Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 19063 | 28 Jun 2025
Klinis : Data Subjektif An. Y mengatakan bahwa nyeri pada saat area luka di sentuh atau di tekan Data Objektif : Tampak terlihat adanya luka pada daerah dada dan juga pada daerah ketiak bagian kiri, Luka bakar berwarna merah dan tidak terdapat adanya tanda-tanda infeksi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data subjektif dan objektif yang diberikan, Diagnosa Keperawatan yang sesuai adalah:
1. Nyeri Akut (NANDA-I: 00132)
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah seperti itu.
Penjelasan singkat:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Nyeri Akut
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Kontrol Nyeri
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Manajemen Nyeri, Terapi Relaksasi, Terapi Modalitas Nyeri
2. Risiko Infeksi (NANDA-I: 00004)
Definisi: Peningkatan risiko terkena organisme patogen.
Penjelasan singkat:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Risiko Infeksi
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Kontrol Infeksi
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Manajemen Luka, Perawatan Luka, Pencegahan Infeksi
Kode SDKI:
- Nyeri Akut: 00132
- Risiko Infeksi: 00004
Diagnosa keperawatan ini didasarkan pada gejala nyeri yang dirasakan pasien saat area luka disentuh atau ditekan, serta adanya luka bakar pada dada dan ketiak kiri pasien. Penanganan keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen nyeri, terapi relaksasi, perawatan luka, dan pencegahan infeksi. -
Article No. 19064 | 28 Jun 2025
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah. Hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan campak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan gejala yang dialami oleh pasien anak perempuan berusia 5 tahun, yaitu demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah, serta hasil pemeriksaan yang menunjukkan kemungkinan campak, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Infeksi (kode SDKI: 00004)
Definisi: Peningkatan risiko terinfeksi organisme patogen.
2. Intoleransi Aktivitas (kode SDKI: 00092)
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin.
3. Gangguan Pola Napas (kode SDKI: 00032)
Definisi: Ketidakmampuan untuk bernapas dengan mudah.
4. Nyeri Akut (kode SDKI: 00132)
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.
Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia)
SDKI adalah standar diagnosis keperawatan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). SDKI memberikan definisi dan kriteria diagnosis keperawatan yang digunakan oleh perawat dalam praktik klinis.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia)
SLKI adalah standar luaran keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI. SLKI menyediakan definisi dan kriteria hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)
SIKI adalah standar intervensi keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI. SIKI menyediakan definisi dan kriteria tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Sebagai seorang perawat, saya akan menggunakan SDKI, SLKI, dan SIKI untuk mengidentifikasi, merencanakan, dan melaksanakan intervensi keperawatan yang tepat untuk menangani kondisi pasien anak perempuan dengan kemungkinan campak. -
Article No. 19065 | 28 Jun 2025
Klinis : Data Subjektif An. Y mengatakan bahwa nyeri pada saat area luka di sentuh atau di tekan Data Objektif : Tampak terlihat adanya luka pada daerah dada dan juga pada daerah ketiak bagian kiri, Luka bakar berwarna merah dan tidak terdapat adanya tanda-tanda infeksi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI beserta kodenya dan definisinya untuk kondisi yang Anda sampaikan, dengan tone akademis dan persona seorang pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Nyeri Akut (SDKI: 10.03.03, SLKI: 04.02.01, SIKI: N-1)
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah-istilah kerusakan tersebut.
Penjelasan:
Data subjektif: An. Y mengatakan nyeri pada saat area luka disentuh atau ditekan.
Data objektif: Tampak terlihat adanya luka pada daerah dada dan ketiak bagian kiri, luka bakar berwarna merah dan tidak terdapat tanda-tanda infeksi.
Berdasarkan data tersebut, dapat ditegakkan diagnosa keperawatan Nyeri Akut, yang merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Kode: 10.03.03
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah-istilah kerusakan tersebut.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Kode: 04.02.01
Definisi: Penurunan rasa nyeri yang dirasakan oleh klien.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Kode: N-1
Definisi: Pencegahan, pengurangan, dan pengelolaan rasa nyeri yang dialami oleh klien. -
Article No. 19066 | 28 Jun 2025
Klinis : Data Subjektif An. Y mengatakan bahwa nyeri pada saat area luka di sentuh atau di tekan Data Objektif : Tampak terlihat adanya luka pada daerah dada dan juga pada daerah ketiak bagian kiri, Luka bakar berwarna merah dan tidak terdapat adanya tanda-tanda infeksi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan data subjektif dan objektif yang diberikan, kondisi pasien dapat didiagnosis sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: T21.2
- Deskripsi: Luka bakar pada dada tingkat kedua
Penjelasan:
Kode T21.2 dalam ICD-10 menggambarkan luka bakar pada dada tingkat kedua. Hal ini sesuai dengan data objektif yang menunjukkan adanya luka bakar berwarna merah pada area dada dan ketiak bagian kiri pasien.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.33
- Deskripsi: Debridemen luka atau jaringan mati
Penjelasan:
Kode 93.33 dalam ICD-9-CM Procedure menunjukkan prosedur debridemen luka atau jaringan mati. Dalam kasus ini, meskipun tidak disebutkan adanya jaringan mati atau infeksi, prosedur debridemen mungkin diperlukan untuk membersihkan dan merawat luka bakar pada pasien. -
Article No. 19067 | 28 Jun 2025
Klinis : Data Subjektif An. Y mengatakan bahwa nyeri pada saat area luka di sentuh atau di tekan Data Objektif : Tampak terlihat adanya luka pada daerah dada dan juga pada daerah ketiak bagian kiri, Luka bakar berwarna merah dan tidak terdapat adanya tanda-tanda infeksi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data subjektif dan objektif yang diberikan, dapat ditegakkan diagnosa keperawatan sebagai berikut:
1. Nyeri Akut (00132)
Definisi: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.
Penjelasan:
- Data subjektif: Pasien mengatakan nyeri saat area luka disentuh atau ditekan.
- Data objektif: Tampak adanya luka bakar pada daerah dada dan ketiak bagian kiri.
- Kode diagnosa: 00132 (Nyeri Akut)
2. Risiko Infeksi (00004)
Definisi: Rentan mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat mengganggu kesehatan.
Penjelasan:
- Data objektif: Tampak luka bakar pada daerah dada dan ketiak bagian kiri, namun tidak terdapat tanda-tanda infeksi.
- Kode diagnosa: 00004 (Risiko Infeksi)
Singkatan:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia)
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia)
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)
Penjelasan singkat:
- SDKI adalah standar yang digunakan untuk menegakkan diagnosa keperawatan.
- SLKI adalah standar yang digunakan untuk menentukan luaran atau hasil yang diharapkan dari asuhan keperawatan.
- SIKI adalah standar yang digunakan untuk menentukan intervensi atau tindakan keperawatan yang akan dilakukan.
Semoga penjelasan ini bermanfaat. Jika ada pertanyaan lain, silakan tanyakan. -
Article No. 19068 | 28 Jun 2025
Klinis : Data Subjektif An. Y mengatakan bahwa nyeri pada saat area luka di sentuh atau di tekan Data Objektif : Tampak terlihat adanya luka pada daerah dada dan juga pada daerah ketiak bagian kiri, Luka bakar berwarna merah dan tidak terdapat adanya tanda-tanda infeksi
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi tersebut adalah:
1. Nyeri Akut
Data Subjektif: An. Y mengatakan nyeri pada saat area luka di sentuh atau di tekan.
Data Objektif: Tampak terlihat adanya luka pada daerah dada dan juga pada daerah ketiak bagian kiri, luka bakar berwarna merah dan tidak terdapat adanya tanda-tanda infeksi.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Kontrol Nyeri
Kriteria hasil:
a. Pasien dapat mengidentifikasi faktor penyebab nyeri.
b. Pasien dapat melaporkan pengurangan nyeri sesuai target.
c. Pasien dapat mendemonstrasikan penggunaan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Nyeri
a. Kaji nyeri secara komprehensif, termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi.
b. Kolaborasi dengan tim kesehatan untuk pemberian analgesik sesuai indikasi.
c. Ajarkan pasien teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, seperti relaksasi, distraksi, dan terapi kompres hangat/dingin.
d. Evaluasi efektivitas intervensi dalam mengurangi nyeri.
Penjelasan:
Diagnosa Keperawatan SDKI "Nyeri Akut" dipilih karena data subjektif menunjukkan adanya nyeri pada saat area luka di sentuh atau di tekan, dan data objektif menunjukkan adanya luka bakar pada daerah dada dan ketiak. Luaran yang diharapkan adalah Kontrol Nyeri, di mana pasien dapat mengidentifikasi faktor penyebab nyeri, melaporkan pengurangan nyeri sesuai target, dan mendemonstrasikan penggunaan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri. Intervensi Keperawatan yang diperlukan adalah Manajemen Nyeri, yang mencakup pengkajian nyeri secara komprehensif, kolaborasi dengan tim kesehatan untuk pemberian analgesik, pengajaran teknik nonfarmakologi, dan evaluasi efektivitas intervensi dalam mengurangi nyeri. -
Article No. 19069 | 28 Jun 2025
Klinis : ketidakstabilan kadar glukosa darah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda berikan, yaitu ketidakstabilan kadar glukosa darah, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI beserta kodenya dan definisinya yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
Manajemen Kesehatan (00078)
Definisi: Kemampuan individu untuk mengatur dan melakukan aktivitas terkait dengan kesehatan dan kesejahteraan.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (10021)
Definisi: Keadaan dimana terjadi fluktuasi kadar glukosa darah di luar rentang normal.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Keseimbangan Glukosa Darah (10005)
Definisi: Kemampuan mempertahankan kadar glukosa darah dalam rentang normal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Manajemen Diabetes Melitus (10008)
Definisi: Serangkaian tindakan untuk mengatur kadar glukosa darah pada pasien dengan diabetes melitus.
Pada kondisi ketidakstabilan kadar glukosa darah, perawat berperan dalam melakukan manajemen diabetes melitus untuk membantu pasien mencapai keseimbangan glukosa darah. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Melakukan pengkajian komprehensif terkait riwayat penyakit, pola makan, aktivitas, dan pemantauan glukosa darah.
2. Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pengelolaan diabetes melitus, termasuk diet, aktivitas fisik, dan penggunaan obat-obatan.
3. Memantau kadar glukosa darah secara teratur dan melakukan tindakan segera jika terjadi fluktuasi yang tidak normal.
4. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain, seperti dokter dan ahli gizi, untuk menentukan rencana perawatan yang komprehensif.
5. Melakukan evaluasi dan penyesuaian intervensi keperawatan sesuai dengan respon pasien. -
Article No. 19041 | 27 Jun 2025
Klinis : siki manajemen hipervolemia
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk kondisi "siki manajemen hipervolemia" dengan tone akademis dan persona sebagai pakar perawat.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi "siki manajemen hipervolemia" adalah "Hipervolemia". Hipervolemia didefinisikan sebagai kondisi kelebihan cairan atau volume darah yang melebihi kebutuhan tubuh. Hal ini dapat terjadi akibat intake cairan yang berlebihan, gangguan fungsi ginjal, atau kondisi medis lainnya.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan, luaran/output yang diharapkan adalah:
a. Sirkulasi Cairan Adekuat: Pasien menunjukkan tanda-tanda sirkulasi cairan yang adekuat, seperti tekanan darah stabil, nadi regular, dan ekstremitas hangat.
b. Keseimbangan Cairan: Pasien mencapai keseimbangan cairan yang sesuai dengan kebutuhan tubuhnya, ditandai dengan intake dan output cairan yang seimbang.
c. Edema Berkurang: Pasien menunjukkan penurunan atau hilangnya edema yang sebelumnya dialami.
d. Gejala Hipervolemia Teratasi: Pasien tidak lagi menunjukkan gejala-gejala hipervolemia, seperti sesak napas, kenaikan berat badan, dan peningkatan tekanan vena jugularis.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai luaran yang diharapkan pada kondisi "siki manajemen hipervolemia" adalah:
a. Pemantauan Tanda Vital: Melakukan pemantauan rutin tanda-tanda vital, seperti tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu, untuk mendeteksi perubahan dan memantau perkembangan kondisi pasien.
b. Pemantauan Intake dan Output Cairan: Melakukan pencatatan dan pemantauan yang cermat terhadap intake dan output cairan pasien, termasuk asupan oral, parenteral, dan pengeluaran urin, feses, dan lain-lain.
c. Pembatasan Asupan Cairan: Memberikan batasan asupan cairan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasien, untuk mencapai keseimbangan cairan yang optimal.
d. Edukasi Manajemen Cairan: Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya manajemen cairan yang tepat, termasuk pengaturan diet, aktivitas, dan pemantauan mandiri.
e. Pemberian Diuretik: Jika diperlukan, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian diuretik yang sesuai untuk membantu mengeluarkan kelebihan cairan dari tubuh.
f. Terapi Oksigen: Pemberian terapi oksigen jika pasien mengalami gejala sesak napas akibat hipervolemia.
g. Pemantauan Keseimbangan Cairan: Melakukan pemantauan yang cermat terhadap keseimbangan cairan pasien, termasuk input, output, dan tanda-tanda kelebihan cairan.
Dengan melaksanakan intervensi keperawatan yang komprehensif dan sesuai dengan kondisi pasien, diharapkan luaran/output yang diinginkan dapat tercapai, sehingga pasien dapat memperoleh perawatan yang optimal dan mencapai pemulihan yang baik. -
Article No. 19042 | 27 Jun 2025
Klinis : siki manajemen hipervolemia
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci terkait diagnosa keperawatan, luaran/output, dan intervensi keperawatan untuk kondisi siki manajemen hipervolemia.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi siki manajemen hipervolemia adalah Kelebihan Volume Cairan. Diagnosa ini mengacu pada SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) yang menjelaskan bahwa Kelebihan Volume Cairan adalah keadaan di mana individu mengalami peningkatan cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular. Kondisi ini dapat disebabkan oleh intake cairan yang berlebihan, gangguan regulasi cairan, atau penurunan eliminasi cairan.
Luaran/Output SLKI:
Setelah diberikan asuhan keperawatan, luaran/output yang diharapkan adalah Manajemen Hipervolemia Efektif. Luaran ini mengacu pada SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) yang menjelaskan bahwa Manajemen Hipervolemia Efektif adalah kemampuan individu untuk mengenali, mencegah, dan mengatasi kelebihan cairan dalam tubuh. Indikator yang dapat digunakan untuk mengukur luaran ini antara lain: intake dan output cairan seimbang, tidak ada edema, tekanan darah dalam batas normal, dan tidak ada tanda-tanda kelebihan cairan.
Intervensi Keperawatan SIKI:
Untuk mencapai luaran Manajemen Hipervolemia Efektif, intervensi keperawatan yang diperlukan adalah:
1. Pemantauan Cairan
- Pantau intake dan output cairan secara ketat
- Pantau tanda-tanda kelebihan cairan (edema, peningkatan berat badan, sesak napas)
- Pantau nilai laboratorium yang terkait (elektrolit, BUN, kreatinin)
2. Manajemen Cairan
- Atur intake cairan sesuai kebutuhan pasien
- Berikan diuretik sesuai instruksi dokter
- Lakukan pembatasan cairan jika perlu
3. Edukasi Pasien dan Keluarga
- Jelaskan penyebab, tanda, dan bahaya kelebihan cairan
- Ajarkan teknik pemantauan cairan di rumah
- Beri edukasi tentang diet rendah garam dan pembatasan cairan
4. Kolaborasi dengan Tenaga Kesehatan Lain
- Koordinasi dengan dokter untuk pengaturan terapi cairan
- Konsultasi dengan ahli gizi untuk perencanaan diet
Penjelasan rinci untuk setiap poin di atas:
1. Pemantauan Cairan
- Pantau intake dan output cairan secara ketat untuk memastikan keseimbangan cairan. Catat semua asupan cairan (oral, parenteral, dan obat-obatan) serta output (urin, feses, muntah, dll).
- Pantau tanda-tanda kelebihan cairan seperti edema, peningkatan berat badan, dan sesak napas. Hal ini penting untuk mendeteksi dini adanya kelebihan cairan.
- Pantau nilai laboratorium yang terkait seperti elektrolit, BUN, dan kreatinin untuk mengevaluasi fungsi ginjal dan keseimbangan cairan.
2. Manajemen Cairan
- Atur intake cairan sesuai kebutuhan pasien berdasarkan kondisi klinis dan nilai laboratorium. Kurangi asupan cairan jika diperlukan.
- Berikan diuretik sesuai instruksi dokter untuk meningkatkan eliminasi cairan dan mengatasi kelebihan cairan.
- Lakukan pembatasan cairan jika diperlukan untuk mencapai keseimbangan cairan yang optimal.
3. Edukasi Pasien dan Keluarga
- Jelaskan penyebab, tanda, dan bahaya kelebihan cairan agar pasien dan keluarga memahami kondisi yang dialami.
- Ajarkan teknik pemantauan cairan sederhana yang dapat dilakukan di rumah, seperti mengukur berat badan, mencatat intake dan output cairan.
- Beri edukasi tentang diet rendah garam dan pembatasan cairan yang perlu diterapkan untuk mencegah terjadinya kelebihan cairan.
4. Kolaborasi dengan Tenaga Kesehatan Lain
- Koordinasi dengan dokter untuk pengaturan terapi cairan, pemberian diuretik, dan pemantauan nilai laboratorium.
- Konsultasi dengan ahli gizi untuk merencanakan diet yang sesuai dengan kebutuhan cairan pasien dan membantu mencapai keseimbangan cairan.
Dengan penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif ini, diharapkan pasien dapat mencapai luaran Manajemen Hipervolemia Efektif, sehingga kelebihan cairan dapat dikendalikan dan komplikasi dapat dicegah. -
Article No. 19043 | 27 Jun 2025
Klinis : 4. Tipe Keluarga Keluarga Inti (Nuclear Family) yang sedang dalam tahapan perkembangan Keluarga dengan Anak Remaja yang beranggotakan empat orang yaitu, Tn. I sebagai KK, Ny. Y sebagai IK, An. 1 sebagai AK1, An. A sebagai AK 2. 5. Latar belakang etnis keluarga atau anggota keluarga Keluarga mengatakan suku mereka campuran kutai dan madura. Tidak ada kebudayaan kebudayaan khusus yang menyimpang dari lingkungan, keluarga tinggal di lingkungan heterogen dan mudah beradaptasi. 6. Kegiatan Keagamaan Keluarga mengatakan keyakinan mereka sekeluarga sama yaitu islam, namun jarang beribadah atau mengikuti keagamaan lainnya. Tidak ada nilai khusus yang menjadi prinsip dasar dalam keluarga. 7. Status Sosial Ekonomi Keluarga mengatakan KK yang bekerja untuk mencari nafkah dan rata-rata penghasilan KK Rp 2.500.000 perbulan dan dipotong bank jadi hanya sisa Rp 500.000 untuk kerperluan bahan makanan dan biaya Listrik. Keluarga mengatakan tidak memiliki Tabungan, dan memiliki 2 kendaraan pribadi yaitu motor. 8. Kegiatan Waktu Luang/Rekreasi Keluarga mengatakan biasanya ada kegiatan dasawisma, senam dan gotong royong setiap minggunya dan biasaya bersantai di taman saja. Biasanya aktivitas dilakukan sendiri-sendiri dan keluarga merasa nyaman saja dengan aktivitas mereka. 9. Kebiasaan Hidup Sehari-Hari a. Bahasa (bahasa-bahasa) yang digunakan di rumah Keluarga mengatakan saat dirumah hanya menggunakan Bahasa Indonesia b. Penggunaan jasa-jasa perawatan kesehatan keluarga dan praktisi Keluarga mengatakan saat sakit biasanya pergi kerumah sakit karena dekat dengan rumah. B. TAHAP PERKEMBANGAN DAN RIWAYAT KELUARGA 1. Tahap perkembangan keluarga saat ini Tahap perkembangan Keluarga dengan Anak Remaja. 2. Tahap Perkembangan Keluarga Yang Terpenuhi Dan Belum Terpenuhi Tahapan yang sudah dilalui yaitu Keluarga Pemula (Pasangan Baru Menikah), Keluarga dengan Anak Balita, Keluarga dengan Anak Prasekolah, Keluarga dengan Anak Usia Sekolah. Keluarga mengatakan belum optimal dalam komunikasi dan dalam mengawasi perkembangan anak remaja mereka saat ini yaitu An. I seorang merokok dan KK juga merokok. 3. Riwayat Keluarga Inti Keluarga mengatakan Ny. Y ada penyakit hipertensi, diabetes dan memiliki Riwayat penyakit kista tetapi sudah dinyatakan sembuh oleh dokter. Untuk anggota keluarga lainnya tidak ada penyakit akut maupun kronis yang di derita. 4. Riwayat Keluarga Asal Dari Kedua Orang Tua Keluarga mengatakan orang tua dari Ny. Y memiliki riwayat penyakit hipertensi dan diabetes melitus. C. DATA LINGKUNGAN 1. Karakteristik rumah: a. Gambaran tipe tempat tinggal Keluarga mengatakan rumah mereka berukuran 10x20 dengan 3 kamar tidur, dapur, toilet, ruang tamu, ruang keluarga, teras dan kamar mandi diluar depan dirumah. Tinggal di area perkotaan rumah milik pribadi, ventilasi kurang, pencahayan dalam rumah kurang. b. Denah rumah c. Gambaran kondisi rumah Tampak di dalam rumah gelap kurang pencahayaan dan ventilasi dan didalam rumah berserakan. Didepan rumah tampak berantakan dan barang-barang tidak tertata rapi, Sebagian barang dan lantai berdebu, ada beberapa sampa berserakan di halaman rumah. Terdapat kamar mandi yang dibangun di depan rumah hanya menggunakan seng dan tidak ditutup dengan baik. d. Sumber air untuk minum dan kebutuhan rumah tangga Keluarga mengatakan untuk kebutuhan rumah tangga keluraga menggunakan air PDAM, dan air isi ulang (gallon) untuk minum. e. Mengkaji perasaan-perasaan subjektif keluarga terhadap rumah Keluarga mengatakan merasa nyaman dengan rumah dan juga dekat dengan fasilitas umum. f. Evaluasi adekuasi pembuangan sampah Keluarga mengatakan bisanya untuk sampak itu dibakar dipekarangan depan rumah. 2. Karakteristik Lingkungan Rumah (tetangga dan komunitas RT/RW) Keluarga mengatakan tinggal ditengah kota daerah perumahan padat penduduk, dekat dengan rumah sakit, dekat dengan sekolah, perkantoran, dekat indomaret, dekat dengan pasar, warung, dekat taman, dan tidak ada insiden seperti kejahatan. 3. Mobilitas Geografis Keluarga Keluarga mengatakan sudah tinggal dilingkungan tersebut sejak 2006 hingga sekarang 2025. 4. Perkumpulan Keluarga Dan Interaksi Dengan Masyarakat Keluarga mengatakan sering berkumpul, berhubungan baik dengan tetangga, dan rutin bergotong royong bersama tetangga sekitar. 5. Sistem pendukung keluarga Keluarga mengatakan system pendukung saat dalam masalah yaitu keluarga/kakak ipar, keluarga akan berbincang bersama untuk mencari jalan keluar. D. STRUKTUR KELUARGA 1. Pola dan proses komunikasi keluarga Keluarga mengatakan saat ada masalah akan berkumpul bersama kemudian dinasehati, saling terbuka dan mencari jalan keluar bersama. 2. Struktur Kekuatan Keluarga mengatakan KK dan IK yang membuat Keputusan bersama, tetapi jika menyangkut anak biasanya IK yang mengambil Keputusan. Teknik yang digunakan yaitu diskusi Bersama. 3. Struktur Peran a) Peran Formal: - Ayah: sebagai suami dari istri pencari nafkah, penanggung jawab utama, sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung, dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya, serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya. - Ibu: Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya. - Anak-anak: melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat perkembangannya, baik fisik, mental, sosial, spiritual dan belajar, membantu pekerjaan rumah tangga ringan. b) Peran Informal: - Ayah: Memberikan nasihat, mengatur arah perilaku anak-anak - Ibu: berperan sebagai mediator emosi anak (penenang ketika ada konflik kecil) - Anak-anak: kadang membantu menjaga adik atau mengingatkan belajar 4. Nilai-Nilai dan Norma-Norma Keluarga Keluarga mengatakan tidak ada nilai dan norma-norma khusus yang dianut dan kurang disiplin. E. FUNGSI KELUARGA 1. Fungsi Afektif Keluarga mengatakan sering berkumpul berbincang bersama dan berinteraksi dengan baik 2. Fungsi Sosialisasi Keluarga mengatakan berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain dengan baik, namun belum terlalu disiplin dalam jam tidur, perilaku merokok anak dan suaminya, dan penggunaan gadget. 3. Fungsi Perawatan Kesehatan Keluarga mengatakan biasa makan 2/3 kali sehari, hanya makan sayur saja, lebih sering di olah berkuah, dan tidak ada pantangan, diet ataupun riwayat alergi pada semua anggota keluarga. Saat dikaji keluarga berpenampilan rapi mengenakan dress, kalung manik, anting bulat, dan make up, rambut tampak sedikit basah di jepit tampaknya baru sehabis mandi. Keluarga mengatakan biasanya saat sakit akan pergi ke rumah sakit karena dekat dengan rumah, dan jika tidak kerumah sakit keluarga membeli obat di apotek terdekat. Jika ada anggota keluarga yang sakit biasanya akan dibawa ke puskesmas atau diberikan obat saja. Keluarga mengatakan Sehat itu ketika bisa meklakukan aktivitas sehari-hari dan sakit itu saat tidak bisa melakukan apa-apa. 4. Fungsi Reproduksi Keluarga mengatakan tidak ada pembicaraan tentang rencana memiliki beberapa anak, rajin KB suntik 1bulan 1x di fakes terdekat. 5. Fungsi Ekonomi Keluarga mengatakan untuk kebutuhan sandang, pangan, papan, Kesehatan berusaha di cukup-cukupkan, karna keluarga memiliki tunggakan pada bank (Rp 2.000.000), keluarga memiliki rumah milik pribadi, sepeda motor sebagai alat transportasi, barang-barang tersebut digunakan secara optimal dalam kehidupan sehari-hari. Sepeda motor digunakan KK untuk bekerja dan IK untuk berbelanja kebutuhan sehari. Handphone untuk komunikasi keluarga dan anak-anak menggunakannya untuk akses informasi dan hiburan. F. STRESS DAN KOPING KELUARGA 1. Stresor Jangka Pendek Dan Jangka Panjang Jangka Panjang: Keluarga mengatakan kekhawatiran mereka yaitu tentang tunggakan pinjaman dibank, biaya pendidikan dan kebutuhan sehari-harinya dengan penghasilan yang tidak seberapa (Rp 2.500.000/bulan dipotong bank sisa Rp 500.000) 2. Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/stressor Keluarga mengatakan berusaha menyikapi dengan tabah dan mengikuti alurnya saja. 3. Strategi koping yang digunakan Keluarga mengatakan strategi koping yaitu dengan musyawarah Bersama mencari jalan keluar dan berolahraga Bersama tetangga.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dipaparkan, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI, beserta kode dan definisinya yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
1. Komunikasi Keluarga Terganggu (00051)
SDKI: Proses interaksi dan pertukaran informasi, pikiran, perasaan, dan emosi antar anggota keluarga yang tidak efektif.
SLKI: Terbentuknya proses komunikasi yang efektif antar anggota keluarga.
SIKI: Intervensi untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam berkomunikasi secara efektif.
2. Manajemen Kesehatan Keluarga Tidak Efektif (00075)
SDKI: Kegagalan keluarga untuk mengidentifikasi, mencegah, dan/atau mengatasi masalah kesehatan anggota keluarga.
SLKI: Terbentuknya kemampuan keluarga dalam mengelola kesehatan anggota keluarga.
SIKI: Intervensi untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengelola kesehatan anggota keluarga.
3. Risiko Ketidakstabilan Ekonomi Keluarga (00155)
SDKI: Adanya kemungkinan ketidakmampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan ekonomi.
SLKI: Terbentuknya stabilitas ekonomi keluarga.
SIKI: Intervensi untuk meningkatkan stabilitas ekonomi keluarga.
4. Perilaku Kesehatan Keluarga Berisiko (00251)
SDKI: Perilaku keluarga yang dapat menyebabkan masalah kesehatan anggota keluarga.
SLKI: Terbentuknya perilaku kesehatan keluarga yang aman.
SIKI: Intervensi untuk meningkatkan perilaku kesehatan keluarga yang aman.
Penjelasan singkat:
1. Komunikasi Keluarga Terganggu: Terdapat masalah dalam proses interaksi dan pertukaran informasi, pikiran, perasaan, dan emosi antar anggota keluarga yang tidak efektif.
2. Manajemen Kesehatan Keluarga Tidak Efektif: Keluarga gagal dalam mengidentifikasi, mencegah, dan/atau mengatasi masalah kesehatan anggota keluarga.
3. Risiko Ketidakstabilan Ekonomi Keluarga: Adanya kemungkinan ketidakmampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan ekonomi.
4. Perilaku Kesehatan Keluarga Berisiko: Terdapat perilaku keluarga yang dapat menyebabkan masalah kesehatan anggota keluarga.