Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 19270 | 04 Jul 2025
Klinis : Bad NeS lahir secara normal pada tangeal 7 [anuar 2023 d PKM Cem berients kelamin laki 7 baki bavi latir pada wsia 39/40 moezu ketuban ternh serta tidak berbau, sewaktu lahitr bavi merintih, ada cyanotic seturuh badan Apeat, score 7- 9, 00 4500 g, lingkar dada 29 cm. linekar lensan atas 15 cm, panlang badan 53 cmn Taneral 24 anuadi 2023 By. My. S melakukan pemeriksan penunlane yaitu EcHo . Dari ha Eo1o menielasan pasier mengalami :; ASD SEKUNDUM. HIPERTENSI PULMONAL BERAL. MR DA TR BERAT EBSTAIN ANOMAL. Keadaan ymum pasien lemah, terpasang 02 bcpap 102 45 % peep 7 fow 8 iem, terdapat tetraks dada, tidatk ada pernapasan cupine hidune , barvi terpasanes plue di tanean kanan Medi cath no. 26 .terpasang 0GT no. 8 / 100 cm, terdapat lecet pada pipi tanan, dan BB sekarang 4100 Leran yang sudah d dapatkan Ampicilin Subactam 2 x200 mg (nm. 20mg (ni m. Paracetamol m x45 56 me (iN. Po Sildenafl 4x2me a Gentamicin Furosemide 3 x 1,5mg ASI per OGT X 40cc, terapi Mebu ventoEn respu 2/hari dan Rawat luka di piel tanan dengan Sufratul dan wutur koa 1/ Hard observas pasien Sutu 37,2 "C, denran suhu inkubator 31,0" , denut iantune 168 kah / menit terdapat murmur, AR 58 kali / menit densan irama regular, Ada batuk grok- groks lerdapat Sputum, lerdapat tonki Bayi jura Terpasang 02 BCPAP F102 45% PEEP 7 Flow 8 Lpm, $PO2 88 - 92 % saut bayi beraktifitas atau Menanris ita postei tenang 923- 97%, B8L 4500 g'. 0B sekarang, 4100 gr terdapat iritasi pada botong (Ruam popok) diberi salep Myconarole, Pada anus, Penis dan skrotum normal tidak ada pembenekakan Harsd pemeriksaan ontaen tanpeal 21 Januari 2023 ( RSIA Eatma Boioneroro 1 Eoto bebyaram AP : ( Supineh ) -- - - Apek pulmo bilateral tenang Gerakan broncovasculer meingkat dan meneabur, hilar haze ( + ) Sinus Costophrenicus bilateral handie Dlatragma [cin & tak mendatar fos, Cur < 0,56 Sistema tulane intec kesan : a- ydem pulmo.b.Cor tak membesar Hast pemeriksaan echo sumary tanggal o1 12o23 IRSIA Eatma Boionegoro ) - Katub mitra regsurditas berat ; trikuspid cegurelitasi berat. Tampakebstein anomali, 67 -. Dimens jantune Diatasi RV IAS Tampak defek dengan diameter 0,5 cm Eunsi shstolk ◦ Normal LEF BY TEICH; 93 %1. Kesimpulan: ASD Sekundum Hipertensi pulmonal berat M DA TR berat Ebstain anomall,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan, kode, dan penjelasan singkat SDKI, SLKI, SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan: Kegagalan jantung bayi
- SDKI: Kegagalan jantung anak (10026)
Definisi: Ketidakmampuan jantung anak untuk memompa darah secara efektif, yang ditandai dengan gejala dan tanda kegagalan jantung.
- SLKI: Stabilitas Hemodinamik (10082)
Definisi: Kemampuan mempertahankan aliran darah dan tekanan darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi jaringan.
- SIKI: Manajemen Kegagalan Jantung (10067)
Definisi: Intervensi untuk mengidentifikasi dan mengelola kondisi yang menyebabkan kegagalan jantung pada anak.
2. Diagnosa Keperawatan: Gangguan pertukaran gas
- SDKI: Gangguan pertukaran gas (10014)
Definisi: Ketidakmampuan mempertahankan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida yang adekuat.
- SLKI: Pemeliharaan Pernapasan (10074)
Definisi: Kemampuan untuk mempertahankan fungsi pernapasan yang adekuat.
- SIKI: Manajemen Jalan Napas (10057)
Definisi: Intervensi untuk mempertahankan dan memfasilitasi jalan napas yang efektif.
3. Diagnosa Keperawatan: Risiko infeksi
- SDKI: Risiko infeksi (10050)
Definisi: Berisiko mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogen.
- SLKI: Kontrol Infeksi (10100)
Definisi: Kemampuan untuk mencegah atau mengendalikan infeksi.
- SIKI: Manajemen Infeksi (10062)
Definisi: Intervensi untuk mencegah, mengendalikan, dan mengelola infeksi.
4. Diagnosa Keperawatan: Intoleransi aktivitas
- SDKI: Intoleransi aktivitas (10019)
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin.
- SLKI: Toleransi Aktivitas (10087)
Definisi: Kemampuan untuk melakukan aktivitas rutin tanpa kelelahan yang berlebihan.
- SIKI: Manajemen Aktivitas (10054)
Definisi: Intervensi untuk memfasilitasi dan mempertahankan kemampuan melakukan aktivitas.
5. Diagnosa Keperawatan: Gangguan integritas kulit
- SDKI: Gangguan integritas kulit (10015)
Definisi: Kerusakan pada epidermis dan/atau dermis.
- SLKI: Integritas Kulit (10094)
Definisi: Kemampuan untuk mempertahankan struktur dan fungsi kulit yang utuh.
- SIKI: Perawatan Luka (10075)
Definisi: Intervensi untuk memfasilitasi penyembuhan luka dan mencegah komplikasi.
Kode diagnosa dan intervensi keperawatan ini merupakan standar yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dalam SDKI, SLKI, dan SIKI. -
Article No. 19271 | 04 Jul 2025
Klinis : Bad NeS lahir secara normal pada tangeal 7 [anuar 2023 d PKM Cem berients kelamin laki 7 baki bavi latir pada wsia 39/40 moezu ketuban ternh serta tidak berbau, sewaktu lahitr bavi merintih, ada cyanotic seturuh badan Apeat, score 7- 9, 00 4500 g, lingkar dada 29 cm. linekar lensan atas 15 cm, panlang badan 53 cmn Taneral 24 anuadi 2023 By. My. S melakukan pemeriksan penunlane yaitu EcHo . Dari ha Eo1o menielasan pasier mengalami :; ASD SEKUNDUM. HIPERTENSI PULMONAL BERAL. MR DA TR BERAT EBSTAIN ANOMAL. Keadaan ymum pasien lemah, terpasang 02 bcpap 102 45 % peep 7 fow 8 iem, terdapat tetraks dada, tidatk ada pernapasan cupine hidune , barvi terpasanes plue di tanean kanan Medi cath no. 26 .terpasang 0GT no. 8 / 100 cm, terdapat lecet pada pipi tanan, dan BB sekarang 4100 Leran yang sudah d dapatkan Ampicilin Subactam 2 x200 mg (nm. 20mg (ni m. Paracetamol m x45 56 me (iN. Po Sildenafl 4x2me a Gentamicin Furosemide 3 x 1,5mg ASI per OGT X 40cc, terapi Mebu ventoEn respu 2/hari dan Rawat luka di piel tanan dengan Sufratul dan wutur koa 1/ Hard observas pasien Sutu 37,2 "C, denran suhu inkubator 31,0" , denut iantune 168 kah / menit terdapat murmur, AR 58 kali / menit densan irama regular, Ada batuk grok- groks lerdapat Sputum, lerdapat tonki Bayi jura Terpasang 02 BCPAP F102 45% PEEP 7 Flow 8 Lpm, $PO2 88 - 92 % saut bayi beraktifitas atau Menanris ita postei tenang 923- 97%, B8L 4500 g'. 0B sekarang, 4100 gr terdapat iritasi pada botong (Ruam popok) diberi salep Myconarole, Pada anus, Penis dan skrotum normal tidak ada pembenekakan Harsd pemeriksaan ontaen tanpeal 21 Januari 2023 ( RSIA Eatma Boioneroro 1 Eoto bebyaram AP : ( Supineh ) -- - - Apek pulmo bilateral tenang Gerakan broncovasculer meingkat dan meneabur, hilar haze ( + ) Sinus Costophrenicus bilateral handie Dlatragma [cin & tak mendatar fos, Cur < 0,56 Sistema tulane intec kesan : a- ydem pulmo.b.Cor tak membesar Hast pemeriksaan echo sumary tanggal o1 12o23 IRSIA Eatma Boionegoro ) - Katub mitra regsurditas berat ; trikuspid cegurelitasi berat. Tampakebstein anomali, 67 -. Dimens jantune Diatasi RV IAS Tampak defek dengan diameter 0,5 cm Eunsi shstolk ◦ Normal LEF BY TEICH; 93 %1. Kesimpulan: ASD Sekundum Hipertensi pulmonal berat M DA TR berat Ebstain anomall,
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan (SLKI), dan intervensi keperawatan (SIKI) yang sesuai untuk kondisi pasien tersebut:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan obstruksi jalan napas dan penurunan fungsi paru.
2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan peningkatan resistensi vaskular pulmonal.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keterbatasan fisiologis.
4. Nyeri akut berhubungan dengan prosedur medis.
5. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
Luaran/Output yang diharapkan (SLKI):
1. Ketidakefektifan pola napas:
- Bayi dapat mempertahankan jalan napas yang efektif.
- Bayi dapat bernapas dengan irama dan pola napas yang normal.
- Bayi dapat mempertahankan saturasi oksigen yang adekuat.
2. Gangguan perfusi jaringan:
- Bayi dapat mempertahankan fungsi kardiovaskular yang optimal.
- Bayi dapat mempertahankan nilai tekanan darah dan nadi yang stabil.
- Bayi dapat mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat.
3. Intoleransi aktivitas:
- Bayi dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan bantuan minimal.
- Bayi dapat mempertahankan status fisiologis yang stabil selama aktivitas.
- Bayi dapat mempertahankan toleransi terhadap aktivitas yang meningkat secara bertahap.
4. Nyeri akut:
- Bayi dapat menunjukkan ekspresi wajah yang rileks.
- Bayi dapat menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil.
- Bayi dapat melaporkan atau menunjukkan penurunan rasa nyeri.
5. Risiko infeksi:
- Bayi dapat mempertahankan integritas kulit dan membran mukosa.
- Bayi dapat mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal.
- Bayi dapat menunjukkan tanda-tanda infeksi yang minimal.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Ketidakefektifan pola napas:
- Pantau tanda-tanda vital dan status pernapasan bayi.
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan dan monitor saturasi oksigen.
- Lakukan suction sekret jalan napas jika diperlukan.
- Berikan terapi CPAP untuk mempertahankan jalan napas yang efektif.
2. Gangguan perfusi jaringan:
- Pantau tanda-tanda vital dan status hemodinamik bayi.
- Berikan terapi medikamentosa sesuai instruksi (contoh: diuretik, vasodilator).
- Kolaborasi dengan tim medis untuk mengatasi hipertensi pulmonal.
- Lakukan pemantauan dan perawatan kateter intravaskular.
3. Intoleransi aktivitas:
- Pantau tanda-tanda vital dan status fisiologis bayi selama aktivitas.
- Lakukan perawatan minimal untuk meminimalkan stres bayi.
- Berikan intervensi untuk meningkatkan toleransi aktivitas secara bertahap.
- Kolaborasi dengan tim terapi untuk melakukan latihan fisik yang aman.
4. Nyeri akut:
- Pantau tanda-tanda nyeri dan ekspresi wajah bayi.
- Berikan analgesik sesuai instruksi medis.
- Lakukan tindakan keperawatan untuk mengurangi nyeri (contoh: posisi nyaman).
- Berikan dukungan emosional dan pengalihan perhatian.
5. Risiko infeksi:
- Pantau tanda-tanda infeksi dan suhu tubuh bayi.
- Lakukan perawatan luka dan pergantian balutan secara aseptik.
- Pastikan prosedur invasif dilakukan dengan teknik aseptik.
- Berikan terapi antibiotik sesuai instruksi medis.
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus mempertimbangkan kondisi klinis bayi secara komprehensif, melakukan kolaborasi dengan tim medis, dan melibatkan keluarga dalam proses perawatan untuk mencapai luaran yang optimal bagi bayi. -
Article No. 19272 | 04 Jul 2025
Klinis : Bad NeS lahir secara normal pada tangeal 7 [anuar 2023 d PKM Cem berients kelamin laki 7 baki bavi latir pada wsia 39/40 moezu ketuban ternh serta tidak berbau, sewaktu lahitr bavi merintih, ada cyanotic seturuh badan Apeat, score 7- 9, 00 4500 g, lingkar dada 29 cm. linekar lensan atas 15 cm, panlang badan 53 cmn Taneral 24 anuadi 2023 By. My. S melakukan pemeriksan penunlane yaitu EcHo . Dari ha Eo1o menielasan pasier mengalami :; ASD SEKUNDUM. HIPERTENSI PULMONAL BERAL. MR DA TR BERAT EBSTAIN ANOMAL. Keadaan ymum pasien lemah, terpasang 02 bcpap 102 45 % peep 7 fow 8 iem, terdapat tetraks dada, tidatk ada pernapasan cupine hidune , barvi terpasanes plue di tanean kanan Medi cath no. 26 .terpasang 0GT no. 8 / 100 cm, terdapat lecet pada pipi tanan, dan BB sekarang 4100 Leran yang sudah d dapatkan Ampicilin Subactam 2 x200 mg (nm. 20mg (ni m. Paracetamol m x45 56 me (iN. Po Sildenafl 4x2me a Gentamicin Furosemide 3 x 1,5mg ASI per OGT X 40cc, terapi Mebu ventoEn respu 2/hari dan Rawat luka di piel tanan dengan Sufratul dan wutur koa 1/ Hard observas pasien Sutu 37,2 "C, denran suhu inkubator 31,0" , denut iantune 168 kah / menit terdapat murmur, AR 58 kali / menit densan irama regular, Ada batuk grok- groks lerdapat Sputum, lerdapat tonki Bayi jura Terpasang 02 BCPAP F102 45% PEEP 7 Flow 8 Lpm, $PO2 88 - 92 % saut bayi beraktifitas atau Menanris ita postei tenang 923- 97%, B8L 4500 g'. 0B sekarang, 4100 gr terdapat iritasi pada botong (Ruam popok) diberi salep Myconarole, Pada anus, Penis dan skrotum normal tidak ada pembenekakan Harsd pemeriksaan ontaen tanpeal 21 Januari 2023 ( RSIA Eatma Boioneroro 1 Eoto bebyaram AP : ( Supineh ) -- - - Apek pulmo bilateral tenang Gerakan broncovasculer meingkat dan meneabur, hilar haze ( + ) Sinus Costophrenicus bilateral handie Dlatragma [cin & tak mendatar fos, Cur < 0,56 Sistema tulane intec kesan : a- ydem pulmo.b.Cor tak membesar Hast pemeriksaan echo sumary tanggal o1 12o23 IRSIA Eatma Boionegoro ) - Katub mitra regsurditas berat ; trikuspid cegurelitasi berat. Tampakebstein anomali, 67 -. Dimens jantune Diatasi RV IAS Tampak defek dengan diameter 0,5 cm Eunsi shstolk ◦ Normal LEF BY TEICH; 93 %1. Kesimpulan: ASD Sekundum Hipertensi pulmonal berat M DA TR berat Ebstain anomall,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: **Diagnosa Keperawatan dan Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI**
Berikut adalah diagnosa keperawatan yang relevan untuk pasien **Bad NeS** berdasarkan kondisi klinis yang dijelaskan, sesuai dengan **Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)** yang ditetapkan oleh **Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)**.
---
### **1. Gangguan Pertukaran Gas (SDKI: 00030)**
**Penjelasan:**
Pasien mengalami **hipoksemia** (SpO₂ 88-92%) dengan gejala **sianosis** dan **hipertensi pulmonal berat**, didukung oleh temuan **ASD sekundum, MR & TR berat, dan Ebstein Anomali**. Kondisi ini mengganggu pertukaran gas akibat ketidakseimbangan ventilasi-perfusi.
**SLKI:**
- **00030-1:** Peningkatan saturasi oksigen (target SpO₂ ≥ 95% saat tenang).
- **00030-3:** Penurunan tanda distress pernapasan (rintihan, retraksi dada).
**SIKI:**
- **3200:** **Terapi Oksigen** (BCPAP dengan FiO₂ 45%, PEEP 7, Flow 8 LPM).
- **3310:** **Fisioterapi Dada** (untuk mobilisasi sekret).
- **3320:** **Manajemen Jalan Napas** (pengisapan lendir jika diperlukan).
---
### **2. Gangguan Kardiovaskuler: Penurunan Curah Jantung (SDKI: 00029)**
**Penjelasan:**
Pasien memiliki **kelainan struktural jantung (ASD sekundum, MR & TR berat, Ebstein Anomali)** yang menyebabkan **hipertensi pulmonal berat** dan beban kerja jantung meningkat. Ditandai dengan **murmur jantung, takikardia (168x/menit), dan edema paru (hilar haze +)**.
**SLKI:**
- **00029-1:** Stabilisasi denyut jantung (target HR 120-140x/menit).
- **00029-3:** Mempertahankan perfusi jaringan (akral hangat, CRT < 3 detik).
**SIKI:**
- **4100:** **Manajemen Gagal Jantung** (monitor intake-output, pemberian **Furosemide**).
- **4120:** **Pemantauan Hemodinamik** (EKG, saturasi oksigen, tekanan darah).
---
### **3. Risiko Infeksi (SDKI: 00004)**
**Penjelasan:**
Pasien terpasang **OGT, medi cath, dan BCPAP**, serta memiliki **lecet pada pipi** dan **ruam popok**, meningkatkan risiko infeksi nosokomial.
**SLKI:**
- **00004-1:** Tidak ada tanda infeksi (demam, leukositosis).
**SIKI:**
- **6540:** **Perawatan Luka** (pembersihan luka dengan **Sufratul**, aplikasi **Myconazole** untuk ruam popok).
- **6530:** **Pencegahan Infeksi** (cuci tangan, teknik aseptik).
---
### **4. Nyeri Akut (SDKI: 00132)**
**Penjelasan:**
Pasien menunjukkan **iritabilitas (merintih, gelisah)** dan memiliki **lecet pada pipi**, diduga mengalami nyeri.
**SLKI:**
- **00132-1:** Penurunan skala nyeri (FLACC ≤ 2).
**SIKI:**
- **1400:** **Manajemen Nyeri** (pemberian **Paracetamol** sesuai dosis).
---
### **5. Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh (SDKI: 00002)**
**Penjelasan:**
BB turun dari **4500 g → 4100 g**, pasien mendapat **ASI per OGT 40cc**, menunjukkan risiko malnutrisi.
**SLKI:**
- **00002-1:** Peningkatan berat badan (target BB kembali ke berat lahir).
**SIKI:**
- **1100:** **Manajemen Nutrisi** (monitor toleransi OGT, optimalisasi ASI).
---
### **6. Risiko Gangguan Integritas Kulit (SDKI: 00047)**
**Penjelasan:**
Adanya **ruam popok dan lecet pipi** meningkatkan risiko kerusakan kulit.
**SLKI:**
- **00047-1:** Kulit tetap utuh tanpa lesi baru.
**SIKI:**
- **3500:** **Perawatan Kulit** (penggantian popok rutin, aplikasi **Myconazole**).
---
### **Kesimpulan**
Diagnosa keperawatan utama untuk pasien ini meliputi:
1. **Gangguan pertukaran gas** (SDKI 00030).
2. **Penurunan curah jantung** (SDKI 00029).
3. **Risiko infeksi** (SDKI 00004).
4. **Nyeri akut** (SDKI 00132).
5. **Gangguan nutrisi** (SDKI 00002).
6. **Risiko gangguan integritas kulit** (SDKI 00047).
Intervensi keperawatan harus difokuskan pada **stabilisasi oksigenasi, manajemen gagal jantung, pencegahan infeksi, dan perawatan kulit**. Pemantauan ketat terhadap **tanda vital, saturasi oksigen, dan respons terapi** sangat diperlukan.
*(Format RTF dapat disesuaikan sesuai kebutuhan dokumentasi klinis).* -
Article No. 19273 | 04 Jul 2025
Klinis : Bad NeS lahir secara normal pada tangeal 7 [anuar 2023 d PKM Cem berients kelamin laki 7 baki bavi latir pada wsia 39/40 moezu ketuban ternh serta tidak berbau, sewaktu lahitr bavi merintih, ada cyanotic seturuh badan Apeat, score 7- 9, 00 4500 g, lingkar dada 29 cm. linekar lensan atas 15 cm, panlang badan 53 cmn Taneral 24 anuadi 2023 By. My. S melakukan pemeriksan penunlane yaitu EcHo . Dari ha Eo1o menielasan pasier mengalami :; ASD SEKUNDUM. HIPERTENSI PULMONAL BERAL. MR DA TR BERAT EBSTAIN ANOMAL. Keadaan ymum pasien lemah, terpasang 02 bcpap 102 45 % peep 7 fow 8 iem, terdapat tetraks dada, tidatk ada pernapasan cupine hidune , barvi terpasanes plue di tanean kanan Medi cath no. 26 .terpasang 0GT no. 8 / 100 cm, terdapat lecet pada pipi tanan, dan BB sekarang 4100 Leran yang sudah d dapatkan Ampicilin Subactam 2 x200 mg (nm. 20mg (ni m. Paracetamol m x45 56 me (iN. Po Sildenafl 4x2me a Gentamicin Furosemide 3 x 1,5mg ASI per OGT X 40cc, terapi Mebu ventoEn respu 2/hari dan Rawat luka di piel tanan dengan Sufratul dan wutur koa 1/ Hard observas pasien Sutu 37,2 "C, denran suhu inkubator 31,0" , denut iantune 168 kah / menit terdapat murmur, AR 58 kali / menit densan irama regular, Ada batuk grok- groks lerdapat Sputum, lerdapat tonki Bayi jura Terpasang 02 BCPAP F102 45% PEEP 7 Flow 8 Lpm, $PO2 88 - 92 % saut bayi beraktifitas atau Menanris ita postei tenang 923- 97%, B8L 4500 g'. 0B sekarang, 4100 gr terdapat iritasi pada botong (Ruam popok) diberi salep Myconarole, Pada anus, Penis dan skrotum normal tidak ada pembenekakan Harsd pemeriksaan ontaen tanpeal 21 Januari 2023 ( RSIA Eatma Boioneroro 1 Eoto bebyaram AP : ( Supineh ) -- - - Apek pulmo bilateral tenang Gerakan broncovasculer meingkat dan meneabur, hilar haze ( + ) Sinus Costophrenicus bilateral handie Dlatragma [cin & tak mendatar fos, Cur < 0,56 Sistema tulane intec kesan : a- ydem pulmo.b.Cor tak membesar Hast pemeriksaan echo sumary tanggal o1 12o23 IRSIA Eatma Boionegoro ) - Katub mitra regsurditas berat ; trikuspid cegurelitasi berat. Tampakebstein anomali, 67 -. Dimens jantune Diatasi RV IAS Tampak defek dengan diameter 0,5 cm Eunsi shstolk ◦ Normal LEF BY TEICH; 93 %1. Kesimpulan: ASD Sekundum Hipertensi pulmonal berat M DA TR berat Ebstain anomall,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: **Diagnosa Keperawatan dan Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI**
Berikut adalah diagnosa keperawatan yang relevan untuk kondisi pasien berdasarkan data klinis yang diberikan, sesuai dengan standar **Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)** menggunakan **SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)**.
### **1. Gangguan Pertukaran Gas (SDKI: 00030)**
**Penjelasan:**
Pasien mengalami **hipertensi pulmonal berat** dan **ASD sekundum**, yang mengganggu pertukaran gas. Gejala seperti **sianosis, saturasi O₂ fluktuatif (88-92%), dan penggunaan BCPAP** menunjukkan gangguan oksigenasi.
**Luaran (SLKI: 0301 – Perbaikan Pertukaran Gas)**
- Saturasi O₂ stabil (≥95%) saat istirahat.
- Tidak ada sianosis.
- Pernapasan reguler tanpa distres.
**Intervensi (SIKI: 3310 – Manajemen Jalan Napas & 3320 – Terapi Oksigen)**
- Monitor saturasi O₂ dan tanda vital.
- Pertahankan BCPAP dengan parameter yang tepat (FiO₂ 45%, PEEP 7, Flow 8 Lpm).
- Posisikan bayi untuk optimalisasi ventilasi.
---
### **2. Gangguan Kardiovaskuler: Penurunan Curah Jantung (SDKI: 00029)**
**Penjelasan:**
Pasien memiliki **ASD sekundum, MR & TR berat, dan hipertensi pulmonal**, yang memengaruhi fungsi jantung. Tanda seperti **murmur, takikardia (168x/menit), dan edema paru (hilar haze)** menunjukkan penurunan curah jantung.
**Luaran (SLKI: 0402 – Perbaikan Fungsi Jantung)**
- Denyut jantung dalam batas normal (120-160x/menit).
- Tidak ada tanda gagal jantung (edema, hepatomegali).
**Intervensi (SIKI: 4120 – Manajemen Gagal Jantung & 4130 – Pemantauan Hemodinamik)**
- Monitor tanda vital, bunyi jantung, dan perfusi perifer.
- Berikan terapi **Sildenafil** sesuai indikasi untuk hipertensi pulmonal.
- Batasi aktivitas berlebihan untuk mengurangi beban jantung.
---
### **3. Risiko Infeksi (SDKI: 00004)**
**Penjelasan:**
Pasien memiliki **luka lecet di pipi, ruam popok, dan pemasangan OGT & medi-cath**, meningkatkan risiko infeksi.
**Luaran (SLKI: 1101 – Pencegahan Infeksi)**
- Tidak ada tanda infeksi (demam, kemerahan, pus).
- Luka bersih dan kering.
**Intervensi (SIKI: 6540 – Perawatan Luka & 6550 – Pencegahan Infeksi)**
- Rawat luka dengan **Sufratul** dan **salep Myconazole**.
- Ganti popok secara rutin untuk mencegah iritasi.
- Monitor tanda sistemik infeksi.
---
### **4. Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh (SDKI: 00002)**
**Penjelasan:**
Pasien mengalami **penurunan BB dari 4500 g → 4100 g** dan mendapat **ASI per OGT 40cc**, menunjukkan risiko malnutrisi.
**Luaran (SLKI: 0203 – Peningkatan Asupan Nutrisi)**
- BB stabil/meningkat sesuai pertumbuhan.
- Toleransi ASI per OGT baik.
**Intervensi (SIKI: 1120 – Manajemen Nutrisi & 1130 – Pemberian Makanan Enteral)**
- Monitor asupan dan berat badan harian.
- Pastikan OGT berfungsi baik dan posisi tepat.
- Berikan nutrisi sesuai kebutuhan kalori bayi.
---
### **5. Nyeri Akut (SDKI: 00132)**
**Penjelasan:**
Pasien memiliki **lecet di pipi dan iritasi popok**, serta prosedur invasif (OGT, medi-cath) yang dapat menimbulkan nyeri.
**Luaran (SLKI: 1701 – Pengurangan Nyeri)**
- Bayi tidak rewel atau menangis berlebihan.
- Skor nyeri (FLACC/NIPS) dalam batas normal.
**Intervensi (SIKI: 5610 – Manajemen Nyeri & 5620 – Terapi Farmakologi Nyeri)**
- Berikan **Paracetamol** sesuai dosis.
- Gunakan teknik non-farmakologi (swaddling, sentuhan lembut).
---
### **Kesimpulan**
Diagnosa keperawatan utama untuk pasien ini meliputi:
1. **Gangguan pertukaran gas** (SDKI 00030).
2. **Penurunan curah jantung** (SDKI 00029).
3. **Risiko infeksi** (SDKI 00004).
4. **Gangguan nutrisi** (SDKI 00002).
5. **Nyeri akut** (SDKI 00132).
Intervensi keperawatan harus fokus pada **stabilisasi oksigenasi, dukungan kardiovaskuler, pencegahan infeksi, optimalisasi nutrisi, dan manajemen nyeri**.
*(Format RTF dapat disesuaikan sesuai kebutuhan dokumentasi klinis).* -
Article No. 19274 | 04 Jul 2025
Klinis : sesak nafas
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait kondisi sesak nafas, mulai dari diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan. Tone saya akan akademis dan persona saya sebagai seorang pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan SDKI untuk Kondisi Sesak Nafas:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi sesak nafas adalah "Pola Napas Tidak Efektif" (SDKI, 2017). Pola Napas Tidak Efektif didefinisikan sebagai "Ketidakmampuan untuk mempertahankan pernapasan yang memberikan ventilasi adekuat". Diagnosa ini mencakup karakteristik utama seperti napas dangkal, penggunaan otot bantu pernapasan yang berlebihan, dan rasa sesak atau sesak napas.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan yang komprehensif, diharapkan pasien dengan sesak nafas dapat mencapai luaran sebagai berikut:
1. Pola Napas Efektif: Pasien dapat mempertahankan pola napas yang memberikan ventilasi adekuat, dengan frekuensi napas dalam rentang normal, irama teratur, dan kedalaman napas yang memadai.
2. Efikasi Pernapasan Membaik: Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam mengontrol dan mengkoordinasikan otot-otot pernapasan sehingga dapat bernapas dengan lebih efisien.
3. Rasa Sesak Berkurang: Pasien mengalami penurunan sensasi sesak atau sesak napas sehingga dapat beraktivitas dengan lebih nyaman.
4. Saturasi Oksigen Membaik: Pasien menunjukkan peningkatan kadar oksigen dalam darah, yang dapat diukur melalui oksimetri nadi atau analisis gas darah.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran yang diharapkan pada pasien dengan sesak nafas, berikut adalah intervensi keperawatan yang dapat dilakukan:
1. Pemantauan Tanda Vital: Melakukan pemantauan tanda-tanda vital secara rutin, seperti frekuensi napas, saturasi oksigen, dan tanda-tanda lain yang terkait dengan pernapasan.
2. Manajemen Oksigenasi: Memberikan terapi oksigen sesuai dengan kebutuhan pasien, seperti melalui kanula nasal, masker oksigen, atau ventilasi mekanis jika diperlukan.
3. Posisioning: Membantu pasien untuk mempertahankan posisi yang dapat memfasilitasi ventilasi, seperti posisi semi-fowler atau fowler.
4. Latihan Pernapasan: Mengajarkan dan memfasilitasi latihan pernapasan yang dapat meningkatkan efisiensi pernapasan, seperti latihan napas dalam, pursed-lip breathing, atau latihan lainnya yang sesuai.
5. Manajemen Kenyamanan: Memberikan tindakan yang dapat meningkatkan kenyamanan pasien, seperti pengelolaan rasa sesak, pengaturan suhu dan kelembaban lingkungan, dan manajemen nyeri jika ada.
6. Edukasi dan Dukungan: Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga terkait manajemen sesak nafas, serta memberikan dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan.
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif dan berpusat pada pasien, diharapkan pasien dengan sesak nafas dapat mencapai luaran yang diharapkan, yaitu pola napas efektif, efikasi pernapasan yang membaik, penurunan rasa sesak, dan peningkatan saturasi oksigen. Hal ini akan membantu pasien untuk beraktivitas dengan lebih nyaman dan mencapai tingkat kesehatan yang optimal. -
Article No. 19275 | 04 Jul 2025
Klinis : Menggunakan mekanisme koping yang tidak sesuai Tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar Partisipasi sosial kurang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kondisi yang Anda paparkan. Saya akan berusaha menjawab dengan nada akademis dan peran sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
1. Koping tidak efektif (00069)
- SDKI: Kemampuan individu yang tidak memadai untuk beradaptasi terhadap stressor atau perubahan dalam kehidupan.
- SLKI: Peningkatan kemampuan individu untuk beradaptasi terhadap stressor atau perubahan dalam kehidupan.
- SIKI: Intervensi yang ditujukan untuk membantu individu dalam menggunakan sumber daya internal dan eksternal untuk menghadapi, mengatasi, dan beradaptasi terhadap stressor.
2. Defisit perawatan diri (00108)
- SDKI: Ketidakmampuan individu untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri yang rutin.
- SLKI: Peningkatan kemampuan individu untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri yang rutin.
- SIKI: Intervensi yang ditujukan untuk membantu individu dalam melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri yang rutin.
3. Isolasi sosial (00053)
- SDKI: Pengalaman individu yang ditandai oleh perasaan kesendirian yang tidak menyenangkan dan keinginan untuk memiliki hubungan yang lebih banyak.
- SLKI: Peningkatan kemampuan individu untuk membangun dan mempertahankan hubungan sosial yang memuaskan.
- SIKI: Intervensi yang ditujukan untuk memfasilitasi individu dalam membangun dan mempertahankan hubungan sosial yang memuaskan.
Dalam kondisi ini, pasien mengalami beberapa permasalahan terkait dengan mekanisme koping yang tidak sesuai, ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar, dan partisipasi sosial yang kurang. Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Koping tidak efektif, Defisit perawatan diri, dan Isolasi sosial. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah membantu pasien dalam mengembangkan mekanisme koping yang efektif, memfasilitasi peningkatan kemampuan perawatan diri, dan membantu pasien dalam membangun serta mempertahankan hubungan sosial yang memuaskan. -
Article No. 19276 | 04 Jul 2025
Klinis : Menggunakan mekanisme koping yang tidak sesuai Tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar Partisipasi sosial kurang
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis:
1. Kode ICD-10:
- Kode: Z73.3
- Deskripsi: Stres, tidak terspesifikasi
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 94.31
- Deskripsi: Terapi psikoanalisis dan psikoterapi
Penjelasan:
Menggunakan mekanisme koping yang tidak sesuai, tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar, dan partisipasi sosial yang kurang dapat mencerminkan kondisi stres yang tidak terspesifikasi, yang diklasifikasikan dalam kode ICD-10 Z73.3. Ini menunjukkan masalah dalam kemampuan beradaptasi dan mengelola stres dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kasus ini, intervensi yang mungkin diperlukan adalah terapi psikoanalisis dan psikoterapi, yang tercakup dalam kode ICD-9-CM 94.31. Terapi ini dapat membantu pasien dalam mengembangkan mekanisme koping yang lebih sehat, memenuhi kebutuhan dasar, dan meningkatkan partisipasi sosial.
Diagnosis dan tindakan medis ini harus didiskusikan lebih lanjut dengan profesional kesehatan mental yang berwenang untuk menentukan rencana perawatan yang sesuai. -
Article No. 19277 | 04 Jul 2025
Klinis : carikan intervensi distress spiritual
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan rinci dan terperinci terkait diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI), dan Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI) pada kondisi distress spiritual, dengan tone akademis dan persona pakar, nurse.
1. Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi distress spiritual:
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi distress spiritual adalah "Distress Spiritual" (00066). Distress spiritual didefinisikan sebagai pengalaman gangguan dalam kemampuan untuk mengalami dan mengintegrasikan makna dan tujuan hidup. Individu dengan distress spiritual dapat mengalami kesulitan dalam menemukan kenyamanan, kekuatan, hubungan, dan makna dalam kehidupan.
2. Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan pada kondisi distress spiritual adalah:
a. Integritas Spiritual (1306): Kemampuan individu untuk mengalami dan mengintegrasikan makna, tujuan, dan transendensi kehidupan.
b. Ketenangan Spiritual (1304): Keadaan tenang dan damai yang dirasakan individu terkait dengan aspek spiritual kehidupan.
c. Koping Spiritual (1302): Kemampuan individu untuk menggunakan sumber-sumber spiritual dalam menghadapi stres atau permasalahan.
3. Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran pada kondisi distress spiritual meliputi:
a. Dukungan Spiritual (5420): Memberikan dukungan dan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan spiritual individu, seperti memfasilitasi praktik ibadah, mempertemukan dengan pemuka agama, atau memberikan bahan bacaan spiritual.
b. Klarifikasi Nilai (5423): Membantu individu untuk mengidentifikasi dan memperjelas nilai-nilai spiritual yang dianutnya, serta memfasilitasi pengintegrasian nilai-nilai tersebut dalam kehidupan.
c. Terapi Reminisens (5310): Membantu individu untuk mengingat dan menceritakan pengalaman-pengalaman spiritual yang pernah dialaminya di masa lalu, sehingga dapat meningkatkan makna dan tujuan hidup.
d. Terapi Suportif (5270): Memberikan dukungan emosional dan psikologis kepada individu untuk membantu mengatasi distress spiritual yang dialaminya.
e. Bimbingan Spiritual (5426): Memfasilitasi individu untuk mengeksplorasi dan mengembangkan keyakinan spiritual, nilai, dan praktik yang dapat membantu mengatasi distress spiritual.
Dalam memberikan Asuhan Keperawatan pada kondisi distress spiritual, perawat harus memahami dan menghargai keunikan dan keragaman keyakinan spiritual setiap individu. Perawat juga harus mampu bekerja sama dengan anggota tim kesehatan lainnya, seperti pemuka agama atau konselor spiritual, untuk memberikan dukungan yang komprehensif bagi individu yang mengalami distress spiritual. -
Article No. 19278 | 04 Jul 2025
Klinis : pasien bapak s ,68 tahun mengalami stroke berulang . kondisi hemiplegi ,afasia ,inkontinesia ,tergantung perawatan total . keluarga : istri sebagai caregiver utama terlihat kelelahan anak anak tinggal jauh . masalah paiatif :kelelahan caregiver , isolasi sosial , beban emosional .tentukan SDKi terkait beban caregiver
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Beban Caregiver Berat (00061)
Definisi: Respon fisik, psikologis, emosional, sosial, dan finansial yang berlebihan dari caregiver dalam memberikan perawatan kepada orang lain.
Karakteristik Definisi:
- Kelelahan fisik dan emosional
- Isolasi sosial
- Perasaan frustrasi dan kemarahan
- Kurangnya waktu untuk diri sendiri
- Kesulitan finansial
2. Kelelahan (00093)
Definisi: Sensasi yang berkelanjutan dan subjektif dari kelelahan fisik, emosional, dan mental yang memengaruhi kemampuan individu untuk berfungsi pada tingkat normal.
Karakteristik Definisi:
- Perasaan lelah yang berlebihan
- Penurunan kapasitas untuk melakukan aktivitas rutin
- Penurunan motivasi dan konsentrasi
3. Isolasi Sosial (00053)
Definisi: Pengalaman individu yang merasa terisolasi dari jaringan sosial, kurang dukungan, dan tidak terlibat dalam aktivitas sosial.
Karakteristik Definisi:
- Menarik diri dari interaksi sosial
- Kurangnya hubungan yang berarti
- Perasaan kesepian
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Beban Caregiver Berkurang
- Caregiver melaporkan penurunan kelelahan fisik dan emosional
- Caregiver memiliki waktu untuk diri sendiri
- Caregiver mengungkapkan perasaan positif terkait dengan perannya
2. Tingkat Kelelahan Menurun
- Caregiver melaporkan peningkatan energi dan motivasi
- Caregiver mampu melakukan aktivitas rutin dengan baik
- Caregiver merasa lebih segar dan bersemangat
3. Isolasi Sosial Berkurang
- Caregiver terlibat dalam aktivitas sosial dan komunitas
- Caregiver memiliki jaringan sosial yang mendukung
- Caregiver merasa lebih terhubung dengan orang lain
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Beban Caregiver
- Identifikasi sumber dan tingkat beban caregiver
- Berikan dukungan emosional dan bantuan praktis
- Fasilitasi pemenuhan kebutuhan pribadi caregiver
- Ajarkan teknik manajemen stres dan relaksasi
2. Manajemen Kelelahan
- Pantau tanda-tanda kelelahan caregiver
- Anjurkan istirahat yang cukup dan gaya hidup sehat
- Libatkan caregiver dalam aktivitas rekreasi dan hobi
- Fasilitasi pembagian tugas perawatan dengan anggota keluarga lain
3. Peningkatan Interaksi Sosial
- Identifikasi sumber dukungan sosial bagi caregiver
- Dorong caregiver untuk terlibat dalam kelompok dukungan
- Fasilitasi caregiver untuk berpartisipasi dalam aktivitas komunitas
- Kolaborasi dengan tenaga profesional lain untuk mengembangkan jaringan sosial
Melalui intervensi-intervensi ini, diharapkan dapat menurunkan beban caregiver, mengurangi kelelahan, dan meningkatkan keterlibatan sosial sehingga caregiver dapat memberikan perawatan yang optimal bagi pasien. -
Article No. 19279 | 04 Jul 2025
Klinis : pasien bapak s ,68 tahun mengalami stroke berulang . kondisi hemiplegi ,afasia ,inkontinesia ,tergantung perawatan total . keluarga : istri sebagai caregiver utama terlihat kelelahan anak anak tinggal jauh . masalah paiatif :kelelahan caregiver , isolasi sosial , beban emosional .tentukan SDKi terkait beban caregiver
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan dan Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk Kondisi Pasien Bapak S, 68 Tahun dengan Stroke Berulang:
1. Diagnosa Keperawatan:
a. SDKI: Kelelahan Caregiver (10023)
Definisi: Pengalaman fisik, mental, dan emosional yang melelahkan dan membatasi kemampuan seseorang untuk memberikan perawatan yang efektif.
b. SDKI: Isolasi Sosial (10026)
Definisi: Pengalaman individu atau keluarga yang merasa terisolasi secara sosial atau kurang keterlibatan dalam aktivitas sosial yang diinginkan.
c. SDKI: Beban Emosional (10011)
Definisi: Pengalaman individu atau keluarga yang merasa terbebani secara emosional akibat penyakit atau kondisi yang dialami.
2. Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
a. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
SDKI merupakan standar diagnosis keperawatan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Setiap diagnosis keperawatan dalam SDKI memiliki kode dan definisi yang jelas.
b. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
SLKI adalah standar luaran keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI. Setiap luaran keperawatan dalam SLKI memiliki kode dan definisi yang jelas.
c. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
SIKI adalah standar intervensi keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI. Setiap intervensi keperawatan dalam SIKI memiliki kode dan definisi yang jelas.
Tone: Akademis
Persona: Pakar/Perawat
Berdasarkan kondisi pasien Bapak S, 68 tahun dengan stroke berulang, hemiplegi, afasia, inkontinensia, dan ketergantungan total dalam perawatan, serta masalah paliatif yang dihadapi keluarga, yaitu kelelahan caregiver, isolasi sosial, dan beban emosional, maka diagnosa keperawatan yang dapat ditetapkan adalah:
1. Kelelahan Caregiver (10023)
2. Isolasi Sosial (10026)
3. Beban Emosional (10011)
Penjelasan singkat untuk masing-masing diagnosa keperawatan:
1. Kelelahan Caregiver (10023)
Definisi: Pengalaman fisik, mental, dan emosional yang melelahkan dan membatasi kemampuan seseorang untuk memberikan perawatan yang efektif. Hal ini disebabkan oleh peran caregiver utama (istri) dalam merawat pasien stroke yang mengalami ketergantungan total, serta kondisi anak-anak yang tinggal jauh.
2. Isolasi Sosial (10026)
Definisi: Pengalaman individu atau keluarga yang merasa terisolasi secara sosial atau kurang keterlibatan dalam aktivitas sosial yang diinginkan. Hal ini dapat terjadi karena pasien stroke dengan kondisi yang kompleks, serta keterbatasan keluarga dalam melakukan aktivitas sosial.
3. Beban Emosional (10011)
Definisi: Pengalaman individu atau keluarga yang merasa terbebani secara emosional akibat penyakit atau kondisi yang dialami. Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi pasien stroke yang kompleks, serta peran caregiver utama (istri) yang merasa terbebani secara emosional.