Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23499 | 05 Jan 2026
Klinis : seorang bayi usia 1 hari mengalami perdarahan lambung. Hasil pemeriksaan darah sebelumnya, kadar trombosit dan hematokrit dalam batas normal. Apakah diagnosa dan intervensi yang sesuai berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perdarahan Gastrointestinal (Lambung) pada Bayi Baru Lahir
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif
Kode SLKI: L.03104
Deskripsi : Perfusi jaringan serebral membaik, ditandai dengan: tingkat kesadaran sesuai usia, tanda vital dalam batas normal, tidak ada pucat, kulit hangat dan kering, capillary refill < 3 detik, produksi urine adekuat, dan tidak ada kejang.
Kode SIKI: I.08039
Deskripsi : Manajemen Perdarahan
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI D.0016 - Risiko Perfusi Jaringan Serebral Tidak Efektif): Pada bayi baru lahir (1 hari) dengan perdarahan lambung, ancaman utama bukan hanya kehilangan darah secara langsung, tetapi dampak sistemiknya terhadap pengiriman oksigen dan nutrisi ke organ vital, terutama otak. Perfusi serebral yang tidak efektif mengacu pada penurunan aliran darah ke otak yang dapat menyebabkan iskemia dan kerusakan neurologis. Meskipun kadar trombosit dan hematokrit awal normal, perdarahan aktif yang berlanjut dapat dengan cepat menurunkan volume darah sirkulasi (hipovolemia), menurunkan curah jantung, dan akhirnya menurunkan tekanan perfusi serebral. Bayi baru lahir sangat rentan karena volume darah totalnya kecil; kehilangan darah 50-100 mL sudah dapat menimbulkan syok hipovolemik. Tanda-tandanya bisa halus, seperti letargi, hipotermia, takikardia, fontanel cekung, dan penurunan produksi urine. Oleh karena itu, diagnosa ini menjadi fokus utama karena mengantisipasi komplikasi yang mengancam jiwa dan perkembangan saraf jangka panjang.
Luaran Keperawatan (SLKI L.03104 - Perfusi jaringan serebral membaik): SLKI ini merupakan tujuan yang ingin dicapai dari intervensi keperawatan. Luaran ini diukur melalui kriteria yang spesifik dan terukur. "Tingkat kesadaran sesuai usia" pada bayi 1 hari berarti bayi responsif, dapat dibangunkan untuk menyusu, dan menunjukkan refleks normal. "Tanda vital dalam batas normal" mencakup denyut jantung 120-160 kali/menit, frekuensi napas 30-60 kali/menit, dan tekanan darah yang sesuai usia (dengan mean arterial pressure yang memadai untuk perfusi). "Tidak ada pucat" menunjukkan hemoglobin yang cukup untuk pengangkutan oksigen. "Kulit hangat dan kering" serta "capillary refill < 3 detik" adalah indikator kuat dari sirkulasi perifer dan curah jantung yang baik, yang berkorelasi dengan perfusi sentral termasuk otak. "Produksi urine adekuat" (sekitar 1-2 mL/kg/jam) adalah indikator akhir (gold standard) perfusi ginjal yang baik, yang sejalan dengan perfusi serebral karena keduanya bergantung pada tekanan perfusi yang memadai. "Tidak ada kejang" menandakan tidak adanya iritasi atau iskemia saraf akut. Mencapai luaran ini berarti ancaman hipoksia-iskemik serebral akibat perdarahan telah berhasil dikendalikan.
Intervensi Keperawatan (SIKI I.08039 - Manajemen Perdarahan): Intervensi ini adalah tindakan spesifik yang dilakukan perawat untuk menangani perdarahan dan mencegah komplikasi perfusi. Pada konteks bayi dengan perdarahan lambung, intervensi ini meliputi: 1) Pemantauan Ketat: Memonitor tanda-tanda syok (tanda vital, capillary refill, warna kulit, tingkat kesadaran) dan tanda perdarahan lanjutan (muntah darah segar atau coffee ground, darah pada aspirat lambung, distensi abdomen, penurunan hematokrit serial meski awalnya normal). 2) Manajemen Jalan Napas dan Oksigenasi: Memastikan jalan napas paten, memberikan oksigen tambahan jika diperlukan untuk mempertahankan saturasi oksigen optimal, karena anemia mengurangi kapasitas angkut oksigen. 3) Resusitasi Cairan dan Darah: Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan intravena (seperti NaCl 0,9%) atau transfusi darah/packed red cells jika kehilangan darah signifikan, dengan tujuan memulihkan volume intravaskuler dan tekanan perfusi. 4) Penghentian Perdarahan: Melaksanakan instruksi medis seperti pemberian obat hemostatik (contoh: Vitamin K), penghambat pompa proton, atau tindakan lain. 5) Perawatan Supportif: Mempertahankan suhu tubuh normal (hindari hipotermia yang memperburuk koagulopati), meminimalkan manipulasi lambung sesuai instruksi (mungkin puasa dan dekompresi nasogastrik), serta memberikan kenyamanan. 6) Edukasi dan Dukungan pada Orang Tua: Menjelaskan kondisi bayi dengan tenang, penyebab perdarahan (misal: gastritis atau ulkus stres, defisiensi Vitamin K), dan rencana perawatan, untuk mengurangi kecemasan. Intervensi ini bersifat dinamis dan terus dievaluasi berdasarkan respons klinis bayi.
Keterkaitan: Ketiga komponen ini membentuk satu kesatuan proses asuhan keperawatan yang logis. SDKI D.0016 menganalisis respons individu terhadap kondisi (perdarahan) dan mengidentifikasi masalah potensial (risiko perfusi serebral terganggu). SLKI L.03104 menetapkan tujuan spesifik yang ingin dicapai (kriteria perfusi yang baik). SIKI I.08039 memberikan serangkaian tindakan berbasis evidence untuk mencegah realisasi risiko tersebut dan mencapai tujuan luaran. Dengan melaksanakan I.08039 secara komprehensif, perawat berupaya untuk mengendalikan perdarahan, menjaga stabilitas hemodinamik, dan pada akhirnya mencapai L.03104, sehingga masalah dalam D.0016 dapat teratasi atau dicegah.
-
Article No. 23500 | 05 Jan 2026
Klinis : Pesien mengatakan perasaan lemas, lidah tersa pahit, susah tidur yang dialami 2 hari
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Asthenia dan Gejala Tidak Spesifik Lainnya
Kode ICD-10: R53.1
Deskripsi Singkat : Kode R53.1 mengacu pada kondisi asthenia (kelemahan) yang tidak spesifik, sering digambarkan sebagai perasaan lelah, lemas, atau kekurangan energi yang tidak disebabkan oleh aktivitas fisik yang berlebihan. Dalam konteks keluhan pasien yang meliputi perasaan lemas, lidah terasa pahit (dysgeusia), dan susah tidur (insomnia) yang dialami selama 2 hari, kode ini digunakan karena gejala-gejala tersebut bersifat umum dan belum dapat diklasifikasikan ke dalam diagnosis penyakit sistemik, neurologis, atau psikiatri yang lebih spesifik berdasarkan informasi terbatas. Keluhan-keluhan ini seringkali merupakan manifestasi dari berbagai kemungkinan penyebab, seperti infeksi virus ringan, stres psikologis, gangguan tidur, dehidrasi, atau efek samping pengobatan. Penggunaan kode R53.1 dalam simulasi ini tepat karena menangkap keluhan utama pasien (kelemahan) sambil mengakui bahwa gejala penyerta lainnya memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menentukan diagnosis definitif. Kode ini termasuk dalam bab 'Gejala, Tanda dan Temuan Klinis serta Laboratorium yang Abnormal, Tidak Diklasifikasikan di Tempat Lain' (R00-R99) dari ICD-10, yang digunakan untuk mencatat masalah yang memerlukan investigasi tambahan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23501 | 05 Jan 2026
Klinis : I. IDENTITAS KLIEN No. Rekam Medis : Tidak disebutkan dalam kasus Tanggal Masuk RS : Tidak disebutkan dalam kasus Nama Klien : An. Ken Nama Panggilan : Tidak disebutkan Tempat/Tanggal Lahir : Tidak disebutkan Umur : 4 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Suku : Tidak disebutkan Bahasa yang dimengerti : Tidak disebutkan Orang Tua/Wali : Orang tua kandung Nama Ayah/Ibu/Wali : Ny. Diandra Pekerjaan Ayah/Ibu/Wali : Tidak disebutkan Pendidikan : Tidak disebutkan Alamat Ayah/Ibu/Wali : Tinggal bersama orang tua, kakak, nenek (ibu), dan bibi (ibu) II. KELUHAN UTAMA BAB cair tanpa ampas disertai muntah. III. RIWAYAT KELUHAN SAAT INI Orang tua mengatakan anak BAB 4–6 kali per hari dengan konsistensi cair tanpa ampas dan disertai muntah sekitar 3 kali per hari. Anak juga mengalami demam. Hasil pemeriksaan feses menunjukkan adanya darah dalam tinja. Anak tampak haus dan masih mau minum. IV. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU Prenatal : ANC 6 kali ke bidan, kenaikan BB ibu ±13 kg, TD normal, mendapat vitamin dan tablet besi, tidak ada komplikasi. Perinatal dan Postnatal : Persalinan normal per vaginam, lama persalinan ±2 jam, di rumah sakit. Penyakit yang pernah diderita: Pernah diare 1 bulan lalu dan sembuh sendiri. Hospitalisasi/Tindakan : Tidak ada. Injury/Kecelakaan : Tidak ada. Alergi : Tidak diketahui. Imunisasi & Tes Lab : Imunisasi tidak disebutkan; pemeriksaan feses terdapat darah. Pengobatan : Mendapat Cefotaxime IV, Zinc, Domperidone, dan Paracetamol. V. RIWAYAT PERTUMBUHAN BB 18 kg, TB 105 cm. Pertumbuhan sesuai usia. VI. RIWAYAT SOSIAL a. Yang mengasuh : Orang tua. b. Hubungan keluarga : Baik. c. Hubungan teman sebaya : Tidak disebutkan. d. Pembawaan umum : Anak kooperatif, tampak lemah. VII. RIWAYAT KELUARGA Sosial ekonomi : Tidak disebutkan. Lingkungan rumah : Tinggal satu rumah dengan keluarga besar. Penyakit keluarga : Tidak ada riwayat hipertensi, DM, jantung, hepatitis, HIV/AIDS, TBC. Genogram : Tinggal dengan orang tua, kakak, nenek, dan bibi. VIII. PENGKAJIAN TINGKAT PERKEMBANGAN SAAT INI Usia 4 tahun → menggunakan Denver II (belum dilampirkan). Interpretasi : Tidak dapat dinilai lengkap, perkembangan sesuai usia berdasarkan data terbatas. IX. PENGKAJIAN POLA KESEHATAN Persepsi & pemeliharaan kesehatan: Orang tua membawa anak ke RS karena diare dan muntah. Nutrisi: Sebelum sakit makan 3x/hari, porsi habis. Saat sakit makan sedikit ±3–4 sendok, minum air putih. Cairan: Asupan cairan menurun, anak tampak haus. Aktivitas: Aktivitas menurun, sebagian dibantu orang tua/perawat. Tidur & istirahat: Tidur terganggu karena diare, tidur ±6 jam/hari. Eliminasi: BAB sebelum sakit 1x/hari; saat sakit 6–8x/hari cair. BAK 5–7x/hari. Pola hubungan: Hubungan baik dengan orang tua. Koping/temperamen & disiplin: Anak menangis saat tindakan, orang tua mendampingi. Kognitif & persepsi: Sesuai usia, respons baik. Konsep diri: Tidak dapat dikaji mendalam. Seksual & menstruasi: Tidak relevan. Nilai: Keluarga kooperatif terhadap pengobatan. X. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum: Kesadaran compos mentis Nadi 110 x/menit Suhu 38,3°C RR 30 x/menit TD 97/70 mmHg Respons nyeri: tidak dikaji BB 18 kg, TB 105 cm Kulit: Turgor menurun, mukosa bibir kering. Kepala: Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik. Mata: Mata cekung. Telinga: Tidak dikaji. Hidung: Tidak dikaji. Mulut: Mukosa bibir kering. Leher: Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening. Dada: Simetris. Paru-paru: Vesikuler normal. Jantung: Iktus kordis normal, tidak ada kardiomegali. Abdomen: Distensi (-), peristaltik meningkat, timpani. Genitalia: Tidak dikaji. Anus & rektum: Tidak dikaji. Muskuloskeletal: ROM dilakukan pasif. Neurologi: Tidak ada kelainan nyata. XI. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK PENUNJANG Pemeriksaan feses: terdapat darah dalam tinja. XII. INFORMASI LAIN Terpasang infus Ringer Laktat 16 tpm. Terapi kolaborasi: Cefotaxime IV, Zinc 20 mg/hari, Domperidone 5 mg/8 jam, Paracetamol 240 mg/6 jam.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gastroenteritis Akut dengan Dehidrasi Ringan-Sedang
Kode ICD-10: A09.0
Deskripsi Singkat : Gastroenteritis akut adalah peradangan pada lambung dan usus yang ditandai dengan diare cair dan/atau muntah. Pada kasus ini, anak laki-laki berusia 4 tahun mengalami gejala khas berupa diare cair tanpa ampas (4-6 kali/hari), muntah (3 kali/hari), dan demam (38.3°C). Temuan darah dalam tinja (pada pemeriksaan feses) mengindikasikan adanya proses inflamasi atau infeksi yang lebih invasif pada saluran cerna. Tanda klinis seperti mata cekung, mukosa bibir kering, dan turgor kulit menurun menunjukkan komplikasi dehidrasi, yang diklasifikasikan sebagai derajat ringan hingga sedang karena anak masih kooperatif, sadar penuh (compos mentis), dan masih mau minum. Kode ICD-10 A09.0 digunakan untuk "Diare dan gastroenteritis yang diduga berasal dari infeksi," yang sesuai dengan presentasi klinis akut, demam, dan temuan laboratorium pendukung. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau parasit, dan memerlukan terapi suportif seperti rehidrasi (Ringer Laktat), zinc, serta pengobatan simtomatik (antipiretik, antiemetik) seperti yang diterima pasien.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23502 | 05 Jan 2026
Klinis : I. IDENTITAS KLIEN No. Rekam Medis : Tidak disebutkan dalam kasus Tanggal Masuk RS : Tidak disebutkan dalam kasus Nama Klien : An. Ken Nama Panggilan : Tidak disebutkan Tempat/Tanggal Lahir : Tidak disebutkan Umur : 4 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Suku : Tidak disebutkan Bahasa yang dimengerti : Tidak disebutkan Orang Tua/Wali : Orang tua kandung Nama Ayah/Ibu/Wali : Ny. Diandra Pekerjaan Ayah/Ibu/Wali : Tidak disebutkan Pendidikan : Tidak disebutkan Alamat Ayah/Ibu/Wali : Tinggal bersama orang tua, kakak, nenek (ibu), dan bibi (ibu) II. KELUHAN UTAMA BAB cair tanpa ampas disertai muntah. III. RIWAYAT KELUHAN SAAT INI Orang tua mengatakan anak BAB 4–6 kali per hari dengan konsistensi cair tanpa ampas dan disertai muntah sekitar 3 kali per hari. Anak juga mengalami demam. Hasil pemeriksaan feses menunjukkan adanya darah dalam tinja. Anak tampak haus dan masih mau minum. IV. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU Prenatal : ANC 6 kali ke bidan, kenaikan BB ibu ±13 kg, TD normal, mendapat vitamin dan tablet besi, tidak ada komplikasi. Perinatal dan Postnatal : Persalinan normal per vaginam, lama persalinan ±2 jam, di rumah sakit. Penyakit yang pernah diderita: Pernah diare 1 bulan lalu dan sembuh sendiri. Hospitalisasi/Tindakan : Tidak ada. Injury/Kecelakaan : Tidak ada. Alergi : Tidak diketahui. Imunisasi & Tes Lab : Imunisasi tidak disebutkan; pemeriksaan feses terdapat darah. Pengobatan : Mendapat Cefotaxime IV, Zinc, Domperidone, dan Paracetamol. V. RIWAYAT PERTUMBUHAN BB 18 kg, TB 105 cm. Pertumbuhan sesuai usia. VI. RIWAYAT SOSIAL a. Yang mengasuh : Orang tua. b. Hubungan keluarga : Baik. c. Hubungan teman sebaya : Tidak disebutkan. d. Pembawaan umum : Anak kooperatif, tampak lemah. VII. RIWAYAT KELUARGA Sosial ekonomi : Tidak disebutkan. Lingkungan rumah : Tinggal satu rumah dengan keluarga besar. Penyakit keluarga : Tidak ada riwayat hipertensi, DM, jantung, hepatitis, HIV/AIDS, TBC. Genogram : Tinggal dengan orang tua, kakak, nenek, dan bibi. VIII. PENGKAJIAN TINGKAT PERKEMBANGAN SAAT INI Usia 4 tahun → menggunakan Denver II (belum dilampirkan). Interpretasi : Tidak dapat dinilai lengkap, perkembangan sesuai usia berdasarkan data terbatas. IX. PENGKAJIAN POLA KESEHATAN Persepsi & pemeliharaan kesehatan: Orang tua membawa anak ke RS karena diare dan muntah. Nutrisi: Sebelum sakit makan 3x/hari, porsi habis. Saat sakit makan sedikit ±3–4 sendok, minum air putih. Cairan: Asupan cairan menurun, anak tampak haus. Aktivitas: Aktivitas menurun, sebagian dibantu orang tua/perawat. Tidur & istirahat: Tidur terganggu karena diare, tidur ±6 jam/hari. Eliminasi: BAB sebelum sakit 1x/hari; saat sakit 6–8x/hari cair. BAK 5–7x/hari. Pola hubungan: Hubungan baik dengan orang tua. Koping/temperamen & disiplin: Anak menangis saat tindakan, orang tua mendampingi. Kognitif & persepsi: Sesuai usia, respons baik. Konsep diri: Tidak dapat dikaji mendalam. Seksual & menstruasi: Tidak relevan. Nilai: Keluarga kooperatif terhadap pengobatan. X. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum: Kesadaran compos mentis Nadi 110 x/menit Suhu 38,3°C RR 30 x/menit TD 97/70 mmHg Respons nyeri: tidak dikaji BB 18 kg, TB 105 cm Kulit: Turgor menurun, mukosa bibir kering. Kepala: Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik. Mata: Mata cekung. Telinga: Tidak dikaji. Hidung: Tidak dikaji. Mulut: Mukosa bibir kering. Leher: Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening. Dada: Simetris. Paru-paru: Vesikuler normal. Jantung: Iktus kordis normal, tidak ada kardiomegali. Abdomen: Distensi (-), peristaltik meningkat, timpani. Genitalia: Tidak dikaji. Anus & rektum: Tidak dikaji. Muskuloskeletal: ROM dilakukan pasif. Neurologi: Tidak ada kelainan nyata. XI. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK PENUNJANG Pemeriksaan feses: terdapat darah dalam tinja. XII. INFORMASI LAIN Terpasang infus Ringer Laktat 16 tpm. Terapi kolaborasi: Cefotaxime IV, Zinc 20 mg/hari, Domperidone 5 mg/8 jam, Paracetamol 240 mg/6 jam.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Volume Cairan dan Elektrolit
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Penurunan volume cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular yang mengarah pada penurunan perfusi jaringan dan/atau gangguan fungsi seluler. Pada kasus An. Ken, kondisi ini ditandai dengan diare cair 4-6 kali/hari, muntah, demam (38.3°C), turgor kulit menurun, mukosa bibir kering, mata cekung, dan rasa haus. Kehilangan cairan melalui feses dan muntah, ditambah peningkatan kebutuhan cairan akibat demam, melebihi asupan yang masuk, sehingga terjadi defisit. Hasil pemeriksaan feses berdarah juga mengindikasikan proses inflamasi/infeksi yang memperberat kehilangan cairan.
Kode SLKI: L.03114
Deskripsi : Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Terjaga. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk usia (nadi, pernapasan, tekanan darah), turgor kulit elastis, membran mukosa lembab, mata tidak cekung, produksi urin adekuat (1-2 ml/kg/jam), dan tidak ada tanda dehidrasi lebih lanjut. Pada An. Ken, targetnya adalah menurunkan frekuensi diare dan muntah, menormalkan suhu tubuh, serta memperbaiki tanda-tanda klinis dehidrasi seperti turgor kulit dan kelembaban mukosa. Pemantauan ketat asupan dan haluaran cairan serta respons terhadap terapi rehidrasi (infus RL) menjadi fokus utama.
Kode SIKI: I.05229
Deskripsi : Manajemen Cairan. Intervensi keperawatan spesifik meliputi: 1) Memantau tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, mata, membran mukosa, ubun-ubun) secara berkala. 2) Memantau asupan dan haluaran cairan (balance cairan) dengan ketat, termasuk frekuensi dan konsistensi BAB serta muntah. 3) Mempertahankan pemberian cairan intravena (Ringer Laktat) sesuai program dokter dengan kecepatan yang tepat (16 tpm) dan memastikan jalur infus tetap patent. 4) Kolaborasi pemberian terapi obat sesuai program (Cefotaxime, Zinc, Domperidone, Paracetamol). 5) Memberikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya asupan cairan, pemberian zinc (untuk memperbaiki integritas usus dan mengurangi durasi diare), dan tanda-tanda dehidrasi yang harus diwaspadai. 6) Mendorong pemberian cairan per oral sedikit-sedikit namun sering jika anak sudah dapat toleran, sesuai anjuran. 7) Memantau tanda-tanda overhidrasi atau komplikasi pemberian cairan intravena. Intervensi ini bertujuan mengoreksi defisit volume cairan, mencegah komplikasi lebih lanjut (syok hipovolemik, gangguan elektrolit), dan mendukung proses penyembuhan infeksi saluran cerna yang mendasari.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana individu berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pada An. Ken, risiko ini sangat nyata akibat kondisi akutnya. Asupan nutrisi menurun drastis (hanya 3-4 sendok saat sakit dibandingkan porsi habis saat sehat) karena anoreksia yang menyertai penyakit infeksi, mual, muntah, dan diare. Selain itu, proses infeksi/inflamasi (ditandai demam dan feses berdarah) meningkatkan kebutuhan energi dan protein tubuh (keadaan hipermetabolik). Meskipun status gizi saat ini masih baik (BB 18 kg sesuai usia), jika kondisi ini berlanjut tanpa intervensi, dapat terjadi penurunan berat badan dan menghambat proses penyembuhan serta pertumbuhan.
Kode SLKI: L.03004
Deskripsi : Status Nutrisi Terjaga. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: asupan nutrisi oral meningkat secara bertahap, berat badan stabil tidak turun, anak menunjukkan minat untuk makan, dan frekuensi muntah menurun sehingga nutrisi dapat dipertahankan. Target jangka pendek adalah mempertahankan berat badan selama sakit dan mencegah malnutrisi akut. Orang tua diharapkan dapat melaporkan peningkatan nafsu makan anak dan porsi makan yang diterima.
Kode SIKI: I.01264
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi keperawatan spesifik meliputi: 1) Memantau asupan makanan dan cairan setiap hari, mencatat jenis, porsi, dan toleransi. 2) Menimbang berat badan secara teratur (setiap hari atau sesuai protokol) untuk mendeteksi penurunan dini. 3) Kolaborasi pemberian terapi antiemetik (Domperidone) untuk mengurangi muntah dan memungkinkan pemberian nutrisi. 4) Memberikan edukasi kepada orang tua tentang pemberian makanan yang sesuai selama diare: makanan lunak, mudah dicerna, tinggi energi dan protein (seperti bubur, pisang, sup ayam), diberikan dalam porsi kecil namun sering. 5) Menghindari pemberian makanan atau minuman yang merangsang diare (seperti jus buah berkonsentrasi tinggi, makanan berlemak). 6) Mendorong pemberian ASI atau susu formula yang biasa dikonsumsi jika anak masih minum susu. 7) Memastikan pemberian suplementasi Zinc sesuai program, karena zinc berperan penting dalam memperbaiki sel epitel usus, meningkatkan imunitas, dan meningkatkan nafsu makan. 8) Menciptakan lingkungan makan yang nyaman dan tidak memaksa anak. Intervensi ini bertujuan memenuhi kebutuhan nutrisi selama masa kritis, mendukung fungsi imun, dan mempercepat penyembuhan jaringan usus yang rusak.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal sebagai respons terhadap kondisi patogen, trauma, atau disfungsi hipotalamus. Pada An. Ken, hipertermia (suhu 38.3°C) terjadi kemungkinan besar sebagai respons sistemik terhadap infeksi saluran cerna yang ditandai dengan diare berdarah. Demam meningkatkan metabolisme basal, yang pada gilirannya meningkatkan kebutuhan oksigen dan cairan. Peningkatan suhu tubuh ini juga dapat memperburuk kehilangan cairan melalui insensible water loss (penguapan) dan berkontribusi pada rasa tidak nyaman, lemas, serta penurunan nafsu makan anak. Mengatasi hipertermia penting untuk mengurangi beban metabolik tubuh dan meningkatkan kenyamanan anak.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Termoregulasi Terjaga. Kriteria hasil yang diharapkan adalah: suhu tubuh turun dan stabil dalam rentang normal (36.5-37.5°C), tanda-tanda vital lain stabil, anak tampak lebih nyaman, dan tidak mengalami komplikasi seperti kejang demam (meski risiko pada suhu 38.3°C relatif rendah, tetap perlu diwaspadai). Targetnya adalah suhu tubuh An. Ken kembali normal dalam 24-48 jam setelah pemberian terapi.
Kode SIKI: I.08017
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi keperawatan spesifik meliputi: 1) Memantau suhu tubuh secara berkala (setiap 2-4 jam) dan mencatat polanya. 2) Kolaborasi pemberian terapi antipiretik (Paracetamol) sesuai program dosis dan interval yang ditentukan (240 mg/6 jam), serta memantau efektivitasnya. 3) Melakukan tindakan pendinginan non-farmakologis yang aman, seperti mengompres hangat (bukan dingin) di daerah dahi, ketiak, dan lipat paha, serta memastikan pakaian anak tidak terlalu tebal. 4) Meningkatkan asupan cairan untuk mengganti cairan yang hilang melalui penguapan akibat demam. 5) Memantau tanda-tanda kejang demam, terutama jika suhu terus meningkat. 6) Memberikan edukasi kepada orang tua tentang cara mengukur suhu yang benar, pemberian obat penurun panas yang aman, dan tindakan kompres yang tepat di rumah. 7) Memastikan lingkungan ruangan nyaman dan sirkulasi udara baik. Intervensi ini bertujuan menurunkan suhu tubuh, mencegah komplikasi demam, meningkatkan kenyamanan anak, dan mengurangi peningkatan kebutuhan metabolik yang memperberat defisit cairan dan nutrisi.
-
Article No. 23503 | 05 Jan 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan patogen, seperti bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menginvasi tubuh, berkembang biak, dan menyebabkan penyakit tuberkulosis paru, ditandai dengan gejala seperti batuk produktif berkepanjangan, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan.
Kode SLKI: L.03104
Deskripsi : Status infeksi terkontrol. Pasien akan menunjukkan tanda-tanda bahwa infeksi tuberkulosisnya dapat dikendalikan dan dicegah penularannya. Hal ini tercermin dari kepatuhan menjalani pengobatan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) secara lengkap dan tepat waktu sesuai jadwal yang ditetapkan, tanpa terlewat satu dosis pun. Pasien mampu mengenali dan melaporkan efek samping obat yang mungkin timbul, seperti mual, pusing, atau perubahan warna urine. Selain itu, pasien menunjukkan pemahaman dan komitmen untuk menerapkan perilaku pencegahan penularan, seperti menutup mulut saat batuk/bersin dengan tisu atau lengan, membuang dahak di tempat yang aman (misalnya, di wadah tertutup yang akan didesinfeksi), serta menggunakan masker terutama saat berinteraksi dengan orang lain di awal pengobatan. Pasien juga melaporkan adanya perbaikan gejala secara bertahap, seperti penurunan frekuensi batuk, demam yang mereda, dan peningkatan nafsu makan. Parameter laboratorium dan pemeriksaan penunjang lain, seperti pemeriksaan dahak serial, menunjukkan konversi dari BTA (Basil Tahan Asam) positif menjadi negatif, menandakan bahwa pengobatan efektif dan potensi penularan menurun.
Kode SIKI: I.01278
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Intervensi keperawatan ini difokuskan untuk mencegah penyebaran mikroorganisme patogen, dalam hal ini Mycobacterium tuberculosis, dan mengendalikan infeksi yang sudah terjadi. Perawat akan mengajarkan dan memastikan pasien serta keluarganya memahami dan menerapkan etika batuk yang benar, yaitu menutup mulut dan hidung dengan tisu atau lipatan siku saat batuk atau bersin, serta segera membuang tisu bekas ke tempat sampah tertutup. Perawat mendemonstrasikan dan memantau teknik pembuangan dahak yang aman, misalnya ke dalam wadah berpenutup yang berisi desinfektan atau langsung dibuang ke toilet. Perawat menginstruksikan pentingnya penggunaan masker, terutama pada fase awal pengobatan saat masih potensial menular, dan menjaga ventilasi udara yang baik di rumah. Perawat memberikan pendidikan kesehatan yang komprehensif tentang penyakit TB, cara penularan, pentingnya pengobatan OAT hingga tuntas (biasanya 6-8 bulan), konsekuensi jika tidak patuh (kekebalan obat/MDR-TB), dan efek samping obat yang mungkin terjadi. Perawat akan memantau kepatuhan minum obat, baik melalui pengawasan langsung (DOTS) atau dengan mencatat dalam kartu pengobatan. Perawat juga mengajarkan dan mendorong perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti mencuci tangan dengan sabun, mengonsumsi makanan bergizi tinggi untuk meningkatkan daya tahan tubuh, serta istirahat yang cukup. Perawat akan memantau tanda-tanda klinis seperti suhu tubuh, karakteristik batuk dan dahak, pola pernapasan, dan nafsu makan untuk mengevaluasi respons terhadap terapi. Kolaborasi dengan tim medis dilakukan untuk pemberian terapi obat dan pemeriksaan penunjang seperti tes dahak ulang. Dukungan psikososial juga diberikan untuk mengurangi stigma dan meningkatkan motivasi pasien dalam menjalani pengobatan jangka panjang.
-
Article No. 23480 | 04 Jan 2026
Klinis : pasien nn , umur 29 thn,mengalami demam selama 4 hari disertai mual, pusing dan juga BAB cair sebanyak 6 kali dan juga klien mengatakan perut nya melilit. diagnosa medis diare akut ec typhoid
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Diare Akut pada Demam Tifoid
Kode ICD-10: A01.0
Deskripsi Singkat : Kondisi ini merujuk pada diare akut yang secara etiologi disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi, agen penyebab demam tifoid (tifus abdominalis). Kode A01.0 secara spesifik mengklasifikasikan "Demam tifoid", di mana gejala gastrointestinal seperti diare akut merupakan manifestasi klinis yang umum. Pada kasus ini, pasien mengalami demam, gejala sistemik (mual, pusing), dan gejala gastrointestinal khas berupa diare cair frekuensi tinggi (6 kali) disertai nyeri perut melilit, yang sesuai dengan perjalanan penyakit tifoid. Kode ini digunakan ketika diagnosis klinis atau konfirmasi laboratorium mengarah pada Salmonella typhi sebagai penyebab diare akut tersebut. Pengkodean memungkinkan pelacakan penyakit menular tertentu dan perencanaan tata laksana yang tepat, termasuk terapi antibiotik spesifik dan manajemen dehidrasi. Penting untuk membedakannya dari diare akut akibat penyebab infeksi lain (seperti A09, A00, atau A04) atau penyebab non-infeksi.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23481 | 04 Jan 2026
Klinis : pasien nn , umur 29 thn,mengalami demam selama 4 hari disertai mual, pusing dan juga BAB cair sebanyak 6 kali dan juga klien mengatakan perut nya melilit. diagnosa medis diare akut ec typhoid
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Status di mana individu berisiko mengalami penurunan volume sirkulasi darah, cairan interstitial, atau intraseluler yang dapat mengganggu fungsi fisiologis.
Kode SLKI: L.03104
Deskripsi : Keseimbangan Cairan. Tujuan keperawatan adalah mempertahankan keseimbangan cairan yang adekuat pada pasien. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: tanda-tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan) dalam rentang normal untuk usia; turgor kulit baik (kembali dalam waktu < 2 detik setelah dicubit); membran mukosa bibir dan mulut lembab; produksi urin adekuat (output urin >0,5 ml/kgBB/jam); tidak ada rasa haus yang berlebihan; dan tidak adanya pusing atau kelemahan yang signifikan akibat dehidrasi. Pada pasien dengan diare akut dan demam seperti kasus ini, SLKI ini menjadi fokus utama untuk mencegah komplikasi dehidrasi yang dapat memperburuk kondisi klinis.
Kode SIKI: I.08059
Deskripsi : Manajemen Cairan. Intervensi keperawatan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mempertahankan atau memulihkan keseimbangan cairan dan elektrolit. Intervensi spesifik meliputi: 1) Memonitor tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah, pernapasan) secara berkala untuk mendeteksi dini tanda syok hipovolemik (seperti takikardia, hipotensi). 2) Mengobservasi dan mencatat frekuensi, volume, dan konsistensi BAB untuk menilai kehilangan cairan. 3) Memantau tanda-tanda klinis dehidrasi (turgor kulit, kelembaban membran mukosa, keluhan haus, produksi urin). 4) Memberikan asupan cairan oral (air putih, oralit) secara bertahap namun adekuat sesuai toleransi, dengan prinsip sedikit-sedikit tetapi sering untuk mengurangi mual. 5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi cairan intravena (IV) jika diperlukan, seperti pada pasien dengan mual berat sehingga asupan oral tidak mencukupi. 6) Mengajarkan dan mendorong pasien serta keluarga untuk mengenali tanda-tanda dehidrasi dan pentingnya asupan cairan. 7) Memonitor hasil laboratorium (seperti elektrolit dan hematokrit) untuk menilai keparahan dehidrasi dan kehilangan elektrolit. 8) Mengatur posisi pasien untuk kenyamanan dan mencegah cedera jika terjadi pusing atau kelemahan. Intervensi ini bersifat komprehensif, menggabungkan aspek pemantauan, pemberian terapi, edukasi, dan kolaborasi untuk mengatasi risiko defisit volume cairan secara efektif.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Tujuan keperawatan adalah mengurangi atau menghilangkan nyeri yang dialami pasien. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: pasien melaporkan penurunan skala nyeri (misalnya dari skala 7 ke 3 pada skala 0-10); ekspresi wajah pasien tampak rileks dan tidak meringis; pasien dapat beristirahat dan tidur dengan cukup; tanda-tanda vital yang dipengaruhi nyeri (seperti nadi dan tekanan darah) kembali dalam rentang normal; serta pasien mampu menunjukkan perilaku adaptif dalam mengatasi nyeri (seperti teknik relaksasi napas dalam). Pada kasus ini, nyeri diwujudkan dalam keluhan "perut melilit" yang merupakan gejala khas dari infeksi Salmonella typhi pada usus.
Kode SIKI: I.11030
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Intervensi spesifik meliputi: 1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi P (provokasi/pemicu), Q (kualitas), R (region/lokasi, radiation/penyebaran), S (skala/severity), T (time/waktu), dengan menggunakan skala nyeri yang valid. 2) Memberikan penjelasan kepada pasien tentang penyebab nyeri (proses infeksi typhoid pada usus) dan rencana penanganannya untuk mengurangi kecemasan. 3) Mengajarkan dan mendampingi pasien dalam teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti teknik relaksasi napas dalam, distraksi (misalnya mendengarkan musik), atau kompres hangat lembut pada abdomen jika tidak kontraindikasi. 4) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik yang sesuai (biasanya yang tidak bersifat ulcerogenik/merusak mukosa lambung, mengingat adanya keluhan mual). 5) Memonitor dan mengevaluasi efektivitas intervensi nyeri yang diberikan dengan menanyakan kembali skala nyeri setelah intervensi. 6) Mengatur posisi yang nyaman bagi pasien, biasanya dengan posisi semi-Fowler atau sesuai kenyamanan pasien. 7) Meminimalkan faktor lingkungan yang dapat memperberat persepsi nyeri, seperti kebisingan. Intervensi ini penting karena nyeri yang tidak tertangani dapat meningkatkan stres, menghambat istirahat, dan memperlambat proses penyembuhan.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0047
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal sebagai respons terhadap proses patologis.
Kode SLKI: L.06002
Deskripsi : Kontrol Suhu Tubuh. Tujuan keperawatan adalah mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: suhu tubuh turun dan stabil dalam rentang normal (36,5 – 37,5°C); kulit teraba hangat tanpa adanya menggigil (rigor); tanda-tanda vital lain (nadi, pernapasan) dalam batas normal; pasien melaporkan perbaikan kondisi (penurunan rasa tidak nyaman akibat demam); dan tidak adanya komplikasi seperti dehidrasi berat atau kejang (pada suhu yang sangat tinggi). Demam pada typhoid merupakan manifestasi sistemik dari bakteremia dan perlu dikelola untuk meningkatkan kenyamanan dan mengurangi metabolisme basal.
Kode SIKI: I.08025
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi keperawatan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mengurangi suhu tubuh yang tinggi. Intervensi spesifik meliputi: 1) Memonitor suhu tubuh secara teratur (setiap 2-4 jam) dan mencatat pola demam (pada typhoid sering berupa demam yang meningkat bertahap). 2) Memberikan terapi kompres hangat/tepid sponge terutama pada area lipatan (aksila, lipat paha) dan dahi untuk memfasilitasi pelepasan panas melalui konduksi dan evaporasi. Hindari kompres dingin karena dapat menyebabkan menggigil yang justru meningkatkan produksi panas. 3) Menganjurkan dan memfasilitasi asupan cairan yang adekuat untuk mengganti cairan yang hilang melalui penguapan (insensible water loss) saat demam dan mencegah dehidrasi. 4) Mengatur lingkungan yang nyaman, sirkulasi udara baik, dan menggunakan pakaian/bedong yang tipis dan menyerap keringat. 5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi antipiretik (obat penurun panas) sesuai indikasi dan resep, dengan mempertimbangkan kondisi gastrointestinal pasien. 6) Memonitor tanda-tanda komplikasi seperti dehidrasi, perubahan kesadaran, atau kejang. 7) Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang penyebab demam, tujuan intervensi yang dilakukan, dan tanda-tanda yang perlu diwaspadai. Manajemen hipertermia yang baik juga akan membantu mengurangi keluhan pusing dan ketidaknyamanan yang menyertainya.
-
Article No. 23482 | 04 Jan 2026
Klinis : pasien nn , umur 29 thn,mengalami demam selama 4 hari disertai mual, pusing dan juga BAB cair sebanyak 6 kali dan juga klien mengatakan perut nya melilit. diagnosa medis diare akut ec typhoid, untuk prioritas masalah diare, hipertermia, defisit nutrisi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Diare
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Peningkatan frekuensi buang air besar dengan konsistensi cair.
Kode SLKI: L.03102
Deskripsi : Pasien menunjukkan eliminasi usus yang normal.
Kode SIKI: I.01241
Deskripsi : Intervensi Keperawatan: Manajemen Diare. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis yang bertujuan untuk mengurangi frekuensi dan memperbaiki konsistensi tinja, mencegah komplikasi (seperti dehidrasi dan gangguan elektrolit), serta meningkatkan kenyamanan pasien. Tindakan dimulai dengan pemantauan ketat terhadap frekuensi, volume, konsistensi, dan karakteristik tinja, serta tanda-tanda dehidrasi (seperti turgor kulit, membran mukosa, dan produksi urin). Asupan dan haluaran cairan dicatat dengan cermat untuk menilai keseimbangan cairan. Pasien didorong untuk meningkatkan asupan cairan oral, lebih disukai cairan rehidrasi oral (oralit) yang mengandung elektrolit, untuk menggantikan kehilangan cairan dan elektrolit dari diare. Modifikasi diet diterapkan, seperti memberikan makanan yang mudah dicerna (misalnya, pisang, nasi, apel, roti panggang/BRAT diet pada fase akut) dan menghindari makanan yang merangsang atau berlemak tinggi. Kebersihan perianal dijaga dengan membersihkan area tersebut dengan air hangat dan sabun lembut setelah setiap episode diare, serta mengoleskan pelindung kulit (seperti salep zinc oxide) untuk mencegah iritasi dan kerusakan kulit integritas. Edukasi kesehatan diberikan kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya higiene personal, terutama mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah buang air besar, untuk mencegah penyebaran infeksi. Faktor penyebab diare (dalam hal ini infeksi Salmonella typhi) dikelola dengan kolaborasi pemberian terapi antibiotik sesuai resep dokter dan memantau respons terapi. Pasien juga dimonitor untuk nyeri abdomen (melilit) dan ketidaknyamanan, serta diberikan manajemen nyeri yang sesuai. Evaluasi keberhasilan intervensi dilihat dari penurunan frekuensi diare, konsistensi tinja yang mengental, tidak ada tanda dehidrasi, dan kulit perianal yang tetap utuh.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal.
Kode SLKI: L.0801
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.0806
Deskripsi : Intervensi Keperawatan: Manajemen Hipertermia. Intervensi ini ditujukan untuk menurunkan suhu tubuh ke rentang normal, mengurangi ketidaknyamanan akibat demam, dan mencegah komplikasi seperti kejang atau dehidrasi berat. Tindakan utama meliputi pemantauan suhu tubuh secara berkala (setiap 2-4 jam atau sesuai kebutuhan) menggunakan termometer yang sesuai, serta memantau tanda-tanda vital lain seperti nadi, pernapasan, dan tekanan darah. Tindakan pendinginan fisik dilakukan seperti kompres hangat (terutama di daerah lipatan aksila dan lipat paha) atau mandi air hangat, dengan menghindari kompres dingin atau alkohol karena dapat menyebabkan menggigil dan vasokonstriksi yang justru memerangkap panas. Lingkungan diatur agar sejuk dan nyaman, misalnya dengan mengatur sirkulasi udara dan menggunakan pakaian yang tipis serta menyerap keringat. Asupan cairan ditingkatkan secara signifikan untuk menggantikan cairan yang hilang melalui penguapan (berkeringat) dan mencegah dehidrasi yang dapat memperparah hipertermia. Nutrisi yang adekuat diberikan dalam bentuk mudah dicerna untuk mendukung kebutuhan metabolik yang meningkat selama demam. Kolaborasi pemberian obat antipiretik (seperti parasetamol) sesuai resep dokter dilaksanakan dengan memantau efektivitas dan efek sampingnya. Pasien dan keluarga diedukasi tentang pentingnya istirahat untuk mengurangi produksi panas metabolik, teknik pengukuran suhu yang benar, dan kapan harus mencari bantuan medis jika demam tidak turun. Evaluasi keberhasilan dilihat dari suhu tubuh yang kembali normal, pasien merasa lebih nyaman, tidak terjadi komplikasi, dan pasien/keluarga memahami tindakan perawatan di rumah.
Kondisi: Defisit Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0030
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Kode SLKI: L.0301
Deskripsi : Status nutrisi adekuat.
Kode SIKI: I.01124
Deskripsi : Intervensi Keperawatan: Manajemen Nutrisi. Intervensi ini bertujuan untuk memastikan asupan nutrisi yang adekuat sesuai kebutuhan tubuh pasien, mempertahankan atau meningkatkan berat badan, dan mendukung proses penyembuhan infeksi. Tindakan diawali dengan pengkajian status nutrisi secara komprehensif, termasuk riwayat asupan makanan, berat badan sebelum sakit dan saat ini, tanda klinis malnutrisi (seperti kelemahan, penurunan massa otot), serta faktor penyebab seperti anoreksia, mual, muntah, dan diare. Kolaborasi dengan ahli gizi dilakukan untuk menentukan kebutuhan kalori, protein, dan mikronutrien pasien. Pasien didorong untuk makan dalam porsi kecil namun sering (small frequent feeding) untuk mengurangi beban pencernaan dan mual. Makanan yang diberikan harus tinggi kalori dan protein (seperti telur, ikan, ayam, tahu, tempe) serta mudah dicerna, disesuaikan dengan toleransi pasien. Makanan yang merangsang, berlemak, atau terlalu pedas dihindari sementara. Strategi untuk mengatasi mual dan muntah diterapkan, seperti memberikan makanan kering (biskuit) sebelum bangun tidur, menghindari aroma makanan yang kuat, dan memastikan lingkungan makan yang nyaman. Suplemen nutrisi oral (misalnya susu tinggi protein) dapat diberikan jika asupan makanan biasa tidak mencukupi. Asupan cairan yang cukup juga dipantau untuk mendukung metabolisme nutrisi. Pemantauan berat badan dilakukan secara teratur (misalnya 2-3 kali seminggu) untuk menilai tren perubahan. Edukasi diberikan kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya nutrisi dalam penyembuhan, pemilihan jenis makanan, dan teknik pengelolaan gejala yang mengganggu makan. Evaluasi keberhasilan dilihat dari peningkatan asupan makanan, berat badan yang stabil atau meningkat, peningkatan kadar protein serum (seperti albumin), dan peningkatan energi serta kekuatan pasien.
-
Article No. 23483 | 04 Jan 2026
Klinis : hipertermia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal akibat kegagalan mekanisme termoregulasi tubuh.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal. Intervensi keperawatan untuk kondisi hipertermia bertujuan untuk mengembalikan dan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal (36-37,5°C aksila). Pencapaian SLKI ini ditandai dengan tanda-tanda vital stabil, tidak adanya keluhan panas, kulit teraba hangat dan tidak berkeringat berlebihan, serta tingkat kesadaran baik. Perawat akan memantau suhu tubuh secara berkala, mengidentifikasi faktor penyebab, dan melakukan intervensi untuk memfasilitasi pelepasan panas dari tubuh. Keberhasilan manajemen hipertermia tidak hanya diukur dari angka termometer, tetapi juga dari kenyamanan pasien dan stabilitas kondisi secara keseluruhan. Pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk mencegah kekambuhan dan mengantisipasi komplikasi seperti dehidrasi atau kejang demam, terutama pada populasi rentan seperti anak-anak dan lansia.
Kode SIKI: 2610, 0802, 1360, 1920
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk menangani hipertermia bersifat komprehensif dan meliputi: 1. Manajemen Hipertermia (2610): Intervensi inti yang meliputi pemantauan suhu terus-menerus, memberikan lingkungan sejuk (mengatur suhu ruangan, menggunakan kipas angin), memberikan kompres hangat/tepid sponge (hindari air es karena dapat menyebabkan menggigil dan vasokonstriksi), serta meningkatkan sirkulasi udara. 2. Manajemen Cairan (0802): Hipertermia meningkatkan kehilangan cairan melalui evaporasi dan keringat. Intervensi ini mencakup pemberian cairan per oral atau intravena sesuai toleransi dan kebutuhan, memantau tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, output urin), dan mendorong intake cairan yang adekuat. 3. Pendidikan Kesehatan (1360): Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyebab hipertermia, tanda-tanda yang perlu diwaspadai, cara melakukan perawatan di rumah (seperti teknik kompres yang benar, pentingnya hidrasi), dan kapan harus mencari bantuan medis. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kemandirian dan mencegah kekambuhan. 4. Pengawasan (1920): Melakukan pemantauan ketat dan berkelanjutan terhadap tanda-tanda vital (terutama suhu, nadi, pernapasan), status neurologis (tingkat kesadaran, adanya kejang), dan respons terhadap terapi. Pengawasan juga mencakup identifikasi dini komplikasi potensial dan evaluasi efektivitas intervensi yang diberikan. Kombinasi SIKI ini dilakukan secara simultan dan terintegrasi, disesuaikan dengan etiologi hipertermia (misalnya infeksi, sengatan panas, atau reaksi obat) dan kondisi spesifik pasien, untuk mencapai outcome suhu tubuh yang normal dan mencegah kerusakan lebih lanjut.
-
Article No. 23484 | 04 Jan 2026
Klinis : hipertermia, diare, defisit nutrisi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: 00027
Deskripsi Singkat: Risiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit. Tujuan keperawatan adalah mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam batas normal. Hal ini dicapai melalui pemantauan tanda-tanda vital (terutama suhu, nadi, dan tekanan darah), pemantauan tanda-tanda dehidrasi atau kelebihan cairan (seperti turgor kulit, membran mukosa, produksi urin), serta pemberian dan pengaturan cairan intravena atau oral sesuai kebutuhan. Pada pasien dengan hipertermia dan diare, kehilangan cairan meningkat secara signifikan melalui mekanisme penguapan (diaforesis/berkeringat) dan pengeluaran melalui feses yang cair. Oleh karena itu, SLKI ini menjadi fokus utama untuk mencegah dehidrasi, syok hipovolemik, dan ketidakseimbangan elektrolit (seperti hipokalemia dan hiponatremia) yang dapat memperburuk kondisi pasien. Intervensi mencakup edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan cairan, pemantauan ketat intake dan output, serta kolaborasi pemberian terapi rehidrasi.
Kode SIKI: 2120
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi ini meliputi tindakan untuk mengurangi suhu tubuh yang meningkat di atas rentang normal. Pada kondisi hipertermia, tubuh mengalami peningkatan metabolisme dan kehilangan cairan melalui keringat. Tindakan keperawatan meliputi pemantauan suhu tubuh secara berkala, memberikan terapi pendinginan fisik (seperti kompres hangat/tepid sponge, pengaturan suhu ruangan, pakaian tipis), pemberian antipiretik sesuai kolaborasi atau protokol, serta peningkatan asupan cairan untuk menggantikan kehilangan cairan. Manajemen hipertermia yang efektif tidak hanya menurunkan suhu tetapi juga mengurangi risiko dehidrasi lebih lanjut dan beban metabolik pada tubuh. Penting untuk membedakan antara hipertermia dan demam, namun prinsip manajemen pendinginan dan hidrasi tetap relevan. Intervensi ini harus dilakukan bersamaan dengan upaya menemukan dan mengatasi penyebab hipertermia.
Kondisi: Defisit Nutrisi
Kode SDKI: 00002
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Kode SLKI: 1104
Deskripsi : Status nutrisi. Tujuan keperawatan adalah meningkatkan atau mempertahankan status nutrisi yang adekuat. Pada pasien dengan diare dan hipertermia, defisit nutrisi terjadi karena asupan yang mungkin menurun (akibat mual, malaise), peningkatan kebutuhan metabolik akibat hipertermia, dan kehilangan nutrisi melalui feses yang cair (malabsorpsi). SLKI ini dicapai dengan melakukan pengkajian status nutrisi (berat badan, indeks massa tubuh, lingkar lengan atas, pemeriksaan laboratorium seperti albumin), memberikan makanan dalam porsi kecil namun sering dengan kandungan nutrisi tinggi dan mudah dicerna, memastikan lingkungan makan yang nyaman, serta melakukan kolaborasi dengan ahli gizi untuk penyusunan diet khusus. Pemenuhan nutrisi sangat penting untuk mendukung sistem imun dalam melawan infeksi (jika ada), memperbaiki jaringan, dan menyediakan energi. Nutrisi yang adekuat juga membantu pemulihan integritas mukosa usus yang mungkin terganggu akibat diare.
Kode SIKI: 1120
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi ini mencakup tindakan membantu atau memberikan nutrisi yang adekuat. Implementasinya meliputi membantu pasien dalam makan (jika lemah), memberikan edukasi tentang pentingnya nutrisi dan jenis makanan yang dianjurkan (misalnya diet BRAT: Banana, Rice, Applesauce, Toast pada fase pemulihan diare, atau makanan tinggi protein dan kalori), memantau toleransi makanan, serta mencatat asupan kalori dan protein harian. Pada kondisi akut dengan diare berat, mungkin diperlukan pendekatan bertahap dimulai dari cairan bening, lalu cairan penuh, hingga makanan padat. Kolaborasi pemberian suplemen nutrisi atau terapi nutrisi enteral/parenteral mungkin diperlukan jika defisit nutrisi sangat berat. Manajemen nutrisi yang baik secara langsung mendukung penyembuhan dan mencegah komplikasi seperti penurunan berat badan yang ekstrem, kelemahan otot, dan gangguan penyembuhan luka.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 00004
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons terhadap patogen.
Kode SLKI: 1801
Deskripsi : Kontrol Infeksi. Tujuan keperawatan adalah mencegah dan mengontrol penyebaran infeksi. Hipertermia dan diare sering kali merupakan manifestasi dari suatu proses infeksi (bakteri, virus, parasit). SLKI ini menjadi sangat relevan untuk mencegah penularan kepada orang lain (jika infeksius) dan mencegah infeksi sekunder pada pasien yang sudah dalam keadaan lemah. Tindakan yang dilakukan termasuk penerapan kewaspadaan standar (cuci tangan sebelum dan setelah kontak dengan pasien atau lingkungannya), kewaspadaan kontak (terutama dalam menangani feses), isolasi jika diperlukan, edukasi kepada pasien dan keluarga tentang kebersihan diri dan sanitasi (seperti mencuci tangan setelah BAB), serta memastikan lingkungan yang bersih. Kontrol infeksi juga mencakup pemantauan tanda-tanda infeksi baru dan memastikan terapi antibiotik atau antiparasit (jika diresepkan) diberikan tepat waktu dan dihabiskan. Pada pasien dengan defisit nutrisi, sistem imun dapat terganggu, sehingga risiko infeksi meningkat, membuat SLKI ini menjadi bagian integral dari rencana asuhan.
Kode SIKI: 6540
Deskripsi : Pengawasan Infeksi. Intervensi ini melibatkan pengumpulan dan analisis data pasien untuk mengidentifikasi tanda-tanda infeksi dan efektivitas pengobatan. Perawat akan memantau tanda-tanda vital (terutama pola demam/hipertermia), karakteristik diare (frekuensi, volume, konsistensi, warna, adanya darah/lendir), hasil pemeriksaan laboratorium (seperti leukosit, kultur darah atau feses), serta respons klinis pasien terhadap terapi. Pengawasan yang ketat memungkinkan deteksi dini komplikasi, evaluasi perkembangan penyakit, dan penyesuaian rencana asuhan keperawatan. Data dari pengawasan ini juga penting untuk menentukan apakah sumber infeksi telah teratasi, yang pada gilirannya akan mengurangi gejala hipertermia dan diare. Intervensi ini bersifat berkelanjutan dari fase akut hingga pemulihan.