Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23592 | 12 Jan 2026
Klinis : Ny. S, seorang ibu berusia 33 tahun dengan kehamilan pertama (G1P0A0) dan usia gestasi 34 minggu 5 hari, datang ke Klinik Bidan Sartika Manurung di Medan Johor pada tanggal 23 Februari 2020 untuk pemeriksaan kehamilan rutin. Saat dilakukan wawancara, ibu tampak gelisah dan mengungkapkan bahwa ia merasa sangat cemas menghadapi persalinan pertamanya. Ia takut tidak mampu melahirkan secara normal dan khawatir dengan kondisi dirinya serta bayi yang dikandungnya. Pemeriksaan fisik menunjukkan hasil normal, dengan tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 88 kali per menit, suhu 36,5°C, pernapasan 20 kali per menit, tinggi fundus uteri pertengahan pusat–px, serta tidak terdapat kelainan lain. Meskipun kondisi fisik ibu baik, kecemasan yang ia rasakan cukup kuat dan memengaruhi ketenangannya. Setelah dilakukan pengkajian, bidan menetapkan diagnosa bahwa Ny. S mengalami kecemasan menghadapi persalinan, hal tersebut juga karna kurang terpapar informasi mengenai persalinan normal, sehingga Ny.S juga mengalami gangguan pola tidur. kemudian diberikan edukasi tentang proses persalinan sebagai sesuatu yang fisiologis, penjelasan mengenai apa yang akan terjadi selama persalinan, serta latihan teknik relaksasi napas untuk membantu ibu mengelola rasa cemasnya. Ibu juga dianjurkan menjaga asupan nutrisi, meningkatkan konsumsi cairan 8–10 gelas per hari, serta minum 1 liter susu setiap hari untuk mempersiapkan tenaga menjelang persalinan. Selama tiga kali kunjungan, kondisi psikologis ibu dievaluasi. Pada kunjungan pertama, ibu masih tampak cemas tetapi mulai memahami informasi yang diberikan. Pada kunjungan kedua, kecemasannya berkurang setelah rutin melakukan teknik relaksasi dan mengetahui bahwa persalinan adalah proses normal bagi ibu hamil trimester III. Pada kunjungan ketiga, ibu tampak lebih tenang, kecemasannya telah hilang, dan ia merasa lebih siap menghadapi persalinan dibantu dengan dukungan emosional dari suaminya
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas (Kecemasan) terkait persiapan persalinan pertama dan kurangnya pengetahuan tentang proses persalinan.
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah keadaan perasaan gelisah, ketegangan, atau kekhawatiran yang tidak jelas dan tidak nyaman sebagai respons terhadap ancaman yang tidak spesifik. Pada kasus Ny. S, ansietas muncul sebagai respons terhadap ancaman yang dirasakan (persalinan pertama) yang dipersepsikan sebagai sesuatu yang berbahaya, di luar kendali, dan mengancam kesejahteraan diri serta bayinya. Manifestasi subjektifnya adalah perasaan takut tidak mampu melahirkan normal dan khawatir terhadap kondisi diri dan bayi. Manifestasi objektifnya adalah tampak gelisah dan adanya gangguan pola tidur. Etiologi utama dari ansietas ini adalah kurangnya pengetahuan dan informasi mengenai proses persalinan yang fisiologis, sehingga persepsi ibu terhadap persalinan menjadi negatif dan menakutkan. Diagnosa ini valid karena terdapat faktor penyebab (kurang pengetahuan), tanda subjektif (pernyataan cemas), dan tanda objektif (gelisah, gangguan tidur) yang memengaruhi kesejahteraan psikologis ibu dan memerlukan intervensi keperawatan untuk meningkatkan koping dan kesiapan mental.
Kode SLKI: L.07118
Deskripsi : SLKI L.07118 adalah "Mengurangi Ansietas". Tujuan dari intervensi ini adalah untuk menurunkan tingkat kecemasan klien hingga mencapai tingkat yang dapat dikelola. Pada kasus Ny. S, bidan telah melakukan serangkaian tindakan yang selaras dengan kriteria hasil SLKI ini. Tindakan edukasi tentang proses persalinan sebagai sesuatu yang fisiologis bertujuan mengoreksi persepsi yang salah dan mengurangi ketakutan akan hal yang tidak diketahui (fear of the unknown). Penjelasan mengenai tahapan persalinan memberikan gambaran yang realistis dan dapat diprediksi, sehingga meningkatkan rasa kontrol dan kesiapan. Pelatihan teknik relaksasi napas merupakan modalitas koping yang efektif untuk mengelola respons fisiologis dan psikologis dari kecemasan secara langsung. Dukungan emosional dari suami juga merupakan faktor kunci dalam mengurangi ansietas. Evaluasi menunjukkan keberhasilan SLKI ini ditandai dengan penurunan kecemasan secara bertahap pada setiap kunjungan, hingga pada kunjungan ketiga kecemasan hilang dan ibu merasa tenang serta siap. Dengan demikian, SLKI L.07118 telah tercapai melalui pendekatan kombinasi antara pemberian informasi, pelatihan keterampilan, dan pemberian dukungan sosial.
Kode SIKI: I.08090
Deskripsi : SIKI I.08090 adalah "Manajemen Ansietas". Intervensi ini mencakup tindakan-tindakan spesifik yang dilakukan bidan untuk membantu klien mengenali, mengatasi, dan mengurangi perasaan cemas. Pada pengelolaan Ny. S, bidan menerapkan langkah-langkah manajemen ansietas secara komprehensif. Pertama, bidan melakukan pengkajian mendalam untuk mengidentifikasi tingkat, sumber, dan manifestasi kecemasan. Kedua, bidan menciptakan lingkungan terapeutik dengan pendekatan yang tenang, empatik, dan tidak terburu-buru selama konseling. Ketiga, intervensi utama berupa pemberian pendidikan kesehatan (health education) yang terstruktur tentang proses persalinan normal, yang bertujuan untuk menghilangkan mitos dan meningkatkan pengetahuan. Keempat, bidan mengajarkan teknik relaksasi pernapasan sebagai mekanisme koping adaptif yang dapat digunakan ibu kapan saja. Kelima, bidan melibatkan sistem pendukung (suami) untuk memberikan dukungan emosional berkelanjutan. Keenam, bidan memberikan reinforcement positif atas kemajuan yang dicapai ibu. Selain itu, bidan juga melakukan intervensi terkait masalah sekunder seperti gangguan pola tidur dengan menyarankan manajemen nutrisi dan cairan yang baik untuk mendukung kondisi fisik yang optimal. Seluruh tindakan ini merupakan implementasi dari SIKI I.08090 yang berfokus pada pendekatan holistik: mengurangi stresor (melalui edukasi), meningkatkan kemampuan koping (melalui relaksasi), dan memanfaatkan sumber daya pendukung.
-
Article No. 23593 | 12 Jan 2026
Klinis : Bayi baru lahir terlambat bernafas spontan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bayi baru lahir terlambat bernafas spontan
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Risiko gangguan pertukaran gas
Kode SLKI: L.03132
Deskripsi : Pertukaran gas membaik
Kode SIKI: I.01228
Deskripsi : Resusitasi neonatus
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosis Keperawatan (SDKI - D.0015: Risiko Gangguan Pertukaran Gas): Diagnosis ini dipilih karena bayi baru lahir yang terlambat bernapas spontan berada dalam kondisi ancaman serius terhadap kemampuan paru-parunya untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida secara efektif. Pada saat lahir, paru-paru bayi harus beradaptasi dari lingkungan cair ke udara. Keterlambatan napas spontan (apnea atau hipoventilasi) mengindikasikan kegagalan transisi ini, yang dapat disebabkan oleh aspirasi cairan ketuban, prematuritas, depresi sistem saraf pusat, atau distress janin. Defisinya terletak pada ketidakmampuan tubuh bayi untuk memulai dan mempertahankan ventilasi yang adekuat, sehingga mengancam oksigenasi jaringan dan organ vital, termasuk otak dan jantung. Risiko ini bersifat akut dan mengancam jiwa, memerlukan intervensi segera untuk mencegah hipoksia, asidosis, dan kerusakan neurologis permanen. Fokus keperawatannya adalah pada pencegahan manifestasi penuh dari gangguan pertukaran gas melalui pemantauan ketat dan tindakan resusitasi.
Luaran Keperawatan (SLKI - L.03132: Pertukaran Gas Membaik): Luaran ini merupakan tujuan yang ingin dicapai, di mana parameter pertukaran gas bayi menunjukkan perbaikan menuju nilai normal. Indikatornya meliputi: frekuensi pernapasan spontan yang teratur dalam rentang normal (30-60 kali/menit), saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang target (misalnya 90-95% pada bayi cukup bulan), tidak adanya sianosis, warna kulit kemerahan, dan analisa gas darah yang menunjukkan nilai pH, PaO2, dan PaCO2 yang memadai. Pencapaian luaran ini ditandai dengan stabilnya kondisi pernapasan bayi tanpa bantuan atau dengan bantuan minimal, serta tidak adanya tanda-tanda distress pernapasan seperti grunting, nasal flaring, atau retraksi. Pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk memastikan perbaikan ini konsisten dan bayi dapat beradaptasi dengan kehidupan ekstrauterin.
Intervensi Keperawatan (SIKI - I.01228: Resusitasi Neonatus): Ini adalah intervensi utama dan kritis yang harus segera dilakukan. Resusitasi neonatus mengikuti algoritma standar (langkah awal, ventilasi, kompresi dada, pemberian obat) yang disesuaikan dengan respons bayi. Deskripsi intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis: 1) Persiapan dan Penilaian Awal: Menyiapkan area resusitasi dengan penghangat, alat suction, balon dan masker ventilasi (bag-valve-mask), serta sumber oksigen. Melakukan penilaian cepat (warna, tonus, usaha napas, denyut jantung) segera setelah lahir. 2) Langkah Awal: Memberikan kehangatan, memposisikan kepala netral, membersihkan jalan napas jika diperlukan, mengeringkan, dan memberikan rangsangan taktil. 3) Ventilasi: Jika bayi tidak bernapas atau denyut jantung di bawah 100 kali/menit, segera memulai ventilasi tekanan positif (PPV) dengan balon dan masker yang sesuai ukuran untuk mencapai ekspansi paru yang adekuat. 4) Kompresi Dada: Jika denyut jantung tetap di bawah 60 kali/menit setelah 30 detik ventilasi yang efektif, memulai kompresi dada dengan teknik yang benar. 5) Pemberian Obat dan Cairan: Jika denyut jantung tetap rendah, menyiapkan dan memberikan adrenalin sesuai indikasi. Seluruh proses dilakukan dengan kerja sama tim, dokumentasi yang akurat, dan evaluasi respons bayi setiap 30 detik. Intervensi ini juga mencakup komunikasi dengan keluarga dan perawatan pasca-resusitasi untuk stabilitas dan pemantauan lanjutan.
-
Article No. 23594 | 12 Jan 2026
Klinis : Pasien meningitis dengan demam dana ada bintik bintik merah di kulitnya
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Meningitis dengan Demam dan Ruam Petekie
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Hipertermia
Kode SLKI: 0710
Deskripsi : Suhu tubuh kembali normal
Kode SIKI: 0710A
Deskripsi : Memonitor suhu tubuh, nadi, dan pernapasan
Kondisi: Meningitis dengan Demam dan Ruam Petekie
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko Syok
Kode SLKI: 2601
Deskripsi : Syok tidak terjadi
Kode SIKI: 2601A
Deskripsi : Memonitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) dan status hemodinamik
Kondisi: Meningitis dengan Demam dan Ruam Petekie
Kode SDKI: 0033
Deskripsi Singkat: Risiko Penyebaran Infeksi
Kode SLKI: 3301
Deskripsi : Penyebaran infeksi tidak terjadi
Kode SIKI: 3301A
Deskripsi : Melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi
-
Article No. 23595 | 12 Jan 2026
Klinis : Pasien baru saja melahirkan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut Pasca Persalinan
Kode SDKI: 00132
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan persalinan (episiotomi, laserasi, kontraksi uterus) dengan onset yang baru atau sedang berlangsung.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Pasien menunjukkan kemampuan untuk mengontrol nyeri, yang ditandai dengan: 1) Mengenali faktor penyebab nyeri; 2) Mengenali onset nyeri; 3) Melaporkan karakteristik nyeri (lokasi, kualitas, intensitas, durasi); 4) Menggunakan metode farmakologis dan non-farmakologis untuk mengatasi nyeri; 5) Melaporkan penurunan intensitas nyeri setelah intervensi; 6) Melaporkan peningkatan kenyamanan; 7) Menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal; 8) Menunjukkan ekspresi wajah rileks; 9) Dapat beristirahat dan tidur dengan adekuat; 10) Dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan; 11) Tidak menunjukkan perilaku melindungi area nyeri; 12) Mengikuti program manajemen nyeri. SLKI ini berfokus pada hasil akhir dimana pasien pasca persalinan mampu mengelola sensasi nyeri yang dialaminya, baik dari luka jalan lahir maupun akibat kontraksi uterus (afterpains). Keberhasilan kontrol nyeri sangat penting untuk mendukung proses pemulihan, bonding dengan bayi, dan pemberian ASI. Perawat mengevaluasi keberhasilan intervensi melalui laporan verbal pasien, pengamatan perilaku, dan pemeriksaan fisiologis.
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan keperawatan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri, meliputi: 1) Monitor lokasi, karakteristik, dan intensitas nyeri; 2) Kaji faktor yang memperberat dan meringankan nyeri; 3) Ajarkan teknik non-farmakologis (nafas dalam, distraksi, relaksasi, posisi yang nyaman); 4) Lakukan kompres hangat atau dingin sesuai indikasi; 5) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep; 6) Evaluasi efektivitas dan efek samping analgesik; 7) Bantu pasien dalam aktivitas untuk mengurangi nyeri; 8) Berikan lingkungan yang tenang; 9) Ajarkan tentang nyeri yang normal dialami pasca persalinan; 10) Dukung dan bimbing pasien dalam teknik manajemen nyeri. SIKI ini merupakan serangkaian tindakan spesifik yang dilakukan perawat untuk mencapai SLKI Kontrol Nyeri. Pada pasien pasca bersalin, tindakan ini sangat kontekstual, misalnya dengan membantu posisi menyusui yang nyaman, mengajarkan teknik relaksasi selama kontraksi uterus, memberikan edukasi tentang perawatan luka perineum, serta melakukan kolaborasi pemberian obat pereda nyeri yang aman untuk ibu menyusui. Implementasi SIKI ini memerlukan pendekatan holistik yang memperhatikan aspek fisik dan psikologis pasien.
-
Article No. 23596 | 12 Jan 2026
Klinis : Pasien baru saja melahirkan
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Persalinan Normal
Kode ICD-10: O80
Deskripsi Singkat : Kode O80 dalam ICD-10 mengklasifikasikan persalinan tunggal, spontan, dan tanpa komplikasi (persalinan normal). Ini mencakup kelahiran hidup atau lahir mati. Kode ini digunakan ketika persalinan terjadi pada atau setelah usia kehamilan 37 minggu lengkap (aterm), presentasi kepala (cephalic), tanpa intervensi obstetrik operatif (seperti forsep, vakum, atau seksio sesarea), dan tanpa komplikasi signifikan sebelum atau selama persalinan seperti perdarahan hebat, pre-eklampsia, atau distosia. Istilah 'tanpa komplikasi' berarti tidak ada kondisi yang tercantum dalam bab lain yang mempengaruhi kehamilan, persalinan, atau nifas. Kode ini berada di bawah Bab O (Kehamilan, Persalinan dan Nifas) dan memerlukan digit tambahan (O80.0, O80.1, O80.2, O80.8, atau O80.9) untuk menentukan konteks rekam medis lainnya, seperti kunjungan antenatal atau perawatan pascapersalinan. Penggunaan kode ini tepat untuk mendokumentasikan hasil akhir persalinan yang fisiologis dan tidak rumit.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23597 | 12 Jan 2026
Klinis : pasien terlihat lesu dan mengatakan mendengar suara aneh
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Resiko Perilaku Kekerasan
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Respon individu yang mengalami atau berisiko mengalami perilaku yang dapat menimbulkan cedera fisik, psikologis, atau seksual pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan.
Kode SLKI: 4301
Deskripsi : Kontrol Perilaku Kekerasan. Penjelasan: SLKI ini berfokus pada kemampuan klien untuk mengendalikan impuls, emosi, dan perilaku yang berpotensi melukai. Tujuan utamanya adalah klien dapat mengidentifikasi pemicu (stressor), mengenali tanda-tanda peringatan dini dari amarah atau agitasi, serta menggunakan strategi koping yang adaptif (seperti teknik relaksasi, time-out, atau komunikasi asertif) untuk mencegah eskalasi perilaku. Perawat berperan dalam menciptakan lingkungan yang aman, mengurangi stimulus yang memicu, dan membantu klien mengembangkan serta mempraktikkan keterampilan pengendalian diri. Keberhasilan SLKI ini ditandai dengan berkurangnya frekuensi, intensitas, dan durasi perilaku agresif, serta meningkatnya pengakuan klien atas tanggung jawab terhadap perilakunya.
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Manajemen Perilaku Kekerasan. Penjelasan: SIKI ini mencakup serangkaian intervensi keperawatan yang sistematis dan terapeutik untuk mencegah, mengurangi, dan mengatasi perilaku kekerasan. Intervensi dimulai dari pencegahan primer, yaitu pengkajian risiko yang komprehensif (termasuk riwayat kekerasan, faktor biologis, psikologis, dan sosial), penciptaan lingkungan terapeutik yang rendah stimulus, dan pembangunan hubungan saling percaya. Perawat melakukan observasi ketat terhadap tanda-tanda peningkatan agitasi (seperti bicara cepat, pandangan kosong, mengepalkan tangan). Intervensi kunci meliputi pendekatan yang tenang dan tidak mengancam, penggunaan komunikasi terapeutik untuk membantu klien mengekspresikan perasaan secara verbal, validasi perasaan klien, dan pemberian pilihan untuk meningkatkan rasa kontrol. Jika diperlukan, perawat dapat menerapkan teknik deskalasi verbal, mengalihkan perhatian, atau menawarkan obat sesuai resep. Intervensi juga mencakup edukasi pada klien dan keluarga tentang kondisi, pemicu, dan strategi koping. Dalam situasi darurat dimana klien membahayakan diri sendiri atau orang lain, intervensi mungkin melibatkan restriksi fisik atau isolasi sesuai protokol institusi dan regulasi yang berlaku, yang selalu dijadikan upaya terakhir dengan dokumentasi yang lengkap dan pemantauan ketat untuk keselamatan klien. Evaluasi terus-menerus terhadap efektivitas intervensi dilakukan untuk penyesuaian rencana keperawatan.
-
Article No. 23598 | 12 Jan 2026
Klinis : resiko infeksi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Resiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi agen patogen, yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : Kontrol Infeksi. Tindakan keperawatan untuk meminimalkan atau mencegah masuk dan penularan mikroorganisme patogen. Fokus utama dari SLKI ini adalah pada penerapan prinsip-prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) secara ketat untuk melindungi pasien dari infeksi yang dapat dicegah. Intervensi ini bersifat preventif dan edukatif. Perawat bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman, baik bagi pasien, keluarga, maupun tenaga kesehatan. Implementasinya meliputi: (1) Kebersihan tangan (hand hygiene) yang benar dan tepat waktu menggunakan air mengalir dan sabun atau handrub berbasis alkohol, terutama sebelum dan setelah kontak dengan pasien atau lingkungan sekitar pasien. (2) Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai seperti sarung tangan, masker, pelindung mata, dan gaun khusus berdasarkan jenis tindakan dan tingkat risiko pajanan. (3) Pengelolaan peralatan medis yang aman, termasuk desinfeksi dan sterilisasi sesuai standar. (4) Pengelolaan limbah medis dan non-medis dengan pemisahan yang tepat sesuai kategori. (5) Penerapan etika batuk dan respiratory hygiene untuk mencegah penyebaran infeksi saluran pernapasan. (6) Isolasi atau tindakan pencegahan berbasis transmisi (kontak, droplet, udara) jika diperlukan. (7) Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya pencegahan infeksi, cara mencuci tangan yang benar, tanda-tanda infeksi yang perlu diwaspadai, dan perawatan luka di rumah. (8) Memastikan lingkungan perawatan bersih dan higienis. Keberhasilan SLKI ini diukur dari tidak terjadinya infeksi baru selama perawatan, kepatuhan terhadap protokol PPI, dan peningkatan pengetahuan serta perilaku pasien/keluarga dalam pencegahan infeksi.
Kode SIKI: 4500
Deskripsi : Pemantauan Kontrol Infeksi. Tindakan sistematis dan berkelanjutan untuk mengumpulkan data tentang penerapan dan efektivitas tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi. Kriteria hasil ini mengevaluasi sejauh mana intervensi kontrol infeksi berhasil mencegah terjadinya infeksi pada pasien yang berisiko. Pemantauan dilakukan melalui observasi langsung, pemeriksaan fisik, dan pengkajian data klinis. Aspek yang dipantau meliputi: (1) Tanda-tanda klinis infeksi: memantau suhu tubuh, denyut nadi, pernapasan, serta tanda lokal seperti kemerahan, bengkak, nyeri, hangat pada kulit, dan adanya drainase purulen dari luka atau area invansif. (2) Hasil pemeriksaan penunjang: memantau hasil laboratorium seperti leukosit, LED, kultur darah, urin, atau sputum yang dapat mengindikasikan infeksi sistemik atau lokal. (3) Kepatuhan terhadap protokol PPI: mengamati dan mencatat kepatuhan petugas kesehatan, pasien, dan pengunjung terhadap kebersihan tangan, penggunaan APD, dan prosedur isolasi. (4) Kondisi luka atau area invansif: memeriksa kondisi insisi bedah, area pemasangan kateter intravena, kateter urine, atau selang drainase untuk memastikan tetap kering, bersih, dan tanpa tanda infeksi. (5) Respon pasien terhadap edukasi: menilai pemahaman dan kemampuan pasien/keluarga dalam menerapkan tindakan pencegahan infeksi yang telah diajarkan. (6) Lingkungan: memastikan kebersihan lingkungan sekitar pasien, ketersediaan fasilitas cuci tangan, dan pengelolaan linen yang tepat. Hasil SIKI ini menentukan apakah SLKI Kontrol Infeksi perlu dipertahankan, ditingkatkan, atau dimodifikasi. Data yang terkumpul menjadi dasar evaluasi keperawatan dan dokumentasi objektif tentang status risiko infeksi pasien.
-
Article No. 23599 | 12 Jan 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Tuberkulosis Paru
Kode ICD-10: A15.0
Deskripsi Singkat : Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang terutama menyerang jaringan paru-paru. Kondisi ini ditandai dengan gejala seperti batuk berdahak berkepanjangan (lebih dari 2 minggu), demam, sesak napas, kehilangan nafsu makan, dan berkeringat di malam hari. Diagnosis didukung oleh temuan pemeriksaan fisik seperti suara napas bronkial dan konfirmasi melalui pencitraan radiologis (rontgen) yang menunjukkan lesi atau infiltrat di paru, seringkali di lobus atas. Kode ICD-10 A15.0 secara spesifik mengklasifikasikan "Tuberkulosis paru, dikonfirmasi secara bakteriologis dan histologis". Penggunaan kode ini mengindikasikan bahwa diagnosis tuberkulosis paru telah ditegakkan, idealnya dengan konfirmasi laboratorium melalui pemeriksaan dahak (BTA) atau biopsi, yang merupakan standar baku. Kode ini berada dalam bab "Penyakit Infeksi dan Parasit" (A00-B99) dan blok "Tuberkulosis" (A15-A19), yang membedakan lokasi dan metode konfirmasi penyakit. Penegasan konfirmasi dalam kode ini penting untuk pelaporan epidemiologi, tata laksana terapi yang tepat, dan pemutusan rantai penularan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23600 | 12 Jan 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan patogen yang menyerang paru, ditandai dengan adanya lesi, batuk berdahak, demam, sesak napas, dan anoreksia.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Pengendalian Infeksi: Tindakan untuk mencegah dan mengurangi infeksi. Pada kasus Tuberkulosis Paru, SLKI ini berfokus pada upaya untuk mencegah penularan kuman Mycobacterium tuberculosis ke orang lain dan mencegah infeksi sekunder pada pasien sendiri. Tindakan keperawatan meliputi isolasi pernapasan (menggunakan masker khusus), edukasi etika batuk (menutup mulut dengan tisu atau lengan), pembuangan dahak yang aman, serta pemantauan ketat terhadap tanda-tanda penyebaran infeksi seperti demam yang menetap atau memburuknya gejala pernapasan. Perawat juga akan memastikan ventilasi ruangan yang baik dan paparan sinar matahari untuk mengurangi konsentrasi kuman di udara. Pemenuhan SLKI ini diukur dari tidak adanya penularan ke petugas kesehatan atau pengunjung, serta pasien dan keluarga mampu mendemonstrasikan perilaku pencegahan penularan dengan benar.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas: Tindakan untuk mempertahankan jalan napas paten dan meningkatkan pertukaran gas. Pada pasien Tuberkulosis Paru dengan batuk berdahak dan sesak napas, intervensi ini sangat krusial. Tindakan spesifik meliputi: (1) Posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memudahkan ekspansi paru dan mengurangi kerja napas; (2) Teknik batuk efektif dan latihan napas dalam untuk membantu mengeluarkan sekret/dahak dari jalan napas; (3) Hidrasi adekuat (minum air hangat) untuk mengencerkan dahak sehingga lebih mudah dikeluarkan; (4) Fisioterapi dada (postural drainage dan perkusi) jika diindikasikan untuk membantu mobilisasi sekret dari area lesi; (5) Administrasi terapi oksigen sesuai kebutuhan untuk mengatasi hipoksia; (6) Pemantauan frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan, serta suara napas tambahan seperti wheezing atau ronki; (7) Memantau warna kulit dan membran mukosa untuk tanda sianosis. Evaluasi keberhasilan SIKI ini ditandai dengan berkurangnya keluhan sesak napas, dahak dapat dikeluarkan, suara napas tambahan berkurang, dan nilai saturasi oksigen dalam batas normal.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0002
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas paten, ditandai dengan batuk berdahak, suara napas bronkial, dan sesak napas.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas: Tindakan untuk memfasilitasi kepatenan jalan napas. SLKI ini berfokus pada pencapaian hasil dimana jalan napas pasien tetap terbuka dan bersih dari sekret yang menghambat. Perawat bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan dan memberikan intervensi yang mendukung pengeluaran sekret. Ini termasuk memastikan kelembaban udara yang adequate, memberikan nebulisasi jika diperlukan, serta mengajarkan dan mendampingi pasien dalam melakukan latihan batuk efektif dan teknik pernapasan. Perawat juga akan melakukan auskultasi rutin untuk memantau perubahan suara napas (seperti berkurangnya suara bronkial atau munculnya ronki) sebagai indikasi pembersihan sekret. Keluarga akan diedukasi untuk membantu pasien dalam posisi yang tepat dan mengenali tanda-tanda darurat seperti sesak napas yang memberat. Keberhasilan SLKI ini tercapai ketika pasien mampu mengeluarkan dahak dengan usaha batuk yang efektif, tidak menunjukkan tanda distress pernapasan, dan suara napas terdengar jelas di sebagian besar area paru.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas: Tindakan untuk mempertahankan jalan napas paten dan meningkatkan pertukaran gas. (Deskripsi sama dengan di atas, karena SIKI ini merupakan tindakan operasional dari kedua SLKI yang terkait dengan jalan napas). Secara teknis, perawat akan melaksanakan serangkaian tindakan yang telah disebutkan: penempatan posisi, latihan pernapasan, hidrasi, fisioterapi dada, pemberian oksigen, dan pemantauan ketat. Dalam konteks SDKI 0002, penekanan SIKI 3320 lebih kuat pada aspek mobilisasi dan pengeluaran sekret (dahak) yang menjadi penyebab utama ketidakefektifan bersihan jalan napas. Evaluasi dilakukan setiap shift dengan menilai konsistensi dan jumlah dahak, usaha batuk pasien, serta perubahan hasil pemeriksaan fisik. Tindakan ini harus dilakukan secara konsisten sepanjang hari, terutama setelah pasien bangun tidur atau sebelum waktu minum obat, untuk memaksimalkan efektivitas terapi.
Kondisi: Nutrisi Tidak Seimbang: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, ditandai dengan kehilangan nafsu makan dan berat badan yang tidak diinginkan (dapat disimpulkan dari kondisi umum).
Kode SLKI: 1104
Deskripsi : Status Nutrisi: Kecukupan asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolik. Pada pasien Tuberkulosis, status nutrisi merupakan faktor penentu kesembuhan yang sangat penting karena penyakit ini bersifat katabolik (menguras energi dan protein tubuh). SLKI ini bertujuan untuk mencapai dan mempertahankan status gizi yang adekuat untuk mendukung proses penyembuhan dan respons imun. Tindakan keperawatan meliputi: (1) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan protein yang meningkat; (2) Memberikan makanan dalam porsi kecil namun sering (small frequent feeding) untuk mengatasi anoreksia; (3) Memilih jenis makanan yang tinggi kalori dan protein, mudah dicerna, dan disukai pasien; (4) Memantau asupan makan dan minum pasien setiap hari (catatan intake-output); (5) Memantau berat badan secara berkala (misalnya 2x seminggu) untuk menilai trend perubahan; (6) Mengatasi mual jika ada yang mungkin timbul akibat obat anti-tuberkulosis. Keberhasilan SLKI dinilai dari peningkatan nafsu makan pasien, peningkatan berat badan yang bertahap sesuai target, serta hasil laboratorium (seperti albumin) yang menunjukkan perbaikan.
Kode SIKI: 1120
Deskripsi : Manajemen Nutrisi: Tindakan untuk memberikan atau memantau asupan nutrisi. Ini adalah tindakan praktis yang dilakukan perawat di samping pasien. Perawat akan: (1) Menyiapkan lingkungan makan yang nyaman dan bebas bau tidak sedap (karena dahak); (2) Membantu pasien dalam posisi makan yang tepat (duduk) untuk mencegah aspirasi; (3) Memberikan motivasi dan pendampingan selama pasien makan; (4) Mencatat secara detail jenis, porsi, dan toleransi pasien terhadap makanan yang diberikan; (5) Memberikan edukasi kepada keluarga tentang pentingnya nutrisi dan jenis makanan yang dianjurkan, sehingga keluarga dapat membawakan makanan dari rumah yang sesuai; (6) Berkolaborasi dalam pemberian suplemen nutrisi oral jika asupan dari makanan biasa tidak mencukupi. SIKI ini bersifat kontinu dan memerlukan kesabaran, karena peningkatan nafsu makan seringkali baru terjadi setelah pengobatan berjalan beberapa minggu dan gejala sistemik seperti demam mulai berkurang.
-
Article No. 23601 | 12 Jan 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons inflamasi tubuh terhadap mikroorganisme patogen atau toksinnya yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: L.03113
Deskripsi : SLKI ini berfokus pada pencegahan dan pengendalian infeksi. Tujuan utamanya adalah agar pasien bebas dari infeksi nosokomial atau penyebaran infeksi ke orang lain, dengan indikator sebagai berikut: (1) Pasien dan keluarga menyebutkan cara penularan penyakit. (2) Pasien dan keluarga mendemonstrasikan cara menutup mulut dan hidung saat batuk/bersin dengan tisu atau lengan baju. (3) Pasien dan keluarga mendemonstrasikan cara mencuci tangan dengan benar. (4) Pasien menggunakan masker sesuai indikasi. (5) Sputum dibuang dengan cara dibakar/dikubur/dibuang ke tempat sampah tertutup. (6) Tidak ada anggota keluarga atau pengunjung lain yang tertular. (7) Lingkungan pasien bersih dan terpelihara. (8) Status infeksi membaik: suhu tubuh dalam rentang normal, leukosit dalam rentang normal, dan hasil pemeriksaan mikrobiologi negatif. Pada konteks Tuberkulosis (TB) paru, SLKI ini menjadi sangat sentral karena penyakit ini sangat menular melalui droplet. Perawat harus memastikan pemahaman dan kepatuhan pasien serta keluarga terhadap prinsip-prinsip pencegahan penularan, seperti etika batuk, penggunaan masker, pembuangan dahak yang aman, dan kebersihan tangan. Edukasi yang komprehensif dan berkelanjutan diperlukan untuk memutus rantai penularan, mengingat pengobatan TB yang panjang. Selain itu, pemantauan tanda-tanda infeksi seperti demam juga termasuk dalam luaran ini untuk menilai perkembangan klinis pasien.
Kode SIKI: I.05090
Deskripsi : Intervensi ini bertujuan untuk meminimalkan risiko infeksi dan penularan. Langkah-langkah yang dilakukan perawat meliputi: (1) Mengidentifikasi faktor risiko infeksi. (2) Memantau tanda dan gejala infeksi. (3) Memantau kerentanan terhadap infeksi. (4) Menerapkan dan memantau kepatuhan terhadap tindakan pencegahan infeksi sesuai kebijakan institusi. (5) Mengajarkan cara mencuci tangan kepada pasien dan keluarga. (6) Mengajarkan etika batuk. (7) Menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai kebutuhan. (8) Mengelola peralatan untuk mencegah infeksi. (9) Mengisolasi pasien sesuai indikasi. (10) Mengajarkan pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi yang perlu dilaporkan. (11) Memantau suhu tubuh. (12) Mengkolaborasikan pemberian terapi antibiotik. Dalam manajemen TB paru, SIKI ini dioperasionalkan melalui edukasi intensif tentang penularan TB dan pentingnya terapi obat anti tuberkulosis (OAT) hingga tuntas. Perawat mengajarkan dan mendemonstrasikan etika batuk yang benar (menggunakan tisu atau masker), teknik mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer, serta cara membuang dahak yang higienis (dikumpulkan dalam wadah tertutup dan dibakar/dikubur). Perawat juga memastikan pasien memakai masker, terutama saat berinteraksi dengan orang lain, dan melakukan isolasi droplet di fasilitas kesehatan. Pemantauan ketat terhadap tanda-tanda klinis seperti demam, produksi sputum, dan sesak napas dilakukan untuk menilai respons terapi. Perawat berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian OAT dan memastikan kepatuhan minum obat melalui pendekatan DOTS (Directly Observed Treatment Short-course). Selain itu, perawat mendukung upaya peningkatan status gizi pasien untuk memperkuat sistem imun.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: L.03004
Deskripsi : SLKI ini bertujuan agar pertukaran gas pasien adekuat, dengan indikator: (1) Pasien menunjukkan pola napas yang efektif. (2) Frekuensi napas dalam rentang normal. (3) Irama napas reguler. (4) Bunyi napas bersih (bebas suara tambahan). (5) Warna kulit dan membran mukosa normal (tidak sianosis). (6) Saturasi oksigen dalam rentang normal. (7) Gas darah arteri dalam rentang normal. (8) Pasien menunjukkan tingkat kesadaran baik. (9) Pasien mampu melakukan aktivitas tanpa mengalami sesak napas. Pada pasien TB paru dengan lesi dan konsolidasi, pertukaran gas terganggu akibat infiltrasi dan kerusakan jaringan paru. Luaran yang diharapkan adalah perbaikan bertahap pada parameter pernapasan. Pola napas harus kembali efektif dengan frekuensi yang normal (12-20 kali/menit pada dewasa) dan irama yang teratur. Bunyi napas bronkial atau adanya ronki harus berkurang seiring dengan respons terapi. Warna kulit dan membran mukosa harus tetap merah muda, menunjukkan tidak adanya hipoksia. Pemantauan saturasi oksigen (target >95%) dan analisis gas darah (jika diperlukan) menjadi tolok ukur objektif. Selain itu, peningkatan kesadaran (compos mentis) dan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari tanpa dispnea merupakan indikator fungsional yang penting bagi kualitas hidup pasien.
Kode SIKI: I.05006
<>Deskripsi : Intervensi ini dilakukan untuk memaksimalkan pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Tindakan perawat mencakup: (1) Memantau status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas). (2) Memantau bunyi napas. (3) Memantau tanda dan gejala hipoksia (gelisah, cemas, pusing, sianosis). (4) Memantau saturasi oksigen. (5) Memantau hasil analisis gas darah. (6) Mengatur posisi pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, semi-Fowler atau Fowler). (7) Mengajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam. (8) Mengelola kebutuhan oksigen sesuai program terapi. (9) Melakukan fisioterapi dada jika diperlukan. (10) Mempertahankan jalan napas paten. (11) Memantau tingkat kesadaran. (12) Mengatur aktivitas untuk mencegah kelelahan. Untuk pasien TB dengan sesak napas, perawat memposisikan pasien dalam posisi duduk (Fowler) untuk memudahkan ekspansi dada. Perawat mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam dan batuk efektif untuk membersihkan jalan napas dari sekret, namun dengan hati-hati memperhatikan upaya batuk yang tidak terlalu kuat untuk mencegah kelelahan. Oksigen diberikan sesuai indikasi dan resep dokter jika saturasi rendah. Pemantauan ketat terhadap tanda-tanda distress pernapasan dan perubahan status kesadaran sangat penting. Perawat juga mengatur aktivitas pasien, menyeimbangkan antara istirahat dan aktivitas ringan untuk mencegah hipoksia akibat aktivitas. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi farmakologis (OAT, bronkodilator jika ada komponen spasme) dan fisioterapi respirasi juga merupakan bagian dari intervensi ini untuk mengatasi gangguan pertukaran gas yang mendasarinya.