Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24144 | 19 Feb 2026
Klinis : Keluhan : Mengeluh nyeri perut berulang dan sesak napas pada usia kehamilan 29 minggu. Riwayat kesehatan: Pernah keguguran 2x 2. Riwayat Obstetri Bad Obstetric History (BOH) dengan dua kali aborsi spontan sebelumnya pada usia gestasi 4 bulan 3. Data Laboratorium dan Diagnostik •Serologi : Hasil tes TORCH positif untuk rubella IgG dan CMV IgG •USG Janin: Polyhydramnios, edema subkutan pada kepala, leher, dan wajah (hydrops fetalis). Efusi pleura bilateral, ascites, serta kelainan thorax. •Kondisi janin: infusiensi fetoplasenta dan absent and diastolic flow pada arteri umbilikalis 4. Pemeriksaan Fisik •TD 110/80 mmHg •RR 16x/menit •Nadi 76x/menit • Suhu tubuh normal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Jaringan Fetal Tidak Efektif dan Risiko Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit pada Ibu
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko Perfusi Jaringan Fetal Tidak Efektif berhubungan dengan insufisiensi fetoplasenta dan abnormalitas aliran darah umbilikalis (absent end diastolic flow). Kondisi ini mengancam pertukaran nutrisi dan oksigen dari ibu ke janin, yang diperparah oleh kondisi hydrops fetalis dan polihidramnion.
Kode SLKI: 0901
Deskripsi : Perfusi Jaringan Fetal Dipertahankan. Tujuan keperawatan adalah mempertahankan perfusi jaringan fetal seoptimal mungkin dalam kondisi patologis. Intervensi difokuskan pada pemantauan ketat tanda-tanda vital ibu (TD, Nadi, RR) dan respons janin terhadap kondisi hipoksia. Perawat akan memantau aktivitas janin, denyut jantung janin secara berkala, dan karakteristik cairan ketuban. Posisi ibu diatur miring ke kiri untuk meningkatkan aliran darah uteroplasenta. Pemberian oksigen tambahan mungkin diperlukan untuk meningkatkan saturasi oksigen ibu. Kolaborasi ketat dengan dokter dilakukan untuk memantau hasil USG Doppler dan kesejahteraan janin, serta mempersiapkan tindakan persalinan darurat jika terjadi dekompensasi janin. Edukasi pada ibu tentang pentingnya melaporkan setiap penurunan gerakan janin atau tanda bahaya lainnya merupakan bagian integral dari intervensi ini.
Kode SIKI: 3520
Deskripsi : Pemantauan Kardiovaskular. Intervensi ini dilakukan secara komprehensif untuk menilai status hemodinamik ibu dan janin. Pada ibu, pemantauan mencakup tekanan darah, nadi, frekuensi pernapasan, dan tanda-tanda syok atau pre-eklampsia. Pada janin, pemantauan berfokus pada denyut jantung janin (DJJ) baik secara intermiten maupun dengan Kardiotokografi (CTG) untuk mendeteksi adanya deselerasi, variabilitas, dan tanda gawat janin. Pemantauan juga mencakup pengukuran tinggi fundus uteri untuk mendeteksi pertumbuhan janin yang terhambat dan pengawasan ketat terhadap kebocoran cairan ketuban atau perdarahan pervaginam. Perawat akan mendokumentasikan semua temuan secara akurat dan berkelanjutan, serta segera melaporkan setiap perubahan yang mengancam, seperti takikardia atau bradikardia janin, penurunan variabilitas DJJ, atau tanda-tanda distress ibu. Pemantauan ini sangat kritis karena kondisi absent end diastolic flow menandakan resistensi pembuluh darah plasenta yang sangat tinggi dan risiko kematian janin intrauterin yang mendadak.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan pada Ibu
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan berhubungan dengan kondisi polihidramnion (cairan ketuban berlebihan). Polihidramnion dapat menyebabkan distensi uterus berlebihan, meningkatkan risiko partus prematur, sesak napas pada ibu, dan ketidaknyamanan abdomen yang berat.
Kode SLKI: 0601
Deskripsi : Keseimbangan Cairan Dipertahankan. Tujuan keperawatan adalah mencegah komplikasi dari polihidramnion dan mempertahankan keseimbangan cairan ibu. Intervensi meliputi pemantauan ketat intake dan output cairan, serta pengukuran lingkar abdomen dan tinggi fundus uteri secara serial untuk mendeteksi peningkatan volume cairan ketuban yang cepat. Perawat akan memantau tanda-tanda distress pernapasan ibu (seperti sesak napas, takipnea, penggunaan otot bantu napas) yang dapat terjadi akibat tekanan uterus pada diafragma. Posisi semi-fowler atau duduk dapat dianjurkan untuk memfasilitasi ekspansi paru. Tirah baring mungkin diperlukan untuk mengurangi tekanan pada serviks dan risiko ruptur membran prematur. Edukasi diberikan pada ibu mengenai tanda-tanda kontraksi dini, pecah ketuban, dan sesak napas yang memberat. Kolaborasi dengan dokter diperlukan untuk evaluasi kemungkinan tindakan amniosentesis reduksi jika polihidramnion sangat berat dan mengancam.
Kode SIKI: 4120
Deskripsi : Manajemen Cairan. Intervensi ini dilakukan untuk mengatur dan memantau status cairan tubuh ibu. Perawat akan mencatat asupan cairan per oral dan output urine secara akurat. Pemantauan tanda-tanda klinis kelebihan cairan atau edema dilakukan, meskipun pada kasus ini edema yang signifikan lebih disebabkan oleh kondisi hydrops fetalis pada janin. Berat badan ibu dipantau dengan ketat karena peningkatan yang cepat dapat mengindikasikan memburuknya polihidramnion. Pembatasan cairan biasanya tidak dianjurkan pada polihidramnion karena kondisi ini umumnya tidak disebabkan oleh kelebihan cairan ibu, namun pemantauan ketat tetap esensial. Kolaborasi dengan tim medis untuk interpretasi hasil pemeriksaan laboratorium (seperti elektrolit dan hematokrit) juga bagian dari manajemen cairan yang komprehensif.
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: 0014
Deskripsi Singkat: Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap kesejahteraan diri dan janin, riwayat obstetri yang buruk (BOH dengan 2 kali keguguran), dan diagnosis komplikasi kehamilan yang serius (hydrops fetalis, infeksi TORCH). Ketakutan akan kehilangan janin dan ketidakpastian outcome kehamilan merupakan sumber stres psikologis yang besar.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Tingkat Kecemasan Menurun. Tujuan keperawatan adalah mengurangi tingkat kecemasan dan meningkatkan mekanisme koping ibu. Intervensi dimulai dengan membangun hubungan saling percaya (trust) melalui komunikasi terapeutik. Perawat akan mendengarkan dengan penuh empati terhadap keluhan dan ketakutan ibu, memberikan informasi yang jujur, jelas, dan sesuai kebutuhan tentang kondisi kehamilannya, prosedur yang akan dijalani, dan rencana perawatan. Partisipasi ibu dalam perawatan diri didorong untuk meningkatkan rasa kontrol. Teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam dan imajinasi terbimbing dapat diajarkan. Dukungan spiritual sesuai keyakinan pasien juga difasilitasi. Melibatkan suami atau keluarga terdekat dalam proses edukasi dan dukungan emosional sangat penting. Perawat juga perlu memantau tanda-tanda ansietas berat yang dapat memengaruhi kondisi fisiologis ibu dan janin.
Kode SIKI: 5240
Deskripsi : Dukungan Emosional. Intervensi ini menyediakan lingkungan yang aman bagi ibu untuk mengekspresikan perasaan, ketakutan, dan kekhawatirannya. Perawat memberikan kehadiran yang suportif dan tidak menghakimi. Validasi terhadap perasaan ibu bahwa kecemasannya adalah wajar diberikan situasi yang sangat menegangkan. Perawat membantu ibu mengidentifikasi kekuatan dan sumber dukungan yang dimilikinya. Dukungan juga diberikan dengan cara memberikan harapan yang realistis tanpa memberikan jaminan palsu. Kolaborasi dengan psikolog atau konselor mungkin diperlukan jika tingkat ansietas sangat tinggi. Intervensi ini sangat krusial mengingat riwayat kehilangan kehamilan sebelumnya dapat memicu trauma dan meningkatkan kecemasan pada kehamilan saat ini, sehingga dukungan psikososial yang komprehensif merupakan bagian integral dari perawatan holistik.
-
Article No. 24145 | 19 Feb 2026
Klinis : Resiko infeksi berhubungan dengan post pemasangan WSD Irigation
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons terhadap patogen atau toksin.
Kode SLKI: 1430
Deskripsi : Pengendalian Infeksi: Tindakan untuk mencegah dan mengurangi risiko infeksi nosokomial. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan sistematis yang bertujuan untuk memutus rantai penularan infeksi, khususnya pada pasien dengan faktor risiko tinggi seperti adanya alat invasif (Wound Drainage/irrigation). Fokus utamanya adalah menciptakan dan mempertahankan lingkungan aseptik selama perawatan luka dan pemeliharaan alat. Perawat akan melakukan cuci tangan secara ketat sebelum dan setelah kontak dengan pasien atau perangkat. Perawat memastikan teknik aseptik yang ketat selama perawatan area pemasangan WSD dan selama prosedur irigasi, termasuk desinfeksi kulit yang tepat, penggunaan alat steril, dan pembalut yang bersih dan kering. Pemantauan tanda-tanda infeksi lokal (seperti kemerahan, bengkak, nyeri, panas, pus) dan sistemik (demam, peningkatan leukosit) dilakukan secara rutin. Perawat juga mengedukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya tidak menyentuh area luka atau alat, tanda-tanda infeksi yang harus dilaporkan, serta prinsip kebersihan tangan. Pengelolaan drainase yang aman, termasuk pengosongan dan pengukuran output dengan teknik steril, serta memastikan sistem drainase tertutup tetap utuh untuk mencegah masuknya mikroorganisme, juga merupakan bagian integral. Durasi pemasangan alat dievaluasi secara berkala untuk meminimalkan risiko infeksi yang terkait dengan lamanya pemakaian.
Kode SIKI: 3401
Deskripsi : Mempertahankan teknik aseptik. Kriteria hasil ini mengukur sejauh mana perawat secara konsisten menerapkan prinsip aseptik dalam semua aspek perawatan pasien dengan risiko infeksi. Hal ini dievaluasi melalui tindakan nyata seperti kebersihan tangan yang benar (menggunakan handrub berbasis alkohol atau sabun dan air pada saat yang tepat), penggunaan alat pelindung diri (APD) yang sesuai (sarung tangan steril, masker, apron) selama prosedur perawatan luka dan irigasi WSD. Perawat dinilai kemampuannya dalam menyiapkan bidang steril, membuka bungkusan steril tanpa kontaminasi, dan memindahkan alat steril dengan teknik yang tepat (misalnya, menggunakan pinset steril). Perilaku perawat dalam menjaga sterilitas selama prosedur, seperti tidak melewati bidang steril, menjaga ujung penjepit tetap mengarah ke bawah, dan segera mengganti balutan jika terkontaminasi, menjadi indikator penting. Evaluasi juga mencakup kemampuan perawat dalam mempertahankan integritas sistem drainase tertutup, memastikan sambungan tidak terlepas atau terkontaminasi, serta melakukan irigasi dengan larutan steril dan teknik yang tidak mendorong masuknya kuman ke dalam rongga luka. Pencapaian kriteria ini ditandai dengan tidak adanya pelanggaran teknik aseptik yang dapat diamati selama periode perawatan, yang secara langsung berkontribusi pada pencegahan infeksi nosokomial.
-
Article No. 24146 | 19 Feb 2026
Klinis : post op laparotomi milking prosedure drainase abdomen
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Status Pasca Laparotomi dengan Prosedur Milking dan Drainase Abdomen
Kode ICD-10: Z48.810
Deskripsi Singkat : Kondisi ini merujuk pada status pasien setelah menjalani prosedur bedah besar di rongga perut (laparotomi) yang melibatkan dua tindakan lanjutan: 'milking' (biasanya merujuk pada manipulasi manual atau pemijatan pada struktur seperti usus atau drain untuk mencegah sumbatan) dan pemasangan drainase abdomen. Kode Z48.810 secara spesifik mengkategorikan "Perawatan pascaoperasi lainnya" dengan fokus pada "Perawatan luka operasi". Penggunaan kode ini tepat karena menandakan fase perawatan lanjutan setelah prosedur bedah utama, di mana fokusnya adalah pada pemantauan dan penanganan luka bedah, drainase cairan tubuh (seperti darah, nanah, atau cairan serosa), serta mencegah komplikasi seperti ileus atau infeksi. Kode dari bab Faktor yang Mempengaruhi Status Kesehatan dan Kontak dengan Layanan Kesehatan (Kode-Z) ini digunakan untuk menjelaskan alasan perawatan atau konsultasi, bukan penyakit akut itu sendiri. Dalam konteks rekam medis, kode ini melengkapi kode prosedur operasi utama dan kode diagnosis penyakit yang mendasarinya, memberikan gambaran lengkap bahwa pasien sedang dalam masa pemulihan dengan tata laksana khusus pascabedah.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24147 | 19 Feb 2026
Klinis : post op laparotomi milking prosedure drainase abdomen
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Post Operasi Laparotomi dengan Prosedur Milking dan Drainase Abdomen
Kode SDKI: 0207
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 2007
Deskripsi : Mencegah Infeksi
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : Manajemen Luka
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI 0207 - Risiko Infeksi): Diagnosa ini ditetapkan karena pasien pasca laparotomi dengan drainase abdomen berada dalam kondisi rentan terhadap invasi mikroorganisme patogen. Definisi menurut PPNI adalah "keadaan dimana individu berisiko mengalami invasi oleh organisme patogen". Faktor risiko pada kasus ini sangat nyata. Pertama, tindakan laparotomi merupakan pembedahan mayor yang menembus barier kulit dan membran mukosa, menciptakan port de entri utama bagi mikroba. Kedua, keberadaan dran abdomen, meskipun berfungsi untuk mengalirkan cairan sisa operasi (seperti darah, eksudat) dan mencegah akumulasi yang dapat menjadi media pertumbuhan bakteri, justru menjadi benda asing dan jalur potensial bagi mikroorganisme untuk masuk ke dalam rongga peritoneum. Prosedur "milking" atau memijat pipa drain secara rutin, bertujuan menjaga patensi drain agar tidak tersumbat gumpalan atau debris, namun manipulasi ini juga meningkatkan risiko kontaminasi jika teknik aseptik tidak dijaga ketat. Selain itu, kondisi umum pasien pasca bedah seringkali disertai penurunan status imunologis akibat stres fisiologis dari anestesi dan pembedahan itu sendiri, serta potensi nutrisi yang belum optimal. Risiko infeksi dapat bersifat lokal (pada luka operasi, sekitar insersi drain) atau sistemik (sepsis) yang mengancam jiwa. Oleh karena itu, diagnosa ini menjadi fokus utama untuk mencegah komplikasi serius.
Luaran Keperawatan (SLKI 2007 - Mencegah Infeksi): Luaran yang diharapkan adalah pasien terbebas dari tanda dan gejala infeksi. SLKI ini didefinisikan sebagai "tindakan untuk mencegah dan menurunkan risiko infeksi". Kriteria luaran yang harus dicapai mencakup: tanda-tanda vital dalam rentang normal (suhu tubuh afebris, denyut nadi dan pernapasan stabil), luka operasi menunjukkan proses penyembuhan yang adekuat (tidak ada eritema, edema, hangat pada perabaan, nyeri berlebihan, atau discharge purulen), drainase dari dran abdomen bersifat serosanguinous dan jumlahnya berkurang secara bertahap, tidak berbau busuk. Selain itu, hasil laboratorium seperti leukosit count dalam batas normal. Perawat menargetkan agar semua indikator ini dapat dipantau dan dipertahankan. Pencapaian luaran ini sangat bergantung pada efektivitas intervensi keperawatan yang dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan.
Intervensi Keperawatan (SIKI 3410 - Manajemen Luka): Intervensi utama untuk mendukung luaran "Mencegah Infeksi" adalah Manajemen Luka. SIKI ini didefinisikan sebagai "pemberian perawatan pada luka akibat trauma atau pembedahan". Intervensi ini bersifat komprehensif dan meliputi beberapa aktivitas kritikal. Pertama, perawatan luka dan dran dengan teknik aseptik ketat. Ini termasuk mencuci tangan sebelum dan sesudah prosedur, menggunakan alat steril, serta melakukan perawatan luka insisi dan area insersi dran sesuai protokol. Perawat akan membersihkan luka dengan larutan antiseptik yang ditentukan, mengobservasi karakteristik luka (warna, ukuran, adanya granulasi), dan mengganti balutan secara teratur atau bila basah. Kedua, melakukan prosedur milking pada pipa dran dengan benar. Perawat akan memijat pipa dran ke arah penampung (bukan sebaliknya) untuk mencegah reflux, melakukannya dengan lembut untuk menghindari trauma jaringan, dan selalu menjaga sterilitas sambungan dran. Ketiga, memantau karakteristik dan jumlah drainase. Perawat mencatat volume, warna, konsistensi, dan bau drainase setiap shift. Perubahan dari serosanguinous menjadi purulen atau hijau, serta munculnya bau busuk, adalah tanda awal infeksi yang harus segera dilaporkan. Keempat, mengamankan dran untuk mencegah tarikan atau dislodgement yang tidak disengaja. Kelima, edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya menjaga kebersihan, tidak menyentuh luka/dran, tanda-tanda infeksi yang harus diwaspadai (demam, kemerahan, nyeri meningkat), serta pentingnya nutrisi dan hidrasi untuk mendukung penyembuhan. Intervensi Manajemen Luka yang dilakukan secara sistematis dan teliti merupakan kunci dalam meminimalkan faktor risiko dan mencapai luaran pasien bebas infeksi pasca prosedur bedah abdomen dengan dran.
-
Article No. 24148 | 19 Feb 2026
Klinis : post op laparotomi milking prosedure drainase abdomen, pasien nyeri pada luka
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti cedera (International Association for the Study of Pain); tiba-tiba atau lambat muncul dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diperkirakan dan berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI L.08001: Kontrol Nyeri. Definisi: Tercapainya kenyamanan atau pengendalian nyeri setelah dilakukan intervensi keperawatan. Kriteria hasil yang utama dalam konteks pasien post laparotomi adalah: 1) Pasien melaporkan nyeri berkurang atau terkontrol dengan skala nyeri yang dapat diukur (misalnya, skala 0-10 menurun ke skala ≤3). 2) Pasien menunjukkan tanda-tanda fisiologis terkontrol seperti frekuensi nadi dan pernapasan dalam rentang normal, tekanan darah stabil, dan tidak ada gelisah. 3) Pasien mampu melakukan aktivitas ringan, mobilisasi dini, latihan nafas dalam, dan batuk efektif tanpa hambatan nyeri yang berlebihan. 4) Ekspresi wajah pasien rileks, dapat beristirahat atau tidur dengan cukup. 5) Pasien memahami dan kooperatif dalam metode non-farmakologis untuk mengurangi nyeri. Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil memodulasi persepsi nyeri, mengurangi distress, dan mencegah komplikasi imobilisasi akibat nyeri.
Kode SIKI: I.08059
Deskripsi : SIKI I.08059: Manajemen Nyeri. Definisi: Memberikan tindakan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien. Intervensi ini mencakup tindakan komprehensif: 1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor pencetus/pereda nyeri menggunakan skala yang valid. 2) Memberikan terapi farmakologis (analgesik) sesuai resep dokter secara tepat waktu, memantau efektivitas, dan mengobservasi efek samping. 3) Menerapkan intervensi non-farmakologis seperti teknik relaksasi napas dalam, distraksi, reposisi atau teknik positioning yang nyaman, serta kompres hangat atau dingin sesuai indikasi pada area sekitar luka. 4) Melakukan edukasi pada pasien tentang pentingnya melaporkan nyeri, tidak menahan nyeri, dan cara menggunakan skala nyeri. 5) Mempersiapkan pasien sebelum aktivitas yang menimbulkan nyeri (seperti latihan batuk, mobilisasi, perawatan luka) dengan pemberian analgesik sebelumnya. 6) Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mendukung istirahat. 7) Melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap respons pasien terhadap terapi nyeri yang diberikan. Pada pasien post-laparotomi dengan prosedur drainase, manajemen nyeri juga mencakup pemantauan ketat terhadap drain untuk mencegah tarikan atau tekanan yang dapat memperberat nyeri, serta memastikan balutan kering dan aman. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan pendekatan biopsikososio-spiritual untuk memastikan kenyamanan optimal, mempercepat penyembuhan, dan mencegah komplikasi seperti pneumonia atelektasis dan trombosis akibat imobilisasi.
-
Article No. 24149 | 19 Feb 2026
Klinis : gangguan curah jantung
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Penurunan curah jantung adalah suatu kondisi di mana jantung tidak mampu memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk gangguan pada otot jantung itu sendiri (seperti pada gagal jantung, infark miokard, atau kardiomiopati), gangguan irama jantung (aritmia), peningkatan beban kerja jantung (seperti pada hipertensi atau stenosis katup), atau penurunan volume darah (hipovolemia). Manifestasi klinis dari penurunan curah jantung sangat bervariasi, mulai dari yang ringan hingga mengancam jiwa. Gejala dan tanda yang umum ditemui meliputi sesak napas (baik saat aktivitas maupun saat istirahat), kelelahan, intoleransi aktivitas, pusing, sinkop, penurunan kesadaran, kulit pucat dan dingin, pengisian kapiler melambat, takikardia, tekanan darah tidak stabil (hipotensi atau hipertensi), edema perifer (kaki, tungkai) atau edema paru, penurunan output urin (oliguria), dan gelisah. Diagnosa keperawatan ini menekankan pada respons individu terhadap kondisi penurunan pompa jantung dan menjadi dasar untuk merencanakan intervensi keperawatan yang komprehensif guna meningkatkan curah jantung, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Kode SLKI: L.03103
Deskripsi : Curah jantung membaik. Kriteria hasil ini mencakup serangkaian tujuan yang diharapkan setelah intervensi keperawatan dilakukan. Pasien diharapkan menunjukkan tanda-tanda memadainya perfusi jaringan ke organ-organ vital. Secara spesifik, pasien akan memiliki tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima untuk dirinya, denyut nadi kuat dan teratur dengan frekuensi normal, serta pernapasan yang efektif tanpa distress. Warna kulit dan membran mukosa kembali normal (tidak pucat atau sianosis) dengan pengisian kapiler kurang dari 3 detik. Pasien melaporkan atau menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas, ditandai dengan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami sesak napas, kelelahan berlebihan, atau nyeri dada. Output urin tetap adekuat (biasanya >0,5 mL/kg/jam), menunjukkan perfusi ginjal yang baik. Edema perifer berkurang atau hilang, dan bunyi jantung terdengar jelas tanpa gallop atau murmur yang signifikan. Pasien juga menunjukkan pemahaman tentang kondisi, pengobatan, dan modifikasi gaya hidup yang diperlukan untuk mengelola gangguan curah jantung secara optimal. Pencapaian kriteria hasil ini menunjukkan keberhasilan intervensi dalam menstabilkan kondisi hemodinamik dan meningkatkan fungsi jantung.
Kode SIKI: I.12720
Deskripsi : Manajemen Curah Jantung. Intervensi ini merupakan tindakan keperawatan komprehensif yang ditujukan untuk mengoptimalkan pompa jantung, meningkatkan perfusi jaringan, dan meminimalkan komplikasi. Pelaksanaannya meliputi: 1) Pemantauan ketat tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) dan status hemodinamik (seperti tekanan vena sentral jika ada) secara berkala untuk mendeteksi perubahan dini. 2) Memposisikan pasien dengan kepala tempat tidur ditinggikan (posisi semi-Fowler atau Fowler) untuk memudahkan pernapasan dan mengurangi preload. 3) Memantau status pernapasan, bunyi paru (mendengarkan ronki/krekels), dan saturasi oksigen; memberikan terapi oksigen sesuai resep. 4) Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dengan memantau asupan dan output cairan secara ketat, menimbang berat badan harian, serta mengobservasi tanda edema. Pemberian cairan intravena dilakukan dengan hati-hati dan sesuai resep. 5) Memfasilitasi istirahat dengan mengatur lingkungan yang tenang, menjadwalkan periode istirahat, dan membantu dalam aktivitas untuk mengurangi konsumsi oksigen miokard. 6) Memantau respons pasien terhadap aktivitas dan mendorong aktivitas bertahap sesuai toleransi. 7) Memberikan obat-obatan sesuai resep (seperti diuretik, inotropik, vasodilator, ACE inhibitor) dan memantau efek serta efek sampingnya. 8) Memantau status mental dan output urin sebagai indikator perfusi serebral dan renal. 9) Memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga mengenai penyakit, tanda dan gejala memburuk yang harus dilaporkan (seperti sesak mendadak, berat badan naik drastis), pentingnya diet rendah garam, pembatasan cairan, pengobatan rutin, dan menghindari kelelahan. 10) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain, seperti dokter dan ahli gizi, untuk penatalaksanaan yang terintegrasi. Intervensi ini bersifat dinamis dan disesuaikan dengan kondisi serta respons individu pasien.
-
Article No. 24150 | 19 Feb 2026
Klinis : Pasien pusing tensi 180/100
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: 0028
Deskripsi Singkat: Rentan terhadap peningkatan atau penurunan tekanan darah yang dapat mengancam kesehatan, yang dapat mengakibatkan komplikasi.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : SLKI 1401 berfokus pada pemantauan dan pengendalian tekanan darah. Tujuannya adalah agar tekanan darah pasien dapat dikendalikan dalam rentang yang diharapkan. Intervensi keperawatan dalam SLKI ini mencakup pengukuran tekanan darah secara teratur dan akurat dengan teknik yang tepat, memantau tanda-tanda vital lainnya seperti nadi dan pernapasan, serta mengobservasi adanya gejala yang menyertai seperti sakit kepala, pusing, penglihatan kabur, mual, atau epistaksis (mimisan). Perawat juga bertanggung jawab mendokumentasikan tren tekanan darah dan melaporkan setiap perubahan yang signifikan atau membahayakan kepada tim medis. Selain pemantauan, edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya kontrol tekanan darah, faktor risiko, dan tanda-tanda peringatan juga merupakan bagian integral dari luaran ini. Pemantauan yang ketat dan berkelanjutan ini sangat penting untuk mencegah komplikasi akut seperti stroke, ensefalopati hipertensif, atau kerusakan organ target lainnya. Keberhasilan SLKI ini diukur dari tercapainya tekanan darah yang stabil dalam rentang target, tidak adanya gejala yang memburuk, serta pemahaman pasien mengenai kondisinya.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : SIKI 4201 adalah Manajemen Hipertensi, yang merupakan serangkaian tindakan keperawatan untuk mengurangi dan mengontrol tekanan darah. Intervensi ini dimulai dengan penilaian komprehensif yang meliputi riwayat kesehatan, pola makan (khususnya asupan natrium dan lemak), kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, tingkat aktivitas fisik, pola tidur, serta kepatuhan terhadap terapi obat jika ada. Perawat menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mengurangi stres dan kecemasan pasien, karena faktor psikologis dapat memicu peningkatan tekanan darah. Tindakan non-farmakologis yang diterapkan termasuk edukasi tentang modifikasi gaya hidup: diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) yang kaya buah, sayur, dan rendah garam, anjuran untuk melakukan aktivitas fisik aerobik secara teratur, teknik manajemen stres seperti latihan napas dalam atau relaksasi, serta menghindari rokok dan alkohol. Perawat juga berperan dalam manajemen terapi farmakologis dengan memastikan obat antihipertensi diberikan tepat waktu, memantau efek samping obat, dan meningkatkan kepatuhan pasien melalui edukasi tentang pentingnya minum obat secara rutin meskipun gejala sudah membaik. Kolaborasi dengan dokter, ahli gizi, dan tenaga kesehatan lainnya sangat penting untuk menyusun rencana perawatan yang holistik. Evaluasi terhadap efektivitas intervensi dilakukan dengan membandingkan pengukuran tekanan darah serial, respons pasien terhadap terapi, dan perubahan perilaku hidup sehat. Tindakan ini bersifat dinamis dan disesuaikan dengan respons dan kondisi terkini pasien untuk mencapai target tekanan darah yang optimal dan mencegah komplikasi jangka panjang.
-
Article No. 24151 | 19 Feb 2026
Klinis : penurunan curah jantung
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: 00029
Deskripsi Singkat: Penurunan curah jantung adalah suatu kondisi di mana jantung tidak mampu memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk gangguan pada otot jantung itu sendiri (seperti infark miokard, kardiomiopati), gangguan irama jantung (aritmia), peningkatan beban kerja jantung (hipertensi, stenosis aorta), atau gangguan pengisian jantung (tamponade jantung, konstriksi perikard). Kondisi ini mengakibatkan perfusi jaringan yang tidak adekuat, yang dapat memengaruhi fungsi berbagai organ vital seperti otak, ginjal, dan kulit. Manifestasi klinis yang sering muncul meliputi sesak napas, kelelahan, penurunan kesadaran, edema perifer, kulit dingin dan lembap, serta penurunan output urin. Diagnosa keperawatan ini menekankan pada respons individu terhadap kondisi tersebut, yang memerlukan intervensi untuk memantau, meminimalkan, dan mengatasi dampak dari penurunan curah jantung.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : SLKI 0801 berfokus pada Pemantauan Curah Jantung. Tujuan luaran dari intervensi ini adalah untuk memastikan bahwa tanda-tanda vital dan parameter hemodinamik pasien tetap dalam rentang yang dapat diterima, serta mendeteksi dini adanya tanda-tanda memburuknya kondisi. Perawat akan secara teratur memantau dan mendokumentasikan frekuensi jantung, irama jantung, tekanan darah (sistolik, diastolik, dan rata-rata), tekanan nadi, serta suhu kulit dan warna. Pemantauan juga mencakup pengamatan tanda-tanda perfusi perifer seperti pengisian kapiler, adanya edema, dan kualitas nadi perifer. Auskultasi bunyi jantung dan paru untuk mendeteksi adanya gallop, murmur, atau krekels merupakan bagian penting. Selain itu, perawat memantau status neurologis (tingkat kesadaran, orientasi) dan output urin sebagai indikator tidak langsung dari curah jantung dan perfusi ginjal. Pemeriksaan penunjang seperti hasil elektrokardiogram (EKG), enzim jantung, dan parameter laboratorium lain (seperti elektrolit dan fungsi ginjal) juga dipantau. Dokumentasi yang akurat dan berkelanjutan dari semua parameter ini sangat penting untuk mengevaluasi tren, keefektifan terapi, dan kebutuhan akan intervensi lebih lanjut.
Kode SIKI: 2120
Deskripsi : SIKI 2120 adalah Manajemen Curah Jantung. Intervensi ini melibatkan serangkaian tindakan perawat yang terencana dan sistematis untuk mengoptimalkan fungsi pompa jantung dan mempertahankan perfusi jaringan. Tindakan spesifik meliputi: (1) Mengatur posisi pasien (misalnya, semi-Fowler) untuk memfasilitasi pernapasan dan mengurangi beban jantung. (2) Memastikan pemberian oksigen sesuai resep dan memantau keefektifannya melalui saturasi oksigen. (3) Mengelola terapi obat sesuai resep, seperti pemberian inotropik (digoxin, dopamin), diuretik, vasodilator, atau obat antiaritmia dengan memantau efek dan efek sampingnya secara ketat. (4) Membatasi asupan cairan dan natrium sesuai instruksi untuk mengurangi beban volume. (5) Mempertahankan keseimbangan cairan dengan memantau asupan dan keluaran cairan secara ketat, serta menimbang berat badan harian. (6) Mendorong tirah baring atau aktivitas terbatas dengan periode istirahat yang cukup untuk mengurangi konsumsi oksigen miokard. (7) Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala yang perlu dilaporkan (seperti sesak napas bertambah, edema mendadak, nyeri dada), pentingnya diet rendah garam, kepatuhan pengobatan, dan pembatasan aktivitas. (8) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk terapi lanjutan seperti pemasangan alat pacu jantung atau tindakan bedah jika diperlukan. Intervensi ini dilakukan dengan pendekatan holistik, mempertimbangkan kondisi fisik, kecemasan, dan pengetahuan pasien, dengan tujuan akhir meningkatkan curah jantung dan mencegah komplikasi seperti syok kardiogenik atau gagal organ multipel.
-
Article No. 24152 | 19 Feb 2026
Klinis : penurunan curah jantung
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode ICD-10: I50.9
Deskripsi Singkat : Penurunan curah jantung (Low Cardiac Output) adalah suatu sindrom klinis di mana jantung tidak mampu memompa darah dalam volume yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Kondisi ini bukan diagnosis spesifik, melainkan manifestasi dari berbagai gangguan jantung atau sistemik yang mendasarinya, seperti gagal jantung, kardiomiopati, infark miokard, aritmia berat, atau syok. Gejalanya dapat mencakup kelelahan, sesak napas, penurunan kesadaran, kulit dingin dan lembap, serta penurunan produksi urin. Kode I50.9 dalam ICD-10 secara resmi diklasifikasikan sebagai "Gagal jantung, tidak spesifik". Pemilihan kode ini didasarkan pada fakta bahwa penurunan curah jantung merupakan mekanisme sentral dan manifestasi utama dari gagal jantung yang tidak terklasifikasi lebih lanjut sebagai gagal jantung kongestif (I50.0), gagal jantung ventrikel kiri (I50.1), atau jenis lainnya. Kode ini mengelompokkan kondisi di mana fungsi pompa jantung terganggu, mengakibatkan perfusi organ yang tidak adekuat. Penting untuk mencatat bahwa dalam praktik kodifikasi resmi, penentuan kode harus didasarkan pada dokumentasi klinis yang lengkap oleh dokter, karena kondisi ini mungkin memerlukan kode yang lebih spesifik tergantung etiologi dan manifestasinya.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24153 | 19 Feb 2026
Klinis : penurunan curah jantung
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Penurunan curah jantung adalah suatu keadaan dimana volume darah yang dipompa oleh jantung per menit tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: L.03104
Deskripsi : Curah jantung membaik. Kriteria hasil: 1) Tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima untuk pasien, 2) Denyut nadi dalam rentang normal untuk usia, 3) Nadi perifer dapat teraba, 4) Kulit hangat dan kering, 5) Status mental dalam rentang normal untuk pasien, 6) Haluaran urine adekuat (≥ 30 ml/jam), 7) Tidak ada dispnea atau ortopnea, 8) Tidak ada edema paru, 9) Tidak ada edema perifer, 10) Suara jantung normal, 11) Nilai hemodinamik dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.05241
Deskripsi : Manajemen penurunan curah jantung. Tindakan keperawatan: 1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) setiap 1-2 jam atau sesuai kondisi pasien, 2) Auskultasi suara jantung, 3) Auskultasi suara nafas, 4) Monitor status pernapasan (dispnea, ortopnea, sianosis), 5) Monitor status hemodinamik (tekanan vena sentral/CVP, tekanan arteri paru/PAP, tekanan baji kapiler paru/PCWP, curah jantung/CO, indeks jantung/CI) jika tersedia, 6) Monitor haluaran urine setiap jam, 7) Monitor status neurologis/mental (gelisah, penurunan kesadaran), 8) Monitor warna, suhu, dan kelembaban kulit serta pengisian kapiler, 9) Monitor adanya edema (paru dan perifer), 10) Berikan terapi oksigen sesuai program, 11) Atur posisi semi fowler atau fowler sesuai toleransi, 12) Lakukan manajemen cairan (batasi atau berikan sesuai program), 13) Berikan obat-obatan sesuai program (inotropik, diuretik, vasodilator, dll), 14) Kolaborasi pemberian nutrisi sesuai toleransi, 15) Anjurkan tirah baring dan batasi aktivitas, 16) Berikan dukungan psikologis dan edukasi pada pasien/keluarga.