Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23507 | 06 Jan 2026
Klinis : Bayi Ny. Marni adalah bayi perempuan berusia 2 bulan yang dirawat di PICU dengan keluhan utama sesak napas akibat diagnosis medis Pneumonia Bilateral. Riwayat penyakit saat ini menunjukkan pasien telah dirawat di RS Daerah selama satu bulan namun dirujuk ke RSS karena mengalami perburukan kondisi. Riwayat kesehatan masa lalu mencatat ibu primipara dengan kunjungan prenatal 8 kali ke bidan, mendapatkan imunisasi TT, tablet besi, vitamin, asam folat, serta mengalami hiperemesis berat hingga usia 23 minggu. Bayi lahir secara Caesar dengan komplikasi Ketuban Pecah Dini (KPD), langsung menangis saat lahir, serta telah mendapatkan imunisasi Hepatitis B dan injeksi Vitamin K. Pada pengkajian riwayat pertumbuhan, ditemukan berat badan 4 kg, panjang badan 53 cm, lingkar kepala 37,5 cm, dan LLA 11 cm. Dalam aspek riwayat sosial dan keluarga, bayi diasuh oleh ibunya, namun data ekonomi, lingkungan rumah, dan genogram belum terkaji secara mendalam. Berdasarkan pemeriksaan fisik terkini, pasien dalam keadaan sakit berat dan tersedasi midazolam 0,2 cc/jam dengan tanda-tanda vital meliputi nadi 127 x/menit, suhu 37,5°C, pernapasan 33 x/menit (terkontrol ventilator), dan tekanan darah 105/67 mmHg. Pemeriksaan fisik sistem pernapasan menunjukkan adanya sekret pada ETT, retraksi intercosta dan subcosta, ketinggalan gerak pada paru, perkusi redup pada ICS 5, serta suara ronki pada kedua lapang paru. Status jantung menunjukkan Iktus kordis di SIC 4 tanpa kardiomegali dengan bunyi S2 split tak konstan, sementara abdomen tampak datar dengan peristaltik 5-10x/menit dan muskuloskeletal tidak ditemukan deformitas. Pemeriksaan diagnostik penunjang menunjukkan hasil Rontgen pneumonia bilateral dengan cor normal, serta hasil AGD dengan pH 7,53, PCO2 23,2 mmHg, PO2 157 mmHg, HCO3 40 mmol/L, dan BE -3 mmol/L. Saat ini, pasien terpasang ventilator hari ke-8 (mode PC, FiO2 50%, PEEP 5, PS 6), ETT hari ke-6, CVC hari ke-6, dan DC hari ke-1, dengan terapi medis meliputi Meropenem, Fluconazole, Midazolam, Nicardipine, Azetazolamide, serta nebulizer Ventolin.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Pertukaran Gas Tercapai
Kode SIKI: I.04001
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas
Penjelasan Lengkap:
Berdasarkan data pasien bayi Ny. Marni, diagnosa keperawatan yang paling utama dan relevan adalah Gangguan Pertukaran Gas (D.0005). Definisinya adalah kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler. Kondisi ini secara jelas ditunjukkan oleh diagnosis medis pneumonia bilateral, yang menyebabkan konsolidasi dan peradangan pada jaringan paru kedua sisi. Akibatnya, membran alveolus-kapiler mengalami kerusakan, edema, dan terisi oleh eksudat inflamasi serta sekret, sehingga luas permukaan untuk pertukaran gas sangat berkurang. Data fisik yang mendukung adalah adanya sekret pada ETT, retraksi interkosta dan subkosta (menunjukkan upaya napas berat), suara ronki di kedua lapang paru (menunjukkan adanya cairan/sekret), dan perkusi redup (menunjukkan area paru yang tidak berisi udara). Hasil Analisis Gas Darah (AGD) juga menunjukkan gambaran gangguan pertukaran gas dengan alkalosis respiratori kompensata (pH 7,53, PCO2 sangat rendah 23,2 mmHg) yang kemungkinan merupakan upaya kompensasi tubuh atau akibat dari setting ventilasi mekanik, serta nilai HCO3 yang tinggi (40 mmol/L) menunjukkan kompensasi metabolik. Meskipun PO2 157 mmHg tampak baik, nilai ini sangat dipengaruhi oleh dukungan ventilator dengan FiO2 50%.
Untuk mengatasi diagnosa ini, ditetapkan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) L.04001: Pertukaran Gas Tercapai. Luaran yang diharapkan pada pasien ini meliputi: frekuensi pernapasan dalam rentang normal sesuai usia (33x/menit pada pasien ini sudah dalam batas normal untuk bayi 2 bulan, namun masih dengan bantuan ventilator), tidak adanya sianosis, tidak adanya dispnea atau retraksi (target yang ingin dicapai), bunyi napas bersih (ronki berkurang/hilang), status mental sesuai usia (saat ini masih tersedasi), dan nilai analisis gas darah dalam rentang normal. Parameter AGD pasien saat ini menunjukkan ketidakseimbangan, sehingga target SLKI adalah menormalkan kembali nilai-nilai tersebut melalui intervensi keperawatan dan terapi medis.
Untuk mencapai luaran tersebut, diperlukan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) I.04001: Manajemen Jalan Napas. Intervensi ini sangat komprehensif dan sesuai dengan kondisi pasien yang terpasang ventilator. Aktivitas keperawatan yang harus dilakukan meliputi: 1. Mempertahankan jalan napas paten dengan melakukan suction ETT secara rutin dan sesuai indikasi (disebutkan ada sekret pada ETT), memastikan posisi ETT yang tepat, dan memonitor keutuhan serta tekanan cuff (jika menggunakan ETT bercuff). 2. Memonitor status pernapasan dan oksigenasi secara ketat, termasuk tanda-tanda vital, kedalaman dan irama napas, penggunaan otot bantu, serta memantau saturasi oksigen dan hasil AGD secara berkala. 3. Memastikan fungsi dan setting ventilator sesuai program dokter (mode PC, FiO2 50%, PEEP 5, PS 6), serta siap merespons alarm ventilator. 4. Melakukan fisioterapi dada seperti perubahan posisi (reposisi) secara periodik untuk mencegah atelektasis dan memobilisasi sekret, sesuai kondisi kestabilan pasien. 5. Kolaborasi pemberian terapi nebulizer (Ventolin) sesuai program untuk membantu bronkodilatasi. 6. Memonitor respons terhadap terapi seperti antibiotik (Meropenem) untuk mengatasi infeksi pneumonia sebagai penyebab dasar. 7. Mempertahankan keseimbangan cairan melalui infus untuk mengoptimalkan viskositas sekret. Semua intervensi ini bertujuan untuk membersihkan jalan napas, mengoptimalkan ventilasi dan oksigenasi, sehingga akhirnya dapat memperbaiki pertukaran gas di tingkat alveolus.
-
Article No. 23508 | 06 Jan 2026
Klinis : batuk, SPO2 85%
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Pertukaran Gas Tercapai. Kriteria Hasil: 1. Status pernapasan dalam rentang normal (irama, frekuensi, kedalaman). 2. Status neurologis dalam rentang normal (tidak gelisah, penurunan kesadaran). 3. Bunyi napas bersih/tidak ada suara tambahan. 4. Gas darah arteri dalam rentang normal. 5. Saturasi Oksigen (SpO2) dalam rentang normal. 6. Tidak ada sianosis.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Tindakan Keperawatan: 1. Monitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas). 2. Monitor status oksigenasi (saturasi oksigen, warna kulit, membran mukosa). 3. Auskultasi bunyi napas, catat adanya bunyi napas tambahan. 4. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya: kepala tempat tidur ditinggikan, posisi semi-Fowler/Fowler). 5. Lakukan fisioterapi dada jika diperlukan. 6. Lakukan suction/penghisapan lendir sesuai indikasi. 7. Ajarkan dan bantu latihan napas dalam dan batuk efektif. 8. Kolaborasi pemberian oksigen sesuai program. 9. Monitor tanda-tanda distress pernapasan. 10. Berikan dorongan untuk mobilisasi sesuai toleransi. 11. Anjurkan intake cairan yang adekuat sesuai toleransi. 12. Monitor hasil pemeriksaan analisa gas darah (AGD).
-
Article No. 23509 | 06 Jan 2026
Klinis : batuk, SPO2 85%
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Hipoksemia dengan Batuk
Kode ICD-10: R06.02
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan pasien yang datang dengan keluhan batuk disertai bukti objektif hipoksemia, yaitu saturasi oksigen (SpO2) yang rendah sebesar 85%. Kode R06.02 secara spesifik mengindikasikan "Batuk dengan hipoksemia". Batuk (R05) sendiri merupakan gejala umum dari berbagai gangguan sistem pernapasan, seperti infeksi (bronkitis, pneumonia), penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asma, atau gagal jantung. Hipoksemia (SpO2 < 94% pada udara ruangan) menunjukkan bahwa kadar oksigen dalam darah arteri berada di bawah normal, yang merupakan tanda klinis serius yang memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menemukan penyebab dasarnya. Kombinasi gejala ini menandakan kemungkinan adanya gangguan pertukaran gas di paru-paru atau ketidakmampuan tubuh untuk mengangkut oksigen dengan adekuat. Penggunaan kode ini dalam konteks pelatihan atau simulasi medis membantu peserta memahami pentingnya menilai tanda vital (seperti SpO2) secara komprehensif saat mengevaluasi gejala umum seperti batuk, serta bagaimana mengkodekan kombinasi gejala dan temuan klinis yang relevan untuk keperluan dokumentasi dan analisis data kesehatan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23510 | 06 Jan 2026
Klinis : Pasien mengeluh demam batuk pilek sudah 3 hari
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Peningkatan risiko invasi dan multiplikasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Tujuan: Mencegah dan mengendalikan penyebaran infeksi. Kriteria hasil: 1) Pasien dan keluarga menyebutkan tanda dan gejala infeksi. 2) Pasien dan keluarga menyebutkan cara penularan infeksi. 3) Pasien dan keluarga mendemonstrasikan cara pencegahan penularan infeksi. 4) Tanda-tanda infeksi tidak muncul atau dapat dikendalikan. 5) Hasil laboratorium terkait infeksi dalam batas normal.
Kode SIKI: 4200
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Tindakan: 1) Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal (seperti demam, menggigil, peningkatan denyut nadi dan pernapasan, kemerahan, bengkak, nyeri, adanya pus). 2) Anjurkan dan bantu kebersihan tangan (hand hygiene) pada pasien, keluarga, dan pengunjung. 3) Ajarkan etika batuk dan bersin yang benar (menggunakan tisu atau lengan baju bagian dalam, menutup mulut dan hidung). 4) Anjurkan penggunaan masker jika diperlukan. 5) Lakukan tindakan perawatan dengan teknik aseptik. 6) Tingkatkan asupan nutrisi dan cairan yang adekuat sesuai toleransi. 7) Anjurkan istirahat yang cukup. 8) Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda-tanda infeksi yang perlu dilaporkan. 9) Kolaborasi pemberian terapi farmakologis sesuai indikasi (seperti antipiretik, antibiotik). 10) Lakukan isolasi jika diperlukan. 11) Edukasi tentang pentingnya imunisasi.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0021
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang muncul tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu 3 bulan.
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Tujuan: Mengurangi atau menghilangkan nyeri. Kriteria hasil: 1) Pasien melaporkan penurunan skala nyeri. 2) Ekspresi wajah pasien rileks. 3) Tanda vital dalam rentang normal. 4) Pasien dapat beristirahat dan beraktivitas dengan nyaman.
Kode SIKI: 2820
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan: 1) Kaji nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, intensitas dengan skala, faktor pencetus dan pereda). 2) Observasi tanda-tanda nonverbal ketidaknyamanan atau nyeri (ekspresi wajah, postur tubuh, gelisah). 3) Monitor tanda vital. 4) Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri (seperti distraksi, relaksasi napas dalam, kompres hangat pada sinus jika nyeri kepala sinus). 5) Atur posisi yang nyaman. 6) Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk istirahat. 7) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi. 8) Evaluasi efektivitas intervensi pengurangan nyeri.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0008
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 0410
Deskripsi : Status Pernapasan: Ventilasi. Tujuan: Mempertahankan pertukaran udara yang adekuat. Kriteria hasil: 1) Suara napas bersih (tidak ada mengi, ronki). 2) Tidak ada sianosis. 3) Laju pernapasan dalam rentang normal sesuai usia. 4) Pasien tidak menggunakan otot bantu pernapasan. 5) Sekret dapat dikeluarkan.
Kode SIKI: 3140
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Tindakan: 1) Kaji status pernapasan (laju, irama, kedalaman, suara napas, penggunaan otot bantu). 2) Kaji kemampuan batuk dan karakteristik sputum. 3) Bantu dan ajarkan batuk efektif. 4) Anjurkan dan bantu intake cairan yang adekuat (kecuali kontraindikasi) untuk mengencerkan sekret. 5) Atur posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memudahkan ekspansi paru. 6) Lakukan fisioterapi dada dan postural drainage jika diperlukan. 7) Ajarkan dan anjurkan napas dalam. 8) Lakukan penghisapan lendir (suction) jika diperlukan. 9) Kolaborasi pemberian terapi nebulizer atau obat mukolitik sesuai indikasi. 10) Monitor saturasi oksigen (jika tersedia).
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 0001
Deskripsi Singkat: Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Status Termoregulasi. Tujuan: Mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal. Kriteria hasil: 1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5 – 37,5°C). 2) Kulit hangat dan tidak berkeringat berlebihan. 3) Denyut nadi dan pernapasan dalam rentang normal.
Kode SIKI: 3900
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Tindakan: 1) Monitor suhu tubuh secara berkala. 2) Monitor tanda vital dan tanda dehidrasi. 3) Berikan kompres hangat/tepid sponge pada area lipatan (aksila, lipat paha) dan dahi. 4) Anjurkan penggunaan pakaian yang tipis dan menyerap keringat. 5) Atur suhu lingkungan agar nyaman dan tidak panas. 6) Tingkatkan asupan cairan oral (air putih, jus, kuah sup) untuk mencegah dehidrasi. 7) Anjurkan istirahat yang cukup untuk mengurangi produksi panas metabolik. 8) Kolaborasi pemberian antipiretik sesuai indikasi. 9) Edukasi pasien dan keluarga tentang penyebab demam dan penanganan di rumah.
-
Article No. 23493 | 05 Jan 2026
Klinis : labio palatokisis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Labio Palatoskisis (Bibir Sumbing dan Langit-langit Sumbing)
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Tercapainya Kebutuhan Nutrisi
Kode SIKI: I.01259
Deskripsi : Manajemen Pemberian Makan
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosis Keperawatan (SDKI - D.0016): Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Definisi: Kondisi di mana individu berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pada pasien labio palatoskisis, risiko ini sangat tinggi dan menjadi fokus utama asuhan keperawatan. Anatomi mulut dan langit-langit yang tidak utuh menyebabkan mekanisme menghisap, menelan, dan mengunyah menjadi sangat terganggu. Bayi dengan kondisi ini kesulitan membentuk tekanan negatif di dalam rongga mulut untuk menghisap ASI atau susu dari botol biasa, sehingga asupan menjadi tidak adekuat. Selain itu, makanan atau cairan sering kali masuk ke dalam rongga hidung (regurgitasi nasal) yang menyebabkan tersedak, muntah, dan ketidaknyamanan. Kesulitan makan ini berisiko menyebabkan malnutrisi, gagal tumbuh (failure to thrive), dehidrasi, dan aspirasi pneumonia. Faktor risiko lainnya termasuk peningkatan kebutuhan energi akibat usaha makan yang lebih besar dan potensi infeksi berulang. Oleh karena itu, diagnosis ini menjadi landasan untuk intervensi keperawatan yang tepat.
Luaran Keperawatan (SLKI - L.03115): Tercapainya Kebutuhan Nutrisi
Definisi: Kondisi terpenuhinya kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan, perkembangan, dan pemeliharaan kesehatan. Luaran ini menjadi tujuan dari semua intervensi yang dilakukan. Kriteria luaran yang diharapkan pada pasien labio palatoskisis meliputi: berat badan dan panjang/tinggi badan meningkat sesuai kurva pertumbuhan (tidak terjadi penurunan persentil), tanda-tanda vital dan status hidrasi dalam batas normal (turgor kulit baik, produksi urin adekuat), tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi seperti letargi atau iritabilitas berlebihan, serta keluarga/pengasuh mampu mendemonstrasikan teknik pemberian makan yang tepat. Pencapaian luaran ini dinilai secara berkala melalui pemantauan ketat pertumbuhan (plotting di kartu menuju sehat), observasi kemampuan menyusu/makan, dan evaluasi tingkat kelelahan selama proses makan. Keberhasilan mencapai luaran ini sangat krusial untuk memastikan kondisi pasien optimal sebelum menjalani tindakan bedah koreksi.
Intervensi Keperawatan (SIKI - I.01259): Manajemen Pemberian Makan
Definisi: Intervensi untuk membantu individu yang mengalami kesulitan makan untuk mencapai atau mempertahankan status nutrisi yang optimal. Intervensi ini bersifat komprehensif dan melibatkan edukasi serta dukungan praktis kepada orang tua/pengasuh. Aktivitas keperawatan spesifik meliputi: 1) Assessment: Menilai kemampuan menghisap dan menelan, mengobservasi adanya regurgitasi nasal, tersedak, atau kelelahan, serta memantau pertambahan berat badan. 2) Edukasi dan Demonstrasi Teknik Pemberian Makan: Mengajarkan posisi menyusu yang tepat (misalnya posisi tegak atau semi-duduk untuk mengurangi aliran cairan ke hidung). Merekomendasikan dan melatih penggunaan alat bantu khusus seperti botol dengan dot orthodontic lembut, dot dengan lubang besar, atau botot khusus seperti Haberman Feeder yang memungkinkan susu diperas dengan tekanan terkontrol. Mengajarkan teknik pemberian makan dengan ritme lambat, memberikan jeda untuk bersendawa, dan menjaga bayi tetap tegak selama dan setelah makan. 3) Modifikasi Tekstur Makanan: Untuk bayi yang lebih besar atau anak-anak, menyarankan pemberian makanan semi-padat atau puree yang lebih mudah ditelan dan mengurangi risiko masuk ke hidung. 4) Perawatan Pasca Makan: Membersihkan rongga mulut dan hidung dengan lembut setelah makan untuk mencegah iritasi dan infeksi. 5) Dukungan Psikososial: Memberikan dukungan emosional kepada orang tua yang mungkin merasa stres, cemas, atau bersalah, serta menguatkan bahwa kesulitan makan adalah akibat dari kondisi anatomi dan bukan ketidakmampuan mereka sebagai pengasuh. 6) Kolaborasi: Bekerja sama dengan dokter, ahli gizi, dan terapis okupasi atau wicara untuk menyusun rencana nutrisi yang individual. Intervensi ini bersifat berkelanjutan dan dievaluasi efektivitasnya secara rutin untuk memastikan kebutuhan nutrisi pasien benar-benar terpenuhi.
-
Article No. 23494 | 05 Jan 2026
Klinis : labio palatokisis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Labio Palatoskisis (Bibir Sumbing dan Langit-langit Sumbing)
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Risiko gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
Kode SLKI: 1007
Deskripsi : Status nutrisi pasien membaik. Pasien dengan labio palatoskisis, terutama bayi, menghadapi tantangan signifikan dalam pemenuhan nutrisi. Anatomi mulut dan langit-langit yang tidak utuh menyebabkan kesulitan menghisap, menelan, dan mempertahankan makanan/cairan di dalam rongga mulut. Hal ini berisiko tinggi menyebabkan asupan nutrisi yang tidak adekuat, aspirasi, dan gagal tumbuh. SLKI 1007 berfokus pada pencapaian status nutrisi yang optimal melalui intervensi khusus. Tujuannya adalah memastikan pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai usia, ditandai dengan peningkatan berat badan yang adekuat, tanda-tanda hidrasi baik, dan tidak terjadi komplikasi seperti pneumonia aspirasi. Intervensi keperawatan untuk mencapai SLKI ini meliputi pemilihan dan penggunaan alat bantu menyusui yang tepat (seperti botol dan dot khusus, spuit, atau soft cup), penyesuaian posisi menyusui (misalnya posisi tegak), teknik pemberian makan dengan kecepatan terkontrol, serta pemantauan ketat tanda-tanda aspirasi dan kecukupan asupan. Edukasi dan dukungan kepada orang tua atau pengasuh mengenai teknik pemberian makan yang aman dan efektif merupakan komponen kritis dari SLKI ini.
Kode SIKI: 2007
Deskripsi : Manajemen nutrisi. SIKI 2007 adalah serangkaian tindakan keperawatan yang terencana dan ilmiah untuk mengatasi masalah atau risiko gangguan nutrisi. Pada pasien labio palatoskisis, manajemen nutrisi dimulai dengan penilaian komprehensif yang meliputi kemampuan menghisap dan menelan, adanya regurgitasi nasal, upaya batuk atau tersedak saat makan, serta pengukuran antropometri (berat badan, panjang badan, lingkar kepala) secara berkala. Tindakan inti meliputi: 1) Kolaborasi dengan dokter dan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan jenis nutrisi. 2) Memilih dan menyiapkan alat bantu pemberian makan yang sesuai dengan kondisi celah dan kemampuan bayi. 3) Melatih orang tua tentang posisi makan yang optimal (misalnya, mendudukkan bayi hampir tegak 60-90 derajat) untuk mengurangi aliran cairan ke hidung dan risiko aspirasi. 4) Mendemonstrasikan teknik pemberian makan dengan jeda untuk sendawa dan istirahat, serta menghindari tekanan pada dot yang dapat menyebabkan kolaps. 5) Melakukan pemberian makan dengan sabar, tidak terburu-buru. 6) Memantau durasi dan volume setiap kali pemberian makan serta mencatatnya. 7) Melakukan perawatan mulut pasca makan dengan memberikan air putih untuk membersihkan sisa susu dari celah. 8) Memantau dengan ketat tanda-tanda distress pernapasan, sianosis, atau batuk yang mengindikasikan aspirasi. 9) Memantau pertambahan berat badan dan pertumbuhan secara teratur. 10) Memberikan dukungan emosional dan psikologis kepada orang tua yang mungkin merasa stres, cemas, atau bersalah. Implementasi SIKI 2007 yang konsisten dan teliti sangat penting untuk memastikan pasien mendapatkan nutrisi yang cukup sebagai fondasi untuk tumbuh kembang yang baik dan kesiapan menjalani tindakan bedah koreksi.
-
Article No. 23495 | 05 Jan 2026
Klinis : seorang orang ibu hamil datang tidak ada keluhan tfu 23 djj 137 G 2 P1 A0 UK 27
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Kehamilan Normal Trimester Ketiga
Kode SDKI: 0001
Deskripsi Singkat: Kesiapan menjadi orang tua
Kode SLKI: 1302
Deskripsi : Kesiapan menjadi orang tua
Kode SIKI: 4201, 4202, 4203, 4204, 4205, 4206, 4207, 4208
Deskripsi : Intervensi Keperawatan untuk Meningkatkan Kesiapan Menjadi Orang Tua
Kondisi: Kehamilan Normal Trimester Ketiga
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Ansietas
Kode SLKI: 1402
Deskripsi : Kontrol ansietas
Kode SIKI: 4510, 4511, 4512, 4513, 4514, 4515, 4516, 4517
Deskripsi : Intervensi Keperawatan untuk Mengurangi Ansietas
Kondisi: Kehamilan Normal Trimester Ketiga
Kode SDKI: 0021
Deskripsi Singkat: Kurang pengetahuan
Kode SLKI: 1610
Deskripsi : Pengetahuan: proses persalinan
Kode SIKI: 5601, 5602, 5603, 5604, 5605, 5606, 5607, 5608, 5609, 5610
Deskripsi : Intervensi Keperawatan untuk Meningkatkan Pengetahuan
-
Article No. 23496 | 05 Jan 2026
Klinis : 3 DIAGNOSA PERITONITIS
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Peritonitis
Kode SDKI: 0015
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 2301
Deskripsi : Perilaku Pencegahan Infeksi
Kode SIKI: 4401
Deskripsi : Manajemen Infeksi
Kondisi: Peritonitis
Kode SDKI: 0001
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Nyeri
Kode SIKI: 3401
Deskripsi : Manajemen Nyeri
Kondisi: Peritonitis
Kode SDKI: 0002
Deskripsi Singkat: Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SLKI: 1701
Deskripsi : Keseimbangan Cairan
Kode SIKI: 2101
Deskripsi : Manajemen Cairan
-
Article No. 23497 | 05 Jan 2026
Klinis : Nyeri Akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau menyerupai kerusakan jaringan secara tiba-tiba atau lambat, dengan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Pasien mampu mengontrol nyeri dengan kriteria hasil: 1) Melaporkan nyeri dapat dikontrol, 2) Mengenali faktor penyebab, 3) Mengenali onset nyeri, 4) Menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri, 5) Menggunakan analgesik dengan tepat, 6) Mematuhi regimen pengobatan nyeri, 7) Melaporkan tidur/istirahat cukup, 8) Melaporkan peningkatan aktivitas, 9) Menunjukkan ekspresi wajah rileks, 10) Menunjukkan posisi tubuh nyaman, 11) Menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal.
Kode SIKI: 4501
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan untuk meminimalkan atau meringankan nyeri, meliputi aktivitas: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, faktor presipitasi). 2) Observasi petunjuk non-verbal dari ketidaknyamanan, terutama pada pasien yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik. 3) Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien. 4) Berikan lingkungan yang nyaman dan tindakan kenyamanan (reposisi, masase). 5) Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab, berapa lama akan berlangsung, dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur. 6) Kontrol faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi persepsi nyeri (suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan). 7) Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi (relaksasi napas dalam, distraksi, imajinasi terbimbing, stimulasi kutaneus). 8) Lakukan kolaborasi pemberian analgetik farmakologis sesuai indikasi. 9) Evaluasi efektivitas intervensi pengontrolan nyeri (farmakologis dan nonfarmakologis) dalam waktu yang tepat. 10) Monitor dan dokumentasi respons pasien terhadap intervensi dan adanya efek samping pengobatan. 11) Libatkan keluarga dalam manajemen nyeri sesuai kebutuhan. 12) Berikan edukasi tentang penggunaan analgetik yang aman dan tepat (dosis, waktu, efek samping). Intervensi ini bertujuan untuk mengurangi intensitas nyeri, meningkatkan kenyamanan, dan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengelola nyeri secara mandiri.
-
Article No. 23498 | 05 Jan 2026
Klinis : seorang bayi mengalami trombositopenia, apakah rencana keperawatan serta tindakan keperawatan yang sesuai berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perdarahan pada Bayi dengan Trombositopenia
Kode SDKI: 0204
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan kehilangan darah akibat jumlah trombosit yang tidak adekuat untuk memfasilitasi hemostasis.
Kode SLKI: 0910
Deskripsi : Manajemen Perdarahan. Tujuan utama dari rencana keperawatan ini adalah untuk mencegah dan mengatasi perdarahan aktif, meminimalkan komplikasi akibat kehilangan darah, dan memastikan keselamatan bayi. Fokus SLKI ini mencakup serangkaian hasil yang diharapkan, yaitu: (1) Bayi tidak menunjukkan tanda-tanda perdarahan aktif atau baru (seperti petekie, ekimosis, epistaksis, perdarahan dari tali pusat, atau perdarahan mukosa). (2) Tanda-tanda vital bayi (denyut jantung, frekuensi napas, tekanan darah) tetap dalam rentang normal untuk usianya, menunjukkan tidak ada syok hipovolemik. (3) Kadar hemoglobin dan hematokrit bayi tetap stabil, tidak menunjukkan penurunan yang signifikan akibat perdarahan. (4) Bayi menunjukkan kulit dan membran mukosa yang utuh tanpa trauma atau lesi yang dapat memicu perdarahan. (5) Orang tua atau pengasuh memahami tanda-tanda perdarahan yang perlu dilaporkan dan tindakan pencegahan yang harus dilakukan di rumah. Pencapaian SLKI ini dinilai melalui pemantauan ketat tanda klinis, pemeriksaan laboratorium serial, dan evaluasi pemahaman keluarga.
Kode SIKI: 4230
Deskripsi : Manajemen Perdarahan. Tindakan keperawatan spesifik yang dilaksanakan untuk mencapai SLKI 0910 meliputi: (1) Pemantauan ketat dan dokumentasi tanda-tanda perdarahan setiap shift atau lebih sering jika diperlukan, termasuk inspeksi kulit (petekie, purpura, ekimosis), membran mukosa (gusi, konjungtiva), tempat injeksi, dan daerah perineum. (2) Melakukan tindakan invasif dengan teknik aseptik yang sangat hati-hati, memilih jarum terkecil, menerapkan tekanan lebih lama pada lokasi tusukan (5-10 menit atau sampai perdarahan berhenti), dan menghindari pengulangan tusukan yang tidak perlu. (3) Melindungi bayi dari trauma dengan menempatkannya di lingkungan yang aman, menggunakan bantalan pada sisi tempat tidur, menghindari pengukuran suhu rektal, serta meminimalkan manipulasi dan penanganan yang kasar. (4) Memberikan perawatan higienis lembut, seperti menyeka kulit dengan lembut (bukan menggosok), menggunakan sikat gigi sangat lembut atau kain kasa untuk perawatan mulut. (5) Memantau tanda-tanda vital dan status hemodinamik secara teratur untuk mendeteksi dini syok hipovolemik (takikardia, takipnea, hipotensi, penurunan produksi urin, kulit pucat dingin). (6) Kolaborasi pemberian transfusi trombosit sesuai indikasi dan protokol, serta memantau respons dan reaksi transfusi. (7) Memantau hasil laboratorium (jumlah trombosit, hemoglobin, hematokrit) dan melaporkan perubahan yang signifikan. (8) Edukasi orang tua tentang kondisi bayi, pentingnya menghindari obat yang mempengaruhi fungsi trombosit (seperti aspirin), cara mengenali tanda perdarahan (misalnya, darah dalam tinja atau urin, muntah darah, bercak kemerahan di kulit yang meluas), dan cara melakukan penekanan pada luka kecil. (9) Mengatur nutrisi yang adekuat, jika memungkinkan berikan ASI, dan hindari makanan atau benda keras yang dapat melukai mukosa mulut. (10) Mendokumentasikan semua temuan, tindakan, dan respons pasien secara komprehensif. Tindakan-tindakan ini bersifat preventif dan suportif, ditujukan untuk mengurangi risiko perdarahan sambil menunggu pemulihan jumlah trombosit atau penanganan penyebab dasarnya.