Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 7057 | 25 Nov 2024
Klinis : manajemen kesehatan tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan: Manajemen Kesehatan Tidak Efektif
Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Manajemen Kesehatan Tidak Efektif didefinisikan sebagai ketidakmampuan individu atau keluarga untuk mengidentifikasi, mengatur, dan mengambil tindakan untuk menjaga kesehatan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penanganan diagnosa ini adalah: Pasien/Keluarga Mampu Mengelola Kesehatan Secara Efektif, yang ditandai dengan kemampuan pasien/keluarga dalam:
1. Mengidentifikasi kebutuhan kesehatan
2. Membuat perencanaan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan
3. Mengimplementasikan rencana perawatan kesehatan
4. Mengevaluasi efektivitas upaya perawatan kesehatan
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi diagnosa ini antara lain:
1. Manajemen Kesehatan: Membantu pasien/keluarga dalam mengidentifikasi, merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi upaya perawatan kesehatan.
2. Edukasi Kesehatan: Memberikan informasi dan edukasi terkait pentingnya manajemen kesehatan yang efektif.
3. Dukungan Pengambilan Keputusan: Membantu pasien/keluarga dalam mengambil keputusan terkait perawatan kesehatan.
4. Manajemen Regimen Terapi: Membantu pasien/keluarga dalam mengikuti regimen terapi yang direkomendasikan.
Dengan pendekatan ini, diharapkan pasien/keluarga dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengelola kesehatan secara efektif. -
Article No. 7058 | 25 Nov 2024
Klinis : hipertermia
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah penjelasan rinci mengenai Diagnosa Keperawatan SDKI, Luaran/Output SLKI, dan Intervensi Keperawatan SIKI untuk kondisi hipertermia:
Diagnosa Keperawatan SDKI untuk Hipertermia:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi hipertermia berdasarkan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI) adalah "Hipertermia". Hipertermia didefinisikan sebagai peningkatan suhu tubuh di atas 37,8°C (100°F) yang disebabkan oleh gangguan mekanisme pengaturan suhu tubuh. Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi, dehidrasi, paparan panas berlebihan, atau gangguan pada hipotalamus.
Luaran/Output SLKI untuk Hipertermia:
Setelah dilakukan asuhan keperawatan, hasil yang diharapkan (Luaran/Output) berdasarkan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) adalah:
1. Suhu tubuh normal (36,5-37,5°C)
2. Tidak ada tanda-tanda infeksi
3. Kenyamanan pasien meningkat
4. Tidak terjadi komplikasi akibat hipertermia, seperti dehidrasi, kejang, atau kerusakan organ.
Intervensi Keperawatan SIKI untuk Hipertermia:
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, berikut adalah intervensi keperawatan yang dapat dilakukan berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
1. Pemantauan tanda-tanda vital secara rutin, terutama suhu tubuh
2. Pemberian cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan untuk mencegah dehidrasi
3. Penggunaan kompres hangat atau dingin untuk menurunkan suhu tubuh
4. Pengaturan lingkungan yang sejuk dan nyaman
5. Pemberian obat penurun panas (antipiretik) sesuai instruksi dokter
6. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai penyebab, pencegahan, dan penanganan hipertermia
7. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (dokter, apoteker, dll.) untuk penanganan komprehensif.
Penjelasan yang rinci di atas mencakup komponen penting dalam asuhan keperawatan pada pasien dengan hipertermia, yaitu diagnosa keperawatan, luaran yang diharapkan, serta intervensi keperawatan yang diperlukan. Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan penanganan yang efektif dan meningkatkan outcome pasien. -
Article No. 6912 | 24 Nov 2024
Klinis : resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
Definisi: Rentan mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat mengganggu kesehatan, yang disebabkan oleh prosedur invasif.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Tidak ada tanda-tanda infeksi
- Bebas dari komplikasi akibat infeksi
- Mampu mencegah infeksi
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Infeksi
- Identifikasi faktor risiko infeksi
- Monitor tanda dan gejala infeksi
- Lakukan prosedur pencegahan infeksi
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk penatalaksanaan infeksi
2. Perawatan Luka
- Bersihkan luka sesuai prosedur
- Lakukan perawatan luka secara aseptik
- Monitor tanda dan gejala infeksi pada luka
3. Edukasi Kesehatan
- Jelaskan cara pencegahan infeksi
- Jelaskan tanda dan gejala infeksi
- Jelaskan pentingnya kepatuhan terhadap perawatan luka
Sebagai seorang perawat, saya akan menerapkan intervensi-intervensi tersebut secara komprehensif untuk mencegah terjadinya infeksi pada pasien yang menjalani prosedur invasif. Hal ini bertujuan agar pasien mencapai luaran yang diharapkan, yaitu bebas dari tanda-tanda infeksi dan komplikasi, serta mampu mencegah infeksi. -
Article No. 6913 | 24 Nov 2024
Klinis : pasien ckd stage 2
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait dengan kondisi pasien CKD stage 2.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk pasien CKD stage 2 adalah Risiko Ketidakefektifan Perfusi Ginjal. Pada tahap ini, pasien mulai mengalami penurunan fungsi ginjal hingga 60-89% dari normal. Hal ini menyebabkan risiko terjadinya gangguan pada perfusi ginjal, seperti penurunan aliran darah dan filtrasi glomerulus, yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Perfusi Ginjal Membaik
- Indikator: Nilai Laju Filtrasi Glomerulus (GFR) meningkat
- Indikator: Kadar ureum dan kreatinin darah menurun
- Indikator: Intake dan output cairan seimbang
- Indikator: Tidak ada tanda-tanda edema
2. Pengetahuan Pasien Meningkat
- Indikator: Pasien dapat menjelaskan penyebab, tanda-tanda, dan komplikasi CKD
- Indikator: Pasien dapat menyebutkan tindakan pencegahan dan perawatan yang harus dilakukan
- Indikator: Pasien dapat menjelaskan pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan dan diet
3. Perilaku Kesehatan Membaik
- Indikator: Pasien mematuhi pengobatan dan diet yang direkomendasikan
- Indikator: Pasien melakukan aktivitas fisik sesuai rekomendasi
- Indikator: Pasien mengelola stres dengan baik
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Cairan
- Kaji status cairan (intake, output, tanda-tanda edema)
- Atur asupan cairan sesuai kebutuhan
- Lakukan pemantauan tanda-tanda vital dan berat badan
- Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian diuretik atau cairan intravena jika diperlukan
2. Edukasi Kesehatan
- Berikan edukasi tentang CKD, penyebab, tanda-tanda, dan komplikasi
- Ajarkan pasien tentang manajemen diet dan pembatasan cairan
- Ajarkan pasien tentang pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan
- Berikan motivasi dan dukungan untuk perilaku kesehatan yang baik
3. Manajemen Aktivitas
- Kaji tingkat aktivitas dan kemampuan fungsional pasien
- Berikan rekomendasi aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi pasien
- Ajarkan teknik relaksasi dan manajemen stres
- Kolaborasi dengan fisioterapis untuk rehabilitasi jika diperlukan
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif, diharapkan dapat meningkatkan perfusi ginjal, pengetahuan pasien, dan perilaku kesehatan sehingga dapat mencegah atau memperlambat progresivitas penyakit ginjal kronis pada pasien CKD stage 2. -
Article No. 6914 | 24 Nov 2024
Klinis : pasien ckd on hd
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan informasi yang rinci dan terperinci terkait diagnosis keperawatan, luaran yang diharapkan, serta intervensi keperawatan untuk pasien CKD (Chronic Kidney Disease) yang menjalani hemodialisis.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan ketidakmampuan ginjal untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan volume dan/atau komposisi cairan dan elektrolit tubuh dalam kisaran normal.
- Karakteristik Mayor: Edema, perubahan kadar elektrolit, hipertensi, perubahan status hidrasi.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan, anemia, dan perubahan hemodinamik.
- Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin sehari-hari.
- Karakteristik Mayor: Kelelahan, dyspnea, lemah, penurunan toleransi aktivitas.
3. Risiko infeksi berhubungan dengan penurunan sistem imun dan prosedur hemodialisis.
- Definisi: Rentan mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogen.
- Karakteristik Mayor: Prosedur invasif, malnutrisi, penurunan sistem imun.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Keseimbangan Cairan
- Indikator:
- Pasien mampu mempertahankan volume cairan dan elektrolit dalam batas normal.
- Pasien tidak mengalami edema atau volume berlebih.
- Pasien tidak mengalami dehidrasi atau kelebihan cairan.
2. Toleransi Aktivitas
- Indikator:
- Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan berlebih.
- Pasien mampu mempertahankan tanda-tanda vital yang stabil saat beraktivitas.
- Pasien melaporkan peningkatan energi dan kemampuan untuk beraktivitas.
3. Bebas Infeksi
- Indikator:
- Pasien tidak mengalami tanda-tanda infeksi selama menjalani hemodialisis.
- Pasien mampu menjaga higiene dan perawatan akses vaskular dengan baik.
- Tidak ada riwayat infeksi yang terkait dengan prosedur hemodialisis.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Manajemen Cairan
- Monitor intake dan output cairan
- Atur pemberian cairan sesuai kebutuhan dan jadwal hemodialisis
- Kolaborasi dengan tim medis dalam pengelolaan elektrolit dan cairan
2. Manajemen Aktivitas
- Evaluasi toleransi aktivitas pasien
- Bantu pasien dalam perencanaan dan pelaksanaan aktivitas
- Ajarkan teknik konservasi energi dan manajemen kelelahan
3. Pencegahan Infeksi
- Monitor tanda-tanda infeksi pada akses vaskular dan selama hemodialisis
- Tingkatkan perawatan higiene pada akses vaskular dan area tubuh lainnya
- Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antibiotik dan penanganan infeksi
Melalui diagnosis keperawatan yang tepat, luaran yang jelas, dan intervensi yang komprehensif, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang efektif untuk mengelola kondisi pasien CKD yang menjalani hemodialisis. Pendekatan ini bertujuan untuk memaksimalkan keseimbangan cairan dan elektrolit, meningkatkan toleransi aktivitas, serta mencegah dan mengelola risiko infeksi yang mungkin terjadi. -
Article No. 6915 | 24 Nov 2024
Klinis : pasien atrial fibrilasi
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai kondisi pasien dengan atrial fibrilasi dari perspektif seorang perawat.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Berdasarkan kondisi pasien dengan atrial fibrilasi, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Kardiak berhubungan dengan gangguan irama jantung.
Diagnosa ini mencerminkan bahwa pasien mengalami ketidakefektifan dalam perfusi darah ke jaringan jantung akibat adanya gangguan irama jantung berupa atrial fibrilasi.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan, luaran yang diharapkan adalah:
1. Peningkatan Stabilitas Hemodinamik
Indikator yang dapat diukur antara lain:
- Tekanan darah dalam rentang normal
- Denyut nadi reguler dan dalam rentang normal
- Tidak ada tanda-tanda gagal jantung
Capaian ini menunjukkan bahwa perfusi jaringan jantung telah membaik setelah intervensi keperawatan.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran yang diharapkan, intervensi keperawatan yang diperlukan antara lain:
1. Manajemen Irama Jantung
Intervensi ini bertujuan untuk memantau dan mengelola irama jantung pasien. Aktivitas yang dapat dilakukan meliputi:
- Pemantauan EKG secara berkala
- Pemberian obat anti-aritmia sesuai resep dokter
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (dokter) dalam pengelolaan irama jantung
2. Manajemen Kebutuhan Oksigen
Intervensi ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan oksigen pasien. Aktivitas yang dapat dilakukan meliputi:
- Pemantauan saturasi oksigen
- Pemberian oksigen supplemental jika dibutuhkan
- Latihan pernapasan untuk meningkatkan efisiensi ventilasi
3. Manajemen Tanda dan Gejala
Intervensi ini bertujuan untuk mengelola tanda dan gejala yang muncul akibat atrial fibrilasi. Aktivitas yang dapat dilakukan meliputi:
- Identifikasi tanda dan gejala seperti palpitasi, sesak napas, atau kelelahan
- Pemberian obat simptomatik sesuai resep dokter
- Edukasi pasien dan keluarga mengenai tanda dan gejala serta penatalaksanaannya
Melalui implementasi intervensi-intervensi tersebut, diharapkan dapat tercapai luaran berupa peningkatan stabilitas hemodinamik pasien dengan atrial fibrilasi. -
Article No. 6916 | 24 Nov 2024
Klinis : SIKI Gangguan Persepsi Sensori : penglihatan berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokular yang mengganggu aliran cairan di dalam mata dan kerusakan pada saraf optik (D.0085).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Persepsi Sensori: Penglihatan berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokular yang mengganggu aliran cairan di dalam mata dan kerusakan pada saraf optik (D.0085)
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Gangguan Persepsi Sensori: Penglihatan merupakan salah satu diagnosis keperawatan yang terdapat dalam SDKI. Diagnosis ini menggambarkan perubahan atau penurunan kemampuan individu dalam menerima dan menginterpretasikan stimulasi visual yang disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk peningkatan tekanan intraokular dan kerusakan pada saraf optik.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Beberapa luaran keperawatan yang terkait dengan diagnosis ini antara lain:
1. Peningkatan penglihatan
2. Kemampuan beradaptasi dengan perubahan penglihatan
3. Kontrol tekanan intraokular
4. Pemeliharaan fungsi penglihatan
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat diberikan untuk mengatasi diagnosis ini meliputi:
1. Manajemen Gangguan Penglihatan
2. Pengaturan Lingkungan
3. Terapi Sensori
4. Edukasi Kesehatan
5. Manajemen Tekanan Intraokular
Tujuan dari intervensi-intervensi tersebut adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan fungsi penglihatan pasien, serta membantu pasien beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. -
Article No. 6917 | 24 Nov 2024
Klinis : Klien mengeluh tidak nafsu makan 2 minggu terakhir tanpa alasan yang jelas dan berat badan klien turun 2 kilo
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi klien yang mengeluh tidak nafsu makan selama 2 minggu terakhir tanpa alasan yang jelas dan mengalami penurunan berat badan 2 kilogram:
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Penjelasan:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Risiko terjadinya asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Klien akan menunjukkan status gizi yang memadai sesuai kebutuhan tubuh.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi risiko gangguan nutrisi, seperti mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi nafsu makan, memantau berat badan, memberikan edukasi tentang nutrisi yang seimbang, dan mengoptimalkan asupan makanan.
Persona: Sebagai perawat, saya akan memberikan penjelasan mengenai diagnosa keperawatan dan rencana asuhan keperawatan yang sesuai dengan kondisi klien. Saya akan memastikan klien memahami kondisinya dan berkolaborasi dengan klien untuk mencapai tujuan perawatan yang optimal. -
Article No. 6918 | 24 Nov 2024
Klinis : osteoartritis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi osteoartritis.
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri Kronik
2. Gangguan Mobilitas Fisik
3. Keterbatasan Aktivitas
Penjelasan singkat:
1. Nyeri Kronik
- SDKI: Nyeri Kronik adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang potensial atau aktual atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut.
- SLKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri kronik meliputi manajemen nyeri, terapi modalitas, dan edukasi.
- SIKI: Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah pemberian analgesik, terapi kompres hangat/dingin, distraksi, relaksasi, dan edukasi tentang manajemen nyeri.
2. Gangguan Mobilitas Fisik
- SDKI: Gangguan Mobilitas Fisik adalah keterbatasan kemampuan untuk bergerak secara mandiri di lingkungan.
- SLKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan mobilitas fisik meliputi peningkatan aktivitas, pelatihan mobilitas, dan penggunaan alat bantu.
- SIKI: Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah latihan rentang gerak, latihan ambulasi, dan pengenalan alat bantu mobilisasi.
3. Keterbatasan Aktivitas
- SDKI: Keterbatasan Aktivitas adalah ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
- SLKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi keterbatasan aktivitas meliputi peningkatan aktivitas, terapi aktivitas, dan modifikasi lingkungan.
- SIKI: Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah pelatihan aktivitas sehari-hari, pemberian alat bantu, dan modifikasi lingkungan.
Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan osteoartritis, perawat perlu mempertimbangkan komponen SDKI, SLKI, dan SIKI untuk memberikan intervensi yang komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan pasien. -
Article No. 6919 | 24 Nov 2024
Klinis : gangguan mobilitas fisik di karenakan osteoartritis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Gangguan Mobilitas Fisik
Penjelasan Singkat berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Gangguan Mobilitas Fisik didefinisikan sebagai keterbatasan pada kemampuan untuk bergerak secara mandiri dan terkoordinasi di lingkungan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti penyakit, cedera, atau kondisi lain yang mempengaruhi struktur dan fungsi tubuh.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan pada pasien dengan gangguan mobilitas fisik akibat osteoartritis adalah:
1. Pasien mampu melakukan aktivitas pergerakan sendi secara mandiri.
2. Pasien menunjukkan tingkat nyeri yang terkontrol.
3. Pasien mempertahankan rentang gerak sendi yang optimal.
4. Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan mobilitas fisik akibat osteoartritis meliputi:
1. Terapi latihan: latihan rentang gerak, latihan penguatan otot, dan latihan fungsi.
2. Manajemen nyeri: pemberian analgesik, kompres hangat/dingin, dan teknik relaksasi.
3. Edukasi: mengenai penyakit osteoartritis, manajemen aktivitas dan penggunaan alat bantu.
4. Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program rehabilitasi yang komprehensif.
Melalui intervensi keperawatan yang berpedoman pada SDKI, SLKI, dan SIKI, diharapkan pasien dengan gangguan mobilitas fisik akibat osteoartritis dapat meningkatkan kemampuan pergerakan, mengurangi nyeri, mempertahankan fungsi sendi, dan mencapai kemandirian dalam melakukan aktivitas sehari-hari.