Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24135 | 19 Feb 2026
Klinis : Klien melahirkan dengan usia kehamilan 33-34 minggu, tampak lemah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Kelelahan pada Ibu Nifas dengan Persalinan Prematur
Kode SDKI: B.1.1.1
Deskripsi Singkat: Kelelahan adalah perasaan lelah yang luar biasa dan berkepanjangan serta berkurangnya kapasitas untuk kerja fisik dan mental pada tingkat yang biasa, yang tidak dapat dihilangkan dengan istirahat. Pada ibu nifas yang melahirkan prematur (usia kehamilan 33-34 minggu), kelelahan diperparah oleh proses persalinan yang mungkin lebih menegangkan, kondisi bayi prematur yang menimbulkan kecemasan, serta perubahan fisiologis dan psikologis yang mendadak. Kelemahan yang tampak pada klien merupakan manifestasi langsung dari kelelahan ini, yang dapat menghambat kemampuan ibu untuk merawat diri sendiri dan bayinya, serta memengaruhi ikatan antara ibu dan anak (bonding). Kelelahan pascapersalinan yang tidak terkelola dapat berkembang menjadi gangguan mood seperti baby blues atau depresi pascapersalinan.
Kode SLKI: L.03120
Deskripsi : Manajemen Kelelahan. Intervensi keperawatan ini bertujuan untuk membantu klien mengatasi perasaan kelelahan yang luar biasa. Implementasinya meliputi: (1) Mengkaji faktor penyebab dan tingkat kelelahan klien secara komprehensif, termasuk status hemodinamik, nyeri, pola tidur, dan stres psikologis. (2) Kolaborasi dalam manajemen nyeri pascapersalinan untuk mengurangi beban ketidaknyamanan yang memperparah kelelahan. (3) Membantu klien mengidentifikasi dan memprioritaskan aktivitas perawatan diri dan bayi, menganjurkan untuk beristirahat ketika bayi tidur. (4) Mengatur lingkungan yang tenang dan kondusif untuk istirahat, membatasi pengunjung jika diperlukan. (5) Memberikan edukasi tentang pentingnya nutrisi dan hidrasi yang adekuat untuk pemulihan energi. (6) Mendukung pemberian ASI dengan posisi yang nyaman untuk menghemat energi klien. (7) Melibatkan keluarga (suami, anggota keluarga lain) dalam membantu tugas-tugas perawatan bayi dan domestik. (8) Memberikan dukungan emosional dan meyakinkan klien bahwa perasaan lelah adalah hal yang wajar setelah melahirkan, terutama dalam kondisi prematur. (9) Memantau tanda-tanda komplikasi seperti anemia atau infeksi yang dapat menyebabkan kelelahan patologis. Tujuan akhirnya adalah meningkatkan periode istirahat dan tidur klien, serta meningkatkan perasaan sejahtera dan kontrol terhadap kondisi dirinya.
Kode SIKI: L.03120.01 - L.03120.09
Deskripsi : Kriteria hasil yang diharapkan dari intervensi Manajemen Kelelahan (L.03120) meliputi: (L.03120.01) Klien dapat mengungkapkan faktor-faktor yang menyebabkan kelelahan. (L.03120.02) Klien dapat mengidentifikasi strategi untuk mengatasi kelelahan. (L.03120.03) Klien melaporkan peningkatan tingkat energi. (L.03120.04) Pola tidur dan istirahat klien membaik. (L.03120.05) Klien menunjukkan kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri dan perawatan bayi secara bertahap tanpa kelelahan yang berlebihan. (L.03120.06) Tanda-tanda vital klien dalam rentang normal pascapersalinan. (L.03120.07) Klien mengonsumsi nutrisi dan cairan yang adekuat. (L.03120.08) Klien menggunakan sistem pendukung (keluarga) yang tersedia. (L.03120.09) Klien menunjukkan penampilan yang lebih segar dan mengurangi keluhan kelemahan. Secara spesifik untuk kondisi ibu dengan persalinan prematur, keberhasilan juga diukur dari kemampuan klien untuk berpartisipasi dalam perawatan bayi prematur (jika diizinkan) dengan tingkat kelelahan yang terkelola, serta menunjukkan pemahaman tentang proses pemulihan pascapersalinan prematur yang mungkin memerlukan waktu lebih lama. Pencapaian kriteria ini menunjukkan bahwa klien telah beradaptasi dengan tuntutan masa nifas dan memiliki sumber daya yang cukup untuk pemulihan, sehingga mengurangi risiko komplikasi fisik dan psikologis lebih lanjut.
-
Article No. 24136 | 19 Feb 2026
Klinis : pasien datang dengan keluhan kejang anggota gerak kanan sejak pagi ini pukul 07.00, pasien mengatakan anggota gerak kanan bergerak-gerak sendiri tidak bisa dikontrol, pusing (+), mual (+), muntah (-), demam (-), nyeri dada (-), keringat dingin (-), nyeri perut (-), BAK dan BAB dbn KU lemah, GCS E3V4M5 TD : 181/113 HR : 59 RR : 13 S : 36.2 SpO2 : 96 Status Generalisata Mata: RC +/+, isokor Mulut : Deviasi lidah Minimal Leher:dbn Thorax: Simetris ka/ki Paru: SDV +/+ Wh -/- Rh -/-RBK -/- RBH -/- Abdomen: supel, BU (+) NT - Genitalia : dalam batas normal Extremitas Superior: motorik kanan sde / kiri 5, sensorik 5/5 Extremitas Inferior: motorik kanan sde / kiri 5, sensorik 5/5 Pemeriksaan neurologis Sensorik : tidak dapat dievaluasi Kekuatan motorik: tidak terdapat lateralisasi Refleks fisiologis: +3/+2/+3/+2 Refleks patologis: -/-/-/- Voluntary eye movement (+) Blink to threat (+) Refleks kornea (+) visual pursuit (+) NIHSS: 27 FR: - Komplikasi tirah baring: - - Infeksi: ulkus decubitus - Stress ulcer: - - DVT: - - Disfagia: (-) - cemas: - Komorbid: - Lab 17/2/26 Hemoglobin 18.55 Eritrosit 6.20 Hematokrit 55.1 Lekosit 13.83 Trombosit 262 GDS 104 Ureum 42.8 Kreatinin 1.18 CT Scan kepala 17/2/26 Kesan : - ICH di thalamus sinistra - Infark cerebri di periventrikel lateralis sinistra Ro.thorax 17/2/26 Kesan : - Pulmo normal - Cardiomegali
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan otak.
Kode SLKI: L.14002
Deskripsi : Perfusi serebral membaik, ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan, 2) Status neurologis stabil atau membaik, 3) Tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial, 4) Tanda vital dalam rentang yang diharapkan.
Kode SIKI: I.14049
Deskripsi : 1. Monitor status neurologis (GCS, pupil, kekuatan motorik, tanda vital) secara teratur dan berkala. 2. Monitor tanda dan gejala peningkatan tekanan intrakranial (nyeri kepala, muntah proyektil, penurunan kesadaran, perubahan pupil). 3. Pertahankan posisi kepala tempat tidur 30 derajat (kecuali kontraindikasi). 4. Kolaborasi pemberian terapi untuk mengontrol tekanan darah sesuai indikasi. 5. Monitor tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu. 6. Berikan oksigen sesuai kebutuhan. 7. Minimalkan stimulasi (suara, cahaya, nyeri). 8. Lakukan reposisi dengan teknik yang aman, hindari manuver valsava. 9. Kolaborasi dalam pemantauan tekanan intrakranial dan tekanan perfusi serebral jika diperlukan. 10. Ajarkan keluarga untuk melaporkan perubahan status neurologis pasien.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan waktu berakhirnya.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Nyeri terkontrol, ditandai dengan: 1) Mengungkapkan nyeri berkurang/hilang, 2) Skala nyeri menurun, 3) Perilaku nyeri menurun, 4) Tanda vital dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.03029
Deskripsi : 1. Kaji nyeri (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, faktor pencetus dan pereda, skala nyeri). 2. Observasi reaksi nonverbal ketidaknyamanan (perubahan pola nafas, ekspresi wajah, gelisah, menangis). 3. Monitor tanda vital. 4. Ajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri (nafas dalam, distraksi, relaksasi, imajinasi terbimbing). 5. Atur posisi untuk kenyamanan. 6. Lakukan manajemen lingkungan (pengaturan cahaya, suhu, kebisingan). 7. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi. 8. Evaluasi efektivitas dan efek samping intervensi nyeri. 9. Berikan informasi tentang nyeri dan penanganannya. 10. Libatkan keluarga dalam penanganan nyeri nonfarmakologi.
Kondisi: Risiko Cedera
<Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami cedera fisik akibat faktor lingkungan yang berinteraksi dengan sumber pertahanan adaptif dan protektif individu.
Kode SLKI: L.19001
Deskripsi : Cedera tidak terjadi, ditandai dengan: 1) Lingkungan aman, 2) Tidak ada tanda cedera fisik, 3) Menggunakan alat protektif sesuai indikasi.
Kode SIKI: I.19023
Deskripsi : 1. Identifikasi faktor risiko cedera (kejang, penurunan kesadaran, kelemahan motorik). 2. Pertahankan lingkungan yang aman (pagar tempat tidur terpasang, lantai tidak licin, pencahayaan adequate, jauhkan benda berbahaya). 3. Tempatkan pasien di ruangan yang mudah diawasi. 4. Gunakan restraint yang aman sesuai kebijakan jika diperlukan untuk mencegah cedera selama kejang. 5. Anjurkan keluarga untuk mendampingi pasien. 6. Ajarkan keluarga untuk mengenali tanda awal kejang dan tindakan yang aman selama kejang (longgarkan pakaian, miringkan posisi, jangan memasukkan sesuatu ke mulut). 7. Pastikan alat komunikasi dalam jangkauan. 8. Bantu aktivitas jika kelemahan atau ketidakseimbangan. 9. Monitor efek samping obat yang meningkatkan risiko jatuh. 10. Berikan alas tidur yang empuk untuk mengurangi trauma jika terjadi kejang.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0095
Deskripsi Singkat: Kekurangan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.09005
Deskripsi : Toleransi aktivitas meningkat, ditandai dengan: 1) Mampu melakukan aktivitas sesuai kemampuan, 2) Tanda vital dalam rentang normal selama dan setelah aktivitas, 3) Tidak mengeluh lemas, 4) Tidak terjadi penurunan kesadaran saat aktivitas.
Kode SIKI: I.09017
Deskripsi : 1. Kaji respons fisiologis terhadap aktivitas (denyut nadi, pernapasan, tekanan darah, saturasi oksigen, kelelahan). 2. Bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai toleransi. 3. Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan setelah aktivitas. 4. Atur jadwal aktivitas untuk menghindari kelelahan. 5. Tingkatkan aktivitas secara bertahap sesuai kondisi. 6. Ajarkan teknik menghemat energi. 7. Kolaborasi dengan fisioterapi untuk program latihan. 8. Bantu pasien dalam ambulasi/ perubahan posisi dengan bantuan sesuai kebutuhan. 9. Monitor adanya kelemahan atau pusing saat aktivitas. 10. Berikan dukungan nutrisi yang adekuat untuk penyediaan energi.
Kondisi: Defisit Perawatan Diri: Mandi/ Berhias
Kode SDKI: D.0121
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas mandi dan berhias sendiri.
Kode SLKI: L.04005
Deskripsi : Kemampuan perawatan diri: mandi/berhias meningkat, ditandai dengan: 1) Mengungkapkan mampu melakukan perawatan diri, 2) Melakukan aktivitas mandi dan berhias sesuai kemampuan, 3) Menggunakan alat bantu sesuai kebutuhan.
Kode SIKI: I.04009
Deskripsi : 1. Kaji kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas mandi dan berhias (mencuci, mengeringkan badan, menyisir rambut, menggosok gigi, mencukur). 2. Bantu pasien dalam aktivitas mandi dan berhias sesuai kebutuhan. 3. Sediakan alat bantu sesuai kebutuhan (kursi mandi, sikat gigi pegangan panjang). 4. Ajarkan teknik mandi dan berhias yang aman. 5. Berikan pujian atas partisipasi pasien. 6. Libatkan keluarga dalam membantu perawatan diri. 7. Pertahankan privasi dan harga diri pasien selama perawatan. 8. Atur lingkungan agar aman dan nyaman (lantai tidak licin, air dengan suhu aman). 9. Anjurkan penggunaan pakaian yang mudah dipakai dan dilepas. 10. Monitor kelelahan selama aktivitas perawatan diri.
-
Article No. 24137 | 19 Feb 2026
Klinis : pasien dengan penurunan kesadaran riw: DM, jantung ku lemah sopor TD: 112/73 N : 121 S : 36,4 RR : 30 SPO2 : 97 Status Generalisata Mata: RC +/+, isokor Mulut : dbn Leher:dbn Thorax: Simetris ka/ki Paru: SDV +/+ Wh -/- Rh -/-RBK -/- RBH -/- Abdomen: supel, BU (+) NT - Genitalia : dalam batas normal Extremitas Superior: akral dingin +/+ crt < 2 dtk Extremitas Inferior: akral dingin +/+ crt < 2 dtk Pemeriksaan neurologis Sensorik : tidak dapat dievaluasi Kekuatan motorik: tidak terdapat lateralisasi Refleks fisiologis: +3/+2/+3/+2 Refleks patologis: -/-/-/- Voluntary eye movement (-) Blink to threat (-) Refleks kornea (-) visual pursuit (-) Hasil lab 18/2/26 hb 12.54 eritrosit 4.41 hmt 38.3 lekosit 23.22 trombosit 304 Na 138 K 4.8 Cl 103 Ca2+ 1.3 pH 7.18 GDs 398 ureum 108.5 kreatinin 1.84 Thorax : Kesan : - Cardiomegali dan pulmo normal - Elongatio aortae dan aortosklerosis CT-Scan: Kesan : - Kalsifikasi multiple simetris di intracerebri, curiga suatu Fahr disease - Atrophy cerebri - Tak tampak massa, perdarahan, infark intracerebri maupun intracerebelli
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Sopor) pada Pasien dengan Kompleksitas Multisistem (DM, Gagal Jantung, Ensefalopati Metabolik/Uremik, dan Fahr Disease)
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Penurunan Perfusi Serebral. Definisi: Keadaan individu yang berisiko mengalami penurunan suplai darah dan oksigen ke otak yang dapat mengganggu fungsi neurologis. Pada pasien ini, risiko telah menjadi realita dengan manifestasi sopor. Faktor risikonya multifaktorial: 1) Hiperglikemia berat (GDS 398) yang dapat menyebabkan diuresis osmotik dan hipovolemia, mengurangi curah jantung dan perfusi serebral. 2) Gagal jantung (dari riwayat jantung dan kardiomegali) yang menurunkan curah jantung secara sistemik. 3) Asidosis metabolik (pH 7.18) yang mengganggu fungsi seluler dan vaskular serebral. 4) Uremia (ureum 108.5) yang bersifat toksik terhadap otak dan mengganggu sawar darah otak. 5) Kalsifikasi intraserebral (Fahr disease) dan atrofi serebri yang merupakan substrat anatomi yang rentan terhadap penurunan perfusi. Kombinasi faktor-faktor ini menyebabkan gangguan difusi oksigen dan nutrisi ke jaringan otak, memicu penurunan kesadaran dari ringan hingga berat (sopor).
Kode SLKI: L.03114
Deskripsi : Perfusi Serebral Membaik. Tujuan akhir adalah kesadaran pasien kembali normal, namun dalam kondisi akut, tujuan difokuskan pada pencegahan kerusakan lebih lanjut dan perbaikan tanda-tanda klinis. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang yang dapat diterima untuk pasien (TD stabil, frekuensi jantung menurun dari 121 menuju normal, RR 30 perlu dimonitor karena bisa terkait asidosis). 2) Status neurologis tidak memburuk dan menunjukkan perbaikan bertahap (misalnya, munculnya refleks kornea atau blink to threat). 3) Parameter laboratorium yang berkontribusi terhadap ensefalopati menunjukkan perbaikan (pH mendekati normal, penurunan GDS dan kadar ureum). 4) Tanda perfusi perifer (akral dingin, CRT <2 detik) membaik seiring stabilisasi hemodinamik. 5) Tidak terjadi komplikasi sekunder akibat imobilisasi dan penurunan kesadaran. Perawat akan memantau GCS secara ketat, tanda vital, dan respons terhadap terapi medis (koreksi cairan-elektrolit, insulin, manajemen gagal jantung, dan mungkin dialisis untuk uremia).
Kode SIKI: I.05229
Deskripsi : Manajemen Perfusi Serebral. Intervensi keperawatan yang komprehensif dan sistematis untuk mengoptimalkan aliran darah dan oksigenasi otak. Intervensi ini meliputi: 1) **Pemantauan Ketat**: Memonitor status neurologis (GCS, pupil, refleks batang otak) setiap jam atau lebih sering sesuai kebutuhan. Memantau tanda vital, saturasi oksigen, dan tanda perfusi perifer. 2) **Optimasi Oksigenasi dan Ventilasi**: Memastikan jalan napas paten, memberikan oksigen tambahan sesuai order untuk mempertahankan SpO2 >95% (saat ini 97%), dan memposisikan kepala tempat tidur 30 derajat untuk meningkatkan aliran balik vena serebral. 3) **Manajemen Hemodinamik**: Kolaborasi pemberian cairan intravena dengan hati-hati untuk mengoreksi dehidrasi dari hiperglikemia tanpa membebani jantung. Memantau balance cairan ketat. Memberikan terapi obat sesuai order (insulin untuk menurunkan GDS, obat inotropik/vasodilator untuk gagal jantung, dan koreksi asidosis). 4) **Lingkungan Terapeutik**: Meminimalkan stimulasi yang tidak perlu (cahaya, suara) yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial. Melakukan perawatan dengan tenang dan terkoordinasi. 5) **Perawatan Dasar dan Pencegahan Komplikasi**: Melakukan perawatan kulit untuk mencegah dekubitus, perawatan mata jika kornea kering, perawatan mulut, dan mobilisasi pasif untuk mencegah kontraktur dan trombosis. 6) **Kolaborasi dan Edukasi**: Berkolaborasi erat dengan tim medis untuk rencana dialisis jika diperlukan. Berkomunikasi dengan keluarga mengenai kondisi pasien dan rencana perawatan. Intervensi ini dilakukan secara terus-menerus dan dievaluasi respons pasien untuk mencegah kerusakan neurologis permanen.
-
Article No. 24138 | 19 Feb 2026
Klinis : Px mengatakan pusing berputar dan cenut-cenut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular yang tidak diinginkan. (Catatan: Keluhan pusing berputar (vertigo) dan cenut-cenut (nyeri kepala) dapat menjadi tanda awal dari ketidakseimbangan volume cairan, seperti dehidrasi atau kelebihan cairan, yang mempengaruhi tekanan intrakranial dan perfusi serebral).
Kode SLKI: L.14018
Deskripsi : SLKI: Keseimbangan Cairan. Tujuan akhirnya adalah pasien mempertahankan keseimbangan cairan yang dibuktikan dengan tanda-tanda vital dalam rentang normal, turgor kulit baik, membran mukosa lembab, haluaran urine adekuat, dan tidak ada keluhan pusing hebat atau sakit kepala yang mengganggu. Secara spesifik, perawat menetapkan kriteria hasil yang dapat diukur, seperti: 1) Tekanan darah sistolik dan diastolik pasien dalam rentang normalnya; 2) Denyut nadi pasien dalam rentang normal dan ritmis; 3) Membran mukosa bibir dan konjungtiva lembab; 4) Turgor kulit kembali dengan cepat saat dicubit; 5) Haluaran urine ≥ 30 ml/jam atau sesuai berat jenis urine normal; 6) Keluhan pusing dan sakit kepala berkurang atau hilang; 7) Keseimbangan cairan intake dan output dalam batas seimbang (biasanya ± 200-500 ml/hari). Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil dalam mencegah atau mengatasi ketidakseimbangan volume cairan yang menjadi penyebab atau faktor kontribusi keluhan pasien.
Kode SIKI: I.12280
Deskripsi : SIKI: Manajemen Cairan. Intervensi ini melibatkan pemberian cairan dan elektrolit, serta pemantauan status cairan untuk mencegah atau mengatasi ketidakseimbangan. Penjelasan rinci meliputi: 1) **Pemantauan Ketat**: Memonitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) secara berkala, karena hipotensi ortostatik dan takikardia dapat mengindikasikan defisit volume cairan. Memantau asupan (intake) dan haluaran (output) cairan setiap 24 jam untuk menilai keseimbangan. Mengobservasi karakteristik urine (warna, berat jenis, jumlah). 2) **Pemeriksaan Fisik**: Menilai turgor kulit, kelembaban membran mukosa, ada/tidaknya edema, dan pengisian kapiler. Keluhan pusing dievaluasi lebih lanjut (saat muncul, pemicu, intensitas, dan hubungannya dengan perubahan posisi). 3) **Intervensi Pemberian Cairan**: Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi cairan intravena (jika diperlukan) atau peningkatan asupan oral sesuai program dan toleransi pasien. Memastikan akses cairan mudah dijangkau pasien. 4) **Edukasi dan Pencegahan**: Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang pentingnya menjaga asupan cairan yang adekuat, terutama jika ada faktor risiko seperti demam, diare, atau muntah. Mengajarkan untuk menghindari perubahan posisi yang tiba-tiba (dari tidur ke duduk/berdiri) untuk mencegah pusing ortostatik. Menganjurkan teknik relaksasi dan manajemen nyeri non-farmakologis untuk mengurangi sensasi cenut-cenut. 5) **Lingkungan yang Mendukung**: Menjaga lingkungan tetap nyaman (suhu ruangan sejuk) untuk mengurangi kehilangan cairan melalui keringat. Membantu pasien dalam ambulasi jika pusing untuk mencegah risiko cedera jatuh. 6) **Kolaborasi dan Rujukan**: Berkolaborasi dengan tim medis untuk pemeriksaan laboratorium (seperti elektrolit, hematokrit) guna menilai status cairan dan elektrolit secara objektif. Melaporkan setiap perubahan status atau respons terhadap terapi. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan aspek teknis pemantauan dengan aspek edukatif dan suportif untuk mencapai keseimbangan volume cairan yang optimal.
-
Article No. 24139 | 19 Feb 2026
Klinis : Keluhan: Mengeluh nyeri perut berulang dan sesak napas pada usia kehamilan 29 minggu. Riwayat kesehatan: Pernah keguguran 2x 2. Riwayat Obstetri Bad Obstetric History (BOH) dengan dua kali aborsi spontan sebelumnya pada usia gestasi 4 bulan 3. Data Laboratorium dan Diagnostik •Serologi : Hasil tes TORCH positif untuk rubella IgG dan CMV IgG •USG Janin: Polyhydramnios, edema subkutan pada kepala, leher, dan wajah (hydrops fetalis). Efusi pleura bilateral, ascites, serta kelainan thorax. •Kondisi janin: infusiensi fetoplasenta dan absent and diastolic flow pada arteri umbilikalis 4. Pemeriksaan Fisik •TD 110/80 mmHg •RR 16x/menit •Nadi 76x/menit • Suhu tubuh normal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi Berdasarkan SDKI, SLKI, SIKI
Berdasarkan data pasien yang diberikan, berikut adalah rumusan diagnosa keperawatan, luaran keperawatan, dan intervensi keperawatan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) melalui standar SDKI, SLKI, dan SIKI.
Analisis Data Pasien:
- Keluhan Ibu: Nyeri perut berulang, sesak napas (usia kehamilan 29 minggu).
- Riwayat Obstetri: Bad Obstetric History (BOH) dengan dua kali aborsi spontan sebelumnya pada usia gestasi 4 bulan.
- Data Laboratorium: Serologi TORCH positif (Rubella IgG dan CMV IgG). Ini mengindikasikan infeksi masa lalu, namun dalam konteks hydrops fetalis, perlu dipertimbangkan kemungkinan reaktivasi atau infeksi primer yang terjadi selama kehamilan ini yang menyebabkan komplikasi janin.
- USG Janin: Polyhydramnios, edema subkutan pada kepala, leher, dan wajah (hydrops fetalis). Efusi pleura bilateral, ascites, serta kelainan thorax.
- Kondisi Janin: Insufisiensi fetoplasenta dan absent end-diastolic flow pada arteri umbilikalis (menunjukkan gawat janin/kompromi sirkulasi janin yang berat).
- Pemeriksaan Fisik Ibu: TD, RR, Nadi, Suhu dalam batas normal. Keluhan nyeri perut dan sesak napas pada ibu kemungkinan besar berkaitan dengan distensi uterus akibat polyhydramnios dan penekanan diafragma.
Dari data di atas, kondisi janin sangat kritis dan menjadi prioritas utama. Hydrops fetalis, insufisiensi fetoplasenta, dan absent end-diastolic flow adalah tanda-tanda gawat janin yang berat dan mengancam jiwa janin.
1. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI)
SDKI adalah panduan sistematis untuk merumuskan diagnosa keperawatan berdasarkan data klinis pasien. Diagnosa keperawatan yang paling relevan dan prioritas utama untuk kasus ini adalah:
Kode SDKI
Diagnosa Keperawatan
Definisi
Data Pendukung pada Pasien
D.0021
Risiko Gawat Janin
Berisiko mengalami kondisi janin yang mengancam kehidupan akibat gangguan keseimbangan suplai oksigen dan kebutuhan oksigen janin.
- Faktor Risiko:
- Insufisiensi plasenta (terbukti dari insufisiensi fetoplasenta dan absent end-diastolic flow pada arteri umbilikalis).
- Infeksi
-
Article No. 24143 | 19 Feb 2026
Klinis : Keluhan : Mengeluh nyeri perut berulang dan sesak napas pada usia kehamilan 29 minggu. Riwayat kesehatan: Pernah keguguran 2x 2. Riwayat Obstetri Bad Obstetric History (BOH) dengan dua kali aborsi spontan sebelumnya pada usia gestasi 4 bulan 3. Data Laboratorium dan Diagnostik •Serologi : Hasil tes TORCH positif untuk rubella IgG dan CMV IgG •USG Janin: Polyhydramnios, edema subkutan pada kepala, leher, dan wajah (hydrops fetalis). Efusi pleura bilateral, ascites, serta kelainan thorax. •Kondisi janin: infusiensi fetoplasenta dan absent and diastolic flow pada arteri umbilikalis 4. Pemeriksaan Fisik •TD 110/80 mmHg •RR 16x/menit •Nadi 76x/menit • Suhu tubuh normal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: