Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23762 | 21 Jan 2026
Klinis : *KASUS* Ny. S (68 tahun) adalah lansia dengan riwayat Diabetes Mellitus Tipe 2 sejak 5 tahun . Lansia mengeluh sering haus, sering buang air kecil pada malam hari, cepat lelah, dan kesemutan pada kedua kaki. Lansia jarang berolahraga, sering lupa minum obat, serta masih mengonsumsi makanan manis. Pemeriksaan gula darah sewaktu menunjukkan 280 mg/dL dan aktivitas fisik tampak menurun. Dalam aktivitas sehari-hari, Ny. S masih mampu melakukan ADL ringan, namun membutuhkan bantuan pada beberapa aktivitas tertentu. Lansia memerlukan bantuan saat mandi karena cepat lelah dan takut terpeleset, serta membutuhkan bantuan saat memakai pakaian dan alas kaki akibat kesemutan pada kaki. Lansia juga memerlukan pendampingan saat berjalan ke kamar mandi, terutama pada malam hari, untuk mencegah risiko jatuh. Selain itu, lansia memerlukan bantuan dalam perawatan kaki, seperti membersihkan dan mengeringkan sela jari kaki serta pemotongan kuku, karena belum memahami perawatan kaki diabetik yang benar.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko terhadap variasi kadar glukosa darah dari rentang normal.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol kadar glukosa darah. Tujuan: Kadar glukosa darah dalam rentang yang ditetapkan. Kriteria hasil: 1) Menyebutkan tanda dan gejala hipoglikemia dan hiperglikemia. 2) Menyebutkan faktor yang mempengaruhi kadar glukosa darah. 3) Mempertahankan kadar glukosa darah dalam rentang yang ditetapkan. 4) Melaporkan tidak ada tanda dan gejala hipoglikemia dan hiperglikemia.
Kode SIKI: 3402
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia. Tindakan: 1) Monitor tanda dan gejala hiperglikemia (poliuria, polidipsia, polifagia, lemas, penurunan berat badan, penglihatan kabur). 2) Monitor hasil pemeriksaan glukosa darah. 3) Kolaborasi pemberian terapi insulin atau obat anti diabetik oral sesuai indikasi. 4) Ajarkan cara memantau glukosa darah mandiri. 5) Ajarkan tentang terapi nutrisi medis: jenis, jumlah, dan jadwal makan. 6) Anjurkan aktivitas fisik secara teratur. 7) Ajarkan manajemen stres. 8) Diskusikan pentingnya kepatuhan minum obat. 9) Rujuk ke tim diabetes atau edukator diabetes bila diperlukan.
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Risiko meningkat terhadap respons fisiologis dan psikologis yang dapat mengakibatkan cedera fisik.
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Kontrol risiko cedera. Tujuan: Pasien bebas dari cedera. Kriteria hasil: 1) Mengidentifikasi faktor risiko cedera di lingkungan. 2) Memodifikasi lingkungan untuk mengurangi risiko cedera. 3) Mendemonstrasikan perilaku untuk mencegah cedera. 4) Tidak mengalami cedera.
Kode SIKI: 6490
Deskripsi : Pencegahan Jatuh. Tindakan: 1) Identifikasi faktor risiko jatuh (usia lanjut, kelemahan, gangguan sensasi, hipoglikemia/hiperglikemia, gangguan penglihatan, lingkungan). 2) Monitor kondisi yang meningkatkan risiko jatuh (pusing, lemas, hipotensi). 3) Tempatkan pasien di ruangan yang mudah diawasi. 4) Pertahankan lingkungan yang aman (pencahayaan adekuat, lantai tidak licin, jalur bebas hambatan, pegangan di kamar mandi/toilet). 5) Anjurkan menggunakan alas kaki yang aman dan nyaman. 6) Anjurkan meminta bantuan saat beraktivitas jika lemas atau pusing. 7) Ajarkan teknik berpindah posisi atau berjalan dengan aman. 8) Tempatkan bel atau alat komunikasi dalam jangkauan. 9) Kolaborasi pemberian alat bantu jalan jika diperlukan. 10) Edukasi keluarga/pengasuh tentang pencegahan jatuh.
Kondisi: Defisit Perawatan Diri: Mandi/Berhias, Berpakaian, Toileting
Kode SDKI: 0010
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas mandi, berhias, berpakaian, dan toileting secara mandiri.
Kode SLKI: 0101
Deskripsi : Perawatan diri: Aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS). Tujuan: Kebutuhan perawatan diri terpenuhi. Kriteria hasil: 1) Mempertahankan kebersihan dan kerapian diri. 2) Mengenakan pakaian yang sesuai. 3) Melakukan eliminasi dengan aman dan mandiri sesuai kemampuan. 4) Mengungkapkan perasaan nyaman dengan penampilan diri.
Kode SIKI: 1660
Deskripsi : Bantuan Perawatan Diri. Tindakan: 1) Kaji kemampuan pasien dalam melakukan AKS (mandi, berpakaian, toileting). 2) Bantu pasien dalam melakukan AKS sesuai kebutuhan dan tingkat kemandirian (mandi dengan duduk, memakai pakaian sederhana). 3) Sediakan alat bantu sesuai kebutuhan (kursi mandi, pegangan, alat bantu berpakaian). 4) Anjurkan menggunakan pakaian dan alas kaki yang mudah dipakai dan aman. 5) Bantu dan ajarkan perawatan kaki diabetik (mencuci, mengeringkan sela jari, memeriksa kaki). 6) Kolaborasi dengan keluarga atau pengasuh untuk memberikan bantuan perawatan diri. 7) Berikan pujian atas usaha kemandirian yang dilakukan pasien. 8) Rujuk ke terapis okupasi jika diperlukan untuk pelatihan AKS.
Kondisi: Ketidakefektifan Manajemen Regimen Terapeutik
Kode SDKI: 0009
Deskripsi Singkat: Kesulitan untuk mengintegrasikan program pengobatan ke dalam kegiatan sehari-hari sehingga tidak terpenuhi tujuan kesehatan.
Kode SLKI: 1815
Deskripsi : Kepatuhan terhadap regimen terapeutik. Tujuan: Pasien patuh terhadap regimen terapeutik. Kriteria hasil: 1) Menyebutkan regimen terapeutik yang harus dijalani. 2) Menyebutkan manfaat kepatuhan terhadap regimen terapeutik. 3) Menyebutkan dampak ketidakpatuhan terhadap regimen terapeutik. 4) Mendemonstrasikan perilaku kepatuhan terhadap regimen terapeutik.
Kode SIKI: 5246
Deskripsi : Peningkatan Kepatuhan. Tindakan: 1) Kaji pengetahuan, sikap, dan perilaku pasien terkait regimen terapi Diabetes Mellitus. 2) Identifikasi faktor penghambat kepatuhan (lupa, efek samping obat, keyakinan, dukungan keluarga, biaya). 3) Diskusikan pentingnya kepatuhan minum obat, diet, dan olahraga secara teratur. 4) Ajarkan cara mengingat minum obat (gunakan kotak pil, pengingat di ponsel, kaitkan dengan aktivitas rutin). 5) Diskusikan dampak konsumsi makanan manis terhadap kadar gula darah. 6) Bantu pasien dan keluarga menyusun jadwal aktivitas fisik ringan yang aman dan realistis. 7) Libatkan keluarga dalam mengingatkan dan mendukung kepatuhan. 8) Berikan pujian atas setiap usaha peningkatan kepatuhan. 9) Rujuk ke edukator diabetes untuk edukasi berkelanjutan.
-
Article No. 23763 | 21 Jan 2026
Klinis : Anak usia 5 tahun dengan PJB sianotik (Tetralogi of Fallot) datang ke poli dengan keluhan cepat lelah dan sering jongkok setelah bermain. Orang tua mengatakan anak sering tampak kebiruan pada bibir dan kuku. Saturasi oksigen 85% dan CRT memanjang. Apakah Diagnosis keperawatan utama pada kasus tersebut?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas adalah keadaan dimana terjadi gangguan pada proses oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida antara alveoli dan sistem vaskular pulmonal. Pada kasus Tetralogy of Fallot (TOF), gangguan ini bersifat struktural dan kronis, disebabkan oleh kombinasi defek jantung: stenosis pulmonal, hipertrofi ventrikel kanan, defek septum ventrikel (VSD), dan overriding aorta. Kombinasi ini menyebabkan percampuran darah terdeoksigenasi (sianotik) dan darah beroksigen di ventrikel, sehingga darah dengan saturasi oksigen rendah dipompa ke sirkulasi sistemik. Manifestasi klinis yang muncul pada pasien anak ini—seperti cepat lelah, sering jongkok (squatting), sianosis pada bibir dan kuku, saturasi oksigen 85% (normal >95%), dan capillary refill time (CRT) memanjang—secara langsung mencerminkan kegagalan pertukaran gas yang adekuat di tingkat jaringan. Squatting adalah mekanisme kompensasi fisiologis yang unik pada TOF; posisi ini meningkatkan resistensi vaskular sistemik, sehingga mengurangi aliran darah dari kanan-ke-kiri melalui VSD dan meningkatkan aliran darah ke paru-paru, yang pada akhirnya meningkatkan pertukaran gas untuk sementara. Saturasi oksigen yang rendah (85%) adalah indikator langsung dari hipoksemia kronis akibat percampuran darah. CRT memanjang menunjukkan perfusi jaringan perifer yang buruk, yang merupakan konsekuensi dari penurunan kapasitas pengangkutan oksigen darah dan curah jantung yang mungkin terganggu. Diagnosis keperawatan ini menjadi utama karena intervensi keperawatan berfokus pada meminimalkan konsumsi oksigen, memantau tanda-tanda hipoksia berat (hypercyanotic spell), dan memfasilitasi pola posisi yang dapat meningkatkan pertukaran gas.
Kode SLKI: L.15016
Deskripsi : SLKI L.15016 adalah Luaran Keperawatan dengan judul "Perbaikan Pertukaran Gas". Luaran yang diharapkan adalah bahwa pasien menunjukkan perbaikan dalam pertukaran gas, yang ditandai dengan kriteria hasil sebagai berikut: 1) Saturasi oksigen dalam rentang yang diharapkan (target realistis untuk kondisi TOF pra-bedah mungkin mendekati 90-92% dengan intervensi); 2) Tidak adanya sianosis (atau pengurangan signifikan pada sianosis sentral); 3) Pernapasan dalam rentang normal sesuai usia (tidak ada distress pernapasan signifikan seperti takipnea atau dyspnea saat istirahat); 4) Gas darah arteri dalam rentang normal (meski pada anak ini mungkin lebih sering dimonitor dengan pulse oximetry, nilai analisa gas darah akan menunjukkan peningkatan PaO2 dan penurunan PaCO2 jika terjadi perbaikan); dan 5) Kesadaran baik (tanda bahwa oksigenasi serebral adekuat). Pada konteks kasus, target jangka pendek adalah meningkatkan saturasi oksigen dari 85% ke level yang lebih aman, mengurangi frekuensi dan intensitas sianosis, serta mengedukasi orang tua dan anak (jika mungkin) untuk mengenali dan merespons tanda hipoksia. Peningkatan saturasi akan berdampak langsung pada penurunan kelelahan dan kemampuan melakukan aktivitas ringan tanpa harus sering jongkok. Pemantauan kesadaran juga krusial karena hipoksia berat dapat menyebabkan iritabilitas, letargi, atau bahkan sinkop.
Kode SIKI: I.15259
Deskripsi : SIKI I.15259 adalah Intervensi Keperawatan dengan judul "Manajemen Pertukaran Gas". Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan yang terencana dan ilmiah untuk mengatasi gangguan pertukaran gas. Tindakan spesifik yang relevan dengan kasus TOF pada anak ini meliputi: 1) Memonitor status pernapasan dan oksigenasi (frekuensi, irama, upaya napas, saturasi oksigen terus menerus, warna kulit/membran mukosa). 2) Memposisikan pasien untuk optimalisasi pertukaran gas. Posisi knee-chest atau squatting (jongkok) harus difasilitasi dan diakui sebagai mekanisme kompensasi yang penting saat anak mengalami distress; posisi ini dapat diadopsi dengan mendudukkan anak dalam pangkuan perawat/orang tua dengan lutut ditekuk ke dada. 3) Mengurangi konsumsi oksigen dengan meminimalkan aktivitas yang melelahkan, mengatur jadwal istirahat yang cukup, dan menciptakan lingkungan yang tenang untuk mencegah crying spells yang dapat memicu hypoxic spell. 4) Memberikan oksigen sesuai indikasi dan order dokter. Pemberian oksigen perlu hati-hati karena pada beberapa kasus TOF dapat mempengaruhi resistensi vaskular paru, namun umumnya diberikan untuk meredakan sianosis dan hipoksia. 5) Memonitor tanda-tanda hypercyanotic atau "tet spell" (episode sianosis berat, dispnea, penurunan kesadaran) dan bersiap dengan tindakan emergensi seperti posisi knee-chest, pemberian oksigen, morfin, atau beta-blocker sesuai protokol. 6) Melakukan edukasi kepada keluarga mengenai kondisi anak, tanda-tanda hipoksia yang harus diwaspadai, pentingnya posisi jongkok, kebutuhan hidrasi yang adekuat (dehidrasi dapat memperburuk spell), dan pentingnya menghindari pemicu. 7) Kolaborasi dengan tim medis untuk terapi farmakologi (seperti propranolol untuk mencegah spell) dan persiapan tindakan bedah korektif atau paliatif sebagai penanganan definitif. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan pemantauan klinis, tindakan kompensasi fisiologis, manajemen aktivitas, dan edukasi keluarga untuk mencapai luaran yang diharapkan.
-
Article No. 23764 | 21 Jan 2026
Klinis : Anak usia 6 tahun dirawat dengan edema periorbital, ascites, dan urin berbusa. Hasil urinalisis menunjukkan proteinuria masif. Masalah keperawatan utama pada kasus tersebut adalah… a. Nyeri akut b. Resiko infeksi c. Ketidakseimbangan nutrisi d. Kelebihan volume cairan e. Gangguan pertukaran gas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Kelebihan Volume Cairan
Kode SDKI: 0201
Deskripsi Singkat: Kelebihan volume cairan adalah peningkatan retensi cairan dan natrium yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk gangguan ginjal (seperti sindrom nefrotik), gagal jantung, sirosis hati, atau terapi farmakologis. Pada kasus anak dengan sindrom nefrotik, kondisi ini dimanifestasikan secara klinis melalui edema (seperti edema periorbital dan ascites) akibat hipoalbuminemia dan proteinuria masif yang menyebabkan penurunan tekanan onkotik plasma dan perpindahan cairan ke ruang interstisial serta rongga tubuh.
Kode SLKI: 0201
Deskripsi : SLKI 0201 bertujuan agar tercapainya keseimbangan volume cairan pada klien. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan) dalam rentang normal untuk usia; tidak ada edema atau edema berkurang (seperti penurunan lingkaran perut/ascites dan edema periorbital); berat badan stabil atau menuju berat badan ideal (pantau kenaikan berat badan yang cepat sebagai tanda retensi cairan); balance cairan (intake dan output) seimbang; bunyi napas bersih/jelas; dan membran mukosa lembab. Pada anak, pemantauan ketat terhadap perubahan berat badan harian adalah indikator yang sangat sensitif untuk menilai kelebihan atau pengurangan cairan.
Kode SIKI: 0201
Deskripsi : SIKI 0201 mencakup intervensi keperawatan untuk mengelola kelebihan volume cairan. Intervensi utamanya adalah: 1. Manajemen Cairan: Memantau balance cairan (intake dan output) secara ketat, menimbang berat badan setiap hari dengan timbangan yang sama dan pakaian yang serupa, serta membatasi asupan cairan dan natrium sesuai instruksi dokter. 2. Pemantauan Status Volume Cairan: Mengkaji tanda-tanda vital secara teratur, mengkaji adanya edema (lokasi, derajat, pitting), mengauskultasi bunyi napas (mencari tanda ronki/krekels akibat edema paru), dan mengkaji distensi vena leher serta ascites. 3. Posisi dan Perawatan Kulit: Meninggikan ekstremitas yang edema jika mungkin, mengubah posisi secara teratur untuk mencegah kerusakan kulit akibat edema, dan memberikan perawatan kulit untuk area yang edema. 4. Kolaborasi dan Edukasi: Berkolaborasi dalam pemberian terapi farmakologis (seperti diuretik, albumin) sesuai resep, memantau respons dan efek samping terapi. Memberikan edukasi pada keluarga tentang pentingnya pembatasan diet (garam, cairan), cara memantau tanda-tanda edema dan berat badan di rumah, serta pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan. Pada kasus sindrom nefrotik, pemantauan ketat terhadap proteinuria dan kadar albumin juga merupakan bagian penting dari manajemen kolaboratif. Intervensi ini harus dilakukan secara holistik dengan mempertimbangkan kondisi anak dan dukungan keluarga.
-
Article No. 23765 | 21 Jan 2026
Klinis : Seorang anak usia 7 tahun datang dengan keluhan badan terasa lemas, sering mimisan, demam berulang, dan hasil laboratorium menunjukkan leukosit abnormal. Masalah keperawatan prioritas pada anak tersebut adalah…
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko meningkat terhadap invasi dan multiplikasi patogen.
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Kontrol Infeksi: Tindakan untuk mengurangi atau mencegah infeksi, yang dapat ditandai dengan: (1) Mempertahankan teknik aseptik, (2) Mempertahankan kebersihan diri, (3) Mempertahankan lingkungan yang bersih, (4) Meningkatkan imunitas, (5) Mencegah kontak dengan sumber infeksi, (6) Mengurangi risiko penularan, (7) Mengidentifikasi tanda dan gejala infeksi, (8) Memantau hasil pemeriksaan penunjang terkait infeksi.
Kode SIKI: 3401
Deskripsi : Manajemen Infeksi: Tindakan untuk membatasi penyebaran organisme infeksius, yang dapat ditandai dengan: (1) Mengidentifikasi faktor risiko infeksi, (2) Memantau tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal, (3) Memantau hasil laboratorium yang mengindikasikan infeksi, (4) Mempertahankan dan/atau meningkatkan pertahanan tubuh terhadap infeksi, (5) Mencegah paparan patogen pada orang lain, (6) Mengajarkan cara menghindari infeksi, (7) Kolaborasi pemberian terapi untuk mengatasi infeksi, (8) Mengurangi faktor yang dapat meningkatkan risiko infeksi.
-
Article No. 23766 | 21 Jan 2026
Klinis : Seorang anak usia 7 tahun datang dengan keluhan badan terasa lemas, sering mimisan, demam berulang, dan hasil laboratorium menunjukkan leukosit abnormal. Masalah keperawatan prioritas pada anak tersebut adalah… a. Nyeri kronis b. Defisit pengetahuan c. Gangguan mobilitas d. Resiko perdarahan e. Gangguan nutrisi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Resiko Perdarahan
Kode SDKI: 0208
Deskripsi Singkat: Resiko perdarahan adalah keadaan rentan terhadap kehilangan darah yang dapat membahayakan kesehatan atau kehidupan, yang dapat terjadi akibat gangguan pada mekanisme hemostasis (pembekuan darah), trauma, atau prosedur invasif.
Kode SLKI: 3401
Deskripsi : SLKI 3401: Manajemen Perdarahan. Tujuan dari SLKI ini adalah agar pasien tidak mengalami perdarahan atau perdarahan dapat dikendalikan dengan kriteria hasil: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal, 2) Tidak ada tanda perdarahan aktif (seperti petekie, ekimosis, hematoma, mimisan, perdarahan gusi, hematuria, hematemesis, melena), 3) Hasil pemeriksaan laboratorium terkait hemostasis (seperti jumlah trombosit, waktu perdarahan, waktu protrombin, APTT) mendekati atau dalam rentang normal, 4) Pasien dan keluarga melaporkan tidak ada perdarahan yang tidak biasa, dan 5) Pasien dan keluarga memahami tindakan pencegahan untuk menghindari cedera/trauma.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : SIKI 4201: Pemantauan Perdarahan. Intervensi keperawatan ini meliputi serangkaian tindakan sistematis untuk mengidentifikasi dan mencegah komplikasi perdarahan. Deskripsi lengkapnya mencakup: 1) Mengkaji faktor risiko perdarahan (misalnya, riwayat penyakit, obat-obatan seperti antikoagulan, hasil laboratorium abnormal seperti trombositopenia atau gangguan koagulasi). 2) Memantau tanda-tanda vital secara teratur (tekanan darah, nadi, pernapasan) untuk mendeteksi tanda awal syok hipovolemik akibat perdarahan (seperti takikardia, hipotensi). 3) Melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh untuk mendeteksi tanda perdarahan, baik yang nyata (overt) seperti mimisan, perdarahan dari tempat injeksi, atau tersembunyi (covert) seperti memeriksa kulit dan membran mukosa untuk petekie atau ekimosis, memeriksa warna urine (hematuria) dan feses (melena atau hematokezia), serta memeriksa adanya nyeri tekan atau pembengkakan yang mungkin mengindikasikan perdarahan internal. 4) Memantau hasil pemeriksaan laboratorium serial terkait hemostasis (hitung darah lengkap, trombosit, waktu protrombin/INR, APTT) dan melaporkan setiap penyimpangan. 5) Melindungi pasien dari trauma atau cedera yang dapat menyebabkan perdarahan, misalnya dengan menghindari prosedur invasif yang tidak perlu, menggunakan sikat gigi yang sangat lembut, menghindari obat yang mempengaruhi agregasi trombosit (seperti aspirin), dan menggunakan bantun pelindung jika diperlukan. 6) Mengajarkan pada pasien dan keluarga untuk mengenali tanda dan gejala perdarahan (seperti memar yang tidak biasa, mimisan, gusi berdarah, darah dalam urine atau feses, sakit kepala hebat, lemah, pusing) dan kapan harus segera mencari pertolongan medis. 7) Mempersiapkan dan mengelola terapi pengganti atau obat hemostatik sesuai instruksi dokter (seperti transfusi trombosit, plasma beku segar, atau pemberian asam traneksamat). 8) Memberikan dukungan psikologis kepada pasien dan keluarga untuk mengurangi kecemasan terkait ketakutan akan perdarahan. Pada kasus anak dengan leukemia yang dicurigai dari gejala lemah, demam berulang, mimisan, dan leukosit abnormal, intervensi ini menjadi sangat krusial karena penyakit dasarnya menyebabkan gangguan produksi sel darah normal di sumsum tulang, termasuk trombosit yang berperan dalam pembekuan darah, sehingga anak berada dalam risiko perdarahan yang tinggi.
-
Article No. 23767 | 21 Jan 2026
Klinis : Seorang anak laki laki usia 9 tahun dibawa ke poli tumbuh kembang karena anaknya sulit mengikuti Pelajaran disekolah, sering membutuhkan bantuan saat mandi dan berpakaian, sulit beriteraksi dengan temannya. Hasil pemeriksaan psikologis menunjukan IQ; 45 serta gangguan fungsi adaptif, sosial dan perawatan diri. Apakah masalah keperawatan yang tepat pada kasus tersebut? a. Kerusakan integritas kulit b. Defisit perawatan diri c. Gangguan perfusi jaringan d. Intoleransi aktivitas e. Nyeri Akut
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gangguan Intelektual (Intellectual Disability), Derajat Sedang
Kode ICD-10: F71
Deskripsi Singkat : Gangguan Intelektual (Intellectual Disability) adalah kondisi yang ditandai dengan keterbatasan signifikan dalam fungsi intelektual (seperti penalaran, pemecahan masalah, perencanaan) dan perilaku adaptif yang mencakup keterampilan konseptual, sosial, dan praktis. Kondisi ini dimulai selama masa perkembangan. Berdasarkan deskripsi kasus, anak laki-laki usia 9 tahun dengan IQ 45 dan gangguan fungsi adaptif yang meliputi kesulitan dalam pembelajaran akademik, interaksi sosial, serta perawatan diri (mandi dan berpakaian), memenuhi kriteria untuk Gangguan Intelektual Derajat Sedang. Kode ICD-10 F71 secara spesifik mengklasifikasikan Gangguan Intelektual Derajat Sedang, di mana tingkat kecerdasan umum diperkirakan berada dalam kisaran 35-49. Individu dengan kondisi ini biasanya mengalami keterlambatan yang nyata dalam perkembangan selama masa kanak-kanak, tetapi sebagian besar dapat mencapai kemampuan untuk merawat diri sendiri dan keterampilan praktis dengan pelatihan dan dukungan yang memadai. Mereka memerlukan tingkat dukungan yang signifikan dalam setting akademik, sosial, dan kehidupan sehari-hari. Masalah keperawatan yang paling tepat terkait langsung dengan manifestasi klinis ini adalah Defisit Perawatan Diri (b), yang merujuk pada ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas hidup sehari-hari seperti mandi, berpakaian, dan kebersihan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23768 | 21 Jan 2026
Klinis : Seorang anak laki laki usia 9 tahun dibawa ke poli tumbuh kembang karena anaknya sulit mengikuti Pelajaran disekolah, sering membutuhkan bantuan saat mandi dan berpakaian, sulit beriteraksi dengan temannya. Hasil pemeriksaan psikologis menunjukan IQ; 45 serta gangguan fungsi adaptif, sosial dan perawatan diri. Apakah masalah keperawatan yang tepat pada kasus tersebut? a. Kerusakan integritas kulit b. Defisit perawatan diri c. Gangguan perfusi jaringan d. Intoleransi aktivitas e. Nyeri Akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Perawatan Diri
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Defisit Perawatan Diri adalah keadaan ketika individu mengalami ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri (mandi, berpakaian, toileting, makan) secara mandiri dan memadai, yang dapat disebabkan oleh gangguan fisik, kognitif, atau psikososial. Pada kasus ini, defisit perawatan diri terkait dengan gangguan perkembangan intelektual (IQ 45) dan gangguan fungsi adaptif, yang ditandai dengan anak sering membutuhkan bantuan saat mandi dan berpakaian.
Kode SLKI: L.14001 - L.14008
Deskripsi : SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) untuk Defisit Perawatan Diri terdiri dari serangkaian luaran yang diharapkan. Secara umum, luaran yang dituju adalah klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri sesuai kemampuannya. Beberapa indikator kunci yang relevan dengan kasus ini meliputi: Klien menunjukkan kemauan untuk melakukan perawatan diri (L.14001), klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri dengan bantuan sesuai kebutuhan (L.14002), dan klien mampu menggunakan alat bantu untuk aktivitas perawatan diri jika diperlukan (L.14003). Pada anak dengan gangguan perkembangan intelektual, tujuannya bukanlah kemandirian penuh seperti anak seusianya, tetapi optimalisasi kemampuan sesuai potensi dan peningkatan partisipasi dalam aktivitas perawatan diri dengan bimbingan dan dukungan. Luaran juga mencakup peningkatan rasa percaya diri dan harga diri klien karena mampu melakukan tugas-tugas tersebut (L.14008). Perawat mengevaluasi pencapaian luaran ini dengan skala dari 1 (tidak pernah) hingga 5 (selalu).
Kode SIKI: I.13049 - I.13060
Deskripsi : SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk mengatasi Defisit Perawatan Diri melibatkan intervensi yang komprehensif dan suportif. Intervensi dimulai dengan mengajarkan aktivitas perawatan diri secara bertahap (I.13049), yang berarti memecah aktivitas seperti mandi atau berpakaian menjadi langkah-langkah kecil yang mudah diikuti. Perawat mendemonstrasikan cara melakukan aktivitas (I.13050) dan memberikan latihan yang repetitif. Memberikan pujian dan reinforcement positif atas setiap usaha dan keberhasilan klien sangat penting (I.13051). Perawat juga perlu memodifikasi lingkungan untuk memudahkan klien, seperti menyediakan pakaian yang mudah dipakai (I.13052) dan alat bantu jika diperlukan. Kolaborasi dengan keluarga (I.13055) adalah kunci, dengan mendidik keluarga tentang cara membimbing dan membantu anak tanpa menyebabkan ketergantungan. Selain intervensi langsung untuk perawatan diri, pada kasus ini juga diperlukan intervensi terkait Gangguan Interaksi Sosial (kode SDKI: D.0090) karena anak sulit berinteraksi dengan teman. Intervensi untuk itu termasuk melatih keterampilan sosial (I.25066), memberikan kesempatan untuk interaksi terstruktur, dan kolaborasi dengan terapis. Pendekatan holistik dengan menggabungkan intervensi untuk defisit perawatan diri dan interaksi sosial akan lebih efektif dalam menangani kebutuhan anak secara keseluruhan, dengan selalu mempertimbangkan tingkat perkembangan kognitif dan kemampuan adaptif anak.
-
Article No. 23769 | 21 Jan 2026
Klinis : Bayi usia 7 bulan dengan PJB dirawat karena sesak napas yang semakin memberat. Pemeriksaan menunjukkan edema tungkai, hepatomegali, takipnea, dan nadi lemah. Orang tua menyatakan bayi tampak lebih rewel sejak dua hari terakhir. Apakah Diagnosis keperawatan utama pada kasus tersebut? Diagnosis keperawatan utama berdasarkan SDKI adalah: a. Pola napas tidak efektif b. Kelebihan volume cairan c. Gangguan perfusi jaringan d. Penurunan curah jantung e. Risiko gangguan keseimbangan cairan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Penurunan Curah Jantung adalah keadaan dimana volume darah yang dipompa oleh jantung per menit tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Pada kasus bayi 7 bulan dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB), kondisi ini merupakan inti dari masalah. PJB menyebabkan kelainan struktural jantung yang mengganggu efisiensi pompa jantung. Manifestasi klinis seperti sesak napas yang memberat, takipnea, nadi lemah, edema tungkai, dan hepatomegali semuanya merupakan konsekuensi dari kegagalan jantung dalam memompa darah secara efektif. Curah jantung yang menurun menyebabkan aliran darah ke jaringan berkurang (mengarah pada gangguan perfusi), sementara darah "tertahan" atau mengalami kongesti di pembuluh balik (vena) yang mengakibatkan kelebihan volume cairan. Oleh karena itu, "Penurunan Curah Jantung" dianggap sebagai diagnosis keperawatan utama karena menjadi penyebab patofisiologis langsung dari sebagian besar gejala yang dialami pasien.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI untuk Penurunan Curah Jantung berfokus pada upaya mempertahankan atau meningkatkan curah jantung agar memadai untuk perfusi jaringan. Intervensi keperawatan yang direncanakan meliputi: (1) Memantau tanda-tanda vital, status pernapasan, dan oksigenasi secara ketat untuk mendeteksi perubahan dini. (2) Memposisikan bayi dengan kepala lebih tinggi (semi-Fowler) untuk memudahkan pernapasan dan mengurangi beban jantung. (3) Mengatur pemberian cairan dan obat-obatan (seperti diuretik, inotropik) sesuai resep dokter dengan ketat untuk mengurangi beban volume dan meningkatkan kontraktilitas jantung. (4) Meminimalkan stres dan kebutuhan energi bayi dengan mengatur lingkungan yang tenang, melakukan perawatan terkonsolidasi, dan memfasilitasi istirahat yang cukup. (5) Memantau balance cairan (intake dan output) serta tanda-tanda kelebihan cairan seperti edema dan berat badan. (6) Memberikan edukasi dan dukungan emosional kepada orang tua mengenai kondisi bayi, perawatan, dan tanda-tanda kegawatan yang perlu dilaporkan. Tujuan akhirnya adalah tercapainya tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk usia, penurunan gejala kongesti (edema, hepatomegali), serta peningkatan perfusi perifer yang ditandai dengan nadi yang kuat dan pengisian kapiler yang baik.
Kode SIKI: I.08006, I.08007, I.08008, I.08009, I.09002
Deskripsi : SIKI merupakan kriteria hasil yang diharapkan dari pelaksanaan SLKI. Pada kasus ini, kriteria hasil yang ingin dicapai meliputi: (1) I.08006: Tanda-tanda vital dalam rentang normal yang berarti frekuensi jantung, pernapasan, dan tekanan darah bayi stabil sesuai usia, menunjukkan beban kerja jantung yang berkurang. (2) I.08007: Nadi perifer teraba kuat dan simetris, menunjukkan peningkatan curah jantung dan aliran darah ke ekstremitas. (3) I.08008: Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, sebagai indikator memadainya perfusi jaringan perifer. (4) I.08009: Kulit hangat dan kering, yang mencerminkan sirkulasi perifer yang baik dan tidak adanya vasokonstriksi kompensasi yang ekstrem. (5) I.09002: Tidak menunjukkan tanda-tanda kelebihan volume cairan seperti edema, hepatomegali, dan bunyi napas tambahan (ronkhi/krekels). Pencapaian SIKI ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil dalam menangani penurunan curah jantung, mengurangi gejala kongestif, dan akhirnya meningkatkan kenyamanan serta status klinis bayi. Pemantauan terus-menerus terhadap SIKI ini menjadi evaluasi objektif keberhasilan asuhan keperawatan.
-
Article No. 23770 | 21 Jan 2026
Klinis : Seorang anak laki-laki usia 3 tahun datang ke poli tumbuh kembang dengan keluhan belum bisa berkomunikasi dengan baik, anak hanya bisa berkomunikasi dengan mengucapkan 3-4 kata saja. Hasil pengkajian didapatkan bahwa ayah dan ibunya jarang mengajak anaknya berbicara karena sibuk bekerja. Apakah intervensi yang tepat pada kasus tersebut? a. Menganjurkan ibu untuk membawa anak ke sekolah luar biasa b. Mengajari anak untuk belajar Bahasa yang berbeda supaya lebih pandai c. Menganjurkan ibu untuk sering melatih anak berkomunikasi dan belajar kata baru. d. Menstimulasi anak dengan memberikan banyak mainan. e. Menganjurkan ibu supaya mempercayakan anak pada petugas Kesehatan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perkembangan Bahasa dan Bicara Tertunda
Kode SDKI: 00262
Deskripsi Singkat: Risiko gangguan pada kemampuan menerima dan mengekspresikan bahasa, termasuk bentuk verbal, nonverbal, dan tertulis, yang dapat memengaruhi komunikasi dan interaksi sosial.
Kode SLKI: 0900
Deskripsi : Perkembangan Komunikasi. Tujuan dari SLKI ini adalah untuk mengoptimalkan kemampuan berkomunikasi pasien, baik secara reseptif (memahami) maupun ekspresif (menyampaikan). Pada kasus anak usia 3 tahun, kriteria hasil yang diharapkan meliputi: anak mampu memahami instruksi sederhana, kosakata bertambah sesuai usia, anak mulai merangkai dua kata atau lebih, anak menggunakan komunikasi verbal untuk menyampaikan kebutuhan, serta meningkatnya frekuensi dan kualitas interaksi komunikasi dengan orang tua atau pengasuh. SLKI ini menjadi pedoman untuk mengevaluasi keberhasilan intervensi keperawatan yang diberikan.
Kode SIKI: 4310
Deskripsi : Terapi Permainan: Kognitif. Intervensi ini merupakan penggunaan aktivitas permainan yang terencana dan bertujuan untuk meningkatkan perkembangan kognitif, termasuk perkembangan bahasa dan bicara. Pada kasus ini, SIKI 4310 diimplementasikan dengan tindakan-tindakan spesifik yang terstruktur. Pertama, perawat melakukan asesmen lebih mendalam tentang pola komunikasi di rumah, preferensi anak, dan tahap perkembangan saat ini. Kedua, perawat mendemonstrasikan dan mengajarkan teknik stimulasi bahasa melalui permainan kepada orang tua (ibu/ayah), seperti: (1) Teknik paralel talk, yaitu orang tua mengucapkan kata yang menggambarkan apa yang sedang dilakukan anak (misal, "Adik sedang menyusun balok merah"). (2) Teknik self-talk, yaitu orang tua mengucapkan kata yang menggambarkan apa yang mereka sendiri lakukan (misal, "Ibu sedang melipat baju adik"). (3) Teknik ekspansi, yaitu ketika anak mengucapkan satu kata (contoh: "bola"), orang tua merespons dengan merangkainya menjadi frasa ("Ya, bola merah adik"). (4) Membacakan buku cerita bergambar dengan intonasi menarik dan menunjuk gambar sambil menyebutkan namanya. (5) Bermain pura-pura (pretend play) seperti telepon-teleponan atau masak-masakan yang mendorong anak untuk berbicara. Ketiga, perawat menganjurkan orang tua untuk menyediakan waktu khusus, konsisten, dan bebas dari gangguan (seperti gadget) setiap hari untuk bermain dan berbicara dengan anak. Keempat, perawat memberikan reinforcement positif (pujian, pelukan) setiap kali anak berusaha mengucapkan kata baru. Kelima, perawat dapat merujuk ke tenaga profesional lain seperti terapis wicara jika setelah intervensi intensif di rumah tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan. Intervensi ini berfokus pada pemberdayaan orang tua sebagai agen stimulasi utama di lingkungan rumah, menciptakan pengalaman belajar bahasa yang kaya, alami, dan menyenangkan bagi anak.
-
Article No. 23771 | 21 Jan 2026
Klinis : Pasien dibawa orangtuanya dengan keluhan kejang saat di rumah, selama <20 menit, kaku pada kaki dan tangan, mata ke atas. Demam sudah dirasakan sejak 3 hari yang lalu. Pasien juga mengeluhkan BAB cair selama 3 hari, hari ini BAB cair sebanyak 4x, ampas sedikit, warna kuning, darah (-). Setelah kejang, pasien merasa lemas hingga saat ini Pasien tampak sangat lemas GCS : E1V1M1 N : 188 x menit RR : 27x /menit Temp : 40.1 C SpO² : 95% RA BB : 6,6 Kg
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Ensefalopati Pasca Kejang Demam Kompleks dengan Gastroenteritis Akut dan Dehidrasi
Kode ICD-10: R56.8 (Kejang demam lainnya dan tidak spesifik) & A09.0 (Gastroenteritis dan kolitis yang tidak diketahui asalnya, infeksius)
Deskripsi Singkat : Pasien anak dengan status pasca kejang demam kompleks yang berlangsung lama (>15 menit) dan disertai dengan penurunan kesadaran berat (GCS 3). Kejang bersifat fokal (kaku pada kaki dan tangan, mata ke atas). Kondisi ini dipicu oleh demam tinggi yang berasal dari infeksi saluran cerna akut (gastroenteritis) dengan gejala BAB cair berulang, menyebabkan risiko dehidrasi dan gangguan elektrolit yang dapat memperberat kejang. Kode R56.8 mencakup kejang yang dipicu demam pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun yang tidak memenuhi kriteria epilepsi. Kode A09.0 menggambarkan gastroenteritis infeksius akut yang menjadi penyebab dasar demam. Kombinasi kedua kondisi ini, terutama dengan durasi kejang yang panjang dan penurunan kesadaran pasca-iktal yang berkepanjangan, mengarah pada diagnosis ensefalopati pasca kejang demam, suatu keadaan darurat neurologis yang memerlukan stabilisasi, pengobatan infeksi, dan pengendalian kejang untuk mencegah cedera otak lebih lanjut.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***