Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23719 | 18 Jan 2026
Klinis : Risiko ketidakseimbangan volume cairan ditandai dengan pasien mual,muntah,tampak lemah dan letih intervensi ya apa
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan adalah keadaan di mana individu rentan mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular, yang dapat mengakibatkan kerusakan fungsi tubuh. Kondisi ini ditandai dengan faktor risiko seperti mual, muntah, diare, asupan yang tidak adekuat, atau gangguan mekanisme regulasi cairan. Pada kasus pasien dengan mual dan muntah, terdapat risiko kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang dapat berkembang menjadi defisit volume cairan (hipovolemia) jika tidak ditangani dengan tepat.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : SLKI L.03115 adalah Luaran Keperawatan yang diharapkan, yaitu "Keseimbangan Cairan". Deskripsi luaran ini mencakup pencapaian status hidrasi yang adekuat dan seimbang, yang ditandai dengan tanda-tanda vital dalam rentang normal yang diharapkan untuk usia (tekanan darah, nadi, suhu, dan pernapasan), turgor kulit baik (kembali cepat saat dicubit), membran mukosa lembab, produksi urin adekuat (output urin sesuai dengan berat badan, biasanya >0.5 mL/kg/jam pada dewasa), haluaran urin seimbang dengan asupan cairan, tidak ada rasa haus yang berlebihan, dan berat badan stabil. Capaian luaran ini menunjukkan bahwa risiko ketidakseimbangan volume cairan telah teratasi atau diminimalkan, dan tubuh pasien mampu mempertahankan homeostasis cairan. Perawat akan memantau parameter-parameter ini secara berkala untuk mengevaluasi kemajuan pasien menuju luaran yang diharapkan.
Kode SIKI: I.05259
Deskripsi : SIKI I.05259 adalah Intervensi Keperawatan "Manajemen Keseimbangan Cairan". Intervensi ini didefinisikan sebagai pemberian asupan cairan dan elektrolit serta mempertahankan keseimbangan antara asupan dan haluaran. Penjelasan rinci intervensi ini meliputi: (1) Memantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, frekuensi napas, suhu) secara teratur untuk mendeteksi dini tanda hipovolemia (seperti takikardia, hipotensi) atau kelebihan cairan. (2) Memantau dan mencatat asupan dan haluaran cairan (balance cairan) secara akurat, termasuk cairan oral, parenteral, serta haluaran melalui urin, muntah, dan drainase lain. (3) Memantau status hidrasi melalui turgor kulit, kelembaban membran mukosa, rasa haus, dan berat badan harian. (4) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai resep dokter untuk mengoreksi defisit atau mempertahankan kebutuhan cairan harian. (5) Mengatur dan memfasilitasi asupan cairan per oral secara bertahap jika mual dan muntah telah terkontrol, misalnya dengan memberikan cairan jernih dalam jumlah kecil namun sering. (6) Memposisikan pasien dengan nyaman untuk mengurangi mual, seperti posisi semi-Fowler. (7) Memantau hasil pemeriksaan laboratorium terkait (seperti elektrolit, hematokrit, urine spesific gravity) untuk menilai konsentrasi darah dan keseimbangan elektrolit. (8) Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan cairan, tanda-tanda dehidrasi, dan cara mengatasi mual ringan. (9) Melakukan kolaborasi dengan tim gizi untuk menyediakan diet dan cairan yang sesuai dengan toleransi pasien. Intervensi ini bersifat komprehensif dan bertujuan untuk mencegah terjadinya defisit volume cairan yang nyata, mengembalikan keseimbangan, serta mempertahankan status hidrasi yang optimal.
-
Article No. 23720 | 18 Jan 2026
Klinis : Risiko ketidakseimbangan volume cairan ditandai dengan pasien mual,muntah,tampak lemah dan letih intervensi ya apa
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular yang tidak diinginkan.
Kode SLKI: L.03116
Deskripsi : Keseimbangan cairan tercapai.
Kode SIKI: I.03116
Deskripsi : Intervensi untuk mencapai keseimbangan cairan meliputi: 1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan) dan status hemodinamik secara teratur sesuai kondisi pasien. 2) Monitor status cairan (intake dan output) setiap 8 jam atau sesuai kebutuhan. 3) Monitor tanda-tanda klinis ketidakseimbangan cairan (seperti turgor kulit, membran mukosa, rasa haus, edema, distensi vena jugularis, bunyi napas). 4) Kolaborasi pemberian cairan intravena sesuai program terapi. 5) Anjurkan peningkatan asupan cairan per oral sesuai toleransi dan kebutuhan. 6) Atur posisi pasien untuk meminimalkan dyspnea atau edema. 7) Berikan perawatan mulut untuk kenyamanan dan mencegah kekeringan. 8) Kolaborasi pemberian obat antiemetik untuk mengatasi mual dan muntah. 9) Timbang berat badan harian dengan timbangan yang sama, pada waktu yang sama, dan dengan pakaian yang sama. 10) Ajarkan pada pasien/keluarga tanda-tanda ketidakseimbangan cairan dan pentingnya pencatatan intake-output.
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosis Keperawatan (SDKI - B.1.1 Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan): Diagnosis ini ditetapkan berdasarkan data klinis pasien yang menunjukkan mual dan muntah. Kedua gejala ini merupakan faktor risiko utama yang dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan (defisit volume cairan). Pasien yang tampak lemah dan letih merupakan manifestasi dari dampak awal ketidakseimbangan tersebut terhadap status energi dan perfusi jaringan. SDKI mendefinisikan kondisi ini sebagai risiko terhadap perubahan dinamika cairan tubuh yang meliputi kompartemen intravaskular (pembuluh darah), interstitial (jaringan antar sel), dan intraselular (di dalam sel). Pada kasus ini, fokusnya adalah risiko terjadinya defisit atau kekurangan volume cairan (hipovolemia) akibat output yang tidak seimbang dari intake karena muntah. Penetapan diagnosis risiko berarti masalah belum benar-benar terjadi tetapi tanda-tanda risiko (mual, muntah) sudah nyata, sehingga intervensi preventif dan monitoring ketat sangat diperlukan untuk mencegah perkembangan menjadi ketidakseimbangan aktual yang dapat membahayakan seperti syok hipovolemik.
Luaran Keperawatan (SLKI - L.03116 Keseimbangan Cairan Tercapai): SLKI ini merupakan tujuan atau outcome yang diharapkan dari intervensi keperawatan. Luaran "Keseimbangan Cairan Tercapai" mengindikasikan bahwa pasien akan mempertahankan atau kembali mencapai keadaan di mana intake dan output cairan seimbang, tanda-tanda vital dalam rentang normal, turgor kulit baik, membran mukosa lembab, dan tidak ada tanda edema atau dehidrasi signifikan. Pada pasien dengan risiko ini, luaran ini bersifat preventif, yaitu mencegah ketidakseimbangan terjadi. Kriteria evaluasinya meliputi: intake dan output cairan dalam batas seimbang (biasanya dengan selisih yang tidak signifikan), berat badan stabil, tanda vital (terutama nadi dan tekanan darah) stabil dan normotensi, tidak adanya keluhan haus berlebihan, serta kulit dan membran mukosa menunjukkan hidrasi yang adekuat. Kelemahan dan keletihan pasien juga diharapkan berkurang seiring dengan teratasinya risiko dehidrasi.
Intervensi Keperawatan (SIKI - I.03116 Intervensi untuk Mencapai Keseimbangan Cairan): Intervensi ini merupakan tindakan spesifik yang dilakukan perawat berdasarkan wewenang ilmiahnya (mandiri) maupun dalam kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk mencapai luaran yang diinginkan. Penjelasan dari setiap poin intervensi adalah sebagai berikut: 1) Monitoring tanda vital dan hemodinamik adalah dasar untuk mendeteksi dini kompensasi tubuh terhadap kekurangan cairan, seperti takikardia atau hipotensi. 2) Pencatatan intake-output (balans cairan) secara ketat dan akurat adalah kunci objektif untuk menilai keseimbangan. Setiap cairan yang masuk (minum, infus) dan keluar (urin, muntah, drainase) dicatat. 3) Monitoring tanda klinis seperti turgor kulit (elastisitas) yang menurun, mata cekung, mukosa mulut kering, dan rasa haus adalah indikator dehidrasi. Edema dan distensi vena jugularis lebih mengarah ke kelebihan cairan. 4) Kolaborasi pemberian cairan intravena sering diperlukan jika pasien tidak bisa mempertahankan asupan oral yang adekuat akibat muntah berlanjut. 5) Anjuran peningkatan asupan oral dilakukan secara bertahap sesuai toleransi, misalnya dengan cairan jernih dalam jumlah kecil namun sering. 6) Pengaturan posisi seperti semi-Fowler dapat membantu pernapasan jika ada akumulasi cairan di paru, atau elevasi ekstremitas jika ada edema. 7) Perawatan mulut meningkatkan kenyamanan, merangsang nafsu makan/minum, dan mencegah infeksi pada mukosa kering. 8) Kolaborasi pemberian antiemetik adalah tindakan kausal untuk menghentikan penyebab utama kehilangan cairan, yaitu muntah. 9) Penimbangan berat badan harian adalah indikator yang sangat sensitif terhadap perubahan status cairan; penurunan berat badan cepat sering mencerminkan kehilangan cairan. 10) Edukasi pada pasien/keluarga memberdayakan mereka untuk berpartisipasi aktif dalam pemantauan dan pencegahan, serta mengenali tanda bahaya yang mengharuskan pelaporan segera. Keseluruhan intervensi ini bersifat komprehensif, mencakup aspek monitoring, tindakan langsung, kolaborasi, dan edukasi, yang semuanya ditujukan untuk memitigasi risiko dan mencapai keseimbangan volume cairan tubuh pasien.
-
Article No. 23721 | 18 Jan 2026
Klinis : S : Px mengatakan sering mual dan merasa ingin muntah terutama di pagi hari dan tidak nafsu makan O : Px tampak lemas, wajah tampak pucat dan nafsu makan menurun porsi makan habis 3-4 sendok makan saja
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi Berdasarkan SDKI, SLKI, SIKI
Berdasarkan data subjektif dan objektif yang Anda berikan, berikut adalah analisis dan penetapan diagnosa keperawatan, luaran, serta intervensi sesuai standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Kondisi Pasien:
- S (Subjektif): Pasien mengatakan sering mual dan merasa ingin muntah terutama di pagi hari dan tidak nafsu makan.
- O (Objektif): Pasien tampak lemas, wajah tampak pucat dan nafsu makan menurun, porsi makan habis 3-4 sendok makan saja.
1. Diagnosa Keperawatan (SDKI)
Berdasarkan data yang ada, masalah utama yang dihadapi pasien adalah ketidakcukupan asupan nutrisi yang disebabkan oleh mual dan penurunan nafsu makan. Kondisi lemas dan pucat merupakan manifestasi dari defisit nutrisi.
Komponen
Detail
Kode SDKI
D.0019
Diagnosa Keperawatan
Defisit Nutrisi
Definisi
Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme.
Penyebab (Etiologi)
- Mual (D.0076)
- Penurunan nafsu makan
Gejala dan Tanda Mayor (Data Penunjang)
- Subjektif: Pasien mengatakan tidak nafsu makan.
- Objektif: Porsi makan habis 3-4 sendok makan saja (menunjukkan asupan tidak adekuat).
Gejala dan Tanda Minor (Data Penunjang)
- Subjektif: Pasien mengatakan sering mual dan merasa ingin muntah terutama di pagi hari.
- Objektif: Pasien tampak lemas, wajah tampak pucat.
Rumusan Diagnosa Keperawatan:
Defisit Nutrisi (D.0019) berhubungan dengan Mual (D.0076) dan Penurunan Nafsu Makan ditandai dengan pasien mengatakan sering mual dan merasa ingin muntah terutama di pagi hari, tidak nafsu makan, pasien tampak lemas, wajah tampak pucat, dan porsi makan habis 3-4 sendok makan saja.
Article No. 23722 | 18 Jan 2026
Klinis : S : Px mengatakan sering mual dan merasa ingin muntah terutama di pagi hari dan tidak nafsu makan O : Px tampak lemas, wajah tampak pucat dan nafsu makan menurun porsi makan habis 3-4 sendok makan saja
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, SDKI, SLKI, dan SIKI
Berdasarkan data subjektif dan objektif yang Anda berikan, berikut adalah analisis dan penetapan Diagnosa Keperawatan sesuai standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menggunakan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI).
Kondisi Pasien
- S (Subjektif): Pasien mengatakan sering mual dan merasa ingin muntah terutama di pagi hari dan tidak nafsu makan.
- O (Objektif): Pasien tampak lemas, wajah tampak pucat dan nafsu makan menurun, porsi makan habis 3-4 sendok makan saja.
1. Diagnosa Keperawatan (SDKI)
Berdasarkan data yang ada, diagnosa keperawatan yang paling relevan dan prioritas adalah Mual. Gejala mual, keinginan muntah, dan penurunan nafsu makan secara langsung mengindikasikan masalah ini.
Komponen
Detail
Kode SDKI
D.0076
Definisi
Sensasi subjektif tidak menyenangkan seperti gelombang di bagian belakang tenggorokan, epigastrium, atau abdomen yang dapat atau tidak dapat menyebabkan muntah.
Diagnosa Lengkap
Mual (D.0076)
Berhubungan dengan: Gangguan fungsi gastrointestinal (tidak teridentifikasi spesifik, namun dimanifestasikan oleh gejala)
Ditandai dengan:
- Subjektif: Mengeluh mual, merasa ingin muntah, tidak nafsu makan.
- Objektif: Tampak lemas, wajah pucat, nafsu makan menurun (porsi makan habis 3-4 sendok makan saja).
Penjelasan: Diagnosa Mual (D.0076) dipilih karena secara langsung mencerminkan keluhan utama pasien. Etiologi "Gangguan fungsi gastrointestinal" digunakan sebagai payung karena data tidak spesifik menunjukkan penyebab lain (misalnya, kehamilan, efek samping obat, penyakit tertentu), namun gejala mual dan ingin muntah sangat terkait dengan sistem pencernaan. Gejala mayor subjektif dan objektif pasien sangat sesuai dengan karakteristik diagnosis ini, termasuk keluhan mual, ingin muntah, tidak nafsu makan, lemas, dan pucat. Penurunan nafsu makan dan asupan yang sangat minim (3-4 sendok makan) juga merupakan indikator kuat dari dampak mual.
2. Luaran Keperawatan (SLKI)
Setelah diagnosa ditetapkan, luaran keperawatan (outcome) yang diharapkan adalah penurunan tingkat mual pasien.
Komponen
Detail
Kode SLKI
L.08061
Nama Luaran
Tingkat Mual
Definisi
Perasaan tidak nyaman pada perut bagian atas atau tenggorokan yang dapat disertai atau tidak disertai dengan keinginan untuk muntah.
Article No. 23723 | 18 Jan 2026 Klinis : pasien dengan keluhan pasien mengatakan sering mual dan merasa ingin muntah, terutama di pagi hari dan tidak nafsu makan. Terus, pasien juga mengatakan tidur sering terganggu dan sering terbangun pada malam hari. Pasien juga mengatakan sering merasa cepat lelah, pusing, dan lemas. Ini kehamilan anak pertama trimester 2 Terus, buatkan dong diagnosanya, tiga diagnosa apa saja
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: