Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23780 | 22 Jan 2026
Klinis : bayi usia 36 hari dengan MDRO, pemeriksaan mikroskopik langsung ditemukan kuman coccus gram positif, kultur aerob staphylococcus haemolyticus, koloni 10 pangkat 5 cfu/ml
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Infeksi Aktif (MDRO Staphylococcus haemolyticus) pada Neonatus
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi adalah keadaan dimana seorang individu rentan terhadap invasi dan multiplikasi patogen, yang dapat mengancam kesehatan. Pada kasus ini, kondisi telah berkembang menjadi infeksi aktual yang ditandai dengan hasil kultur positif Staphylococcus haemolyticus (MDRO) dengan koloni signifikan (10^5 cfu/ml) pada bayi usia 36 hari (masa neonatal lanjut). Infeksi pada neonatus, terutama oleh Multi-Drug Resistant Organism (MDRO), merupakan ancaman serius karena sistem imun yang belum matang, hambatan protektif kulit dan mukosa yang masih rentan, serta respons sistemik yang cepat dapat berkembang menjadi sepsis, syok, dan komplikasi organ multipel. Faktor risiko utama meliputi usia neonatal, kemungkinan paparan di lingkungan rumah sakit (nosokomial) atau komunitas, dan karakteristik bakteri yang resisten.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : Pengendalian Infeksi. Tujuan utama intervensi keperawatan adalah mencegah penyebaran infeksi ke orang lain (cross-infection) dan mencegah infeksi sekunder pada pasien sendiri, serta mengatasi infeksi yang sudah terjadi. Pada neonatus dengan MDRO, pengendalian infeksi menjadi prioritas mutlak. SLKI ini mencakup serangkaian tindakan: (1) Menerapkan Kewaspadaan Berbasis Transmisi, khususnya Kewaspadaan Kontak, dengan ketat. Ini termasuk penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) seperti gaun dan sarung tangan saat kontak dengan pasien atau lingkungan sekitarnya, penempatan pasien di ruang isolasi atau kohortasi, serta pembersihan dan disinfeksi peralatan dan lingkungan pasien secara rutin dengan desinfektan yang sesuai. (2) Memastikan kepatuhan terhadap kebersihan tangan (hand hygiene) dengan teknik 6 langkah menggunakan air mengalir dan sabun atau handrub berbasis alkohol oleh semua orang yang kontak dengan bayi. (3) Mengelola luka atau akses invasif (jika ada) dengan teknik aseptik steril untuk mencegah port de entri baru. (4) Memantau dan menerapkan bundel pencegahan infeksi aliran darah terkait kateter dan infeksi lainnya. (5) Edukasi kepada keluarga tentang pentingnya prosedur isolasi, teknik cuci tangan, dan tanda-tanda infeksi yang perlu diwaspadai, sambil memberikan dukungan psikologis mengurangi kecemasan akibat isolasi.
Kode SIKI: 4200
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Intervensi ini berfokus pada penanganan langsung infeksi yang dialami pasien melalui kolaborasi dengan tim medis dan pemantauan ketat. Tindakan spesifik meliputi: (1) Pemberian terapi antibiotik sesuai hasil uji sensitivitas (antibiogram) secara tepat waktu, dosis, dan rute pemberian. Untuk MDRO, pilihan antibiotik sangat terbatas dan mungkin memerlukan antibiotik lini kedua yang lebih poten dengan pemantauan efek samping yang cermat. Perawat bertanggung jawab dalam administrasi obat, memantau kecepatan infus, serta mengobservasi reaksi alergi atau toksisitas. (2) Pemantauan tanda-tanda klinis infeksi dan respons terapi secara komprehensif setiap jam atau sesuai protokol neonatal. Parameter kritis yang harus dinilai meliputi suhu tubuh (hipotermia atau hipertermia), frekuensi nadi dan pernapasan, saturasi oksigen, tanda-tanda distress pernapasan, perfusi perifer (warna, capillary refill time), aktivitas (lethargy, irritability), kemampuan minum/menyusu, serta produksi urin. (3) Pengumpulan spesimen untuk pemeriksaan laboratorium (seperti kultur ulang, hitung darah lengkap, CRP) sesuai permintaan untuk menilai perkembangan infeksi. (4) Memberikan terapi suportif seperti terapi oksigen jika diperlukan, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit melalui pemberian cairan intravena yang akurat, serta mempertahankan nutrisi adekuat baik secara enteral atau parenteral. (5) Memantau dan mengelola komplikasi potensial seperti syok sepsis, gagal napas, atau disseminated intravascular coagulation (DIC) dengan waspada. (6) Dokumentasi yang akurat dan berkelanjutan mengenai semua temuan, intervensi, dan respons pasien untuk evaluasi efektivitas rencana perawatan. Pada bayi 36 hari, pendekatan keluarga sebagai pusat perawatan juga vital, sehingga perawat perlu melibatkan orang tua dalam proses observasi dan memberikan kenyamanan pada bayi selama masa pengobatan yang mungkin memerlukan rawat inap panjang.
-
Article No. 23781 | 22 Jan 2026
Klinis : Pasien demam 39°C. Pertanyaan: Mekanisme homeostasis apa yang terganggu? Respons tubuh apa yang seharusnya terjadi?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal yang berhubungan dengan ketidakmampuan tubuh untuk mempromosikan atau memfasilitasi kehilangan panas.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Suhu Tubuh dalam Rentang Normal. Kriteria hasil: 1) Kulit hangat, tidak ada pucat atau kemerahan yang berlebihan. 2) Nadi dan pernapasan dalam rentang normal. 3) Tidak ada menggigil atau diaforesis berlebihan. 4) Suhu tubuh terukur dalam rentang 36,5°C – 37,5°C. 5) Pasien melaporkan perasaan nyaman secara termal. 6) Tidak ada perubahan status mental terkait suhu. 7) Keseimbangan cairan dan elektrolit terjaga.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi: 1) Monitor suhu tubuh, denyut nadi, tekanan darah, dan pernapasan secara berkala. 2) Observasi adanya menggigil, diaforesis, kulit pucat atau kemerahan. 3) Berikan terapi cairan per oral atau intravena sesuai kebutuhan dan kondisi pasien. 4) Lakukan tindakan pendinginan fisik: kompres hangat/tepid sponge pada area lipatan (aksila, lipat paha, leher) dan dahi, mandikan dengan air hangat, gunakan selimut pendingin jika diperlukan, serta jaga lingkungan tetap sejuk dan berventilasi baik. 5) Atur pakaian pasien dengan bahan yang menyerap keringat dan tipis. 6) Anjurkan tirah baring untuk mengurangi produksi panas metabolik. 7) Kolaborasi pemberian obat antipiretik sesuai resep (seperti parasetamol atau ibuprofen) dan evaluasi efektivitasnya. 8) Monitor tanda-tanda dehidrasi: turgor kulit, membran mukosa, dan balance cairan. 9) Berikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang penyebab demam, tujuan intervensi, dan tanda-tanda yang perlu dilaporkan. 10) Dokumentasikan semua temuan, intervensi, dan respons pasien.
Mekanisme Homeostasis yang Terganggu: Mekanisme homeostasis yang terganggu adalah regulasi suhu tubuh (termoregulasi). Homeostasis suhu diatur oleh pusat termoregulasi di hipotalamus anterior yang bertindak sebagai "termostat" tubuh. Pada kondisi infeksi atau inflamasi, pirogen endogen (seperti interleukin-1) yang dilepaskan oleh sel darah putih mengatur ulang titik setel (set point) hipotalamus ke tingkat yang lebih tinggi (misalnya 39°C). Tubuh kemudian menginterpretasi suhu normal saat ini sebagai "terlalu dingin" dan memulai mekanisme untuk menghasilkan dan mempertahankan panas hingga suhu tubuh mencapai titik setel baru tersebut. Gangguan terjadi karena mekanisme peningkatan suhu ini, meskipun merupakan respons fisiologis terhadap ancaman (seperti infeksi), menciptakan keadaan hipertermia yang dapat membahayakan fungsi seluler dan sistem organ jika berlangsung lama atau terlalu tinggi.
Respons Tubuh yang Seharusnya Terjadi: Respons tubuh normal terhadap peningkatan titik setel hipotalamus adalah demam bertahap. Mekanisme yang diharapkan adalah: 1) Vasokonstriksi perifer: Pembuluh darah di kulit menyempit untuk mengurangi kehilangan panas ke lingkungan, menyebabkan kulit terasa dingin dan pucat. 2) Piloereksi: Bulu badan berdiri (merinding) untuk memerangkap lapisan udara hangat di dekat kulit (pada manusia efek ini minimal). 3) Menggigil (shivering): Kontraksi otot ritmis yang tidak disengaja untuk menghasilkan panas metabolik secara besar-besaran. 4) Perilaku mencari kehangatan: Pasien merasa kedinginan dan akan berusaha memakai selimut atau pakaian tebal. Proses ini berlanjut hingga suhu tubuh inti mencapai titik setel baru. Setelah titik setel kembali normal (baik secara alami atau dengan bantuan antipiretik), tubuh akan memulai mekanisme kehilangan panas melalui vasodilatasi perifer (kulit memerah dan terasa hangat) dan berkeringat (diaforesis) untuk mendinginkan tubuh melalui penguapan. Pada pasien dengan demam 39°C, fase menggigil dan vasokonstriksi mungkin sudah berlalu, dan tubuh berada dalam fase mantap di suhu tinggi, atau mungkin mulai memasuki fase berkeringat jika titik setel mulai turun.
-
Article No. 23782 | 22 Jan 2026
Klinis : Gangguan pertukaran gas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: