Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25126 | 15 Apr 2026
Klinis : Pasangan suami istri Tn. A (34 tahun) dan Ny. M (30 tahun) datang ke klinik VCT untuk melakukan konseling. Hasil pemeriksaan menunjukkan Tn. A positif HIV (diagnosis 3 bulan lalu) sedangkan Ny. M negatif HIV, lama usia pernikahan 6 bulan dan belum memiliki anak Pasangan tersebut merencanakan kehamilan dalam 1 tahun ke depan. Tn. A sedang menjalani terapi ARV rutin sejak 2 bulan lalu dengan hasil viral load terakhir: 1.200 copies/mL (belum supresi). Dari hasil anamnesa didapat Ny. M merasa cemas tertular, Tn. A merasa bersalah dan takut ditolak dan mereka jarang menggunakan kondom karena ingin segera memiliki anak.ditemukan masalah keperawatan yaitu ansietas, kopong tidak efektif, risiko infeksi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0030
Deskripsi Singkat: Perasaan tidak nyaman atau ketakutan yang disertai dengan respons otonom (sumbernya sering tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan khawatir karena antisipasi bahaya. Ini adalah sinyal peringatan yang mengumumkan ancaman yang akan datang, memungkinkan individu untuk mengambil tindakan untuk menghadapi ancaman tersebut.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Perilaku ansietas menurun. Ditandai dengan: 1) Mengungkapkan perasaan ansietas menurun, 2) Mengungkapkan faktor penyebab ansietas, 3) Mengungkapkan strategi koping untuk mengatasi ansietas, 4) Melaporkan gejala ansietas menurun (seperti gelisah, jantung berdebar, sesak napas, tegang otot, sulit tidur, sulit konsentrasi), 5) Menggunakan strategi koping adaptif, 6) Menggunakan sumber dukungan sosial, 7) Melaporkan peningkatan kualitas tidur, 8) Melaporkan peningkatan nafsu makan, 9) Melaporkan peningkatan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, 10) Melaporkan peningkatan kualitas hidup.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen ansietas. Tindakan keperawatan meliputi: 1) Kaji tingkat ansietas, 2) Identifikasi faktor penyebab ansietas, 3) Dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan perasaan klien, 4) Ajarkan teknik relaksasi (napas dalam, relaksasi otot progresif, imajinasi terbimbing), 5) Bantu klien mengidentifikasi strategi koping yang digunakan, 6) Dorong klien untuk menggunakan strategi koping adaptif, 7) Libatkan keluarga atau orang terdekat dalam memberikan dukungan, 8) Rujuk ke profesional lain (psikolog, psikiater, konselor) jika diperlukan, 9) Berikan informasi tentang kondisi dan penatalaksanaannya untuk mengurangi ketidakpastian, 10) Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman, 11) Anjurkan aktivitas fisik ringan sesuai toleransi, 12) Anjurkan untuk menghindari konsumsi kafein dan stimulan lainnya.
Kondisi: Koping Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0014
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membentuk penilaian yang valid tentang stresor, pilihan respons yang tidak memadai, dan/atau ketidakmampuan untuk menggunakan sumber daya yang tersedia. Hal ini dapat terjadi pada individu, keluarga, atau komunitas.
Kode SLKI: L.07001
Deskripsi : Koping efektif. Ditandai dengan: 1) Mengungkapkan kesadaran terhadap kemampuan koping, 2) Mengidentifikasi stresor internal dan eksternal, 3) Mengidentifikasi sumber koping yang tersedia, 4) Menggunakan sumber koping yang tersedia, 5) Menggunakan strategi koping adaptif, 6) Mengungkapkan perasaan terkontrol, 7) Melaporkan penurunan perilaku maladaptif, 8) Melaporkan peningkatan kemampuan menyelesaikan masalah, 9) Melaporkan peningkatan kemampuan beradaptasi dengan perubahan, 10) Melaporkan peningkatan kualitas hidup.
Kode SIKI: I.07001
Deskripsi : Peningkatan koping. Tindakan keperawatan meliputi: 1) Kaji kemampuan koping klien dan keluarga, 2) Identifikasi stresor dan persepsi klien terhadap stresor, 3) Bantu klien mengidentifikasi kekuatan dan sumber dukungan yang dimiliki, 4) Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan, pikiran, dan kekhawatiran, 5) Bantu klien mengembangkan strategi penyelesaian masalah, 6) Ajarkan teknik relaksasi dan manajemen stres, 7) Libatkan keluarga dalam proses koping, 8) Berikan reinforcement positif terhadap upaya koping yang adaptif, 9) Bantu klien mengevaluasi efektivitas strategi koping yang digunakan, 10) Rujuk ke konselor atau support group jika diperlukan, 11) Fasilitasi komunikasi terbuka antara pasangan (Tn. A dan Ny. M) untuk membahas rasa bersalah, takut, dan rencana kehamilan.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0078
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi patogen, yang dapat mengancam kesehatan. Risiko ini terkait dengan adanya faktor risiko seperti pertahanan primer tidak adekuat (kerusakan kulit, penurunan mobilitas silia, perubahan pH sekresi, penurunan peristaltik), pertahanan sekunder tidak adekuat (penurunan hemoglobin, leukopenia, penekanan respons inflamasi), atau paparan lingkungan yang meningkatkan paparan patogen.
Kode SLKI: L.15002
Deskripsi : Risiko infeksi tidak terjadi. Ditandai dengan: 1) Tidak ada tanda dan gejala infeksi (demam, kemerahan, bengkak, nyeri, drainage purulen), 2) Hasil laboratorium dalam rentang normal (leukosit, LED), 3) Melaporkan pemahaman tentang faktor risiko infeksi, 4) Melaporkan pemahaman tentang cara pencegahan infeksi, 5) Mendemonstrasikan perilaku pencegahan infeksi, 6) Mempertahankan integritas kulit dan membran mukosa, 7) Mempertahankan status nutrisi yang adekuat, 8) Mendapatkan imunisasi sesuai kebutuhan, 9) Menghindari paparan sumber infeksi.
Kode SIKI: I.15001
Deskripsi : Pencegahan infeksi. Tindakan keperawatan meliputi: 1) Monitor tanda dan gejala infeksi, 2) Ajarkan dan tekankan pentingnya cuci tangan, 3) Lakukan tindakan aseptik dan antiseptik sesuai indikasi, 4) Ajarkan cara perawatan luka jika ada, 5) Anjurkan untuk menghindari kerumunan atau individu yang sakit, 6) Anjurkan untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan, 7) Anjurkan asupan nutrisi yang adekuat untuk meningkatkan sistem imun, 8) Pantau hasil laboratorium (hitung leukosit), 9) Berikan edukasi tentang pentingnya kepatuhan terapi ARV untuk mencapai supresi viral load sebagai upaya pencegahan penularan (Treatment as Prevention/TasP), 10) Berikan konseling pencegahan penularan pasangan (Pre-Exposure Prophylaxis/PrEP untuk Ny. M, penggunaan kondom yang konsisten, pemantauan viral load Tn. A, dan perencanaan kehamilan yang aman melalui program pencegahan penularan dari ibu ke anak/PPIA).
-
Article No. 25127 | 15 Apr 2026
Klinis : 1) Seorang laki-laki berusia 38 tahun mengalami sesak nafas dengan lemas. Kondisi ini telah dirasakan selama 2 minggu, namun semakin dirasakan semakin berat. Saat dibawa ke RS, diperoleh kondisi laki-laki tersebut RR: 30x/menit, cepat dangkal, akral pucat dan dingin, Td: 120/90 mmHg, S: 37,3 0C, Sat O2: 96%, saat dilakukan pemeriksaan AGD diperoleh pH: 7,34, PCO2 50, PaO2 80, pHCO3 21. Laki-laki tersebut tampak sangat lemah dan tidak bertenaga untuk bangkit dari tempat tidur. Dari pemeriksaan inilah laki-laki tersebut didiagnosis mengalami COPD kronis dengan riwayat rokok sejak usia 16 tahun.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kondisi di mana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen pada tingkat jaringan, serta ketidakmampuan tubuh untuk mengeliminasi karbon dioksida secara adekuat. Pada kasus pasien laki-laki usia 38 tahun dengan COPD kronis, kondisi ini dimanifestasikan secara klinis melalui sesak napas yang memberat (dispnea), peningkatan frekuensi pernapasan (tachypnea) hingga 30x/menit dengan pola yang cepat dan dangkal, serta kelemahan ekstrem yang menghambat mobilitas. Data penunjang yang kritis adalah hasil Analisis Gas Darah (AGD) yang menunjukkan kondisi respiratori asidosis (pH 7,34) dengan peningkatan PCO2 (hiperkapnia) hingga 50 mmHg dan penurunan bikarbonat (HCO3) menjadi 21 mEq/L, mengindikasikan kompensasi renal yang belum optimal. Nilai PaO2 80 mmHg meskipun dalam batas normal rendah, dalam konteks hiperkapnia dan peningkatan usaha napas, tetap mengindikasikan gangguan difusi dan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi yang khas pada COPD. Defisit utama terletak pada kemampuan alveolus untuk melakukan pertukaran gas secara efektif akibat kerusakan struktural (emfisema) dan inflamasi kronis (bronkitis kronis) yang dipicu oleh riwayat merokok panjang. Kondisi ini diperberat oleh kelemahan otot pernapasan yang membuat pasien tidak mampu melakukan mekanika pernapasan yang dalam dan efektif untuk mengatasi retensi CO2.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : SLKI L.04001 berfokus pada Peningkatan Fungsi Pernapasan. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup tercapainya pola pernapasan yang efektif dan pertukaran gas yang optimal. Secara spesifik, tujuan intervensi keperawatan pada pasien ini adalah menurunkan frekuensi pernapasan (RR) mendekati rentang normal (16-20x/menit) dengan kedalaman yang adekuat, menghilangkan sensasi sesak napas (dispnea) saat istirahat maupun aktivitas minimal, serta memperbaiki parameter gas darah. Target yang ingin dicapai adalah pH arteri dalam rentang normal (7.35-7.45), menurunkan PCO2 ke nilai normal (35-45 mmHg), dan mempertahankan atau meningkatkan PaO2 > 80 mmHg dengan saturasi oksigen (SpO2) dipertahankan ≥ 95%. Selain parameter fisiologis, kriteria hasil juga meliputi peningkatan toleransi aktivitas, ditandai dengan pasien mampu melakukan aktivitas perawatan diri dasar (seperti bangun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi) tanpa mengalami distress pernapasan yang signifikan. Pencapaian SLKI ini juga ditandai dengan warna kulit dan membran mukosa yang normal (tidak pucat atau sianosis) serta pengurangan kelemahan umum. Pemantauan terhadap tanda-tanda kelelahan otot pernapasan dan pencegahan gagal napas merupakan bagian integral dari kriteria hasil ini.
Kode SIKI: I.09011
Deskripsi : SIKI I.09011 adalah Manajemen Jalan Napas, yang merupakan serangkaian intervensi keperawatan untuk memastikan patensi dan kebersihan jalan napas serta mengoptimalkan pertukaran gas. Pada pasien COPD dengan hiperkapnia dan asidosis respiratorik, intervensi ini bersifat kritis dan meliputi: pertama, pemantauan ketat status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, usaha otot bantu), status oksigenasi (SpO2), dan tanda-tanda klinis kelelahan. Kedua, pemberian terapi oksigen dengan hati-hati sesuai protokol (biasanya dengan aliran rendah 1-2 L/menit via nasal kanul) untuk memperbaiki hipoksia tanpa menekan drive pernapasan (risiko depresi pernapasan pada COPD kronis). Ketiga, memposisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau high-Fowler untuk memaksimalkan ekspansi dada dan memudahkan pernapasan. Keempat, membantu dan melatih pasien dalam teknik pernapasan efektif, seperti pernapasan bibir mengerucut (pursed-lip breathing) dan pernapasan diafragma, untuk mengurangi udara terperangkap (air trapping) dan meningkatkan ventilasi alveoler. Kelima, melakukan fisioterapi dada dan latihan batuk efektif jika terdapat sekresi berlebih, meskipun pada emfisema sekresi mungkin tidak dominan. Keenam, kolaborasi pemberian farmakoterapi (bronkodilator, kortikosteroid) sesuai resep dan memantau efeknya. Ketujuh, memfasilitasi konservasi energi dengan mengatur aktivitas dan istirahat untuk mengurangi konsumsi oksigen dan kelelahan. Kedelapan, edukasi tentang penghentian merokok absolut dan manajemen penyakit jangka panjang. Kesembilan, mempersiapkan dan mengkolaborasi jika diperlukan bantuan ventilasi mekanik non-invasif (CPAP/BiPAP) untuk mengatasi hiperkapnia yang memburuk. Semua intervensi dilakukan dengan pendekatan holistik, mengurangi kecemasan, dan memberdayakan pasien.
-
Article No. 25128 | 15 Apr 2026
Klinis : 1) Seorang laki-laki berusia 38 tahun mengalami sesak nafas dengan lemas. Kondisi ini telah dirasakan selama 2 minggu, namun semakin dirasakan semakin berat. Saat dibawa ke RS, diperoleh kondisi laki-laki tersebut RR: 30x/menit, cepat dangkal, akral pucat dan dingin, Td: 120/90 mmHg, S: 37,3 0C, Sat O2: 96%, saat dilakukan pemeriksaan AGD diperoleh pH: 7,34, PCO2 50, PaO2 80, pHCO3 21. Laki-laki tersebut tampak sangat lemah dan tidak bertenaga untuk bangkit dari tempat tidur. Dari pemeriksaan inilah laki-laki tersebut didiagnosis mengalami COPD kronis dengan riwayat rokok sejak usia 16 tahun.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kondisi di mana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen tubuh, serta ketidakmampuan untuk mengeliminasi karbon dioksida secara adekuat. Pada kasus pasien laki-laki usia 38 tahun dengan COPD kronis, kondisi ini dimanifestasikan secara klinis melalui sesak napas yang memberat (dispnea), peningkatan frekuensi pernapasan (tachypnea) hingga 30x/menit yang cepat dan dangkal, serta hasil Analisis Gas Darah (AGD) yang abnormal. Hasil AGD menunjukkan kondisi asidosis respiratorik kompensasi parsial (pH 7,34, PCO2 50 mmHg, HCO3 21 mEq/L) dan penurunan tekanan parsial oksigen arteri (PaO2 80 mmHg). Mekanisme patofisiologis utamanya pada COPD adalah kerusakan parenkim paru (emfisema) dan inflamasi saluran napas kronis (bronkitis kronis), yang menyebabkan penurunan luas permukaan alveoli untuk difusi, peningkatan ruang rugi fisiologis, dan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (V/Q mismatch). Rokok sejak usia 16 tahun merupakan faktor etiologi utama yang mempercepat progresivitas penyakit. Gangguan ini menyebabkan hipoksemia jaringan yang ditandai dengan kelemahan ekstrem, ketidakmampuan untuk bangkit dari tempat tidur (aktivitas intoleran), serta tanda-tanda kompensasi seperti takipnea dan vasokonstriksi perifer (akral pucat dan dingin). Diagnosa ini menjadi fokus utama karena mengancam fungsi vital dan merupakan akar dari gejala kelemahan serta distress pernapasan yang dialami pasien.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : SLKI L.04001 bertujuan untuk mencapai pertukaran gas yang adekuat, dengan kriteria hasil: status pernapasan dan pertukaran gas dalam batas normal yang diharapkan. Secara spesifik pada pasien ini, luaran yang diharapkan meliputi: (1) Frekuensi pernapasan (RR) kembali dalam rentang normal (12-20x/menit) dengan pola yang teratur dan dalam, (2) Nilai saturasi oksigen (SpO2) dipertahankan ≥95% dengan atau tanpa terapi oksigen tambahan yang sesuai, (3) Hasil Analisis Gas Darah (AGD) menunjukkan perbaikan menuju nilai normal (pH 7.35-7.45, PaCO2 35-45 mmHg, PaO2 >80 mmHg, HCO3 22-26 mEq/L), (4) Pasien melaporkan atau menunjukkan penurunan sensasi sesak napas (dispnea) dan peningkatan kenyamanan pernapasan, (5) Warna kulit dan membran mukosa kembali normal (tidak sianosis atau pucat), serta (6) Tanda-tanda hipoksia sistemik seperti kelemahan ekstrem dan intoleransi aktivitas berkurang. Pencapaian luaran ini diukur melalui pemantauan tanda-tanda vital, pemeriksaan AGD serial, skala dyspnea, dan observasi klinis terhadap kemampuan aktivitas serta warna kulit. Target waktu pencapaian luaran ini bersifat progresif, dimulai dari stabilisasi dalam 24-48 jam pertama hingga perbaikan optimal dalam beberapa hari dengan penatalaksanaan yang tepat.
Kode SIKI: I.08060
Deskripsi : SIKI I.08060 adalah intervensi keperawatan utama untuk mengatasi gangguan pertukaran gas, yang meliputi serangkaian tindakan sistematis: (1) Manajemen Jalan Napas & Oksigenasi: Memastikan jalan napas paten, memberikan terapi oksigen sesuai indikasi (biasanya dengan nasal kanul atau masker venturi dengan aliran rendah untuk pasien COPD guna menghindari depresi pernapasan), dan memantau efektivitasnya melalui pulse oximetry dan AGD. Posisi semi-Fowler atau high-Fowler dipertahankan untuk memaksimalkan ekspansi dada. (2) Pemantauan dan Pengkajian: Memantau status pernapasan secara ketat (laju, irama, kedalaman, usaha otot bantu), tanda-tanda vital, status neurologis (tingkat kesadaran), dan warna kulit setiap 1-4 jam atau sesuai kebutuhan. Menganalisis hasil AGD dan melaporkan perubahan yang signifikan. (3) Manajemen Sekresi: Membantu pasien dalam teknik batuk efektif dan latihan napas dalam. Jika diperlukan, melakukan fisioterapi dada (chest physiotherapy) dan suction untuk membersihkan sekresi. Memastikan hidrasi adekuat untuk mengencerkan sekret. (4) Konservasi Energi & Manajemen Aktivitas: Mengatur jadual aktivitas dengan periode istirahat yang cukup untuk mengurangi konsumsi oksigen. Membantu pasien dalam aktivitas perawatan diri untuk mencegah kelelahan ekstrem. (5) Edukasi dan Dukungan: Mengajarkan teknik pernapasan bibir mengerucut (pursed-lip breathing) dan pernapasan diafragma untuk meningkatkan ventilasi dan mengurangi udara terperangkap. Memberikan edukasi tentang pentingnya penghentian merokok secara total dan rencana tindak lanjut. (6) Kolaborasi: Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian farmakoterapi (seperti bronkodilator, kortikosteroid, antibiotik jika ada infeksi), serta mempersiapkan dan membantu prosedur jika diperlukan. Intervensi ini bersifat holistik, ditujukan untuk mengoptimalkan oksigenasi, mengurangi beban kerja pernapasan, dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti gagal napas.
-
Article No. 25129 | 15 Apr 2026
Klinis : Seorang laki-laki usia 50 tahun dirawat di RS dengan keluhan awal hidung sebelah kanan tersumbat dan tidak bisa mencium aroma sejak 6 bulan. Keluhan disertai epistaksis (perdarahan hidung). Pasien juga mengalami gangguan pendengaran berupa tinnitus (berdengung) pada telinga kanan dan penurunan pendengaran, dengan hasil pemeriksaan menunjukkan tuli sedang. Pada pemeriksaan leher ditemukan pembesaran KGB (kelenjar getah bening) sisi kanan yang menyebabkan keterbatasan gerak leher ke kanan serta gangguan menelan (disfagia). Pola makan pasien saat ini bubur kasar. Pemeriksaan fisik: Kesadaran: compos mentis (GCS E4M6V5) TD: 120/70 mmHg Nadi: 89x/menit RR: 21x/menit Suhu: 36,8°C Pemeriksaan penunjang: PA (Patologi Anatomi): karsinoma tidak berdiferensiasi Refleks muntah menurun Parese nervus kranialis IX, X, XI sisi kanan Diagnosis medis: Karsinoma Nasofaring (KNF) stadium T4N0M0
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Karsinoma Nasofaring (KNF) stadium T4N0M0 dengan komplikasi neurologis dan limfadenopati
Kode ICD-10: C11.9
Deskripsi Singkat : Karsinoma Nasofaring (KNF) adalah tumor ganas yang berasal dari epitel nasofaring, bagian tenggorokan di belakang hidung. Pada kasus ini, pasien laki-laki 50 tahun menunjukkan gejala khas seperti sumbatan hidung unilateral, epistaksis, anosmia, serta gejala akibat invasi tumor ke struktur sekitarnya, yaitu penurunan pendengaran (tuli konduktif/sensorineural), tinnitus, dan parese nervus kranialis IX, X, XI yang menyebabkan disfagia dan keterbatasan gerak leher. Pembesaran KGB leher juga ditemukan. Hasil patologi anatomi (PA) menyatakan karsinoma tidak berdiferensiasi, yang umum terkait dengan KNF tipe WHO III. Stadium T4N0M0 mengindikasikan tumor telah menginvasi struktur intrakranial dan/atau melibatkan saraf kranial (berdasarkan parese N. IX, X, XI), tetapi tanpa metastasis ke kelenjar getah bening regional (N0) atau jauh (M0). Kode ICD-10 C11.9 secara spesifik mengkodekan "Neoplasma ganas nasofaring, bagian yang tidak ditentukan". Kode ini mencakup berbagai subtipe histologis dan stadium, termasuk kasus dengan komplikasi neurologis seperti yang dijelaskan. Pengkodean ini digunakan untuk pencatatan, penagihan, dan pelaporan statistik penyakit kanker.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 25088 | 14 Apr 2026
Klinis : Seorang laki-laki, usia 58 tahun, dibawa ke IGD oleh keluarga dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 2 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien sebelumnya mengeluh sakit kepala hebat mendadak disertai muntah proyektil. Riwayat Kesehatan • Hipertensi sejak 10 tahun (tidak terkontrol) • Tidak rutin minum obat • Tidak ada riwayat trauma Pemeriksaan Fisik Primary Survey (ABCDE): • Airway: Tidak bebas, terdapat suara gurgling • Breathing: RR 28x/menit, pola tidak teratur • Circulation: TD 200/110 mmHg, HR 52x/menit • Disability (GCS): E2 V2 M4 = 8 • Exposure: Tidak ada luka eksternal Pemeriksaan Neurologi: • Pupil anisokor (kanan > kiri) • Refleks cahaya lambat • Hemiparesis sisi kiri Pemeriksaan Penunjang Laboratorium: • Hb: 14 g/dL • Leukosit: 13.000 /µL • Trombosit: 250.000 /µL • Gula darah: 180 mg/dL • Natrium: 150 mEq/L • Kalium: 3.2 mEq/L • AGD: o pH: 7.30 o PaCO₂: 50 mmHg o PaO₂: 80 mmHg o HCO₃⁻: 24 mEq/L CT Scan Kepala: • Tampak perdarahan intraserebral di lobus kanan dengan midline shift 3. PERTANYAAN TUTORIAL 1. Apa masalah keperawatan prioritas pada pasien ini?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Perfusi Jaringan Otak
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Penurunan suplai darah ke jaringan otak yang dapat mengakibatkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan metabolik sel-sel otak.
Kode SLKI: L.03107
Deskripsi : Perfusi jaringan otak membaik. Tujuan dan kriteria hasilnya meliputi: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang yang dapat diterima (tekanan darah terkontrol, tidak ada bradikardia signifikan), 2) Tingkat kesadaran (GCS) meningkat atau stabil, 3) Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial (seperti sakit kepala hebat, muntah proyektil, perubahan pupil, penurunan GCS) teratasi atau tidak memburuk, 4) Fungsi neurologis motorik dan sensorik membaik atau stabil (misalnya, hemiparesis tidak memburuk), 5) Keseimbangan cairan dan elektrolit dalam batas normal untuk mendukung tekanan perfusi serebral yang adekuat.
Kode SIKI: I.05259
Deskripsi : Intervensi untuk memantau dan mempertahankan perfusi serebral. Intervensi ini mencakup: 1) Memonitor status neurologis secara ketat dan berkelanjutan (GCS, ukuran dan reaksi pupil, kekuatan motorik, tanda-tanda vital neurologis) setiap 15-30 menit atau sesuai protokol stroke/cedera kepala berat. 2) Mempertahankan jalan napas yang paten dan oksigenasi yang adekuat (misalnya, posisi kepala tidur 30 derajat, suction berhati-hati, pemberian oksigen, persiapan untuk intubasi jika diperlukan). 3) Mengelola tekanan darah secara ketat sesuai target dokter (biasanya tidak menurunkan secara drastis pada fase akut stroke hemoragik) untuk menjaga tekanan perfusi serebral yang adekuat. 4) Memonitor dan mengatur keseimbangan cairan serta elektrolit (natrium, kalium) untuk mencegah edema serebral lebih lanjut. 5) Menciptakan lingkungan yang tenang, membatasi stimulasi, dan menghindari manuver yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial (seperti batuk, mengejan, fleksi leher). 6) Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai resep seperti antihipertensi, osmotik diuretik (misalnya manitol), antikonvulsan, atau agen hemostatik. 7) Mempersiapkan pasien untuk tindakan bedah seperti kraniotomi evakuasi hematoma jika diindikasikan. 8) Edukasi keluarga tentang kondisi pasien dan tujuan perawatan yang dilakukan.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: L.03003
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif. Tujuan dan kriteria hasilnya meliputi: 1) Jalan napas paten tanpa suara tambahan (seperti gurgling), 2) Frekuensi dan irama pernapasan dalam rentang normal, 3) Nilai analisis gas darah (AGD) dalam batas normal atau menunjukkan perbaikan, 4) Tidak ada tanda sianosis atau hipoksia, 5) Sekret jalan napas dapat dikeluarkan atau dikelola dengan baik.
Kode SIKI: I.05006
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Intervensi ini mencakup: 1) Melakukan pemeriksaan jalan napas secara berkala (mendengarkan suara napas, mengobservasi pola napas). 2) Melakukan suction pada orofaring/nasofaring dengan teknik steril dan hati-hati untuk menghilangkan sekret yang menyebabkan gurgling, dengan mempertimbangkan risiko peningkatan tekanan intrakranial. 3) Memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, posisi semi-fowler atau lateral jika aman) dengan menjaga alignment kepala dan leher. 4) Memberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi oksigen >95%. 5) Mempersiapkan dan membantu prosedur untuk membuka jalan napas definitif (intubasi endotrakeal) mengingat GCS 8 dan ketidakefektifan jalan napas. 6) Memonitor parameter pernapasan (RR, kedalaman, usaha napas) dan status oksigenasi (SpO2, AGD serial). 7) Menggunakan alat bantu jalan napas sesuai kebutuhan (nasopharyngeal airway/oropharyngeal airway) sebelum intubasi. 8) Berkolaborasi dengan tim medis dalam tatalaksana ventilasi mekanik jika pasien diintubasi.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: D.0025
Deskripsi Singkat: Risiko perubahan tekanan darah dari rentang normal yang dapat menyebabkan ketidakefektifan perfusi jaringan.
Kode SLKI: L.03101
Deskripsi : Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan. Tujuan dan kriteria hasilnya meliputi: 1) Tekanan darah sistolik dan diastolik terkontrol sesuai target terapi (biasanya target spesifik pada stroke hemoragik akut, misalnya menjaga MAP 110 mmHg atau sesuai instruksi dokter), 2) Denyut nadi dalam rentang normal dan teratur, 3) Tidak ada gejala lebih lanjut akibat hipertensi berat (seperti sakit kepala hebat, epistaksis), 4) Tekanan darah tidak turun secara drastis yang dapat mengancam perfusi serebral dan organ lainnya.
Kode SIKI: I.05204
Deskripsi : Pemantauan hemodinamik. Intervensi ini mencakup: 1) Memonitor tekanan darah, denyut nadi, dan mean arterial pressure (MAP) secara invasif atau non-invasif dengan interval ketat (setiap 5-15 menit di fase kritis). 2) Menghitung dan memantau tekanan perfusi serebral (CPP = MAP - ICP) jika pemantauan TIK tersedia. 3) Mengelola pemberian obat antihipertensi intravena (seperti nicardipine, labetalol) sesuai protokol dengan titrasi ketat berdasarkan hasil pemantauan. 4) Menghindari faktor peningkat tekanan darah seperti nyeri, ansietas, retensi urine, dan hipoksia dengan intervensi yang tepat. 5) Memonitor respons terhadap terapi antihipertensi dan melaporkan setiap kecenderungan hipotensi. 6) Mempertahankan keseimbangan cairan yang tepat, hindari overload cairan yang dapat memperburuk hipertensi dan edema serebral. 7) Edukasi keluarga tentang pentingnya kontrol tekanan darah dan bahaya hipertensi yang tidak terkontrol dalam konteks kondisi saat ini.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau defisiensi dalam oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: L.03004
Deskripsi : Pertukaran gas efektif. Tujuan dan kriteria hasilnya meliputi: 1) Analisis gas darah (AGD) menunjukkan nilai dalam rentang normal (pH 7.35-7.45, PaCO2 35-45 mmHg, PaO2 >80 mmHg, HCO3 22-26 mEq/L), 2) Saturasi oksigen perifer (SpO2) >95%, 3) Tidak ada tanda distress pernapasan atau hipoksia (seperti sianosis, gelisah, takipnea), 4) Pola napas teratur dan adekuat.
Kode SIKI: I.05007
Deskripsi : Manajemen pernapasan. Intervensi ini mencakup: 1) Memonitor status oksigenasi melalui AGD serial dan pulse oximetry secara terus menerus. 2) Menganalisis hasil AGD (pada pasien ini menunjukkan kondisi asidosis respiratorik ringan dengan PaCO2 tinggi 50 mmHg dan pH rendah 7.30, serta PaO2 borderline 80 mmHg) dan melaporkan temuan. 3) Memberikan terapi oksigen yang sesuai untuk memperbaiki hipoksia dan hiperkapnia. 4) Mempersiapkan dan membantu ventilasi mekanik jika pertukaran gas memburuk atau untuk melindungi jalan napas. 5) Melakukan fisioterapi dada dengan hati-hati (jika kondisi stabil) untuk mencegah atelektasis dan pneumonia. 6) Memantau sekresi bronkial dan melakukan suction endotrakeal yang tepat jika pasien terintubasi. 7) Memposisikan pasien untuk optimalisasi ventilasi-perfusi (misalnya, perubahan posisi periodik). 8) Berkolaborasi dengan dokter dan terapis pernapasan dalam menyesuaikan setting ventilator dan terapi oksigen.
-
Article No. 25089 | 14 Apr 2026
Klinis : Keluhan sesak napas masih dirasakan, keluhan nyeri dada dan berdebar disangkal O : Ku sedang Kes : E4V5M6 TD 124/74 mmHg N 96 x/menit RR 25 x/menit S 36,9 C Spo2 93% RA Mata : CA -/- SI -/- Mulut : dbn Thorax : Simetris ka/ki BJ I-II, reguler, bising (-) Paru : rbh +/+ rbk -/-whz -/- Abdomen :supel, BU (+) lemah, NT (-) Genatalia : tidak ada kelainan Ekstremitas Superior : akral hangat +/+, CRT <2s detik, udem -/- Ekstremitas Inferior : akral hangat +/+, CRT <2s, udem -/ Lab HEMATOLOGI - MCH 24,1 L pg 27 ~ 31.2 - MCHC 32,8 g/dL 31.8 ~ 35.4 - Lekosit 9,23 ribu/µL 4.6 ~ 10.2 - Trombosit 334 ribu/µL 150 ~ 450 - RDW-CV 12.46 % 11.5 ~ 14.5 - MPV 5,71 fL 0 ~ 99.9 Hitung Jenis - Neutrofil 75,1 % 37 ~ 80 - Limfosit 18,1 L % 19 ~ 48 - Monosit 5,6 % 0 ~ 12 - Eosinofil 0,07 % 0 ~ 7 - Basofil 1,1 % 0 ~ 2.5 - Total Neutrofil 6,93 ribu/µL 1,5 ~ 7 - Total Lymphosit 1,67 ribu/µL 1 ~ 3,7 - Total Monosit 0,52 ribu/µL - Total Eosinofil 0,01 ribu/µL - Total Basofil 0,10 Gol. Darah (A B O) - Golongan Darah A KIMIA KLINIK ELEKTROLIT - Natrium (Na) 134 L mmol/L 135 ~ 150 - Kalium (K) 2,6 L mmol/L 3.5 ~ 5.1 - Chlorida (Cl) 100 mmol/L 98 ~ 109 - Calsium (Ca2+) 1,1 mmol/L 1.1 ~ 1.4 - pH 7,54 H 7.35 ~ 7.45 Glukosa Darah - Glukosa Darah Sewaktu 143 mg/dL < 200 Fungsi Ginjal - Ureum 21.4 mg/dL 10 ~ 50 - Kreatinin 1.08 mg/dL 0.6 ~ 1.1 Darah Rutin - Hemoglobin 14,11 g/dL 12.2 ~ 18.1 - Eritrosit 5,86 juta/µL 4.04 ~ 6.13 - Hematokrit 43,1 % 37.7 ~ 53.7 Index Eritrosit - MCV 73,5 Analisa Gas Darah KIMIA KLINIK Analisa Gas Darah Measure (Corected) - pH 7.49 H 7.35 ~ 7.45 - PCO2 34.8 L mm Hg 35 ~ 45 - PO2 120 H mm Hg 80 ~ 100 - SO2 99.0 - HCO3 26.7 H mmol/L 21 ~ 26 - TCO2 28.0 H mmol/L 23 ~ 27 - Base(Ecf) 3.0 H mmol/L -2 ~ +2 Glukosa Darah - Glukosa Darah Sewaktu 77 mg/dL < 200 Lemak - Cholesterol total 147 mg/dL < 220 - Cholesterol HDL 45 mg/dL 35 ~ 55 - Cholesterol LDL 115 mg/dL 100 - 159 - Trigliserida 139 mg/dL < 150 Fungsi Ginjal - Asam Urat 7.5 H mg/dL 3.4 ~ 7 Jantung - CK-MB 20 U/l < 25 - Lactat 1.0 mmol/L 0.9 ~ 1.7 13/4/2026 : Foto ro Thoraks Thorax : PA, erect, simetris, inspirasi dan kondisi cukup, Hasil: - Corakan vaskuler meningkat - Kedua sinus costofrenicus lancip - Kedua diafragma licin - Cor : CTR > 0,5 - Sistema tulang yang tervisualisasi intact Kesan : - Cardiomegali dengan oedem pulmonum
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Pertukaran Gas Membaik. Ditandai dengan: 1) Nilai analisis gas darah dalam rentang normal, 2) Tidak ada keluhan sesak napas, 3) Tidak ada sianosis, 4) Frekuensi pernapasan dalam rentang normal, 5) Saturasi oksigen dalam rentang normal, 6) Tekanan parsial oksigen dalam rentang normal, 7) Tekanan parsial karbon dioksida dalam rentang normal.
Kode SIKI: 2001
Deskripsi : Manajemen Pernapasan. Tindakan: 1) Monitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas), 2) Auskultasi bunyi napas, 3) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (mis., semi-Fowler/ Fowler), 4) Bantu latihan napas dalam dan batuk efektif, 5) Kelola pemberian oksigen sesuai program terapi, 6) Monitor status oksigenasi (Saturasi O2), 7) Lakukan fisioterapi dada jika diperlukan, 8) Kolaborasi pemberian bronkodilator dan obat lain sesuai program terapi, 9) Ajarkan penggunaan alat bantu pernapasan, 10) Monitor analisis gas darah (AGD).
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Curah jantung tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: 0402
Deskripsi : Curah Jantung Membaik. Ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang normal, 2) Denyut nadi dalam rentang normal, 3) Irama jantung reguler, 4) Tidak ada keluhan berdebar, 5) Pengisian kapiler < 3 detik, 6) Tidak ada edema, 7) Produksi urin adekuat (>0,5 mL/kgBB/jam), 8) Status mental baik.
Kode SIKI: 2002
Deskripsi : Manajemen Curah Jantung. Tindakan: 1) Monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan) dan saturasi oksigen, 2) Auskultasi bunyi jantung, 3) Monitor irama dan frekuensi jantung, 4) Kaji warna, kehangatan, dan pengisian kapiler ekstremitas, 5) Monitor keseimbangan cairan (intake-output, balance), 6) Timbang berat badan setiap hari, 7) Berikan terapi oksigen, 8) Berikan obat-obatan sesuai program terapi (seperti diuretik, inotropik, vasodilator), 9) Batasi aktivitas, 10) Bantu aktivitas sehari-hari sesuai toleransi, 11) Monitor status mental, 12) Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (elektrolit, fungsi ginjal).
Kondisi: Ketidakseimbangan Elektrolit (Kalium)
Kode SDKI: 0008
Deskripsi Singkat: Perubahan konsentrasi serum elektrolit (dalam hal ini hipokalemia) yang dapat mengganggu fungsi tubuh.
Kode SLKI: 0403
Deskripsi : Keseimbangan Elektrolit Membaik. Ditandai dengan: 1) Nilai elektrolit serum dalam rentang normal, 2) Tidak ada kelemahan otot, 3) Irama jantung reguler, 4) Tidak ada mual/muntah, 5) Fungsi usus normal, 6) Keseimbangan cairan adekuat.
Kode SIKI: 2003
Deskripsi : Manajemen Ketidakseimbangan Elektrolit. Tindakan: 1) Monitor tanda vital, terutama irama jantung, 2) Kaji status neurologis dan kekuatan otot, 3) Kaji fungsi gastrointestinal (mual, muntah, distensi, bising usus), 4) Monitor hasil pemeriksaan laboratorium elektrolit serum, 5) Berikan terapi penggantian elektrolit sesuai program (oral/IV), 6) Anjurkan dan atur diet tinggi/kurangi elektrolit tertentu sesuai indikasi, 7) Monitor keseimbangan cairan, 8) Observasi tanda komplikasi (aritmia, kelemahan otot pernapasan), 9) Kolaborasi pemberian obat yang mempengaruhi elektrolit (seperti diuretik).
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: 0018
Deskripsi Singkat: Risiko variasi kadar glukosa darah dari rentang normal.
Kode SLKI: 0412
Deskripsi : Kadar Glukosa Darah Stabil. Ditandai dengan: 1) Kadar glukosa darah dalam rentang normal, 2) Tidak ada keluhan hipoglikemia/ hiperglikemia, 3) Tidak ada perubahan status mental, 4) Tanda vital stabil.
Kode SIKI: 2012
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia/Hipoglikemia. Tindakan: 1) Monitor kadar glukosa darah sesuai indikasi, 2) Observasi tanda dan gejala hiperglikemia (poliuri, polidipsi, lemas) dan hipoglikemia (lemas, keringat dingin, gemetar, penurunan kesadaran), 3) Monitor tanda vital dan status mental, 4) Kolaborasi pemberian terapi insulin atau obat hipoglikemik oral sesuai program, 5) Atur pemberian diet sesuai program, 6) Ajarkan pasien/keluarga tentang tanda-tanda dan penanganan awal hipoglikemia, 7) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk penyusunan diet.
-
Article No. 25090 | 14 Apr 2026
Klinis : Pasien dengan sesak nafas, gelisah RPS :P/B datang dengan keluhan bengkak seluruh tubuh sejak 5 HSMRS, badan gemetar (+), mual (+), muntah (+) 1X, muka sembab (+), nafas terengah-engah terutama saat jalan agak jauh, BAK dan BAB dbn RPD: PJK (+), HT (-), DM (-) O : Ku lemah, Kes CM TD : 111/78 HR : 78 RR : 39 SPO : 91 dengan NC+NRM maksimal S : 36.7 Mata CA -/-, SI -/- Muka sembab (+) Thorax SDV +/+ RBH -/- WHZ -/- Abdomen supel, BU (+), NT (+) epigastrium, undulasi (-) Ext atas akral hangat +/+, edem +/+ Ext Bawah akral hangat +/+, edem +/+ LAB HEMATOLOGI Darah Rutin - Hemoglobin 11.80 L g/dL 12.2 ~ 18.1 - Eritrosit 3.92 L juta/µL 4.04 ~ 6.13 - Hematokrit 32.9 L % 37.7 ~ 53.7 Index Eritrosit - MCV 83.9 fL 80 ~ 97 - MCH 30.1 pg 27 ~ 31.2 - MCHC 35.8 H g/dL 31.8 ~ 35.4 - Lekosit 5.39 ribu/µL 4.6 ~ 10.2 - Trombosit 221 ribu/µL 150 ~ 450 - RDW-CV 13.71 % 11.5 ~ 14.5 - MPV 5.24 fL 0 ~ 99.9 Hitung Jenis - Neutrofil 54.5 % 37 ~ 80 - Limfosit 30.6 % 19 ~ 48 - Monosit 9.7 % 0 ~ 12 - Eosinofil 3.80 % 0 ~ 7 - Basofil 1.4 % 0 ~ 2.5 - Total Neutrofil 2.94 ribu/µL 1,5 ~ 7 - Total Lymphosit 1.65 ribu/µL 1 ~ 3,7 - Total Monosit 0.53 ribu/µL - Total Eosinofil 0.20 ribu/µL - Total Basofil 0.08 Gol. Darah (A B O) - Golongan Darah B KIMIA KLINIK Glukosa Darah - Glukosa Darah Sewaktu 103 mg/dL < 200 Fungsi Hati - Albumin 1.30 C g/dL 3.8 ~ 4.4 Fungsi Ginjal - Ureum 23.5 mg/dL 10 ~ 50 - Kreatinin 0.92 12/4/2026 Foto Ro thoraks PA Kesan : - Pneumonia - Efusi pleura bilateral - Besar cor normal 13/4/2026 Telah dilakukan pemeriksaan USG thorax marker pada penderita dengan klinis efusi pleura bilateral , Hasil : - Supradiafragma dextra :tampak lesi anechoic di cavum pleura dextra, septa (-), ukuran 13,70 cm x 10,83 cm x 13,21 cm, volume : 1026 ml - Supradiafrgama sinistra: : tampak lesi anechoic di cavum pleura sinistra, septa (+) KESAN : - Efusi pleura dextra, noncapsulated type, volume cairan l.k :1026 ml - Efusi pleura sinistra, capsulated type
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Pertukaran gas membaik.
Kode SIKI: I.04001
Deskripsi : Memantau status pernapasan dan oksigenasi.
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memenuhi kebutuhan ventilasi.
Kode SLKI: L.04002
Deskripsi : Pola napas efektif.
Kode SIKI: I.04005
Deskripsi : Melatih napas dalam dan batuk efektif.
Kondisi: Kelebihan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0012
Deskripsi Singkat: Peningkatan retensi cairan isotonik.
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Keseimbangan cairan membaik.
Kode SIKI: I.06001
Deskripsi : Memantau keseimbangan cairan.
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Perasaan tidak nyaman samar atau takut disertai respons otonom (sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan khawatir karena antisipasi bahaya. Merupakan sinyal peringatan akan ancaman yang akan datang, memungkinkan individu untuk mengambil tindakan untuk menghadapi ancaman.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Ansietas berkurang.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Mengurangi ansietas.
-
Article No. 25091 | 14 Apr 2026
Klinis : PB tanggal 11/4/26 dengan gelisah sering berhalusinasi Hari ini : penkes, tidak dapat diajak komunikasi ku lemah td: 152/70 mmHg rr: 21 x/m s: 36,4C spo2: 98-99 % dg nk n: 80 x/m Status Generalisata Mata : CA +/+ SI -/- Thorax : SDV +/+ rh -/-, wh -/-, S1S2 reguler, BJ (-) Abdomen : supel, BU (+) timpani, NT (-), Ext atas : Akral hangat +/+, pucat -/-, CRT <2dt Ext bawah : Akral hangat +/+, pucat -/-, CRT <2dt Lab RSSP Darah Rutin (11/4/26) Hb 7.29 Eritrosit 2.47 Hematokrit 19.7 MCV 80.0 MCH 29.6 MCHC 36.9 RDW 14.02 Leukosit 9.43 Neutrofil 85.8 Limfosit 6.1 Monosit 6.9 Eosinofil 0.53 Basofil 0.6 Total Neutrofil 8.10 Total Limfosit 0.58 Total Monosit 0.65 Total Eosinofil 0.05 Total Basofil 0.06 Trombosit 174 MPV 5.50 Ureum 237.5 Kreatinin 8.52 Elektrolit (12/4/26) Na 120 K 5.2 Cl 85 Ca²⁺ 1.0 pH 7.42 CT Scan Kepala (12/4/26) → menunggu hasil
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi dan Gelisah pada Gagal Ginjal Kronik dengan Uremia dan Anemia Berat
Kode SDKI: D.0136
Deskripsi Singkat: Perubahan dalam jumlah, pola, atau interpretasi rangsangan yang datang dari dalam maupun luar individu. Pada kasus ini, perubahan persepsi sensori dimanifestasikan sebagai halusinasi (sering berhalusinasi), gelisah, penurunan kemampuan komunikasi (tidak dapat diajak komunikasi), dan kelemahan (ku lemah). Kondisi ini secara langsung terkait dengan kondisi medis yang mendasarinya, yaitu Gagal Ginjal Kronik stadium akhir dengan uremia berat (ureum 237.5, kreatinin 8.52) dan anemia berat (Hb 7.29). Akumulasi toksin uremik (seperti urea, kreatinin, dan elektrolit) dalam darah menyebabkan ensefalopati uremik, yang mengganggu fungsi otak dan sistem saraf pusat. Gangguan elektrolit yang signifikan (hiponatremia berat Na 120, hiperkalemia K 5.2, hipokalsemia Ca 1.0) juga berkontribusi pada gangguan konduksi saraf dan fungsi sel otak. Hiponatremia berat sendiri dapat menyebabkan edema serebral dan perubahan status mental yang dramatis. Kombinasi faktor-faktor ini menyebabkan otak tidak dapat memproses rangsangan dengan benar, sehingga memunculkan persepsi yang tidak sesuai dengan realita (halusinasi), kecemasan, agitasi (gelisah), dan penurunan kognitif hingga tidak mampu berkomunikasi. Kelemahan yang dialami pasien juga dipengaruhi oleh anemia berat dan ketidakseimbangan elektrolit yang mengganggu fungsi otot.
Kode SLKI: L.08041
Deskripsi : Klien menunjukkan persepsi yang akurat terhadap lingkungan dan diri sendiri. Secara spesifik, luaran yang diharapkan dalam konteks kasus ini adalah: (1) Penurunan frekuensi dan intensitas halusinasi hingga menghilang, ditandai dengan klien dapat menyangkal isi halusinasinya dan lebih fokus pada realita. (2) Penurunan tingkat kegelisahan, ditandai dengan klien tampak lebih tenang, kooperatif, tidak gelisah, dan mampu beristirahat. (3) Peningkatan kemampuan komunikasi, ditandai dengan klien dapat merespons panggilan, menjawab pertanyaan sederhana dengan tepat, dan menyampaikan kebutuhannya secara verbal atau non-verbal. (4) Peningkatan kekuatan fisik, ditandai dengan klien dapat melakukan aktivitas perawatan diri sederhana dengan bantuan minimal dan melaporkan penurunan keluhan lemas. Pencapaian luaran ini sangat bergantung pada keberhasilan penanganan kondisi medis yang mendasari (uremia, ketidakseimbangan elektrolit, anemia) melalui terapi medis seperti hemodialisis atau dialisis lainnya, koreksi elektrolit, dan transfusi darah jika diperlukan. Peran intervensi keperawatan adalah menciptakan lingkungan yang aman dan suportif, memfasilitasi komunikasi, serta memantau respons terapi dan perkembangan status mental klien.
Kode SIKI: I.08041
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang komprehensif untuk menangani perubahan persepsi sensori pada klien dengan kondisi uremia. Pertama, Lingkungan Terapeutik dan Keamanan: Ciptakan lingkungan yang tenang, redup cahaya, dan minim kebisingan untuk mengurangi stimulasi berlebihan. Jauhkan klien dari benda-benda berbahaya. Temani klien, terutama saat halusinasi atau gelisah, untuk memberikan rasa aman dan mencegah cedera. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan saat berkomunikasi. Kedua, Komunikasi dan Validasi Realitas: Bicara dengan suara jelas, perlahan, dan gunakan kalimat sederhana. Validasi perasaan klien ("Ibu merasa takut?") tanpa menyetujui isi halusinasi. Arahkan perhatian klien ke realita dengan menyebut nama, waktu, dan tempat secara perlahan. Gunakan sentuhan terapeutik jika klien responsif. Ketiga, Kolaborasi dan Pemantauan Medis: Kolaborasi ketat dengan tim medis untuk pemberikan terapi definitif seperti hemodialisis untuk menurunkan kadar ureum dan kreatinin, koreksi ketidakseimbangan elektrolit (koreksi hiponatremia bertahap, penanganan hiperkalemia), dan persiapan transfusi PRC untuk anemia berat. Pantau tanda vital dan status neurologis (GCS, pola napas, pupil) secara ketat untuk mendeteksi perburukan ensefalopati. Keempat, Dukungan Nutrisi dan Istirahat: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pembatasan diet sesuai kondisi ginjal (protein, kalium, natrium, cairan). Bantu klien memenuhi kebutuhan istirahat dengan mengatur jadwen aktivitas dan prosedur. Kelima, Pendidikan Kesehatan (Penkes) kepada Keluarga: Meski klien tidak kooperatif, edukasi keluarga tentang kondisi klien (uremia dan efeknya ke otak), cara berkomunikasi dengan klien, pentingnya terapi medis yang dijalani, dan tanda-tanda bahaya yang harus segera dilaporkan. Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan emosional dan pengawasan.
-
Article No. 25092 | 14 Apr 2026
Klinis : penkes, tidak dapat diajak komunikasi ku lemah td: 152/70 mmHg rr: 21 x/m s: 36,4C spo2: 98-99 % dg nk n: 80 x/m Status Generalisata Mata : CA +/+ SI -/- Thorax : SDV +/+ rh -/-, wh -/-, S1S2 reguler, BJ (-) Abdomen : supel, BU (+) timpani, NT (-), Ext atas : Akral hangat +/+, pucat -/-, CRT <2dt Ext bawah : Akral hangat +/+, pucat -/-, CRT <2dt Lab RSSP Darah Rutin (11/4/26) Hb 7.29 Eritrosit 2.47 Hematokrit 19.7 MCV 80.0 MCH 29.6 MCHC 36.9 RDW 14.02 Leukosit 9.43 Neutrofil 85.8 Limfosit 6.1 Monosit 6.9 Eosinofil 0.53 Basofil 0.6 Total Neutrofil 8.10 Total Limfosit 0.58 Total Monosit 0.65 Total Eosinofil 0.05 Total Basofil 0.06 Trombosit 174 MPV 5.50 Ureum 237.5 Kreatinin 8.52 Elektrolit (12/4/26) Na 120 K 5.2 Cl 85 Ca²⁺ 1.0 pH 7.42 CT Scan Kepala (12/4/26) → menunggu hasil
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Komunikasi Verbal
Kode SDKI: D.0014
Deskripsi Singkat: Keadaan di mana individu mengalami penurunan, keterlambatan, atau tidak mampu untuk menggunakan atau memahami bahasa dalam interaksi interpersonal.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Komunikasi verbal efektif. Kriteria hasil: 1) Klien dapat menyampaikan kebutuhan dasar. 2) Klien dapat memahami pesan verbal dan nonverbal dari perawat/orang lain. 3) Klien menggunakan metode komunikasi alternatif yang sesuai (jika diperlukan). 4) Klien menunjukkan respons yang sesuai terhadap komunikasi. 5) Tidak terdapat kesalahpahaman dalam komunikasi.
Kode SIKI: I.08001 s.d. I.08021 (Contoh: I.08001, I.08004, I.08007, I.08012)
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk meningkatkan komunikasi. Intervensi utama meliputi: I.08001 - Identifikasi faktor penyebab gangguan komunikasi (pada kasus ini, penurunan kesadaran/kelemahan umum dan kemungkinan faktor metabolik/neurologis). I.08004 - Gunakan komunikasi nonverbal (kontak mata, sentuhan, ekspresi wajah) dan observasi respons nonverbal klien. I.08007 - Sederhanakan pesan verbal, gunakan kata-kata pendek dan pertanyaan tertutup. I.08012 - Libatkan keluarga dalam proses komunikasi dan edukasi tentang cara berkomunikasi dengan klien. I.08014 - Ciptakan lingkungan yang tenang dan minim gangguan. I.08021 - Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk menangani penyebab medis (seperti uremik ensefalopati). Penjelasan: Pada pasien dengan kondisi "tidak dapat diajak komunikasi" dan "lemah", fokus intervensi adalah pada identifikasi penyebab (gagal ginjal berat dengan ureum sangat tinggi yang dapat menyebabkan penurunan kesadaran), penggunaan metode komunikasi non-verbal secara intensif, dan modifikasi lingkungan untuk memfasilitasi respons sekecil apapun dari pasien. Perawat harus konsisten dalam pendekatan, memberikan waktu yang cukup bagi pasien untuk merespons, dan selalu menjelaskan semua tindakan yang dilakukan meskipun pasien tidak merespons secara verbal.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Keadaan di mana individu mengalami ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau yang diinginkan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Toleransi aktivitas meningkat. Kriteria hasil: 1) Klien dapat melakukan aktivitas secara bertahap sesuai kemampuan. 2) Tanda vital dalam rentang normal selama dan setelah aktivitas. 3) Klien melaporkan penurunan keluhan lemas/kelelahan. 4) Klien menunjukkan peningkatan kekuatan otot dan mobilitas.
Kode SIKI: I.03001 s.d. I.03018 (Contoh: I.03001, I.03003, I.03005, I.03010)
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mengelola intoleransi aktivitas. Intervensi utama meliputi: I.03001 - Monitor respons fisiologis terhadap aktivitas (TD, Nadi, RR, Spo2, warna kulit, kelemahan). I.03003 - Ajarkan teknik penghematan energi (mengatur ritme aktivitas, istirahat sebelum lelah, duduk saat melakukan aktivitas jika memungkinkan). I.03005 - Bantu klien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan, berikan bantuan secara bertahap sesuai peningkatan kekuatan. I.03010 - Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan sesudah aktivitas. I.03015 - Kolaborasi pemberian terapi oksigen jika diperlukan (walaupun Spo2 normal, anemia berat dapat menyebabkan intoleransi). I.03018 - Kolaborasi pemberian transfusi darah dan terapi untuk anemia serta gagal ginjal. Penjelasan: Pasien dengan Hb 7.29 g/dL (anemia berat) dan kelemahan ekstrem akan sangat mengalami intoleransi aktivitas. Anemia menyebabkan pengiriman oksigen ke jaringan tidak adekuat, sehingga pasien mudah lelah. Intervensi difokuskan pada penghematan energi pasien, memonitor tanda vital dengan ketat selama aktivitas sekecil apapun (seperti perubahan posisi), serta mengatasi penyebab dasarnya yaitu anemia dan gangguan metabolik dari gagal ginjal. Aktivitas harus direncanakan secara bertahap dan diselingi istirahat yang cukup.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Keadaan di mana individu berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit terjaga. Kriteria hasil: 1) Tanda vital dalam rentang normal. 2) Turgor kulit baik, membran mukosa lembab. 3) Balance cairan seimbang (masukan dan pengeluaran). 4) Elektrolit dalam batas normal. 5) Tidak ada edema atau tanda dehidrasi.
Kode SIKI: I.06001 s.d. I.06031 (Contoh: I.06001, I.06004, I.06010, I.06021)
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. Intervensi utama meliputi: I.06001 - Monitor status cairan (tanda vital, turgor kulit, membran mukosa, edema, balance cairan). I.06004 - Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (elektrolit Na 120 [hiponatremia berat], K 5.2 [hiperkalemia], ureum & kreatinin sangat tinggi). I.06010 - Atur asupan cairan sesuai dengan kondisi ginjal (biasanya dibatasi pada gagal ginjal akut/dekompensasi). I.06021 - Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena dan koreksi elektrolit sesuai program dokter. I.06025 - Kolaborasi dalam persiapan dan pelaksanaan terapi pengganti ginjal (hemodialisis). I.06031 - Timbang berat badan setiap hari dengan timbangan yang sama dan kondisi yang sama. Penjelasan: Pasien dengan gagal ginjal kronik yang mengalami peningkatan ureum dan kreatinin yang sangat tinggi serta gangguan elektrolit (hiponatremia dan hiperkalemia) memiliki risiko tinggi ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit yang dapat mengancam jiwa. Hiperkalemia dapat menyebabkan aritmia jantung yang fatal. Peran perawat adalah memantau ketat tanda-tanda klinis dan laboratorium, membatasi asupan cairan dan kalium, serta berkolaborasi erat untuk terapi korektif seperti hemodialisis yang merupakan penatalaksanaan utama untuk kondisi ini.
Kondisi: Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0043
Deskripsi Singkat: Keadaan di mana individu berisiko mengalami ketidakadekuatan darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Curah jantung adekuat. Kriteria hasil: 1) Tanda vital dalam rentang normal. 2) Nadi perifer teraba kuat dan reguler. 3) Tidak ada dyspnea, ortopnea, atau edema. 4) Warna kulit dan kehangatan akral normal. 5) Haluaran urin adekuat.
Kode SIKI: I.04001 s.d. I.04019 (Contoh: I.04001, I.04003, I.04006, I.04015)
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mempertahankan curah jantung. Intervensi utama meliputi: I.04001 - Monitor tanda vital, khususnya tekanan darah (TD 152/70 mmHg menunjukkan kemungkinan hipertensi yang memberatkan jantung) dan nadi. I.04003 - Monitor status pernapasan (dispnea, orthopnea, bunyi napas). I.04006 - Monitor warna kulit, kehangatan, dan pengisian kapiler (CRT). I.04015 - Batasi aktivitas dan pertahankan tirah baring untuk mengurangi beban kerja jantung. I.04018 - Kolaborasi pemberian terapi farmakologi sesuai program (misal, obat antihipertensi, pengikat kalium, terapi untuk gagal ginjal). I.04019 - Monitor hasil EKG (terutama terkait risiko hiperkalemia). Penjelasan: Pasien dengan gagal ginjal stadium akhir dan hipertensi memiliki risiko tinggi mengalami penurunan curah jantung. Hiperkalemia (K 5.2 mEq/L) merupakan ancaman langsung karena dapat menyebabkan bradiaritmia atau henti jantung. Anemia berat juga memaksa jantung untuk bekerja lebih keras memompa darah guna mencukupi kebutuhan oksigen jaringan. Intervensi difokuskan pada pemantauan ketat terhadap tanda-tanda awal dekompensasi jantung, pengelolaan beban kerja jantung melalui manajemen aktivitas, dan koreksi segera faktor-faktor pemicu seperti hiperkalemia dan hipertensi melalui terapi medis dan hemodialisis.
-
Article No. 25093 | 14 Apr 2026
Klinis : Pasien dengan penurunan kesadaran, Keluhan nyeri dada Khas ACS dan berdebar disangkal. batuk dahak, dan mual sejak kemarin sore. kaki bengkak disangkal. BAB BAK dalam batas normal Ku lemah Kes : Somnolen TD 119/83mmHg N 113 x/menit Rr 20 x/menit S 36,9 C Spo2 98% RA Mata : CA -/- SI -/- Mulut : dbn Thorax : Simetris ka/ki BJ I-II, reguler, bising (-) Paru : rbh +/+ rbk -/-whz -/- Abdomen :supel, BU (+) lemah, NT (-) Genatalia : tidak ada kelainan Ekstremitas Superior : akral hangat +/+, CRT <2s detik, udem -/- Ekstremitas Inferior : akral hangat +/+, CRT <2s, udem -/-
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Somnolen) dan Gangguan Kardiovaskular yang Diduga
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Curah jantung adekuat ditunjukkan dengan: tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima untuk individu, denyut nadi dalam rentang normal untuk individu, irama jantung reguler, nadi perifer kuat dan simetris, tidak ada ortopnea/paroksismal nokturnal dispnea, status mental dalam rentang normal untuk individu, kulit hangat dan kering, waktu pengisian kapiler kurang dari 3 detik, haluaran urine adekuat (0,5-1,5 ml/kgBB/jam), tidak ada edema paru, bunyi jantung I dan II normal tanpa adanya gallop, tidak ada edema dependen, dan tanda-tanda vital serta pemeriksaan penunjang dalam batas normal.
Kode SIKI: I.12066
Deskripsi : Memantau tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu. Memantau status hemodinamik (tekanan vena sentral, tekanan arteri paru, tekanan baji kapiler paru, indeks jantung jika ada). Memantau irama dan frekuensi jantung. Memantau status pernapasan (dispnea, sianosis, bunyi napas tambahan). Memantau status neurologis/tingkat kesadaran. Memantau haluaran urine. Memantau warna, suhu, dan kelembaban kulit. Memantau waktu pengisian kapiler. Memantau adanya edema. Memantau hasil pemeriksaan laboratorium (elektrolit, enzim jantung, AGD). Memberikan terapi oksigen sesuai program. Melakukan manajemen nyeri. Membatasi aktivitas. Meningkatkan istirahat. Memberikan dukungan psikologis. Mengkolaborasikan pemberian obat-obatan sesuai program (seperti vasodilator, diuretik, inotropik). Mengatur keseimbangan cairan.
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Somnolen)
Kode SDKI: D.0099
Deskripsi Singkat: Perfusi Serebral Tidak Efektif
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Perfusi serebral adekuat ditunjukkan dengan: tingkat kesadaran compos mentis atau sesuai kondisi dasar, GCS 15 (atau sesuai kondisi dasar), fungsi kognitif utuh (orientasi orang, tempat, waktu), fungsi sensori dan motorik utuh, tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak ada pusing, sakit kepala, mual, muntah, dan tidak ada perubahan perilaku.
Kode SIKI: I.13029
Deskripsi : Memantau tingkat kesadaran (GCS). Memantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu). Memantau fungsi neurologis (pupil, kekuatan motorik, sensasi). Mempertahankan posisi kepala sedikit elevasi (30 derajat) jika tidak ada kontraindikasi. Menghindari fleksi/ekstensi leher berlebihan. Mempertahankan lingkungan yang tenang. Memberikan stimulasi yang adekuat. Mengkolaborasikan pemberian terapi oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen >95%. Memantau hasil pemeriksaan penunjang (CT Scan, laboratorium). Mengkolaborasikan pemberian obat sesuai program. Mencegah peningkatan tekanan intrakranial.
Kondisi: Nyeri Dada Khas ACS dan Mual
Kode SDKI: D.0128
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol nyeri tercapai ditunjukkan dengan: skala nyeri 0 (atau sesuai target yang ditetapkan), tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak ada perilaku yang menunjukkan nyeri (gelisah, meringis, menangis), mampu melakukan aktivitas sesuai kondisi, ekspresi wajah rileks, laporan verbal nyeri terkontrol, dan mampu beristirahat/tidur dengan adequat.
Kode SIKI: I.09046
Deskripsi : Menilai nyeri (P, Q, R, S, T: Provokasi, Kualitas, Region, Skala, Waktu). Memantau tanda-tanda vital. Memberikan lingkungan yang nyaman. Mengajarkan teknik non-farmakologi (nafas dalam, distraksi, relaksasi). Mengatur posisi yang nyaman. Melakukan manajemen nyeri farmakologi dan non-farmakologi. Mengkolaborasikan pemberian analgesik sesuai program. Mengevaluasi efektivitas intervensi nyeri. Mendokumentasikan karakteristik dan respons nyeri.
Kondisi: Batuk Dahak dan Status Pernapasan
Kode SDKI: D.0100
Deskripsi Singkat: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Jalan napas paten ditunjukkan dengan: bunyi napas vesikuler, tidak ada suara napas tambahan (ronkhi, wheezing, stridor), frekuensi napas dalam rentang normal, irama napas reguler, mampu batuk efektif, sekret dapat dikeluarkan, saturasi oksigen dalam batas normal (>95%), dan tidak ada sianosis.
Kode SIKI: I.06012
Deskripsi : Memantau status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas). Auskultasi bunyi napas. Memantau kemampuan batuk dan karakter sputum. Mempertahankan posisi semi fowler/fowler. Memberikan hidrasi adekuat (jika tidak ada kontraindikasi). Mengajarkan dan membantu latihan napas dalam dan batuk efektif. Melakukan fisioterapi dada jika diperlukan. Membersihkan sekret dari mulut dan jalan napas. Mempertahankan kebersihan mulut. Mengkolaborasikan pemberian terapi nebulizer/ inhalasi sesuai program. Memantau saturasi oksigen. Memberikan oksigen sesuai program.
Kondisi: Kelemahan dan Risiko akibat Penurunan Kesadaran
Kode SDKI: D.0005Deskripsi Singkat: Risiko Cedera
Kode SLKI: L.25001
Deskripsi : Tidak terjadi cedera ditunjukkan dengan: tidak ada luka/ memar/ lecet, tidak ada jatuh, tidak ada trauma, lingkungan aman, alat pelindung diri terpasang dengan baik (jika diperlukan), dan keluarga/ pasien menyatakan memahami upaya pencegahan cedera.
Kode SIKI: I.25080
Deskripsi : Mengidentifikasi faktor risiko cedera (penurunan kesadaran, kelemahan, lingkungan). Memasang side rail tempat tidur. Menempatkan pasien di ruangan yang mudah diawasi. Menjaga lingkungan aman (cahaya adequat, lantai tidak licin, barang tertata). Menggunakan restraint sesuai indikasi dan kebijakan. Melakukan mobilisasi dengan bantuan. Mengajarkan pada keluarga tentang pencegahan cedera. Memastikan bel dalam jangkauan pasien. Memantau tanda-tanda vital dan status neurologis secara berkala. Menempatkan alat-alat yang diperlukan dalam jangkauan.