Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23488 | 04 Jan 2026
Klinis : pasien mengeloh - mual muntah 0 : •asupan, makan berrurang • Abdomen Hidak nyaman sadt palpasi • Berat badan trun Dispepsia Berhubungan dengar Irirasi mukosa lambung akibar InFeksi dan demam hnagi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Keadaan individu yang mengalami atau berisiko mengalami asupan nutrisi tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: B.1.1.1
Deskripsi : Asupan nutrisi adekuat. Kriteria hasil: 1) Menyatakan peningkatan nafsu makan. 2) Mengonsumsi makanan dan minuman sesuai dengan kebutuhan tubuh. 3) Berat badan dalam rentang normal. 4) Nilai laboratorium terkait nutrisi dalam batas normal. 5) Menunjukkan perilaku untuk meningkatkan asupan nutrisi.
Kode SIKI: B.1.1.1.1
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi: 1) Kaji faktor penyebab gangguan asupan nutrisi (mual, muntah, nyeri abdomen, dispepsia). 2) Monitor asupan makanan dan cairan setiap hari (catat jenis, jumlah, toleransi). 3) Timbang berat badan secara teratur (misal, 2-3 kali seminggu) dengan timbangan yang sama dan kondisi yang sama. 4) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan jenis diet yang sesuai (biasanya diet lambung: rendah serat, tidak merangsang, porsi kecil tapi sering). 5) Anjurkan pasien untuk makan dalam porsi kecil tetapi sering (6x sehari) untuk mengurangi distensi lambung dan rasa tidak nyaman. 6) Ciptakan lingkungan makan yang nyaman, bebas dari bau yang merangsang mual. 7) Anjurkan posisi duduk atau setengah duduk selama dan setelah makan untuk mencegah refluks. 8) Ajarkan teknik relaksasi sebelum makan untuk mengurangi ansietas yang dapat memperburuk dispepsia. 9) Kolaborasi pemberian obat antiemetik (untuk mual muntah) dan gastroprotektor sesuai resep. 10) Berikan edukasi tentang hubungan antara infeksi, demam, iritasi mukosa lambung, dan gejala yang dialami. 11) Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan untuk meningkatkan kenyamanan dan nafsu makan. 12) Evaluasi efektivitas intervensi dan modifikasi rencana berdasarkan respons pasien.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.1.1
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan akhir yang dapat diantisipasi.
Kode SLKI: D.1.1.1
Deskripsi : Kontrol nyeri. Kriteria hasil: 1) Melaporkan nyeri berkurang atau hilang. 2) Menunjukkan ekspresi wajah rileks. 3) Dapat beristirahat dan tidur dengan adekuat. 4) Mendemonstrasikan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri. 5) Tanda vital dalam rentang normal.
Kode SIKI: D.1.1.1.1
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi: 1) Kaji karakteristik nyeri abdomen (lokasi, intensitas dengan skala 0-10, durasi, faktor pencetus dan pereda). 2) Observasi tanda-tanda nonverbal nyeri: wajah meringis, gelisah, postur melindungi abdomen, nafas pendek. 3) Monitor tanda vital (peningkatan nadi dan tekanan darah dapat mengindikasikan nyeri). 4) Ajarkan dan bantu teknik nonfarmakologi: napas dalam, distraksi, relaksasi, kompres hangat pada abdomen jika tidak ada kontraindikasi (panas dapat meningkatkan aliran darah dan relaksasi otot). 5) Atur posisi yang nyaman untuk pasien, biasanya semi-Fowler atau dengan lutut ditekuk untuk mengurangi ketegangan otot abdomen. 6) Kolaborasi pemberian analgesik atau antispasmodik sesuai resep dokter, dengan mempertimbangkan penyebab dispepsia (hindari NSAID yang dapat mengiritasi lambung). 7) Evaluasi efektivitas terapi farmakologi dan nonfarmakologi dalam mengurangi nyeri. 8) Berikan edukasi bahwa pengelolaan infeksi dan demam yang tepat akan membantu mengurangi iritasi mukosa dan nyeri. 9) Anjurkan untuk menghindari makanan/minuman yang memicu nyeri (pedas, asam, kopi, alkohol). 10) Ciptakan lingkungan tenang untuk mendukung istirahat dan mengurangi persepsi nyeri.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: C.1.4
Deskripsi Singkat: Keadaan individu yang berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: C.1.4.1
Deskripsi : Keseimbangan cairan. Kriteria hasil: 1) Tanda vital dalam rentang normal. 2) Turgor kulit baik. 3) Membran mukosa lembab. 4) Produksi urin adekuat (>0.5 ml/kgBB/jam). 5) Keseimbangan cairan intake dan output seimbang.
Kode SIKI: C.1.4.1.1
Deskripsi : Manajemen Cairan. Intervensi: 1) Monitor tanda-tanda dehidrasi akibat muntah dan demam: turgor kulit, mukosa mulut, mata cekung, rasa haus. 2) Pantau asupan dan keluaran cairan secara ketat (balance cairan). Ukur volume muntahan. 3) Monitor tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan) dan berat badan harian untuk mendeteksi perubahan cairan. 4) Anjurkan dan bantu intake cairan sedikit-sedikit tetapi sering (misal, 1-2 teguk setiap 15 menit) untuk mengurangi risiko muntah. Gunakan cairan oralit atau air putih hangat. 5) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai resep jika asupan oral tidak adekuat atau muntah hebat. 6) Berikan perawatan mulut yang sering untuk menjaga kelembaban mukosa dan mengurangi rasa tidak nyaman. 7) Observasi warna dan berat jenis urin sebagai indikator konsentrasi urin. 8) Kolaborasi pemberian obat antipiretik untuk mengendalikan demam, sehingga mengurangi kehilangan cairan insensible. 9) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya menjaga asupan cairan meski nafsu makan berkurang. 10) Atur lingkungan yang sejuk untuk meminimalkan keringat berlebih.
-
Article No. 23490 | 04 Jan 2026
Klinis : seorang anak usia 6 tahun daataang dengan keluhan demam sejak tadi malam tapi sudah tidak demam lagi dan badan terasa tidak enak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Suhu Tubuh
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan, penurunan, atau ketidakstabilan suhu tubuh yang tidak efektif.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Pengaturan Suhu Tubuh: Kemampuan tubuh mempertahankan suhu dalam batas normal. SLKI ini diukur dengan kriteria hasil seperti suhu tubuh dalam rentang normal (36,5°C – 37,5°C), kulit hangat dan kering, tidak ada menggigil atau berkeringat berlebihan, serta tingkat kenyamanan pasien yang baik. Pada anak usia 6 tahun, kemampuan regulasi suhu sudah lebih matang dibandingkan bayi, namun masih lebih rentan terhadap fluktuasi cepat dibandingkan dewasa karena rasio luas permukaan tubuh terhadap massa yang lebih tinggi dan sistem respons fisiologis yang masih dalam perkembangan. Pemantauan yang cermat terhadap pola demam, respons terhadap terapi, dan tanda-tanda ketidaknyamanan sangat penting untuk mengevaluasi keberhasilan intervensi keperawatan dalam mencapai tujuan pengaturan suhu tubuh yang stabil.
Kode SIKI: 1400
Deskripsi : Manajemen Hipertermia: Intervensi untuk mengurangi suhu tubuh tinggi. SIKI ini meliputi serangkaian tindakan yang direncanakan dan ilmiah. Pertama, memantau suhu tubuh secara teratur (setiap 2-4 jam atau sesuai kondisi) untuk mengidentifikasi pola dan respons terhadap intervensi. Kedua, memberikan terapi antipiretik (seperti parasetamol atau ibuprofen) sesuai resep dokter dengan dosis yang tepat berdasarkan berat badan anak, bukan hanya usia, dan memastikan interval pemberian yang aman. Ketiga, melakukan tindakan pendinginan fisik seperti kompres hangat (bukan dingin atau alkohol) di area lipatan tubuh (ketiak, selangkangan) dan dahi, karena kompres hangat menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah perifer sehingga memfasilitasi pelepasan panas tanpa menyebabkan menggigil yang justru meningkatkan produksi panas. Keempat, meningkatkan asupan cairan (air, kuah sup, susu) untuk mencegah dehidrasi yang dapat memperburuk demam dan membantu proses termoregulasi melalui evaporasi. Kelima, mengatur lingkungan yang nyaman, seperti menggunakan pakaian tipis dan menyerap keringat, menjaga sirkulasi udara ruangan, serta mengatur suhu kamar yang sejuk. Keenam, memberikan edukasi kepada orang tua tentang penyebab demam, cara pengukuran suhu yang akurat, tanda-tanda bahaya (seperti kejang, leher kaku, penurunan kesadaran), dan pentingnya tirah baring. Intervensi ini harus dilakukan secara holistik, mempertimbangkan kondisi "badan terasa tidak enak" yang dialami anak, yang mungkin mencakup malaise, anoreksia, atau nyeri, sehingga perawat juga perlu memberikan dukungan kenyamanan psikologis dan manajemen gejala terkait. Pendekatan keluarga sangat vital, melibatkan orang tua dalam setiap langkah intervensi untuk meningkatkan kepatuhan dan pemahaman, serta mengurangi kecemasan keluarga.
-
Article No. 23491 | 04 Jan 2026
Klinis : seorang anak usia 6 tahun daataang dengan keluhan demam sejak tadi malam tapi sudah tidak demam lagi dan badan terasa tidak enak TB: 106 cm BB : 17,6 kg S : 36,6 TD : 100/70 mmHg RR : 18x/menit N : 80x/menit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Suhu Tubuh
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh adalah kondisi di mana seseorang rentan mengalami kegagalan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal. Pada kasus anak ini, meskipun saat ini suhu tubuh normal (36,6°C), riwayat demam tadi malam menunjukkan ketidakstabilan termoregulasi. Demam merupakan respons terhadap pirogen (zat pemicu demam) yang menggeser set point hipotalamus. Setelah fase demam, dapat terjadi fase berkeringat dan penurunan suhu hingga di bawah set point normal, sehingga memerlukan pemantauan ketat untuk mencegah hipotermia atau kembalinya demam. Faktor risiko pada anak usia 6 tahun termasuk sistem termoregulasi yang masih berkembang dan respons imun yang aktif terhadap infeksi (yang mungkin masih ada meskipun demam reda).
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Pemantauan Suhu Tubuh. Intervensi keperawatan ini melibatkan pengukuran dan interpretasi suhu tubuh secara teratur dan akurat untuk mendeteksi penyimpangan dari rentang normal. Pada anak ini, pemantauan harus mencakup: pengukuran suhu setiap 4-6 jam menggunakan termometer yang sesuai (aksila/ timpani), pencatatan tren suhu, observasi tanda terkait seperti menggigil, berkeringat, kulit pucat atau kemerahan, serta keluhan subjektif "badan tidak enak". Pemantauan juga mencakup faktor lingkungan yang mempengaruhi suhu tubuh. Tujuannya adalah memberikan data obyektif untuk mengevaluasi efektivitas respon tubuh dan mendeteksi dini komplikasi. Pengukuran harus memperhatikan teknik yang benar untuk memastikan akurasi, mengingat fluktuasi suhu pada anak bisa cepat.
Kode SIKI: 3520A
Deskripsi : Mengukur Suhu Tubuh. Tindakan spesifik ini adalah komponen kritis dari SLKI Pemantauan Suhu Tubuh. Langkah-langkahnya meliputi: 1) Mempersiapkan alat (termometer digital, pelindung sekali pakai) dan mencuci tangan. 2) Menjelaskan prosedur pada anak dan orang tua. 3) Memastikan area pengukuran kering (ketiak). 4) Menempatkan ujung termometer di aksila tengah dan menekan lengan anak ke tubuh. 5) Menunggu hingga alarm berbunyi. 6) Membaca dan mencatat hasil (36,6°C). 7) Membandingkan dengan nilai sebelumnya dan rentang normal untuk usia. 8) Memberikan informasi pada keluarga. 9) Mencuci tangan kembali. Pada kasus ini, pengukuran menunjukkan suhu normal, tetapi riwayat demam mengharuskan pengukuran berulang. Teknik harus dilakukan dengan pendekatan yang menenangkan untuk mengurangi kecemasan anak, yang dapat mempengaruhi pembacaan. Dokumentasi yang akurat sangat penting untuk melacak pola suhu.
-
Article No. 23492 | 04 Jan 2026
Klinis : seorang anak usia 6 tahun daataang dengan keluhan demam sejak tadi malam tapi sudah tidak demam lagi dan badan terasa tidak enak TB: 106 cm BB : 17,6 kg S : 36,6 TD : 100/70 mmHg RR : 18x/menit N : 80x/menit
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Demam, tidak spesifik
Kode ICD-10: R50.9
Deskripsi Singkat : Pasien anak usia 6 tahun datang dengan riwayat demam yang telah mereda, disertai keluhan badan tidak enak. Parameter vital saat ini dalam batas normal untuk usianya. Kode R50.9 mengindikasikan "Demam, tidak spesifik" atau "Demam yang tidak diketahui asalnya (PUO)" dalam konteks episode akut yang telah teratasi. Kode ini digunakan ketika demam merupakan gejala utama yang dilaporkan, tetapi penyebab pastinya belum dapat ditentukan hanya dari informasi yang tersedia dan tidak ada indikasi infeksi spesifik (seperti saluran pernapasan atau pencernaan) yang mendominasi gambaran klinis. Dalam konteks pelatihan, kode ini menekankan pentingnya pencatatan gejala yang akurat dan pengkodean yang tepat untuk keluhan umum sebelum diagnosis definitif ditegakkan. Penggunaan kode dari bab "Gejala dan Tanda" (R00-R99) seperti ini adalah umum dalam kunjungan awal ketika evaluasi lebih lanjut mungkin masih diperlukan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23466 | 02 Jan 2026
Klinis : Keluhan Utama : Batuk berdahak, sesak napas, sulit bernapas Riwayat Keluhan Utama : Pasien datang ke IGD RS pada hari Jumat tgl 19 Desember 2025 pada pukul 10.22 pagi dengan keluhan orang tua pasien mengatakan anaknya sesak napas sejak 3 jam SMRS, batuk (+) sejak pagi ini, dan sulit bernapas. Pasien memiliki riwayat penyakit asma dan memiliki alatt/obat semprot, hanya saat ini obat semprot habis. Pemeriksaan TTV saat di IGD : TD = 125/115 mmHg, N = 147 x/menit, Temp = 35,80C, RR = 33x/menit, SPO2 = 84%, GCS = E4V5M6 (composmentis). Saat di IGD, setelah diberikan O2 melalui simple mask sebanyak 6 lpm, SPO2 menjadi 95%. Saat di IGD dilakukan observasi ketat terhadao kondisi pasien. Setelah kondisi stabil, pada pukul 18.43, pasien dipindahkan ke ruang anak Alexandri lt.2. Di ruangan dilakukan pemeriksaan TTV kembali dan didapatkan hasil N = 149 x/menit, Temp = 36,80C, RR = 40x/menit, SPO2 = 95% (dengan NK 3 lpm), GCS = E4V5M6 (composmentis), dengan keluhan masih ada batuk berdahak, sesak masih ada namun berkurang. Keluhan Pada Saat Pengkajian : Pada tanggal 22 Desember 2025, tim mahasiswa keperawatan melakukan pengkajian lebih dalam terkait kondisi pasien. Adapun saat pengkajian pada pukul 14.00, keluhan utama yang dirasakan pasien adalah batuk berdahak yang masih ada, masih terpasang oksigen NK 2 lpm dan keluhan sesak dan sulit bernapas masih ada, namun sudah berkurang dibandingkan dengan hari sebelumnya. Hasil pemeriksaan TTV : TD = 120/90 mmHg, N = 101 x/menit, Temp = 36,10C, RR = 32x/menit, SPO2 = 97% (NK, 2 lpm), GCS = E4V5M6 (composmentis). B. Riwayat Kesehatan Lalu Klien pernah mengalami penyakit : Batuk, pilek, pada umur : 9-10 tahun diberikan obat oleh : dokter puskesmas Riwayat kecelakaan : Tidak ada Riwayat mengkonsumsi obat-obatan berbahaya tanpa anjuran dokter dan menggunakan zat/subtansi kimia yang berbahaya : Tidak ada Perkembangan anak dibanding saudara-saudaranya : Sesuai pasien mengatakan keluarga pasien memiliki riwayat penyakit hipertensi dan asma IV. Riwayat Tumbuh Kembang A. Pertumbuhan Fisik 1. Berat badan : 65,7 kg 2. Tinggi badan : 150 cm. 3. Waktu tumbuh gigi 1 tahun gigi tanggal 3x Jumlah gigi 24 (lengkap) buah. Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit 1. Selera makan Normal 3x sehari 1 porsi habis bisa tambah Menurun 3x sehari ½ porsi Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit 1. Jenis minuman 2. Frekuensi minum 3. Kebutuhan cairan 4. Cara pemenuhan Air putih dingin, minuman manis 1-4 gelas/hari (minuman manis, terutama teh), 2 gelas/hari (air putih) 2.460 ml/24 jam Oral Air putih biasa, infus D5+ ½ NS Jarang, kalau haus saja 2.414 ml/24 jam Oral dan IV Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit 1. Tempat pembuangan 2. Frekuensi (waktu) 3. Konsistensi 4. Kesulitan 5. Obat pencahar Kamar Mandi/WC BAB = 1-3 x/hari BAK = > 5x/hari BAB = Lembek, warna kuning BAK = kuning biasa Tidak ada Tidak ada Kamar Mandi/WC BAB = 2 x/hari BAK = 3 x/hari BAB = Padat, kuning biasa BAK = kuning pekat Tidak ada Tidak ada Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit 1. Jam tidur - Siang - Malam 2. Pola tidur 3. Kebiasaan sebelum tidur 4. Kesulitan tidur Jarang, saat keuyuhan saja Pukul 9 malam – 6 pagi Teratur Tidak ada Tidak ada Sering, tidur-tidur ayam Pukul 9 malam-10 malam, bangun jam 1 pagi, tidur lagi hingga pagi jam 10 pagi Tidak Teratur Tidak ada Tidak ada Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit 1. Program olah raga 2. Jenis dan frekuensi 3. Kondisi setelah olah raga Mengikuti jadwal pelajaran olahraga di sekolah Main bola, berjalan, lari Ngos-ngosan, lelah Tidak ada Tidak ada Tidak ada Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit 1. Mandi Cara Frekuensi Alat mandi 2. Cuci rambut Frekuensi Cara 3. Gunting kuku Frekuensi Cara 4. Gosok gigi Frekuensi Cara Sabun + air mengalir 2x/hari Pribadi 2x/hari (bersamaan dengan mandi) Sampo + air mengalir Kadang-kadang Menggunakan alat penggunting kuku 2x/hari Odol + sikat gigi Tidak ada 1x/hari dibasahi saja, tanpa sampo Tidak ada 1x/hari, setiap hari Odol + sikat gigi Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit 1. Kegiatan sehari-hari 2. Pengaturan jadwal harian 3. Penggunaan alat Bantu aktifitas 4. Kesulitan pergerakan tubuh Bangun tidur, sikat gigi, makan, jalan, bermain bersama teman di sekolah, main game, belajar Jadwal pagi-siang mengikuti jadwal sekolah, setelah pulang sekolah tidak ada jadwal tertentu yang dibuat, belajar saat ada PR saja Tidak ada Tidak ada Bangun tidur, sikat gigi, makan, main hape, tidur, berulang-ulang Tidak ada Tidak ada Tidak ada Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit 1. Perasaan saat sekolah 2. Waktu luang 3. Perasaan setelah rekreasi 4. Waktu senggang klg 5. Kegiatan hari libur Senang karena ketemu teman, sisanya lebih ke biasa saja Di rumah, main hape/game Senang Ke rumah nenek, main Berdiam diri, di rumah, main hape/game Saat sakit, bersamaan dengan waktu liburan sekolah, sehingga pasien menghabiskan waktu di RS (rawat inap) Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan umum : Sakit Sedang 2. Kesadaran : Composmentis (GCS = E4V5M6) 3. Tanda – tanda vital : a. Tekanan darah : 120/90 mmHg b. Denyut nadi : 101 x / menit c. Suhu : 36,1o C d. Pernapasan : 32 x/ menit 4. Berat Badan : 65,7 kg 5. Tinggi Badan : 150 cm 6. Kepala Inspeksi Keadaan rambut & Hygiene kepala : Bersih, namun berminyak a. Warna rambut : Hitam b. Penyebaran : Distribusi rata c. Mudah rontok : Tidak d. Kebersihan rambut : Bersih, namun berminyak Palpasi Benjolan : ada / tidak ada : Tidak ada Nyeri tekan : ada / tidak ada : Tidak ada Tekstur rambut : kasar/halus : Halus 7. Muka Inspeksi a. Simetris / tidak : Simetris b. Bentuk wajah : Bulat c. Gerakan abnormal : Tidak ada d. Ekspresi wajah : Normal Palpasi Nyeri tekan / tidak : Tidak ada Data lain : Tidak ada 8. Mata Inspeksi a. Pelpebra : Edema / tidak Radang / tidak b. Sclera : Icterus / tidak c. Conjungtiva : Radang / tidak Anemis / tidak d. Pupil : Isokor / anisokor Myosis / midriasis Refleks pupil terhadap cahaya : +/+ e. Posisi mata : Simetris / tidak : Simetris f. Gerakan bola mata : Normal g. Penutupan kelopak mata : Tertutup seluruhnya h. Keadaan bulu mata : Panjang dan distribusi rata i. Keadaan visus : Normal 6/6 j. Penglihatan : Kabur / tidak Diplopia / tidak Palpasi Tekanan bola mata : Teraba kenyal Data lain : Tidak ada 9. Hidung & Sinus Inspeksi a. Posisi hidung : Simetris/midline b. Bentuk hidung : Normal c. Keadaan septum : Tidak ada deviasi d. Secret / cairan : Ada, kental berwarna putih kekuningan Data lain : Tidak ada 10. Telinga Inspeksi a. Posisi telinga : Simetris sejajar kantus mata b. Ukuran / bentuk telinga : Normal c. Aurikel : Tidak ada lesi/nyeri d. Lubang telinga : Bersih / serumen / nanah e. Pemakaian alat bantu : Tidak ada Palpasi Nyeri tekan / tidak : Tidak ada Pemeriksaan uji pendengaran a. Rinne : Positif (+) b. Weber : Tidak Terkaji c. Swabach : Sama dengan pemeriksa Pemeriksaan vestibuler : Normal Data lain : Tidak ada 11. Mulut Inspeksi a. Gigi - Keadaan gigi : Lengkap - Karang gigi / karies : Tidak ada - Pemakaian gigi palsu: Tidak ada b. Gusi Merah / radang / tidak : Merah muda, tidak radang c. Lidah Kotor / tidak : Tidak d. Bibir - Cianosis / pucat / tidak : Tidak - Basah / kering / pecah : Kering - Mulut berbau / tidak : Tidak - Kemampuan bicara : Normal Data lain : Tidak ada 12. Tenggorokan a. Warna mukosa : Merah muda b. Nyeri tekan : Tidak ada c. Nyeri menelan : Tidak ada 13. Leher Inspeksi Kelenjar thyroid : Membesar / tidak Palpasi a. Kelenjar thyroid : Teraba / tidak b. Kaku kuduk / tidak: Tidak c. Kelenjar limfe : Membesar atau tidak Data lain : Tidak ada 14. Thorax dan pernapasan a. Bentuk dada : Simetris b. Irama pernafasan : Cepat, namun dangkal (RR = 32x/menit) c. Pengembangan di waktu bernapas : Sedikit asimetris d. Tipe pernapasan : Dada-perut Data lain : Tidak ada Palpasi a. Vokal fremitus : Taktil fremitus punggung kiri sedikit menurun dibandingkan kanan b. Massa / nyeri : Tidak ada Auskultasi a. Suara nafas : Vesikuler / Bronchial / Bronchovesikuler b. Suara tambahan : Ronchi / Wheezing / Rales Perkusi Redup / pekak / hypersonor / tympani Data lain: Tidak ada 15. Jantung Palpasi Ictus cordis : teraba di ICS V Midclavicula kiri Perkusi Pembesaran jantung : Batas jantung normal, tidak ada pembesaran Auskultasi a. BJ I : murni reguler b. BJ II : murni reguler c. BJ III : - d. Bunyi jantung tambahan : Tidak ada Data lain : Tidak ada 16. Abdomen Inspeksi a. Membuncit : Tidak b. Ada luka / tidak : Tidak Palpasi a. Hepar : Tidak teraba b. Lien : Tidak teraba c. Nyeri tekan : Tidak ada Auskultasi Peristaltik : BU (+), 5x/menit Perkusi a. Tympani : √ b. Redup : - Data lain : Tidak ada 17. Genitalia dan Anus : Tidak terkaji 18. Ekstremitas Ekstremitas atas a. Motorik - Pergerakan kanan / kiri : Bebas - Pergerakan abnormal : Tidak ada - Kekuatan otot kanan / kiri : maksimal (5/5) - Tonus otot kanan / kiri : Normal - Koordinasi gerak : Baik b. Refleks - Biceps kanan / kiri : +/+ - Triceps kanan / kiri : +/+ c. Sensori - Nyeri : Normal - Rangsang suhu : Normal - Rasa raba : Normal Ekstremitas bawah a. Motorik - Gaya berjalan : Normal - Kekuatan kanan / kiri : maksimal (5/5) - Tonus otot kanan / kiri : Normal b. Refleks - KPR kanan / kiri : +/+ - APR kanan / kiri : +/+ - Babinsky kanan / kiri : -/- c. Sensori - Nyeri : Normal - Rangsang suhu : Normal - Rasa raba : Normal Data lain : Tidak ada 19. Status Neurologi. Saraf – saraf cranial a. Nervus I (Olfactorius) : penghidu : Dapat mencium dan membedakan bau (minyak kayu putih, parfum) b. Nervus II (Opticus) : Penglihatan : Ketajaman penglihatan baik, lapang pandang normal c. Nervus III, IV, VI (Oculomotorius, Trochlearis, Abducens) - Konstriksi pupil : + - Gerakan kelopak mata : Normal - Pergerakan bola mata : Normal - Pergerakan mata ke bawah & dalam : Normal d. Nervus V (Trigeminus) - Sensibilitas / sensori : Sentuhan di area wajah dapat dirasakan - Refleks dagu : + - Refleks cornea : + e. Nervus VII (Facialis) - Gerakan mimik : Simetris saat tersenyum/angkat alis - Pengecapan 2 / 3 lidah bagian depan : Dapat membedakan rasa manis/asin (permen) f. Nervus VIII (Acusticus) Fungsi pendengaran : Baik g. Nervus IX dan X (Glosopharingeus dan Vagus) - Refleks menelan : + - Refleks muntah : + - Pengecapan 1/3 lidah bagian belakang : Normal - Suara : Tidak serak/bindeng h. Nervus XI (Assesorius) - Memalingkan kepala ke kiri dan ke kanan : Bisa menoleh - Mengangkat bahu : Bisa mengangkat bahu melawan tahanan i. Nervus XII (Hypoglossus) - Deviasi lidah : Tidak ada Tanda – tanda perangsangan selaput otak a. Kaku kuduk : - b. Kernig Sign : - c. Refleks Brudzinski : - d. Refleks Lasegu : - Data lain : Tidak ada Berat badan = 65,7 kg Tinggi badan = 150 cm = 1,5 m IMT Hitung = 29,2 kg/m2 --> Z Score = > + 2 SD (Obesitas (obese)Leukosit 17.63 H 4.8 - 10.8 ribu/uL Eritrosit 6.00 H 4 - 5 juta/uL MCV 72.8 L 75.0 - 100.0 fl MCH 24.3 L 25.0 –35.0 pg Eosinofil% 0.7 L 2-4% Neurotrofil% 85.1 H 46 – 73% Limfosit% 10.7 L 17 – 48%
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten. Pada kasus ini, ditandai dengan batuk berdahak, sekret kental berwarna putih kekuningan di hidung, sesak napas, peningkatan frekuensi pernapasan (32-40x/menit), suara napas tambahan (ronchi/wheezing), dan taktil fremitus yang tidak simetris. Kondisi ini diperberat oleh riwayat asma dan ketidaktersediaan obat inhaler yang biasa digunakan.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Klien menunjukkan jalan napas paten dengan suara napas bersih, tidak ada sianosis, dan saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal (≥95%). Pada pengkajian, SpO2 97% dengan O2 2 lpm menunjukkan perbaikan, namun frekuensi napas masih tinggi (32x/menit) dan masih ada keluhan sesak serta batuk berdahak, mengindikasikan tujuan belum sepenuhnya tercapai. 2) Klien mampu mendemonstrasikan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas, seperti batuk efektif dan penggunaan napas dalam. Perlu evaluasi apakah pasien telah diajarkan dan mampu melakukan teknik batuk efektif. 3) Klien mengeluarkan sekret dengan mudah. Data menunjukkan sekret masih ada dan kental, sehingga upaya untuk mengencerkan sekret (hidrasi, nebulizer) perlu diintensifkan. 4) Mengidentifikasi faktor risiko dan memodifikasi lingkungan untuk mengurangi iritan. Faktor risiko pada kasus ini adalah riwayat asma dan obesitas (IMT 29.2).
Kode SIKI: I.08006
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Intervensi keperawatan yang harus dilakukan mencakup: 1) **Memantau status pernapasan dan oksigenasi** secara berkala (frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas, suara napas, SpO2). Telah dilakukan sejak IGD hingga ruangan. 2) **Posisikan untuk memaksimalkan ventilasi** (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi). Posisi ini dapat mengurangi kerja napas dan memanfaatkan gravitasi untuk ekspansi paru. 3) **Ajarkan dan bantu teknik batuk efektif dan napas dalam.** Sangat relevan mengingat pasien memiliki dahak kental dan batuk tidak produktif sepenuhnya. 4) **Lakukan fisioterapi dada** jika diindikasikan (seperti perkusi, vibrasi, postural drainage) untuk membantu mobilisasi sekret. 5) **Kelola pemberian terapi oksigen** sesuai order dan pantau efektivitasnya. Pasien masih tergantung oksigen nasal kanul 2 lpm untuk mempertahankan SpO2 97%. 6) **Lakukan penghisapan lendir** (suction) jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekret sendiri. 7) **Kolaborasi pemberian obat** seperti bronkodilator, mukolitik, atau nebulizer sesuai resep. Riwayat asma dan gejala yang ada menunjukkan kebutuhan terapi farmakologis ini. 8) **Tingkatkan asupan cairan** (jika tidak terkontraindikasi) untuk mengencerkan sekret. Data intake cairan pasien saat sakit cenderung menurun (hanya minum jika haus), sehingga perlu didorong. 9) **Ajarkan penggunaan alat bantu pernapasan** (seperti inhaler) dengan tepat. Mengingat obat semprot pasien habis, edukasi untuk kepatuhan pengobatan dan ketersediaan alat sangat penting.
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0002
Deskripsi Singkat: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat. Pada pasien ini, pola napas tidak efektif dimanifestasikan oleh frekuensi pernapasan yang meningkat (32-40x/menit), pernapasan dangkal, penggunaan otot aksesori (tipe dada-perut), dan perasaan sesak/sulit bernapas. Kondisi ini berhubungan langsung dengan obstruksi jalan napas akibat sekret dan bronkospasme pada asma, yang menyebabkan peningkatan usaha bernapas dan perubahan pola.
Kode SLKI: L.04002
Deskripsi : Pola napas efektif. Kriteria hasil yang diharapkan adalah: 1) Klien mempertahankan pola napas normal (frekuensi sesuai usia) dan irama teratur. Pasien remaja dengan RR 32x/menit masih jauh di atas normal (12-20x/menit), menandakan pola napas belum efektif. 2) Klien menunjukkan tidak ada dispnea atau sianosis. Dispnea/sesak masih dikeluhkan meski berkurang. 3) Klien menunjukkan nilai analisa gas darah dalam rentang normal. Data AGD tidak tersaji, tetapi SpO2 97% dengan bantuan oksigen menunjukkan oksigenasi telah membaik. 4) Klien mampu melakukan aktivitas tanpa mengalami dispnea. Data menunjukkan aktivitas pasien sangat terbatas (hanya di tempat tidur, main HP, tidur) dan tidak ada aktivitas fisik, sehingga toleransi aktivitas belum dapat dinilai.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen pernapasan. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) **Pertahankan kepatenan jalan napas**, ini adalah fondasi utama. 2) **Posisikan untuk memaksimalkan pertukaran gas** (posisi duduk/tegak). 3) **Ajarkan teknik pernapasan** seperti napas bibir mengerucut (pursed-lip breathing) dan pernapasan diafragma untuk mengurangi frekuensi napas dan meningkatkan efektivitas ventilasi. 4) **Pantau respons terhadap aktivitas** dan anjurkan istirahat untuk mencegah kelelahan otot pernapasan. Pola tidur yang tidak teratur (tidur-tidur ayam) menunjukkan kualitas istirahat yang buruk yang dapat memperburuk kondisi. 5) **Lakukan latihan rentang gerak** (ROM) aktif/pasif sesuai toleransi untuk mencegah komplikasi imobilisasi. 6) **Kolaborasi pemberian oksigen** dan pantau keefektifannya. 7) **Berikan lingkungan tenang** dan ajarkan relaksasi untuk mengurangi ansietas yang dapat memperburup pola napas. Ekspresi wajah normal, tetapi hospitalisasi dan sesak dapat menimbulkan kecemasan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk menuntaskan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan. Ditandai dengan laporan kelelahan, perubahan pola tidur (sering tidur-tidur ayam, terbangun malam hari), penurunan drastis aktivitas harian (dari aktif sekolah/main bola menjadi hanya di tempat tidur), serta tanda vital yang berubah signifikan dengan aktivitas minimal (denyut nadi 101x/menit saat istirahat). Kondisi ini terkait dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen akibat gangguan pernapasan, serta status obesitas yang meningkatkan beban kerja tubuh.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Toleransi aktivitas. Kriteria hasil: 1) Klien melaporkan peningkatan toleransi aktivitas. Saat ini pasien belum melakukan aktivitas berarti untuk dinilai. 2) Klien menunjukkan penurunan tanda-tanda intoleransi aktivitas (takikardi, takipnea, dispnea, tekanan darah abnormal). Nadi (101x/m) dan RR (32x/m) saat istirahat masih tinggi, mengindikasikan tubuh masih dalam kondisi stres. 3) Klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri. Data kebersihan diri menurun (mandi 1x/hari, keramas hanya dibasuh), menunjukkan kemungkinan kelelahan. 4) Klien mempertahankan pola tidur yang efektif. Pola tidur saat sakit tidak teratur dan tidak restoratif.
Kode SIKI: I.07001
Deskripsi : Manajemen energi. Intervensi keperawatan: 1) **Pantau respons kardiorespirasi terhadap aktivitas** (sebelum, selama, setelah). 2) **Atur jadwal aktivitas** yang seimbang dengan istirahat untuk menghemat energi. Bantu pasien merencanakan aktivitas harian sederhana di ruangan. 3) **Bantu dalam aktivitas perawatan diri** sesuai kebutuhan, dorong kemandirian secara bertahap. 4) **Ajarkan teknik penghematan energi**, seperti duduk saat melakukan aktivitas, menyebar tugas sepanjang hari. 5) **Tingkatkan nutrisi yang adekuat** untuk mendukung kebutuhan energi. Selera makan menurun (dari 1 porsi jadi ½ porsi) menjadi tantangan. 6) **Kolaborasi dengan ahli gizi** terkait penatalaksanaan obesitas dan peningkatan asupan saat sakit. 7) **Ciptakan lingkungan yang nyaman** untuk meningkatkan kualitas tidur dan istirahat.
-
Article No. 23467 | 02 Jan 2026
Klinis : pasien bipolar (perubahan suasa hati)
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gangguan Bipolar
Kode ICD-10: F31.9
Deskripsi Singkat : Gangguan bipolar adalah kondisi kesehatan mental kronis yang ditandai dengan perubahan suasana hati (mood) yang ekstrem, berayun antara episode manik/hipomanik (periode energi, kegembiraan, atau lekas marah yang sangat tinggi) dan episode depresif (periode kesedihan, keputusasaan, dan kehilangan minat yang mendalam). Kode ICD-10 F31.9 mengindikasikan "Gangguan bipolar, tidak spesifik". Kode ini digunakan ketika catatan klinis mendokumentasikan gangguan bipolar tetapi tidak merinci tipe episode saat ini (seperti manic, depressed, atau mixed) atau spesifikasi lainnya. Gangguan ini memengaruhi pikiran, perasaan, perilaku, dan fungsi sehari-hari, serta memerlukan penanganan jangka panjang yang biasanya melibatkan kombinasi obat penstabil suasana hati, psikoterapi, dan dukungan gaya hidup. Penggunaan kode F31.9 bersifat sementara atau awal, dan kodifikasi yang lebih tepat (seperti F31.1 untuk Bipolar, episode manik saat ini) harus ditetapkan setelah evaluasi klinis yang lengkap.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23468 | 02 Jan 2026
Klinis : pasien bipolar (perubahan suasa hati)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Bipolar (Perubahan Suasana Hati)
Kode SDKI: D.0085
Deskripsi Singkat: Risiko Perubahan Proses Pikir
Kode SLKI: L.15042
Deskripsi : Pasien menunjukkan proses pikir yang logis, terarah, dan realitas.
Kode SIKI: I.01234
Deskripsi : Intervensi Manajemen Perilaku: Bipolar
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosis Keperawatan (SDKI - D.0085: Risiko Perubahan Proses Pikir)
Diagnosis keperawatan ini dipilih karena inti dari gangguan bipolar adalah disregulasi mood (afek) yang parah, yang secara langsung memengaruhi proses pikir, persepsi, dan penilaian realitas pasien. Selama fase mania atau hipomania, pasien dapat mengalami percepatan pikiran (flight of ideas), grandiositas, penurunan kemampuan konsentrasi, dan penilaian yang buruk. Sebaliknya, pada fase depresi, proses pikir dapat melambat, dipenuhi dengan pesimisme, rasa bersalah, dan bahkan waham. "Risiko" menunjukkan bahwa perubahan proses pikir ini adalah ancaman konstan yang dapat muncul seiring dengan pergeseran fase mood. Defisinya terletak pada ketidakmampuan sementara pasien untuk mempertahankan pola pikir yang logis, koheren, dan berorientasi realitas karena pengaruh langsung dari gangguan suasana hati yang aktif. Tujuan keperawatan adalah mencegah atau meminimalkan dampak dari perubahan proses pikir ini terhadap keselamatan dan fungsi sehari-hari pasien.
Luaran Keperawatan (SLKI - L.15042: Pasien menunjukkan proses pikir yang logis, terarah, dan realitas)
Luaran ini merupakan kondisi yang diharapkan setelah intervensi keperawatan. Pada pasien bipolar, luaran ini bersifat dinamis dan mungkin perlu ditargetkan secara bertahap sesuai fase penyakit. "Logis" berarti hubungan antar ide pasien dapat dipahami dan mengikuti alur sebab-akibat yang wajar. "Terarah" menunjukkan bahwa pasien dapat mempertahankan topik pembicaraan dan tujuannya tanpa mudah teralihkan atau melompat-lompat (pada mania) atau terlalu lambat (pada depresi). "Realitas" adalah komponen kritis, yaitu kemampuan pasien untuk membedakan antara pikiran internal dengan dunia eksternal, bebas dari distorsi seperti grandiositas, waham nihilistik, atau halusinasi yang dapat menyertai episode mood yang berat. Pencapaian luaran ini ditandai dengan kemampuan pasien berkomunikasi efektif, membuat keputusan yang aman, dan mengenali tanda-tanda awal kekambuhan pada pikirannya sendiri.
Intervensi Keperawatan (SIKI - I.01234: Intervensi Manajemen Perilaku: Bipolar)
Intervensi ini adalah serangkaian tindakan spesifik yang dilakukan perawat untuk mengatasi diagnosis D.0085 dan mencapai luaran L.15042. Deskripsinya mencakup tindakan yang komprehensif dan berfokus pada penstabilan mood serta proses pikir. Intervensi meliputi: 1. Pengawasan dan Keamanan: Memantau tanda-tanda peningkatan aktivitas psikomotor, agitasinya, atau pikiran bunuh diri untuk mencegah perilaku impulsif yang berbahaya. 2. Terapi Lingkungan: Menciptakan lingkungan yang tenang, dengan stimulasi yang rendah (terutama pada fase mania) untuk mengurangi beban sensoris dan membantu pasien fokus. 3. Psikoedukasi: Mengajarkan pasien dan keluarga tentang penyakit bipolar, pentingnya kepatuhan obat (penstabil mood seperti lithium, valproat, dll.), dan mengenali gejala prodromal (peringatan dini) kekambuhan. 4. Strategi Koping: Melatih keterampilan untuk mengelola stres, mengidentifikasi pemicu episode, dan teknik grounding untuk tetap berhubungan dengan realitas saat ada dorongan pikiran yang tidak biasa. 5. Kolaborasi: Bekerja sama dengan psikiater untuk evaluasi medikasi dan dengan terapis untuk terapi psikososial seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau Interpersonal and Social Rhythm Therapy (IPSRT). 6. Dukungan pada Aktivitas Sehari-hari: Membantu pasien menyusun rutinitas yang teratur (tidur, makan, aktivitas) karena ketidakteraturan ritme sirkadian dapat memicu episode. Intervensi ini bersifat holistik, ditujukan tidak hanya untuk mengontrol gejala akut tetapi juga memberdayakan pasien dalam manajemen jangka panjang penyakitnya untuk mempertahankan proses pikir yang optimal dan kualitas hidup.
-
Article No. 23469 | 02 Jan 2026
Klinis : pasien ckd yang menjalani hemodialisis mengalami kelelahan, terapi pijat dilakukan sebagai bentuk intervensi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Kelelahan pada Penyakit Ginjal Kronik Stadium Akhir dengan Hemodialisis
Kode ICD-10: N18.6
Deskripsi Singkat : Kode N18.6 mengindikasikan Penyakit Ginjal Kronik (PGK) stadium 5 atau gagal ginjal stadium akhir, di mana pasien bergantung pada terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis. Kelelahan yang dialami pasien merupakan gejala yang sangat umum dan melemahkan pada kondisi ini, sering disebut sebagai "fatigue related to CKD". Kelelahan ini disebabkan oleh multifaktor kompleks, termasuk anemia uremik (kekurangan produksi eritropoietin), retensi toksin uremik, ketidakseimbangan elektrolit, gangguan tidur, dan beban psikologis dari penyakit kronis serta rutinitas dialisis. Intervensi terapi pijat, seperti yang disebutkan, adalah salah satu pendekatan non-farmakologis untuk membantu mengelola gejala kelelahan ini dengan meningkatkan relaksasi, sirkulasi darah, dan kualitas hidup pasien. Penggunaan kode ini tepat karena secara spesifik mengidentifikasi stadium penyakit ginjal yang mendasari dan konteks terapi penggantinya, yang menjadi akar penyebab gejala kelelahan yang diintervensi.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23470 | 02 Jan 2026
Klinis : pasien ckd yang menjalani hemodialisis mengalami kelelahan, terapi pijat dilakukan sebagai bentuk intervensi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Kelelahan pada Pasien CKD yang Menjalani Hemodialisis
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Kelelahan
Kode SLKI: L.08015
Deskripsi : Kelelahan Terkontrol
Kode SIKI: I.01290
Deskripsi : Manajemen Kelelahan
Kondisi: Kelelahan pada Pasien CKD yang Menjalani Hemodialisis
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Kelelahan adalah perasaan lelah yang mendalam dan berkepanjangan yang mengganggu kemampuan individu untuk berfungsi dalam aktivitas kehidupan sehari-hari dan tidak sebanding dengan aktivitas yang baru saja dilakukan.
Kode SLKI: L.08015
Deskripsi : Kelelahan Terkontrol didefinisikan sebagai keadaan di mana pasien melaporkan penurunan perasaan lelah yang berlebihan dan menunjukkan peningkatan kemampuan untuk melakukan aktivitas yang diinginkan. Kriteria hasilnya meliputi: 1) Pasien dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang memperberat kelelahan, 2) Pasien melaporkan peningkatan tingkat energi, 3) Pasien mampu berpartisipasi dalam aktivitas kehidupan sehari-hari yang penting baginya, 4) Pasien menunjukkan penggunaan strategi koping yang efektif untuk menghemat energi, dan 5) Pasien menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil selama dan setelah aktivitas. Pada konteks pasien hemodialisis, terkontrolnya kelelahan juga berarti pasien dapat melalui sesi dialisis dengan lebih nyaman dan memiliki cadangan energi untuk aktivitas pasca-dialisis.
Kode SIKI: I.01290
Deskripsi : Manajemen Kelelahan adalah intervensi keperawatan yang komprehensif untuk membantu pasien dalam mengatasi kelelahan kronis. Intervensi ini mencakup: 1) **Pengkajian Mendalam**: Memantau tingkat kelelahan menggunakan skala yang valid, menilai pola tidur, status nutrisi, kadar laboratorium (seperti hemoglobin, ureum, kreatinin), dan respons emosional terhadap penyakit dan terapi. 2) **Edukasi**: Mengajarkan pasien dan keluarga tentang hubungan antara CKD, hemodialisis, dan kelelahan; teknik penghematan energi (seperti pacing activity, istirahat yang teratur, delegasi tugas); serta pentingnya kepatuhan terhadap regimen pengobatan (seperti ESA untuk anemia, kontrol fosfat). 3) **Intervensi Non-Farmakologis**: Mendorong dan memfasilitasi terapi komplementer seperti **terapi pijat (massage therapy)**. Pijat bertujuan untuk meningkatkan sirkulasi darah, mengurangi ketegangan otot, meningkatkan relaksasi, menurunkan kecemasan, dan meningkatkan kualitas tidur, yang secara keseluruhan dapat memulihkan energi. 4) **Dukungan Psikososial**: Memberikan konseling dan menciptakan lingkungan yang suportif untuk mengatasi perasaan frustrasi, ketergantungan, atau depresi yang sering menyertai kelelahan kronis. 5) **Kolaborasi**: Bekerja sama dengan tim gizi untuk memastikan asupan protein dan kalori yang adekuat, dengan dokter untuk mengoptimalkan manajemen anemia dan keseimbangan elektrolit, serta dengan terapis fisik untuk menyusun program latihan ringan yang aman. Intervensi ini bersifat individual, berkelanjutan, dan dievaluasi secara berkala untuk menilai efektivitasnya dalam meningkatkan kualitas hidup pasien.
-
Article No. 23471 | 02 Jan 2026
Klinis : Vertigo pusing berputar, penglihatan kabur, telinga berdenging, mual muntah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Risiko cedera adalah keadaan dimana individu rentan mengalami cedera fisik akibat faktor internal dan/atau eksternal yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan. Pada kasus vertigo dengan gejala pusing berputar, penglihatan kabur, telinga berdenging, mual, dan muntah, risiko cedera sangat tinggi karena gangguan keseimbangan, persepsi sensorik, dan penurunan kesadaran terhadap lingkungan. Gangguan pada sistem vestibular (telinga bagian dalam) yang menyebabkan vertigo secara langsung mengancam stabilitas postural dan koordinasi, meningkatkan kemungkinan terjatuh, terbentur, atau kecelakaan lainnya. Gejala penglihatan kabur memperparah situasi dengan mengurangi kemampuan untuk menilai jarak dan mengenali bahaya di sekitarnya. Mual dan muntah dapat menyebabkan kelemahan, dehidrasi, dan penurunan konsentrasi, yang semakin mengganggu kemampuan individu untuk melindungi dirinya sendiri. Oleh karena itu, diagnosa keperawatan ini menekankan pada identifikasi faktor risiko dan implementasi intervensi pencegahan untuk meminimalkan potensi bahaya.
Kode SLKI: 0710
Deskripsi : SLKI 0710 berfokus pada Pencegahan Risiko Cedera. Tujuan utamanya adalah agar pasien terhindar dari cedera selama mengalami episode vertigo. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: pasien dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang meningkatkan risiko cedera (seperti cahaya redup, lantai licin, atau aktivitas tiba-tiba), pasien dan keluarga mampu mendemonstrasikan tindakan pencegahan cedera (seperti menggunakan bantuan saat ambulasi, menjaga lingkungan tetap aman, dan posisi tidur yang tepat), serta pasien melaporkan tidak mengalami cedera fisik seperti jatuh, terbentur, atau luka. Perawat akan mengevaluasi keberhasilan intervensi berdasarkan kemampuan pasien dalam memodifikasi lingkungan dan perilakunya untuk mengurangi ancaman, serta tetap aman selama serangan vertigo berlangsung. Pencapaian SLKI ini ditandai dengan tidak adanya insiden cedera dan meningkatnya kewaspadaan pasien terhadap keselamatan diri.
Kode SIKI: 0690
Deskripsi : SIKI 0690 adalah Pengelolaan Lingkungan: Keamanan. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan perawat yang terencana dan sistematis untuk menciptakan dan mempertahankan lingkungan yang aman bagi pasien dengan vertigo. Tindakan spesifik meliputi: (1) Melakukan penilaian risiko jatuh secara komprehensif, termasuk mengevaluasi faktor intrinsik (gejala vertigo, kelemahan) dan ekstrinsik (pencahayaan, kondisi lantai, hambatan). (2) Memodifikasi lingkungan fisik, seperti menempatkan pasien di tempat tidur dengan pagar terpasang, menjaga sisi tempat tidur tetap rendah, menyediakan pencahayaan yang memadai (terutama di malam hari), menyingkirkan barang-barang yang dapat membuat tersandung, dan memasang pegangan tangan di kamar mandi. (3) Menginstruksikan pasien untuk menghindari perubahan posisi yang tiba-tiba (duduk atau berdiri secara perlahan), menggunakan alat bantu jalan jika diperlukan, dan segera duduk atau berbaring jika gejala vertigo muncul. (4) Memastikan bel pemanggil dalam jangkauan pasien dan barang-barang kebutuhan sehari-hari mudah dijangkau. (5) Mengkolaborasikan pemberian terapi farmakologi (seperti antivertigo atau antiemetik) untuk mengurangi gejala yang menjadi pemicu risiko. (6) Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai mekanisme terjadinya vertigo dan hubungannya dengan risiko cedera, serta melatih teknik ambulasi yang aman. Intervensi ini bersifat preventif dan protektif, bertujuan untuk mengendalikan faktor risiko sebelum cedera terjadi.