Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23276 | 12 Dec 2025
Klinis : pasien banyak tidur, respon jika dibangunkan, minum bisa dengan sedotan kecil, susu tidak bisa nyedot, badan terasa lemah
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Kelemahan Otot dan Kelelahan yang Tidak Ditentukan
Kode ICD-10: R53.1
Deskripsi Singkat : Deskripsi klinis pasien menunjukkan gejala kelemahan tubuh yang signifikan (asthenia), kelelahan (fatigue), dan penurunan kemampuan fungsional, termasuk kesulitan menyusu/minum. Gejala seperti banyak tidur (hipersomnia), respons hanya saat dibangunkan, dan kelemahan badan yang dirasakan, mengarah pada sindrom malaise dan kelelahan yang diklasifikasikan di bawah gejala dan tanda umum. Kode R53.1 (Kelemahan dan Kelelahan) digunakan untuk mendokumentasikan keluhan non-spesifik ini ketika penyebab pastinya (misalnya, infeksi, gangguan neurologis, gangguan metabolik, atau malnutrisi) belum dapat ditentukan dari informasi terbatas. Kode ini berada dalam bab 'Gejala, Tanda dan Temuan Klinis serta Laboratorium yang Abnormal, Tidak Diklasifikasikan di Tempat Lain' (R00-R99). Penggunaan kode ini bersifat sementara dan memerlukan investigasi lebih lanjut untuk menegakkan diagnosis etiologi yang mendasarinya, seperti infeksi berat, gangguan neuromuskular, atau kondisi sistemik lainnya. Dalam konteks pelatihan, kode ini mengajarkan pentingnya mendokumentasikan gejala secara akurat sebelum diagnosis definitif ditegakkan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23277 | 12 Dec 2025
Klinis : pasien banyak tidur, respon jika dibangunkan, minum bisa dengan sedotan kecil, susu tidak bisa nyedot, badan terasa lemah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Kelemahan Fisik (Fatigue)
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Keadaan kelelahan fisik dan/atau mental yang luar biasa dan menetap yang tidak dapat dihilangkan dengan istirahat dan mengganggu kemampuan individu untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Pasien menunjukkan peningkatan tingkat energi dan kemampuan untuk melakukan aktivitas. Indikator yang relevan dengan kondisi pasien meliputi: 1) Pasien mampu melakukan aktivitas perawatan diri (seperti makan/minum) sesuai dengan tingkat kemampuannya. 2) Pasien melaporkan penurunan perasaan lelah atau kelemahan. 3) Pasien menunjukkan peningkatan partisipasi dalam aktivitas yang diinginkan. Dalam konteks pasien yang lemah dan banyak tidur, tujuan utamanya adalah mencapai tingkat energi yang memungkinkan ia untuk minum dan makan (susu) secara mandiri tanpa hambatan signifikan, serta mengurangi waktu tidur berlebihan di siang hari.
Kode SIKI: I.1.1.1
Deskripsi : Intervensi untuk mengatasi kelemahan fisik dan meningkatkan energi. Intervensi yang direkomendasikan berdasarkan kondisi pasien adalah: 1) Monitor Tingkat Energi dan Kelemahan: Kaji pola tidur-bangun, durasi dan kualitas tidur, serta respon pasien saat dibangunkan. Observasi tanda-tanda kelemahan seperti suara lemah, gerakan terbatas, dan ketidakmampuan menyelesaikan aktivitas (seperti minum susu). 2) Kolaborasi Pemberian Nutrisi dan Cairan: Karena pasien lemah dan hanya bisa minum dengan sedotan kecil, kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyediakan nutrisi cair atau makanan lunak berkalori tinggi dan mudah ditelan. Ajarkan dan bantu keluarga dalam pemberian makan/minum dengan teknik dan alat yang tepat (misal: sedotan dengan diameter yang sesuai, posisi setengah duduk untuk mencegah aspirasi). Jika minum susu tidak bisa disedot, evaluasi konsistensi susu atau alternatifkan dengan susu formula kental atau menggunakan sendok. 3) Manajemen Aktivitas dan Istirahat: Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan sesudah aktivitas seperti makan. Bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai toleransi, jangan biarkan kelelahan. Lakukan mobilisasi bertahap (dari baring, duduk di tempat tidur, hingga berdiri jika memungkinkan) untuk mencegah kelemahan bertambah parah. 4) Lingkungan yang Nyaman: Atur lingkungan untuk mendukung istirahat dan menghemat energi pasien, seperti menempatkan barang-barang yang sering digunakan dalam jangkauan. 5) Edukasi Pasien dan Keluarga: Jelaskan tentang pentingnya menghemat energi, teknik mengatur aktivitas, dan tanda-tanda kelelahan yang harus diwaspadai. Anjurkan keluarga untuk membangunkan pasien secara berkala untuk makan/minum dan mencegah gangguan siklus tidur. 6) Kolaborasi Medis: Kolaborasi dengan tim medis untuk mengevaluasi penyebab medis dari kelemahan dan banyak tidur (misalnya: infeksi, gangguan elektrolit, efek samping obat, atau kondisi neurologis) sehingga terapi penyebab dapat diberikan. Intervensi-intervensi ini bertujuan untuk mengatasi defisit energi, meningkatkan asupan nutrisi, dan secara bertahap meningkatkan kemampuan fungsional pasien.
-
Article No. 23278 | 12 Dec 2025
Klinis : pasien mengalami sesak, oedem anasarka, sianosis, CRT lebih dari 3 dt. taki kardi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Kondisi di mana darah yang dipompa oleh jantung per menit (curah jantung) tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: L.03103
Deskripsi : SLKI L.03103 berfokus pada pemulihan dan pemeliharaan curah jantung yang adekuat. Tujuan utamanya adalah agar curah jantung pasien kembali memadai untuk perfusi jaringan, yang ditandai dengan tanda-tanda vital dalam rentang normal atau dapat diterima untuk pasien, nadi perifer teraba kuat dan reguler, waktu pengisian kapiler (CRT) ≤ 2 detik, kulit hangat dan kering, haluaran urine adekuat (≥ 0,5 mL/kgBB/jam), serta tingkat kesadaran baik. Intervensi keperawatan untuk mencapai ini meliputi pemantauan ketat tanda-tanda vital, status pernapasan, dan oksigenasi; pemberian terapi oksigen sesuai resep; memposisikan pasien untuk memfasilitasi pernapasan dan sirkulasi (misalnya, semi-Fowler); memantau keseimbangan cairan (intake-output, berat badan harian); memberikan obat-obatan pendukung jantung (seperti inotropik, diuretik, vasodilator) sesuai resep dengan tepat dan memantau efek serta efek sampingnya; serta membatasi aktivitas fisik untuk mengurangi beban kerja jantung dan mendorong tirah baring atau aktivitas bertahap sesuai toleransi. Edukasi juga diberikan kepada pasien dan keluarga mengenai kondisi, pengobatan, dan pentingnya pembatasan cairan serta diet rendah garam.
Kode SIKI: I.08280
Deskripsi : SIKI I.08280 adalah intervensi spesifik "Manajemen Curah Jantung" yang terdiri dari serangkaian tindakan sistematis. Intervensi ini dimulai dengan pengkajian menyeluruh terhadap tanda-tanda penurunan curah jantung seperti takikardia, hipotensi, sesak napas, penurunan kesadaran, CRT memanjang, nadi lemah, kulit dingin dan lembap, serta penurunan haluaran urine. Tindakan pemantauan berkelanjutan mencakup pengukuran tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, dan saturasi oksigen secara teratur. Pemasangan dan pemantauan kateter vena sentral (CVP) dan kateter arteri mungkin dilakukan untuk menilai status hemodinamik. Pemberian terapi oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen > 95% adalah langkah kritis. Posisi pasien diatur untuk optimalisasi sirkulasi dan pernapasan. Manajemen cairan yang ketut dilakukan dengan memantau balance cairan, memberikan cairan atau membatasi asupan cairan sesuai kondisi dan resep dokter. Pemberian obat-obatan kardiovaskular seperti digoxin, dopamin, dobutamin, diuretik, atau vasodilator harus dilakukan dengan keakuratan dosis, kecepatan infus yang tepat, dan pemantauan respons serta tanda-tanda toksisitas. Istirahat fisik dan emosional mutlak diperlukan, sehingga perawat perlu mengatur lingkungan yang tenang, membantu dalam aktivitas sehari-hari, dan memberikan penjelasan untuk mengurangi kecemasan. Pemantauan haluaran urine setiap jam dan pemeriksaan elektrolit serum (terutama kalium) juga merupakan bagian integral dari intervensi ini. Seluruh tindakan didokumentasikan dengan cermat dan perubahan status dilaporkan segera kepada tim medis. Intervensi ini bersifat dinamis dan terus dievaluasi berdasarkan respons klinis pasien.
-
Article No. 23279 | 12 Dec 2025
Klinis : Pasien seorang Perempuan usia 32 tahun G3P0A2, datang ke RSUD Gemolong Sragen pada tanggal 10 Desember 2025 jam 22.21 WIB dengan keluhan mual muntah, pusing cekot-cekot, lemas sejak kemarin siang. Saat ini pasien hamil ketiga, usia kehamilan saat ini 12 minggu dengan HEG dan dehidrasi sedang berat. Saat dilakukan pengkajian, pasien mengatakan selalu muntah setelah makan dan merasa lemas. Hasil pemeriksaan tanda vital didapatkan TD 156/95 mmHg; N 103 x/menit; RR 20 x/menit; SpO2 99%; Suhu 36°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan dan Elektrolit
Kode SDKI: 0201
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau pergeseran cepat dari satu kompartemen cairan tubuh ke kompartemen lain.
Kode SLKI: 2001
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai dengan kriteria hasil: 1) Tanda vital dalam rentang normal (TD sistolik 90-140 mmHg, diastolik 60-90 mmHg, Nadi 60-100 x/menit, Suhu 36,5-37,5°C). 2) Turgor kulit elastis (kembali < 2 detik). 3) Mukosa mulut lembab. 4) Produksi urin adekuat (≥ 30 ml/jam). 5) Keseimbangan masukan dan haluaran (Balance I/O) mendekati seimbang. 6) Tidak ada tanda dehidrasi atau overhidrasi. 7) Nilai laboratorium elektrolit (Na, K, Cl) dalam batas normal.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : Manajemen Cairan dan Elektrolit meliputi intervensi: 1) Monitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, mukosa mulut, mata cekung, produksi urin). 2) Pantau tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan) setiap 2-4 jam atau sesuai kondisi. 3) Ukur dan catat masukan dan haluaran cairan (Balance I/O) secara ketat. 4) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai program dokter. 5) Atur kecepatan tetesan infus sesuai program. 6) Pantau akses infus (patensi, tanda flebitis/infiltrasi). 7) Kolaborasi pemeriksaan laboratorium elektrolit (Natrium, Kalium, Klorida). 8) Anjurkan dan bantu pasien untuk meningkatkan asupan cairan per oral secara bertahap jika sudah memungkinkan (misal: minum sedikit-sedikit tapi sering). 9) Berikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya menjaga asupan cairan dan tanda-tanda dehidrasi yang perlu diwaspadai.
Kondisi: Hiperemesis Gravidarum
Kode SDKI: 0101
Deskripsi Singkat: Mual dan muntah berlebihan selama kehamilan yang mengakibatkan gangguan aktivitas sehari-hari, dehidrasi, dan ketidakseimbangan elektrolit.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Manajemen Hiperemesis dengan kriteria hasil: 1) Frekuensi mual dan muntah berkurang atau terkontrol. 2) Asupan nutrisi dan cairan per oral dapat ditoleransi. 3) Tanda vital stabil dalam rentang normal. 4) Berat badan tidak turun signifikan atau mulai stabil. 5) Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara bertahap. 6) Pasien melaporkan penurunan rasa mual. 7) Keseimbangan elektrolit dalam batas normal.
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Manajemen Hiperemesis Gravidarum meliputi intervensi: 1) Kaji frekuensi, jumlah, dan karakter muntah. 2) Kaji faktor pemicu mual muntah. 3) Anjurkan dan bantu teknik pemberian makan sedikit-sedikit tapi sering (small frequent feeding). 4) Anjurkan menghindari makanan berlemak, berminyak, dan berbau tajam. 5) Anjurkan konsumsi makanan kering (biskuit, roti) sebelum bangun tidur pagi hari. 6) Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah muntah. 7) Kolaborasi pemberian terapi farmakologis antiemetik sesuai program dokter. 8) Monitor tanda-tanda dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. 9) Berikan dukungan psikologis dan edukasi tentang kondisi hiperemesis gravidarum. 10) Anjurkan posisi istirahat yang nyaman.
Kondisi: Risiko Hipertensi dalam Kehamilan
Kode SDKI: 0204
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan/atau diastolik ≥ 90 mmHg setelah usia kehamilan 20 minggu pada wanita yang sebelumnya normotensi.
Kode SLKI: 1402
Deskripsi : Pengendalian Tekanan Darah dalam Kehamilan dengan kriteria hasil: 1) Tekanan darah terkontrol dalam rentang target yang ditetapkan (misal: <140/90 mmHg). 2) Tidak ada keluhan sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, atau nyeri ulu hati. 3) Hasil pemeriksaan protein urin negatif/trace. 4) Refleks dalam batas normal. 5) Tidak ada edema patologis (pitting edema yang signifikan). 6) Kesejahteraan janin terjaga (denyut jantung janin dalam rentang normal 110-160 dpm).
Kode SIKI: 4411
Deskripsi : Manajemen Hipertensi dalam Kehamilan meliputi intervensi: 1) Monitor tekanan darah secara teratur (setiap 4-6 jam atau sesuai kondisi). 2) Kaji adanya tanda bahaya preeklampsia (sakit kepala, skotoma, diplopia, nyeri epigastrium). 3) Anjurkan tirah baring dalam posisi miring ke kiri. 4) Kaji refleks tendon dalam (refleks patela) dan adanya klonus. 5) Monitor keseimbangan cairan (balance I/O). 6) Kolaborasi pemeriksaan protein urin. 7) Kolaborasi pemberian terapi antihipertensi sesuai program dokter. 8) Monitor denyut jantung janin dan aktivitas janin. 9) Berikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang tanda-tanda bahaya yang harus segera dilaporkan. 10) Anjurkan diet seimbang dengan pembatasan garam sesuai anjuran.
-
Article No. 23260 | 11 Dec 2025
Klinis : Pb datang dgn keluhan sesak napas memberat sejak 2 jam SMRS, keringat dingin (+), nyeri dada (-), mual (-), muntah (-), keluhan lain (-) RPD: CKD V on HD terakhir 8/12/25, HT KU : tampak sesak, CM T : 230/122 mmHg N : 125 x/mnt R : 26 x/mnt S : 35.5 C SpO2: 72% room air -> 96% on O2 NRM 15 lpmMata : CA (+/+), SI (-/-), mata cowong (-/-) Mulut : lidah kotor (-), mukosa bibir kering (-) Thoraks : simetris kanan dan kiri, retraksi (-) Jantung : BJ I-II reguler (+), murmur (-) Paru : SDV (+/+), Rbh +/+, wheezing (-/-) Abdomen : supel (+), BU (+) dbn, timpani (+), nyeri tekan (-) Eks. Superior : akral hangat (+/+), oedem (-/-) crt < 2 dtk Eks. Inferior : akral hangat (+/+), oedem (-/-) crt < 2 dtk Hb 7.09 L AE 2.59 L AL 17. 67 H AT 258 Goldar A GDS 225 H Ur 169.1 C Cr 6.75 C
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Pertukaran Gas. Tujuan: Pasien menunjukkan pertukaran gas yang adekuat, dibuktikan dengan status oksigenasi dan ventilasi yang membaik. Kriteria hasil: 1) Mempertahankan jalan napas paten. 2) Menunjukkan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat (misalnya, nilai analisis gas darah dalam rentang normal, saturasi oksigen >94%). 3) Berpartisipasi dalam program pengobatan untuk meningkatkan pertukaran gas (misalnya, latihan napas, batuk efektif, posisi yang tepat). 4) Mempertahankan kesadaran dan kognisi yang jernih. 5) Mengurangi gejala distress pernapasan (misalnya, takipnea, sianosis, gelisah).
Kode SIKI: 0410
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi: 1) Pastikan jalan napas paten dengan teknik kepala-tengkuk-dagu atau jaw thrust jika diperlukan. 2) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, posisi semi-Fowler/Fowler tinggi). 3) Lakukan penghisapan lendir jalan napas sesuai indikasi. 4) Kolaborasi pemberian oksigen sesuai program terapi (misalnya, kanula nasal, masker). 5) Pantau status pernapasan: frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya pernapasan. 6) Auskultasi suara napas setiap 2-4 jam atau sesuai kebutuhan. 7) Pantau tanda-tanda vital dan saturasi oksigen (SpO2) secara berkala. 8) Pantau status mental dan tanda-tanda hipoksia/sianosis. 9) Kolaborasi dalam pemeriksaan analisis gas darah (AGD) dan tindakan lanjutan sesuai hasil. 10) Ajarkan dan bantu latihan napas dalam dan batuk efektif jika memungkinkan. 11) Berikan dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan yang memperburuk sesak.
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Curah jantung tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: 0601
Deskripsi : Status Sirkulasi. Tujuan: Pasien menunjukkan peningkatan status sirkulasi dan curah jantung. Kriteria hasil: 1) Tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima untuk pasien. 2) Denyut nadi dalam rentang normal dan ritmis. 3) Haluaran urine adekuat (>0,5 mL/kgBB/jam). 4) Ekstremitas hangat, pengisian kapiler < 2 detik. 5) Tidak ada atau berkurangnya gejala distress pernapasan (ortopnea, dispnea). 6) Tingkat kesadaran baik (compos mentis).
Kode SIKI: 0610
Deskripsi : Manajemen Curah Jantung. Intervensi: 1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan) secara ketat. 2) Observasi warna kulit, kelembaban, suhu, dan pengisian kapiler. 3) Posisikan pasien dengan kepala lebih tinggi (semi-Fowler) untuk memfasilitasi pernapasan dan mengurangi beban jantung. 4) Pantau keseimbangan cairan (balance cairan) dengan ketat, catat intake dan output. 5) Kolaborasi pemberian terapi obat-obatan sesuai indikasi (misalnya, antihipertensi, diuretik, inotropik) dengan pemantauan efek samping. 6) Batasi aktivitas fisik, bantu aktivitas perawatan diri untuk menghemat energi dan mengurangi beban kerja jantung. 7) Pantau status neurologis/tingkat kesadaran. 8) Kolaborasi pemantauan hemodinamik lebih lanjut jika diperlukan. 9) Berikan edukasi dan dukungan untuk mengurangi kecemasan.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: 0020
Deskripsi Singkat: Risiko perubahan tekanan darah sistolik dan/atau diastolik dari rentang normal yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: 2001
Deskripsi : Pengendalian Tekanan Darah. Tujuan: Pasien mempertahankan tekanan darah dalam rentang yang ditargetkan. Kriteria hasil: 1) Tekanan darah dalam rentang yang ditentukan. 2) Mengenali faktor risiko dan gejala perubahan tekanan darah. 3) Mematuhi regimen terapi yang ditentukan.
Kode SIKI: 2010
Deskripsi : Pemantauan Tekanan Darah. Intervensi: 1) Ukur tekanan darah pada kedua lengan dengan teknik yang tepat, gunakan ukuran manset yang sesuai. 2) Pantau dan catat tekanan darah secara berkala sesuai kondisi kritis pasien (misalnya, setiap 15-30 menit atau lebih sering). 3) Observasi gejala yang berhubungan dengan hipertensi berat (sakit kepala, penglihatan kabur, mual, sesak napas, kecemasan). 4) Pertahankan tirah baring atau batasi aktivitas selama krisis hipertensi. 5) Kolaborasi pemberian obat antihipertensi sesuai program, evaluasi respons dan efek samping. 6) Pantau efek samping terapi obat (misalnya, hipotensi ortostatik, pusing). 7) Kurangi stimulasi lingkungan, ciptakan suasana tenang. 8) Kolaborasi pembatasan cairan dan diet sesuai indikasi (misalnya, rendah garam). 9) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya kontrol tekanan darah dan kepatuhan pengobatan.
Kondisi: Kelebihan Volume Cairan
Kode SDKI: 0002
Deskripsi Singkat: Peningkatan retensi cairan isotonik.
Kode SLKI: 0201
Deskripsi : Keseimbangan Cairan. Tujuan: Pasien mencapai dan mempertahankan keseimbangan cairan yang optimal. Kriteria hasil: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. 2) Berat badan stabil tanpa perubahan yang signifikan. 3) Tidak ada edema perifer atau paru. 4) Mukosa membran lembab. 5) Haluaran urine adekuat sesuai kondisi ginjal.
Kode SIKI: 0210
Deskripsi : Manajemen Cairan/Volume. Intervensi: 1) Pantau ketat intake dan output cairan setiap jam atau sesuai kebutuhan. 2) Timbang berat badan harian dengan timbangan yang sama, pada waktu yang sama. 3) Auskultasi suara napas, perhatikan adanya ronki basal (seperti pada pasien ini: Rbh +/+) sebagai tanda edema paru. 4) Observasi adanya edema perifer, sakral, atau anasarka. 5) Kolaborasi pembatasan asupan cairan sesuai program terapi untuk pasien CKD. 6) Kolaborasi pemberian terapi diuretik sesuai indikasi dan pantau efektivitasnya (peningkatan output urine) serta efek samping (misalnya, gangguan elektrolit). 7) Posisikan pasien dengan kepala lebih tinggi untuk memfasilitasi pernapasan. 8) Pantau status hemodinamik (tekanan darah, CVP jika ada). 9) Kolaborasi dalam persiapan dan evaluasi terapi hemodialisis (HD) berikutnya, mengingat pasien CKD V on HD dengan ureum dan kreatinin tinggi.
-
Article No. 23261 | 11 Dec 2025
Klinis : penglihatan mata kanan buram pasca stroke
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Tidak ada respons dari API.
-
Article No. 23262 | 11 Dec 2025
Klinis : penglihatan mata kanan buram pasca stroke
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Persepsi Sensorik: Visual pasca Stroke
Kode SDKI: 00255
Deskripsi Singkat: Perubahan dalam jumlah atau pola stimulus yang datang disertai dengan respons yang tidak akurat, distorsi, atau berkurang terhadap stimulus tersebut.
Kode SLKI: 4501
Deskripsi : Pemulihan persepsi sensorik. Kriteria hasil: 1) Mengidentifikasi perubahan sensasi, 2) Mengkompensasi perubahan sensasi, 3) Menggunakan metode alternatif untuk meningkatkan sensasi, 4) Menggunakan alat bantu untuk meningkatkan sensasi, 5) Area tubuh yang mengalami perubahan sensasi bebas dari cedera.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : Manajemen penglihatan. Tindakan keperawatan: 1) Monitor status penglihatan (ketajaman, lapang pandang, adaptasi gelap, persepsi warna, persepsi kedalaman), 2) Monitor faktor yang memperberat gangguan penglihatan, 3) Monitor respons emosional terhadap gangguan penglihatan, 4) Fasilitasi penggunaan kacamata atau lensa kontak sesuai indikasi, 5) Atur lingkungan untuk meningkatkan penglihatan (pencahayaan, kontras warna, mengurangi silau), 6) Tempatkan barang-barang kebutuhan dalam jangkauan penglihatan, 7) Ajarkan metode untuk melindungi mata dari cedera, 8) Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi, 9) Rujuk ke spesialis mata sesuai indikasi.
-
Article No. 23263 | 11 Dec 2025
Klinis : penglihatan mata kanan buram pasca stroke
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Persepsi Sensori: Visual pasca Stroke
Kode SDKI: 00245
Deskripsi Singkat: Perubahan dalam jumlah dan pola stimulus yang datang disertai dengan respons yang tidak akurat terhadap stimulus tersebut, khususnya pada indera penglihatan.
Kode SLKI: 4501
Deskripsi : Pemulihan Persepsi Sensori: Visual. Deskripsi: Perawat memfasilitasi pemulihan persepsi visual. Kriteria Hasil: 1) Pasien mengidentifikasi stimulus visual dengan benar; 2) Pasien mendemonstrasikan perilaku kompensasi untuk defisit visual; 3) Pasien mempertahankan keamanan dari bahaya lingkungan; 4) Pasien melaporkan peningkatan kenyamanan dalam beraktivitas; 5) Pasien menggunakan alat bantu visual jika diperlukan. Penjelasan: SLKI ini berfokus pada upaya perawat untuk membantu pasien dalam mengatasi dan beradaptasi dengan gangguan penglihatan yang dialami pasca stroke. Intervensi keperawatan diarahkan untuk melatih ulang interpretasi visual, memodifikasi lingkungan agar aman, dan mengajarkan teknik kompensasi. Tujuannya adalah memaksimalkan fungsi penglihatan yang tersisa, mencegah cedera akibat keterbatasan penglihatan (seperti jatuh atau menabrak benda), serta meningkatkan kemandirian dan kualitas hidup pasien. Pemulihan persepsi visual adalah proses yang mungkin membutuhkan waktu dan melibatkan kerja sama dengan keluarga dan tenaga rehabilitasi lainnya seperti terapis okupasi.
Kode SIKI: 4501
Deskripsi : Manajemen Persepsi Sensori: Visual. Deskripsi: Meminimalkan gangguan persepsi visual dan memaksimalkan fungsi. Kriteria Intervensi: 1) Kaji ketajaman penglihatan, lapang pandang, persepsi kedalaman, dan kemampuan membedakan warna; 2) Identifikasi area defisit visual (misalnya, hemianopsia, penglihatan buram, diplopia); 3) Orientasikan pasien terhadap lingkungan; 4) Atur lingkungan untuk keamanan (singkirkan bahaya tersandung, pastikan pencahayaan memadai); 5) Tempatkan benda-benda kebutuhan sehari-hari di area penglihatan yang tidak terganggu; 6) Ajarkan teknik kompensasi seperti memindai lingkungan secara sistematis (scanning) dengan menggerakkan kepala; 7) Anjurkan penggunaan alat bantu jika diresepkan (kacamata, lensa prismatik); 8) Kolaborasi dengan tim rehabilitasi (okupasi terapi) untuk pelatihan visual; 9) Libatkan keluarga dalam modifikasi lingkungan dan strategi komunikasi; 10) Berikan dukungan psikologis untuk mengatasi frustrasi atau kesedihan akibat kehilangan fungsi. Penjelasan: SIKI ini memberikan panduan langkah-langkah konkret yang dilakukan perawat untuk menangani gangguan persepsi visual. Penilaian (assessment) yang mendetail sangat penting untuk memahami sifat dan tingkat keparahan defisit. Intervensi kemudian disesuaikan, mencakup aspek keamanan fisik yang menjadi prioritas utama. Perawat berperan sebagai edukator, mengajarkan pasien dan keluarga strategi adaptasi. Kolaborasi dengan ahli lain seperti okupasi terapis sangat krusial karena mereka memiliki keahlian spesifik dalam terapi visual dan aktivitas kehidupan sehari-hari. Intervensi ini juga mencakup dukungan emosional, mengingat gangguan penglihatan dapat sangat mengganggu identitas dan kemandirian seseorang. Pendekatan holistik ini bertujuan untuk memberdayakan pasien agar dapat berfungsi optimal meski dengan keterbatasan yang ada.
-
Article No. 23265 | 11 Dec 2025
Klinis : resiko ketidakseimbangan elektrolit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit
Kode SDKI: 00095
Deskripsi Singkat: Risiko perubahan konsentrasi serum elektrolit yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Keseimbangan Elektrolit. Deskripsi: Pasien mempertahankan keseimbangan elektrolit dalam batas normal yang ditunjukkan oleh nilai laboratorium serum elektrolit (natrium, kalium, kalsium, magnesium, fosfat, klorida) dalam rentang normal, tidak ada tanda-tanda klinis ketidakseimbangan elektrolit (seperti kelemahan otot, kram, perubahan status mental, aritmia), dan asupan serta output cairan seimbang. Perawat memantau tanda-tanda vital dan status neurologis secara berkala, memeriksa hasil laboratorium elektrolit, memberikan pendidikan kesehatan tentang sumber makanan kaya elektrolit dan tanda-tanda ketidakseimbangan yang perlu diwaspadai, serta mengelola terapi penggantian elektrolit sesuai resep jika diperlukan. Pemantauan ketat pada pasien dengan faktor risiko seperti muntah, diare, penggunaan diuretik, gangguan ginjal, atau nutrisi parenteral total sangat penting untuk mencegah terjadinya ketidakseimbangan.
Kode SIKI: 3520
Deskripsi : Manajemen Elektrolit. Deskripsi: Intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mempromosikan keseimbangan elektrolit dan mencegah atau mengoreksi defisit maupun kelebihan elektrolit. Intervensi ini meliputi: 1) Pemantauan: Mengobservasi dan mendokumentasikan tanda-tanda klinis ketidakseimbangan elektrolit (misalnya, perubahan kekuatan otot, kram, kelemahan, parestesia, perubahan EKG, edema, turgor kulit, membran mukosa). Memantau asupan dan haluaran cairan secara ketat. Memeriksa dan mencatat hasil pemeriksaan laboratorium elektrolit serum (Na, K, Ca, Mg, Phos, Cl). 2) Pemberian Terapi: Mempersiapkan dan memberikan suplemen atau pengganti elektrolit (oral, melalui selang nasogastrik, atau intravena) sesuai resep dokter dengan memperhatikan kecepatan, kompatibilitas, dan efek samping. Memastikan akses intravena yang adekuat untuk pemberian cairan dan elektrolit. 3) Pencegahan: Mengidentifikasi pasien yang berisiko tinggi (misalnya, dengan diuresis osmotik, drainase gastrointestinal, luka bakar, terapi diuretik). Melakukan kolaborasi untuk menyesuaikan terapi diuretik atau penggantian cairan. 4) Pendidikan Kesehatan: Mengajarkan pasien dan keluarga tentang pentingnya diet seimbang yang mengandung elektrolit, tanda dan gejala ketidakseimbangan elektrolit yang harus dilaporkan, serta kepatuhan terhadap terapi pengobatan. 5) Intervensi Khusus: Melakukan tindakan keamanan jika terdapat perubahan status mental. Memantau respons jantung terhadap terapi kalium. Mengatur kecepatan infus cairan hipertonik atau yang mengandung kalium dengan sangat hati-hati untuk mencegah komplikasi. Tindakan ini dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan untuk meminimalkan risiko dan mengatasi ketidakseimbangan elektrolit yang dapat mengancam jiwa.
-
Article No. 23266 | 11 Dec 2025
Klinis : Obesitas febris
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Obesitas Febris
Kode SDKI: B.1.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakseimbangan nutrisi: lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan melebihi kebutuhan metabolik dan aktivitas fisik yang menurun, yang diperberat oleh keadaan febris (demam) yang dapat mempengaruhi metabolisme basal namun tidak serta merta mengurangi asupan.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : SLKI L.1.1.1: Manajemen Nutrisi. Tujuan utama adalah pasien dapat mencapai dan mempertahankan berat badan yang sehat sesuai dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang direkomendasikan. Pada konteks obesitas febris, fokusnya adalah memastikan asupan nutrisi yang adekuat untuk mendukung respons imun melawan infeksi (sumber febris) tanpa memperburuk kelebihan berat badan. Perawat akan memantau asupan dan keluaran kalori, memberikan edukasi tentang pemilihan makanan bergizi seimbang dengan kepadatan kalori yang tepat, serta memfasilitasi konsultasi gizi. Dalam keadaan febris, tubuh membutuhkan energi dan protein lebih untuk perbaikan sel, sehingga diet ketat sangat tidak dianjurkan. SLKI ini menekankan pada modifikasi pola makan jangka panjang, peningkatan aktivitas fisik bertahap setelah febris teratasi, dan pemantauan parameter biokimia (seperti gula darah dan profil lipid) yang sering terganggu pada obesitas. Peran perawat termasuk membantu pasien menetapkan tujuan realistis, mengidentifikasi pemicu makan berlebih, dan memberikan dukungan untuk perubahan perilaku berkelanjutan.
Kode SIKI: I.1.1.1.1
Deskripsi : SIKI I.1.1.1.1: Manajemen Hipertermia. Intervensi ini langsung menangani komponen "febris" pada kondisi pasien. Tujuannya adalah untuk menurunkan suhu tubuh dan mencegah komplikasi akibat demam seperti dehidrasi dan peningkatan kebutuhan metabolik yang dapat memperberat beban kardiovaskular pada obesitas. Intervensi spesifik meliputi: 1) Memantau suhu tubuh secara teratur dan tanda vital lainnya. 2) Memberikan terapi antipiretik (obat penurun panas) sesuai resep dokter dengan mempertimbangkan dosis berdasarkan berat badan aktual (perhitungan dosis pada obesitas memerlukan kehati-hatian). 3) Meningkatkan kehilangan panas melalui tindakan konduksi dan evaporasi seperti kompres hangat di area lipatan tubuh (aksila, lipat paha) dengan hati-hati karena area lipatan pada obesitas rentan terhadap iritasi dan infeksi jamur. 4) Mendorong asupan cairan yang adekuat untuk mengganti kehilangan cairan melalui penguapan dan keringat, memilih cairan tanpa gula tambahan untuk menghindari asupan kalori berlebih. 5) Mengatur lingkungan agar nyaman (sirkulasi udara baik, suhu ruangan sejuk). 6) Memantau tanda-tanda dehidrasi dan kelelahan. Pada pasien obesitas, febris dapat meningkatkan kerja jantung dan pernapasan; sehingga pemantauan fungsi kardiorespirasi menjadi sangat penting. Intervensi ini dilakukan bersamaan dengan upaya identifikasi dan penanganan penyebab febris itu sendiri.