Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23933 | 05 Feb 2026
Klinis : intervensi pasien dengan gangguan persepsi sensori
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Persepsi Sensori
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Gangguan persepsi sensori adalah keadaan ketika individu mengalami perubahan dalam jumlah atau pola stimulus yang masuk, disertai dengan respons yang tidak akurat, berkurang, berlebihan, atau terdistorsi terhadap stimulus tersebut. Kondisi ini dapat mempengaruhi satu atau lebih modalitas sensori, seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, pengecapan, atau kinestetik (proprioseptif). Gangguan ini dapat bersifat sementara, permanen, atau fluktuatif, dan berdampak signifikan pada kemampuan individu untuk berinteraksi dengan lingkungan, berkomunikasi, menjaga keselamatan, serta melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari gangguan neurologis (stroke, demensia, cedera kepala), gangguan metabolik, efek samping obat, isolasi sosial, hingga kondisi lingkungan yang tidak adekuat (kurang atau berlebihan stimulus). Tanda dan gejalanya dapat bervariasi, seperti halusinasi, ilusi, disorientasi, respons yang lambat atau tidak tepat terhadap rangsangan nyeri, kebingungan, gelisah, atau menarik diri dari interaksi sosial.
Kode SLKI: L.03102
Deskripsi : SLKI dengan kode L.03102 berfokus pada upaya untuk mempertahankan atau meningkatkan orientasi realitas klien. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan sistematis yang bertujuan membantu klien membedakan antara pengalaman internal (pikiran, perasaan) dengan realitas eksternal, serta mengenali waktu, tempat, dan orang. Implementasinya melibatkan pendekatan komunikasi terapeutik yang konsisten dan jelas. Perawat akan memperkenalkan diri setiap kali berinteraksi, menyebutkan nama klien dengan benar, serta secara rutin mengingatkan klien tentang tanggal, hari, waktu, dan lokasi mereka berada. Perawat juga akan mendorong klien untuk menggunakan alat bantu orientasi seperti kalender, jam, foto keluarga, atau papan orientasi di kamar. Lingkungan diatur untuk meminimalkan kebingungan, misalnya dengan pencahayaan yang memadai (terang di siang hari dan redup di malam hari), mengurangi kebisingan yang tiba-tiba, dan menata furnitur secara konsisten. Perawat akan memvalidasi perasaan klien namun dengan lembut mengoreksi persepsi yang salah tanpa berdebat, misalnya dengan mengatakan, "Saya mengerti Bapak mendengar suara, tetapi saya tidak mendengarnya di sini. Itu mungkin berasal dari pikiran Bapak." SLKI ini juga melibatkan keluarga dalam proses orientasi dan mendorong kunjungan rutin untuk memberikan stimulus yang familiar dan bermakna bagi klien.
Kode SIKI: I.08021
Deskripsi : SIKI dengan kode I.08021 adalah kriteria hasil yang diharapkan setelah dilakukannya intervensi keperawatan. Kriteria ini mengukur sejauh mana klien mampu mempertahankan orientasi terhadap realitas. Hasil yang diharapkan dievaluasi melalui beberapa indikator perilaku yang dapat diamati. Pertama, klien menunjukkan kemampuan untuk mengidentifikasi diri sendiri (nama) dan orang-orang terdekat (keluarga, perawat utama) dengan benar. Kedua, klien dapat menyebutkan orientasi waktu (seperti hari, tanggal, atau waktu makan) dan tempat (misalnya, nama rumah sakit atau kamar) secara akurat, meskipun mungkin masih membutuhkan pengingat sesekali. Ketiga, klien mampu membedakan antara hal-hal yang nyata dan yang tidak nyata dalam percakapan, misalnya tidak lagi bereaksi terhadap halusinasi atau dapat mengidentifikasi bahwa suara yang didengar adalah bagian dari gangguannya. Keempat, klien berpartisipasi dalam aktivitas yang sesuai dengan waktu, seperti terjaga di siang hari dan tidur di malam hari. Kelima, respons klien terhadap stimulus sensori dari lingkungan menjadi lebih tepat dan adaptif, misalnya menanggapi panggilan nama, menghindari bahaya, atau menggunakan alat bantu dengan benar. Pencapaian kriteria ini bersifat bertahap; pada kondisi akut mungkin hanya tercapai orientasi terhadap satu aspek (misalnya, orang), dan secara perlahan ditingkatkan hingga klien dapat berfungsi dengan lebih aman dan mandiri dalam lingkungannya. Evaluasi dilakukan secara terus-menerus untuk menyesuaikan intervensi dan memastikan kemajuan klien.
-
Article No. 23934 | 05 Feb 2026
Klinis : Nyeri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (Asosiasi Internasional untuk Studi Nyeri); onset yang tiba-tiba atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengontrol nyeri. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan komprehensif yang bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan sensasi nyeri akut yang dialami pasien. Fokus utamanya adalah pada penilaian nyeri yang komprehensif dan berkelanjutan menggunakan skala yang sesuai (numerik, wajah, verbal) untuk menentukan karakteristik, lokasi, intensitas, dan faktor pencetus serta pereda nyeri. Perawat akan menerapkan intervensi farmakologis sesuai instruksi dokter, seperti pemberian analgesik dengan tepat waktu, memantau efektivitas, dan mengawasi efek samping. Secara paralel, intervensi non-farmakologis dijalankan, yang dapat meliputi teknik relaksasi (napas dalam, imajinasi terbimbing), distraksi (musik, percakapan), terapi panas/dingin, dan reposisi atau immobilisasi area yang nyeri. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyebab nyeri, penggunaan skala nyeri, pentingnya melaporkan nyeri, serta teknik manajemen nyeri mandiri juga merupakan komponen krusial. Selain itu, perawat menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mendukung proses penyembuhan. Evaluasi respons pasien terhadap intervensi yang diberikan dilakukan secara berkala untuk menyesuaikan rencana perawatan, dengan tujuan akhir mencapai tingkat kenyamanan yang ditetapkan dan meningkatkan kemampuan fungsional pasien.
Kode SIKI: 4501
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Meminimalkan ketidaknyamanan nyeri. Kriteria hasil ini mengukur keberhasilan intervensi keperawatan dalam mengelola nyeri akut. Hasil yang diharapkan adalah pasien melaporkan penurunan intensitas nyeri yang dapat diukur menggunakan skala nyeri yang valid (misalnya, dari skala 7 menjadi 3 dalam skala 0-10). Pasien menunjukkan perilaku dan tanda-tanda fisiologis yang sesuai dengan pernyataan nyeri yang berkurang, seperti ekspresi wajah yang rileks, postur tubuh yang tidak tegang, mampu beristirahat atau tidur dengan nyenyak, dan peningkatan partisipasi dalam aktivitas perawatan diri. Tanda-tanda vital yang sebelumnya mungkin meningkat karena nyeri (seperti denyut nadi dan tekanan darah) kembali dalam rentang normal pasien. Pasien dan keluarga mendemonstrasikan pemahaman tentang regimen pengobatan nyeri dan teknik non-farmakologis yang diajarkan. Pasien juga dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang memicu dan meredakan nyerinya. Tingkat fungsi dan mobilitas pasien membaik seiring dengan pengendalian nyeri. Kriteria ini menekankan pada pencapaian tingkat kenyamanan yang dapat diterima oleh pasien, yang memungkinkan untuk pemulihan dan peningkatan kualitas hidup selama masa nyeri akut.
-
Article No. 23935 | 05 Feb 2026
Klinis : Nyeri akut pasien gastritis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut pada Pasien Gastritis
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Kemampuan untuk mengendalikan, mengurangi, atau mentoleransi rasa sakit yang dialami. Pada pasien gastritis dengan nyeri akut, tujuan utamanya adalah mencapai tingkat kenyamanan yang dapat diterima pasien, yang ditandai dengan penurunan skala nyeri yang diukur secara subjektif (misalnya, dari skala 7 ke 3 dalam skala 0-10), penurunan frekuensi dan durasi keluhan nyeri, serta kemampuan pasien untuk menunjukkan perilaku yang mendukung pengurangan nyeri (seperti istirahat yang cukup dan menghindari pemicu). Intervensi keperawatan diarahkan untuk memodifikasi pengalaman nyeri melalui pendekatan farmakologis dan non-farmakologis, memastikan efektivitas manajemen nyeri, dan mencegah komplikasi lebih lanjut akibat nyeri yang tidak tertangani, seperti ansietas dan gangguan pola tidur.
Kode SIKI: I.08041
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Intervensi komprehensif untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri, mencakup tindakan mandiri dan kolaboratif. Pada konteks gastritis, intervensi ini meliputi: (1) Pengkajian Komprehensif: Menilai karakteristik nyeri (lokasi epigastrium, kualitas seperti terbakar atau tajam, intensitas dengan skala numerik, waktu, faktor yang memperberat dan meringankan seperti makanan atau posisi), serta respons fisiologis dan emosional pasien. (2) Intervensi Farmakologis: Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian dan memantau efektivitas obat analgesik, antasida, atau penghambat pompa proton sesuai resep, termasuk edukasi pasien tentang regimen pengobatan dan efek samping. (3) Intervensi Non-Farmakologis: Menerapkan teknik distraksi, relaksasi napas dalam, dan terapi dingin/panas lokal jika sesuai. Memberikan edukasi tentang modifikasi diet, seperti makanan lunak, rendah asam, dan tidak pedas, serta pola makan sedikit-sedikit tetapi sering. (4) Lingkungan Terapeutik: Menciptakan lingkungan yang tenang untuk mengurangi stres, membantu posisi yang nyaman (misalnya, semi-Fowler), dan mendorong istirahat yang adekuat. (5) Edukasi dan Pemberdayaan: Mengajarkan pasien untuk mengidentifikasi dan menghindari pemicu nyeri (seperti alkohol, kafein, obat NSAID, dan stres), serta teknik self-management untuk mengontrol nyeri. Evaluasi keberhasilan intervensi dilakukan dengan memantau skala nyeri, tanda-tanda vital, dan respons perilaku pasien secara berkala, serta mendokumentasikan hasil untuk penyesuaian rencana keperawatan lebih lanjut.
-
Article No. 23936 | 05 Feb 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons terhadap patogen atau kondisi patogen lainnya.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : SLKI: Infeksi dicegah. Kriteria hasil: 1) Tanda-tanda infeksi tidak ada. 2) Hasil laboratorium dalam batas normal. 3) Perilaku mencegah infeksi dilakukan. Penjelasan: Pada pasien tuberkulosis (TB) paru, tujuan utama adalah mencegah penyebaran infeksi ke orang lain dan mencegah infeksi sekunder pada pasien sendiri. SLKI ini mengarah pada tercapainya kondisi dimana pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi aktif yang menyebar (seperti batuk yang tidak terkontrol), hasil pemeriksaan laboratorium (seperti dahak BTA) menjadi negatif, dan yang terpenting, pasien serta keluarga telah menerapkan perilaku pencegahan infeksi secara konsisten. Perilaku ini termasuk etika batuk yang benar (menutup mulut dengan tisu atau lengan baju), pembuangan dahak yang higienis, penggunaan masker terutama di awal pengobatan, memastikan ventilasi rumah yang baik, dan kepatuhan minum obat untuk menekan pertumbuhan basil. Pencapaian SLKI ini merupakan fondasi dari pengendalian penyakit TB dan kesembuhan pasien.
Kode SIKI: I.05080
Deskripsi : SIKI: Manajemen Infeksi. Tindakan keperawatan: 1) Pantau tanda dan gejala infeksi. 2) Anjurkan cuci tangan. 3) Gunakan alat pelindung diri. 4) Lakukan tindakan untuk mencegah penyebaran infeksi. 5) Kolaborasi pemberian terapi antibiotik. 6) Ajarkan kepada pasien dan keluarga cara mencegah penyebaran infeksi. Penjelasan: Implementasi SIKI ini adalah tindakan konkret perawat dalam menangani pasien TB paru. Pertama, perawat secara ketat memantau tanda vital (terutama suhu untuk demam), karakteristik batuk dan dahak, serta status pernapasan. Kedua, menekankan pentingnya cuci tangan baik bagi pasien, keluarga, maupun petugas kesehatan. Ketiga, penggunaan alat pelindung diri (APD) seperti masker N95 bagi petugas yang kontak erat sangat penting. Keempat, menerapkan tindakan pencegahan penyebaran infeksi berbasis udara (airborne precaution), seperti mengisolasi pasien di ruangan bertekanan negatif atau setidaknya di ruangan berventilasi baik, serta membatasi pengunjung. Kelima, perawat berkolaborasi dengan dokter untuk memastikan pemberian obat anti-tuberkulosis (OAT) tepat waktu, tepat dosis, dan memantau efek sampingnya. Keenam dan yang tidak kalah vital adalah pendidikan kesehatan (health education). Perawat harus mengajarkan secara komprehensif kepada pasien dan keluarga tentang sifat penyakit TB, pentingnya pengobatan lengkap selama 6-8 bulan untuk mencegah kekebalan kuman (MDR-TB), cara batuk yang aman, pembuangan dahak yang benar (dibakar atau ditimbun), pentingnya nutrisi untuk meningkatkan daya tahan tubuh, dan pentingnya mengajak anggota keluarga yang kontak erat untuk diperiksa. SIKI ini bersifat holistik, menggabungkan aspek teknis medis dan aspek perilaku untuk memutus rantai penularan.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: L.03002
Deskripsi : SLKI: Pertukaran gas membaik. Kriteria hasil: 1) Status pernapasan dalam batas normal. 2) Status hemodinamik dalam batas normal. 3) Gangguan kesadaran tidak ada. 4) Kulit dan membran mukosa tidak pucat/sianosis. Penjelasan: Pada TB paru, proses peradangan dan konsolidasi jaringan paru akibat infeksi basil Mycobacterium tuberculosis mengganggu fungsi utama alveolus dalam pertukaran gas O2 dan CO2. Hal ini termanifestasi pada pasien sebagai sesak napas. SLKI ini menetapkan tujuan dimana fungsi pernapasan pasien kembali memadai. Parameter yang dinilai adalah status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman napas normal, tidak ada sesak), status hemodinamik (denyut nadi dan tekanan darah stabil), tingkat kesadaran yang baik (compos mentis, tidak gelisah akibat hipoksia), serta warna kulit dan membran mukosa (bibir, kuku) yang merah muda, tidak pucat atau biru/sianosis. Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa terapi pengobatan TB efektif mengurangi proses infeksi dan peradangan, sehingga fungsi paru untuk pertukaran gas mulai pulih. Ini juga berarti kebutuhan oksigenasi jaringan tubuh terpenuhi dengan baik.
Kode SIKI: I.09007
Deskripsi : SIKI: Manajemen Jalan Napas. Tindakan keperawatan: 1) Pertahankan jalan napas paten. 2) Posisikan untuk memaksimalkan ventilasi. 3) Bantu tindakan untuk membersihkan jalan napas. 4) Auskultasi suara napas. 5) Kelola pemberian oksigen sesuai kebutuhan. 6) Pantau status pernapasan. Penjelasan: Implementasi SIKI ini berfokus pada upaya mengoptimalkan fungsi jalan napas dan pertukaran gas pada pasien TB paru. Tindakan dimulai dengan memastikan jalan napas tetap terbuka. Posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi sangat dianjurkan untuk memudahkan ekspansi dada dan mengurangi kerja otot pernapasan. Perawat membantu pasien untuk membersihkan jalan napas dengan teknik batuk efektif atau latihan napas dalam. Jika dahak sulit keluar, dapat dikolaborasikan dengan fisioterapi dada. Auskultasi suara napas secara berkala (seperti bunyi bronkial yang ditemukan pada pasien) penting untuk menilai perkembangan konsolidasi paru. Pemberian oksigen tambahan diberikan sesuai indikasi dan hasil analisis gas darah jika pasien mengalami hipoksemia berat. Namun, perlu diingat bahwa terapi utama adalah pemberian OAT untuk mengatasi sumber infeksinya. Pemantauan status pernapasan yang ketat, termasuk penggunaan pulse oximetry jika tersedia, dilakukan untuk mendeteksi dini adanya penurunan saturasi oksigen. Semua tindakan ini bersifat suportif untuk mendukung proses penyembuhan jaringan paru sambil menunggu efek terapi obat.
-
Article No. 23937 | 05 Feb 2026
Klinis : Pasien dengan nyeri perut skala 5
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang digambarkan dalam istilah seperti kerusakan; timbul tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat dan perkiraan berakhirnya kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI dengan kode L.08001 bertujuan untuk mencapai "Kontrol Nyeri". Deskripsi lengkapnya adalah: Pasien mengungkapkan nyeri dapat dikontrol. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Pasien melaporkan nyeri berkurang atau hilang, 2) Pasien mendemonstrasikan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri, 3) Pasien menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal, dan 4) Pasien menunjukkan perilaku nyaman (misalnya, dapat istirahat, tidur, dan beraktivitas). Pada kondisi pasien dengan nyeri perut skala 5, tujuan utamanya adalah menurunkan skala nyeri menjadi tingkat yang dapat ditoleransi (biasanya di bawah 3) atau menghilangkannya sama sekali, serta memulihkan fungsi dan kenyamanan pasien. Keberhasilan SLKI ini diukur dari laporan subjektif pasien tentang penurunan nyeri, observasi objektif seperti ekspresi wajah yang rileks, posisi tubuh yang tidak melindungi area perut, serta stabilnya tanda-tanda vital seperti tekanan darah dan denyut nadi yang sebelumnya mungkin meningkat akibat respons stres terhadap nyeri.
Kode SIKI: I.08029
Deskripsi : SIKI dengan kode I.08029 adalah "Manajemen Nyeri". Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan komprehensif untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Penjelasan rincinya meliputi: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas (menggunakan skala 0-10 seperti yang telah dilakukan), dan faktor pencetus/peringan. 2) Observasi tanda-tanda nonverbal ketidaknyamanan, terutama pada pasien yang tidak dapat berkomunikasi dengan baik. 3) Berikan terapi farmakologis (analgesik) sesuai resep dokter dengan tepat waktu, aman, dan memantau efek samping. 4) Ajarkan dan bantu pasien menggunakan teknik nonfarmakologis seperti distraksi (mendengarkan musik, menonton TV), relaksasi napas dalam, atau kompres hangat/dingin jika sesuai. 5) Atur posisi pasien untuk kenyamanan maksimal, misalnya dengan menopang dengan bantal atau posisi semi-Fowler. 6) Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mendukung istirahat. 7) Lakukan evaluasi keefektifan intervensi analgesik dalam waktu yang tepat (misalnya 30 menit setelah pemberian obat parenteral atau 1 jam setelah obat oral) dengan menilai kembali skala nyeri. 8) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk penanganan penyebab nyeri perutnya. Pada kasus nyeri perut skala 5, intervensi ini harus segera dijalankan. Perawat pertama-tama akan menilai karakteristik nyeri lebih detail (apakah seperti ditusuk, ditekan, atau kram), kemudian memberikan analgesik sesuai order dokter sambil memantau tanda vital. Secara paralel, perawat dapat mengajarkan teknik relaksasi untuk membantu mengatasi nyeri sambil menunggu obat bekerja. Posisi tubuh pasien diatur untuk mengurangi ketegangan otot perut. Dokumentasi yang akurat tentang skala nyeri sebelum dan sesudah intervensi sangat penting untuk mengevaluasi keberhasilan dan menentukan langkah selanjutnya. Pendekatan holistik ini memastikan bahwa nyeri tidak hanya ditekan secara farmakologis tetapi juga dikelola melalui pendekatan psikologis dan lingkungan.
-
Article No. 23938 | 05 Feb 2026
Klinis : Pasien anemia
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Anemia
Kode ICD-10: D64.9
Deskripsi Singkat : Anemia adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan jumlah sel darah merah (eritrosit) atau kadar hemoglobin di dalam darah yang lebih rendah dari nilai normal. Hemoglobin berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Kekurangan hemoglobin menyebabkan penurunan kapasitas pembawa oksigen darah, yang dapat mengakibatkan gejala seperti kelelahan, lemas, pucat, sesak napas, pusing, dan jantung berdebar. Anemia bukanlah diagnosis tunggal melainkan manifestasi dari berbagai penyakit atau gangguan yang mendasarinya. Kode ICD-10 D64.9 mewakili "Anemia, tidak spesifik" dan digunakan ketika penyebab atau tipe anemia yang tepat belum dapat ditentukan dari informasi yang tersedia. Anemia dapat disebabkan oleh kehilangan darah (misalnya perdarahan), penurunan produksi sel darah merah (karena defisiensi zat besi, vitamin B12, atau asam folat, penyakit kronis, atau gangguan sumsum tulang), atau peningkatan penghancuran sel darah merah (hemolisis). Penegakan diagnosis dan klasifikasi yang tepat memerlukan pemeriksaan laboratorium seperti hitung darah lengkap (CBC), apusan darah tepi, dan tes tambahan untuk mengidentifikasi penyebabnya, yang kemudian akan dikodekan dengan kode ICD-10 yang lebih spesifik (misalnya D50.9 untuk anemia defisiensi besi, D53.9 untuk anemia nutrisional lainnya).
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23939 | 05 Feb 2026
Klinis : Pasien anemia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pasien Anemia
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan komponen sel darah merah yang membawa oksigen.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Perfusi jaringan perifer membaik atau dipertahankan. Indikatornya meliputi: 1) Nadi perifer teraba kuat dan simetris, 2) Warna kulit dan membran mukosa normal (tidak pucat atau sianosis), 3) Suhu kulit hangat, 4) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 5) Tidak ada keluhan nyeri, kesemutan, atau baal pada ekstremitas, 6) Tekanan darah dan denyut nadi dalam rentang normal untuk pasien, 7) Tingkat kesadaran compos mentis, 8) Produksi urin adekuat (0,5-1,5 ml/kgBB/jam), 9) Nilai laboratorium (seperti hemoglobin dan hematokrit) menunjukkan perbaikan atau mendekati rentang normal.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Intervensi untuk mempertahankan dan meningkatkan perfusi jaringan perifer. Tindakan keperawatan meliputi: 1) Memantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) secara berkala untuk mendeteksi dini tanda syok atau hipoksia. 2) Mengkaji kualitas nadi perifer (kuat/lemah, simetris/asimetris), warna kulit, suhu, dan pengisian kapiler sebagai indikator langsung perfusi. 3) Memposisikan pasien dengan elevasi ekstremitas yang sesuai, hindari posisi yang menekan pembuluh darah. 4) Mempertahankan kehangatan lingkungan dan hindari paparan dingin untuk mencegah vasokonstriksi. 5) Memantau hasil laboratorium (Hb, Ht, hitung retikulosit) untuk mengevaluasi respons terapi dan tingkat anemia. 6) Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai kebutuhan untuk meningkatkan saturasi oksigen dalam darah. 7) Kolaborasi pemberian transfusi darah atau komponen darah (seperti packed red cells) sesuai indikasi dan protokol. 8) Kolaborasi pemberian suplemen zat besi, vitamin B12, atau asam folat sesuai penyebab anemia. 9) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya diet kaya zat besi, vitamin B12, dan asam folat (seperti daging merah, hati, sayuran hijau, kacang-kacangan). 10) Mengajarkan teknik penghematan energi dan manajemen aktivitas untuk mencegah kelelahan yang memperberat hipoksia jaringan. 11) Memantau status neurologis dan tingkat kesadaran untuk mendeteksi hipoksia serebral. 12) Memantau haluaran urin sebagai indikator perfusi ginjal. 13) Memberikan dukungan psikologis dan edukasi tentang kondisi, penyebab, dan rencana pengobatan anemia untuk meningkatkan kepatuhan.
-
Article No. 23940 | 05 Feb 2026
Klinis : Pasien anemia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pasien Anemia
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan perfusi jaringan perifer
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Perfusi jaringan perifer membaik. Kriteria hasil: 1) Kulit hangat, 2) Warna kulit normal, 3) Nadi perifer teraba kuat dan reguler, 4) Tekanan darah dalam rentang normal, 5) Capillary refill time < 3 detik, 6) Tidak ada nyeri atau kram pada ekstremitas, 7) Tidak ada edema, 8) Tidak ada parestesia, 9) Turgor kulit baik, 10) Produksi urin adekuat.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Pemantauan perfusi perifer. Tindakan: 1) Kaji warna, suhu, dan kelembaban kulit serta membran mukosa. 2) Kaji kekuatan dan keteraturan nadi perifer (radialis, dorsalis pedis, tibialis posterior). 3) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) secara berkala. 4) Kaji capillary refill time (CRT). 5) Observasi adanya nyeri, kram, parestesia (kesemutan/baal), atau kelemahan pada ekstremitas. 6) Kaji turgor kulit dan adanya edema. 7) Monitor haluaran urin (output). 8) Anjurkan pasien untuk menghindari menyilangkan kaki atau pergelangan kaki dalam waktu lama. 9) Anjurkan untuk melakukan mobilisasi bertahap sesuai toleransi. 10) Kolaborasi pemberian terapi oksigen jika diperlukan. 11) Kolaborasi pemberian cairan intravena atau transfusi darah sesuai program terapi. 12) Ajarkan pasien dan keluarga tanda-tanda penurunan perfusi yang harus dilaporkan.
Kondisi: Pasien Anemia
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Intoleransi aktivitas
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Toleransi aktivitas meningkat. Kriteria hasil: 1) Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan berat, 2) Tanda vital (nadi, pernapasan, tekanan darah) dalam rentang normal sebelum, selama, dan setelah aktivitas, 3) Pasien melaporkan peningkatan energi, 4) Tidak mengalami sesak napas atau dispnea saat aktivitas, 5) Tidak mengalami pusing atau sinkop, 6) Warna kulit tetap normal selama aktivitas, 7) Pasien dapat mengidentifikasi aktivitas yang dapat dan tidak dapat dilakukan.
Kode SIKI: I.03001
<>Deskripsi : Manajemen intoleransi aktivitas. Tindakan: 1) Kaji faktor penyebab intoleransi aktivitas (tingkat anemia, kelemahan, nyeri, pola tidur). 2) Kaji respons fisiologis terhadap aktivitas (perubahan tanda vital, dyspnea, kelelahan, pucat, pusing). 3) Bantu pasien mengidentifikasi prioritas aktivitas. 4) Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan setelah aktivitas. 5) Bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan. 6) Anjurkan aktivitas bertahap: mulai dari aktivitas ringan, meningkat sesuai toleransi. 7) Ajarkan teknik penghematan energi (duduk saat melakukan aktivitas, istirahat teratur). 8) Kolaborasi pemberian terapi untuk meningkatkan kapasitas pengangkutan oksigen (transfusi, suplementasi). 9) Monitor hasil laboratorium (Hb, Ht). 10) Berikan lingkungan yang tenang untuk mendukung istirahat dan tidur. 11) Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda-tanda kelelahan yang berlebihan.
Kondisi: Pasien Anemia
Kode SDKI: D.0096
Deskripsi Singkat: Risiko infeksi
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Risiko infeksi terkontrol. Kriteria hasil: 1) Tidak menunjukkan tanda dan gejala infeksi (demam, kemerahan, bengkak, nyeri, drainase purulen), 2) Leukosit dalam rentang normal, 3) Melakukan perilaku pencegahan infeksi (cuci tangan, kebersihan diri), 4) Luka (jika ada) menunjukkan proses penyembuhan.
Kode SIKI: I.15001
Deskripsi : Pencegahan infeksi. Tindakan: 1) Monitor tanda-tanda vital, terutama suhu tubuh. 2) Kaji tanda-tanda lokal dan sistemik infeksi. 3) Lakukan dan ajarkan cuci tangan yang benar sebelum dan setelah kontak dengan pasien. 4) Pertahankan teknik aseptik dalam prosedur invasif. 5) Anjurkan kebersihan diri yang adekuat (mandi, perawatan mulut). 6) Tingkatkan asupan nutrisi seimbang untuk mendukung sistem imun. 7) Batasi pengunjung yang sedang sakit. 8) Berikan edukasi tentang pentingnya menghindari kerumunan atau sumber infeksi potensial. 9) Kolaborasi pemberian terapi antibiotik jika diperlukan. 10) Monitor hasil laboratorium (leukosit, LED). 11) Berikan imunisasi sesuai indikasi.
-
Article No. 23941 | 05 Feb 2026
Klinis : pasien merasa malu dan minder
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Harga Diri Rendah Situasional
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Perasaan negatif evaluatif terhadap diri sendiri atau kemampuan diri yang berkembang sebagai respons terhadap situasi atau kejadian tertentu yang dirasakan sebagai kegagalan. Kondisi ini bersifat sementara dan terkait dengan peristiwa spesifik, seperti merasa malu dan minder.
Kode SLKI: L.14015
Deskripsi : Harga diri meningkat. Intervensi keperawatan diarahkan untuk membantu pasien mengembangkan kembali perasaan positif terhadap dirinya. Tujuan akhirnya adalah pasien dapat mengungkapkan penerimaan terhadap diri sendiri, mengakui kekuatan dan kelemahan secara realistis, serta menunjukkan kemampuan untuk mengatasi perasaan malu dan minder dalam situasi sosial. Perawat akan mendorong ekspresi perasaan, memberikan umpan balik positif atas keberhasilan sekecil apapun, membantu mengidentifikasi sumber kekuatan pribadi, dan melatih keterampilan koping serta asertif untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam interaksi.
Kode SIKI: I.14015
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan harga diri. Ini melibatkan serangkaian tindakan keperawatan yang spesifik dan terstruktur. Pertama, perawat menciptakan lingkungan terapeutik yang aman, menerima, dan tidak menghakimi untuk memfasilitasi eksplorasi perasaan. Perawat mendorong pasien untuk mengungkapkan perasaan malu dan mindernya secara verbal, kemudian membantu mengidentifikasi pemicu spesifik dan pikiran negatif otomatis yang menyertainya. Perawat akan membantu pasien mengevaluasi bukti yang mendukung dan menentang pikiran negatif tersebut, menggantinya dengan persepsi yang lebih realistis dan seimbang. Perawat juga membantu pasien mengidentifikasi dan mendaftar keberhasilan, kekuatan, dan kualitas positif diri, mungkin menggunakan teknik seperti jurnal penghargaan diri. Peran permainan (role play) dapat digunakan untuk melatih respons yang lebih asertif dalam situasi yang memalukan. Perawat memberikan pendidikan tentang harga diri dan mekanisme koping sehat. Selain itu, perawat melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan tentang perawatannya sendiri untuk meningkatkan rasa kontrol dan kompetensi. Dukungan keluarga juga digali untuk memberikan penguatan positif. Seluruh intervensi dilakukan dengan sikap empati, menghargai, dan konsisten memberikan pengakuan atas usaha serta kemajuan pasien, sekecil apapun, untuk membangun kembali fondasi harga diri yang positif.
-
Article No. 23942 | 05 Feb 2026
Klinis : Pola Napas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pola napas tidak efektif adalah keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami perubahan pada pola pernapasan yang tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi tubuh. Kondisi ini ditandai dengan perubahan frekuensi, kedalaman, atau irama pernapasan, penggunaan otot bantu pernapasan, dispnea, sianosis, dan penurunan saturasi oksigen. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti obstruksi jalan napas, gangguan neuromuskular, nyeri, ansietas, atau penyakit paru dan jantung. Tujuannya adalah untuk mengembalikan atau mempertahankan pola pernapasan yang efektif guna memenuhi kebutuhan oksigenasi jaringan.
Kode SLKI: 3201
Deskripsi : SLKI 3201: Perbaikan Pola Pernapasan. Tujuan luaran keperawatan ini adalah agar pola pernapasan pasien menjadi efektif. Kriteria luaran yang diharapkan meliputi: frekuensi pernapasan dalam rentang normal sesuai usia, irama pernapasan teratur, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan (seperti retraksi interkostal atau penggunaan otot leher), tidak ada dispnea atau sesak napas baik pada saat istirahat maupun aktivitas, bunyi napas bersih di seluruh lapang paru, saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal (≥95% untuk orang tanpa penyakit paru kronis), warna kulit dan membran mukosa normal (tidak sianosis), serta pasien melaporkan atau menunjukkan kenyamanan pernapasan. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa pertukaran gas berlangsung optimal dan kebutuhan oksigenasi tubuh terpenuhi.
Kode SIKI: 4320
Deskripsi : SIKI 4320: Manajemen Pola Pernapasan. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan sistematis untuk memfasilitasi perbaikan pola pernapasan. Tindakan-tindakan tersebut meliputi: 1) Memonitor status pernapasan secara berkala (frekuensi, kedalaman, irama, usaha napas, penggunaan otot bantu, saturasi oksigen). 2) Melakukan auskultasi bunyi napas untuk mendeteksi adanya abnormalitas seperti wheezing, ronki, atau penurunan bunyi napas. 3) Memposisikan pasien untuk memaksimalkan ekspansi dada (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi) sesuai toleransi dan kondisi. 4) Mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam dan batuk efektif, serta menggunakan teknik spirometri insentif jika diperlukan. 5) Melakukan fisioterapi dada (seperti perkusi, vibrasi, dan drainase postural) jika diindikasikan untuk membantu mobilisasi sekret. 6) Memberikan terapi oksigen sesuai program medis dan memonitor efektivitasnya. 7) Mempertahankan kebersihan dan patensi jalan napas, termasuk suction jika diperlukan. 8) Mengatur lingkungan yang nyaman dengan sirkulasi udara baik dan mengurangi alergen atau iritan. 9) Mengajarkan teknik relaksasi untuk mengurangi ansietas yang dapat memperburupola napas. 10) Memfasilitasi aktivitas dengan pacing untuk mencegah kelelahan dan dispnea. 11) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (seperti dokter, fisioterapis, ahli gizi) untuk penanganan penyebab dasar (misalnya pemberian bronkodilator, analgesi untuk nyeri, atau manajemen nutrisi). Intervensi ini dilakukan secara holistik, berfokus tidak hanya pada gejala tetapi juga pada penyebab dan faktor-faktor yang memperngaruhi, dengan melibatkan pasien dan keluarga dalam perawatan.