Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25104 | 14 Apr 2026
Klinis : Pasien mengeluhkan nyeri dada tembus ke belakang, skala nyeri 5, hilang saat di beri obat dan saat tidur menyamping, nyeri hilang timbul, sakitnya terus menerus tetapi berkurang saat menyamping. Pasien terpasang oksigen 3lpm
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0009
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau mendadak dengan intensitas ringan hingga berat.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Tingkat nyeri terkontrol. Ditandai dengan: 1) Melaporkan nyeri terkontrol. 2) Menunjukkan perilaku nyeri terkontrol (misalnya, mampu beristirahat, tidur). 3) Tanda-tanda fisiologis nyeri terkontrol (misalnya, tanda-tanda vital dalam rentang normal). 4) Mengenali faktor pencetus nyeri. 5) Menggunakan metode nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri.
Kode SIKI: I.08059
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, faktor pencetus, dan faktor penghilang). 2) Observasi tanda-tanda nonverbal dari ketidaknyamanan atau nyeri (misalnya, perubahan tanda vital, gelisah, ekspresi wajah, postur tubuh). 3) Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien. 4) Berikan analgetik sesuai program terapi. 5) Evaluasi efektivitas analgetik (onset, puncak, durasi) dan efek samping. 6) Ajarkan penggunaan skala nyeri untuk melaporkan intensitas nyeri. 7) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain dalam pemberian terapi farmakologis dan nonfarmakologis. 8) Lakukan tindakan nonfarmakologis (misalnya: distraksi, relaksasi, kompres hangat/dingin, reposisi, masase, dukungan emosional). 9) Atur posisi pasien untuk kenyamanan maksimal. 10) Monitor dan dokumentasi respons pasien terhadap intervensi.
-
Article No. 25105 | 14 Apr 2026
Klinis : Pasien mengeluhkan nyeri dada tembus ke belakang, skala nyeri 5, hilang saat di beri obat dan saat tidur menyamping, nyeri hilang timbul, sakitnya terus menerus tetapi berkurang saat menyamping. Karena sakit itu pasien merasakan sesak juga. Pasien terpasang oksigen 3lpm
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti cedera; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dan perkiraan akhir yang dapat diantisipasi.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Pasien mampu mengontrol nyeri. Ditunjukkan dengan perilaku: 1) Mengenali faktor penyebab, 2) Mengenali onset nyeri, 3) Menggunakan metode nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri, 4) Menggunakan analgesik dengan tepat, 5) Melaporkan nyeri dapat dikontrol, 6) Melaporkan nyeri berkurang atau hilang, 7) Menunjukkan ekspresi wajah rileks, 8) Menunjukkan posisi tubuh nyaman, 9) Melaporkan mampu beristirahat dan tidur, 10) Melaporkan mampu melakukan aktivitas sesuai kondisi.
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Kegiatan: 1) Monitor lokasi, karakteristik, intensitas (skala 0-10), frekuensi, dan durasi nyeri. 2) Monitor faktor yang memperberat dan meringankan nyeri. 3) Monitor respons nonverbal ketidaknyamanan. 4) Monitor dampak nyeri terhadap fungsi (tidur, nafsu makan, aktivitas fisik, hubungan interpersonal, konsentrasi). 5) Lakukan pendekatan terapeutik untuk mengurangi persepsi nyeri. 6) Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologis (relaksasi nafas dalam, distraksi, imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin). 7) Kolaborasi pemberian farmakologis sesuai indikasi. 8) Evaluasi efektivitas intervensi pengurangan nyeri. 9) Fasilitasi posisi yang nyaman. 10) Berikan lingkungan yang tenang.
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk bernapas secara adekuat untuk mempertahankan suplai oksigen ke sel dan membuang karbon dioksida dari tubuh, yang dapat disebabkan oleh gangguan pada sistem pernapasan, sirkulasi, atau neurologis.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Status Pernapasan: Ventilasi. Pasien menunjukkan ventilasi yang adekuat. Ditunjukkan dengan perilaku: 1) Frekuensi napas dalam rentang normal sesuai usia, 2) Irama napas teratur, 3) Kedalaman napas adekuat, 4) Tidak menggunakan otot bantu napas, 5) Tidak ada sianosis, 6) Tidak ada bunyi napas tambahan, 7) Ekspansi dada simetris, 8) Gas darah arteri dalam rentang normal, 9) Saturasi oksigen dalam rentang normal, 10) Melaporkan tidak sesak napas.
Kode SIKI: 3180
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Tindakan untuk mempertahankan jalan napas paten dan meningkatkan pertukaran gas. Kegiatan: 1) Monitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas). 2) Auskultasi bunyi napas. 3) Monitor tanda hipoksia (gelisah, cemas, penurunan kesadaran, sianosis). 4) Monitor saturasi oksigen. 5) Pertahankan posisi semifowler/fowler untuk memudahkan ekspansi paru. 6) Bantu latihan napas dalam dan batuk efektif. 7) Lakukan fisioterapi dada jika diperlukan. 8) Berikan terapi oksigen sesuai program dan monitor efektivitasnya. 9) Lakukan suction jika diperlukan. 10) Kolaborasi pemberian bronkodilator atau obat lain sesuai indikasi.
-
Article No. 25106 | 14 Apr 2026
Klinis : Anak laki-laki usia 18 bulan dibawa ke rumah sakit karena mengalami demam tinggi yang diikuti dengan kejang. Anak dilaporkan mengalami kejang sebanyak 3 kali dengan durasi selama ±10 detik dengan jarak ±2 jam antara kejang pertama dan berikutnya. Kejang dikatakan terjadi di seluruh tubuh dengan badan kaku dengan mata menghadap ke atas, selama kejang anak tidak sadar. Lalu saat kejang berhenti anak sadar dan menangis. 3 hari sebelum kejang, anak disebutkan mengalami demam dan batuk. Hasil pemeriksaan saat ini diketahui suhu tubuh 38,2o C, frekuensi nadi 120x/menit. Ibu merasa cemas dan takut melihat anak kejang, serta mengatakan tidak tahu harus berbuat apa saat anak kejang
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Kejang Demam Kompleks
Kode ICD-10: R56.1
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan kejang yang terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun yang diprovokasi oleh demam (suhu ≥38°C) tanpa adanya infeksi intrakranial atau penyebab spesifik lainnya. Pada kasus ini, kejang memenuhi kriteria kejang demam kompleks karena terjadi lebih dari satu kali dalam 24 jam (3 kali dengan jarak 2 jam), dengan durasi yang relatif lama (masing-masing ±10 detik), dan bersifat umum (seluruh tubuh kaku, mata menghadap ke atas). Kejang demam biasanya terjadi pada fase awal penyakit demam, seperti infeksi saluran pernapasan yang dialami pasien 3 hari sebelumnya. Kode ICD-10 R56.1 dikategorikan di bawah gejala dan tanda umum (R50-R69), tepatnya di bawah "Kejang, tidak diklasifikasikan di tempat lain". Kode ini digunakan untuk kejang demam sederhana maupun kompleks, di mana riwayat klinis dan pemeriksaan tidak menemukan penyebab kejang lain seperti epilepsi, infeksi sistem saraf pusat, atau gangguan metabolik. Penanganan utama adalah menurunkan demam, mengatasi penyebab infeksi, dan edukasi kepada orang tua mengenai tata laksana pertama saat kejang serta mengurangi kecemasan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 25108 | 14 Apr 2026
Klinis : Anak laki-laki usia 18 bulan dibawa ke rumah sakit karena mengalami demam tinggi yang diikuti dengan kejang. Anak dilaporkan mengalami kejang sebanyak 3 kali dengan durasi selama ±10 detik dengan jarak ±2 jam antara kejang pertama dan berikutnya. Kejang dikatakan terjadi di seluruh tubuh dengan badan kaku dengan mata menghadap ke atas, selama kejang anak tidak sadar. Lalu saat kejang berhenti anak sadar dan menangis. 3 hari sebelum kejang, anak disebutkan mengalami demam dan batuk. Hasil pemeriksaan saat ini diketahui suhu tubuh 38,2o C, frekuensi nadi 120x/menit. Ibu merasa cemas dan takut melihat anak kejang, serta mengatakan tidak tahu harus berbuat apa saat anak kejang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat menyebabkan kerusakan neurologis, terkait dengan faktor risiko kejang demam berulang.
Kode SLKI: 0901
Deskripsi : Perfusi Serebral: Tujuan keperawatan adalah untuk mempertahankan perfusi serebral yang adekuat dan mencegah cedera neurologis lebih lanjut. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk usia (suhu, nadi, pernapasan, tekanan darah), 2) Status neurologis stabil atau membaik (tidak ada kejang berulang, tingkat kesadaran baik [sadar dan menangis setelah kejang], respons motorik dan sensorik normal), 3) Tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial (fontanel tidak tegang, muntah proyektil, iritabilitas berlebihan), 4) Keseimbangan cairan dan elektrolit terjaga, dan 5) Fungsi kognitif sesuai perkembangan usia terpelihara. Perawat akan memantau frekuensi, durasi, dan karakteristik kejang, serta respons anak pasca-iktal. Pemantauan ketat terhadap suhu tubuh sangat krusial untuk mencegah pemicu kejang demam berulang. Selain itu, observasi terhadap tanda-tanda dehidrasi atau overload cairan juga dilakukan karena dapat mempengaruhi perfusi serebral.
Kode SIKI: 3510
Deskripsi : Manajemen Kejang: Intervensi keperawatan difokuskan pada pencegahan, penanganan selama kejang, dan observasi pasca kejang untuk memastikan perfusi serebral tetap optimal. Intervensi spesifik meliputi: 1) Mempertahankan jalan napas dan mencegah aspirasi selama kejang dengan memposisikan anak miring (posisi recovery), membersihkan sekret dari mulut, dan tidak memasukkan apa pun ke dalam mulut. 2) Melindungi anak dari cedera fisik selama kejang dengan mengamankan area sekitar tempat tidur, menggunakan penghalang sisi tempat tidur yang dipasang dengan benar, dan menghindari restrain. 3) Mengadministrasikan obat antipiretik (sesuai resep) seperti parasetamol untuk menurunkan demam, yang merupakan faktor pemicu utama, disertai tindakan kompres hangat. 4) Mengadministrasikan obat antikonvulsan sesuai resep dokter (misalnya diazepam rectal) jika diperlukan untuk menghentikan kejang aktif atau mencegah kejang berulang. 5) Memonitor dan mendokumentasikan secara rinci setiap episode kejang: waktu mulainya, durasi, karakteristik (tonik-klonik, fokal, umum), bagian tubuh yang terlibat, dan kondisi anak setelah kejang (periode pasca-iktal). 6) Memantau status neurologis secara berkala termasuk tingkat kesadaran (GCS modifikasi untuk anak), reaksi pupil, tonus otot, dan refleks. 7) Memastikan kebutuhan oksigenasi terpenuhi dengan memberikan oksigen jika diperlukan dan memonitor saturasi oksigen. 8) Mengatur keseimbangan cairan dengan pemberian cairan intravena atau oral sesuai toleransi untuk mencegah dehidrasi yang dapat memperburuk kondisi. 9) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemeriksaan penunjang seperti EEG jika diindikasikan. 10) Memberikan edukasi dan dukungan kepada keluarga, khususnya ibu, tentang penanganan pertama kejang demam di rumah, cara mengukur dan menurunkan suhu, serta kapan harus segera mencari pertolongan medis, untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan kemampuan koping keluarga.
-
Article No. 25109 | 14 Apr 2026
Klinis : Anak laki-laki usia 18 bulan dibawa ke rumah sakit karena mengalami demam tinggi yang diikuti dengan kejang. Anak dilaporkan mengalami kejang sebanyak 3 kali dengan durasi selama ±10 detik dengan jarak ±2 jam antara kejang pertama dan berikutnya. Kejang dikatakan terjadi di seluruh tubuh dengan badan kaku dengan mata menghadap ke atas, selama kejang anak tidak sadar. Lalu saat kejang berhenti anak sadar dan menangis. 3 hari sebelum kejang, anak disebutkan mengalami demam dan batuk. Hasil pemeriksaan saat ini diketahui suhu tubuh 38,2o C, frekuensi nadi 120x/menit. Ibu merasa cemas dan takut melihat anak kejang, serta mengatakan tidak tahu harus berbuat apa saat anak kejang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan otak. Pada kasus kejang demam, aktivitas listrik otak yang berlebihan dan peningkatan kebutuhan metabolik selama kejang dapat mengganggu keseimbangan antara suplai oksigen/nutrisi dan kebutuhan otak, berisiko menyebabkan perfusi serebral yang tidak efektif. Risiko ini diperberat oleh demam tinggi yang meningkatkan metabolisme basal dan kebutuhan oksigen serebral.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Perfusi serebral tetap adekuat. Tujuan keperawatan adalah mempertahankan perfusi otak yang optimal untuk mencegah cedera neurologis lebih lanjut. Indikator keberhasilannya meliputi: anak menunjukkan tingkat kesadaran normal sesuai usianya (responsif, dapat dibangunkan) setelah kejang berhenti, tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk usia (nadi kuat dan teratur, tekanan darah adekuat, saturasi oksigen >95%), tidak ada episode kejang berulang yang berkepanjangan, fungsi motorik dan sensorik tetap utuh, serta tidak terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti fontanel menonjol (jika masih terbuka) atau muntah proyektil. Perawat akan memantau kesadaran (GCS modifikasi untuk anak), tanda vital neurologis (pupil, reaksi motorik), dan durasi serta karakteristik kejang jika berulang.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen Kejang. Intervensi ini merupakan tindakan spesifik untuk mengatasi dan mencegah komplikasi dari kejang. Langkah-langkahnya meliputi: 1) Mempertahankan jalan napas paten selama dan setelah kejang dengan memposisikan anak miring (recovery position), menghisap lendir jika diperlukan, dan memberikan oksigen sesuai order. 2) Melindungi anak dari cedera fisik selama kejang dengan mengamankan area sekitar, tidak memasukkan apapun ke dalam mulut, dan membaringkan di permukaan yang aman. 3) Menghentikan atau mengurangi aktivitas kejang dengan pemberian obat antikonvulsan sesuai protokol/order dokter (seperti diazepam rektal). 4) Memantau dan mendokumentasi karakteristik kejang: onset, durasi, tipe gerakan, bagian tubuh yang terlibat, dan tingkat kesadaran. 5) Memonitor tanda-tanda vital dan status neurologis pasca kejang. 6) Mengelola penyebab yang dapat dikendalikan, seperti menurunkan demam dengan kompres hangat dan antipiretik. 7) Memberikan edukasi kepada keluarga tentang penanganan pertama kejang di rumah.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal (≥38°C) akibat ketidakseimbangan antara produksi panas dan pengeluaran panas. Pada kasus ini, demam (suhu 38.2°C) merupakan pemicu utama kejang demam sederhana. Hipertermia meningkatkan metabolisme basal dan konsumsi oksigen otak, sehingga menurunkan ambang kejang pada anak yang rentan.
Kode SLKI: 0802
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal. Tujuannya adalah menurunkan dan mempertahankan suhu tubuh anak dalam batas normal (36.5-37.5°C) untuk mencegah kejang berulang dan mengurangi ketidaknyamanan. Indikatornya meliputi: suhu aksila ≤37.5°C, kulit teraba hangat (tidak panas), tidak ada menggigil, frekuensi nafas dan nadi dalam rentang normal untuk usia, serta anak tampak nyaman (tidak rewel berlebihan). Pemantauan suhu dilakukan secara berkala setiap 2-4 jam atau sesuai kondisi.
Kode SIKI: 3900
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi ini ditujukan untuk mengurangi suhu tubuh secara aman. Tindakannya meliputi: 1) Memantau suhu tubuh secara teratur. 2) Memberikan terapi antipiretik sesuai order (parasetamol atau ibuprofen) dengan dosis tepat berdasarkan berat badan. 3) Melakukan tindakan pendinginan fisik seperti kompres hangat (bukan air dingin/es) di daerah lipatan (ketiak, selangkangan) dan dahi, karena kompres hangat menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah perifer sehingga panas dapat keluar. 4) Mengatur lingkungan yang nyaman (sirkulasi udara baik, suhu ruangan sejuk, pakaian tipis dan menyerap keringat). 5) Meningkatkan asupan cairan untuk mencegah dehidrasi dan membantu regulasi suhu. 6) Memantau tanda-tanda dehidrasi dan kejang.
Kondisi: Ansietas Orang Tua
<Kode SDKI: 0014
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah, khawatir, tegang, atau takut yang dialami oleh orang tua (dalam hal ini ibu) sebagai respons terhadap ancaman yang dirasakan terhadap kesehatan anaknya. Ibu menyatakan merasa cemas, takut, dan tidak tahu harus berbuat apa saat anak kejang. Kejang pada anak adalah pengalaman yang sangat menakutkan bagi orang tua dan sering menimbulkan perasaan tidak berdaya.
Kode SLKI: 1402
Deskripsi : Tingkat ansietas menurun. Tujuannya adalah mengurangi kecemasan ibu hingga tingkat yang dapat dikelola, sehingga ibu dapat berpartisipasi secara efektif dalam perawatan anak. Indikatornya meliputi: ibu dapat mengidentifikasi penyebab kecemasannya, ibu melaporkan penurunan perasaan tegang dan takut, ibu menunjukkan perilaku yang lebih tenang (tidak panik, kontak mata baik), ibu mampu mengikuti instruksi sederhana dari perawat, serta ibu mengungkapkan pemahaman tentang kondisi anak dan penanganan kejang dasar.
Kode SIKI: 5820
Deskripsi : Pengurangan Ansietas. Intervensi ini fokus pada memberikan dukungan psikologis dan informasi untuk mengurangi kecemasan. Tindakannya meliputi: 1) Mendengarkan dengan penuh perhatian kekhawatiran dan ketakutan ibu. 2) Memberikan penjelasan yang jelas, sederhana, dan jujur tentang kondisi anak (kejang demam sederhana), penyebab, prognosis yang umumnya baik, dan rencana perawatan. 3) Mengajarkan dan mendemonstrasikan tindakan yang harus dilakukan jika kejang berulang di rumah (menjauhkan benda berbahaya, memiringkan posisi, mencatat durasi, tidak memasukkan apapun ke mulut, segera bawa ke fasilitas kesehatan jika kejang >5 menit). 4) Melibatkan ibu dalam perawatan anak (seperti memeluk anak setelah sadar, membantu mengompres) untuk mengurangi perasaan tidak berdaya. 5) Memberikan lingkungan yang suportif dan meyakinkan bahwa anak dalam penanganan tim kesehatan. 6) Mengevaluasi tingkat pemahaman dan kecemasan ibu secara berkala.
-
Article No. 25110 | 14 Apr 2026
Klinis : Anak laki-laki usia 18 bulan dibawa ke rumah sakit karena mengalami demam tinggi yang diikuti dengan kejang. Anak dilaporkan mengalami kejang sebanyak 3 kali dengan durasi selama ±10 detik dengan jarak ±2 jam antara kejang pertama dan berikutnya. Kejang dikatakan terjadi di seluruh tubuh dengan badan kaku dengan mata menghadap ke atas, selama kejang anak tidak sadar. Lalu saat kejang berhenti anak sadar dan menangis. 3 hari sebelum kejang, anak disebutkan mengalami demam dan batuk. Hasil pemeriksaan saat ini diketahui suhu tubuh 38,2o C, frekuensi nadi 120x/menit. Ibu merasa cemas dan takut melihat anak kejang, serta mengatakan tidak tahu harus berbuat apa saat anak kejang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Perfusi Serebral: Tercapainya aliran darah yang adekuat ke otak untuk memenuhi kebutuhan metabolik dan mencegah cedera neurologis. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: tingkat kesadaran sesuai usia (pada kasus ini, sadar penuh dan responsif setelah kejang berhenti), tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk usia (suhu tubuh yang terkontrol, nadi dan pernapasan stabil), tidak terjadi kejang berulang, fungsi motorik dan sensorik utuh, serta tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti muntah proyektil atau ubun-ubun menonjol (pada bayi). SLKI ini menjadi tujuan utama perawatan untuk memastikan kejang demam tidak berkembang menjadi kondisi yang mengancam perfusi otak secara permanen.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen Kejang: Intervensi keperawatan yang dilakukan selama fase akut kejang dan pasca kejang untuk meminimalkan komplikasi. Intervensi ini mencakup: 1) Melindungi pasien dari cedera selama kejang (membaringkan di tempat datar dan aman, memiringkan kepala untuk menjaga jalan napas, longgarkan pakaian, jangan menahan gerakan atau memasukkan sesuatu ke mulut). 2) Memantau dan mendokumentasi karakteristik kejang (durasi, frekuensi, bagian tubuh yang terlibat, tingkat kesadaran). 3) Memantau tanda-tanda vital dan status neurologis secara ketat pasca kejang. 4) Memberikan terapi antipiretik sesuai instruksi untuk mengatasi demam penyebab kejang. 5) Memberikan terapi antikonvulsan sesuai instruksi jika diperlukan. 6) Menjaga kenyamanan dan memberikan dukungan psikologis kepada anak dan keluarga setelah kejang. SIKI ini secara langsung ditujukan untuk mencegah hipoksia serebral selama kejang dan mengontrol faktor pemicu (demam), sehingga mendukung tercapainya SLKI Perfusi Serebral yang adekuat.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal untuk usia individu karena kegagalan mekanisme termoregulasi.
Kode SLKI: 1402
Deskripsi : Termoregulasi: Kemampuan tubuh dalam mempertahankan suhu inti dalam rentang normal. Kriteria hasil yang diharapkan adalah: suhu tubuh turun dan bertahan dalam rentang normal (36.5°C - 37.5°C), kulit teraba hangat (bukan panas) dan tidak berkeringat berlebihan, frekuensi nafas dan nadi dalam batas normal untuk usia, serta anak tampak nyaman (tidak rewel berlebihan, dapat beristirahat). Pada kasus kejang demam, pencapaian SLKI ini adalah kunci utama untuk mencegah berulangnya kejang, karena demam tinggi merupakan pemicu utamanya. Pengendalian suhu tubuh secara efektif akan memutus siklus risiko kejang dan mengurangi beban metabolik pada otak.
Kode SIKI: 3830
Deskripsi : Manajemen Hipertermia: Serangkaian tindakan untuk menurunkan suhu tubuh yang meningkat. Intervensi ini meliputi: 1) Memantau suhu tubuh secara berkala. 2) Memberikan terapi antipiretik (seperti parasetamol atau ibuprofen) sesuai resep dokter dengan dosis tepat berdasarkan berat badan. 3) Melakukan kompres hangat (bukan dingin atau alkohol) di daerah lipatan (ketiak, selangkangan) dan dahi untuk meningkatkan pelepasan panas secara konduksi. 4) Meningkatkan asupan cairan untuk mencegah dehidrasi dan membantu proses pengaturan suhu. 5) Memakai pakaian yang tipis dan menyerap keringat. 6) Mengatur suhu lingkungan agar sejuk dan nyaman. SIKI ini secara langsung menangani masalah fisiologis utama (demam) yang menjadi penyebab kejang, sehingga menjadi fondasi untuk mencegah komplikasi lebih lanjut dan mencapai kestabilan termoregulasi.
Kondisi: Ansietas (pada pengasuh/ibu)
Kode SDKI: 0014
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah, ketegangan, atau ketakutan yang tidak jelas sumbernya sebagai respons terhadap ancaman yang tidak spesifik.
Kode SLKI: 1405
Deskripsi : Kontrol Ansietas: Kemampuan pengasuh (ibu) untuk mengenali, mengungkapkan, dan mengelola perasaan cemasnya secara adaptif. Kriteria hasil yang diharapkan adalah: ibu dapat mengidentifikasi penyebab kecemasannya (ketidaktahuan menangani kejang, takut anak meninggal/cacat), menunjukkan perilaku koping yang positif (tenang relatif, kooperatif dengan tim kesehatan), mampu mendemonstrasikan tindakan pertolongan pertama kejang demam dengan benar, serta melaporkan penurunan tingkat kecemasan secara subjektif. Mencapai SLKI ini pada pengasuh sangat krusial karena kecemasan yang tinggi dapat mengganggu kemampuan ibu dalam memberikan perawatan dan dukungan emosional yang optimal kepada anak, serta menghambat proses pembelajaran perawatan lanjutan di rumah.
Kode SIKI: 5820
Deskripsi : Penurunan Ansietas: Intervensi untuk membantu mengurangi perasaan cemas pada pengasuh. Tindakan ini mencakup: 1) Membangun hubungan saling percaya dan memberikan dukungan emosional. 2) Memberikan informasi yang jelas, jujur, dan mudah dipahami tentang kondisi anak, penyebab kejang demam, prognosis, dan rencana perawatan. 3) Mengajarkan dan memandu ibu secara langsung tentang langkah-langkah yang harus dilakukan jika kejang berulang di rumah (posisi aman, jangan memasukkan apapun ke mulut, amati durasi, segera bawa ke fasilitas kesehatan jika kejang >5 menit). 4) Melibatkan ibu dalam perawatan anak selama di rumah sakit untuk meningkatkan rasa kontrol. 5) Memberikan reinforcement positif atas upaya yang telah ibu lakukan. 6) Mengajarkan teknik relaksasi sederhana. Dengan SIKI ini, perawat tidak hanya merawat pasien (anak) tetapi juga memberdayakan pengasuh utama, sehingga meningkatkan kualitas perawatan berkelanjutan dan mengurangi dampak psikologis dari kejadian yang menakutkan tersebut.
-
Article No. 25111 | 14 Apr 2026
Klinis : pasien dengan tb kelenjar. terdapat benjolan di leher tidak nyeri, benjolan kecil kurleb 5cm. 2 hari dirawat panas, sebelumnya panas naik turun, keringat dingin. berat badan turun
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Tuberkulosis Kelenjar Limfe (Skrofuloderma)
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1910
Deskripsi : Pengendalian Infeksi
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Manajemen Isolasi
Kondisi: Tuberkulosis Kelenjar Limfe (Skrofuloderma)
Kode SDKI: 0001
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Manajemen Nyeri
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : Pemberian Analgesik
Kondisi: Tuberkulosis Kelenjar Limfe (Skrofuloderma)
Kode SDKI: 0018
Deskripsi Singkat: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SLKI: 1106
Deskripsi : Status Nutrisi
Kode SIKI: 2120
Deskripsi : Manajemen Nutrisi
Kondisi: Tuberkulosis Kelenjar Limfe (Skrofuloderma)
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Hipertermia
Kode SLKI: 1402
Deskripsi : Status Termoregulasi
Kode SIKI: 3900
Deskripsi : Manajemen Hipertermia
-
Article No. 25112 | 14 Apr 2026
Klinis : Seorang bayi laki-laki lahir di ruang NICU melalui persalinan sectio caesarea pada usia kehamilan 32 minggu. Berat lahir 1.800 gram. Ibu berusia 28 tahun, G1P0A0, dengan riwayat preeklampsia. Saat lahir: Bayi tidak langsung menangis kuat Napas cepat (>70x/menit) Tampak retraksi dinding dada Terdapat napas cuping hidung Warna kulit kebiruan (sianosis perifer) Nilai APGAR score: Menit ke-1: 5 Menit ke-5: 7 Bayi kemudian dirawat di NICU dengan bantuan oksigen Hasil pemeriksaan lanjutan: Frekuensi napas : 76 x/menit Frekuensi jantung: 160 x/menit Suhu: 36,2°C SpO₂: 88% (dengan nasal kanul) Pemeriksaan penunjang: Foto toraks: gambaran ground glass appearance Analisis gas darah (AGD): pH: 7,28 PaO₂: 55 mmHg PaCO₂: 55 mmHg Setelah 6 jam pera…
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Pertukaran Gas Membaik
Kode SIKI: I.04001
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas
Penjelasan Lengkap:
Berdasarkan data klinis yang disajikan, diagnosa keperawatan utama yang paling relevan untuk bayi prematur 32 minggu ini adalah Gangguan Pertukaran Gas (D.0005). Diagnosa ini ditegakkan berdasarkan kumpulan data objektif yang menunjukkan kegagalan sistem pernapasan untuk melakukan oksigenasi dan ventilasi yang adekuat. Bayi lahir dengan asfiksia perinatal yang ditandai dengan tangisan tidak kuat, APGAR rendah (5 dan 7), serta sianosis. Gejala distress pernapasan berat sangat menonjol: takipnea (>70/menit), retraksi dinding dada, napas cuping hidung, dan saturasi oksigen (SpO₂) yang tetap rendah 88% meski telah diberikan oksigen. Temuan penunjang kunci yang mengonfirmasi gangguan pada membran alveolus-kapiler adalah hasil Analisis Gas Darah (AGD) yang menunjukkan hipoksemia (PaO₂ 55 mmHg), hiperkapnia (PaCO₂ 55 mmHg), dan asidosis respiratorik (pH 7.28), serta gambaran radiologis "ground glass appearance" yang klasik untuk Sindrom Gangguan Pernapasan (Respiratory Distress Syndrome/RDS) akibat defisiensi surfaktan pada bayi prematur. Kondisi ini diperberat oleh status prematuritas (32 minggu) dan berat badan lahir rendah (1.800 gram), di mana perkembangan paru belum matang. Riwayat preeklampsia ibu juga merupakan faktor risiko untuk asfiksia dan gangguan adaptasi neonatal.
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) D.0005 didefinisikan sebagai keadaan kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler. Definisi ini secara tepat menggambarkan patofisiologi yang terjadi pada pasien ini. Defisiensi surfaktan menyebabkan peningkatan tegangan permukaan alveoli, kolaps alveolar (atelektasis), dan penurunan luas permukaan untuk pertukaran gas. Akibatnya, terjadi kekurangan oksigenasi (hipoksemia) yang dimanifestasikan sebagai sianosis dan SpO₂ rendah, serta kelebihan karbon dioksida (hiperkapnia) yang terlihat dari peningkatan PaCO₂. Upaya kompensasi bayi untuk mengatasi hipoksemia adalah dengan meningkatkan frekuensi napas (takipnea), namun karena compliance paru yang buruk, upaya ini menjadi tidak efektif dan justru meningkatkan kerja napas (retraksi, cuping hidung).
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) L.04001 dengan luaran "Pertukaran Gas Membaik" ditetapkan sebagai tujuan dari intervensi keperawatan. Luaran ini diharapkan tercapai dengan kriteria hasil yang dapat diukur dari kondisi pasien, antara lain: frekuensi napas dalam rentang normal sesuai usia (40-60x/menit untuk bayi prematur), tidak ada tanda kerja napas tambahan (retraksi, cuping hidung), warna kulit kemerahan/tidak sianosis, saturasi oksigen (SpO₂) dalam rentang target (biasanya 90-95% untuk bayi prematur guna mencegah retinopati), dan hasil Analisis Gas Darah (AGD) yang menunjukkan perbaikan yaitu pH 7.35-7.45, PaO₂ > 60 mmHg, dan PaCO₂ 35-45 mmHg. Pemantauan parameter-parameter ini secara ketat di NICU akan menjadi indikator keberhasilan penatalaksanaan.
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) I.04001 "Manajemen Jalan Napas" merupakan intervensi inti yang harus dilakukan. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis dan berkesinambungan. Pertama, pemantauan status pernapasan dan oksigenasi secara ketat setiap jam atau bahkan terus-menerus meliputi frekuensi napas, kerja napas, saturasi oksigen, dan warna kulit. Kedua, pemberian terapi oksigen dan/atau ventilasi yang sesuai. Pada kondisi ini, nasal kanul mungkin tidak cukup, sehingga perlu dipertimbangkan pemberian Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) untuk menjaga alveoli tetap terbuka (mencegah atelektasis) dan meningkatkan pertukaran gas. Persiapan untuk intubasi dan ventilasi mekanik harus selalu siap jika terjadi perburukan. Ketiga, manajemen posisi seperti kepala agak ekstensi dan perubahan posisi periodik untuk mengoptimalkan ekspansi paru. Keempat, pemberian surfaktan eksogen merupakan terapi definitif untuk RDS pada bayi prematur, yang akan diberikan oleh tim medis dan perawat berperan dalam persiapan, asistensi, serta stabilisasi bayi selama dan setelah prosedur. Kelima, mempertahankan suhu lingkungan netral (misalnya dengan menggunakan inkubator) untuk mengurangi konsumsi oksigen akibat stres dingin. Keenam, meminimalkan gangguan/handle bayi yang tidak perlu untuk menurunkan kebutuhan oksigen. Ketujuh, pemberian nutrisi/pemasangan NGT dengan hati-hati untuk mencegah aspirasi yang dapat memperburuk gangguan pertukaran gas. Semua intervensi ini dilakukan secara kolaboratif dalam tim NICU dengan tujuan akhir memperbaiki oksigenasi dan ventilasi, sehingga kondisi Gangguan Pertukaran Gas dapat teratasi.
-
Article No. 25113 | 14 Apr 2026
Klinis : Seorang bayi laki-laki lahir di ruang NICU melalui persalinan sectio caesarea pada usia kehamilan 32 minggu. Berat lahir 1.800 gram. Ibu berusia 28 tahun, G1P0A0, dengan riwayat preeklampsia. Saat lahir: Bayi tidak langsung menangis kuat Napas cepat (>70x/menit) Tampak retraksi dinding dada Terdapat napas cuping hidung Warna kulit kebiruan (sianosis perifer) Nilai APGAR score: Menit ke-1: 5 Menit ke-5: 7 Bayi kemudian dirawat di NICU dengan bantuan oksigen Hasil pemeriksaan lanjutan: Frekuensi napas : 76 x/menit Frekuensi jantung: 160 x/menit Suhu: 36,2°C SpO₂: 88% (dengan nasal kanul) Pemeriksaan penunjang: Foto toraks: gambaran ground glass appearance Analisis gas darah (AGD): pH: 7,28 PaO₂: 55 mmHg PaCO₂: 55 mmHg Setelah 6 jam perawatan: Bayi semakin lemah Retraksi semakin berat Saturasi turun menjadi 85% meskipun dengan oksigen Dokter memutuskan: Pemasangan CPAP Pemberian surfaktan intratrakeal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan tubuh atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveoli-kapiler, yang mengakibatkan hipoksemia dan/atau hiperkapnia.
Kode SLKI: L.03101
Deskripsi : Pertukaran gas membaik. Ditandai dengan: 1) Saturasi oksigen (SpO₂) dalam rentang normal; 2) Analisis gas darah dalam rentang normal; 3) Tidak ada sianosis; 4) Frekuensi pernapasan dalam rentang normal; 5) Tidak ada tanda distress pernapasan (seperti retraksi, napas cuping hidung, merintih); 6) Tingkat kesadaran dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.05019
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Tindakan untuk mempertahankan patensi jalan napas dan mencegah komplikasi. Meliputi: 1) Mempertahankan posisi kepala dan leher untuk membuka jalan napas; 2) Melakukan penghisapan lendir jalan napas sesuai indikasi; 3) Memantau dan mencatat bunyi napas; 4) Memantau frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan; 5) Memantau tanda-tanda distress pernapasan (sianosis, retraksi, napas cuping hidung); 6) Memantau status oksigenasi (SpO₂) dan analisis gas darah; 7) Memberikan terapi oksigen sesuai program; 8) Mempertahankan alat bantu napas (seperti CPAP, ventilator) sesuai indikasi; 9) Melakukan fisioterapi dada sesuai indikasi; 10) Kolaborasi pemberian surfaktan dan obat bronkodilator sesuai indikasi; 11) Mendokumentasikan respons terapi.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan kepatenan jalan napas.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif. Ditandai dengan: 1) Jalan napas paten; 2) Bunyi napas bersih; 3) Tidak ada sekret yang berlebihan; 4) Tidak ada tanda distress pernapasan (seperti retraksi, napas cuping hidung, merintih); 5) Frekuensi dan irama pernapasan dalam rentang normal; 6) Mampu batuk efektif (jika sesuai usia/perkembangan).
Kode SIKI: I.05019
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Tindakan untuk mempertahankan patensi jalan napas dan mencegah komplikasi. Meliputi: 1) Mempertahankan posisi kepala dan leher untuk membuka jalan napas; 2) Melakukan penghisapan lendir jalan napas sesuai indikasi; 3) Memantau dan mencatat bunyi napas; 4) Memantau frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan; 5) Memantau tanda-tanda distress pernapasan (sianosis, retraksi, napas cuping hidung); 6) Memantau status oksigenasi (SpO₂) dan analisis gas darah; 7) Memberikan terapi oksigen sesuai program; 8) Mempertahankan alat bantu napas (seperti CPAP, ventilator) sesuai indikasi; 9) Melakukan fisioterapi dada sesuai indikasi; 10) Kolaborasi pemberian surfaktan dan obat bronkodilator sesuai indikasi; 11) Mendokumentasikan respons terapi.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Suhu Tubuh
Kode SDKI: D.0095
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakmampuan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal karena faktor-faktor yang dapat menyebabkan hipotermia atau hipertermia.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Suhu tubuh stabil. Ditandai dengan: 1) Suhu tubuh dalam rentang normal; 2) Kulit hangat dan kering; 3) Tidak ada menggigil; 4) Tidak ada pucat atau kemerahan pada kulit.
Kode SIKI: I.08020
Deskripsi : Manajemen hipotermia. Tindakan untuk mencegah atau mengatasi penurunan suhu tubuh di bawah rentang normal. Meliputi: 1) Memantau suhu tubuh secara teratur; 2) Menjaga lingkungan (suhu ruangan, kelembaban) yang hangat dan bebas angin; 3) Menggunakan sumber panas tambahan (inkubator, radiant warmer, selimut hangat) sesuai indikasi; 4) Segera mengeringkan dan membungkus bayi setelah lahir/prosedur; 5) Memakai penutup kepala pada bayi; 6) Meminimalkan paparan kulit bayi dengan lingkungan selama perawatan; 7) Memberikan cairan dan nutrisi hangat sesuai toleransi; 8) Memantau tanda-tanda hipotermia (suhu <36.5°C, kulit dingin, kaki dan tangan dingin, lesu, kesulitan makan); 9) Melakukan metode kanguru (skin-to-skin) jika kondisi memungkinkan; 10) Mendokumentasikan respons terhadap intervensi.
-
Article No. 25114 | 14 Apr 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons terhadap patogen atau kondisi patogen lainnya.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : SLKI: Infeksi dicegah. Penjelasan: Diagnosa keperawatan "Risiko Infeksi" (D.0001) sangat relevan pada pasien tuberkulosis (TB) paru karena penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Risiko infeksi di sini memiliki dua dimensi: pertama, risiko penyebaran infeksi ke orang lain karena TB adalah penyakit menular melalui droplet; dan kedua, risiko pasien sendiri mengalami infeksi sekunder atau komplikasi akibat status imun yang mungkin tertekan oleh penyakit dan kemungkinan malnutrisi (dari kehilangan nafsu makan). Tujuan SLKI ini adalah mencegah terjadinya infeksi baru, baik pada pasien maupun pada orang di sekitarnya. Implementasinya mencakup isolasi pernapasan (menggunakan masker, ventilasi ruangan yang baik), edukasi kepada pasien dan keluarga tentang cara penularan dan pencegahan, memastikan kepatuhan minum obat anti-tuberkulosis (OAT) untuk menurunkan dan menghilangkan daya tular, serta memantau tanda-tanda infeksi sekunder. Pencapaian SLKI ini ditandai dengan tidak adanya tanda-tanda infeksi baru pada pasien (seperti demam yang tidak terkait dengan TB, produksi sputum purulen) dan tidak adanya penularan kepada kontak dekat, yang diverifikasi melalui skrining. Intervensi keperawatan untuk mendukung SLKI ini termasuk pengajaran etika batuk, pengelolaan sampah dahak yang aman, dan pemantauan ketat terhadap respons terapi.
Kode SIKI: I.05080
Deskripsi : SIKI: Manajemen Infeksi. Penjelasan: Intervensi ini adalah tindakan spesifik untuk meminimalkan risiko infeksi dan mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen, yang secara langsung mendukung pencapaian SLKI L.03115. Pada konteks TB paru, Manajemen Infeksi dilakukan melalui beberapa aksi utama. Pertama, penerapan dan pengawasan tindakan pencegahan berbasis transmisi udara (airborne precaution), termasuk penggunaan masker N95 bagi petugas kesehatan dan masker bedah bagi pasien saat berada di area umum, serta penempatan pasien di ruangan bertekanan negatif jika tersedia. Kedua, edukasi pasien dan keluarga menjadi kunci, meliputi pentingnya menyelesaikan pengobatan OAT hingga tuntas meskipun gejala membaik, untuk mencegah kekambuhan dan resistensi obat (MDR-TB). Ketiga, memantau dan mendokumentasi karakteristik sputum (jumlah, warna, konsistensi) serta hasil pemeriksaan BTA untuk menilai penurunan daya tular. Keempat, kolaborasi dengan tim kesehatan untuk memastikan terapi obat yang tepat dan tepat waktu. Kelima, meningkatkan pertahanan alamiah pasien dengan mendorong asupan nutrisi yang adekuat untuk memperbaiki status gizi dan sistem imun. Intervensi ini bersifat komprehensif, menggabungkan aspek teknis isolasi, edukasi, dukungan psikososial untuk meningkatkan kepatuhan, dan kolaborasi multidisiplin, yang kesemuanya bertujuan memutus rantai penularan Mycobacterium tuberculosis dan melindungi pasien dari infeksi oportunistik.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oxygenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: L.03002
Deskripsi : SLKI: Pertukaran gas membaik. Penjelasan: Diagnosa "Gangguan Pertukaran Gas" (D.0010) muncul dari kondisi patologis TB paru di mana adanya lesi, infiltrat, dan konsolidasi jaringan paru mengurangi luas permukaan alveoli yang efektif untuk pertukaran oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2). Gejala pasien seperti sesak napas dan suara napas bronkial mengindikasikan gangguan pada proses difusi gas ini. Tujuan SLKI L.03002 adalah memulihkan atau mempertahankan pertukaran gas yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Kriteria pencapaiannya meliputi perbaikan dalam parameter klinis seperti saturasi oksigen dalam darah (SpO2) dalam rentang normal (≥95%), penurunan frekuensi pernapasan ke rentang normal, berkurang atau hilangnya keluhan sesak napas (dispnea), serta hasil analisis gas darah (jika dilakukan) yang menunjukkan nilai PaO2 dan PaCO2 yang normal. Perawat akan memantau tanda-tanda vital pernapasan, warna kulit (sianosis), dan tingkat kecemasan yang dapat memperburuk sesak. Pencapaian SLKI ini sangat bergantung pada keberhasilan terapi medis (OAT) untuk mengatasi infeksi penyebabnya, ditambah dengan intervensi keperawatan suportif seperti positioning (posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memudahkan ekspansi dada), teknik penghematan energi, dan pemberian oksigen tambahan jika diresepkan.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : SIKI: Manajemen Jalan Napas. Penjelasan: Intervensi ini berfokus pada mempertahankan jalan napas paten dan membersihkan sekresi untuk memfasilitasi pertukaran gas yang optimal, sehingga mendukung langsung SLKI L.03002. Pada pasien TB paru dengan batuk berdahak, sekresi (sputum) yang kental dan banyak dapat menyumbat jalan napas dan memperburuk gangguan pertukaran gas. Tindakan dalam Manajemen Jalan Napas mencakup: pertama, memonitor status pernapasan (pola, frekuensi, usaha, suara napas) secara berkala. Kedua, mendorong dan membimbing pasien untuk melakukan latihan napas dalam dan batuk efektif guna mengeluarkan sekresi. Ketiga, meningkatkan hidrasi dengan mendorong asupan cairan yang cukup (jika tidak ada kontraindikasi) untuk mengencerkan dahak. Keempat, melakukan fisioterapi dada (postural drainage dan chest percussion) sesuai protokol dan kolaborasi dengan fisioterapis. Kelima, memberikan humidifikasi udara jika diperlukan. Keenam, melakukan suctioning jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekresi sendiri. Ketujuh, mengajarkan pasien untuk mengenali tanda peningkatan sekresi atau kesulitan bernapas. Dengan menjaga kebersihan jalan napas, ventilasi alveoli akan lebih baik, area untuk pertukaran gas meningkat, dan gejala sesak napas dapat berkurang. Intervensi ini harus dilakukan dengan hati-hati dan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang tepat karena sputum pasien TB mengandung basil yang sangat menular.