Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 4449 | 03 Nov 2024
Klinis : Batasan karakteristik nyeri akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi Batasan Karakteristik Nyeri Akut, dengan nada akademis dan persona sebagai pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Nyeri Akut
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Nyeri Akut didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti itu (International Association for the Study of Pain).
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penanganan Nyeri Akut meliputi:
1. Pasien dapat melaporkan penurunan intensitas nyeri.
2. Pasien dapat mengenali faktor-faktor yang memperberat dan meringankan nyeri.
3. Pasien dapat mendemonstrasikan teknik penanganan nyeri yang efektif.
4. Pasien dapat kembali ke aktivitas sehari-hari secara bertahap.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk menangani Nyeri Akut antara lain:
1. Manajemen Nyeri: Mengkaji karakteristik nyeri, mengevaluasi efektivitas intervensi, dan memberikan analgesik sesuai indikasi.
2. Terapi Relaksasi: Mengajarkan teknik relaksasi seperti napas dalam, distraksi, dan imajinasi terpimpin untuk mengurangi nyeri.
3. Terapi Komplementer: Mengaplikasikan terapi komplementer seperti kompres hangat/dingin, massage, dan akupresur untuk meredakan nyeri.
4. Edukasi Manajemen Nyeri: Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai penyebab, faktor pemicu, dan penanganan nyeri yang efektif.
Dengan mengimplementasikan standar SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstruktur untuk menangani kondisi Nyeri Akut pada pasien. -
Article No. 4450 | 03 Nov 2024
Klinis : Candidiasis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan serta penjelasan singkat terkait standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi Candidiasis. Saya akan menyampaikannya dalam tone akademis dan dengan persona sebagai seorang pakar perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Infeksi Oportunistik berhubungan dengan penurunan sistem imun pada pasien dengan Candidiasis.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko Infeksi Oportunistik didefinisikan sebagai kerentanan terhadap invasi dan pertumbuhan organisme patogen yang biasanya tidak menyebabkan penyakit pada individu dengan sistem imun yang tidak terganggu. Pada pasien dengan Candidiasis, penurunan sistem imun menjadi faktor risiko utama untuk terjadinya infeksi oportunistik.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari diagnosa ini adalah pasien dapat mengenali tanda dan gejala infeksi oportunistik, dapat melakukan tindakan pencegahan infeksi, dan dapat mempertahankan fungsi sistem imun yang optimal.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain pemantauan tanda-tanda vital, pemberian terapi antifungal, edukasi mengenai pencegahan infeksi, serta upaya peningkatan sistem imun melalui perbaikan nutrisi dan istirahat yang cukup.
Dengan penerapan standar SDKI, SLKI, dan SIKI, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstandar dalam mengelola risiko infeksi oportunistik pada pasien dengan Candidiasis. -
Article No. 4451 | 03 Nov 2024
Klinis : Ny. B usia 37 tahun datang ke Puskesmas Kedungreja tanggal 31 Oktober 2024 pukul 10.30 dengan keluhan lemas, mual, muntah 2 kali, perut melilit tembus ke pinggang sejak 1 hari yang lalu. TD: 120/80 mmHg, TB: 155 cm, BB: 60 Kg, N: 88 x/menit, RR: 20 x/menit, S: 37 ℃, SpO2: 99%
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri akut
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Nyeri akut: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain).
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Tingkat nyeri menurun
2. Kemampuan mengendalikan nyeri meningkat
3. Kenyamanan meningkat
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen nyeri
2. Terapi relaksasi
3. Pemberian analgetik
Penjelasan singkat:
Ny. B datang dengan keluhan lemas, mual, muntah, dan nyeri perut yang melilit tembus ke pinggang. Berdasarkan gejala yang dialami, diagnosa keperawatan yang paling sesuai adalah nyeri akut. Nyeri akut merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial. Luaran yang diharapkan adalah tingkat nyeri menurun, kemampuan mengendalikan nyeri meningkat, dan kenyamanan meningkat. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain manajemen nyeri, terapi relaksasi, dan pemberian analgetik sesuai indikasi. -
Article No. 4342 | 03 Nov 2024
Klinis : pasien asma
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan untuk Pasien Asma:
1. Gangguan Pertukaran Gas
Penjelasan: Pasien dengan asma mengalami penyempitan dan peradangan pada saluran napas, menyebabkan kesulitan bernapas dan gangguan dalam pertukaran oksigen dan karbon dioksida.
2. Kesiapan Peningkatan Manajemen Kesehatan
Penjelasan: Pasien dengan asma membutuhkan pengetahuan dan kemampuan dalam mengelola kondisi penyakitnya, termasuk penggunaan obat, pencegahan serangan, dan penanganan gejala.
3. Intoleransi Aktivitas
Penjelasan: Serangan asma dapat menyebabkan sesak napas dan kelelahan, membatasi kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
SDKI adalah standar diagnosis keperawatan yang dikembangkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk memandu perawat dalam mengidentifikasi dan merumuskan masalah keperawatan pasien.
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
SLKI adalah standar luaran keperawatan yang dikembangkan oleh PPNI untuk menentukan hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan yang diberikan.
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
SIKI adalah standar intervensi keperawatan yang dikembangkan oleh PPNI untuk memandu perawat dalam merencanakan dan melaksanakan tindakan keperawatan yang sesuai dengan masalah kesehatan pasien.
Sebagai perawat, saya memahami pentingnya berpedoman pada standar SDKI, SLKI, dan SIKI dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan berkualitas bagi pasien dengan asma. Dengan menggunakan standar ini, saya dapat mengidentifikasi masalah keperawatan yang spesifik, menetapkan luaran yang ingin dicapai, dan merencanakan intervensi yang sesuai untuk membantu pasien mengelola kondisi penyakitnya dengan optimal. -
Article No. 4343 | 03 Nov 2024
Klinis : pasien asma
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan untuk pasien asma, berdasarkan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia, adalah sebagai berikut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Pasien dapat mempertahankan jalan napas yang terbuka.
- Pasien dapat mengeluarkan sekresi dengan efektif.
- Pasien dapat bernapas dengan mudah.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Monitor fungsi pernapasan.
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan.
- Bantu pasien melakukan teknik batuk efektif.
- Ajarkan pasien teknik pernapasan dalam.
2. Pola Napas Tidak Efektif
Definisi: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Pasien dapat bernapas dengan irama dan kedalaman yang normal.
- Pasien dapat mempertahankan saturasi oksigen dalam batas normal.
- Pasien dapat melakukan aktivitas tanpa disertai sesak napas.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Monitor pola napas.
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan.
- Ajarkan teknik pernapasan diafragma.
- Ajarkan teknik relaksasi.
Penjelasan singkat:
Asma adalah kondisi medis yang ditandai dengan inflamasi dan penyempitan saluran napas, menyebabkan gejala seperti sesak napas, batuk, dan mengi. Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk pasien asma mencakup masalah bersihan jalan napas tidak efektif dan pola napas tidak efektif. Intervensi keperawatan diarahkan untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka, membantu pasien mengeluarkan sekresi, dan meningkatkan pola napas yang efektif. -
Article No. 4344 | 03 Nov 2024
Klinis : manajemen muntah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan: Manajemen Muntah
Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Manajemen Muntah merupakan diagnosa keperawatan yang mengacu pada kemampuan individu untuk mengontrol, mengurangi, atau mencegah episode muntah. Diagnosa ini terkait dengan gangguan pada saluran pencernaan, efek samping pengobatan, atau kondisi medis tertentu.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan pada pasien dengan manajemen muntah adalah:
1. Pasien dapat mengidentifikasi penyebab dan faktor pencetus muntah.
2. Pasien mampu mencegah atau mengurangi episode muntah.
3. Pasien dapat mempertahankan hidrasi dan nutrisi yang adekuat.
4. Pasien menunjukkan kenyamanan dan penurunan distres akibat muntah.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan untuk manajemen muntah meliputi:
1. Identifikasi penyebab dan faktor pencetus muntah.
2. Kolaborasi pemberian antiemetik sesuai indikasi.
3. Manajemen diet dan cairan untuk mencegah dehidrasi.
4. Pemberian terapi komplementer (akupresur, aromaterapi) untuk mengurangi muntah.
5. Edukasi pasien dan keluarga mengenai manajemen muntah.
6. Pemantauan tanda vital dan status hidrasi.
Sebagai perawat, saya akan menerapkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk pasien dengan masalah manajemen muntah. Tujuannya adalah agar pasien dapat mencegah, mengurangi, atau mengatasi episode muntah serta mempertahankan status hidrasi dan nutrisi yang optimal. -
Article No. 4345 | 03 Nov 2024
Klinis : Ny J saat ini telah 1 hari pasca bersalin. Payudaranya nampak bengkak, namun ASI tidak keluar. Puting payudara nampak masuk ke dalam. Ibu mengatakan cemas bayinya tidak mendapatkan suplai ASI yang cukup. Berdasarkan kasus tersebut, buatlah diagnosa, luaran dan intervensinya berdasarkan buku SDKI, SLKI dan SIKI!
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Saya sebagai perawat profesional akan memberikan diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi sesuai dengan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi Ny J saat ini.
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Pola Menyusui (SDKI)
Definisi: Ketidakmampuan ibu untuk mempertahankan pola menyusui yang adekuat untuk kebutuhan bayi.
Luaran (SLKI):
1. Kesiapan Menyusui Meningkat
2. Pengetahuan Ibu tentang Menyusui Memadai
3. Kepuasan Ibu terhadap Proses Menyusui Meningkat
Intervensi (SIKI):
1. Manajemen Laktasi
- Ajarkan ibu teknik menyusui yang benar
- Bantu ibu mengidentifikasi dan mengatasi hambatan dalam menyusui
- Anjurkan ibu untuk menyusui sesuai kebutuhan bayi
- Evaluasi pola menyusui ibu
2. Edukasi Menyusui
- Jelaskan pentingnya ASI eksklusif bagi bayi
- Berikan informasi tentang manfaat dan teknik menyusui yang benar
- Fasilitasi ibu untuk memperoleh dukungan dalam menyusui
3. Konseling Menyusui
- Diskusikan perasaan dan kekhawatiran ibu terkait menyusui
- Bantu ibu mengembangkan strategi dalam mengatasi masalah menyusui
- Berikan dorongan dan dukungan emosional kepada ibu
Penjelasan:
Diagnosa "Ketidakefektifan Pola Menyusui" dipilih karena Ny J mengalami masalah dalam proses menyusui, yaitu payudara bengkak dan ASI tidak keluar. Hal ini dapat menghambat kemampuan ibu untuk menyusui bayinya secara efektif. Luaran yang diharapkan adalah ibu dapat menyusui bayinya dengan baik, memiliki pengetahuan yang memadai tentang menyusui, dan merasa puas dengan proses menyusui. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen laktasi, edukasi menyusui, dan konseling menyusui untuk membantu ibu mengatasi masalah dan mencapai tujuan yang diharapkan. -
Article No. 4346 | 03 Nov 2024
Klinis : Ny I, usia 27 tahun, telah melahirkan anak pertamanya 5 jam yang lalu. Ny I menanyakan kepada perawat bagaimana cara menyusui yang benar. Ny I mengatakan telah mendapatkan penyuluhan terkait cara menyusui saat ia memeriksakan kehamilan, namun tidak dapat mengingat penjelasan yang telah diberikan tersebut. Berdasarkan kasus tersebut, buatlah diagnosa, luaran dan intervensinya berdasarkan buku SDKI, SLKI dan SIKI!
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI untuk kasus Ny I.
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Menyusui (00104)
Definisi: Ketidakmampuan ibu untuk menyusui bayi secara efektif.
Luaran (SLKI):
1. Pengetahuan: Menyusui (1803)
2. Perilaku: Menyusui (1054)
3. Perilaku Kesehatan: Ibu Nifas (1572)
Intervensi (SIKI):
1. Edukasi Menyusui (6606)
2. Konseling Menyusui (6607)
3. Fasilitasi Menyusui (6608)
Penjelasan:
Ny I mengalami masalah dalam menyusui karena ia tidak dapat mengingat penjelasan yang telah diberikan sebelumnya saat memeriksakan kehamilan. Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Ketidakefektifan Menyusui, dimana ibu mengalami ketidakmampuan untuk menyusui bayi secara efektif.
Untuk mengatasi masalah ini, luaran yang perlu dicapai adalah peningkatan pengetahuan, perilaku, dan perilaku kesehatan ibu terkait menyusui. Intervensi yang dapat dilakukan adalah memberikan edukasi, konseling, dan fasilitasi menyusui agar Ny I dapat melakukan teknik menyusui yang benar.
Melalui intervensi tersebut, diharapkan Ny I dapat memahami dan mempraktikkan teknik menyusui yang tepat sehingga dapat menyusui bayinya secara efektif. -
Article No. 4347 | 03 Nov 2024
Klinis : Ny B usia 23 tahun, saat ini hamil 28 minggu, datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri pada perut bagian bawah. Ny B mengatakan ia merasakan kontraksi sejak 2 hari yang lalu. Terdapat pengeluaran lendir dan darah dari vagina. Setelah dilakukan pemeriksaan dalam, pembukaan serviks Ny B mencapai 6 cm. Ny B segera dilakukan operasi sesar. Saat ini, bayi Ny B dirawat di ruang NICU karena berat badan lahir rendah. Berdasarkan kasus tersebut, buatlah diagnosa, luaran dan intervensinya berdasarkan buku SDKI, SLKI dan SIKI!
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, Nyonya. Berdasarkan informasi yang Anda berikan, berikut adalah diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi yang sesuai dengan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Persalinan Prematur (SDKI)
Definisi: Risiko kondisi dimana ibu hamil memiliki kemungkinan melahirkan bayi sebelum usia kehamilan 37 minggu.
2. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral Janin (SDKI)
Definisi: Penurunan sirkulasi oksigen dan nutrisi ke otak janin yang dapat mengakibatkan kerusakan pada otak.
Luaran Keperawatan (SLKI):
1. Risiko Persalinan Prematur:
- Durasi Kontraksi Uterus
- Frekuensi Kontraksi Uterus
- Status Persalinan
2. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral Janin:
- Status Hemodinamik Janin
- Perfusi Jaringan Serebral Janin
- Integritas Otak Janin
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Risiko Persalinan Prematur:
- Pemantauan Kontraksi Uterus
- Pemberian Obat Tocolytic
- Penundaan Persalinan
2. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral Janin:
- Pemantauan Hemodinamik Janin
- Pemberian Oksigen
- Pengaturan Posisi Ibu
Tindakan yang dilakukan oleh tim medis, seperti operasi sesar dan perawatan bayi di NICU, juga sesuai dengan kondisi klinis yang dialami oleh Nyonya B. Peran perawat dalam kasus ini adalah melakukan pemantauan, pemberian intervensi keperawatan, dan kolaborasi dengan tim medis lainnya untuk mencegah komplikasi dan memastikan kesejahteraan ibu dan bayi. -
Article No. 4348 | 03 Nov 2024
Klinis : Klien masuk IGD RSPP pada tanggal 02 April 2019 pukul 20.40 WIB, klien datang dengan keluhan badan demam dan mengeluh sakit ulu hati, serta anyang-anyangan dan nyeri saat BAK. Diagnosa Medis: Infeksi Saluran Kemih. Setelah mendapatkan terapi dan dilakukan pemeriksaan laboratorium, klien disarankan untuk di rawat. Klien masuk rawat inap pada tanggal 02 April 2019 pukul 22.48 WIB di kamar 436, kelas superior, Ruang Bentayan Lantai IV B Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta. Nomor Register 699717 dengan diagnosa medis Infeksi Saluran Kemih. Klien bernama Nn. T, Klien berumur 17 tahun, Klien berjenis kelamin perempuan, belum menikah, Klien beragama islam, pendidikan klien saat ini SMA, bahasa yang di gunakan bahasa Indonesia, dan bertempat tinggal di Jalan Ulujami Raya Gg. Palem Pesanggrahan Jakarta selatan, sumber biaya selama perawatan ditanggung oleh pribadi, dan sumber informasi diperoleh dari klien, keluarga klien, perawat ruangan, dan status file pasien. Klien mengeluh badan demam dan mengeluh sakit ulu hati, serta anyang-anyangan dan nyeri saat BAK. Upaya mengatasinya klien banyak minum air putih dan keluarga membawa ke IGD RSPP.Klien tidak mempunyai riwayat penyakit, klien tidak mempunyai riwayat alergi obat, dan klien tidak mempunyai riwayat dalam pemakaian obat. Klien bernama Nn. T, berumur 17 tahun, klien anak ketiga dari tiga bersaudara. Klien tinggal satu rumah dengan orang tua dan kedua kakaknya. Keluarga klien mengatakan nenek dan kakeknya meninggal karena sudah tua. Keluarga klien mengatakan tidak ada penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang menjadi faktor resiko penyakitnya. Orang terdekat klien adalah Ibunya. Pola komunikasi didalam keluarga klien adalah komunikasi terbuka, segala sesuatu dibicarakan bersama dan pembuat keputusan secara musyawarah. Klien mengatakan tidak mengikuti kegiatan kemasyarakatan dilingkungannya. Keluarga klien mengatakan dampak penyakit klien terhadap keluarga yaitu keluarga merasa khawatir dan cemas dengan keadaan klien. Klien mengatakan mekanisme koping terhadap stress adalah tidur. Klien memikirkan penyakitnya saat ini dan berharap sakitnya tidak terasa lagi dan cepat sembuh agar bisa masuk sekolah. Tidak ada nilai-nilai yang bertentangan dengan kesehatan, klien selalu sholat 5 waktu Keluarga klien mengatakan lingkungan sekitar rumah klien tidak padat, tidak terkontaminasi dengan lingkungan yang tercemar, rumah klien bersih, nyaman dan jauh dari jalan raya sehingga terasa tenang dan tidak berisik. Sumber air keluarga yaitu sumur, dengan kondisi bersih dan tidak berbau. Selama dirumah sakit klien makan 3 kali sehari, tidak nafsu makan, klien makan setengah porsi, tidak menggunakan alat bantu makan seperti NGT. Frekuensi BAB klien 1 kali sehari pada waktu pagi hari, warnanya kuning kecokelatan, konsistensinya lembek, klien tidak mempunyai keluhan dalam BAB, dan tidak menggunakan laxatif. Selama dirumah sakit klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa, merasa nyeri setiap kali beraktivitas. Klien memiliki perilaku buruk yaitu kebiasaan menahan berkemih, kurang minum air putih, klien tidak sering mengganti pembalut saat sedang menstruasi, dan mengenakan celana dalam yang terlalu ketat. Berat badan 42 kg, Tinggi badan klien 157 cm. Keadaan umum klien sedang, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening. konjungtiva pucat, kornea klien normal, sklera klien anikterik, pupil isokor, klien tidak mempunyai kelainan pada otot-otot mata, fungsi penglihatan klien baik, Sistem Pendengaran, tidak ada tinitus, tidak ada gangguan keseimbangan, fungsi pendengaran klien normal, dan klien tidak menggunakan alat bantu dengar, Sistem wicara klien normal, gaya bicara klien normal dan dapat dimengerti. Tidak ada aphasia, aphonia, dysartria, dysphasia maupun anarthia. Jalan nafas klien bersih tidak ada sumbatan, tidak ada sesak saat bernafas, klien tidak menggunakan otot bantu pernafasan, frekuensi nafas 18x/menit, irama teratur, jenis pernafasan spontan, pernafasan klien dalam. Tidak ada batuk, tidak ada sputum, palpasi dada simetris, suara nafas klien vesikuler, tidak ada nyeri saat bernafas, klien tidak menggunakan alat bantu nafas. Sirkulasi Perifer: nadi 74x/menit, irama teratur, denyut kuat, TD: 113/74 mmHg, klien tidak terdapat distensi vena jugularis kanan dan kiri, temperatur kulit hangat, warna kulit kemerahan, pengisian kapiler < 3 detik, tidak ada edema. Sirkulasi Jantung: kecepatan denyut apical 80x/menit, irama jantung teratur, tidak terdapat kelainan bunyi jantung murmur dan gallop, tidak ada sakit dada. Tidak ada keluhan sakit kepala, bising usus 10 kali per menit, Klien tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, intake klien 1250 ml (oral 750 ml dan infus 500 ml), output klien 1100 ml (urin 1100 ml), jadi balance cairan klien adalah 150cc. Klien terdapat perubahan pola berkemih yaitu retensi, warna urin kuning kental/coklat, terdapat ketegangan kandung kemih, klien mengeluh sakit pinggang dengan skala nyeri 7. Klien tidak mengalami kesulitan dalam pergerakan, tidak ada nyeri pada tulang sendi, tidak ada fraktur, tidak ada kelainan bentuk tulang sendi, tidak ada kelainan struktur tulang belakang, keadaan tonus otot klien baik. Kekuatan Otot ekstremitas kiri atas 5555, ekstremitas kiri bawah 5555, ekstremitas kanan atas 5555, ekstremitas kanan bawah 5555. Klien paham tentang penyakitnya tetapi hanya sedikit yang di pahami. Klien mengatakan penyakitnya disebabkan oleh mikroorganisme yaitu bakteri. Klien dan keluarga mengatakan mengetahui tentang penyakit nya dari dokter yang memeriksa saat di IGD. Hasil Lab Tanggal 02 April 2019 pukul 21.54 Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Urine Lengkap (UF) Warna Urin Kuning agak keruh Kuning Berat Jenis Urin 1.015 1.003 – 1.030 pH Urin Asam Asam Nitrit Urin Negatif Negatif Protein Positif 1 Negatif Glukosa Urin Negatif Negatif Aseton Urin Negatif Negatif Urobilinogen Urin Positif 1 Positif 1 Bilirubin Urin Negatif Negatif Leukosit Esterase Positif 3 Negatif Sedimen Epitel H 36 /uL < 13 Eritrosit H 28 /uL < 20 Leukosit H 2171 /uL < 40 Silinder 1 /uL < 3 Silinder Patologis 1 /uL < 3 Kristal 1 /uL < 10 Bakteri H 8.65 10 ̂ 5/mL < 1.25 RBC Info Ismorphic *Ismorphic: Hematuri berasal dari tractus urinarius bawah (non glomeruler) 5.Penatalaksanaan a.Infus Nacl 500ml. b.Obat-obatan Ketesse 50gr 3 x 1 IV Moxifloxacin 400gr 1 x 1 IV Lansoprazole 30gr 2 x 1 IV
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi Klien masuk IGD RSPP dengan diagnosa medis Infeksi Saluran Kemih:
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri akut berhubungan dengan infeksi saluran kemih, ditandai dengan klien mengeluh nyeri ulu hati dan nyeri saat berkemih.
2. Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan infeksi saluran kemih, ditandai dengan adanya perubahan warna urin, frekuensi berkemih meningkat, dan keluhan rasa nyeri.
3. Risiko ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan intake dan output cairan yang tidak seimbang, ditandai dengan adanya keluhan demam dan tanda-tanda dehidrasi.
4. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit infeksi saluran kemih, ditandai dengan klien dan keluarga hanya memahami sedikit tentang penyakitnya.
Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Nyeri Akut: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau yang digambarkan dalam istilah kerusakan.
2. Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan: Berisiko mengalami pengurangan aliran darah dan oksigen ke jaringan, yang dapat mengancam kesehatan.
3. Risiko Ketidakseimbangan Cairan: Berisiko mengalami kelebihan atau kekurangan cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraseluler yang dapat mengancam kesehatan.
4. Defisit Pengetahuan: Kurangnya informasi kognitif yang berkaitan dengan topik tertentu.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Kontrol Nyeri: Kemampuan untuk mengontrol pengalaman sensorik atau emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial.
2. Perfusi Jaringan: Kemampuan sistem kardiovaskular untuk mendistribusikan darah yang mengandung oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh.
3. Keseimbangan Cairan: Kemampuan untuk mempertahankan volume dan komposisi cairan internal yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.
4. Pemahaman: Kemampuan untuk memperoleh dan memahami informasi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Nyeri: Tindakan yang dilakukan untuk membantu pasien dalam mengurangi atau menghilangkan nyeri.
2. Manajemen Perfusi Jaringan: Tindakan yang dilakukan untuk mempertahankan atau meningkatkan aliran darah dan oksigen ke jaringan.
3. Manajemen Cairan: Tindakan yang dilakukan untuk mempertahankan volume dan komposisi cairan internal yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.
4. Edukasi Kesehatan: Tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pasien tentang kondisi kesehatannya.