Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24218 | 24 Feb 2026
Klinis : gangguan pergi si jaringan perifer
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Perfusi Jaringan Perifer
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Penurunan sirkulasi darah ke perifer yang dapat mengancam kesehatan jaringan.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Perfusi jaringan perifer membaik. Tujuan dari SLKI ini adalah untuk memastikan bahwa pasien dapat mempertahankan atau mengembalikan sirkulasi darah yang adekuat ke ekstremitas, ditandai dengan nadi perifer yang teraba kuat dan simetris, warna kulit normal (tidak pucat, sianosis, atau kemerahan), suhu kulit hangat, pengisian kapiler kurang dari 3 detik, tidak ada nyeri istirahat, edema minimal atau tidak ada, serta integritas kulit yang terjaga. Perawat akan memantau tanda-tanda vital, khususnya tekanan darah dan denyut nadi perifer, menilai warna, suhu, sensasi, dan motilitas ekstremitas secara berkala. Intervensi juga mencakup memposisikan ekstremitas untuk meningkatkan aliran darah (misalnya, meninggikan atau menurunkan sesuai indikasi), menghindari tekanan langsung pada pembuluh darah, dan mendorong aktivitas atau latihan ringan sesuai toleransi. Edukasi pada pasien dan keluarga mengenai tanda-tanda gangguan perfusi yang harus diwaspadai, pentingnya menghindari paparan dingin ekstrem, dan tidak merokok (karena nikotin menyebabkan vasokonstriksi) merupakan bagian kritis dari pencapaian luaran ini. Peningkatan perfusi jaringan perifer sangat penting untuk mencegah komplikasi serius seperti ulkus, nekrosis, atau bahkan amputasi.
Kode SIKI: 2610
Deskripsi : Manajemen Perfusi Perifer. Intervensi keperawatan ini berfokus pada promosi, pemantauan, dan pemulihan sirkulasi darah yang adekuat ke ekstremitas. Aktivitas utama meliputi: 1) Pemantauan dan pengkajian menyeluruh terhadap status neurovaskuler ekstremitas (pulsasi, warna, suhu, kapilar refill, sensasi, edema, dan nyeri) secara teratur dan bandingkan antara sisi yang sakit dan sehat. 2) Mempertahankan posisi tubuh yang optimal untuk meningkatkan aliran darah, seperti meninggikan ekstremitas pada kasus edema atau menurunkannya jika pucat dan dingin, serta menghindari posisi yang menekan pembuluh darah (misalnya, menyilangkan kaki). 3) Memfasilitasi mobilisasi dan latihan rentang gerak (ROM) pasif/aktif sesuai kemampuan untuk memanfaatkan pompa otot dalam meningkatkan venous return. 4) Melindungi ekstremitas dari cedera, tekanan, dan suhu ekstrem (panas/dingin). 5) Kolaborasi dalam pemberian terapi farmakologi seperti antikoagulan, antiplatelet, atau vasodilator sesuai resep, dan memantau efek serta efek sampingnya. 6) Memberikan edukasi kesehatan yang komprehensif kepada pasien dan keluarga tentang faktor risiko (merokok, diabetes, hiperlipidemia), tanda dan gejala iskemia (kaki terasa dingin, nyer, kesemutan, perubahan warna), perawatan kaki yang tepat (memeriksa kaki setiap hari, menjaga kebersihan dan kelembaban, memakai alas kaki yang sesuai), serta pentingnya kepatuhan terhadap terapi dan kontrol penyakit penyerta (seperti hipertensi dan diabetes). Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan aspek teknis pemantauan dengan aspek edukatif dan preventif untuk mengoptimalkan hasil klinis pasien dan mencegah deteriorasi kondisi.
-
Article No. 24219 | 24 Feb 2026
Klinis : Gangguan perfusi jaringan parifer
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Perfusi Jaringan Perifer
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Penurunan nutrisi dan oksigenasi pada tingkat jaringan perifer akibat penurunan suplai darah arteri dan/atau drainase vena.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Perfusi jaringan perifer membaik. Kriteria hasil: 1) Kulit hangat pada ekstremitas, 2) Warna kulit normal pada ekstremitas, 3) Denyut nadi perifer teraba kuat dan simetris, 4) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 5) Tidak ada nyeri pada ekstremitas, 6) Tidak ada edema, 7) Tidak ada perubahan sensasi (kesemutan, baal), 8) Tekanan darah dalam rentang normal yang diharapkan, 9) Kualitas hidup membaik.
Kode SIKI: 4160
Deskripsi : Manajemen perfusi jaringan perifer. Intervensi: 1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu). 2) Kaji kualitas dan kekuatan denyut nadi perifer (radialis, dorsalis pedis, tibialis posterior). 3) Kaji warna, suhu, kelembaban, tekstur, dan turgor kulit serta membran mukosa. 4) Kaji pengisian kapiler. 5) Kaji adanya nyeri, kram, kesemutan, baal (parestesia) pada ekstremitas. 6) Kaji tingkat edema (pitting/non-pitting) dan lakukan pengukuran lingkar ekstremitas jika diperlukan. 7) Posisikan ekstremitas lebih rendah dari jantung (kecuali jika ada kontraindikasi seperti edema berat atau kondisi arteri). 8) Anjurkan untuk menghindari menyilangkan kaki atau pergelangan kaki. 9) Anjurkan untuk menghindari paparan suhu ekstrem (dingin/panas). 10) Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai kebutuhan. 11) Kolaborasi pemberian terapi medikasi (vasodilator, antikoagulan, analgesik) sesuai program. 12) Ajarkan teknik relaksasi untuk mengurangi ansietas. 13) Anjurkan aktivitas fisik sesuai toleransi dan hindari imobilisasi lama. 14) Anjurkan diet seimbang, rendah garam dan rendah lemak jenuh. 15) Edukasi untuk menghindari konstriksi sirkulasi (pakaian ketat, gelang). 16) Monitor hasil pemeriksaan diagnostik (Doppler ultrasound, ABI).
-
Article No. 24220 | 24 Feb 2026
Klinis : Gangguan perfusi jaringan parifer
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Perfusi Jaringan Perifer
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Penurunan nutrisi dan oksigenasi pada tingkat kapiler yang dapat mengancam kehidupan.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Perfusi jaringan perifer membaik. Indikator: 1) Denyut nadi perifer teraba dan kuat, 2) Warna kulit ekstremitas normal/tidak pucat/sianosis, 3) Suhu kulit ekstremitas hangat, 4) Pengisian kapiler < 3 detik, 5) Tidak ada nyeri/kesemutan/baal pada ekstremitas, 6) Tekanan darah dalam rentang normal, 7) Tidak ada edema, 8) Turgor kulit baik.
Kode SIKI: 2610, 2620, 2630, 2640, 2650, 2660, 2670, 2680, 2690
Deskripsi : 2610 Pemantauan Hemodinamik: Mengumpulkan dan menganalisis data tentang status hemodinamik pasien untuk memandu intervensi. Meliputi pemantauan tanda-tanda vital (khususnya tekanan darah dan nadi), pengisian kapiler, warna, suhu, dan sensasi kulit ekstremitas secara berkala. 2620 Manajemen Perfusi: Meningkatkan atau mempertahankan aliran darah ke mikrosirkulasi perifer. Intervensi mencakup posisi ekstremitas yang tepat (misalnya, elevasi jika ada edema, hindari posisi menekan), menjaga kehangatan ekstremitas (hindari paparan dingin langsung, gunakan selimut), dan menghindari konstriksi sirkulasi (misalnya, pakaian ketat, pembebatan yang terlalu kencang). 2630 Manajemen Cairan/Volume: Meningkatkan atau membatasi asupan cairan untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan tekanan perfusi yang adekuat. Dapat berupa pemberian cairan intravena sesuai resep atau pembatasan cairan, selalu dengan pemantauan ketat tanda-tanda kelebihan beban cairan atau dehidrasi. 2640 Perawatan Luka: Mencegah infeksi dan memfasilitasi penyembuhan luka iskemik atau ulkus yang mungkin terjadi akibat perfusi buruk. Meliputi perawatan luka steril, penggunaan balutan yang sesuai, dan pencegahan trauma pada area yang berisiko. 2650 Manajemen Nyeri: Meringankan atau mengurangi sensasi nyeri yang timbul akibat iskemia jaringan. Meliputi penilaian karakteristik nyeri, pemberian analgesik sesuai resep, dan teknik non-farmakologis seperti reposisi yang nyaman. 2660 Manajemen Aktivitas: Memfasilitasi pergerakan dan ambulasi untuk meningkatkan sirkulasi, sekaligus mengatur aktivitas untuk mencegah kelelahan yang dapat memperburuk perfusi. Membantu latihan rentang gerak pasif/aktif dan ambulasi bertahap sesuai toleransi. 2670 Edukasi Kesehatan: Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang kondisi, penyebab, pencegahan komplikasi, dan perawatan diri. Misalnya, edukasi tentang pentingnya berhenti merokok, perawatan kaki pada pasien diabetes, mengenali tanda-tanda memburuk (nyeri hebat, perubahan warna/warna hitam, dingin), dan kepatuhan terhadap terapi obat. 2680 Kolaborasi Pemberian Obat: Bekerja sama dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan untuk meningkatkan perfusi, seperti vasodilator, antikoagulan, atau antiplatelet, dengan memantau efek terapi dan efek samping. 2690 Manajemen Risiko: Melindungi pasien dari cedera lebih lanjut pada jaringan yang mengalami perfusi buruk. Meliputi pencegahan trauma (hindari menggaruk, gunakan alas kaki yang aman), inspeksi kulit harian, dan menjaga kulit tetap bersih dan kering.
-
Article No. 24221 | 24 Feb 2026
Klinis : pasien mengatakan mual dan perut begah sudah 3 hari
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Mual
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman subjektif yang tidak menyenangkan berupa dorongan untuk muntah.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Mual. Kriteria hasil: 1) Mengungkapkan berkurangnya perasaan mual. 2) Mengungkapkan tidak adanya mual. 3) Menunjukkan tanda-tanda tidak adanya mual (misalnya, tidak meringis, tidak menelan berulang, tidak pucat, tidak berkeringat). 4) Mengungkapkan kemampuan untuk mengelola faktor pemicu. 5) Mempertahankan asupan nutrisi dan hidrasi yang adekuat. 6) Mempertahankan berat badan dalam rentang yang diharapkan.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : Manajemen Mual. Intervensi keperawatan: 1) Kaji karakteristik mual: onset, durasi, frekuensi, faktor pemicu dan penghilang, serta gejala terkait (misalnya, peningkatan air liur, pucat, berkeringat, takikardia). 2) Kaji dampak mual terhadap status nutrisi, hidrasi, dan kualitas hidup. 3) Monitor tanda-tanda dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. 4) Kolaborasi pemberian farmakoterapi antiemetik sesuai indikasi. 5) Ajarkan teknik non-farmakologis untuk mengontrol mual: relaksasi, distraksi, aromaterapi (seperti menghirup minyak peppermint atau lemon), akupresur (titik P6/Neiguan). 6) Atur posisi untuk meminimalkan aspirasi dan meningkatkan kenyamanan (misalnya, kepala lebih tinggi). 7) Anjurkan untuk menghindari bau menyengat, suhu ekstrem, dan lingkungan bising yang dapat memicu mual. 8) Atur pola makan: porsi kecil dan sering, makanan kering dan hambar (seperti biskuit, roti panggang) saat bangun tidur, hindari makanan berlemak, berminyak, terlalu manis atau pedas. 9) Anjurkan untuk tidak langsung berbaring setelah makan. 10) Berikan perawatan mulut yang teratur untuk menghilangkan rasa tidak enak. 11) Fasilitasi dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan yang dapat memperberat mual.
Kondisi: Ketidaknyamanan: Abdomen
Kode SDKI: 0023
Deskripsi Singkat: Perasaan tidak nyaman yang dirasakan di daerah abdomen.
Kode SLKI: 1402
Deskripsi : Kontrol Ketidaknyamanan: Abdomen. Kriteria hasil: 1) Mengungkapkan penurunan atau hilangnya perasaan tidak nyaman di abdomen. 2) Menunjukkan perilaku nyaman (misalnya, ekspresi wajah rileks, postur tubuh terbuka, mampu beristirahat). 3) Mendemonstrasikan teknik untuk mengontrol ketidaknyamanan. 4) Menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal. 5) Menunjukkan fungsi gastrointestinal yang membaik (misalnya, suara bising usus normal, flatus, pola BAB teratur).
Kode SIKI: 4202
Deskripsi : Manajemen Ketidaknyamanan: Abdomen. Intervensi keperawatan: 1) Kaji karakteristik ketidaknyamanan: lokasi, kualitas, intensitas (skala 0-10), durasi, faktor yang memperberat dan meringankan. 2) Kaji tanda dan gejala terkait: distensi abdomen, perubahan bising usus, kesulitan BAB/BAK, mual, muntah, demam. 3) Monitor tanda-tanda vital dan status hidrasi. 4) Kolaborasi pemberian farmakoterapi sesuai penyebab (analgesik, antispasmodik, pencahar ringan) sesuai indikasi. 5) Ajarkan dan bantu teknik non-farmakologis: kompres hangat pada abdomen (kecuali ada tanda inflamasi akut), posisi yang nyaman (misalnya, posisi miring dengan lutut ditekuk), relaksasi napas dalam, distraksi. 6) Anjurkan mobilisasi bertahap untuk merangsang peristaltik usus. 7) Lakukan dan ajarkan pijatan abdomen lembut searah jarum jam (dari sekum ke kolon asendens, transversum, desendens). 8) Atur pola makan: hindari makanan pembentuk gas (kol, kacang-kacangan, minuman berkarbonasi), perbanyak serat secara bertahap jika terkait konstipasi, pastikan asupan cairan adekuat. 9) Bantu memenuhi kebutuhan eliminasi dengan menyediakan privasi dan posisi yang sesuai. 10) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk penyesuaian diet. 11) Edukasi pasien tentang hubungan antara stres, pola makan, aktivitas, dan ketidaknyamanan abdomen.
-
Article No. 24222 | 24 Feb 2026
Klinis : KELUHAN SESAK NAFAS KIAN MEBERAT SEJAK 3 HARI YANG LALU, TEKANAN DARAH 130 / 60 MMHG, NADI 90, PERNAFASAN 28 KALI/ MENIT, SATURASI 92, MUAL ADA, NAFSU MAKAN MENURUN, BERAT BADAN MENURUN, BELUM BUANG AIR BESAR SELAMA 7 HARI, PERASAAN GELISAH, SERING TERBANGUN. TERDAPAT BATUK LENDIR SUSAH DIKELUARKAN DAN TENGGOROKAN GATAL
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gagal Napas Akut pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dengan Eksaserbasi Akut dan Konstipasi Berat
Kode ICD-10: J44.1 (PPOK dengan eksaserbasi akut) dan R06.03 (Gagal napas akut)
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan perburukan akut (eksaserbasi) dari Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) yang menyebabkan gagal napas akut. PPOK adalah penyakit paru progresif yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara persisten, biasanya disebabkan oleh paparan jangka panjang terhadap iritan seperti asap rokok. Eksaserbasi akut ditandai dengan memburuknya gejala pernapasan secara tiba-tiba di luar variasi harian yang biasa, seperti sesak napas yang memberat, batuk dengan peningkatan produksi sputum (lendir sulit dikeluarkan), dan mengi. Gagal napas akut terjadi ketika sistem pernapasan tidak mampu mempertahankan pertukaran gas yang adekuat, ditunjukkan oleh saturasi oksigen rendah (92%) dan frekuensi napas meningkat (28 kali/menit). Gejala tambahan seperti gelisah, sering terbangun, nafsu makan menurun, mual, dan penurunan berat badan dapat terkait dengan hipoksia (kekurangan oksigen) dan beban kerja pernapasan yang meningkat. Konstipasi berat (belum BAB selama 7 hari) dapat menjadi komplikasi dari imobilisasi, dehidrasi, atau efek samping pengobatan, serta memperburuk rasa tidak nyaman dan sesak. Kode J44.1 mengklasifikasikan PPOK dengan eksaserbasi akut, sementara R06.03 secara spesifik menandai adanya gagal napas akut yang mengancam jiwa dan memerlukan intervensi medis segera.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24223 | 24 Feb 2026
Klinis : KELUHAN SESAK NAFAS KIAN MEBERAT SEJAK 3 HARI YANG LALU, TEKANAN DARAH 130 / 60 MMHG, NADI 90, PERNAFASAN 28 KALI/ MENIT, SATURASI 92, MUAL ADA, NAFSU MAKAN MENURUN, BERAT BADAN MENURUN, BELUM BUANG AIR BESAR SELAMA 7 HARI, PERASAAN GELISAH, SERING TERBANGUN. TERDAPAT BATUK LENDIR SUSAH DIKELUARKAN DAN TENGGOROKAN GATAL
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten. Kondisi ini ditandai dengan perubahan frekuensi dan irama pernapasan, bunyi napas abnormal (ronkhi, wheezing), batuk tidak efektif atau tidak ada, dispnea, sianosis, gelisah, dan penurunan saturasi oksigen. Pada pasien ini, data yang mendukung adalah keluhan sesak napas yang memberat, frekuensi napas meningkat (28x/menit), saturasi oksigen rendah (92%), batuk dengan lendir yang sulit dikeluarkan, serta perasaan gelisah.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih, 2) Menunjukkan kemampuan untuk mengeluarkan sekresi secara efektif (batuk efektif), 3) Mempertahankan frekuensi dan irama pernapasan dalam rentang normal sesuai usia, 4) Mempertahankan saturasi oksigen dalam rentang normal (≥95%), 5) Tidak menunjukkan tanda-tanda distress pernapasan (seperti penggunaan otot bantu napas, sianosis, atau gelisah). Intervensi keperawatan diarahkan untuk mencapai kriteria hasil ini, seperti memonitor status pernapasan, membantu latihan batuk efektif, dan manajemen oksigen.
Kode SIKI: I.06001
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan untuk memastikan patensi dan pertukaran gas yang optimal. Tindakan spesifik meliputi: 1) Memonitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, bunyi napas, saturasi O2) secara berkala, 2) Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler tinggi untuk memaksimalkan ekspansi paru, 3) Ajarkan dan bantu latihan batuk efektif serta teknik napas dalam, 4) Lakukan fisioterapi dada (seperti perkusi, vibrasi, dan drainase postural) jika indikasi untuk membantu mobilisasi sekresi, 5) Lakukan penghisapan lendir (suction) jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekresi sendiri, 6) Kolaborasi pemberian terapi nebulizer atau obat mukolitik/ bronkodilator sesuai resep untuk melonggarkan sekresi dan jalan napas, 7) Kelola terapi oksigen sesuai order untuk mempertahankan saturasi O2 >95%, 8) Dorong intake cairan yang adekuat (jika tidak ada kontraindikasi) untuk mengencerkan sekresi, 9) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang untuk mengurangi konsumsi oksigen dan kecemasan, serta 10) Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda-tanda distress pernapasan dan kapan harus mencari bantuan.
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat. Ditandai dengan dispnea, frekuensi napas abnormal (takipnea >24x/menit), kedalaman napas abnormal, penggunaan otot bantu napas, penurunan kapasitas vital, penurunan saturasi oksigen arteri, dan perubahan tanda-tanda vital. Pada pasien, data pendukung adalah frekuensi napas 28x/menit (takipnea), saturasi 92%, dan keluhan sesak napas yang memberat yang mengindikasikan ketidakefektifan pola napas dalam memenuhi kebutuhan oksigenasi tubuh.
Kode SLKI: L.04002
Deskripsi : Pola napas efektif. Kriteria hasil yang diharapkan adalah: 1) Frekuensi dan irama napas dalam rentang normal sesuai usia, 2) Tidak mengalami dispnea atau distress pernapasan, 3) Tidak menggunakan otot bantu pernapasan, 4) Saturasi oksigen dalam rentang normal, 5) Ekspansi dada simetris dan adekuat. Tujuan intervensi adalah menstabilkan pola napas dan meningkatkan efisiensi pertukaran gas.
Kode SIKI: I.06008
Deskripsi : Manajemen Pernapasan. Intervensi ini berfokus pada optimasi ventilasi dan oksigenasi. Tindakan yang dilakukan meliputi: 1) Monitor pola, frekuensi, kedalaman, dan usaha pernapasan, 2) Posisikan untuk memudahkan pernapasan (semi-Fowler/Fowler), 3) Ajarkan teknik pernapasan diafragma atau bibir mengerucut (pursed-lip breathing) untuk meningkatkan efisiensi ventilasi dan mengurangi sesak, 4) Kurangi faktor yang meningkatkan konsumsi oksigen (aktivitas berlebihan, kecemasan) dengan mengatur aktivitas dan memberikan lingkungan tenang, 5) Kolaborasi pemberian oksigen dan terapi inhalasi sesuai resep, 6) Pantau hasil analisis gas darah jika tersedia, 7) Berikan dukungan psikologis dan edukasi untuk mengurangi kecemasan yang dapat memperburuk pola napas.
Kondisi: Konstipasi
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Penurunan frekuensi buang air besar dari biasanya disertai dengan pengeluaran feses yang keras/kering, rasa tidak tuntas, dan rasa tidak nyaman/nyeri di rektum. Ditandai dengan laporan kurang dari 3 kali BAB per minggu, feses keras/kering, mengejan kuat, perut kembung, dan nyeri tekan abdomen. Data pada pasien yang sangat relevan adalah belum buang air besar selama 7 hari, disertai dengan gejala mual dan nafsu makan menurun yang dapat menjadi dampak dari konstipasi.
Kode SLKI: L.10001
Deskripsi : Eliminasi BAB efektif. Kriteria hasil mencakup: 1) Mendemonstrasikan peningkatan frekuensi buang air besar mendekati kebiasaan normal pasien, 2) Mengeluarkan feses dengan konsistensi lunak tanpa rasa sakit atau mengejan berlebihan, 3) Tidak melaporkan perasaan kembung atau ketidaknyamanan abdomen, 4) Menunjukkan pemahaman tentang faktor penyebab dan tindakan pencegahan konstipasi.
Kode SIKI: I.11001
Deskripsi : Manajemen Konstipasi. Intervensi ini bertujuan untuk memulihkan eliminasi usus yang normal. Tindakan yang dilakukan antara lain: 1) Kaji pola eliminasi biasa, kebiasaan diet, asupan cairan, aktivitas, dan obat-obatan, 2) Anjurkan peningkatan asupan cairan (jika tidak ada kontraindikasi seperti gagal jantung) minimal 2 liter/hari, 3) Anjurkan peningkatan asupan serat dari buah, sayur, dan biji-bijian, 4) Dorong aktivitas fisik ringan sesuai toleransi (misalnya, jalan di sekitar tempat tidur) untuk meningkatkan motilitas usus, 5) Ajarkan dan bantu latihan ROM pasif/aktif jika pasien lemah, 6) Berikan privasi dan waktu yang cukup untuk defekasi, 7) Kolaborasi pemberian laksatif, pelunak feses, atau supositoria sesuai resep dokter setelah pengkajian menyeluruh, 8) Lakukan palpasi abdomen untuk mendeteksi distensi atau massa feses, 9) Edukasi pasien dan keluarga tentang penyebab konstipasi, diet tinggi serat, pentingnya hidrasi dan aktivitas, serta bahaya penggunaan laksatif jangka panjang tanpa pengawasan.
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0050
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah, ketegangan, atau kekhawatiran yang tidak jelas dan tidak nyaman sebagai respons terhadap ancaman yang tidak spesifik. Ditandai dengan pernyataan cemas, gelisah, gangguan tidur (sering terbangun), fokus pada diri sendiri, ketegangan wajah, dan perubahan tanda vital (seperti takikardia, takipnea). Pada pasien, data yang mendukung adalah perasaan gelisah dan gangguan tidur (sering terbangun) yang dapat dipicu oleh distress pernapasan dan ketidaknyamanan akibat kondisi penyakitnya.
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Kontrol ansietas. Kriteria hasil yang diharapkan adalah: 1) Pasien dapat mengidentifikasi tanda dan penyebab ansietasnya, 2) Melaporkan penurunan perasaan gelisah hingga tingkat yang dapat ditangani, 3) Menunjukkan perilaku yang rileks (misalnya, postur tubuh, ekspresi wajah), 4) Tanda-tanda vital dalam rentang normal, 5) Dapat beristirahat dan tidur dengan cukup.
Kode SIKI: I.14001
Deskripsi : Manajemen Ansietas. Intervensi ini bertujuan untuk membantu pasien mengenali dan mengurangi perasaan cemas. Tindakan meliputi: 1) Kaji tingkat ansietas, faktor pencetus, dan respons fisik/emosional pasien, 2) Temani pasien, gunakan komunikasi terapeutik dengan suara tenang dan empatik, 3) Berikan informasi yang jujur dan jelas tentang kondisi, prosedur, dan pengobatan untuk mengurangi ketidakpastian, 4) Ajarkan teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam
Article No. 24224 | 24 Feb 2026
Klinis : Keluhan deman menggigil, disertai sesak nafas sejak 4 hari yang lalu setelah kehujanan, mual ada, tenggorokan gatal, nafsu makan menurun, nyeri dada sebelah kiri, tidur malam sering berkeringat. Terdapat batuk lendir susah dikeluarkan dan tekanan darah 110 / 70 mmhg, nadi 90 kali permenit , pernafasan 24 kali/ menit, saturasi 95 %
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Perbaikan bersihan jalan napas. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Pola napas kembali normal (eupnea) dan tidak ada sesak napas, 2) Suara napas bersih (tidak ada ronki atau wheezing), 3) Mampu mengeluarkan sekret secara efektif, 4) Tidak menunjukkan tanda-tanda distress pernapasan seperti sianosis, penggunaan otot bantu napas, atau kecemasan, 5) Nilai GDA (Gas Darah Arteri) dalam batas normal, dan 6) Batuk produktif dengan sekret yang jernih.
Kode SIKI: I.08006
Deskripsi : Manajemen Bersihan Jalan Napas. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Memonitor status pernapasan termasuk frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya pernapasan, serta suara napas. 2) Memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi). 3) Mendorong asupan cairan yang adekuat untuk mengencerkan sekret, kecuali ada kontraindikasi. 4) Mengajarkan dan membantu teknik batuk efektif dan latihan napas dalam. 5) Melakukan fisioterapi dada (postural drainage dan perkusi) jika diperlukan. 6) Melakukan penghisapan lendir (suction) jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekret sendiri. 7) Memberikan terapi oksigen sesuai program untuk mempertahankan saturasi oksigen >95%. 8) Memonitor analisa gas darah (AGD) dan saturasi oksigen. 9) Memberikan obat-obatan sesuai program (seperti bronkodilator, mukolitik, ekspektoran) dan evaluasi efektivitasnya. 10) Mengajarkan pasien dan keluarga tentang tanda-tanda gangguan jalan napas dan kapan harus mencari bantuan.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Kontrol nyeri. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Pasien melaporkan nyeri berkurang atau hilang dengan skala nyeri yang dapat diterima (misalnya, skala 0-3), 2) Pasien menunjukkan perilaku nyaman (ekspresi wajah rileks, mampu istirahat/tidur), 3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal pasien, 4) Pasien mampu menunjukkan teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri, dan 5) Pasien memahami rencana penatalaksanaan nyeri.
Kode SIKI: I.07001
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, intensitas dengan skala, dan faktor pencetus/pereda). 2) Memonitor tanda-tanda vital dan respons nonverbal terhadap nyeri. 3) Memberikan obat analgesik sesuai program secara tepat waktu dan mengevaluasi efektivitas serta efek sampingnya. 4) Mengajarkan dan membantu teknik non-farmakologis seperti relaksasi napas dalam, distraksi, atau kompres hangat/dingin sesuai indikasi. 5) Memposisikan pasien dengan nyaman untuk mengurangi tekanan pada area nyeri. 6) Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mendukung istirahat. 7) Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang penyebab nyeri, rencana pengobatan, dan pentingnya melaporkan nyeri secara dini. 8) Mengevaluasi respons pasien terhadap intervensi yang diberikan dan mendokumentasikannya.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal sebagai respons terhadap proses penyakit.
Kode SLKI: L.06002
Deskripsi : Kontrol suhu tubuh. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Suhu tubuh kembali dalam rentang normal (36,5 – 37,5°C), 2) Kulit hangat dan tidak ada menggigil, 3) Tanda-tanda vital stabil, 4) Tidak ada komplikasi terkait hipertermia (seperti dehidrasi atau kejang), dan 5) Pasien melaporkan perasaan nyaman.
Kode SIKI: I.10001
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Memonitor suhu tubuh secara berkala (setiap 2-4 jam atau sesuai kebutuhan). 2) Memonitor tanda-tanda vital lain (nadi, pernapasan, tekanan darah) dan status hidrasi (turgor kulit, membran mukosa, balance cairan). 3) Memberikan terapi antipiretik (obat penurun panas) sesuai program dokter. 4) Melakukan tindakan pendinginan fisik seperti kompres hangat di aksila dan lipat paha, mandi air hangat, atau penggunaan selimut pendingin jika diperlukan. 5) Meningkatkan asupan cairan per oral atau intravena untuk mencegah dehidrasi. 6) Mengatur lingkungan yang nyaman (suhu ruangan sejuk, sirkulasi udara baik, pakaian tipis dan menyerap keringat). 7) Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang penyebab demam, tujuan intervensi, dan tanda-tanda yang perlu dilaporkan. 8) Mendokumentasikan pola demam dan respons terhadap terapi.
Kondisi: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Status nutrisi. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Berat badan stabil atau meningkat menuju rentang ideal, 2) Asupan makanan dan cairan mencukupi kebutuhan harian yang direkomendasikan, 3) Nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin dan hemoglobin) dalam batas normal, 4) Pasien melaporkan peningkatan nafsu makan, dan 5) Tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi seperti kelemahan, penurunan massa otot, atau turgor kulit buruk.
Kode SIKI: I.04001
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Memonitor asupan makanan dan cairan pasien setiap hari (catat intake-output). 2) Menimbang berat badan secara teratur. 3) Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan jenis diet yang sesuai. 4) Menyajikan makanan dalam porsi kecil namun sering dengan tampilan yang menarik dan sesuai selera pasien. 5) Menciptakan lingkungan makan yang nyaman, bebas bau tidak sedap, dan mengurangi gangguan. 6) Memberikan perawatan mulut sebelum makan untuk meningkatkan nafsu makan. 7) Mengelola gejala yang mengganggu makan seperti mual (dengan pemberian antiemetik) atau nyeri. 8) Memberikan suplemen nutrisi oral jika diperlukan. 9) Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi dalam proses penyembuhan dan pemilihan makanan bergizi. 10) Mengevaluasi toleransi pasien terhadap diet yang diberikan.
Article No. 24225 | 24 Feb 2026
Klinis : DS: Klien mengatakan hanya minum 3-4 gelas/hari Mengurangi minum karena takut sering BAK Menahan rasa haus DO: Mukosa bibir kering Turgor kulit menurun Urin kuning pekat dan bau menyengat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: 00027
Deskripsi Singkat: Penurunan volume cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular yang berhubungan dengan kehilangan cairan aktif, penurunan asupan, atau perpindahan cairan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : SLKI 1401: Keseimbangan Cairan. Tujuan utama dari diagnosa ini adalah untuk mengembalikan dan mempertahankan keseimbangan cairan tubuh klien. Hasil yang diharapkan (SLKI) mencakup beberapa kriteria evaluasi. Pertama, tanda-tanda vital klien (seperti nadi, tekanan darah, dan pernapasan) harus berada dalam rentang normal yang diharapkan untuk usianya, menunjukkan bahwa sirkulasi dan perfusi jaringan sudah adekuat tanpa beban berlebih. Kedua, turgor kulit klien membaik, yang ditandai dengan kulit yang kembali elastis saat dicubit lembut, mengindikasikan hidrasi jaringan interstisial yang cukup. Ketiga, membran mukosa (seperti bibir dan rongga mulut) lembab dan tidak terlihat kering atau pecah-pecah. Keempat, produksi urin kembali adekuat, biasanya dengan output minimal 0,5 hingga 1 mL/kg berat badan per jam, dan warna urin tidak lagi pekat (kuning tua atau amber) melainkan kuning muda atau jernih, serta tidak berbau menyengat. Kelima, klien melaporkan tidak lagi merasa haus yang berlebihan. Terakhir, asupan dan output cairan klien seimbang dalam periode 24 jam, menunjukkan bahwa kehilangan cairan telah tergantikan dan homeostasis tercapai. Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil dalam mengatasi defisit volume cairan.
Kode SIKI: 2120
Deskripsi : SIKI 2120: Manajemen Keseimbangan Cairan. Intervensi keperawatan ini merupakan serangkaian tindakan sistematis untuk memantau, mengatur, dan memulihkan keseimbangan cairan dan elektrolit klien. Tindakan dimulai dengan pemantauan ketat tanda-tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan, suhu) secara berkala, termasuk pemantauan tekanan darah ortostatik jika diperlukan, untuk mendeteksi dini tanda syok hipovolemik atau perubahan status hemodinamik. Perawat akan memantau asupan dan output cairan (balance cairan) secara akurat setiap 24 jam, mencatat semua cairan yang masuk (minuman, infus, makanan cair) dan keluar (urine, muntah, drainase). Turgor kulit, kelembaban membran mukosa, dan adanya rasa haus dievaluasi secara berkala sebagai indikator klinis hidrasi. Perawat akan memberikan edukasi kesehatan yang mendalam kepada klien dan keluarga tentang pentingnya mencukupi kebutuhan cairan harian, menjelaskan konsekuensi dari asupan yang kurang dan kebiasaan menahan haus atau mengurangi minum karena takut BAK. Edukasi juga mencakup cara mendistribusikan waktu minum sepanjang hari dan mungkin menyarankan untuk membatasi diuretik alami (seperti kafein) jika relevan. Perawat akan mendorong peningkatan asupan cairan oral secara bertahap sesuai toleransi klien, memilih jenis cairan yang disukai klien (air putih, jus, kaldu) dan menyediakan dalam jangkauan. Lingkungan dibuat nyaman dengan suhu ruangan yang sejuk untuk mengurangi kehilangan cairan melalui keringat. Kolaborasi dengan dokter dilakukan untuk pemberian terapi cairan intravena jika defisit berat atau asupan oral tidak memadai, serta untuk mengevaluasi hasil pemeriksaan laboratorium (seperti hematokrit, elektrolit, urine spesific gravity). Perawat juga akan mengatasi faktor penyebab, dalam kasus ini dengan memberikan edukasi dan manajemen untuk mengurangi rasa takut sering BAK, mungkin dengan melatih teknik pelvic floor exercise atau merujuk untuk konsultasi lebih lanjut jika terdapat masalah prostat atau inkontinensia. Semua tindakan ini didokumentasikan dengan baik untuk evaluasi keberhasilan intervensi dan penyesuaian rencana keperawatan selanjutnya.
Article No. 24226 | 24 Feb 2026
Klinis : DS: Klien mengatakan hanya minum 3-4 gelas/hari Mengurangi minum karena takut sering BAK Menahan rasa haus DO: Mukosa bibir kering Turgor kulit menurun Urin kuning pekat dan bau menyengat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: 00027
Deskripsi Singkat: Penurunan volume cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular yang dapat mengakibatkan dehidrasi, penurunan perfusi jaringan, dan gangguan fungsi seluler. Kondisi ini ditandai dengan asupan cairan yang tidak adekuat, kehilangan cairan berlebih, atau kombinasi keduanya.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : SLKI 1401 berfokus pada pemantauan dan pemeliharaan keseimbangan cairan. Tujuan utamanya adalah memastikan asupan dan haluaran cairan klien seimbang serta tanda-tanda vital dalam rentang normal. Intervensi keperawatan dalam SLKI ini mencakup pemantauan ketat tanda-tanda vital (terutama nadi dan tekanan darah) untuk mendeteksi hipotensi ortostatik atau takikardia sebagai tanda penurunan volume cairan. Perawat akan memantau dan mencatat asupan dan haluaran cairan secara akurat, termasuk jumlah, warna, dan karakteristik urin. Turgor kulit dan kelembaban membran mukosa dinilai secara berkala. Perawat juga akan menimbang berat badan klien setiap hari dengan timbangan yang sama dan pada waktu yang sama untuk mendeteksi perubahan akut yang mengindikasikan kehilangan cairan. Selain itu, lingkungan klien diatur untuk meminimalkan kehilangan cairan, misalnya dengan mengurangi paparan panas. Edukasi kepada klien dan keluarga tentang pentingnya asupan cairan yang adekuat dan tanda-tanda dehidrasi juga merupakan bagian integral dari SLKI ini untuk mencegah kekambuhan.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : SIKI 4201 adalah intervensi spesifik untuk mengatasi defisit volume cairan melalui pemberian cairan dan pemantauan. Intervensi ini dimulai dengan penilaian menyeluruh penyebab defisit cairan, yang dalam kasus ini adalah pembatasan asupan sukarela karena takut sering BAK. Perawat akan berkolaborasi dengan dokter dalam menentukan jenis, jumlah, dan kecepatan pemberian cairan, baik secara oral maupun intravena, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan klien. Perawat memastikan akses cairan mudah dijangkau klien dan mendorong asupan cairan sedikit demi sedikit namun sering, sesuai toleransi. Strategi untuk meningkatkan asupan oral dapat meliputi pemberian cairan dalam variasi suhu (misalnya air dingin atau hangat) dan jenis (air putih, jus, kuah sup) yang disukai klien. Perawat juga akan mengatasi hambatan psikologis dengan memberikan edukasi bahwa mengurangi minum justru dapat memperburuk kondisi (urin menjadi lebih pekat dan lebih mengiritasi kandung kemih) dan menjelaskan pola BAK normal. Pemantauan respons terhadap terapi cairan dilakukan dengan mengevaluasi peningkatan kelembaban membran mukosa, membaiknya turgor kulit, warna urin yang kembali jernih atau kuning muda, serta keseimbangan input dan output. Tanda-tanda kelebihan cairan juga harus diwaspadai selama pemberian terapi. Dokumentasi yang akurat dan komunikasi dengan tim kesehatan lain tentang perkembangan kondisi klien sangat ditekankan dalam pelaksanaan SIKI ini.
Article No. 24227 | 24 Feb 2026
Klinis : gagal ginjal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: