Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23823 | 26 Jan 2026
Klinis : Nyeri dada (+), sesak nafas (+) TD: 111/67 N:105 S: 36,3 RR:20 SPO2:98 Kepala: konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) Leher: JVP 5+2 cmH2O Cor: S1 S2 intensitas normal, reguler, murmur (-), gallop (-), batas jantung kesan tidak melebar Pulmo: SDV (+/+), RBH (+/+) , RBK (-/-) Abdomen: BU(+), nyeri tekan epigastrik (-). Ekstremitas: oedem (-/-), akral dingin (-) sesak Kesan : - Akut infark cerebri di temporoparietalis dextra - Atrofi cerebri - Tak tampak perdarahan intracerebri maupun intracerebelli
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut dan Gangguan Pertukaran Gas terkait dengan Iskemia Miokard dan Kongesti Paru
Kode SDKI: D.0005 & D.0013
Deskripsi Singkat: Berdasarkan data pasien dengan nyeri dada (+), sesak napas (+), dan temuan pemeriksaan fisik RBH (+/+), diduga kuat terjadi penurunan suplai oksigen ke jantung (iskemia miokard/infark) yang memicu nyeri akut. Secara bersamaan, adanya kongesti paru (ditandai RBH) mengindikasikan gangguan pada pertukaran gas antara alveoli dan kapiler paru, yang dimanifestasikan sebagai sesak napas. Meskipun kesan utama adalah infark serebri, gejala kardiopulmonal ini sangat dominan dan memerlukan penanganan keperawatan segera, mengingat risiko komplikasi yang tinggi. Diagnosa ini menggabungkan respons nyeri somatik dengan disfungsi fisiologis pernapasan.
Kode SLKI: L.03113 & L.04001
Deskripsi : SLKI L.03113 (Manajemen Nyeri) bertujuan agar tingkat nyeri pasien terkontrol, ditandai dengan skala nyeri menurun, pasien melaporkan penurunan nyeri, dan tampak rileks. Intervensi difokuskan pada pemberian analgesik sesuai instruksi, teknik non-farmakologis seperti lingkungan tenang, serta monitoring respons dan efek samping obat. Sementara itu, SLKI L.04001 (Manajemen Pertukaran Gas) bertujuan untuk mempertahankan pertukaran gas yang adekuat, dengan kriteria hasil: saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang target (≥95%), frekuensi pernapasan dalam rentang normal, tidak ada sianosis, dan bunyi napas bersih atau membaik. Upaya mencapai ini meliputi pemberian oksigen tambahan, posisi semi-Fowler untuk memudahkan ekspansi dada, memantau status pernapasan dan gas darah, serta mengelola penyebab kongesti paru.
Kode SIKI: I.08090 & I.08346
Deskripsi : SIKI I.08090 (Manajemen Nyeri) mencakup serangkaian intervensi spesifik: lakukan pengkajian nyeri komprehensif (lokasi, karakteristik, intensitas dengan skala), ajarkan teknik distraksi dan relaksasi, kolaborasi pemberian analgesik (seperti nitrogliserin, morfin sesuai protokol), evaluasi efektivitas intervensi, dan pantau tanda vital sebelum dan sesudah pemberian obat. SIKI I.08346 (Manajemen Gangguan Pertukaran Gas) meliputi: memposisikan pasien untuk optimalisasi ventilasi (semi-Fowler/High Fowler), administrasi oksigen sesuai kebutuhan dan protokol, memantau saturasi oksigen secara terus-menerus, mengauskultasi bunyi napas tiap jam atau sesuai kondisi, mendukung upaya batuk efektif jika diperlukan, memantau status hemodinamik (terutama tekanan darah dan denyut nadi), serta berkolaborasi dalam pemberian terapi farmakologi seperti diuretik atau vasodilator untuk mengurangi kongesti paru. Kedua set intervensi ini harus dilakukan secara terintegrasi, karena penurunan nyeri dapat mengurangi konsumsi oksigen miokard dan stres, yang pada gilirannya mendukung perbaikan pertukaran gas.
Kondisi: Penurunan Curah Jantung dan Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah terkait dengan Disfungsi Ventrikel
Kode SDKI: D.0020 & D.0001
Deskripsi Singkat: Data pasien menunjukkan tanda-tanda awal penurunan curah jantung, yang ditandai dengan takikardia (N:105 x/menit) sebagai mekanisme kompensasi, dan tekanan darah yang cenderung rendah (111/67 mmHg) pada pasien dengan nyeri akut yang biasanya meningkatkan tekanan darah. Kombinasi nyeri dada, sesak, dan takikardia sangat sugestif terhadap iskemia atau infark miokard akut yang mengganggu kemampuan pompa jantung. Kondisi ini berisiko menyebabkan ketidakstabilan tekanan darah, baik menjadi hipotensi lebih lanjut akibat penurunan curah jantung maupun hipertensi akibat respons simpatis. Meskipun batas jantung tidak melebar dan gallop tidak terdengar, monitoring ketat diperlukan karena kondisi dapat memburuk dengan cepat.
Kode SLKI: L.02004 & L.03030
Deskripsi : SLKI L.02004 (Manajemen Curah Jantung) bertujuan untuk mempertahankan curah jantung yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Kriteria hasil meliputi: tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima untuk pasien, denyut nadi dalam rentang normal, haluaran urine adekuat (>0.5 mL/kg/jam), kulit hangat dan kering, serta status mental baik. SLKI L.03030 (Pemantauan Tekanan Darah) bertujuan tekanan darah tetap stabil dan terkontrol, dengan kriteria hasil: tekanan darah dalam rentang target, tidak ada gejala hipotensi atau hipertensi postural, dan parameter hemodinamik lainnya stabil.
Kode SIKI: I.07043 & I.09002
Deskripsi : SIKI I.07043 (Manajemen Curah Jantung) meliputi intervensi: memantau status hemodinamik (tekanan darah, nadi, isi nadi) secara ketat, mencatat balance cairan, memberikan terapi oksigen untuk mengurangi beban kerja jantung, mengatur pemberian cairan intravena dengan hati-hati, berkolaborasi dalam pemberian obat inotropik, vasodilator, atau diuretik sesuai kebutuhan, serta memantau respons pasien terhadap terapi. SIKI I.09002 (Pemantauan Tekanan Darah) mencakup: mengukur tekanan darah pada interval rutin dan saat ada perubahan kondisi, membandingkan pembacaan dengan nilai dasar pasien, memantau tanda dan gejala hipoperfusi (pusing, kulit lembab, penurunan kesadaran), menghindari manuver valsalva, dan mengajarkan pasien untuk melaporkan gejala perubahan tekanan darah. Intervensi ini vital untuk mencegah syok kardiogenik dan menjaga perfusi organ vital, termasuk otak yang sedang mengalami kondisi akut.
Kondisi: Risiko Tinggi Penurunan Perfusi Jaringan Otak sekunder terhadap Iskemia Serebri Akut
Kode SDKI: D.0150
Deskripsi Singkat: Kesan medis "Akut infark cerebri di temporoparietalis dextra" menjadi dasar diagnosa keperawatan ini. Infark serebri (stroke iskemik) berarti telah terjadi penyumbatan aliran darah ke area otak tertentu, yang secara langsung mengancam perfusi dan oksigenasi jaringan otak. Risiko terjadinya perluasan area infark atau penurunan perfusi lebih lanjut sangat tinggi, terutama jika disertai dengan masalah hemodinamik seperti tekanan darah yang cenderung rendah atau takikardia. Diagnosa ini berfokus pada pencegahan kerusakan neurologis yang lebih luas dengan mengoptimalkan faktor-faktor yang mempengaruhi aliran darah serebral dan mengantisipasi komplikasi peningkatan tekanan intrakranial.
Kode SLKI: L.10001
Deskripsi : SLKI L.10001 (Pemantauan Neurologis) bertujuan untuk mendeteksi dini perubahan status neurologis dan mencegah perluasan defisit. Kriteria hasil meliputi: tingkat kesadaran tetap stabil atau membaik, fungsi motorik dan sensorik tidak mengalami penurunan, tanda-tanda vital yang mempengaruhi perfusi serebral (terutama tekanan darah) terkontrol dalam rentang target, serta tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti sakit kepala hebat, muntah proyektil, atau penurunan kesadaran mendadak.
Kode SIKI: I.10029
Deskripsi : SIKI I.10029 (Pemantauan Neurologis) mencakup intervensi komprehensif: lakukan pengkajian neurologis rutin (GCS, ukuran dan reaksi pupil, kekuatan motorik, sensasi, fungsi bicara) setiap jam atau sesuai protokol, pantau tanda vital dengan tekanan darah yang dipertahankan sesuai target (seringkali diperbolehkan lebih tinggi untuk menjaga perfusi otak, kecuali ada kontraindikasi), posisikan kepala tempat tidur 30 derajat (kecuali jika hipotensi) untuk memfasilitasi aliran balik vena serebral, hindari manipulasi leher yang dapat mengganggu aliran darah arteri vertebralis atau karotis, pantau tanda-tanda peningkatan TIK, berikan terapi oksigen untuk menjamin oksigenasi serebral yang adekuat, kolaborasi pemberian terapi medis seperti trombolitik atau neuroprotektor sesuai instruksi, dan lakukan observasi ketat terhadap perkembangan defisit neurologis fokal sesuai area infark (misalnya fungsi bahasa jika dominan, atau persepsi sensorik).
-
Article No. 23824 | 26 Jan 2026
Klinis : Nyeri pada paha kiri R. Femur (S) L: Open wound (-), hiperemis (-), ekimosis (-), swelling (+), deformitas (-), skin tenting (-) F: NT (+), krepitasi (-), tidak terdapat neurovascular disturbance, CRT < 2 detik M: ROM terbatas nyeri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan atau antisipasi berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI ini berfokus pada upaya untuk mengendalikan nyeri yang dialami pasien. Tujuan utamanya adalah agar nyeri pasien dapat teratasi, yang ditandai dengan skala nyeri yang menurun hingga mencapai tingkat yang dapat ditoleransi atau hilang sama sekali sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Luaran ini diukur melalui penilaian verbal atau non-verbal pasien mengenai intensitas, lokasi, dan karakter nyeri. Pencapaian luaran ini menunjukkan keberhasilan intervensi keperawatan dalam memodulasi persepsi nyeri, mengurangi distress, dan meningkatkan kenyamanan. Dalam konteks fraktur femur, penurunan nyeri merupakan indikator awal yang penting untuk memungkinkan pasien berpartisipasi dalam aktivitas pemulihan lainnya, seperti latihan rentang gerak terbatas. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat ukur yang valid seperti Numeric Rating Scale (NRS) atau Wong-Baker Faces Scale, dimana target yang realistis ditetapkan bersama pasien, misalnya penurunan skala nyeri dari 7 menjadi 3 dalam 24 jam pertama setelah intervensi.
Kode SIKI: I.08041
Deskripsi : Intervensi ini adalah pemberian obat-obatan farmakologis yang diresepkan oleh dokter untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Pada kasus nyeri akut akibat fraktur seperti ini, analgesik yang umum diberikan termasuk opioid (contoh: morfin, fentanil) untuk nyeri berat, atau non-opioid (contoh: parasetamol, NSAID seperti ketorolak). Peran perawat adalah melaksanakan pemberian obat secara tepat (right patient, right drug, right dose, right route, right time), memantau efektivitasnya dengan menilai skala nyeri sebelum dan setelah pemberian, serta mengobservasi dan mengelola efek samping yang mungkin timbul (misalnya mual, sedasi, depresi pernapasan untuk opioid; atau gangguan lambung untuk NSAID). Selain pemberian obat, intervensi ini juga mencakup edukasi kepada pasien tentang regimen obat, tujuan pengobatan, dan pentingnya melaporkan nyeri secara proaktif. Pemberian analgesik secara reguler (around-the-clock) pada fase awal seringkali lebih efektif daripada pemberian sesuai permintaan (prn) untuk mengendalikan nyeri traumatik yang berat dan memungkinkan mobilisasi dini yang lebih nyaman.
Kondisi: Mobilitas Fisik Terganggu
Kode SDKI: D.0091
Deskripsi Singkat: Keterbatasan dalam pergerakan fisik mandiri yang disengaja dalam lingkungan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : SLKI ini bertujuan untuk meningkatkan atau mempertahankan kemampuan mobilitas pasien. Tujuannya adalah agar pasien dapat menunjukkan peningkatan kemampuan bergerak secara mandiri atau dengan bantuan sesuai batasan yang ditetapkan. Luaran ini diukur melalui observasi terhadap kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas seperti mengubah posisi, berpindah, atau berjalan (jika diizinkan). Dalam kasus fraktur femur dengan pembengkakan dan nyeri, luaran yang realistis pada fase awal mungkin adalah pasien dapat melakukan perawatan diri di tempat tidur dengan bantuan minimal, atau dapat melakukan latihan rentang gerak (ROM) pada ekstremitas yang tidak terdampak secara mandiri. Peningkatan mobilitas juga ditandai dengan tidak adanya komplikasi imobilisasi seperti kontraktur, atrofi otot yang signifikan, atau ulkus dekubitus. Perawat akan menilai parameter seperti kekuatan otot, koordinasi, dan toleransi aktivitas. Target jangka panjang adalah pasien dapat melakukan ambulasi progresif dengan alat bantu sesuai rencana rehabilitasi pasca stabilisasi fraktur.
Kode SIKI: I.09023
Deskripsi : Intervensi ini melibatkan bantuan aktif dari perawat untuk memindahkan atau mengubah posisi pasien di tempat tidur, kursi, atau selama prosedur. Pada pasien dengan fraktur femur yang nyeri dan bengkak, teknik pemindahan harus sangat hati-hati untuk mencegah pergeseran fragmen tulang dan memperburuk cedera. Prinsipnya adalah mempertahankan alignment ekstremitas yang cedera (misalnya dengan penyangga/tumpukan bantal), menggunakan teknik mengangkat yang benar (seperti menarik, bukan menggeser), dan mungkin melibatkan alat bantu seperti papan geser (sliding board). Intervensi ini juga mencakup edukasi dan supervisi kepada pasien serta keluarga tentang cara yang aman untuk bergerak. Tujuan utamanya adalah memfasilitasi mobilitas yang diperlukan untuk perawatan dan kenyamanan sambil meminimalkan risiko cedera lebih lanjut dan mempertahankan stabilitas fraktur. Posisi yang sering diubah juga membantu mencegah komplikasi imobilisasi dan meningkatkan sirkulasi.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap invasi patogen.
Kode SLKI: L.18001
Deskripsi : SLKI ini berfokus pada pencegahan infeksi. Tujuannya adalah agar pasien tetap bebas dari tanda dan gejala infeksi selama periode perawatan. Luaran ini dimanifestasikan dengan tidak adanya indikator infeksi seperti demam, kemerahan (hiperemis), panas, bengkak (swelling) yang meningkat, nyeri bertambah, atau adanya drainase purulen dari lokasi cedera. Meskipun pada kondisi pasien ini disebut "open wound (-)" dan "hiperemis (-)", adanya trauma jaringan tertutup dengan pembengkakan (swelling +) tetap menciptakan risiko infeksi, terutama jika ada prosedur invasif seperti operasi fiksasi fraktur. Perawat akan memantau tanda-tanda vital (terutama suhu), inspeksi kondisi kulit dan jaringan sekitar fraktur, serta menilai hasil laboratorium seperti leukosit. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa mekanisme pertahanan tubuh pasien tetap utuh dan intervensi pencegahan berhasil. Pasien dan keluarga juga diharapkan dapat menyebutkan tanda-tanda infeksi yang perlu dilaporkan.
Kode SIKI: I.18020
Deskripsi : Intervensi ini adalah tindakan membersihkan tangan dengan sabun dan air mengalir atau dengan handrub berbasis alkohol untuk menghilangkan mikroorganisme transien. Cuci tangan merupakan langkah paling mendasar dan efektif dalam memutus rantai infeksi. Dalam konteks merawat pasien dengan fraktur, cuci tangan harus dilakukan secara ketat oleh perawat, pasien, dan pengunjung pada lima momen penting: sebelum menyentuh pasien, sebelum melakukan tindakan aseptik, setelah terpapar cairan tubuh pasien, setelah menyentuh pasien, dan setelah menyentuh lingkungan sekitar pasien. Terutama sebelum dan setelah melakukan perawatan pada area yang bengkak, melakukan perawatan luka jika ada, atau memasang/memobilisasi alat traksi/fiksasi. Edukasi kepada pasien tentang pentingnya cuci tangan juga bagian dari intervensi ini, terutama untuk mencegah infeksi silang dan mempersiapkan pasien melakukan perawatan mandiri di rumah. Kepatuhan terhadap hand hygiene secara konsisten secara signifikan mengurangi risiko infeksi nosokomial.
-
Article No. 23825 | 26 Jan 2026
Klinis : Pola napas tidak efektif berhubungan dengan depresi pusat pernapasan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berikut adalah diagnosa keperawatan, serta penjelasan singkat mengenai Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) beserta kode dan definisinya, yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), disajikan dalam format HTML yang siap ditampilkan.
```html
Diagnosa Keperawatan: Pola Napas Tidak Efektif