Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24748 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang ibu (24 th) mengeluh bayinya yang berusia 4 bulan sering muntah lewat hidung dan mulut setelah menyusu. Ibu tampak bingung dan mengatakan tidak tahu cara menyendawakan bayi yang benar.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Aspirasi pada Bayi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko masuknya sekret, cairan, atau benda asing ke dalam trakea dan paru-paru.
Kode SLKI: 0410
Deskripsi : Aspirasi dicegah. Kriteria Hasil: 1) Tidak ada tanda-tanda aspirasi (batuk, tersedak, sianosis, distress pernapasan) selama dan setelah pemberian nutrisi. 2) Saluran napas tetap paten. 3) Bunyi napas bersih dan jernih. 4) Bayi mampu menelan dengan aman. 5) Orang tua mampu mendemonstrasikan teknik pemberian nutrisi dan penanganan bayi yang aman untuk mencegah aspirasi.
Kode SIKI: 0410
Deskripsi : Pencegahan Aspirasi. Intervensi Keperawatan: 1) Kaji faktor risiko aspirasi pada bayi, seperti refleks menelan dan batuk yang belum matang, pemberian nutrisi yang tidak tepat, posisi yang salah, dan distensi lambung. Pada kasus ini, faktor risiko utama adalah teknik menyusui dan menyendawakan yang belum dikuasai ibu, serta gejala muntah melalui hidung dan mulut yang mengindikasikan refluks atau regurgitasi dengan potensi masuk ke jalan napas. 2) Ajarkan dan demonstrasikan teknik menyusui yang benar, termasuk posisi semi-tegak pada bayi dan pastikan pelekatan yang baik untuk mengurangi udara yang tertelan. 3) Ajarkan dan demonstrasikan teknik menyendawakan yang efektif dan aman, seperti menepuk-nepuk punggung bayi dengan lembut dalam posisi tegak bersandar di bahu ibu atau posisi duduk di pangkuan dengan penyangga dada dan kepala. Lakukan di sela-sela dan setelah menyusu. 4) Anjurkan untuk menjaga bayi dalam posisi kepala lebih tinggi (semi-Fowler) selama dan setidaknya 20-30 menit setelah menyusu untuk memanfaatkan gravitasi mencegah refluks. 5) Kaji tanda-tanda distress pernapasan seperti batuk mendadak, tersedak, perubahan warna kulit (sianosis), atau suara napas "gurgling". 6) Ajarkan orang tua untuk mengenali tanda-tanda bahaya yang memerlukan penanganan medis segera, seperti bayi kesulitan bernapas, biru, atau lemas. 7) Anjurkan pemberian ASI atau susu dalam porsi kecil tetapi lebih sering jika bayi cenderung muntah. 8) Lakukan penghisapan lendir dengan lembut di mulut dan hidung jika diperlukan untuk menjaga jalan napas, terutama jika bayi terlihat kesulitan. 9) Berikan edukasi kepada orang tua tentang anatomi dan fisiologi pencernaan serta pernapasan bayi yang masih rentan untuk meningkatkan pemahaman dan kewaspadaan. 10) Lakukan evaluasi berkala terhadap pemahaman dan keterampilan orang tua dalam melakukan teknik pencegahan aspirasi, serta pantau perkembangan kondisi bayi. Intervensi ini bertujuan untuk meminimalkan risiko fisik aspirasi melalui manajemen posisi dan teknik, sekaligus memberdayakan ibu dengan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan keselamatan bayi, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan kepercayaan diri dalam perawatan.
-
Article No. 24749 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang perempuan (55 th) dengan gagal jantung kiri. Pasien mengeluh sesak napas saat berbaring telentang dan harus menggunakan 3 bantal saat tidur agar bisa bernapas. Hasil rontgen dada menunjukkan kardiomegali dan edema paru. Pasien tampak pucat dan gelisah.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gagal Jantung Kiri dengan Gejala Kongesti Paru
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Penurunan Curah Jantung
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Curah jantung membaik
Kode SIKI: 3401, 3402, 3403, 3404, 3405, 3406, 3407, 3408, 3409, 3410, 3411, 3412
Deskripsi : Berdasarkan kondisi pasien perempuan usia 55 tahun dengan gagal jantung kiri yang ditandai sesak napas saat berbaring (ortopnea), kebutuhan 3 bantal untuk tidur (dispnea nokturnal paroksismal), kardiomegali, edema paru, pucat, dan gelisah, maka diagnosa keperawatan utama yang relevan adalah Penurunan Curah Jantung (SDKI 0016). Defisinya adalah keadaan dimana volume darah yang dipompa oleh ventrikel kiri per menit tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh atau kebutuhan perfusi jaringan. Pada gagal jantung kiri, kemampuan kontraktilitas miokardium menurun atau terjadi overload volume/tekanan, sehingga ventrikel kiri gagal memompa darah secara efektif ke sirkulasi sistemik. Hal ini menyebabkan darah berbalik ke sirkulasi paru (kongesti pulmonal) yang dimanifestasikan sebagai edema paru dan sesak napas. Penurunan curah jantung juga menyebabkan perfusi perifer tidak adekuat, berkontribusi pada gejala pucat dan gelisah (akibat aktivasi sistem saraf simpatis dan hipoksia). Tujuan keperawatan (SLKI 1401) adalah agar curah jantung pasien membaik, ditandai dengan tanda-tanda vital dalam rentang normal/ dapat ditoleransi pasien, penurunan keluhan sesak napas, edema paru teratasi, dan pasien tampak tenang. Untuk mencapai tujuan tersebut, intervensi keperawatan (SIKI) yang direncanakan meliputi: Memonitor tanda-tanda vital, status pernapasan, dan oksimetri nadi (3401) secara ketat untuk mendeteksi dini deteriorasi. Memonitor status hemodinamik (3402) seperti pengisian kapiler, nadi perifer, dan warna kulit untuk menilai perfusi. Memonitor tanda-tanda penurunan curah jantung (3403) seperti kelemahan, pusing, perubahan mental. Mengelola terapi oksigen (3404) untuk mengatasi hipoksia akibat edema paru. Mengatur posisi semi-Fowler atau tinggi (3405) untuk memfasilitasi ekspansi paru dan mengurangi sesak. Memonitor keseimbangan cairan (3406) dengan ketat input-output dan berat badan harian. Mengelola terapi farmakologi (3407) seperti pemberian diuretik, vasodilator, atau inotropik sesuai resep. Memfasilitasi istirahat fisik dan emosional (3408) untuk mengurangi beban kerja jantung. Melakukan manajemen nyeri (3409) jika ada untuk mencegah stres kardiak. Memonitor hasil pemeriksaan diagnostik (3410) seperti rontgen, EKG, dan laboratorium. Memberikan pendidikan kesehatan (3411) tentang kondisi, pengobatan, pembatasan cairan/garam, dan perawatan diri. Serta mengoordinasikan perawatan (3412) dengan tim kesehatan lain untuk terapi yang optimal. Rangkaian intervensi ini bertujuan mengurangi preload dan afterload jantung, meningkatkan kontraktilitas, mengatasi kongesti paru, dan meningkatkan perfusi jaringan sehingga curah jantung dapat membaik.
-
Article No. 24750 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang remaja (17 th) didiagnosa menderita gagal ginjal kronik dan harus menjalani hemodialisa seumur hidup. Pasien mengatakan, "Lebih baik saya mati saja daripada harus mencuci darah terus. Hidup saya sudah tidak ada gunanya."
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Bunuh Diri
Kode SDKI: 00195
Deskripsi Singkat: Risiko Bunuh Diri adalah keadaan di mana individu berisiko untuk mengakhiri hidupnya sendiri secara sengaja. Pada kasus remaja dengan gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa seumur hidup, risiko ini muncul dari perasaan putus asa, ketidakberdayaan, dan persepsi bahwa hidupnya tidak lagi bermakna. Pernyataan pasien, "Lebih baik saya mati saja," adalah indikator verbal langsung yang sangat signifikan. Kondisi ini dipicu oleh beban penyakit kronis yang mengubah hidup secara drastis, ketergantungan pada mesin dan prosedur medis, serta gangguan pada citra diri, tujuan hidup, dan rencana masa depan yang khas untuk usia remaja. Diagnosa ini memerlukan intervensi segera dan pengawasan ketat untuk mencegah percobaan bunuh diri.
Kode SLKI: 4600
Deskripsi : SLKI 4600: Pencegahan Bunuh Diri. Tujuan utama adalah melindungi pasien dari perilaku melukai diri sendiri yang fatal. Intervensi keperawatan difokuskan pada penciptaan lingkungan yang aman dengan menghilangkan atau mengamankan benda-benda yang berpotensi digunakan untuk melukai diri (seperti benda tajam, tali, obat-obatan). Perawat akan melakukan pengawasan ketat satu lawan satu atau observasi berkelanjutan, terutama saat pasien menunjukkan peningkatan tanda-tanda distress. Penting untuk membangun kontrak keselamatan (safety contract) dengan pasien, di mana pasien berjanji untuk tidak melukai dirinya dan segera menghubungi tenaga kesehatan atau orang terpercaya jika pikiran untuk bunuh diri muncul. Perawat juga akan melibatkan keluarga atau pengasuh dalam pengawasan dan memberikan edukasi tentang tanda-tanda peringatan bunuh diri. Kolaborasi dengan tim kesehatan jiwa (psikiater, psikolog klinis) untuk evaluasi lebih lanjut dan terapi adalah langkah krusial. Semua tindakan dan observasi didokumentasikan dengan rinci.
Kode SIKI: 4601A
Deskripsi : SIKI 4601A: Mengkaji Risiko Bunuh Diri. Ini adalah intervensi mendasar dan berkelanjutan. Perawat akan melakukan pengkajian komprehensif terhadap faktor risiko, termasuk: (1) Menilai langsung intensitas dan rencana ide bunuh diri dengan pertanyaan terbuka namun empatik, seperti mengeksplorasi makna pernyataan "lebih baik mati", apakah sudah ada rencana spesifik (cara, waktu, tempat), dan apakah ada akses pada sarana yang direncanakan. (2) Mengkaji faktor protektif, seperti dukungan keluarga, keyakinan agama, atau harapan terhadap masa depan. (3) Mengevaluasi riwayat kesehatan jiwa sebelumnya, termasuk riwayat percobaan bunuh diri atau gangguan depresi. (4) Mengobservasi tanda-tanda perilaku dan emosional seperti menarik diri, putus asa, menyerahkan barang berharga, atau tiba-tiba tenang setelah periode gelisah. (5) Memantau dampak penyakit dan hemodialisa terhadap kualitas hidup, harga diri, dan hubungan sosialnya. Pengkajian ini dilakukan dengan pendekatan tidak menghakimi, menjaga kerahasiaan, namun dengan prioritas keselamatan jiwa sebagai yang utama. Hasil pengkajian menentukan tingkat pengawasan dan intervensi selanjutnya.
Kondisi: Berduka Disfungsional
Kode SDKI: 00116
Deskripsi Singkat: Berduka Disfungsional adalah respon emosional yang menyimpang, berlarut-larut, atau tidak terselesaikan terhadap suatu kehilangan atau kehilangan yang dirasakan. Pada remaja ini, kehilangan yang dialami bersifat multidimensional: kehilangan kesehatan, kehilangan fungsi ginjal normal, kehilangan kebebasan (karena rutinitas hemodialisa), kehilangan citra diri sebagai remaja yang sehat, serta kehilangan masa depan yang ia bayangkan. Proses berduka yang normal terhambat, memunculkan perasaan putus asa yang mendalam, pernyataan bahwa hidup tidak berguna, dan keinginan untuk mati. Ini menunjukkan ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan realitas baru dan mengintegrasikan kehilangan ini ke dalam kehidupannya. Berduka yang tidak terselesaikan dapat memicu depresi berat dan menjadi faktor risiko utama untuk bunuh diri.
Kode SLKI: 2810
Deskripsi : SLKI 2810: Dukungan dalam Berduka. Tujuannya adalah memfasilitasi proses berduka yang sehat. Perawat akan membantu pasien mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan kehilangan, kemarahan, ketakutan, dan keputusasaannya secara konstruktif, mungkin melalui percakapan terapeutik, menulis jurnal, atau media seni. Perawat mendengarkan secara aktif dan empatik tanpa menilai, mengakui validitas perasaannya. Intervensi juga melibatkan membantu pasien mengevaluasi kembali makna hidup dan tujuan barunya yang masih mungkin dicapai meski dengan kondisi penyakitnya. Perawat dapat mendorong pasien untuk terhubung dengan kelompok pendukung (support group) pasien gagal ginjal remaja, di mana ia dapat berbagi pengalaman dengan orang lain yang memahami. Kolaborasi dengan konselor atau psikolog untuk terapi berduka sangat dianjurkan. Keluarga juga didukung untuk memahami fase berduka pasien dan cara terbaik mendampinginya.
Kode SIKI: 5280F
Deskripsi : SIKI 5280F: Memfasilitasi Ekspresi Perasaan. Perawat menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi pasien untuk mengungkapkan emosi terdalamnya. Ini dilakukan dengan membangun hubungan saling percaya (trust), menggunakan komunikasi terapeutik seperti refleksi ("Tampaknya Anda merasa hidup ini sangat berat sejak harus cuci darah"), dan memberikan validasi ("Wajar jika Anda merasa marah dan sedih dengan kondisi ini"). Perawat menghindari kata-kata klise seperti "semua akan baik-baik saja" yang dapat meminimalkan perasaannya. Sebaliknya, perawat mendorong eksplorasi perasaan dengan pertanyaan terbuka seperti, "Bisakah Anda ceritakan lebih jauh tentang perasaan hidup tidak ada gunanya itu?" atau "Apa yang paling Anda rindukan dari hidup Anda sebelum sakit?" Intervensi ini bertujuan untuk membantu pasien mengurai dan memahami emosi kompleksnya sebagai langkah awal menerima keadaannya.
Kondisi: Ketidakberdayaan
Kode SDKI: 00124
Deskripsi Singkat: Ketidakberdayaan adalah persepsi individu bahwa tindakannya tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap hasil atau pengalaman hidupnya, disertai dengan perasaan kehilangan kendali atas situasi saat ini atau masa depan. Remaja ini merasa tidak memiliki kendali atas tubuh dan hidupnya sendiri. Ia dipaksa bergantung pada mesin hemodialisa untuk bertahan hidup, suatu kondisi yang sangat bertentangan dengan tugas perkembangan remaja yang mencari kemandirian dan identitas. Pernyataannya mencerminkan kepasifan dan penyerahan total, di mana ia melihat dirinya sebagai korban dari penyakitnya tanpa daya untuk mengubah atau memperbaiki keadaan. Perasaan ini merupakan dasar dari depresi dan keinginan untuk menyerah (bunuh diri).
Kode SLKI: 2120
Deskripsi : SLKI 2120: Peningkatan Kemandirian. Tujuannya adalah meningkatkan rasa kontrol dan partisipasi pasien dalam perawatan dirinya. Perawat akan melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan terkait perawatannya, sekecil apa pun, seperti memilih tempat penusukan fistula, menentukan jadwal hemodialisa jika memungkinkan, atau memilih aktivitas selama menjalani hemodialisa. Perawat memberikan edukasi tentang penyakit dan terapinya untuk meningkatkan pemahaman dan rasa kuasa atas kondisi tubuhnya. Pasien didorong untuk menetapkan tujuan kecil yang realistis dan dapat dicapai, baik terkait kesehatan maupun kehidupan pribadi, lalu merayakan pencapaiannya. Perawat juga dapat mengenalkan peran model (role model) seperti pasien lain dengan kondisi serupa yang tetap produktif, untuk memberikan harapan dan menunjukkan bahwa ia masih memiliki pilihan dan kontrol dalam hidupnya.
Kode SIKI: 4360C
Deskripsi : SIKI 4360C: Meningkatkan Pengambilan Keputusan. Perawat secara aktif melibatkan pasien dalam proses asuhan keperawatan. Ini dilakukan dengan memberikan informasi yang jelas dan sesuai usia tentang kondisi dan pilihan perawatan, kemudian meminta pendapat dan preferensi pasien. Misalnya, "Kita perlu membahas cara mengatasi rasa lelah setelah cuci darah. Ada beberapa pilihan, seperti tidur siang sebentar atau mengatur aktivitas. Menurutmu mana yang lebih cocok untuk rutinitasmu?" Perawat menghargai pilihan pasien dan menjadikannya bagian dari rencana perawatan. Dengan demikian, pasien merasa dihargai, didengar, dan perlahan-lahan menyadari bahwa ia masih memiliki wewenang atas beberapa aspek dalam hidup dan perawatannya, yang dapat mengurangi perasaan tidak berdaya secara signifikan.
-
Article No. 24752 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang laki-laki (35 th) masuk IGD setelah terjatuh dari ketinggian. Pasien mengeluh nyeri hebat di punggung, kedua kaki tidak bisa bergerak dan tidak merasakan sensasi nyeri saat dicubit. TD 90/60 mmHg, nadi 60x/menit.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik dan Risiko Syok Neurogenik terkait Cedera Medula Spinalis
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Gangguan mobilitas fisik adalah keadaan ketika individu mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan pergerakan fisik secara mandiri. Pada kasus ini, gangguan disebabkan oleh cedera medula spinalis (tulang belakang) akibat trauma jatuh dari ketinggian, yang ditandai dengan kelumpuhan kedua kaki (paraplegia), hilangnya sensasi, dan nyeri hebat di punggung.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : SLKI ini berfokus pada Pemantauan Neurologis dan Sirkulasi untuk mendeteksi dini komplikasi. Perawat akan memantau status neurologis secara ketat (tingkat kesadaran, kekuatan motorik, sensasi) dan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan). Tekanan darah 90/60 mmHg dan nadi 60x/menit pada pasien cedera spinal merupakan tanda peringatan dini syok neurogenik, di mana hilangnya tonus simpatis menyebabkan vasodilatasi, hipotensi, dan bradikardia. Pemantauan bertujuan untuk mendeteksi deteriorasi neurologis (seperti perluasan level cedera) dan stabilitas hemodinamik. Perawat juga memantau fungsi pernapasan karena cedera torakal dapat memengaruhi otot pernapasan. Pemantauan input-output cairan dilakukan untuk menilai keseimbangan cairan dan fungsi kandung kemih (risiko retensi urine neurogenik). Observasi terhadap respons nyeri, meski hilang sensasi di bawah level cedera, tetap penting untuk nyeri neuropatik atau pada area yang masih memiliki sensasi.
Kode SIKI: I.08090
Deskripsi : SIKI ini adalah Manajemen Cedera Medula Spinalis, yang merupakan serangkaian intervensi komprehensif dan segera. Pertama, perawat akan mempertahankan immobilisasi tulang belakang (menggunakan collar cervical, log roll, papan spinal) untuk mencegah cedera sekunder. Kedua, mengoptimalkan perfusi jaringan dan oksigenasi dengan pemberian oksigen, memasang akses intravena untuk resusitasi cairan (hati-hati untuk tidak overhidrasi yang dapat menyebabkan edema medula), dan pemberian obat vasopressor jika diperlukan untuk mengatasi hipotensi neurogenik. Ketiga, manajemen nyeri dengan pemberian analgesik sesuai ketentuan. Keempat, melakukan perawatan kulit yang ketat dengan reposisi setiap 2 jam menggunakan teknik log roll untuk mencegah dekubitus karena hilangnya sensasi. Kelima, manajemen fungsi kandung kemih dan usus dengan pemasangan kateter urine dan pemantauan distensi abdomen. Keenam, memberikan dukungan psikologis dan informasi kepada pasien serta keluarga mengenai kondisi dan rencana perawatan. Ketujuh, kolaborasi untuk pemeriksaan penunjang (seperti MRI/CT scan) dan persiapan untuk intervensi bedah jika diperlukan. Semua intervensi dilakukan dengan pendekatan holistik, menjaga martabat pasien, dan mencegah komplikasi immobilitas seperti kontraktur, trombosis, dan infeksi.
-
Article No. 24753 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang laki-laki (40 th) masuk RS dengan luka bakar derajat II pada seluruh area dada dan perut akibat ledakan tabung gas 2 jam yang lalu. Pasien mengeluh sangat haus, suara serak, terdapat bulu hidung yang terbakar, dan sputum berwarna hitam (jelaga).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Pertukaran Gas dan Perfusi Jaringan Tidak Efektif pada Luka Bakar
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Risiko kerusakan oksigenasi dan/atau perfusi jaringan akibat cedera inhalasi dan respons sistemik luka bakar.
Kode SLKI: L.03104
Deskripsi : Pertukaran gas dan perfusi jaringan efektif, ditandai dengan: 1) Tidak ada tanda distress pernapasan (sesak napas, sianosis, gelisah). 2) Suara napas bersih dan vesikuler di seluruh lapang paru. 3) Nilai gas darah arteri dalam rentang normal (PaO2, PaCO2, SpO2). 4) Tekanan darah, nadi, dan capillary refill time dalam batas normal. 5) Tingkat kesadaran compos mentis. 6) Produksi urin adekuat (>0.5-1 mL/kgBB/jam). 7) Tidak ada nyeri dada. 8) Suara serak dan batuk jelaga berkurang/hilang.
Kode SIKI: I.05271, I.04006, I.09009, I.09010, I.04001
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direncanakan meliputi: 1) I.05271: Pemantauan Pernapasan - Memantau frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha pernapasan; mengauskultasi suara napas tiap 1-2 jam untuk mendeteksi mengi, ronki, atau stridor (indikasi edema jalan napas); memantau warna kulit dan membran mukosa; memantau saturasi oksigen (SpO2) secara terus menerus. 2) I.04006: Manajemen Jalan Napas - Memastikan jalan napas paten dengan posisi semi-fowler; melakukan suction jika diperlukan dengan teknik steril; kolaborasi pemberian oksigen humidifikasi sesuai order; siapkan alat intubasi dan trakeostomi di dekat pasien karena risiko edema jalan napas yang cepat. 3) I.09009: Resusitasi Cairan - Menghitung kebutuhan cairan resusitasi (misal: rumus Baxter/Parkland) dan mengatur pemberiannya dengan ketat; memantau balance cairan (input-output) setiap jam; memantau tanda vital (TD, Nadi, Pernapasan) setiap 15-30 menit; memantau tekanan vena sentral (jika terpasang). 4) I.09010: Pemantauan Hemodinamik - Memantau tekanan darah, nadi, capillary refill time, dan suhu ekstremitas sebagai indikator perfusi jaringan; memantau produksi urin (kateter urine dipasang) sebagai indikator perfusi ginjal yang adekuat. 5) I.04001: Pengelolaan Oksigen - Memastikan pemberian oksigen sesuai order (biasanya konsentrasi tinggi awal); memastikan alat pemberian oksigen berfungsi baik; memantau respons terapi oksigen melalui nilai SpO2 dan analisa gas darah; mendokumentasikan efektivitas terapi.
Kondisi: Nyeri Akut pada Luka Bakar
<>Kode SDKI: D.0029Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan luka bakar derajat II, dengan potensial atau aktual kerusakan jaringan.
Kode SLKI: L.08070
Deskripsi : Nyeri terkontrol, ditandai dengan: 1) Skala nyeri (0-10) menurun ke tingkat yang dapat ditoleransi (misal, ≤3). 2) Ekspresi wajah rileks, tidak meringis atau mengerut. 3) Pasien dapat beristirahat dan tidur dengan cukup. 4) Tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan) dalam rentang normal atau mendekati baseline pasien. 5) Pasien mampu berpartisipasi dalam aktivitas perawatan luka dan mobilisasi. 6) Pasien melaporkan peningkatan kenyamanan.
Kode SIKI: I.11030, I.11016, I.11001
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direncanakan meliputi: 1) I.11030: Manajemen Nyeri - Melakukan penilaian nyeri komprehensif (skala, lokasi, karakter, faktor pencetus dan pereda) setiap jam atau sebelum/setelah prosedur; memberikan analgesik sesuai program kolaborasi (biasanya opioid dan non-opioid) tepat waktu, terutama sebelum perawatan luka; mengevaluasi efektivitas dan efek samping analgesik 30 menit setelah pemberian. 2) I.11016: Terapi Nonfarmakologi untuk Nyeri - Menerapkan teknik non-farmakologi seperti distraksi (mengajak bicara, mendengarkan musik), relaksasi napas dalam, dan lingkungan yang tenang; memberikan penjelasan tentang semua prosedur untuk mengurangi kecemasan yang memperberat nyeri; melakukan perawatan luka dengan teknik yang tepat dan lembut. 3) I.11001: Analgesik Administrasi - Mengelola pemberian analgesik melalui rute yang sesuai (intravena untuk nyeri berat awal) dengan memperhatikan dosis, kecepatan, dan compatibilitas; memantau efek samping seperti depresi pernapasan, sedasi berlebihan, atau hipotensi; mendokumentasikan respons nyeri terhadap intervensi farmakologis yang diberikan.
Kondisi: Risiko Defisit Volume Cairan pada Luka Bakar
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan volume cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular akibat kehilangan cairan masif dari luka bakar dan respons perpindahan cairan.
Kode SLKI: L.03011
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai, ditandai dengan: 1) Tanda vital stabil (TD sistolik >90 mmHg, nadi 60-100x/menit, kuat dan teratur). 2) Capillary refill time < 2 detik. 3) Membran mukosa lembab. 4) Turgor kulit baik. 5) Produksi urin adekuat (30-50 mL/jam atau sesuai target resusitasi). 6) Balance cairan mendekati seimbang setelah fase resusitasi. 7) Kadar elektrolit (Na, K) dalam batas normal. 8) Keluhan haus berkurang/hilang.
Kode SIKI: I.09009, I.09010, I.09001, I.09015
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direncanakan meliputi: 1) I.09009: Resusitasi Cairan - Menghitung dan mengatur pemberian cairan kristaloid (Ringer Laktat) sesuai rumus luka bakar secara tepat dan terkontrol menggunakan infusion pump; memantau kecepatan tetesan dan jumlah cairan yang masuk setiap jam. 2) I.09010: Pemantauan Hemodinamik - Memantau tekanan darah nadi (perbedaan sistolik-diastolik yang sempit dapat mengindikasikan hipovolemia), frekuensi nadi (takikardia), dan pengisian kapiler secara ketat. 3) I.09001: Manajemen Cairan - Mencatat secara akurat semua intake (cairan infus, oral) dan output (urine, cairan luka, insensible loss); menimbang berat badan harian dengan alat yang sama; memantau tanda klinis dehidrasi atau kelebihan cairan. 4) I.09015: Pemantauan Elektrolit - Mengobservasi tanda-tanda ketidakseimbangan elektrolit seperti kelemahan otot (hipokalemia) atau edema (hiponatremia); kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium elektrolit serial; mengatur pemberian suplemen elektrolit sesuai hasil laboratorium dan order dokter.
-
Article No. 24754 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang perempuan (35 th) penderita SLE (Systemic Lupus Erythematosus) memiliki bercak kemerahan berbentuk kupu-kupu di wajah (butterfly Rash). Pasien menolak melihat cermin dan selalu menutupnya dengan masker serta menunduk saat diajak bicara.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Citra Tubuh
Kode SDKI: B.4
Deskripsi Singkat: Gangguan Citra Tubuh didefinisikan sebagai keadaan ketika seseorang mengalami kebingungan dan/atau gangguan dalam persepsi mental terhadap gambaran fisik diri sendiri. Pada pasien ini, manifestasi fisik dari SLE berupa butterfly rash telah menyebabkan perubahan signifikan pada penampilan wajahnya, yang merupakan bagian identitas yang sangat terlihat dan personal. Perilaku menghindari cermin, menggunakan masker secara konstan untuk menutupi wajah, dan postur menunduk saat berinteraksi merupakan indikator kuat bahwa pasien tidak mampu menerima perubahan pada tubuhnya saat ini. Dia mengalami perasaan malu, rendah diri, dan menarik diri secara sosial karena persepsinya yang negatif terhadap diri sendiri yang berubah. Kondisi ini bukan hanya tentang kulit yang kemerahan, tetapi tentang makna dari perubahan tersebut bagi konsep diri, harga diri, dan peran sosialnya sebagai seorang perempuan. Gangguan ini dapat menghambat proses penyembuhan, kepatuhan pengobatan, dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Kode SLKI: L.03123
Deskripsi : SLKI dengan kode L.03123 adalah "Kesiapan Peningkatan Penerimaan Citra Tubuh". Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: (1) Pasien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaan terkait perubahan penampilannya. (2) Pasien menunjukkan peningkatan dalam melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah (dalam hal ini, wajah). (3) Pasien mulai mengurangi perilaku menghindar, seperti tidak lagi selalu menutup wajah dengan masker di lingkungan yang aman dan dapat melakukan kontak mata saat berinteraksi. (4) Pasien mampu mengidentifikasi kekuatan dan kualitas diri di luar penampilan fisik. (5) Pasien berpartisipasi dalam aktivitas sosial secara bertahap. Tujuan akhirnya adalah pasien mencapai rekonsiliasi antara gambaran tubuh ideal dengan realita tubuhnya saat ini, sehingga dapat berfungsi optimal meski dengan perubahan akibat penyakit kronis. Penerimaan bukan berarti menyukai ruam tersebut, tetapi mengintegrasikannya ke dalam konsep diri tanpa membiarkannya mendominasi seluruh identitas dan harga dirinya.
Kode SIKI: I.03123
Deskripsi : SIKI I.03123 berisi intervensi keperawatan untuk "Promosi Penerimaan Citra Tubuh". Intervensi ini harus dilakukan dengan pendekatan empatik dan tidak terburu-buru. Pertama, Bangun Hubungan Terapeutik: ciptakan lingkungan yang aman dan percaya, tunjukkan penerimaan tanpa syarat. Kedua, Fasilitasi Ekspresi Perasaan: ajak pasien berbicara tentang perasaannya mengenai ruam, penyakit SLE, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Gunakan teknik komunikasi terbuka. Ketiga, Berikan Pendidikan Kesehatan: jelaskan patofisiologi butterfly rash pada SLE, rencana pengobatan untuk mengontrolnya, dan harapan realistik mengenai perubahannya. Pengetahuan dapat mengurangi kecemasan yang berasal dari ketidaktahuan. Keempat, Latih Strategi Koping: bantu pasien mengidentifikasi kekuatan pribadi, dukung untuk terlibat dalam hobi atau aktivitas yang mengalihkan perhatian dan memberi rasa pencapaian. Kelima, Intervensi Perilaku: lakukan latihan eksposur bertahap, misalnya dengan menatap wajah di cermin bersama perawat dimulai dari durasi singkat, sambil mengungkapkan aspek positif wajah (seperti mata atau senyuman). Keenam, Dukungan Sosial: libatkan keluarga untuk memberikan dukungan emosional dan penghargaan yang tidak berfokus pada penampilan. Ketujuh, Rujukan: pertimbangkan rujukan ke konselor atau psikolog klinis jika gangguan citra tubuh berat, serta ke kelompok dukungan (support group) pasien SLE agar pasien merasa tidak sendirian. Semua intervensi harus mendorong pasien untuk memisahkan identitas diri dari penyakitnya, dan melihat diri sebagai individu utuh yang bernilai.
-
Article No. 24755 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang perempuan (55 th) dengan gagal jantung kiri. Pasien mengeluh sesak napas saat berbaring telentang dan harus menggunakan 3 bantal saat tidur agar bisa bernapas. Hasil rontgen dada menunjukkan kardiomegali dan edema paru. Pasien tampak pucat dan gelisah.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gagal Jantung Kiri dengan Gejala Kongesti Paru
Kode SDKI: 0019
Deskripsi Singkat: Penurunan Curah Jantung
Kode SLKI: 1009
Deskripsi : Curah jantung membaik yang ditandai dengan: (1) Tekanan darah sistolik dalam rentang normal individu, (2) Tekanan darah diastolik dalam rentang normal individu, (3) Nadi perifer teraba, (4) Irama jantung reguler, (5) Tidak ada ortopnea, (6) Tidak ada dispnea, (7) Tidak ada edema paru, (8) Tidak ada kelelahan berlebihan, (9) Haluaran urine adekuat, (10) Kulit hangat dan kering.
Kode SIKI: I-0019
Deskripsi : Intervensi Keperawatan untuk Penurunan Curah Jantung meliputi: (1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) dan saturasi oksigen, (2) Auskultasi bunyi jantung dan paru, (3) Kaji adanya nyeri dada, karakteristik, dan faktor yang mempengaruhi, (4) Kaji status pernapasan (dispnea, ortopnea, batuk, sianosis), (5) Kaji status hemodinamik (pengisian kapiler, warna dan kehangatan kulit, nadi perifer), (6) Kaji tingkat kecemasan, (7) Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai kebutuhan, (8) Anjurkan tirah baring dengan posisi semi-Fowler atau duduk, (9) Bantu aktivitas perawatan diri sesuai toleransi, (10) Batasi aktivitas fisik, (11) Kolaborasi pemberian terapi farmakologi sesuai program (seperti diuretik, vasodilator, inotropik), (12) Monitor balance cairan (intake dan output), (13) Timbang berat badan setiap hari, (14) Anjurkan diet rendah garam dan pembatasan cairan sesuai program, (15) Berikan pendidikan kesehatan tentang penyakit, pengobatan, dan tanda-tanda yang perlu dilaporkan.
-
Article No. 24756 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang ibu (28 th) yang baru melahirkan bayi prematur tampak sering menangis dan menolak memegang bayinya di ruang NICU karena takut bayinya meninggal. Ibu mengatakan tidak sanggup melihat bayinya yang kecil dan penuh kabel.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Komplikasi Perinatal: Risiko Gangguan Ikatan antara Ibu dan Bayi (Parent-Infant Attachment)
Kode SDKI: 0025
Deskripsi Singkat: Risiko gangguan pada proses pembentukan hubungan afektif yang unik dan spesifik antara orang tua dan bayi, yang dapat mengganggu kesejahteraan psikososial keduanya.
Kode SLKI: 2009
Deskripsi : Ibu/orang tua menunjukkan perilaku ikatan (bonding) dengan bayi. Kriteria hasil: 1) Ibu/orang tua mengungkapkan perasaan positif terhadap bayi. 2) Ibu/orang tua melakukan kontak mata dengan bayi. 3) Ibu/orang tua menyentuh/memegang bayi. 4) Ibu/orang tua memberikan nama pada bayi. 5) Ibu/orang tua berbicara atau bersuara kepada bayi. 6) Ibu/orang tua menunjukkan perilaku protektif terhadap bayi. 7) Ibu/orang tua menunjukkan respons terhadap isyarat bayi (seperti tangisan).
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : Fasilitasi Ikatan Ibu-Bayi (Parent-Infant Attachment). Intervensi: 1) Identifikasi faktor-faktor yang menghambat proses ikatan (misalnya, kondisi bayi prematur, perasaan takut, kecemasan, lingkungan NICU). 2) Berikan dukungan emosional dan psikologis dengan mendengarkan ungkapan perasaan ibu tanpa menghakimi. 3) Jelaskan kondisi bayi, prosedur, dan alat-alat yang terpasang dengan bahasa yang sederhana dan empatik untuk mengurangi ketakutan akibat ketidaktahuan. 4) Fasilitasi kontak dini dan sesering mungkin antara ibu dan bayi sesuai kondisi bayi (misal, sentuhan, enface position, menyentuh melalui inkubator). 5) Anjurkan dan bantu ibu untuk terlibat dalam perawatan bayi sesuai kemampuan (misal, mengganti popok, menyentuh, menyuapi ASI perah). 6) Bantu ibu mengenali dan merespons isyarat-isyarat bayi (tidur, bangun, rewel). 7) Berikan pujian atas setiap upaya kecil yang dilakukan ibu untuk berinteraksi dengan bayinya. 8) Libatkan anggota keluarga lain (suami, orang tua) untuk memberikan dukungan kepada ibu. 9) Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (dokter, psikolog) jika diperlukan. 10) Ciptakan lingkungan yang mendukung privasi dan kelekatan selama kunjungan.
-
Article No. 24757 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang laki-laki (55 th) mengeluh sering kencing di malam hari (nokturia) lebih dari 5 kali. Urine keluar sedikit-sedikit dan tidak pancarannya lemah. Pasien merasa kandung kemihnya belum kosong sepenuhnya setelah kencing.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urin
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami disfungsi dalam pengeluaran urine.
Kode SLKI: L.03116
Deskripsi : Eliminasi urin kembali normal dengan kriteria hasil: 1) Pola berkemih kembali normal (frekuensi, jumlah, warna), 2) Tidak ada keluhan nokturia, 3) Tidak ada keluhan urgensi, 4) Tidak ada keluhan disuria, 5) Tidak ada keluhan inkontinensia urin, 6) Tidak ada keluhan retensi urin, 7) Urine keluar dengan pancaran kuat dan lancar, 8) Kandung kemih teraba kosong setelah berkemih, 9) Hasil pemeriksaan USG/pemeriksaan penunjang lain dalam batas normal.
Kode SIKI: I.05259
Deskripsi : Manajemen eliminasi urin dengan tindakan: 1) Monitor pola eliminasi urin (frekuensi, jumlah, warna, bau), 2) Monitor keluhan berkemih (nokturia, disuria, urgensi, retensi), 3) Monitor pancaran dan kelancaran berkemih, 4) Lakukan palpasi kandung kemih untuk mendeteksi distensi, 5) Anjurkan untuk berkemih setiap 2-3 jam, 6) Anjurkan posisi berkemih yang nyaman, 7) Ajarkan latihan otot dasar panggul (Kegel) jika sesuai, 8) Atur asupan cairan (hindarkan kafein dan alkohol di malam hari), 9) Kolaborasi pemberian obat sesuai program terapi, 10) Kolaborasi pemasangan kateter urin jika diperlukan, 11) Lakukan pendidikan kesehatan tentang faktor risiko dan pencegahan.
-
Article No. 24758 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang laki-laki (55 th) mengeluh sering kencing di malam hari (nokturia) lebih dari 5 kali. Urine keluar sedikit-sedikit dan tidak pancarannya lemah. Pasien merasa kandung kemihnya belum kosong sepenuhnya setelah kencing.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urin
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami disfungsi dalam pengeluaran urine.
Kode SLKI: L.03114
Deskripsi : Eliminasi urin kembali normal.
Kode SIKI: I.04039
Deskripsi : Manajemen Retensi Urin.
Penjelasan Lengkap:
Berdasarkan kondisi pasien laki-laki usia 55 tahun dengan keluhan nokturia (>5x), pancaran urine lemah, pengeluaran sedikit-sedikit, dan perasaan kandung kemih tidak kosong sepenuhnya, diagnosis keperawatan yang paling tepat adalah Gangguan Eliminasi Urin (D.0011). Gejala-gejala tersebut sangat khas untuk kondisi retensi urine kronis tidak lengkap (chronic incomplete urinary retention), yang sering disebabkan oleh pembesaran prostat jinak (Benign Prostatic Hyperplasia/BPH) pada pria seusia tersebut. Retensi urine terjadi ketika kandung kemih tidak dapat mengosongkan diri sepenuhnya, menyebabkan sisa urine yang menjadi tempat berkembang biak bakteri dan dapat menyebabkan infeksi, serta menimbulkan gejala iritatif seperti sering kencing terutama malam hari.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) D.0011: Gangguan Eliminasi Urin didefinisikan sebagai keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami disfungsi dalam pengeluaran urine. Definisi operasionalnya mencakup karakteristik mayor seperti distensi kandung kemih, pancaran urine melemah, dan ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih secara lengkap, yang semuanya ada pada pasien ini. Etiologinya pada kasus ini diduga kuat terkait dengan faktor obstruktif (penyumbatan) pada leher kandung kemih atau uretra akibat pembesaran kelenjar prostat. Diagnosis ini menjadi landasan bagi perawat untuk merencanakan intervensi yang tepat guna mengatasi masalah eliminasi dan mencegah komplikasi seperti infeksi saluran kemih, kerusakan ginjal, atau retensi akut.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) L.03114: Eliminasi urin kembali normal adalah luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan. Kriteria luaran ini meliputi: (1) Pancaran urine kuat/tidak terputus, (2) Tidak ada distensi kandung kemih, (3) Pengosongan kandung kemih tuntas (ditandai dengan tidak ada perasaan penuh setelah berkemih dan volume residu post-voiding minimal), dan (4) Frekuensi berkemih normal (nokturia ≤ 1-2 kali). Tujuan akhirnya adalah pasien dapat mencapai pola eliminasi urine yang optimal, mengurangi gejala yang mengganggu, dan mencegah komplikasi. Pengukuran luaran ini dapat dilakukan melalui wawancara (keluhan pasien), observasi (kekuatan pancaran), pemeriksaan fisik (perkusi kandung kemih), dan jika memungkinkan pemeriksaan ultrasonografi untuk mengukur sisa urine setelah berkemih.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) I.04039: Manajemen Retensi Urin adalah serangkaian tindakan keperawatan yang spesifik untuk menangani kondisi retensi urine. Intervensi ini mencakup aktivitas-aktivitas kritis seperti: (1) Memantau pola eliminasi (frekuensi, volume, karakteristik urine, keluhan), (2) Melakukan palpasi dan perkusi kandung kemih untuk mendeteksi distensi, (3) Menerapkan teknik memicu berkemih seperti memberikan privasi, posisi berkemih yang nyaman, atau memanfaatkan refleks (membuka keran air, merendam tangan dalam air hangat), (4) Melakukan kateterisasi urine sesuai indikasi dan protokol untuk mengosongkan kandung kemih yang distensi berat, (5) Mengajarkan latihan otot dasar panggul jika sesuai, (6) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat-obatan (seperti alpha-blocker atau 5-alpha reductase inhibitor untuk BPH) atau persiapan tindakan operatif jika diperlukan, serta (7) Pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga mengenai kondisi, pengobatan, tanda-tanda komplikasi (seperti tidak bisa kencing sama sekali yang merupakan kegawatan), dan pentingnya kontrol rutin. Intervensi ini bersifat holistik, mulai dari pemantauan, tindakan fisik, hingga edukasi dan kolaborasi, dengan tujuan akhir mencapai luaran yang telah ditetapkan.
Secara keseluruhan, rangkaian SDKI, SLKI, dan SIKI ini memberikan kerangka kerja keperawatan yang sistematis, terstandar, dan berbasis bukti. Dimulai dari penegakan diagnosis D.0011 berdasarkan analisis data, kemudian menetapkan tujuan perawatan melalui L.03114, dan akhirnya melaksanakan tindakan-tindakan spesifik yang terukur melalui I.04039. Pendekatan ini memastikan asuhan keperawatan yang komprehensif, berfokus pada penyelesaian masalah utama pasien, dan terdokumentasi dengan baik sesuai standar profesi yang ditetapkan oleh PPNI.