Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24919 | 07 Apr 2026
Klinis : Laboratorium: Hb 16 gr/dL, Leukosit 15.000, Kalium 5,5 mEq/L, Natrium 130 mEq/L, Albumin 2,8 g/dL
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan dan Elektrolit serta Gangguan Nutrisi
Kode SDKI: 0206
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan dan Elektrolit adalah keadaan dimana individu rentan mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstisial, atau intraselular, yang dapat mengakibatkan kerusakan integritas kulit, perubahan tekanan darah, dan gangguan elektrolit serum.
Kode SLKI: 4401
Deskripsi : SLKI 4401: Pemantauan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit. Intervensi keperawatan ini melibatkan pengumpulan dan analisis data pasien secara sistematis dan berkelanjutan untuk mengidentifikasi status, tren, dan risiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Pada kasus ini, pemantauan difokuskan pada parameter laboratorium yang abnormal. Nilai Natrium (Na) 130 mEq/L menunjukkan hiponatremia, yang dapat menyebabkan kelemahan, mual, kebingungan, dan dalam kasus berat, kejang dan koma. Nilai Kalium (K) 5,5 mEq/L menunjukkan hiperkalemia ringan, yang berisiko terhadap gangguan irama jantung. Leukositosis (15.000/mm³) mengindikasikan adanya proses infeksi atau inflamasi yang dapat meningkatkan kebutuhan metabolik dan mempengaruhi keseimbangan cairan. Hemoglobin (Hb) 16 gr/dL yang berada di batas atas normal/tinggi dapat mengindikasikan hemokonsentrasi akibat dehidrasi relatif, meskipun perlu data klinis lain (seperti hematokrit, tanda-tanda klinis dehidrasi) untuk konfirmasi. Pemantauan mencakup pengukuran asupan dan haluaran cairan yang akurat, penilaian tanda-tanda vital (terutama tekanan darah dan nadi), penilaian tanda-tanda klinis dehidrasi atau kelebihan cairan (turgor kulit, membran mukosa, edema), serta evaluasi status neurologis untuk mendeteksi efek hiponatremia. Data laboratorium ini harus dikorelasikan dengan kondisi klinis pasien secara menyeluruh untuk menentukan rencana tindakan yang tepat.
Kode SIKI: 4401A
Deskripsi : SIKI 4401A: Memantau Tanda dan Gejala Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit. Ini adalah tindakan spesifik dari SLKI 4401. Perawat secara aktif mengobservasi dan mendokumentasi manifestasi klinis yang terkait dengan ketidakseimbangan yang teridentifikasi dari data laboratorium. Untuk hiponatremia (Na rendah), perawat memantau pasien untuk gejala seperti mual, muntah, sakit kepala, kelemahan otot, kejang, kebingungan, dan penurunan kesadaran. Untuk hiperkalemia (K tinggi), pemantauan difokuskan pada sistem kardiovaskular, termasuk pengukuran denyut nadi dan irama jantung secara teratur, mendengarkan keluhan palpitasi, dan mengawasi hasil EKG jika tersedia untuk mendeteksi perubahan seperti gelombang T yang runcing. Terkait leukositosis, perawat memantau tanda-tanda infeksi seperti demam, menggigil, atau lokasi infeksi spesifik. Pemantauan juga mencakup penilaian keseimbangan cairan dengan mencatat asupan oral dan parenteral serta haluaran urin, dan menimbang berat badan harian dengan prosedur yang konsisten. Tindakan ini bersifat preventif dan detektif dini, bertujuan untuk mengidentifikasi deteriorasi kondisi sebelum menjadi berat, sehingga intervensi korektif seperti pembatasan cairan, pemberian natrium, terapi untuk menurunkan kalium, atau pemberian antibiotik untuk infeksi dapat segera diinisiasi oleh tim kesehatan. Dokumentasi yang akurat dan berkelanjutan sangat penting untuk mengevaluasi tren dan efektivitas terapi.
Kondisi: Risiko Gangguan Integritas Kulit dan Jaringan terkait Malnutrisi
Kode SDKI: 0501
Deskripsi Singkat: Risiko Gangguan Integritas Kulit adalah keadaan dimana individu rentan mengalami perubahan kulit dan/atau jaringan di bawahnya yang dapat merugikan kesehatan.
Kode SLKI: 3401
Deskripsi : SLKI 3401: Manajemen Luka dan Perawatan Kulit. Intervensi ini bertujuan untuk mempertahankan integritas kulit dan mempercepat penyembuhan jaringan. Pada pasien dengan kadar albumin rendah (2,8 g/dL), terdapat risiko signifikan untuk terjadinya gangguan integritas kulit seperti luka dekubitus, kulit rapuh, dan penyembuhan luka yang terlambat. Hiponatremia dan kondisi infeksi/inflamasi (leukositosis) yang mendasari juga dapat memperburuk status umum pasien dan memperlambat proses regenerasi jaringan. Albumin yang rendah (hipoalbuminemia) menyebabkan penurunan tekanan onkotik plasma, yang memfasilitasi terjadinya edema. Kulit yang edematous lebih rentan terhadap kerusakan. Selain itu, albumin berperan penting dalam proses penyembuhan luka dan respons inflamasi. SLKI ini melibatkan penilaian kulit secara teratur dan sistematis, terutama di area tulang yang menonjol, dengan menggunakan skala seperti Braden Scale untuk menilai risiko dekubitus. Intervensi mencakup penerapan strategi pencegahan seperti reposisi dan mobilisasi pasien secara rutin, penggunaan alas tidur khusus untuk mengurangi tekanan, menjaga kebersihan kulit tetap kering dan bersih dari kelembaban berlebih (urin, feses, keringat), serta melakukan perawatan kulit dengan pelembab untuk mencegah kekeringan dan pecah-pecah. Nutrisi yang adekuat, meskipun menjadi masalah utama, adalah komponen kritis dari manajemen ini, sehingga kolaborasi dengan ahli gizi untuk meningkatkan asupan protein dan kalori sangat dianjurkan.
Kode SIKI: 3401B
Deskripsi : SIKI 3401B: Melakukan Perawatan Kulit. Ini adalah tindakan operasional dari SLKI 3401. Perawat melakukan tindakan langsung untuk memelihara integritas kulit pasien. Tindakan ini meliputi inspeksi harian terhadap seluruh permukaan kulit, dengan perhatian khusus pada sakrum, tumit, siku, dan tulang belikat. Kulit dibersihkan dengan sabun lembut dan air hangat, kemudian dikeringkan dengan hati-hati dengan menepuk-nepuk, bukan menggosok. Diberikan pelembab untuk mencegah kulit kering. Untuk area yang sangat rentan, dapat diterapkan krim pelindung (skin barrier). Perawat juga mengatur posisi pasien minimal setiap 2 jam (jika imobil) atau mendorong perubahan posisi mandiri, menggunakan bantal atau bantalan khusus untuk menghindari tekanan langsung pada area tulang. Jika sudah terdapat kemerahan yang tidak memudar (non-blanchable erythema), tindakan perawatan lebih intensif seperti dressing khusus akan diterapkan. Seluruh tindakan ini didokumentasikan dengan rinci, termasuk kondisi kulit awal, tindakan yang dilakukan, dan respons kulit. Dalam konteks hipoalbuminemia, tindakan ini menjadi sangat krusial karena kulit pasien berada dalam kondisi rentan akibat defisit nutrisi dan potensi edema, sehingga pencegahan kerusakan kulit adalah prioritas untuk mencegah komplikasi infeksi lebih lanjut dan memperburuk status nutrisi dan kesehatan pasien secara keseluruhan.
-
Article No. 24920 | 07 Apr 2026
Klinis : Pasien dibawa keluarga ke IGD 28 Februari 2026 pukul 22.30 WIB dengan keluhan utama kejang. Keluarga mengatakan sebelumnya pasien kejang di rumah dengan durasi kurang lebih 10 menit dan sudah sadar penuh. Kemudian saat perjalanan menuju IGD pasien mengalami kejang berulang dengan kaki dan tangan kelojotan. Saat dilakukan pengkajian pasien mengeluh nyeri kepala hebat, pasien mengatakan nyeri terasa nyut-nyutan dan hilang timbul lalu mengatakan nyeri timbul saat beraktivitas ringan dan mereda saat istirahat. Pasien mengatakan bahwa sedang batuk sejak 4 hari SMRS dan mengeluh gatal di tenggorokan seperti ada yang mengganjal karena batuknya terasa kering. Pasien mengatakan baru mengetahui bahwa dirinya memiliki Hipertensi sejak 3 hari lalu saat masuk IGD dan belum tertangani. Kesadaran pasien compos mentis, hasil pemeriksaan tanda-tanda vital menunjukkan tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 85 kali per menit, suhu tubuh 36,9°C, frekuensi napas 19 kali per menit, saturasi oksigen 98%. Pasien terpasang IVFD Nacl 0,9% 500 cc/12 jam. Hasil pemeriksaan laboratorium hematologi menunjukkan hemoglobin 13,0 g/dL (normal), leukosit 9,2 10³/µL (normal), hematokrit 40% (normal), trombosit 229 10³/µL (normal). Hasil laboratorium kimia klinik menunjukkan natrium 140 mmol/L (normal), kalium 3,9 mmol/L (normal) , clorida 100 mmol/L (normal). Pemeriksaan gula darah sewaktu 102 mg/dL dalam batas normal. Hasil pemeriksaan radiologi CT Scan kepala menunjukkan infark lakunar multiple pada ganglia basalis bilateral dan corona radiata bilateral, atrophy cerebri ringan.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Infark Serebral Akut Lakunar Multipel dengan Kejang, Hipertensi Esensial (Baru Terdiagnosis), dan Batuk Non-Spesifik
Kode ICD-10: I63.9 (Infark serebral, tidak spesifik), G40.909 (Epilepsi, tidak spesifik, tidak refrakter, tanpa status epileptikus), I10 (Hipertensi esensial (primer)), R05.9 (Batuk, tidak spesifik)
Deskripsi Singkat : Pasien mengalami kejang berulang yang diduga merupakan gejala sekunder dari infark serebral akut tipe lakunar multipel, yang terkonfirmasi melalui temuan CT Scan kepala menunjukkan infark pada ganglia basalis dan corona radiata bilateral. Infark lakunar adalah stroke iskemik kecil yang terjadi akibat penyumbatan arteri kecil di dalam otak, sering dikaitkan dengan hipertensi yang tidak terkontrol. Dalam kasus ini, pasien memiliki riwayat hipertensi yang baru diketahui dan belum tertangani (TD 140/90 mmHg), yang merupakan faktor risiko utama. Kejang (G40.909) dicatat sebagai manifestasi klinis dari lesi otak akut ini. Keluhan sakit kepala hebat yang hilang timbul dengan aktivitas juga konsisten dengan kondisi vaskular otak. Selain itu, pasien melaporkan batuk kering dengan gatal tenggorokan selama 4 hari, yang dikodekan sebagai gejala pernapasan non-spesifik (R05.9). Kode I63.9 digunakan untuk infark serebral akut yang tidak dispesifikkan lebih lanjut (misalnya, sebagai emboli atau trombosis), sementara I10 mendokumentasikan diagnosis hipertensi esensial sebagai kondisi komorbid yang signifikan dan memerlukan penanganan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24921 | 07 Apr 2026
Klinis : Pasien dibawa keluarga ke IGD 28 Februari 2026 pukul 22.30 WIB dengan keluhan utama kejang. Keluarga mengatakan sebelumnya pasien kejang di rumah dengan durasi kurang lebih 10 menit dan sudah sadar penuh. Kemudian saat perjalanan menuju IGD pasien mengalami kejang berulang dengan kaki dan tangan kelojotan. Saat dilakukan pengkajian pasien mengeluh nyeri kepala hebat, pasien mengatakan nyeri terasa nyut-nyutan dan hilang timbul lalu mengatakan nyeri timbul saat beraktivitas ringan dan mereda saat istirahat. Pasien mengatakan bahwa sedang batuk sejak 4 hari SMRS dan mengeluh gatal di tenggorokan seperti ada yang mengganjal karena batuknya terasa kering. Pasien mengatakan baru mengetahui bahwa dirinya memiliki Hipertensi sejak 3 hari lalu saat masuk IGD dan belum tertangani. Kesadaran pasien compos mentis, hasil pemeriksaan tanda-tanda vital menunjukkan tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 85 kali per menit, suhu tubuh 36,9°C, frekuensi napas 19 kali per menit, saturasi oksigen 98%. Pasien terpasang IVFD Nacl 0,9% 500 cc/12 jam. Hasil pemeriksaan laboratorium hematologi menunjukkan hemoglobin 13,0 g/dL (normal), leukosit 9,2 10³/µL (normal), hematokrit 40% (normal), trombosit 229 10³/µL (normal). Hasil laboratorium kimia klinik menunjukkan natrium 140 mmol/L (normal), kalium 3,9 mmol/L (normal) , clorida 100 mmol/L (normal). Pemeriksaan gula darah sewaktu 102 mg/dL dalam batas normal. Hasil pemeriksaan radiologi CT Scan kepala menunjukkan infark lakunar multiple pada ganglia basalis bilateral dan corona radiata bilateral, atrophy cerebri ringan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan otak.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Perfusi serebral efektif ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang yang dapat diterima untuk pasien; 2) Status neurologis stabil dan/atau membaik; 3) Tidak ada peningkatan tekanan intrakranial; 4) Fungsi kognitif dan sensorik dipertahankan; 5) Keseimbangan cairan dan elektrolit adekuat. Pada kondisi pasien ini, tujuan utamanya adalah mencegah berulangnya kejang dan episode iskemia lebih lanjut untuk mempertahankan perfusi serebral yang adekuat. Intervensi keperawatan diarahkan untuk memonitor tanda-tanda neurologis secara ketat, mengelola faktor risiko (hipertensi), memastikan oksigenasi yang optimal, dan memberikan edukasi untuk meminimalkan komplikasi.
Kode SIKI: 4230
Deskripsi : Intervensi ini meliputi: 1) Memonitor dan mendokumentasikan status neurologis secara teratur (tingkat kesadaran, GCS, pupil, kekuatan motorik, kejang) untuk mendeteksi dini deteriorasi; 2) Memonitor dan mengelola tekanan darah secara ketat sesuai instruksi medis untuk mengontrol hipertensi sebagai faktor risiko utama infark; 3) Mempertahankan kepatenan jalan napas dan memastikan oksigenasi adekuat (monitor saturasi O2); 4) Memberikan terapi obat sesuai resep (antikonvulsan, antihipertensi) dan evaluasi efek serta efek sampingnya; 5) Menciptakan lingkungan yang tenang, membatasi pengunjung, dan mengatur posisi kepala tempat tidur sedikit elevasi untuk meningkatkan aliran darah vena serebral; 6) Memonitor keseimbangan cairan dengan ketat melalui intake-output dan menjaga fungsi IVFD; 7) Kolaborasi dalam pemeriksaan diagnostik dan terapi medis; 8) Edukasi pasien dan keluarga tentang kondisi, pentingnya kepatuhan pengobatan, tanda-tanda darurat (seperti kejang berulang, sakit kepala hebat, kelemahan mendadak), serta modifikasi gaya hidup untuk mengontrol hipertensi.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan akhir yang dapat diatasi.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol nyeri tercapai ditandai dengan: 1) Pasien melaporkan penurunan intensitas nyeri (skala nyeri menurun); 2) Pasien menunjukkan perilaku nyaman (ekspresi wajah rileks, dapat beristirahat); 3) Tanda-tanda vital terkait nyeri (seperti tekanan darah, nadi) stabil atau membaik; 4) Pasien mampu mengidentifikasi faktor pemicu dan pereda nyeri. Pada pasien ini, tujuan SLKI adalah mengurangi nyeri kepala hebat yang bersifat nyut-nyutan dan hilang timbul, sehingga pasien dapat beristirahat dengan nyaman dan mencegah peningkatan tekanan intrakranial sekunder akibat nyeri.
Kode SIKI: 1450
Deskripsi : Intervensi ini meliputi: 1) Lakukan pengkajian nyeri komprehensif (PQRST: Provokasi, Quality, Region, Severity, Time) untuk mengkarakterisasi nyeri kepala; 2) Ajarkan dan minta pasien menggunakan skala nyeri (misal, 0-10) untuk mengevaluasi efektivitas intervensi; 3) Berikan analgetik sesuai resep dokter dan evaluasi respons terapi dalam waktu 30 menit hingga 1 jam setelah pemberian; 4) Lakukan intervensi non-farmakologis seperti kompres dingin pada dahi, teknik relaksasi napas dalam, dan menciptakan lingkungan yang tenang dengan pencahayaan redup; 5) Bantu pasien dalam aktivitas untuk menghindari aktivitas yang memicu nyeri (aktivitas ringan) sesuai keluhan; 6) Anjurkan tirah baring dan istirahat yang cukup karena nyeri mereda saat istirahat; 7) Monitor tanda-tanda vital sebelum dan setelah pemberian analgetik; 8) Kolaborasi dengan tim medis jika nyeri tidak terkontrol dengan regimen awal.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0008
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan kepatenan jalan napas.
Kode SLKI: 0410
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif ditandai dengan: 1) Suara napas bersih (vesikuler) tanpa suara tambahan (ronkhi, wheezing); 2) Pasien mampu mengeluarkan sekresi secara efektif; 3) Frekuensi dan irama napas dalam rentang normal; 4) Nilai saturasi oksigen dalam batas normal (≥95%). Meskipun saturasi oksigen pasien normal (98%), adanya keluhan batuk kering dengan gatal dan rasa mengganjal di tenggorokan menunjukkan iritasi dan potensi ketidakefektifan bersihan jalan napas, terutama jika sekresi menjadi lebih kental atau pasien mengalami penurunan refleks batuk pasca kejang.
Kode SIKI: 0440
Deskripsi : Intervensi ini meliputi: 1) Auskultasi suara napas tiap 4-8 jam untuk mendeteksi adanya penumpukan sekresi; 2) Ajarkan dan bantu teknik batuk efektif (batuk dalam dengan dukungan) jika kondisi pasien memungkinkan; 3) Anjurkan dan bantu peningkatan intake cairan oral (jika tidak ada kontraindikasi) atau pantau cairan IV untuk mengencerkan sekresi; 4) Lakukan humidifikasi udara ruangan jika diperlukan untuk mengurangi kekeringan dan iritasi tenggorokan; 5) Posisikan pasien dengan posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memudahkan ekspansi paru dan drainase sekresi; 6) Monitor frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan serta saturasi oksigen secara berkala; 7) Kolaborasi pemberian terapi nebulizer atau obat mukolitik/antitusif sesuai resep jika diperlukan; 8) Lakukan penghisapan lendir (suction) jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekresi sendiri dan terdapat indikasi.
-
Article No. 24922 | 07 Apr 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan kerentanan terhadap invasi patogen tuberkulosis (Mycobacterium tuberculosis) yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: L.14024
Deskripsi : SLKI: Status infeksi terkontrol. Deskripsi: Pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi, ditandai dengan: 1) Suhu tubuh dalam rentang normal; 2) Tanda-tanda vital dalam rentang normal; 3) Tidak ada tanda-tanda inflamasi lokal (seperti kemerahan, bengkak, nyeri, panas); 4) Hasil pemeriksaan penunjang (seperti laboratorium, radiologi) menunjukkan tidak ada infeksi atau perbaikan; 5) Meningkatnya pengetahuan tentang pencegahan infeksi; 6) Meningkatnya perilaku pencegahan infeksi. Pada konteks tuberkulosis paru, tujuan ini dicapai melalui kepatuhan pengobatan yang ketat, pencegahan penularan, dan pemantauan respons klinis. Perawat berperan dalam edukasi tentang pentingnya pengobatan hingga tuntas (minimal 6 bulan), cara batuk yang aman (etika batuk), penggunaan masker, dan pentingnya ventilasi udara yang baik. Pemantauan tanda-tanda vital, khususnya suhu dan pola pernapasan, serta evaluasi gejala seperti batuk dan produksi sputum menjadi indikator keberhasilan. Pemeriksaan dahak ulang (BTA) dan radiologi toraks ulang adalah tolok ukur objektif untuk menilai keberhasilan terapi dan terkendalinya infeksi. SLKI ini bersifat kolaboratif, membutuhkan kerja sama erat antara pasien, keluarga, perawat, dan tim medis lainnya untuk memastikan rantai penularan terputus dan infeksi pada pasien dapat disembuhkan.
Kode SIKI: I.12070
Deskripsi : SIKI: Manajemen Infeksi. Deskripsi: Intervensi untuk mencegah dan mengatasi infeksi, meliputi: 1) Memantau tanda dan gejala infeksi; 2) Melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi (mencuci tangan, menggunakan APD, isolasi jika diperlukan); 3) Mengajarkan cara pencegahan infeksi kepada pasien dan keluarga; 4) Memastikan kepatuhan terhadap regimen terapi antimikroba; 5) Mengoordinasikan perawatan dengan tim kesehatan. Pada pasien tuberkulosis paru, SIKI ini diimplementasikan secara komprehensif. Pertama, pemantauan ketat gejala: mengobservasi karakteristik batuk dan dahak, mengukur suhu tubuh secara teratur, menilai sesak napas, dan mengauskultasi suara napas. Kedua, pencegahan penularan sangat krusial. Perawat mengedukasi dan memastikan pasien menerapkan etika batuk (menutup mulut dengan tisu atau lengan, membuang tisu ke tempat sampah tertutup), menggunakan masker terutama di tempat umum, dan melakukan isolasi droplet di awal pengobatan. Edukasi kepada keluarga tentang penularan TB, pentingnya pemeriksaan kontak, dan menjaga ventilasi rumah. Ketiga, memastikan kepatuhan minum obat OAT (Obat Anti Tuberkulosis) adalah inti dari manajemen. Perawat menjelaskan jenis obat, efek samping, dan konsekuensi tidak patuh. Strategi seperti pengawasan minum obat (DOTS) direncanakan. Keempat, meningkatkan daya tahan tubuh dengan edukasi gizi seimbang tinggi kalori dan protein untuk melawan infeksi dan memperbaiki status gizi. Kelima, dukungan psikososial untuk mengurangi stigma dan meningkatkan motivasi berobat. Keenam, kolaborasi dengan dokter dalam evaluasi pengobatan dan dengan petugas kesehatan masyarakat dalam pelacakan kontak. Semua intervensi ini bertujuan memutus rantai penularan, menyembuhkan pasien, dan mencegah komplikasi seperti MDR-TB.
-
Article No. 24923 | 07 Apr 2026
Klinis : 1. Pasien mengatakan tinggal di bantur sudah dari lahir 2. Pasien merupakan tetangga dari odgj, pasien mengatakan odgj dulu sering mukuli rumah warga tapi bukan rumahnya, rumah saudaranya odgj dan orang-orang lain 3. Pasien tinggal di rumah bersama istrinya 4. Pasien bernama pak suriman, kelahiran tahun 1960 5. Pasien mengatakan anaknya baru saja meninggal 40 hari yang lalu, pasien mengatakan sakit anaknya hanya 10 menit. Awalnya katanya masih jualan bakso di bangil tapi kemudian habis maghrib masih ngobrol sama anaknya lewat telfon. Tapi tiba2 di kasih tau tetangga apa anaknya ada sakit, ternyata pas ditelfon sudah meninggal. Pasien mengatakan mungkin sakit jantung. 6. Pasien mengatakan anaknya sudah punya anak. Jadi pasien sudah punya cucu. 7. Pasien mengatakan dirinya tidak ada riwayat jantung, diabet, hipertensi. Pasien mengatakan kalau asam urat mungkin ada karena beberapa kali lututnya sakit kalau di buat ke sawah. Pasien tidak tahu itu sakit karena asam urat atau kecapekan saja 8. Pasien bekerja sebagai petani. Pasien mengatakan ia merupakan kuwawa petani (petugas pengatur perairan sawah) sudah 4 tahun. Pasien mengatakan semua orang kenal sama pasien karena dirinya juga ketua RT. 9. Pasien mengatakan dulu pernah di rawat di puskesmas sumbermanjing karena lambung selama 2 hari. 10. BB : 61-62 11. Pasien mengatakan sudah lama tidak timbang 12. Pasien mengatakan tidurnya nyenyak, dan tidak pernah kebangun karena ingin ke kamar mandi 13. Pasien tidak merokok dan tidak minum kopi 14. Pasien terakhir sekolah adalah SD. 15. Pasien menikah sekitar 24 tahun yang lalu. 16. Pasien mengatakan setelah SD langsung membantu keluarga untuk menjadi petani 17. Pasien mengatakan tidak takut ketika berada di dekat odgj 18. Pasien mengatakan di daerah sekitar rumahnya ada beberapa ODGJ 19. Pasien mengatakan memiliki cucu 1 20. Pasien mengatakan di rumah hanya tinggal berdua. 21. Pasien mengatakan menantunya rumahnya disebelah.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Komplikasi Berduka Disfungsional
Kode SDKI: 00138
Deskripsi Singkat: Risiko terjadinya respons berduka yang berkepanjangan, intens, dan mengganggu fungsi kehidupan sosial, spiritual, dan fisik individu akibat kehilangan yang signifikan.
Kode SLKI: 4601
Deskripsi : Pasien menunjukkan kemampuan untuk mengungkapkan perasaan kehilangan dan beradaptasi dengan perubahan hidup. Tujuan khususnya adalah pasien dapat mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan sedih, marah, atau kesepian terkait kehilangan anaknya; menggunakan strategi koping yang sehat (seperti berbicara dengan keluarga, melanjutkan aktivitas sosial sebagai ketua RT); serta secara bertahap menunjukkan penerimaan terhadap kehilangan dan mampu menjalankan peran dan tanggung jawab sehari-hari (sebagai suami, ketua RT, petani) tanpa disabilitas yang signifikan akibat duka. Indikatornya meliputi ekspresi verbal perasaan, keterlibatan dalam ritual atau budaya berduka (misalnya peringatan 40 hari), mempertahankan hubungan dengan sistem pendukung (istri, menantu, cucu, masyarakat), dan pengakuan akan perubahan hidup yang permanen.
Kode SIKI: 4601A
Deskripsi : Intervensi keperawatan difokuskan pada pencegahan berduka yang disfungsional. Perawat akan menciptakan lingkungan terapeutik yang aman dan empatik untuk mendorong ekspresi perasaan. Teknik komunikasi terapeutik seperti mendengarkan aktif dan memberikan validasi emosional ("Wajar merasa sedih, kehilangan anak adalah hal yang sangat berat") akan digunakan. Perawat akan mengkaji respons berduka pasien, termasuk gejala fisik (gangguan tidur, nafsu makan), emosional (kesedihan, kemarahan, mati rasa), kognitif (ketidakpercayaan, preoccupation), dan spiritual (makna kehilangan). Perawat akan memfasilitasi pasien untuk menceritakan kisah tentang anaknya yang meninggal, termasuk peristiwa sebelum dan sesudahnya, untuk membantu proses integrasi kehilangan. Dukungan akan diberikan untuk mengidentifikasi dan memperkuat sistem pendukung yang ada, seperti peran istri, menantu yang tinggal di sebelah rumah, serta posisinya sebagai ketua RT yang diakui masyarakat. Perawat juga akan mengedukasi tentang respons berduka yang normal dan kapan perlu mencari bantuan lebih lanjut. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan jiwa atau konselor spiritual dapat diinisiasi jika diperlukan. Selain itu, perawat akan memantau tanda-tanda komplikasi berduka, seperti penyangkian yang berkepanjangan, kemarahan yang meluas, isolasi sosial yang ekstrem, atau munculnya ide bunuh diri, serta mendorong keterlibatan dalam aktivitas bermakna dan rutinitas positif untuk membangun ketahanan.
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Koping Individu
Kode SDKI: 00136
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakmampuan individu dalam mengelola secara adekuat stresor internal atau eksternal akibat sumber daya koping yang tidak memadai.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Pasien mendemonstrasikan penggunaan strategi koping yang adaptif dalam menghadapi stresor (kehilangan anak, potensi konflik lingkungan dengan ODGJ, tuntutan peran ganda). Tujuan khususnya adalah pasien dapat mengidentifikasi sumber stresor utamanya; menyebutkan minimal dua strategi koping yang biasa digunakannya dan efektif (seperti berbicara dengan istri, bekerja sebagai pengalih perhatian); serta menunjukkan perilaku mencari dukungan sosial ketika diperlukan. Indikatornya meliputi pengakuan terhadap perasaan tertekan, pemilihan respons koping yang konstruktif (bukan penyalahgunaan zat atau agresi), dan partisipasi dalam pemecahan masalah terkait tantangan hidupnya.
Kode SIKI: 1401C
Deskripsi : Intervensi keperawatan difokuskan pada penguatan kapasitas koping pasien. Perawat akan membantu pasien mengidentifikasi dan memprioritaskan stresor yang dihadapi, seperti duka yang baru dialami, kekhawatiran finansial sebagai tulang punggung keluarga, atau dinamika di lingkungan tempat tinggalnya. Perawat akan mengeksplorasi dan memvalidasi strategi koping yang selama ini telah digunakan pasien, seperti keterlibatan aktif dalam pekerjaan (sebagai petani dan ketua RT) yang memberikan rasa memiliki dan harga diri, serta dukungan dari jaringan sosialnya. Pendidikan kesehatan akan diberikan mengenai teknik manajemen stres sederhana yang sesuai dengan latar belakang pasien, seperti teknik pernapasan dalam atau aktivitas fisik ringan. Perawat akan mendorong pasien untuk memanfaatkan dan memperluas sistem pendukungnya, misalnya dengan lebih terbuka kepada istri atau menantu mengenai perasaannya. Perawat juga akan melatih keterampilan pemecahan masalah dengan pendekatan sederhana, membantu pasien memecah masalah besar menjadi langkah-langkah kecil yang dapat dikelola. Penguatan spiritual dan budaya juga penting, seperti mendukung ritual atau kepercayaan yang memberi ketenangan terkait kepergian anaknya. Monitoring terhadap tanda-tanda koping maladaptif, seperti penyangkian berlebihan, menarik diri dari peran sosial, atau keluhan somatik yang meningkat, perlu dilakukan secara berkala.
Kondisi: Kesiapan Peningkatan Pengetahuan: Manajemen Kesehatan Diri
Kode SDKI: 00182
Deskripsi Singkat: Keinginan dan kesiapan untuk meningkatkan pemahaman dan kompetensi dalam melakukan tindakan untuk mengelola kondisi kesehatan dan mencegah komplikasi.
Kode SLKI: 5601
Deskripsi : Pasien memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola kesehatannya secara mandiri. Tujuan khususnya adalah pasien dapat menyebutkan tanda dan gejala gangguan kesehatan yang dialami atau berisiko dialami (seperti nyeri sendi yang mungkin terkait asam urat atau gejala gangguan lambung); menyebutkan tindakan pencegahan dan penanganan awal yang dapat dilakukan; serta menunjukkan kesediaan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan berkala (seperti menimbang berat badan, memeriksakan kadar asam urat). Indikatornya meliputi penyebutan informasi kesehatan yang benar, perubahan perilaku terkait kesehatan, dan partisipasi aktif dalam perencanaan pemantauan kesehatan.
Kode SIKI: 5601A
Deskripsi : Intervensi keperawatan difokuskan pada pendidikan kesehatan yang sesuai dengan tingkat pendidikan (SD) dan konteks kehidupan pasien sebagai petani. Perawat akan mengkaji pengetahuan, kepercayaan, dan praktik kesehatan pasien saat ini terkait keluhan nyeri sendi dan riwayat sakit lambung. Edukasi akan diberikan dengan bahasa yang sederhana dan contoh konkret. Untuk keluhan nyeri sendi, perawat akan menjelaskan perbedaan antara nyeri akibat kelelahan fisik dan nyeri yang mengarah ke asam urat (lokasi, karakteristik), pentingnya hidrasi yang cukup selama bekerja di sawah, serta modifikasi diet sederhana (membatasi jeroan dan makanan laut berlebihan). Untuk kesehatan lambung, edukasi mengenai pola makan teratur dan menghindari makanan yang memicu sesuai pengalaman pasien. Perawat akan menekankan pentingnya pemantauan kesehatan dasar, seperti rutin menimbang berat badan untuk deteksi dini masalah, dan mendorong pasien untuk memanfaatkan fasilitas Puskesmas untuk konsultasi dan pemeriksaan laboratorium sederhana. Perawat juga dapat memberikan edukasi tentang tanda-tanda peringatan darurat kardiovaskular (mengingat dugaan penyebab kematian anaknya) sehingga pasien dapat lebih waspada terhadap dirinya dan keluarga. Materi edukasi dapat diberikan secara lisan dan dilengkapi dengan leaflet bergambar. Dukungan juga diberikan untuk melibatkan istri sebagai pengingat dalam penerapan perilaku sehat di rumah.
-
Article No. 24924 | 07 Apr 2026
Klinis : Seorang laki-laki (30 th) masuk IGD dengan riwayat kejang berulang di rumah. Saat ini pasien terpasang pengaman tempat tidur (bedrail), namun pasien tampak sangat gelisah dan sering mencoba turun dari tempat tidur dalam kondisi tidak sadar penuh. Keluarga mengatakan pasien sempat terjatuh dari kursi saat kejang pertama terjadi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko cedera adalah keadaan di mana individu rentan mengalami cedera fisik akibat kondisi lingkungan atau faktor internal yang berinteraksi dengan sumber bahaya di sekitarnya.
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Keamanan fisik individu terpelihara. Indikator ini mencakup serangkaian kriteria hasil yang diharapkan, termasuk: individu bebas dari cedera, dapat mengidentifikasi faktor risiko cedera, memodifikasi lingkungan untuk mengurangi risiko, dan menggunakan alat protektif atau pengaman dengan tepat. Dalam konteks pasien ini, tujuan utamanya adalah mencegah terjadinya cedera tambahan selama episode kejang atau periode gelisah pasca-kejang, seperti jatuh dari tempat tidur, memar, atau trauma kepala. Perawat akan mengevaluasi keberhasilan intervensi dengan memastikan pasien tetap aman di tempat tidur, kulitnya utuh, tidak ada tanda-tanda trauma baru, dan keluarga memahami cara melindungi pasien dari bahaya.
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : Pencegahan Cedera. Intervensi keperawatan ini merupakan tindakan protektif untuk mencegah cedera fisik pada individu yang berisiko tinggi, seperti pasien dengan gangguan kesadaran, kejang, atau kebingungan. Implementasinya melibatkan beberapa tindakan spesifik yang sangat relevan dengan kasus ini. Pertama, memastikan penggunaan pengaman tempat tidur (bedrail) selalu dalam posisi terpasang dan terkunci, serta mungkin dilengkapi dengan bantalan pelindung. Kedua, memposisikan tempat tidur pada ketinggian terendah dan mengunci roda tempat tidur. Ketiga, menempatkan pasien di ruangan yang mudah diawasi, dekat dengan pos perawat. Keempat, menggunakan alat pengaman seperti sabun pengaman (restraint) yang lembut jika diperlukan dan sesuai protokol, dengan pemantauan ketat untuk menghindari komplikasi. Kelima, menjauhkan benda-benda keras atau tajam dari sekitar tempat tidur. Keenam, memberikan terapi kejang sesuai instruksi dokter (misal: diazepam recta) untuk mengontrol kejang. Ketujuh, melakukan pendampingan dan pengawasan terus-menerus (one-on-one observation) selama fase gelisah. Kedelapan, edukasi kepada keluarga tentang pentingnya pengawasan ketat, cara mengenali tanda aura kejang, dan langkah-langkah pertolongan pertama saat kejang (melindungi kepala, memiringkan posisi tubuh, tidak memasukkan apa pun ke mulut). Intervensi ini bersifat multidimensi, menggabungkan pengendalian lingkungan, pengawasan manusiawi, manajemen klinis, dan pemberdayaan keluarga untuk menciptakan lingkungan perawatan yang maksimal dalam mencegah cedera.
-
Article No. 24925 | 07 Apr 2026
Klinis : Seorang lansia (80 th) dirawat dengan demensia stadium lanjut. Pasien sering bertanya kapan ia bisa pulang ke rumah orang tuanya yang sebenarnya sudah meninggal puluhan tahun lalu. Pasien juga tampak bingung menentukan apakah sekarang waktu pagi atau malam hari.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Proses Pikir
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Gangguan dalam operasi mental seperti mengenali, mengingat, dan memproses informasi, yang dimanifestasikan dengan disorientasi, memori yang rusak, dan penilaian yang buruk.
Kode SLKI: 2006
Deskripsi : SLKI 2006: Kemampuan kognitif membaik. Tujuan dari SLKI ini adalah untuk meningkatkan atau mempertahankan kemampuan kognitif pasien. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Pasien dapat berorientasi pada orang, tempat, dan waktu sesuai dengan tingkat kemampuannya. 2) Pasien dapat mengingat informasi yang relevan (seperti nama perawat atau lokasi kamar mandi) untuk periode yang singkat. 3) Pasien menunjukkan pemahaman yang sesuai tentang situasi saat ini. 4) Pasien dapat mengikuti instruksi sederhana. 5) Pasien menunjukkan penurunan perilaku yang menunjukkan kebingungan, seperti bertanya hal yang sama berulang kali atau percaya pada realitas yang salah. Dalam konteks demensia lanjut, "membaik" sering kali berarti memperlambat kemunduran, mempertahankan fungsi residual, dan mengurangi distress yang disebabkan oleh kebingungan. Fokusnya adalah pada kualitas hidup dan fungsi optimal di tengah keterbatasan, bukan pada penyembuhan total. Keberhasilan intervensi dinilai dari berkurangnya frekuensi disorientasi berat, pasien tampak lebih tenang, dan mampu berinteraksi dengan lingkungan secara lebih adaptif meski dalam lingkup yang terbatas.
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : SIKI 3410: Terapi orientasi realitas. Ini adalah intervensi keperawatan terstruktur yang bertujuan untuk membantu pasien mempertahankan kontak dengan realitas saat ini dan mengurangi kebingungan. Penjelasan rinci meliputi: 1) Memberikan orientasi realitas secara konsisten dan berulang setiap kali berinteraksi. Perawat akan menyapa dengan menyebut nama pasien, memperkenalkan diri, serta menyebutkan hari, tanggal, waktu, dan tempat (misal, "Selamat pagi, Pak Budi. Saya Nita, perawat Anda. Sekarang hari Senin, 23 Oktober, pukul 10 pagi, dan kita berada di Rumah Sakit Sejahtera."). 2) Menggunakan alat bantu orientasi seperti jam dinding besar, kalender harian, papan informasi dengan nama perawat, dan foto keluarga dengan label yang jelas di kamar pasien. 3) Merespons pertanyaan pasien tentang masa lalu (seperti keinginan pulang ke rumah orang tua) dengan teknik "validasi lembut" dan pengalihan ke realitas. Contoh: "Ibu pasti sangat merindukan rumah dan orang tua Ibu. Itu kenangan yang indah. Sekarang, Ibu tinggal di sini bersama saya. Mari kita minum teh hangat ini." Pendekatan ini tidak menyangkal perasaan pasien tetapi dengan lembut mengarahkannya ke konteks sekarang. 4) Menjaga rutinitas harian yang terstruktur dan dapat diprediksi untuk mengurangi kecemasan dan kebingungan. 5) Menggunakan komunikasi yang jelas, sederhana, dan satu topik pada satu waktu. 6) Melibatkan pasien dalam aktivitas kehidupan sehari-hari yang sederhana sesuai kemampuannya untuk memperkuat rasa keterlibatan dan kesadaran diri. 7) Memastikan lingkungan yang aman, tenang, dan bebas dari stimulasi berlebihan yang dapat memperburuk kebingungan. Intervensi ini dilakukan dengan penuh kesabaran, empati, dan tanpa konfrontasi, karena mengoreksi atau memaksa pasien untuk mengingat justru dapat meningkatkan agitasi dan distress. Tujuannya adalah menciptakan rasa aman dan keteraturan dalam dunia persepsi pasien yang mungkin kacau.
-
Article No. 24926 | 07 Apr 2026
Klinis : seorang laki² usia 44 th sakit tbc, dia mengeluh nafsu makan berkurang berat badan menurun 10 kg 2 bulan terakhir, dan sering berkeringat pada malam hari, walaupun tidak beraktivitas serta demam naik turun
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Keadaan individu yang mengalami atau berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : SLKI L.03001 berfokus pada peningkatan status nutrisi pasien. Tujuan utamanya adalah memastikan asupan nutrisi yang adekuat sesuai kebutuhan metabolik tubuh yang meningkat akibat penyakit. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi peningkatan berat badan secara bertahap menuju berat badan ideal, peningkatan nafsu makan yang dilaporkan oleh pasien, serta peningkatan parameter biokimia seperti albumin dan hemoglobin. Selain itu, pasien diharapkan menunjukkan pengetahuan yang memadai mengenai pentingnya nutrisi dalam proses penyembuhan dan dapat mengidentifikasi jenis makanan tinggi kalori dan protein yang dianjurkan. Pemantauan asupan makanan dan cairan secara ketut menjadi bagian dari evaluasi keberhasilan intervensi ini, dengan target asupan kalori dan protein harian terpenuhi minimal 80% dari yang direncanakan.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : SIKI I.09001 merupakan intervensi keperawatan komprehensif untuk mengatasi masalah nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Intervensi ini dimulai dengan pengkajian menyeluruh yang meliputi riwayat penurunan berat badan (seperti 10 kg dalam 2 bulan), pola makan, faktor yang mempengaruhi nafsu makan, dan pemeriksaan antropometri. Perawat kemudian berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP) yang disesuaikan dengan kondisi pasien TBC, dengan porsi kecil namun sering untuk mengatasi anoreksia. Intervensi penting lainnya adalah memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi dalam melawan infeksi TBC, jenis-jenis makanan sumber protein (seperti telur, ikan, ayam, tempe, tahu) dan kalori, serta cara mengolahnya. Perawat akan memfasilitasi lingkungan yang nyaman untuk makan, memastikan makanan dalam keadaan hangat dan menarik, serta memberikan dukungan psikologis untuk meningkatkan motivasi makan. Pemantauan asupan dan output cairan, berat badan secara berkala (misalnya 2x seminggu), dan tanda-tanda dehidrasi atau malnutrisi lebih lanjut juga dilakukan. Selain itu, perawat mengelola gejala yang memperburuk asupan nutrisi, seperti demam dan keringat malam, dengan intervensi seperti kompres hangat dan manajemen lingkungan tidur yang nyaman, serta berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat antipiretik dan terapi TBC yang tepat agar gejala sistemik berkurang dan nafsu makan membaik.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: B.3.1
Deskripsi Singkat: Keadaan individu yang mengalami atau berisiko mengalami peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal akibat ketidakmampuan tubuh dalam mengatur suhu atau adanya faktor patologis.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI L.08001 bertujuan untuk mencapai dan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal (36,5 – 37,5°C). Kriteria hasil utamanya adalah penurunan suhu tubuh secara bertahap hingga mencapai normal, yang diukur secara berkala. Pasien juga diharapkan tidak lagi mengalami keluhan demam naik turun dan keringat malam yang berlebihan. Tanda-tanda vital lain seperti nadi dan pernapasan juga diharapkan kembali dalam rentang normal seiring dengan penurunan suhu. Selain itu, pasien menunjukkan kenyamanan yang meningkat, ditandai dengan penurunan keluhan panas tubuh dan mampu beristirahat dengan lebih baik. Pasien dan keluarga diharapkan memahami penyebab demam pada TBC dan tindakan yang dapat dilakukan untuk membantu menurunkan suhu tubuh.
Kode SIKI: I.10001
Deskripsi : SIKI I.10001 mencakup serangkaian tindakan untuk menurunkan suhu tubuh dan meningkatkan kenyamanan pasien. Intervensi dimulai dengan pemantauan suhu tubuh, nadi, pernapasan, dan tekanan darah secara teratur (setiap 4 jam saat demam). Tindakan pendinginan fisik dilakukan seperti memberikan kompres hangat (bukan dingin) pada daerah lipatan tubuh (aksila, lipat paha) dan dahi, karena kompres hangat membantu vasodilatasi pembuluh darah perifer sehingga memfasilitasi pelepasan panas. Pasien dianjurkan untuk mengenakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat, serta menggunakan selimut yang tidak terlalu tebal. Lingkungan ruangan diatur agar sejuk dan berventilasi baik. Asupan cairan ditingkatkan secara signifikan untuk menggantikan cairan yang hilang melalui keringat dan evaporasi, mencegah dehidrasi yang dapat memperparah demam. Perawat memberikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang mekanisme demam pada infeksi TBC, pentingnya minum obat antipiretik sesuai resep, dan teknik kompres yang benar. Kolaborasi dengan tim medis sangat penting untuk pemberian obat antipiretik (seperti parasetamol) sesuai program, serta memastikan terapi obat anti tuberkulosis (OAT) diberikan secara tepat dan teratur karena demam pada dasarnya akan turun seiring respons tubuh terhadap pengobatan spesifik. Pemantauan terhadap tanda-tanda dehidrasi dan kelelahan akibat demam yang berkepanjangan juga dilakukan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: B.4.1
Deskripsi Singkat: Keadaan individu yang mengalami atau berisiko mengalami ketidakcukupan energi fisik atau psikologis untuk memulai atau mempertahankan aktivitas sehari-hari yang diperlukan.
Kode SLKI: L.10001
Deskripsi : SLKI L.10001 bertujuan untuk meningkatkan toleransi aktivitas pasien secara bertahap. Kriteria hasil yang diharapkan adalah pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari (seperti perawatan diri dasar) tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan atau penurunan saturasi oksigen. Pasien melaporkan peningkatan tingkat energi dan penurunan keluhan lemas. Tanda-tanda vital (denyut nadi, pernapasan, tekanan darah) berada dalam rentang normal yang dapat diterima sebelum, selama, dan setelah beraktivitas. Pasien juga mampu mengidentifikasi tanda-tanda kelelahan dan mengetahui teknik untuk menghemat energi (energy saving techniques). Selain itu, pasien menunjukkan partisipasi dalam aktivitas yang direncanakan sesuai dengan tingkat kemampuannya yang terus meningkat.
Kode SIKI: I.11001
Deskripsi : SIKI I.11001 adalah intervensi untuk mengelola intoleransi aktivitas yang disebabkan oleh kombinasi faktor: proses infeksi TBC yang meningkatkan metabolisme basal, status nutrisi yang buruk, dan kelemahan umum. Perawat mengkaji tingkat kelemahan pasien dan respons fisiologis terhadap aktivitas (seperti peningkatan denyut nadi, sesak napas, kelelahan). Berdasarkan pengkajian, disusun rencana aktivitas yang terstruktur dan bertahap, dimulai dari aktivitas di dalam kamar (misalnya, duduk di tepi tempat tidur, berdiri, berjalan di dalam kamar) hingga nantinya meningkat ke aktivitas di luar kamar. Prinsip penghematan energi diajarkan, seperti duduk saat mandi atau menyikat gigi, menyelingi aktivitas dengan istirahat yang cukup, serta menghindari aktivitas yang mendadak dan berat. Perawat memastikan pasien mendapat dukungan nutrisi yang adekuat sebagai sumber energi. Lingkungan diatur agar aman dan mendukung untuk mobilisasi. Penting juga untuk mengoordinasikan waktu aktivitas dengan waktu pemberian obat dan terapi lainnya agar tidak bersamaan dengan saat pasien merasa paling lemas atau demam. Pemantauan tanda-tanda vital sebelum dan setelah aktivitas dilakukan untuk menilai toleransi. Edukasi diberikan kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya keseimbangan antara aktivitas dan istirahat dalam proses pemulihan, serta mengenali batasan tubuhnya sendiri. Kolaborasi dengan tim fisioterapi mungkin diperlukan untuk latihan yang lebih terprogram.
-
Article No. 24927 | 07 Apr 2026
Klinis : Seorang anak (5 th) dibawa ke IGD karena mengalami diare cair sebanyak 8 kali dalam 12 jam terakhir. Hasil pengkajian menunjukkan mukosa bibir kering, mata cekung, dan turgor kulit kembali dalam waktu lebih dari 2 detik. Ibu pasien mengatakan anaknya sangat lemas dan malas untuk minum.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: 0201
Deskripsi Singkat: Penurunan volume cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular. Hal ini mengacu pada dehidrasi, kehilangan cairan, dan hipovolemia.
Kode SLKI: 0201
Deskripsi : Tujuan keperawatan utama adalah tercapainya keseimbangan volume cairan pada pasien. Hal ini ditandai dengan beberapa kriteria hasil yang spesifik. Pertama, tanda-tanda vital pasien harus berada dalam rentang normal yang sesuai usianya, termasuk tekanan darah, nadi, dan frekuensi pernapasan. Kedua, turgor kulit menunjukkan elastisitas yang baik dengan kembalinya kulit ke posisi semula dalam waktu kurang dari 2 detik. Ketiga, membran mukosa (seperti bibir dan rongga mulut) harus lembab dan tidak kering. Keempat, produksi urin harus adekuat, dengan berat jenis urin dalam rentang normal (1.005-1.030) dan frekuensi berkemih yang sesuai. Kelima, kadar elektrolit dalam darah, khususnya natrium dan kalium, harus kembali ke nilai normal. Keenam, pasien tidak menunjukkan tanda-tanda syok hipovolemik seperti penurunan kesadaran, ekstremitas dingin, atau nadi yang sangat lemah. Terakhir, asupan cairan oral atau parenteral harus mencukupi untuk menggantikan kehilangan dan memenuhi kebutuhan harian, yang dapat diukur melalui balance cairan (input dan output) yang seimbang dalam 24 jam.
Kode SIKI: 0201
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk menangani defisit volume cairan bersifat komprehensif dan berurutan. Langkah pertama adalah memantau status hidrasi secara ketat dengan mengukur tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan) setidaknya setiap 4 jam atau lebih sering jika kondisi kritis. Pengkajian turgor kulit, mata cekung, dan keadaan fontanel (pada bayi) dilakukan secara berkala. Kedua, memantau balance cairan dengan mencatat secara akurat semua asupan cairan (oral, parenteral) dan output (urine, diare, muntah, insensible water loss) setiap 8 jam atau setiap shift untuk mengevaluasi efektivitas terapi. Ketiga, kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi cairan rehidrasi, baik melalui oral (Oralit) maupun intravena (cairan infus seperti RL atau NaCl 0.9%), dengan kecepatan tetesan yang disesuaikan dengan berat badan, derajat dehidrasi, dan kondisi klinis pasien. Keempat, mendorong dan memfasilitasi asupan cairan oral secara bertahap jika pasien sudah mampu, dengan memberikan cairan dalam porsi kecil namun sering, menggunakan alat minum yang disukai anak, dan memilih jenis cairan yang sesuai (cairan rehidrasi, air putih, kaldu). Kelima, memberikan edukasi kepada keluarga, khususnya ibu, tentang pentingnya pemberian cairan selama anak diare, cara membuat dan memberikan Oralit yang benar, tanda-tanda dehidrasi yang harus diwaspadai (seperti anak lemas, mata cekung, tidak mau minum), dan kapan harus segera kembali ke fasilitas kesehatan. Keenam, memantau hasil pemeriksaan laboratorium seperti elektrolit (Na, K), hematokrit, dan BUN untuk mendeteksi ketidakseimbangan dan mengevaluasi keberhasilan rehidrasi. Ketujuh, menjaga integritas kulit di area perianal dari iritasi akibat diare dengan membersihkan secara lembut menggunakan air dan sabun, mengeringkan dengan ditepuk-tepuk, dan mengoleskan pelindung kulit seperti zinc oxide. Kedelapan, memberikan dukungan psikologis kepada anak dan keluarga untuk mengurangi kecemasan, dengan pendekatan yang tenang dan komunikasi yang jelas. Semua intervensi ini didokumentasikan dengan baik dan dievaluasi perkembangannya secara terus-menerus hingga tujuan keperawatan tercapai.
-
Article No. 24928 | 07 Apr 2026
Klinis : seorang laki laki berumur 44 tahun, dia mengidap penyakit TBC paru, pasien mengeluh sering berkeringat pada malam hari, nafsu makan menurun, demam hilang timbul. dan berat badan turun 10kg dalam 2 bulan terakhir
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, yang dapat mengakibatkan penurunan berat badan, kelemahan, dan gangguan fungsi tubuh.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Status nutrisi membaik. Kriteria hasil: 1) Pasien menunjukkan peningkatan berat badan sesuai target. 2) Asupan nutrisi oral adekuat sesuai kebutuhan. 3) Nilai laboratorium terkait nutrisi dalam batas normal. 4) Pasien menyatakan peningkatan nafsu makan. 5) Pasien dan keluarga memahami pentingnya pemenuhan nutrisi. 6) Tidak ada tanda-tanda malnutrisi lebih lanjut.
Kode SIKI: I.09123
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi keperawatan: 1) Kaji status nutrisi secara komprehensif meliputi riwayat diet, antropometri (berat badan, IMT), pemeriksaan fisik (kehilangan massa lemak/otot), dan data laboratorium (albumin, limfosit total). 2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori, protein, dan zat gizi mikro sesuai kondisi hipermetabolik akibat infeksi TBC. 3) Anjurkan dan bantu pasien untuk meningkatkan frekuensi makan dengan porsi kecil tapi sering (6x sehari) untuk mengatasi anoreksia. 4) Sajikan makanan dalam bentuk yang menarik, beraroma, dan sesuai kesukaan pasien untuk merangsang nafsu makan. 5) Anjurkan konsumsi makanan tinggi kalori dan protein seperti telur, ikan, ayam, daging, tahu, tempe, susu, dan alpukat. 6) Monitor asupan dan output nutrisi secara ketat dengan mencatat semua yang dimakan dan diminum. 7) Berikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi dalam proses penyembuhan TBC dan pencegahan penurunan berat badan lebih lanjut. 8) Lakukan perawatan mulut sebelum makan untuk meningkatkan kenyamanan dan rasa. 9) Atur posisi duduk tegak atau setengah duduk saat makan untuk memfasilitasi proses menelan dan mencegah aspirasi. 10) Kelola gejala yang mengganggu asupan nutrisi seperti demam (dengan kompres/antipiretik) dan keringat malam (dengan mengganti pakaian/linen) untuk meningkatkan kenyamanan. 11) Berikan suplemen nutrisi oral (SNO) sesuai resep jika asupan dari makanan tidak mencukupi. 12) Evaluasi efektivitas intervensi nutrisi secara berkala melalui parameter berat badan, kekuatan otot, dan hasil laboratorium.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: B.3.1
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal sebagai respons terhadap proses infeksi, inflamasi, atau lingkungan.
Kode SLKI: L.08002
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal. Kriteria hasil: 1) Suhu tubuh aksila 36,5 – 37,5°C. 2) Kulit hangat dan kering. 3) Nadi dan pernapasan dalam rentang normal. 4) Pasien melaporkan tidak merasa demam atau menggigil. 5) Tidak ada komplikasi terkait hipertermia.
Kode SIKI: I.08060
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi keperawatan: 1) Monitor suhu tubuh, nadi, pernapasan, dan tekanan darah secara teratur (setiap 4 jam atau sesuai kondisi). 2) Observasi tanda-tanda hipertermia seperti kulit kemerahan, panas, berkeringat, dan takikardia. 3) Lakukan tindakan pendinginan fisik seperti kompres air hangat (bukan dingin) di aksila dan lipat paha, mandi air hangat, atau penggunaan selimut pendingin jika diperlukan. 4) Anjurkan dan bantu pasien untuk meningkatkan asupan cairan (air putih, jus, kuah sup) untuk mengganti cairan yang hilang melalui keringat dan evaporasi. 5) Berikan terapi antipiretik sesuai resep dokter (misal: parasetamol) dan evaluasi efektivitasnya. 6) Pertahankan lingkungan yang sejuk dan nyaman, sirkulasi udara baik, dan pakaian/linen yang menyerap keringat. 7) Anjurkan istirahat yang cukup untuk mengurangi produksi panas metabolik. 8) Monitor tanda-tanda dehidrasi seperti turgor kulit, membran mukosa, dan produksi urin. 9) Kolaborasi pemberian cairan intravena jika asupan oral tidak adekuat atau terdapat tanda dehidrasi signifikan. 10) Berikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang penyebab demam pada TBC, cara penanganan di rumah, dan kapan harus mencari pertolongan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: B.4.1
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Toleransi aktivitas membaik. Kriteria hasil: 1) Pasien mampu melakukan aktivitas sesuai tingkat kemampuannya tanpa dispnea, kelemahan berlebihan, atau perubahan tanda vital yang signifikan. 2) Pasien melaporkan peningkatan energi. 3) Tanda vital stabil selama dan setelah aktivitas. 4) Pasien dan keluarga memahami teknik penghematan energi.
Kode SIKI: I.09005
Deskripsi : Manajemen Energi. Intervensi keperawatan: 1) Kaji tingkat kelemahan dan intoleransi aktivitas dengan skala (misal: 0-10). 2) Monitor tanda vital (nadi, pernapasan, tekanan darah, saturasi oksigen) sebelum, selama, dan setelah aktivitas. 3) Bantu pasien dalam mengidentifikasi dan merencanakan aktivitas prioritas. 4) Ajarkan dan anjurkan teknik penghematan energi seperti duduk saat melakukan aktivitas (mandi, berpakaian), menyebar aktivitas sepanjang hari, mengambil istirahat yang cukup di antara aktivitas, dan menghindari aktivitas yang mendesak. 5) Bantu dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan, tetapi dorong kemandirian sebatas kemampuan. 6) Rencanakan periode istirahat yang tidak terganggu untuk memulihkan energi. 7) Tingkatkan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi, dimulai dari aktivitas ringan di tempat tidur, duduk, berdiri, hingga berjalan perlahan di dalam kamar. 8) Kolaborasi dalam terapi oksigen jika diperlukan untuk mengurangi beban kerja pernapasan selama aktivitas. 9) Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mendukung istirahat. 10) Edukasi pasien dan keluarga tentang hubungan antara kondisi penyakit (TBC, malnutrisi, demam) dengan kelemahan, serta pentingnya keseimbangan aktivitas dan istirahat untuk pemulihan. 11) Evaluasi respons pasien terhadap peningkatan aktivitas dan sesuaikan rencana intervensi.