Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25020 | 10 Apr 2026
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah. Hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan campak.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Campak (Morbili) tanpa komplikasi
Kode ICD-10: B05.9
Deskripsi Singkat : Campak adalah infeksi virus akut yang sangat menular, disebabkan oleh virus paramyxovirus, yang ditandai dengan demam tinggi, batuk, konjungtivitis (mata merah), dan ruam makulopapular (merah) yang khas yang menyebar dari kepala ke tubuh. Gejala patognomonik (khas) adalah adanya bintik Koplik (bercak putih kecil dengan dasar merah) di mukosa pipi, yang muncul sebelum ruam kulit. Kondisi ini umumnya menyerang anak-anak dan ditularkan melalui udara. Kode ICD-10 B05.9 mengindikasikan "Campak tanpa komplikasi". Blok kode B05 mencakup semua bentuk campak, dan digit tambahan '.9' secara spesifik menandakan bahwa infeksi berlangsung tanpa komplikasi seperti pneumonia, ensefalitis, atau otitis media. Kode ini tepat untuk kasus dengan presentasi klinis klasik seperti yang dideskripsikan, di mana tidak ada indikasi komplikasi lebih lanjut. Penegakan diagnosis biasanya berdasarkan gejala klinis, dan pengkodean yang akurat sangat penting untuk surveilans epidemiologi, pelaporan kesehatan masyarakat, dan manajemen kasus.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 25021 | 10 Apr 2026
Klinis : Kode SDKI: D.0098ygcvbjgdc
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0098
Deskripsi Singkat: Risiko perubahan kadar glukosa darah dari rentang normal, yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: L.03112
Deskripsi : Kadar glukosa darah dalam rentang normal. Kriteria hasil: 1) Kadar glukosa darah puasa 70-130 mg/dL, 2) Kadar glukosa darah 2 jam post prandial < 180 mg/dL, 3) Tidak ada tanda dan gejala hipoglikemia (seperti lemas, berkeringat, pusing, jantung berdebar, penurunan kesadaran), 4) Tidak ada tanda dan gejala hiperglikemia (seperti poliuria, polidipsi, polifagi, penurunan berat badan, lemas), 5) Menunjukkan pemahaman tentang faktor risiko dan manajemen kadar glukosa darah.
Kode SIKI: I.05078
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia dan Hipoglikemia. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis yang dilakukan perawat untuk mencegah, memantau, dan menangani ketidakstabilan kadar glukosa darah, baik yang mengarah ke hiperglikemia (gula darah tinggi) maupun hipoglikemia (gula darah rendah). Tujuannya adalah mempertahankan kadar glukosa dalam rentang target yang aman bagi pasien, mencegah komplikasi akut, dan mendukung kemandirian pasien dalam pengelolaan kondisinya. Intervensi dimulai dengan pemantauan ketat melalui pemeriksaan kadar glukosa darah secara berkala sesuai indikasi dan kondisi pasien, seperti saat puasa, sebelum makan, 2 jam setelah makan, atau sebelum tidur. Perawat mengobservasi dan mendokumentasikan tanda-tanda vital serta gejala klinis yang mengarah pada hipoglikemia (seperti gemetar, keringat dingin, lemas, konfusius, takikardia) atau hiperglikemia (poliuria, polidipsi, kulit kering, mual, pernapasan Kussmaul). Pendidikan kesehatan menjadi komponen sentral, di mana perawat memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai penyebab, tanda bahaya, tindakan pencegahan, serta langkah penanganan darurat untuk kedua kondisi tersebut. Perawat juga berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi insulin atau obat hipoglikemik oral dengan memperhatikan dosis, waktu pemberian, teknik penyuntikan (jika insulin), dan monitoring efek samping. Manajemen nutrisi dilakukan dengan mengatur asupan makanan sesuai rencana diet yang ditetapkan, memastikan keteraturan jadwal makan dan komposisi karbohidrat yang tepat. Untuk situasi hipoglikemia, perawat siap memberikan terapi cepat seperti pemberian gula sederhana (air gula, permen) sesuai protokol, diikuti dengan makanan berkarbohidrat kompleks. Pada hiperglikemia berat, perawat mempersiapkan dan membantu pemberian insulin serta cairan intravena sesuai instruksi dokter. Selain itu, perawat mendorong aktivitas fisik yang sesuai dan aman, serta memantau dampaknya terhadap kadar glukosa darah. Dukungan psikososial juga diberikan untuk membantu pasien mengatasi kecemasan atau stres terkait penyakitnya, karena stres dapat mempengaruhi kadar glukosa. Dokumentasi yang lengkap dan akurat mengenai tren kadar glukosa, respons terhadap terapi, dan perubahan kondisi pasien sangat penting untuk evaluasi dan penyesuaian rencana perawatan. Secara keseluruhan, intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan aspek teknis medis, edukasi, dan dukungan untuk mencapai stabilitas metabolik dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
-
Article No. 25022 | 10 Apr 2026
Klinis : Kode SDKI: D.0098ygcvbjgdc
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0098
Deskripsi Singkat: Risiko perubahan kadar glukosa darah dari rentang normal, yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: L.01215
Deskripsi : Pengendalian Kadar Glukosa Darah. Kriteria hasil: 1) Menyebutkan faktor risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah. 2) Menyebutkan tanda dan gejala hipoglikemia dan hiperglikemia. 3) Menunjukkan perilaku untuk mempertahankan kadar glukosa darah dalam rentang normal. 4) Kadar glukosa darah dalam rentang normal. 5) Tidak terjadi tanda dan gejala hipoglikemia dan hiperglikemia.
Kode SIKI: I.01215
Deskripsi : Manajemen Hipoglikemia dan Hiperglikemia. Tindakan keperawatan: 1) Monitor tanda dan gejala hipoglikemia (seperti lemas, berkeringat, pusing, lapar, tremor, takikardia, penurunan kesadaran) dan hiperglikemia (seperti poliuria, polidipsi, polifagi, penurunan berat badan, lemas, penglihatan kabur). 2) Monitor kadar glukosa darah sesuai ketentuan. 3) Identifikasi faktor yang mempengaruhi ketidakstabilan kadar glukosa darah (misal: pola makan, aktivitas fisik, kepatuhan pengobatan, stres, penyakit penyerta). 4) Kolaborasi pemberian terapi insulin atau obat anti-diabetes oral sesuai resep. 5) Ajarkan dan bantu pasien/keluarga mengenai cara memantau kadar glukosa darah mandiri. 6) Ajarkan dan bantu pasien/keluarga mengenai penatalaksanaan diet sesuai kondisi (prinsip 3J: jumlah, jadwal, jenis). 7) Ajarkan dan bantu pasien/keluarga mengenai perencanaan aktivitas fisik yang sesuai. 8) Ajarkan dan bantu pasien/keluarga mengenai tindakan yang harus dilakukan saat terjadi hipoglikemia (seperti konsumsi gula sederhana) atau hiperglikemia. 9) Ajarkan dan bantu pasien/keluarga mengenai teknik pemberian insulin (jika diperlukan). 10) Rujuk ke tim kesehatan lain (ahli gizi, edukator diabetes) sesuai kebutuhan.
Penjelasan dan Definisi: Diagnosa Keperawatan "Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah" (D.0098) merujuk pada kerentanan seorang individu untuk mengalami kadar glukosa darah di luar batas normal, baik itu hipoglikemia (gula darah terlalu rendah) maupun hiperglikemia (gula darah terlalu tinggi), yang dapat membahayakan kondisi kesehatannya. Diagnosa ini bersifat potensial, artinya faktor risiko telah teridentifikasi tetapi kondisi abnormal tersebut belum terjadi. Faktor risikonya sangat beragam, mencakup ketidaktahuan tentang manajemen penyakit (seperti diabetes), ketidakpatuhan terhadap terapi diet, obat-obatan, atau insulin, fluktuasi aktivitas fisik yang tidak terencana, adanya penyakit akut atau infeksi, serta faktor stres fisiologis dan psikologis. Tujuan utama perawat adalah mencegah terjadinya episode hipo/hiperglikemia melalui intervensi yang proaktif dan edukatif.
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) dengan kode L.01215, yaitu "Pengendalian Kadar Glukosa Darah", menetapkan hasil yang diharapkan setelah intervensi keperawatan diberikan. Luaran ini diukur melalui lima kriteria utama. Pertama, peningkatan pengetahuan pasien tentang faktor-faktor yang dapat memicu ketidakstabilan gula darah. Kedua, kemampuan pasien untuk mengenali tanda peringatan dini baik saat gula darah turun maupun naik. Ketiga, demonstrasi perilaku adaptif seperti memeriksa gula darah secara rutin, mengatur pola makan, dan beraktivitas dengan tepat. Keempat, capaian objektif berupa angka glukosa darah yang berada dalam target yang ditetapkan. Kelima, tidak adanya manifestasi klinis dari gangguan kadar glukosa. Pencapaian luaran ini menunjukkan keberhasilan pasien dalam mengelola risikonya.
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dengan kode I.01215, yaitu "Manajemen Hipoglikemia dan Hiperglikemia", merupakan serangkaian tindakan berbasis bukti yang dilakukan perawat untuk mencapai luaran yang diinginkan. Intervensi ini bersifat komprehensif, dimulai dari pemantauan ketat tanda vital dan gejala, serta pemantauan kadar glukosa darah baik di fasilitas kesehatan maupun mandiri. Perawat melakukan identifikasi mendalam terhadap faktor penyebab ketidakstabilan untuk intervensi yang tepat sasaran. Tindakan kolaboratif pemberian obat sangat krusial. Pilar utama intervensi ini adalah edukasi yang berkelanjutan dan partisipatif kepada pasien dan keluarganya, mencakup pemantauan mandiri, prinsip diet diabetes (3J), manajemen aktivitas fisik, penanganan darurat episode hipo/hiperglikemia, serta teknik penyuntikan insulin jika diperlukan. Perawat juga berperan sebagai koordinator dengan merujuk pasien ke ahli gizi atau edukator diabetes mellitus untuk pendalaman materi. Keseluruhan intervensi ini dirancang untuk memberdayakan pasien, meningkatkan kemandirian dalam perawatan diri (self-care), dan pada akhirnya mencegah komplikasi akut maupun kronis dari ketidakstabilan glukosa darah, sehingga meningkatkan kualitas hidup pasien.
-
Article No. 25023 | 10 Apr 2026
Klinis : Pasangan suami istri Tn. A (34 tahun) dan Ny. M (30 tahun) datang ke klinik VCT untuk melakukan konseling. Hasil pemeriksaan menunjukkan Tn. A positif HIV (diagnosis 3 bulan lalu) sedangkan Ny. M negatif HIV, lama usia pernikahan 6 bulan dan belum memiliki anak Pasangan tersebut merencanakan kehamilan dalam 1 tahun ke depan. Tn. A sedang menjalani terapi ARV rutin sejak 2 bulan lalu dengan hasil viral load terakhir: 1.200 copies/mL (belum supresi). Dari hasil anamnesa didapat Ny. M merasa cemas tertular, Tn. A merasa bersalah dan takut ditolak dan mereka jarang menggunakan kondom karena ingin segera memiliki anak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan pada Pasangan Serodiskordan HIV dengan Rencana Kehamilan
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Penularan Infeksi
Kode SLKI: L.03149
Deskripsi : Klien dan pasangan bebas dari penularan infeksi.
Kode SIKI: I.01249
<>Deskripsi : Edukasi pencegahan penularan infeksi.
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan pada Pasangan Serodiskordan HIV dengan Rencana Kehamilan
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Ansietas
Kode SLKI: L.03003
Deskripsi : Tingkat ansietas klien menurun.
Kode SIKI: I.01205
Deskripsi : Manajemen ansietas.
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan pada Pasangan Serodiskordan HIV dengan Rencana Kehamilan
Kode SDKI: D.0099
Deskripsi Singkat: Koping Tidak Efektif
Kode SLKI: L.03125
Deskripsi : Koping klien efektif.
Kode SIKI: I.01229
Deskripsi : Peningkatan koping.
-
Article No. 25024 | 10 Apr 2026
Klinis : Pasangan suami istri Tn. A (34 tahun) dan Ny. M (30 tahun) datang ke klinik VCT untuk melakukan konseling. Hasil pemeriksaan menunjukkan Tn. A positif HIV (diagnosis 3 bulan lalu) sedangkan Ny. M negatif HIV, lama usia pernikahan 6 bulan dan belum memiliki anak Pasangan tersebut merencanakan kehamilan dalam 1 tahun ke depan. Tn. A sedang menjalani terapi ARV rutin sejak 2 bulan lalu dengan hasil viral load terakhir: 1.200 copies/mL (belum supresi). Dari hasil anamnesa didapat Ny. M merasa cemas tertular, Tn. A merasa bersalah dan takut ditolak dan mereka jarang menggunakan kondom karena ingin segera memiliki anak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan kerentanan terhadap penularan patogen dari satu individu ke individu lain yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1801
Deskripsi : SLKI 1801: Klien dan pasangan/keluarga mampu mengidentifikasi faktor risiko penularan infeksi. Dalam konteks pasangan ini, fokusnya adalah pada pemahaman mendalam tentang cara penularan HIV, khususnya melalui hubungan seksual tanpa pengaman dan potensi penularan dari ibu ke anak (PMTCT). Klien dan pasangan perlu memahami bahwa meskipun Tn. A dalam terapi ARV, viral load yang masih terdeteksi (1.200 copies/mL) menunjukkan risiko penularan masih ada. Mereka juga harus mengidentifikasi faktor risiko lain seperti tidak konsisten menggunakan kondom karena keinginan memiliki anak, yang justru meningkatkan risiko Ny. M tertular. Pemahaman ini menjadi dasar untuk membuat rencana kehamilan yang aman (Safe Conception).
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : SIKI 4201: Edukasi pencegahan dan pengendalian infeksi. Intervensi keperawatan ini merupakan tindakan utama untuk menurunkan risiko penularan. Perawat memberikan edukasi komprehensif dan konseling berkelanjutan kepada pasangan tersebut. Materi edukasi meliputi: 1) Prinsip U=U (Undetectable = Untransmittable) dan pentingnya mencapai supresi viral load (di bawah 50 copies/mL) terlebih dahulu sebelum merencanakan kehamilan tanpa kondom, untuk meminimalkan risiko. 2) Opsi metode kehamilan aman (Safe Conception) seperti inseminasi buatan dengan semen suami yang telah diproses (sperm washing) jika tersedia, atau melakukan hubungan seksual tanpa kondom hanya pada masa subur (ovulasi) setelah viral load suami benar-benar tidak terdeteksi. 3) Pentingnya konsumsi ARV yang sangat disiplin dan rutin pemantauan viral load untuk mempercepat tercapainya supresi. 4) Penggunaan kondom konsisten di luar waktu rencana pembuahan hingga kondisi viral load supresi tercapai. 5) Edukasi tentang pencegahan penularan ke anak (PMTCT) yang melibatkan konsumsi ARV pada ibu selama hamil dan nifas, serta pemberian ARV profilaksis pada bayi. Perawat juga berperan sebagai fasilitator komunikasi antara pasangan untuk mengurangi rasa bersalah dan takut, serta merujuk ke dokter spesialis kandungan dan konselor yang berpengalaman dalam HIV untuk rencana kehamilan yang terstruktur.
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah, ketegangan, atau kekhawatiran yang tidak jelas dan tidak nyaman sebagai respons terhadap ancaman yang tidak spesifik.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : SLKI 1401: Klien mampu mengidentifikasi penyebab ansietas. Pada kasus ini, ansietas dialami oleh kedua pasangan dengan sumber yang berbeda. Ny. M perlu mengidentifikasi bahwa kecemasannya bersumber dari ketakutan tertular HIV dari suaminya, kekhawatiran terhadap masa depan pernikahan, dan kesehatan anak yang akan direncanakan. Sementara Tn. A perlu mengidentifikasi bahwa kecemasan dan perasaannya bersumber dari rasa bersalah telah membawa "ancaman" ke dalam rumah tangga, takut ditolak atau diasingkan oleh istri, serta kecemasan akan kesehatan dirinya sendiri dan kemungkinan tidak bisa memiliki anak yang sehat. Mengidentifikasi sumber-sumber spesifik ini adalah langkah pertama untuk mengelola emosi secara konstruktif.
Kode SIKI: 4510
Deskripsi : SIKI 4510: Manajemen ansietas. Perawat melakukan intervensi untuk mengurangi tingkat kecemasan kedua klien. Langkah-langkahnya meliputi: 1) Menciptakan lingkungan konseling yang aman, empatik, dan tidak menghakimi untuk mendorong ekspresi perasaan secara terbuka. 2) Melakukan konseling pasangan (couple counseling) untuk memfasilitasi komunikasi tentang ketakutan dan harapan masing-masing. Perawat membantu Tn. A mengungkapkan rasa bersalahnya dan membantu Ny. M menyampaikan kekhawatirannya dengan cara yang tidak menyalahkan, tetapi sebagai masalah bersama yang perlu diatasi. 3) Memberikan informasi faktual dan akurat tentang HIV, terapi ARV, dan peluang untuk memiliki anak yang sehat dengan perencanaan yang tepat. Informasi yang jelas dapat mengurangi kecemasan yang berasal dari ketidaktahuan. 4) Mengajarkan teknik relaksasi sederhana seperti pernapasan dalam untuk mengatasi serangan cemas. 5) Memberikan dukungan psikologis dan penguatan (reinforcement) atas komitmen mereka mencari bantuan dan merencanakan masa depan. 6) Merujuk ke support group ODHA atau konseling psikologi lebih lanjut jika kecemasan sangat berat dan mengganggu. Tujuan akhirnya adalah ansietas berkurang hingga tingkat yang memungkinkan pasangan berpikir jernih dan mengambil keputusan terkait rencana kehamilan dan pengobatan.
Kondisi: Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan Perorangan
Kode SDKI: 0009
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk mengidentifikasi, mengelola, dan/atau mencari bantuan dalam memelihara kesehatan.
Kode SLKI: 1613
Deskripsi : SLKI 1613: Klien mampu mengelola terapi yang diresepkan. Fokus pada Tn. A adalah kemampuannya untuk mengelola terapi ARV secara optimal sebagai fondasi utama kesehatan dirinya dan keberhasilan rencana kehamilan yang aman. Ini termasuk kemampuan untuk: 1) Memahami tujuan terapi ARV (untuk menekan virus, meningkatkan CD4, dan mencegah penularan). 2) Menjelaskan jadwal, dosis, dan cara minum obat ARV-nya dengan benar, serta pentingnya kepatuhan mutlak (adherence) lebih dari 95% untuk mencegah resistensi. 3) Mengidentifikasi efek samping obat yang mungkin terjadi dan tahu tindakan yang harus diambil. 4) Memahami pentingnya kontrol rutin dan pemeriksaan viral load/CD4 untuk memantau keberhasilan terapi. Pengelolaan terapi yang baik akan mempercepat tercapainya viral load tidak terdeteksi, yang menjadi kunci bagi kesehatan Tn. A dan keselamatan proses kehamilan.
Kode SIKI: 4320
Deskripsi : SIKI 4320: Manajemen obat. Perawat melakukan intervensi untuk meningkatkan kemampuan Tn. A dalam mengelola terapi ARV-nya. Intervensi meliputi: 1) Edukasi mendetail tentang obat ARV: nama, fungsi, jadwal, pentingnya ketepatan waktu, dan strategi untuk mengingat minum obat (penggunaan alarm, kotak pil). 2) Konseling adherence dengan pendekatan motivasional, mengaitkan kepatuhan minum obat dengan tujuan personalnya (sehat, bisa punya anak, melindungi istri). 3) Pemantauan dan penilaian adherence secara berkala, mengeksplorasi hambatan yang mungkin dihadapi (efek samping, stigma, lupa) dan mencari solusi bersama. 4) Edukasi tentang tanda-tanda efek samping dan kapan harus melapor ke dokter. 5) Memastikan Tn. A terhubung dengan sistem dukungan pengobatan (PPIA, komunitas) dan memahami jalur perawatan berkelanjutan. Selain itu, perawat juga mengedukasi pasangan sebagai satu tim dalam mengelola kesehatan keluarga, di mana Ny. M dapat berperan sebagai pengingat yang supportif tanpa bersikap mengawasi secara berlebihan.
-
Article No. 25025 | 10 Apr 2026
Klinis : Pasangan suami istri Tn. A (34 tahun) dan Ny. M (30 tahun) datang ke klinik VCT untuk melakukan konseling. Hasil pemeriksaan menunjukkan Tn. A positif HIV (diagnosis 3 bulan lalu) sedangkan Ny. M negatif HIV, lama usia pernikahan 6 bulan dan belum memiliki anak Pasangan tersebut merencanakan kehamilan dalam 1 tahun ke depan. Tn. A sedang menjalani terapi ARV rutin sejak 2 bulan lalu dengan hasil viral load terakhir: 1.200 copies/mL (belum supresi). Dari hasil anamnesa didapat Ny. M merasa cemas tertular, Tn. A merasa bersalah dan takut ditolak dan mereka jarang menggunakan kondom karena ingin segera memiliki anak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah perasaan gelisah, khawatir, atau ketakutan yang tidak jelas atau tidak spesifik terhadap ancaman yang akan datang, disertai dengan respons otonom (sumber dapat tidak diketahui atau tidak diakui oleh individu); suatu perasaan apriori karena antisipasi bahaya. Pada kasus ini, ansietas dialami oleh Ny. M terkait ketakutan tertular HIV dari suaminya dan oleh Tn. A terkait rasa bersalah dan takut ditolak.
Kode SLKI: L.07134
Deskripsi : Ansietas teratasi. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Klien mengungkapkan perasaan ansietas menurun atau hilang. 2) Klien mengidentifikasi penyebab ansietas. 3) Klien menunjukkan perilaku koping yang adaptif. 4) Tanda-tanda fisiologis ansietas (seperti tremor, takikardia) menurun atau hilang. Pada konteks pasangan ini, tujuan utamanya adalah agar Ny. M dapat mengungkapkan kecemasannya secara terbuka, memahami secara akurat risiko penularan dengan data medis, dan Tn. A dapat mengungkapkan perasaan bersalah serta ketakutannya. Keduanya diharapkan dapat berkomunikasi secara efektif tentang kekhawatiran mereka dan bersama-sama merencanakan langkah kehamilan yang aman, sehingga mengurangi beban kecemasan.
Kode SIKI: I.05244
Deskripsi : Manajemen Ansietas. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi: 1) Menciptakan lingkungan yang terapeutik dan mendukung untuk membangun rasa percaya. 2) Mendorong klien (Ny. M dan Tn. A) untuk mengungkapkan perasaan, persepsi, dan ketakutannya. Validasi perasaan mereka bahwa hal tersebut wajar. 3) Memberikan pendidikan kesehatan yang akurat tentang HIV, cara penularan, dan pencegahan, khususnya mengenai Treatment as Prevention (TasP) – bahwa terapi ARV yang mencapai supresi viral load (di bawah 200 copies/mL) secara signifikan menurunkan risiko penularan kepada pasangan hingga tidak terdeteksi (U=U). 4) Menjelaskan pentingnya kepatuhan ARV untuk mencapai supresi viral load sebagai langkah utama melindungi pasangan dan merencanakan kehamilan. 5) Membahas strategi pencegahan selama merencanakan kehamilan, seperti penggunaan PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis) untuk Ny. M, inseminasi buatan, atau timed intercourse saat viral load Tn. A sudah tersupresi. 6) Melibatkan pasangan dalam konseling berpasangan untuk meningkatkan komunikasi dan dukungan. 7) Mengajarkan teknik relaksasi sederhana untuk mengelola ansietas. 8) Kolaborasi dengan dokter untuk evaluasi kepatuhan dan efektivitas ARV Tn. A serta kemungkinan pemberian PrEP untuk Ny. M.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Risiko infeksi adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami invasi oleh patogen patogenik. Pada kasus ini, Ny. M memiliki risiko tertular HIV karena pasangannya positif HIV, viral loadnya belum tersupresi (1.200 copies/mL), dan mereka jarang menggunakan kondom dengan alasan merencanakan kehamilan tanpa strategi pencegahan yang aman.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Risiko infeksi tidak terjadi. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Klien (Ny. M) tetap negatif HIV. 2) Klien dan pasangan (Tn. A) menyatakan pemahaman tentang faktor risiko penularan HIV. 3) Klien dan pasangan mendemonstrasikan perilaku untuk mencegah penularan. 4) Tn. A mencapai dan mempertahankan supresi viral load. Tujuan spesifiknya adalah Ny. M memahami dan menerapkan metode pencegahan yang efektif selama proses perencanaan kehamilan, sementara Tn. A patuh terhadap ARV hingga viral loadnya tidak terdeteksi, sehingga meminimalkan risiko penularan kepada istri dan calon bayi.
Kode SIKI: I.15031
Deskripsi : Proteksi Infeksi. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi: 1) Edukasi komprehensif kepada kedua pasangan tentang jalur penularan HIV dan hubungannya dengan viral load. 2) Menekankan pentingnya kepatuhan terapi ARV pada Tn. A sebagai upaya utama (TasP) untuk mencapai supresi viral load. 3) Mendiskusikan dan merencanakan bersama metode untuk mencapai kehamilan yang aman (Safe Conception), termasuk: a) Menunda hubungan seksual tanpa kondom hingga viral load Tn. A tidak terdeteksi (di bawah 200 copies/mL) selama minimal 6 bulan. b) Menggunakan PrEP untuk Ny. M sebagai lapisan perlindungan tambahan selama merencanakan kehamilan. c) Mempertimbangkan metode reproduksi berbantuan seperti inseminasi buatan dengan semen yang sudah dicuci (jika tersedia) untuk menghilangkan risiko. d) Jika tanpa PrEP, melakukan hubungan seksual tanpa kondom hanya pada masa subur (timed intercourse) setelah viral load tersupresi. 4) Memastikan akses dan kepatuhan jika Ny. M memulai PrEP. 5) Mendorong skrining dan pengobatan IMS lainnya yang dapat meningkatkan risiko penularan HIV. 6) Memantau kepatuhan ARV Tn. A dan mendukung untuk mengatasi hambatan. 7) Mengatur jadwal pemeriksaan viral load rutin dan tes HIV berkala untuk Ny. M. 8) Kolaborasi dengan dokter, konselor, dan layanan kesehatan reproduksi.
Kondisi: Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan
Kode SDKI: D.0093
Deskripsi Singkat: Ketidakefektifan manajemen kesehatan adalah pola dimana individu atau keluarga mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan program terapeutik ke dalam aktivitas hidup sehari-hari untuk memenuhi tujuan kesehatan. Pada pasangan ini, terlihat ketidakefektifan dalam mengelola kondisi HIV Tn. A dan rencana kehamilan. Mereka memiliki konflik antara keinginan memiliki anak dengan kebutuhan untuk mencegah penularan, ditandai dengan jarang menggunakan kondom tanpa strategi pengganti yang aman, viral load yang belum tersupresi, serta adanya distres emosional yang dapat mengganggu kepatuhan dan pengambilan keputusan.
Kode SLKI: L.09065
Deskripsi : Manajemen kesehatan efektif. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Pasangan menyatakan pemahaman tentang kondisi (HIV) dan rencana terapi. 2) Pasangan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan tentang perawatan dan tujuan (kehamilan). 3) Pasangan mendemonstrasikan perilaku untuk mencapai tujuan (kepatuhan ARV, penggunaan PrEP, praktik seks aman). 4) Sumber daya yang dibutuhkan diidentifikasi dan diakses. Tujuannya adalah pasangan ini dapat membuat dan menjalankan rencana yang terstruktur, realistis, dan aman untuk mencapai kehamilan tanpa menularkan HIV, dengan memanfaatkan sumber daya kesehatan yang tersedia (klinik VCT, layanan PDP, dokter).
Kode SIKI: I.09088
Deskripsi : Fasilitasi Manajemen Kesehatan. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi: 1) Melakukan asesmen mendalam terhadap pengetahuan, keyakinan, motivasi, dan hambatan yang dihadapi pasangan dalam mengelola HIV dan merencanakan kehamilan. 2) Memfasilitasi konseling berpasangan yang berfokus pada pemecahan masalah dan pengambilan keputusan bersama. 3) Membantu pasangan menetapkan tujuan jangka pendek dan panjang yang spesifik, terukur, dan dapat dicapai (contoh: tujuan jangka pendek: Tn. A patuh minum ARV >95%, kontrol ulang viral load dalam 3 bulan; tujuan menengah: konsultasi dokter untuk evaluasi PrEP; tujuan panjang: kehamilan yang aman). 4) Membantu pasangan mengembangkan rencana tindakan konkret, termasuk jadwal minum obat, jadwal kunjungan ke klinik, dan strategi komunikasi antar pasangan. 5) Memberikan edukasi yang terstruktur tentang manajemen HIV, safe conception, dan perawatan kehamilan untuk pasangan serodiskordan. 6) Memperkuat dukungan sosial di antara pasangan itu sendiri. 7) Menjadi penghubung (linkage) dengan layanan pendukung seperti kelompok dukungan sebanyak (ODHA), layanan kesuburan, atau konseling psikologis jika diperlukan. 8) Melakukan pemantauan dan evaluasi berkala terhadap kemajuan rencana, kepatuhan, beban psikologis, dan pencapaian tujuan kesehatan.
-
Article No. 25026 | 10 Apr 2026
Klinis : Pasangan suami istri Tn. A (34 tahun) dan Ny. M (30 tahun) datang ke klinik VCT untuk melakukan konseling. Hasil pemeriksaan menunjukkan Tn. A positif HIV (diagnosis 3 bulan lalu) sedangkan Ny. M negatif HIV, lama usia pernikahan 6 bulan dan belum memiliki anak Pasangan tersebut merencanakan kehamilan dalam 1 tahun ke depan. Tn. A sedang menjalani terapi ARV rutin sejak 2 bulan lalu dengan hasil viral load terakhir: 1.200 copies/mL (belum supresi). Dari hasil anamnesa didapat Ny. M merasa cemas tertular, Tn. A merasa bersalah dan takut ditolak dan mereka jarang menggunakan kondom karena ingin segera memiliki anak. 1.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan pada Pasangan Serodiskordan HIV dengan Rencana Kehamilan
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1402
Deskripsi : Perilaku pencegahan infeksi
Kode SIKI: 4501
Deskripsi : Edukasi pencegahan infeksi
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan pada Pasangan Serodiskordan HIV dengan Rencana Kehamilan
Kode SDKI: 0014
Deskripsi Singkat: Ansietas
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol ansietas
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Manajemen ansietas
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan pada Pasangan Serodiskordan HIV dengan Rencana Kehamilan
Kode SDKI: 0021Deskripsi Singkat: Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan
Kode SLKI: 1613
Deskripsi : Manajemen terapi
Kode SIKI: 4330
Deskripsi : Fasilitasi kepatuhan
-
Article No. 25027 | 10 Apr 2026
Klinis : Pasangan suami istri Tn. A (34 tahun) dan Ny. M (30 tahun) datang ke klinik VCT untuk melakukan konseling. Hasil pemeriksaan menunjukkan Tn. A positif HIV (diagnosis 3 bulan lalu) sedangkan Ny. M negatif HIV, lama usia pernikahan 6 bulan dan belum memiliki anak Pasangan tersebut merencanakan kehamilan dalam 1 tahun ke depan. Tn. A sedang menjalani terapi ARV rutin sejak 2 bulan lalu dengan hasil viral load terakhir: 1.200 copies/mL (belum supresi). Dari hasil anamnesa didapat Ny. M merasa cemas tertular, Tn. A merasa bersalah dan takut ditolak dan mereka jarang menggunakan kondom karena ingin segera memiliki anak. 1.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan terkait Kesehatan Reproduksi pada Pasangan Serodiskordan HIV
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Penularan Infeksi
Kode SLKI: L.07115
Deskripsi : Perilaku pencegahan penularan infeksi
Kode SIKI: I.01290
Deskripsi : Edukasi pencegahan infeksi
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan terkait Kesehatan Reproduksi pada Pasangan Serodiskordan HIV
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Kecemasan
Kode SLKI: L.07002
Deskripsi : Kontrol kecemasan
Kode SIKI: I.08004
Deskripsi : Manajemen kecemasan
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan terkait Kesehatan Reproduksi pada Pasangan Serodiskordan HIV
Kode SDKI: D.0185
Deskripsi Singkat: Kesiapan Meningkatkan Pengetahuan
Kode SLKI: L.06139
Deskripsi : Pengetahuan: proses penyakit dan penanganan
Kode SIKI: I.05147
Deskripsi : Fasilitasi pembelajaran
-
Article No. 25028 | 10 Apr 2026
Klinis : Pasangan suami istri Tn. A (34 tahun) dan Ny. M (30 tahun) datang ke klinik VCT untuk melakukan konseling. Hasil pemeriksaan menunjukkan Tn. A positif HIV (diagnosis 3 bulan lalu) sedangkan Ny. M negatif HIV, lama usia pernikahan 6 bulan dan belum memiliki anak Pasangan tersebut merencanakan kehamilan dalam 1 tahun ke depan. Tn. A sedang menjalani terapi ARV rutin sejak 2 bulan lalu dengan hasil viral load terakhir: 1.200 copies/mL (belum supresi). Dari hasil anamnesa didapat Ny. M merasa cemas tertular, Tn. A merasa bersalah dan takut ditolak dan mereka jarang menggunakan kondom karena ingin segera memiliki anak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan pada Pasangan Serodiskordan HIV dengan Rencana Kehamilan
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Risiko Penularan Infeksi
Kode SLKI: L.07115
Deskripsi : Klien dan pasangan bebas dari penularan infeksi.
Kode SIKI: I.05084
<>Deskripsi : Edukasi pencegahan penularan infeksi.
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan pada Pasangan Serodiskordan HIV dengan Rencana Kehamilan
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Ansietas
Kode SLKI: L.07001
Deskripsi : Tingkat ansietas klien menurun.
Kode SIKI: I.05001
<>Deskripsi : Manajemen ansietas.
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan pada Pasangan Serodiskordan HIV dengan Rencana Kehamilan
Kode SDKI: D.0121
Deskripsi Singkat: Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan
Kode SLKI: L.09101
Deskripsi : Klien mampu mengelola program terapeutik.
Kode SIKI: I.09001
<>Deskripsi : Manajemen terapeutik.
-
Article No. 25029 | 10 Apr 2026
Klinis : Buta
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Buta
Kode SDKI: 00266
Deskripsi Singkat: Risiko cedera: Disfungsi persepsi sensori penglihatan
Kode SLKI: 4306A
Deskripsi : Pasien terlindung dari cedera akibat disfungsi persepsi sensori penglihatan. Indikator: 1) Lingkungan diidentifikasi aman dari bahaya; 2) Lingkungan dimodifikasi untuk mencegah cedera; 3) Alat bantu mobilitas digunakan untuk mencegah cedera; 4) Pasien menggunakan teknik untuk mengenali lingkungan; 5) Keluarga diajarkan untuk memodifikasi lingkungan; 6) Keluarga mendampingi pasien dalam beraktivitas.
Kode SIKI: 4234
Deskripsi : Manajemen Lingkungan. Tindakan: 1) Kaji faktor risiko lingkungan yang dapat menyebabkan cedera (pencahayaan buruk, lantai licin, benda berserakan, furnitur tidak stabil). 2) Atur tata letak lingkungan yang konsisten dan tidak mengubah posisi barang tanpa memberitahu pasien. 3) Pastikan jalur lalu lintas di kamar dan rumah bebas dari hambatan. 4) Gunakan pencahayaan yang memadai, hindari silau, dan gunakan lampu malam. 5) Beri tanda atau label pada area berbahaya (seperti tangga, lantai basah) dengan bahan timbul atau penanda taktil. 6) Pasang pegangan tangan di kamar mandi dan tangga. 7) Rekomendasikan penggunaan alat bantu seperti tongkat putih atau anjing pemandu, serta pelatihan orientasi dan mobilitas. 8) Ajarkan pasien teknik untuk mengenali lingkungan, seperti menggunakan indera pendengaran dan peraba, serta metode "panduan visual" (systematic scanning). 9) Latih pasien untuk menggunakan sistem jam tangan (clock method) untuk mendeskripsikan letak makanan di piring. 10) Libatkan keluarga dalam modifikasi lingkungan dan pengawasan untuk mencegah cedera. 11) Berikan edukasi tentang keselamatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti memasak dan berjalan. 12) Kolaborasi dengan terapis okupasi atau spesialis rehabilitasi untuk pelatihan kemampuan hidup mandiri.