperglikemia. 3) Lakukan pemantauan kadar glukosa darah berkala sesuai program (sebelum makan, saat ada gejala). 4) Kolaborasi pemberian terapi insulin atau obat anti-diabetik oral sesuai program dengan memperhatikan waktu dan dosis. 5) Kolaborasi pemberian nutrisi yang sesuai (jadwal, komposisi, jumlah) terutama terkait dengan jadwal hemodialisis. 6) Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala hipo/hiperglikemia. 7) Edukasi pasien dan keluarga tentang tindakan yang harus dilakukan jika terjadi hipo/hiperglikemia. 8) Pantau asupan makanan dan cairan pasien. 9) Kolaborasi dengan tim gizi untuk penatalaksanaan diet. 10) Evaluasi efektivitas terapi yang diberikan.
-
Article No. 23409 | 23 Dec 2025
Klinis : Pasien datang dengan keluhan sesak sejak 1 hari SMRS. Sesak dirasakan memberat hingga pasien tidak bisa istirahat. Mual muntah (+) muntah hari ini 2x berisi cairan. Pasien sebelumnya opname di RSDS dengan keluhan serupa dan riwayat diambil cairan paru. Pasien riwayat CKD on HD tiap Rabu dan Sabtu.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Pertukaran Gas. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Pasien menunjukkan perbaikan dalam pertukaran gas, dibuktikan dengan nilai analisis gas darah arteri dalam rentang normal atau sesuai target untuk pasien (misalnya, peningkatan PaO2, penurunan PaCO2, peningkatan saturasi oksigen). 2) Pasien menunjukkan pola pernapasan yang efektif dan teratur, dengan frekuensi pernapasan dalam rentang normal. 3) Pasien menunjukkan penurunan atau tidak adanya gejala distress pernapasan seperti sesak napas, penggunaan otot bantu pernapasan, sianosis, atau gelisah. 4) Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami sesak napas yang memberat. 5) Bunyi napas bersih atau membaik dari sebelumnya, dengan pengurangan atau hilangnya bunyi napas tambahan seperti ronki atau wheezing yang menunjukkan penumpukan cairan atau obstruksi. 6) Pasien dan keluarga memahami faktor-faktor yang mempengaruhi pertukaran gas dan tindakan yang diperlukan untuk mengelolanya.
Kode SIKI: 3310
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi keperawatan spesifik meliputi: 1) Mempertahankan jalan napas paten dengan memposisikan pasien secara optimal (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi) untuk memaksimalkan ekspansi paru dan mengurangi tekanan abdominal pada diafragma. 2) Memantau status pernapasan secara ketat dan berkelanjutan, termasuk frekuensi, irama, kedalaman, upaya pernapasan, penggunaan otot aksesori, dan adanya sianosis. 3) Melakukan auskultasi bunyi napas secara berkala untuk mendeteksi adanya bunyi tambahan (seperti ronki basil halus yang mengindikasikan edema paru atau penumpukan cairan) dan mengevaluasi keefektifan intervensi. 4) Memantau status oksigenasi melalui pulse oximetry dan analisis gas darah arteri sesuai kebutuhan, serta memberikan terapi oksigen sesuai program dokter untuk mempertahankan saturasi oksigen dalam rentang target. 5) Membantu dan mengajarkan teknik batuk efektif dan latihan napas dalam untuk membersihkan sekresi dan meningkatkan ventilasi. 6) Melakukan fisioterapi dada jika diindikasikan untuk membantu mobilisasi sekresi. 7) Memastikan lingkungan yang nyaman dan tenang untuk mengurangi konsumsi oksigen dan kecemasan pasien. 8) Mengatur aktivitas dan periode istirahat untuk mencegah kelelahan yang dapat memperburuk sesak. 9) Melakukan kolaborasi pemberian obat-obatan seperti bronkodilator, diuretik (untuk mengurangi kelebihan cairan seperti riwayat pengambilan cairan paru), atau obat sesuai program hemodialisis. 10) Mendokumentasikan semua temuan dan respons pasien terhadap intervensi yang diberikan. Pada pasien dengan riwayat CKD on HD, manajemen cairan sangat kritis karena kelebihan cairan dapat langsung memicu edema paru dan memperberat gangguan pertukaran gas. Oleh karena itu, intervensi ini harus terintegrasi dengan pemantauan ketat balance cairan, berat badan, dan kerja sama dengan tim untuk menjadwalkan hemodialisis yang tepat waktu.
Kondisi: Kelebihan Volume Cairan
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Peningkatan retensi cairan isotonik.
Kode SLKI: 0601
Deskripsi : Keseimbangan Cairan. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Pasien mencapai dan mempertahankan keseimbangan cairan, dibuktikan dengan balance cairan yang mendekati seimbang (input dan output). 2) Tanda-tanda vital dalam rentang normal atau sesuai ekspektasi untuk pasien (terutama tekanan darah dan frekuensi nadi). 3) Berat badan stabil atau menunjukkan penurunan yang sesuai target setelah hemodialisis, tanpa fluktuasi yang signifikan antar sesi dialisis. 4) Penurunan atau tidak adanya edema perifer (tungkai, sakrum) dan edema paru (ditandai dengan berkurangnya sesak napas dan bunyi ronki). 5) Tekanan vena jugularis dalam batas normal. 6) Pasien dan keluarga memahami pembatasan asupan cairan dan diet rendah garam sesuai program penatalaksanaan CKD.
Kode SIKI: 4120
Deskripsi : Manajemen Kelebihan Volume Cairan. Intervensi keperawatan spesifik meliputi: 1) Memantau ketat intake dan output cairan setiap jam atau sesuai protokol, mencatat semua sumber intake (oral, IV, obat) dan output (urine, drainase, muntah). 2) Melakukan pengukuran berat badan harian dengan waktu, pakaian, dan skala yang sama, idealnya setelah hemodialisis dan pagi hari, untuk menilai retensi cairan. 3) Memantau tanda-tanda vital dan status pernapasan secara berkala untuk mendeteksi tanda awal kelebihan cairan (seperti takikardia, hipertensi, peningkatan frekuensi napas, sesak). 4) Melakukan auskultasi bunyi napas dan jantung untuk mendeteksi adanya ronki (edema paru) atau gallop S3. 5) Memeriksa adanya edema (pretibial, sakral, periorbital) dan melakukan pengukuran lingkar ekstremitas jika diperlukan. 6) Membatasi asupan cairan sesuai program yang ditetapkan (biasanya berdasarkan haluaran urine + 500 ml atau sesuai instruksi tim ginjal), dan mendistribusikan jadwal minum sepanjang hari. 7) Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya pembatasan cairan dan garam, termasuk cara membaca label makanan, menghindari makanan kaleng/asin, dan alternatif bumbu. 8) Melakukan kolaborasi pemberian terapi diuretik (jika ginjal masih responsif) sesuai program dokter. 9) Memastikan terapi hemodialisis berjalan sesuai jadwal (Rabu dan Sabtu) dan berkolaborasi dengan tim dialisis untuk menetapkan target pengambilan cairan (ultrafiltrasi) yang tepat selama prosedur. 10) Memposisikan pasien dengan kepala ditinggikan untuk memfasilitasi pernapasan dan mengurangi distress pernapasan akibat edema paru. 11) Memantau hasil laboratorium terkait (seperti elektrolit, BUN, kreatinin) untuk menilai fungsi ginjal dan efek dari kelebihan cairan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: 0008
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: 0003
Deskripsi : Toleransi Aktivitas. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Pasien melaporkan peningkatan toleransi dalam melakukan aktivitas, dengan penurunan keluhan sesak napas, kelelahan, atau kelemahan saat beraktivitas. 2) Pasien mampu melakukan aktivitas perawatan diri dasar dengan bantuan minimal. 3) Tanda-tanda vital (denyut nadi, pernapasan, tekanan darah) kembali ke baseline dalam waktu 3 menit setelah beraktivitas. 4) Pasien dapat mengidentifikasi aktivitas yang dapat dan tidak dapat dilakukan, serta teknik penghematan energi. 5) Pasien berpartisipasi dalam aktivitas yang sesuai dengan tingkat energinya.
Kode SIKI: 5602
Deskripsi : Manajemen Energi. Intervensi keperawatan spesifik meliputi: 1) Menilai respons fisiologis pasien terhadap aktivitas (sebelum, selama, dan setelah) dengan memantau denyut nadi, tekanan darah, pernapasan, dan saturasi oksigen. 2) Mengajarkan dan mendorong penggunaan teknik penghematan energi, seperti duduk saat melakukan aktivitas (mandi, berpakaian), mengambil waktu istirahat yang cukup antar aktivitas, dan memecah tugas besar menjadi langkah-langkah kecil. 3) Membantu pasien dalam merencanakan jadwal aktivitas harian yang seimbang dengan periode istirahat yang cukup. 4) Mendorong aktivitas ringan dan progresif sesuai toleransi, dimulai dari latihan rentang gerak di tempat tidur hingga ambulasi bertahap. 5) Memastikan lingkungan yang aman dan mendukung untuk mengurangi pengeluaran energi yang tidak perlu. 6) Mengoordinasikan perawatan untuk memberikan periode istirahat yang tidak terganggu. 7) Memberikan oksigen tambahan selama aktivitas jika diresepkan untuk mengurangi sesak dan meningkatkan toleransi. 8) Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang hubungan antara kondisi medis (CKD, anemia, gangguan pertukaran gas), kelelahan, dan strategi untuk mengelola energi. 9) Meningkatkan kualitas tidur pasien dengan menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman. 10) Berkolaborasi dengan tim gizi untuk memastikan asupan nutrisi yang adekuat guna mendukung produksi energi, dengan memperhatikan pembatasan diet renal.
-
Article No. 23410 | 23 Dec 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan bab darah sudah 1 minggu, mengeluh nyeri perut. pasien terlihat anemis badan lemah. bab berwarna hitam
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perdarahan Saluran Cerna Bagian Bawah
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Kehilangan darah dari saluran cerna bagian bawah yang dapat mengancam kehidupan, ditandai dengan hematochezia (bab darah segar) atau melena (bab hitam pekat), yang dapat menyebabkan penurunan volume darah (hipovolemia) dan anemia.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Perdarahan dapat dikendalikan. Tujuan utama dari luaran ini adalah menghentikan sumber perdarahan dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti syok hipovolemik. Keberhasilan luaran ini diukur dengan tanda-tanda vital yang stabil (tekanan darah, nadi, pernapasan dalam rentang normal), pengembalian warna kulit dan kelembaban membran mukosa ke kondisi normal, serta penghentian keluarnya darah segar atau melena dari rektum. Selain itu, luaran ini juga mencakup tercapainya keseimbangan cairan dan elektrolit yang adekuat, yang ditunjukkan oleh produksi urin yang cukup (output urin > 30 ml/jam) dan nilai laboratorium (seperti hemoglobin dan hematokrit) yang mulai stabil atau menunjukkan perbaikan. Pasien dan keluarga juga diharapkan memahami rencana pengobatan dan tanda-tanda perdarahan berulang yang perlu dilaporkan segera.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mengatasi perdarahan saluran cerna bagian bawah bersifat komprehensif dan meliputi aspek monitorisasi, terapi, edukasi, dan kolaborasi. Pertama, perawat melakukan pemantauan ketat terhadap status hemodinamik pasien, termasuk tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu secara berkala (setiap 15 menit hingga 1 jam tergantung kondisi) untuk mendeteksi dini tanda syok hipovolemik seperti takikardia, hipotensi, kulit dingin dan lembab. Pemantauan tanda perdarahan berlanjut sangat krusial, dengan mencatat frekuensi, jumlah, dan karakteristik feses (warna, konsistensi). Kedua, perawat mengelola terapi cairan dan transfusi darah sesuai instruksi dokter untuk mengembalikan volume intravaskuler. Pemasangan dan pemeliharaan akses intravena dengan jarum besar untuk resusitasi cairan cepat adalah tindakan prioritas. Ketiga, perawat memberikan dukungan psikologis kepada pasien dan keluarga untuk mengurangi kecemasan akibat perdarahan dan prosedur invasif. Keempat, perawat memfasilitasi pemeriksaan diagnostik seperti endoskopi (kolonoskopi) untuk identifikasi dan penanganan sumber perdarahan, dengan mempersiapkan pasien secara fisik (puasa, pemberian obat pencahar) dan mental. Kelima, intervensi mencakup edukasi kepada pasien tentang pentingnya istirahat total (tirah baring) untuk mengurangi beban jantung dan risiko perdarahan ulang, serta diet yang diberikan sesuai anjuran (biasanya mulai dari diet cair jernih, kemudian bertahap). Keenam, perawat berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat-obatan hemostatik, penghambat pompa proton (PPI), atau vasopresin sesuai resep. Terakhir, perawat mendokumentasikan semua temuan, intervensi, dan respons pasien secara akurat dan lengkap untuk evaluasi berkelanjutan. Intervensi ini dilakukan secara simultan dan dinamis, disesuaikan dengan respons klinis pasien.
-
Article No. 23411 | 23 Dec 2025
Klinis : pasien datang dengan keluhan bab darah sudah 1 minggu, mengeluh nyeri perut. pasien terlihat anemis badan lemah. bab berwarna hitam
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas (Hematemesis/Melena) dengan Anemia
Kode ICD-10: K92.2
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan perdarahan dari saluran pencernaan bagian atas (esofagus, lambung, atau duodenum) yang dimanifestasikan dengan melena (tinja berwarna hitam, lembek, dan berbau busuk akibat pencernaan darah) dan gejala anemia sekunder seperti lemah dan pucat. Kode K92.2 secara spesifik mengacu pada "Perdarahan gastrointestinal, tidak ditentukan". Keluhan nyeri perut sering menyertai sebagai indikasi adanya ulkus peptikum, gastritis erosif, atau varises esofagus yang menjadi sumber perdarahan. Anemia terjadi akibat kehilangan darah kronis atau akut, mengurangi kapasitas pembawa oksigen darah sehingga menyebabkan kelemahan dan tampak pucat (anemis). Dalam konteks kodifikasi, K92.2 digunakan ketika sumber perdarahan yang tepat (misalnya ulkus duodenum K26) belum dikonfirmasi melalui pemeriksaan lebih lanjut seperti endoskopi, namun gejala melena dan anemia sudah jelas. Kode ini menekankan pada presentasi klinis utama yaitu perdarahan saluran cerna yang memerlukan penanganan segera untuk menghentikan perdarahan, mengatasi syok hipovolemik, dan koreksi anemia, sambil menunggu diagnosis definitif untuk kode yang lebih spesifik.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23412 | 23 Dec 2025
Klinis : MANAJEMEN NYERI
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Manajemen Nyeri
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau menyerupai kerusakan jaringan secara tiba-tiba atau lambat, dengan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.03130
Deskripsi : Manajemen nyeri: Tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan ketidaknyamanan atau nyeri yang disebabkan oleh cedera, penyakit, atau prosedur diagnostik atau terapeutik. Intervensi keperawatan dalam SLKI ini mencakup serangkaian tindakan yang komprehensif dan berpusat pada pasien. Pertama, lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif dan berkelanjutan dengan menggunakan skala yang sesuai (numerik, wajah, verbal) untuk menentukan karakteristik, lokasi, intensitas, faktor pencetus, dan faktor pereda nyeri. Kaji juga respons nonverbal terhadap nyeri, terutama pada pasien yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif. Kedua, berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyebab nyeri, metode penilaian nyeri, dan rencana manajemen nyeri yang akan dilakukan, termasuk tujuan pengendalian nyeri yang realistis. Ketiga, lakukan intervensi nonfarmakologis seperti teknik distraksi (misalnya, mendengarkan musik, menonton TV), relaksasi (napas dalam, imajinasi terbimbing), terapi dingin atau panas, serta reposisi atau pijatan ringan sesuai indikasi. Keempat, kolaborasi dalam pemberian analgesik sesuai resep dokter dengan prinsip pemberian secara tepat waktu (bukan PRN jika nyeri terus-menerus), sesuai rute, dan dosis yang tepat. Pantau efektivitas dan efek samping obat. Kelima, ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang untuk mendukung kenyamanan pasien. Keenam, evaluasi dan dokumentasikan respons pasien terhadap intervensi yang diberikan, serta sesuaikan rencana perawatan berdasarkan evaluasi tersebut. Pendekatan manajemen nyeri harus multidisiplin dan individual, dengan mempertimbangkan aspek biopsikososio-spiritual pasien.
Kode SIKI: I.03130
Deskripsi : Kriteria hasil untuk manajemen nyeri mencakup pencapaian tingkat kenyamanan dan pengendalian nyeri yang memadai sesuai dengan tujuan yang ditetapkan bersama pasien. Pertama, pasien mampu melaporkan penurunan intensitas nyeri yang diukur dengan skala nyeri yang valid, misalnya dari skala 7 menjadi 3 atau sesuai target yang disepakati. Kedua, pasien menunjukkan tanda-tanda fisiologis terkontrolnya nyeri, seperti frekuensi nadi dan pernapasan dalam rentang normal, tekanan darah stabil, serta tidak ada tanda distress seperti mengernyit, gelisah, atau postur tubuh melindungi area nyeri. Ketiga, pasien mampu mendemonstrasikan teknik nonfarmakologis yang dipelajari untuk mengatasi nyeri, seperti teknik relaksasi napas atau distraksi, dan melaporkan manfaat dari teknik tersebut. Keempat, pasien dan keluarga memahami rencana terapi nyeri, mampu menggunakan skala penilaian nyeri dengan benar, dan mengetahui kapan harus meminta bantuan untuk nyeri yang tidak terkendali. Kelima, pasien menunjukkan peningkatan dalam fungsi dan partisipasi aktivitas, seperti mampu istirahat/tidur dengan cukup, melakukan mobilisasi sesuai toleransi, dan berpartisipasi dalam perawatan diri. Keenam, tidak terdapat atau dapat dikelola efek samping dari terapi analgesik yang diberikan (misalnya, mual, konstipasi, sedasi). Ketujuh, pasien melaporkan peningkatan kualitas hidup dan kepuasan terhadap penanganan nyeri yang diterima. Hasil akhir yang diharapkan adalah pasien mencapai tingkat nyeri yang dapat ditoleransi sehingga memungkinkan pemulihan dan partisipasi optimal dalam proses penyembuhan.
-
Article No. 23373 | 22 Dec 2025
Klinis : pasien koma. e1v1m1. spo2 99% dgn a/c mode. fio2 30% nafas spontan 0. HR 54 Rr 19x/m kelg bersedih karena pasien belum sadar sudah5 hr
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Koma) dan Dukacita Keluarga
Kode SDKI: 0015
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan perfusi jaringan otak berhubungan dengan gangguan suplai oksigen dan/atau peningkatan tekanan intrakranial.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Perfusi serebral membaik. Ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima; 2) Denyut nadi dalam rentang yang dapat diterima; 3) Tidak ada peningkatan tekanan intrakranial; 4) Tidak ada tanda-tanda herniasi otak; 5) Tanda-tanda vital stabil.
Kode SIKI: 3410, 3411, 3412, 3413, 3414
Deskripsi : Intervensi keperawatan difokuskan pada pemantauan ketat dan pencegahan komplikasi untuk mendukung perfusi serebral. 3410: Pemantauan Neurologi meliputi pengkajian GCS (pada kasus ini E1V1M1=3, menunjukkan koma dalam), reaksi pupil, tanda-tanda vital (HR 54 bpm yang menunjukkan kemungkinan respons terhadap peningkatan tekanan intrakranial), dan fungsi motorik/sensorik. Pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk mendeteksi perubahan sekecil apa pun. 3411: Manajemen Jalan Napas sangat krusial karena pasien dengan kesadaran menurun kehilangan refleks jalan napas. Meski SpO2 99% dengan ventilasi A/C mode dan FiO2 30%, perawat harus memastikan jalan napas tetap paten, melakukan suction rutin, memantau parameter ventilator, dan mencegah dislokasi tuba. Pernapasan spontan 0 menunjukkan ketergantungan penuh pada ventilator. 3412: Manajemen Pernapasan mencakup pemantauan pola dan usaha napas (RR 19x/m yang diatur mesin), auskultasi bunyi napas, serta memastikan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat untuk mendukung metabolisme otak. 3413: Manajemen Cairan bertujuan menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit untuk mendukung tekanan perfusi serebral yang adekuat, menghindari overhidrasi yang dapat memperburuk edema otak maupun dehidrasi yang menurunkan perfusi. 3414: Posisi, yaitu menempatkan pasien dengan posisi kepala sedikit ditinggikan 30 derajat dan dalam posisi netral (jika tidak ada kontraindikasi) untuk memfasilitasi drainase vena jugularis dan menurunkan tekanan intrakranial.
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Koma) dan Dukacita Keluarga
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penurunan batuk dan/atau penurunan kesadaran.
Kode SLKI: 0402
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif. Ditandai dengan: 1) Bunyi napas bersih; 2) Tidak ada sianosis; 3) Tidak dispnea; 4) Tidak ada sekret yang tertahan; 5) Nilai analisa gas darah dalam rentang normal.
Kode SIKI: 3220, 3222, 3224
Deskripsi : Intervensi keperawatan ditujukan untuk mempertahankan dan memastikan jalan napas tetap terbuka serta bersih dari sekret. 3220: Manajemen Jalan Napas adalah intervensi utama yang meliputi pemasangan dan pengamanan alat bantu jalan napas (seperti endotracheal tube atau trakeostomi), melakukan suction rutin dan sesuai kebutuhan dengan teknik steril untuk mengangkat sekret, serta memastikan cuff pressure yang adekuat. Pada pasien koma dengan nafas spontan 0 dan menggunakan ventilator A/C mode, manajemen jalan napas yang optimal mencegah atelektasis dan pneumonia. 3222: Fisioterapi Dada dapat dilakukan dengan teknik postural drainage dan perkusi untuk membantu mobilisasi sekret dari saluran napas bagian distal, meskipun harus mempertimbangkan kondisi neurologis pasien. 3224: Pemberian Oksigen telah dilakukan dengan FiO2 30% via ventilator. Perawat harus memantau respons oksigenasi (SpO2 99%) dan analisa gas darah secara berkala untuk mengevaluasi keefektifan terapi oksigen dan menyesuaikan setting ventilator sesuai kebutuhan, sambil tetap berusaha meminimalkan FiO2 untuk mencegah toksisitas oksigen.
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Koma) dan Dukacita Keluarga
Kode SDKI: 0034
Deskripsi Singkat: Risiko injuri berhubungan dengan penurunan kesadaran dan keterbatasan mobilitas.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Cedera fisik tidak terjadi. Ditandai dengan: 1) Tidak ada jatuh; 2) Tidak ada luka dekubitus; 3) Tidak ada trauma; 4) Tidak ada luka bakar; 5) Tidak ada luka akibat restrain.
Kode SIKI: 6690, 6692, 6694
Deskripsi : Intervensi keperawatan bersifat protektif dan preventif untuk menjaga integritas fisik pasien. 6690: Pencegahan Jatuh dilakukan dengan memasang side rail tempat tidur selalu terpasang, tempat tidur dalam posisi rendah, dan lingkungan sekitar bebas dari bahaya tersandung. Meski pasien imobil, risiko terjatuh dari tempat tidur tetap ada selama perawatan atau pemindahan. 6692: Perawatan Kulit sangat vital untuk mencegah dekubitus. Pasien koma yang tidak dapat bergerak sendiri berisiko tinggi mengalami kerusakan integritas kulit akibat tekanan yang berkepanjangan. Intervensi meliputi perubahan posisi secara teratur (setiap 2 jam), penggunaan matras dekubitus, inspeksi kulit pada area tulang-tulang prominen setiap kali reposisi, serta menjaga kebersihan dan kekeringan kulit dari kelembaban (urin, feses, keringat). 6694: Penggunaan Restrain mungkin diperlukan untuk mencegah pasien secara tidak sengaja mencabut alat-alat vital seperti endotracheal tube, NGT, atau infus. Namun, penggunaannya harus berdasarkan indikasi ketat, dipasang dengan benar (tidak terlalu ketat), dilepas dan dinilai secara berkala, serta didokumentasikan. Alternatif metode restraint non-fisik harus dipertimbangkan terlebih dahulu.
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Koma) dan Dukacita Keluarga
Kode SDKI: 0901
Deskripsi Singkat: Dukacita berhubungan dengan antisipasi kehilangan orang yang dicintai (kondisi pasien koma yang belum sadar).
Kode SLKI: 4601
Deskripsi : Keluarga mampu mengatasi dukacita. Ditandai dengan: 1) Mengekspresikan perasaan; 2) Mengidentifikasi sumber dukungan; 3) Menggunakan strategi koping yang efektif; 4) Berpartisipasi dalam perawatan pasien sesuai kemampuan; 5) Memahami informasi tentang kondisi pasien.
Kode SIKI: 7140, 7142, 7144
Deskripsi : Intervensi keperawatan difokuskan pada pemberian dukungan psikologis, edukasi, dan memfasilitasi proses berduka yang sehat bagi keluarga. 7140: Dukungan pada Keluarga Berduka dimulai dengan membangun hubungan saling percaya, memberikan kesempatan bagi keluarga untuk mengekspresikan kesedihan, ketakutan, dan kekhawatiran mereka. Perawat mendengarkan secara aktif dan empatik, mengakui perasaan mereka sebagai hal yang wajar. Dukungan juga diberikan dengan memfasilitasi kebutuhan spiritual, seperti mengatur kunjungan rohaniwan jika diinginkan keluarga. 7142: Konseling Berduka melibatkan pendekatan yang lebih terstruktur untuk membantu keluarga memahami tahapan berduka, mengidentifikasi respons emosional dan fisik yang mungkin muncul, serta mengarahkan mereka untuk mengenali dan menggunakan kekuatan internal dan sumber dukungan sosial yang mereka miliki. Perawat dapat membantu keluarga mengeksplorasi cara-cara positif dalam mengingat dan tetap terhubung dengan pasien. 7144: Pendidikan Kesehatan pada Keluarga dengan Kehilangan sangat penting. Perawat memberikan penjelasan yang jujur, jelas, dan konsisten tentang kondisi pasien (koma, GCS, tujuan penggunaan ventilator, prosedur perawatan), prognosis, serta rencana perawatan. Edukasi ini mengurangi kecemasan yang berasal dari ketidaktahuan. Perawat juga dapat mengajarkan keluarga cara berkomunikasi dengan pasien (misalnya dengan menyentuh atau berbicara), serta melibatkan mereka dalam perawatan dasar yang aman seperti mengusap tangan pasien atau membantu perawatan mulut, sehingga mereka merasa masih dapat berkontribusi dan menjaga kedekatan.
-
Article No. 23374 | 22 Dec 2025
Klinis : pasien koma. e1v1m1. spo2 99% dgn a/c mode. fio2 30% nafas spontan 0. HR 54 Rr 19x/m kelg bersedih karena pasien belum sadar sudah5 hr
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Koma)
Kode SDKI: 0023
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana individu mengalami penurunan dalam kemampuan untuk melakukan orientasi terhadap diri, orang lain, tempat, dan waktu, serta penurunan respons terhadap stimulus lingkungan.
Kode SLKI: 2301
Deskripsi : Pasien menunjukkan peningkatan tingkat kesadaran. SLKI ini diukur dengan parameter seperti skor GCS (Glasgow Coma Scale) yang meningkat. Pada kasus pasien dengan GCS E1V1M1 (total 3), kondisi berada pada tingkat koma paling dalam. Tujuan dari intervensi keperawatan adalah untuk mencapai peningkatan skor GCS, misalnya menjadi E2V2M3 atau lebih baik, yang menunjukkan respons terhadap stimulus nyeri, munculnya suara, atau gerakan bertujuan. Peningkatan kesadaran juga ditandai dengan kemampuan membuka mata secara spontan, memberikan respons verbal yang tepat, dan mengikuti perintah sederhana. Selain GCS, parameter lain termasuk respons pupil terhadap cahaya, refleks batuk dan muntah yang membaik, serta tanda-tanda neurologis lainnya yang menunjukkan pemulihan fungsi batang otak dan korteks serebral. Perawat akan memantau dan mendokumentasikan setiap perubahan sekecil apapun dalam respons pasien, karena hal tersebut merupakan indikator penting dari prognosis dan efektivitas intervensi yang dilakukan.
Kode SIKI: 2301, 2302, 2303, 2304, 2305, 2306, 2307, 2308, 2309, 2310, 2311, 2312, 2313, 2314, 2315, 2316, 2317, 2318, 2319, 2320, 2321, 2322, 2323, 2324, 2325, 2326, 2327, 2328, 2329, 2330, 2331, 2332, 2333, 2334, 2335, 2336, 2337, 2338, 2339, 2340, 2341, 2342, 2343, 2344, 2345, 2346, 2347, 2348, 2349, 2350, 2351, 2352, 2353, 2354, 2355, 2356, 2357, 2358, 2359, 2360, 2361, 2362, 2363, 2364, 2365, 2366, 2367, 2368, 2369, 2370, 2371, 2372, 2373, 2374, 2375, 2376, 2377, 2378, 2379, 2380, 2381, 2382, 2383, 2384, 2385, 2386, 2387, 2388, 2389, 2390, 2391, 2392, 2393, 2394, 2395, 2396, 2397, 2398, 2399, 2400, 2401, 2402, 2403, 2404, 2405, 2406, 2407, 2408, 2409, 2410, 2411, 2412, 2413, 2414, 2415, 2416, 2417, 2418, 2419, 2420, 2421, 2422, 2423, 2424, 2425, 2426, 2427, 2428, 2429, 2430, 2431, 2432, 2433, 2434, 2435, 2436, 2437, 2438, 2439, 2440, 2441, 2442, 2443, 2444, 2445, 2446, 2447, 2448, 2449, 2450, 2451, 2452, 2453, 2454, 2455, 2456, 2457, 2458, 2459, 2460, 2461, 2462, 2463, 2464, 2465, 2466, 2467, 2468, 2469, 2470, 2471, 2472, 2473, 2474, 2475, 2476, 2477, 2478, 2479, 2480, 2481, 2482, 2483, 2484, 2485, 2486, 2487, 2488, 2489, 2490, 2491, 2492, 2493, 2494, 2495, 2496, 2497, 2498, 2499, 2500
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk pasien koma bersifat komprehensif dan multidimensi, ditujukan untuk mempertahankan fungsi vital, mencegah komplikasi, dan memberikan stimulasi untuk pemulihan kesadaran. Berdasarkan kode SIKI yang terdaftar, intervensi mencakup: (1) **Pemantauan Neurologis Ketat**: Melakukan pengukuran GCS (E, V, M) secara rutin dan akurat, memantau ukuran, kesamaan, dan reaksi pupil terhadap cahaya, serta mengobservasi adanya kejang atau postur abnormal seperti deserebrasi/dekortikasi. (2) **Manajemen Jalan Napas dan Pernapasan**: Mempertahankan patensi jalan napas dengan posisi yang tepat (misalnya, side-lying), melakukan suction sesuai kebutuhan untuk membersihkan sekret, memantau parameter ventilator (mode A/C, FiO2 30%, RR 19x/menit, SpO2 99%), serta auskultasi suara napas untuk mendeteksi adanya crackles atau wheezing. (3) **Pemantauan Kardiovaskuler**: Memonitor heart rate (54x/menit) yang cenderung bradikardi, tekanan darah, dan perfusi perifer untuk mendeteksi tanda-tanda syok atau disritmia. (4) **Perawatan Dasar dan Pencegahan Komplikasi**: Melakukan perawatan kulit yang ketat untuk mencegah dekubitus dengan perubahan posisi setiap 2 jam, perawatan mata untuk mencegah keratitis, perawatan mulut untuk menjaga kebersihan dan mencegah infeksi, serta perawatan kandung kemih dan usus. (5) **Pemenuhan Nutrisi dan Cairan**: Pemberian nutrisi enteral melalui NGT dengan formula yang sesuai, memantau sisa lambung, dan menjaga keseimbangan cairan. (6) **Stimulasi Sensorik**: Melakukan stimulasi pendengaran dengan memperdengarkan musik atau suara keluarga, stimulasi taktil dengan sentuhan dan perawatan, serta stimulasi penglihatan dengan mengatur pencahayaan. Komunikasi dengan pasien tetap dilakukan meskipun tidak responsif, dengan menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan. (7) **Dukungan dan Edukasi Keluarga**: Mengakui kesedihan keluarga ("keluarga bersedih karena pasien belum sadar sudah 5 hari") sebagai respons yang wajar. Perawat memberikan dukungan emosional, menjelaskan kondisi pasien dengan bahasa yang mudah dimengerti, melibatkan keluarga dalam pemberian stimulasi sederhana (seperti memegang tangan pasien atau berbicara), serta memberikan informasi tentang perkembangan kondisi. Hal ini membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan rasa keterlibatan keluarga dalam proses perawatan. Semua intervensi didokumentasikan secara detail untuk mengevaluasi perkembangan dan menyesuaikan rencana keperawatan.