Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23959 | 07 Feb 2026
Klinis : Menjelang ajal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Menjelang Ajal
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Respon manusia terhadap pengalaman mendekati kematian.
Kode SLKI: 4601
Deskripsi : Perawatan menjelang ajal: Tujuan keperawatan adalah pasien dan keluarga menerima dukungan komprehensif untuk mencapai kualitas hidup optimal hingga akhir kehidupan, dengan fokus pada manajemen gejala, dukungan psikososial-spiritual, dan penghormatan terhadap otonomi serta nilai-nilai pasien. Intervensi keperawatan mencakup penilaian menyeluruh dan berkelanjutan terhadap kebutuhan fisik (seperti nyeri, sesak napas, mual, kelelahan), psikologis (kecemasan, kesedihan, penerimaan), sosial (hubungan keluarga, penyelesaian urusan), dan spiritual (pencarian makna, perdamaian, ritual keagamaan). Perawat berkolaborasi dengan tim paliatif untuk mengelola gejala secara agresif namun sesuai dengan tujuan perawatan pasien. Dukungan diberikan kepada keluarga melalui edukasi tentang proses menjelang ajal, pelibatan dalam perawatan, serta dukungan emosional dan spiritual. Perawat memfasilitasi komunikasi terbuka tentang harapan, ketakutan, dan preferensi perawatan, termasuk penghormatan terhadap keputusan untuk menghentikan intervensi kuratif yang tidak lagi bermanfaat. Lingkungan diupayakan nyaman, tenang, dan menghormati privasi. Perawat juga memberikan dukungan dalam proses berduka awal (anticipatory grief) dan mempersiapkan keluarga untuk tanda-tanda kematian yang akan datang. Keberadaan perawat yang penuh perhatian dan tanpa penghakiman adalah sentral, memastikan pasien tidak merasa sendirian dan meninggal dengan martabat, bebas dari penderitaan yang tidak perlu, serta sesuai dengan nilai dan kepercayaannya.
Kode SIKI: 4601A
Deskripsi : Fasilitasi kebutuhan spiritual: Intervensi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memfasilitasi pemenuhan kebutuhan spiritual pasien dan keluarga selama masa menjelang ajal. Perawat mengkaji keyakinan, nilai, dan praktik spiritual/keagamaan pasien serta bagaimana pengaruh penyakit terhadap pandangan hidup dan spiritualitasnya. Perawat menciptakan lingkungan yang mendukung ekspresi spiritual dengan sikap terbuka, mendengarkan aktif, dan tanpa menghakimi. Intervensi mencakup memfasilitasi akses kepada pemuka agama atau komunitas spiritual sesuai keinginan pasien, menyediakan ruang dan waktu untuk ritual atau doa, serta menyediakan bacaan atau musik yang bermakna secara spiritual. Perawat membantu pasien dalam proses mencari makna dari kehidupan dan penyakitnya, memfasilitasi rekonsiliasi atau pemberian maaf jika diperlukan, dan mendukung upaya mencapai rasa damai. Perawat juga mendukung keluarga dalam menjalankan ritual spiritual mereka dan mengintegrasikan dukungan spiritual ke dalam rencana perawatan secara holistik. Intervensi ini dilakukan dengan sensitivitas budaya dan penghormatan penuh terhadap otonomi pasien, bahkan jika keyakinannya berbeda dengan perawat.
-
Article No. 23960 | 07 Feb 2026
Klinis : a. Nyeri akut b/d agen cedera fisik
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan atau antisipasi berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI untuk diagnosa "Nyeri Akut" adalah "Kontrol Nyeri". Deskripsi lengkapnya adalah: Tercapainya kenyamanan atau pengendalian nyeri yang ditunjukkan oleh: 1) Melaporkan nyeri terkontrol, 2) Mengenali faktor penyebab, 3) Menggunakan metode pencegahan nyeri, 4) Melaporkan kemampuan untuk mengatasi nyeri, 5) Menggunakan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri, 6) Mengikuti regimen farmakologis yang diresepkan. SLKI ini berfokus pada hasil akhir yang diharapkan dimana pasien mampu mengelola dan mengontrol pengalaman nyerinya, bukan sekadar penghilangan nyeri total. Hal ini melibatkan aspek kognitif (pengenalan penyebab), perilaku (penggunaan teknik dan kepatuhan), dan evaluasi subjektif (pelaporan). Tujuan utamanya adalah meningkatkan kenyamanan dan fungsi pasien serta mencegah kronifikasi nyeri. Perawat berperan dalam mendidik, memfasilitasi, dan mengevaluasi pencapaian setiap indikator ini melalui intervensi yang terencana.
Kode SIKI: I.08001 - I.08036 (Rentang kode untuk intervensi terkait nyeri, contoh utama: I.08001)
Deskripsi : SIKI untuk mendukung SLKI "Kontrol Nyeri" mencakup berbagai intervensi. Sebagai contoh utama, I.08001: Manajemen Nyeri didefinisikan sebagai: Pemberian terapi farmakologis dan nonfarmakologis untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri, ketidaknyamanan, atau penderitaan. Intervensi ini meliputi serangkaian tindakan komprehensif: 1) Melakukan penilaian nyeri yang komprehensif (lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor pencetus). 2) Mengobservasi isyarat nonverbal dari ketidaknyamanan, terutama pada pasien yang tidak dapat berkomunikasi. 3) Memastikan pemberian analgesik yang tepat (jenis, dosis, rute, waktu) sesuai resep dan prinsip farmakologis. 4) Melakukan tindakan nonfarmakologis seperti terapi distraksi (misalnya musik, guided imagery), relaksasi, masase, kompres hangat/dingin, dan reposisi. 5) Memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga tentang regimen nyeri, teknik manajemen nyeri, dan pelaporan nyeri. 6) Mengevaluasi dan mendokumentasikan efektivitas intervensi yang diberikan. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan pendekatan biopsikososial. Selain I.08001, intervensi pendukung lain seperti I.08015: Pendidikan: Proses Penyakit (untuk membantu pasien memahami penyebab nyeri), I.09001: Dukungan Emosional (karena nyeri erat kaitannya dengan kondisi emosi), dan I.10068: Terapi Musik (sebagai distraksi) dapat digunakan secara sinergis. Penerapan SIKI ini memerlukan keahlian klinis, empati, dan kolaborasi dengan tim kesehatan dan pasien sendiri untuk mencapai kontrol nyeri yang optimal.
-
Article No. 23954 | 06 Feb 2026
Klinis : Ny. L (65 tahun) dirawat di ruang penyakit dalam dengan keluhan sering buang air besar cair sejak 5 hari terakhir. Keluarga mengatakan bahwa pasien BAB setiap ±3 jam dan sering tidak dapat menahan keinginan untuk BAB. Pasien juga mengeluh nyeri perut setelah BAB dengan skala nyeri 5. Dari hasil observasi, pasien tampak BAB setiap 3 jam dengan konsistensi feses cair dan area perianal mulai tampak kemerahan akibat sering dibersihkan. Kondisi ini disebabkan oleh gangguan fungsi sfingter rektal yang menyebabkan inkontinensia defekasi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Inkontinensia Feses
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Inkontinensia feses adalah keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami ketidakmampuan untuk mengontrol pengeluaran feses, yang mengakibatkan keluarnya feses secara tidak disengaja. Pada kasus Ny. L, kondisi ini dimanifestasikan dengan seringnya buang air besar cair (diare) setiap ±3 jam dan ketidakmampuan menahan keinginan BAB, yang disebabkan oleh gangguan fungsi sfingter rektal. Diare yang berkepanjangan memperberat kondisi inkontinensia karena volume dan frekuensi cairan yang meningkat melebihi kapasitas retensi sfingter yang sudah terganggu. Nyeri perut setelah BAB juga merupakan respons terhadap iritasi mukosa usus dan kontraksi kolon yang berlebihan. Kondisi ini berdampak signifikan pada integritas kulit, harga diri, dan kualitas hidup pasien.
Kode SLKI: L.03108
Deskripsi : Manajemen Inkontinensia Feses. Tujuan luaran keperawatan adalah agar inkontinensia feses pada pasien dapat terkelola dengan baik. Indikator luaran yang diharapkan meliputi: (1) Pasien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam mengontrol pengeluaran feses, ditandai dengan berkurangnya frekuensi episode inkontinensia. (2) Konsistensi feses kembali normal atau mendekati normal. (3) Integritas kulit area perianal tetap terjaga, tanpa kemerahan, lecet, atau tanda iritasi lainnya. (4) Pasien dan keluarga mampu mendemonstrasikan perawatan kulit perianal yang benar. (5) Pasien melaporkan penurunan tingkat nyeri atau ketidaknyamanan di area perianal dan abdomen. (6) Pasien menunjukkan pemahaman tentang faktor penyebab dan strategi penatalaksanaan yang dapat dilakukan. Pada Ny. L, luaran diarahkan untuk mencapai pengurangan frekuensi diare, penyembuhan kemerahan perianal, dan peningkatan kontrol defekasi.
Kode SIKI: I.04249
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk manajemen inkontinensia feses meliputi serangkaian tindakan yang komprehensif. Pertama, lakukan Assessment Komprehensif: kaji pola defekasi (frekuensi, konsistensi, volume, pemicu), kemampuan mengenali sensasi ingin BAB, riwayat medis, obat-obatan, serta pemeriksaan fisik area perianal (perhatikan kemerahan, lecet, maserasi seperti pada Ny. L). Kedua, Manajemen Diet dan Cairan: kolaborasi dengan ahli gizi untuk merekomendasikan diet rendah serat sementara (untuk mengurangi massa feses), hindari makanan pencetus iritasi (pedas, berlemak, susu), dan pastikan asupan cairan yang adekuat untuk mencegah dehidrasi tanpa memperberat diare. Ketiga, Latihan Penguatan Otot Dasar Panggul: ajarkan pasien latihan Kegel jika kondisi memungkinkan untuk meningkatkan kekuatan sfingter ani. Keempat, Manajemen Kulit Perianal: bersihkan area perianal dengan air hangat dan sabun lembut setelah setiap episode inkontinensia, keringkan dengan menepuk-nepuk (jangan digosok), dan aplikasikan barrier cream (seperti salep zinc oxide) untuk melindungi kulit dari iritasi feses. Kelima, Modifikasi Pola Eliminasi: bantu pasien untuk menjadwalkan waktu ke toilet secara teratur, misalnya setelah makan, untuk memanfaatkan refleks gastrokolik. Keenam, Penggunaan Alat Bantu Sementara: pertimbangkan penggunaan pembalut dewasa atau celana inkontinensia khusus untuk menjaga higienitas dan martabat pasien. Ketujuh, Manajemen Nyeri: kaji karakteristik nyeri, ajarkan teknik relaksasi, dan kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep jika diperlukan. Kedelapan, Edukasi Pasien dan Keluarga: berikan pendidikan mengenai penyebab kondisi, pentingnya perawatan kulit, strategi diet, dan cara merespons sensasi ingin BAB dengan segera. Kesembilan, Kolaborasi Medis: kolaborasi untuk penanganan penyebab diare dan gangguan sfingter (terapi farmakologi antidiare, antibiotik jika ada infeksi, atau terapi lainnya). Kesepuluh, Dukungan Psikososial: berikan dukungan emosional untuk mengurangi rasa malu, cemas, dan menjaga harga diri pasien. Semua intervensi ini harus didokumentasikan dan dievaluasi secara berkala untuk menilai efektivitas dan mencapai luaran yang diharapkan.
-
Article No. 23955 | 06 Feb 2026
Klinis : latihan batuk efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Latihan Batuk Efektif
Kode SDKI: 0208
Deskripsi Singkat: Respon terhadap upaya mempelajari dan berpartisipasi dalam tindakan batuk yang memfasilitasi pembersihan jalan napas.
Kode SLKI: 3401
Deskripsi : Kemampuan pasien untuk melakukan batuk efektif meningkat, ditandai dengan: 1) Menyatakan pemahaman tentang tujuan dan manfaat latihan batuk efektif. 2) Mendemonstrasikan posisi yang tepat untuk memfasilitasi batuk (misalnya, duduk tegak, condong ke depan). 3) Melakukan teknik pernapasan dalam yang adekuat sebelum batuk. 4) Melakukan manuver batuk yang terkontrol dan berhasil (misalnya, batuk dua kali berturut-turut setelah inspirasi dalam, menggunakan otot perut). 5) Mengeluarkan sekret atau melaporkan sensasi bersih di jalan napas setelah batuk. 6) Mempertahankan kebersihan jalan napas dengan suara napas bersih atau berkurangnya bunyi napas abnormal. 7) Melaporkan penurunan rasa sesak atau ketidaknyamanan di dada setelah batuk. 8) Melakukan latihan secara mandiri dan rutin sesuai program yang ditetapkan.
Kode SIKI: 4230
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk melatih dan mendukung pasien dalam melakukan teknik batuk yang efektif untuk membersihkan jalan napas, meliputi: 1) Menilai kemampuan dan kesiapan pasien untuk belajar. 2) Menjelaskan tujuan, manfaat, dan prinsip dasar batuk efektif. 3) Mendemonstrasikan teknik batuk efektif secara bertahap: a) Posisi tubuh duduk tegak atau semi-Fowler, kaki menapak kokoh, condong sedikit ke depan. b) Tarik napas dalam-dalam melalui hidung, tahan selama 2-3 detik. c) Kontraksikan otot perut, batukkan dengan kuat dua kali (batuk "huffing" atau batuk dalam) sambil menekan perut dengan tangan atau bantal jika ada luka operasi. 4) Memberikan kesempatan pasien untuk mendemonstrasikan kembali (return demonstration) dan memberikan umpan balik. 5) Membantu pasien menemukan posisi yang paling nyaman dan efektif (misalnya, splinting dengan bantal setelah operasi abdomen). 6) Menganjurkan hidrasi yang adekuat untuk mengencerkan sekret. 7) Menjadwalkan latihan pada waktu yang tepat (misalnya, setelah nebulizer, setelah bangun tidur). 8) Memotivasi dan memberikan penguatan positif atas usaha pasien. 9) Memantau keefektifan batuk (pengeluaran sputum, perubahan suara napas) dan tanda-tanda kelelahan. 10) Mendokumentasikan respons dan kemajuan pasien.
-
Article No. 23956 | 06 Feb 2026
Klinis : Pasien mengeluh badan lemas keringat dingin, nyeri dada sebelah kiri tembus punggung. Tensi 190/80 mmhg. Gula darah 255 mg/dl nadi 144 kali permenit ireguler
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertensi Darurat dengan Kemungkinan Sindrom Koroner Akut dan Hiperglikemia
Kode SDKI: D.0013
Deskripsi Singkat: Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SLKI: L.03104
Deskripsi : Curah jantung memadai
Kode SIKI: I.01298
Deskripsi : Pemantauan tanda vital dan status hemodinamik
Kondisi: Hipertensi Darurat dengan Kemungkinan Sindrom Koroner Akut dan Hiperglikemia
Kode SDKI: D.0096
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol nyeri
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Lakukan pengkajian nyeri komprehensif
Kondisi: Hipertensi Darurat dengan Kemungkinan Sindrom Koroner Akut dan Hiperglikemia
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Kontrol kadar glukosa darah
Kode SIKI: I.04002
Deskripsi : Pemantauan kadar glukosa darah
-
Article No. 23957 | 06 Feb 2026
Klinis : Pasien mengeluh bab ada darah disertai nyeri.tampak benjolan hemoroid di anus
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Pasien mengontrol nyeri dengan tepat. Indikator yang relevan untuk kasus hemoroid meliputi: melaporkan nyeri terkontrol; menggunakan metode farmakologis dan non-farmakologis untuk mengatasi nyeri; menunjukkan perilaku nyaman (misalnya, tidak gelisah, ekspresi wajah rileks); serta fungsi fisik dan psikologis tetap terjaga.
Kode SIKI: 3520
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien. Pada pasien dengan hemoroid berdarah dan nyeri, tindakan spesifik meliputi: 1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, faktor pencetus dan pereda, skala intensitas). 2) Memberikan terapi farmakologis sesuai resep (analgesik, anti-inflamasi, atau obat hemoroid topikal) dan memantau efek serta efek sampingnya. 3) Menerapkan intervensi non-farmakologis seperti kompres dingin pada area anus untuk mengurangi edema dan nyeri, serta mandi air hangat (sitz bath) untuk meningkatkan kebersihan, relaksasi sfingter, dan sirkulasi area. 4) Memberikan edukasi tentang modifikasi diet (tinggi serat, cukup cairan) dan kebiasaan BAB untuk menghindari mengejan yang memperberat nyeri dan perdarahan. 5) Mengajarkan teknik distraksi dan relaksasi. 6) Memposisikan pasien dengan nyaman, hindari duduk atau berdiri lama. 7) Memantau tanda-tanda perdarahan dan komplikasi nyeri lebih lanjut.
Kondisi: Perfusi Perifer Tidak Efektif
Kode SDKI: 00099
Deskripsi Singkat: Penurunan nutrisi dan oksigenasi pada tingkat jaringan perifer akibat penurunan suplai darah.
Kode SLKI: 0407
Deskripsi : Status Sirkulasi Perifer. Sirkulasi darah perifer memadai untuk memenuhi kebutuhan jaringan. Indikator yang relevan meliputi: denyut nadi perifer dapat diraba; warna kulit dan suhu area perianal tidak menunjukkan iskemia; edema jaringan (pada benjolan hemoroid) berkurang; serta tidak ada peningkatan nyeri iskemik.
Kode SIKI: 4090
Deskripsi : Manajemen Perfusi Jaringan Perifer. Intervensi untuk mengoptimalkan sirkulasi dan perfusi jaringan. Pada hemoroid, tindakan difokuskan pada area vena hemoroidal yang mengalami kongesti dan edema. Tindakan spesifik meliputi: 1) Memantau karakteristik benjolan hemoroid (ukuran, warna, konsistensi, nyeri tekan) dan tanda-tanda trombosis atau strangulasi. 2) Menganjurkan dan membantu pasien melakukan sitz bath air hangat untuk meningkatkan aliran darah vena dan mengurangi kongesti. 3) Menghindari faktor yang meningkatkan tekanan intra-abdomen dan intra-rektal seperti mengejan saat BAB, duduk lama, mengangkat beban berat, atau batuk kronis. 4) Menganjurkan posisi yang tidak menekan daerah perianal, seperti berbaring miring. 5) Memberikan edukasi tentang pentingnya menghindari konstipasi melalui manajemen diet dan hidrasi untuk mengurangi tekanan pada pleksus vena. 6) Kolaborasi pemberian venotonik jika diresepkan. 7) Memantau tanda-tanda perdarahan aktif dari hemoroid sebagai manifestasi gangguan integritas vaskuler.
Kondisi: Konstipasi
Kode SDKI: 00011
Deskripsi Singkat: Penurunan frekuensi defekasi dari biasanya disertai dengan pengeluaran feses yang keras atau kering, dan/atau upaya mengejan yang berlebihan.
Kode SLKI: 0501
Deskripsi : Status Eliminasi Feses. Eliminasi feses sesuai dengan kebutuhan individu. Indikator meliputi: frekuensi dan konsistensi feses dalam rentang normal bagi pasien; proses defekasi tanpa mengejan berlebihan; tidak ada keluhan nyeri atau perdarahan rektal saat defekasi; serta pasien memahami dan menerapkan perilaku untuk mempertahankan eliminasi normal.
Kode SIKI: 0430
Deskripsi : Manajemen Konstipasi. Intervensi untuk mencegah dan meringankan konstipasi. Pada pasien hemoroid, ini adalah intervensi kunci untuk mengurangi tekanan pada pleksus vena dan mencegah iritasi lebih lanjut. Tindakan spesifik meliputi: 1) Mengkaji pola eliminasi, kebiasaan diet, asupan cairan, dan aktivitas fisik. 2) Meningkatkan asupan serat secara bertahap melalui buah, sayur, dan biji-bijian. 3) Mendorong asupan cairan minimal 2 liter per hari (kecuali kontraindikasi) untuk melunakkan feses. 4) Menganjurkan aktivitas fisik ringan secara teratur seperti berjalan untuk meningkatkan motilitas usus. 5) Melatih pasien untuk merespons dorongan defekasi segera dan tidak menahannya. 6) Mengajarkan posisi defekasi yang optimal (misalnya, menggunakan footstool untuk menaikkan lutut di atas pinggul). 7) Kolaborasi pemberian laksatif, pelunak feses, atau supositoria sesuai resep, dengan mempertimbangkan kondisi hemoroid. 8) Memantau frekuensi, konsistensi (menggunakan skala Bristol), dan kesulitan defekasi. 9) Memberikan edukasi komprehensif tentang hubungan antara konstipasi, mengejan, dan perburukan hemoroid.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 00004
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons terhadap patogen.
Kode SLKI: 1101
Deskripsi : Kontrol Infeksi. Pasien bebas dari infeksi. Indikator meliputi: tanda-tanda vital dalam rentang normal; tidak ada tanda inflamasi (kemerahan, bengkak, panas, nyeri) yang memburuk di area anus; tidak ada drainase purulen dari benjolan hemoroid atau anus; serta pasien memahami dan menerapkan perilaku kebersihan perianal yang tepat.
Kode SIKI: 6550
Deskripsi : Proteksi terhadap Infeksi. Intervensi untuk mencegah dan mengurangi risiko infeksi. Pada hemoroid yang berdarah, integritas kulit/mukosa terganggu sehingga menjadi portal masuk kuman. Tindakan spesifik meliputi: 1) Memantau tanda-tanda infeksi lokal (peningkatan kemerahan, bengkak, nyeri, pus) dan sistemik (demam, leukositosis). 2) Mempertahankan kebersihan area perianal dengan mencuci dengan air bersih dan sabun lembut setelah BAB, lalu dikeringkan dengan menepuk-nepuk (bukan menggosok). 3) Menganjurkan dan membantu pelaksanaan sitz bath air hangat untuk membersihkan dan meningkatkan penyembuhan. 4) Mengganti pembalut atau pakaian dalam jika digunakan untuk menampung perdarahan kecil, dengan teknik aseptik. 5) Memberikan edukasi tentang pentingnya mencuci tangan sebelum dan setelah perawatan area anus. 6) Kolaborasi pemberian antibiotik topikal atau sistemik jika ada tanda infeksi. 7) Memantau karakteristik perdarahan (jumlah, warna) sebagai indikasi kondisi luka.
-
Article No. 23958 | 06 Feb 2026
Klinis : Pasien mengeluh bab ada darah disertai nyeri.tampak benjolan hemoroid di anus
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut dan Gangguan Eliminasi Feses terkait Hemoroid
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada kondisi hemoroid, nyeri akut timbul akibat peradangan, trombosis, atau strangulasi pada pleksus vena hemoroid, serta iritasi dari feses yang keras saat defekasi. Nyeri ini bersifat tajam atau terbakar, sering memuncak saat mengejan (defekasi) dan dapat berlanjut beberapa saat setelahnya. Nyeri memengaruhi kenyamanan pasien secara signifikan dan dapat menyebabkan kecemasan serta perilaku menghindari defekasi (menahan BAB) yang justru memperburuk konstipasi dan kondisi hemoroid itu sendiri.
Kode SLKI: L.08016
Deskripsi : SLKI L.08016 berfokus pada manajemen nyeri. Tujuannya adalah agar nyeri pasien dapat teratasi, yang ditandai dengan kriteria hasil: 1) Pasien melaporkan nyeri berkurang atau hilang (skala nyeri menurun). 2) Ekspresi wajah dan perilaku pasien menunjukkan kenyamanan (tidak meringis, gelisah). 3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal pasien (khususnya tekanan darah dan denyut nadi yang dapat meningkat saat nyeri). 4) Pasien mampu menunjukkan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri. 5) Pasien mampu melakukan aktivitas secara mandiri sesuai toleransi. Pada konteks hemoroid, pengurangan nyeri sangat penting untuk memutus siklus nyeri-konstipasi. Ketika nyeri berkurang, pasien tidak lagi takut untuk defekasi, sehingga feses tidak tertahan dan tidak mengeras yang dapat memperparah trauma pada anus. Pengelolaan nyeri juga meningkatkan kualitas istirahat dan partisipasi pasien dalam perawatan diri.
Kode SIKI: I.08016
Deskripsi : SIKI I.08016 mencakup intervensi keperawatan untuk mengelola nyeri akut. Intervensi ini meliputi: 1) Pengkajian Nyeri Komprehensif: Menilai lokasi, intensitas (menggunakan skala), karakteristik, faktor pencetus (misal: saat BAB), dan faktor pereda nyeri pada pasien. 2) Manajemen Farmakologis: Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep (seperti parasetamol atau NSAID untuk mengurangi inflamasi dan nyeri), serta obat topikal (salep atau supositoria anestesi/antiradang) sesuai instruksi. 3) Intervensi Non-Farmakologis: a) Kompres Hangat atau Dingin: Kompres hangat duduk (sitz bath) dapat meningkatkan relaksasi otot, meningkatkan aliran darah lokal, dan mengurangi spasme serta nyeri. Kompres dingin dapat membantu vasokonstriksi dan mengurangi pembengkakan pada hemoroid akut yang meradang. b) Posisi: Menganjurkan posisi duduk yang tidak menekan daerah anus (menggunakan bantal donat) dan menghindari duduk atau berdiri lama. c) Distraksi dan Relaksasi: Teknik napas dalam atau distraksi seperti mendengarkan musik saat nyeri muncul. 4) Edukasi: Memberikan penjelasan tentang penyebab nyeri, pentingnya menghindari mengejan berlebihan, dan cara menggunakan obat pereda nyeri dengan benar. 5) Modifikasi Diet: Kolaborasi dengan ahli gizi atau memberikan edukasi untuk meningkatkan asupan serat dan cairan guna melunakkan feses, sehingga mengurangi nyeri saat defekasi. 6) Monitoring dan Evaluasi: Memantau respons pasien terhadap intervensi yang diberikan, termasuk efektivitas analgesik dan munculnya efek samping, serta mengevaluasi skala nyeri secara berkala untuk menilai perkembangan.
Kondisi: Gangguan Eliminasi Feses: Konstipasi/Diare berisiko terkait Hemoroid
Kode SDKI: D.0012
Deskripsi Singkat: Gangguan Eliminasi Feses adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami perubahan dalam kebiasaan buang air besar yang tidak diinginkan. Pada pasien hemoroid, gangguan ini bersifat kompleks dan seringkali sirkuler. Nyeri saat BAB dapat menyebabkan pasien secara tidak sadar menahan keinginan defekasi (retensi feses psikogenik). Penundaan ini menyebabkan feses semakin lama berada di kolon, sehingga air diserap lebih banyak dan feses menjadi keras (konstipasi). Feses yang keras kemudian memerlukan usaha mengejan yang lebih kuat saat dikeluarkan, yang meningkatkan tekanan intra-abdomen dan memperburuk pembengkakan hemoroid, bahkan menyebabkan perdarahan dan robekan (fisura ani). Di sisi lain, beberapa pasien mungkin mengalami iritasi dan sensasi tidak tuntas yang menyebabkan peningkatan frekuensi BAB atau perubahan konsistensi. Gangguan ini berdampak pada integritas kulit perianal, kenyamanan, dan status nutrisi pasien.
Kode SLKI: L.03012
Deskripsi : SLKI L.03012 bertujuan untuk memulihkan atau mempertahankan eliminasi feses yang normal. Kriteria hasil yang diharapkan adalah: 1) Pasien melaporkan pola defekasi teratur (sesuai kebiasaan individu, biasanya 3x/minggu hingga 3x/hari). 2) Konsistensi feses lunak dan berbentuk (tipe 3-4 pada Bristol Stool Chart). 3) Pasien tidak mengalami kesulitan atau nyeri saat defekasi (tidak perlu mengejan kuat). 4) Tidak ada darah segar pada feses atau tisu toilet (perdarahan terkontrol). 5) Pasien memahami dan menerapkan perilaku untuk mempertahankan eliminasi normal, seperti diet tinggi serat dan minum cukup. Pencapaian kriteria ini menunjukkan bahwa siklus konstipasi-nyeri-hemoroid telah terputus. Eliminasi yang lancar mengurangi tekanan pada pleksus vena hemoroid, memungkinkan proses penyembuhan, dan mencegah kekambuhan.
Kode SIKI: I.03012
Deskripsi : SIKI I.03012 berisi intervensi untuk mengatasi gangguan eliminasi feses. Intervensi spesifik untuk pasien hemoroid meliputi: 1) Pengkajian Pola BAB: Memantau frekuensi, konsistensi (menggunakan Bristol Stool Chart), warna, adanya darah, serta kesulitan dan nyeri yang menyertai. 2) Manajemen Diet: a) Peningkatan Asupan Serat: Menganjurkan konsumsi sayuran, buah-buahan (seperti pepaya, pir), dan biji-bijian utuh secara bertahap untuk meningkatkan massa feses dan melunakkannya. b) Peningkatan Asupan Cairan: Menganjurkan minum air putih minimal 2 liter per hari (kecuali kontraindikasi) untuk membantu kerja serat dan mencegah feses keras. c) Hindari Makanan Pemicu Iritasi: Menghindari makanan pedas berlebihan, alkohol, dan kafein yang dapat memperparah iritasi dan konstipasi. 3) Manajemen Perilaku: a) Latihan Kebiasaan BAB: Menganjurkan untuk tidak menahan keinginan BAB dan mencoba BAB pada waktu yang sama setiap hari (misal setelah sarapan) untuk memanfaatkan refleks gastrokolik. b) Posisi Defekasi: Menyarankan posisi jongkok atau menggunakan pijakan kaki (footstool) saat di toilet duduk untuk meluruskan sudut anorektal, sehingga memudahkan pengeluaran feses dengan mengejan minimal. 4) Aktivitas Fisik: Menganjurkan aktivitas ringan seperti berjalan kaki untuk meningkatkan motilitas usus. 5) Manajemen Farmakologis Kolaboratif: Kolaborasi pemberian pelunak feses (seperti docusate sodium) atau laksatif pembentuk massa (seperti psyllium) sesuai resep, dan menghindari laksatif stimulan yang dapat menyebabkan kram. 6) Perawatan Lokal dan Higiene: Menganjurkan membersihkan area anus dengan air bersih dan menepuk-nepuk hingga kering (bukan menggosok) setelah BAB untuk mencegah iritasi lebih lanjut. 7) Edukasi Komprehensif: Memberikan penjelasan tentang hubungan antara diet, hidrasi, kebiasaan BAB, dan perburukan hemoroid, serta pentingnya kepatuhan terhadap modifikasi gaya hidup untuk mencegah kekambuhan.
-
Article No. 23930 | 05 Feb 2026
Klinis : Bayi Ny. S BBLSR reflek menghisap lemah, terpasang OGT
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bayi Ny. S BBLSR reflek menghisap lemah, terpasang OGT
Kode SDKI: 0019
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SLKI: 1801
Deskripsi : Status Nutrisi
Kode SIKI: 3401
Deskripsi : Manajemen Pemberian Nutrisi
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI) - Kode 0019: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Definisi SDKI: Sebuah kondisi di mana individu berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pada kasus bayi Ny. S, kondisi "Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR)" dengan "refleks menghisap lemah" dan "terpasang OGT (Oral Gastric Tube)" secara langsung menjadi faktor risiko utama terjadinya ketidakseimbangan nutrisi. BBLSR memiliki cadangan energi dan nutrisi yang sangat terbatas, sementara kebutuhan untuk tumbuh kembang sangat tinggi. Refleks menghisap yang lemah menghambat kemampuan bayi untuk menyusu secara efektif, baik dari payudara ibu maupun dari botol, sehingga asupan nutrisi oral tidak dapat memenuhi kebutuhan. Pemasangan OGT itu sendiri merupakan indikasi bahwa bayi tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya secara mandiri melalui penghisapan. Oleh karena itu, diagnosa ini sangat tepat karena mengidentifikasi kerentanan bayi terhadap defisit kalori, protein, vitamin, dan mineral yang dapat berakibat pada gagal tumbuh, hipoglikemia, gangguan perkembangan neurologis, dan penurunan daya tahan tubuh.
Luaran Keperawatan (SLKI) - Kode 1801: Status Nutrisi
Definisi SLKI: Ukuran kecukupan asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolik. SLKI ini dipilih sebagai tujuan dari intervensi keperawatan. Tujuannya adalah untuk mencapai dan mempertahankan status nutrisi yang adekuat pada bayi BBLSR tersebut. Indikator pencapaian luaran ini dapat dimonitor melalui parameter objektif seperti: peningkatan berat badan sesuai kurva pertumbuhan (misal, 15-20 gram/kgBB/hari), stabilnya kadar gula darah (normoglikemia), nilai laboratorium seperti albumin dan prealbumin dalam batas normal, serta tanda klinis seperti kulit tidak kering, turgor kulit baik, dan bayi menunjukkan tanda-tanda kenyang serta tenang setelah pemberian nutrisi. SLKI ini menjadi panduan untuk mengevaluasi keberhasilan intervensi yang dilakukan, dengan target akhir bayi dapat tumbuh dan berkembang optimal meski dengan kondisi awalnya yang rentan.
Intervensi Keperawatan (SIKI) - Kode 3401: Manajemen Pemberian Nutrisi
Definisi SIKI: Pemberian bantuan atau penyediaan nutrisi yang seimbang untuk mendukung proses metabolik. Intervensi ini adalah tindakan spesifik yang dilakukan perawat untuk mencegah realisasi risiko yang telah didiagnosa (SDKI 0019) dan mencapai luaran yang diharapkan (SLKI 1801). Pada bayi dengan refleks menghisap lemah dan terpasang OGT, Manajemen Pemberian Nutrisi meliputi serangkaian tindakan yang kompleks dan hati-hati. Pertama, kolaborasi dengan dokter dan ahli gizi untuk menentukan jenis nutrisi (ASI perah, susu formula khusus prematur, fortifier), volume, frekuensi, dan metode pemberian (bolus atau kontinu) yang sesuai dengan berat badan, usia gestasi, dan toleransi bayi. Kedua, pemberian nutrisi melalui OGT dengan teknik yang steril dan tepat: memastikan posisi selang sudah di lambung dengan uji pH atau auskultasi sebelum pemberian, memberikan nutrisi dengan kecepatan yang ditentukan (biasanya menggunakan syringe pump untuk kontrol yang akurat), dan melakukan flushing dengan air steril setelah pemberian untuk menjaga patensi selang. Ketiga, memantau toleransi nutrisi secara ketat dengan mengobservasi tanda-tanda intoleransi seperti muntah, distensi abdomen, residu lambung yang banyak, atau perubahan pola defekasi. Keempat, melindungi dari komplikasi seperti aspirasi dengan memposisikan kepala bayi lebih tinggi selama dan setelah pemberian, serta perawatan kulit sekitar hidung tempat fiksasi OGT. Kelima, stimulasi perkembangan oromotor dengan memberikan empeng non-nutritive atau latihan menghisap pada puting ibu (jika kondisi memungkinkan) untuk melatih refleks menghisap dan menelan, sebagai persiapan transisi ke pemberian nutrisi oral. Keenam,mengenai pentingnya nutrisi, cara memerah ASI, dan keterlibatan mereka dalam perawatan. Dengan menjalankan SIKI 3401 secara komprehensif, perawat secara aktif mengelola risiko malnutrisi dan mendukung pencapaian status nutrisi yang optimal bagi bayi BBLSR.
-
Article No. 23931 | 05 Feb 2026
Klinis : kemampuan perawatan diri seluruh aktivitas dibantu orang, keluhan kesulitas bergerak pada ekstrimitas, keluhan lelah saat aktivitas, kekuatan 2 2 2 2, tidak ada kelainan ekstremitias, tidak ada kelainan tulang belakang,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Perawatan Diri: Mandi/Higiene, Berpakaian/Toileting, Makan, Toileting
Kode SDKI: SDKI.B.1.1
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri (mandi, berpakaian, makan, toileting) yang mengakibatkan ketergantungan penuh pada bantuan orang lain.
Kode SLKI: SLKI.B.1.1.1 - SLKI.B.1.1.4
Deskripsi : SLKI untuk kondisi ini mencakup serangkaian kriteria hasil yang diharapkan setelah intervensi keperawatan. Pasien diharapkan dapat: (SLKI.B.1.1.1) Melakukan aktivitas mandi/higiene secara mandiri dengan adaptasi; (SLKI.B.1.1.2) Memilih pakaian dan berpakaian secara mandiri dengan adaptasi; (SLKI.B.1.1.3) Memasukkan makanan dan minuman ke dalam mulut serta menelan dengan aman; (SLKI.B.1.1.4) Mengungkapkan keinginan BAB/BAK dan menggunakan fasilitas toileting dengan bantuan terbatas. Pada kondisi pasien dengan kekuatan otot 2 (poor) di semua ekstremitas dan kelelahan, kemandirian penuh mungkin tidak realistis dalam jangka pendek. Oleh karena itu, SLKI yang lebih tepat adalah peningkatan partisipasi dalam perawatan diri dengan bantuan minimal, pencegahan komplikasi (seperti dekubitus, malnutrisi, infeksi saluran kemih), dan pemeliharaan harga diri selama proses bantuan. Tujuan utamanya adalah mencapai tingkat fungsi tertinggi yang mungkin dengan memanfaatkan alat bantu, konservasi energi, dan dukungan lingkungan.
Kode SIKI: SIKI.B.1.1.1 - SIKI.B.1.1.16
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk defisit perawatan diri yang komprehensif, difokuskan pada bantuan, edukasi, dan modifikasi lingkungan. Intervensi kunci meliputi: (1) **Membantu aktivitas perawatan diri** sesuai kebutuhan (mandi di tempat tidur/chair bath, membantu berpakaian dengan teknik yang aman, menyuapi atau menyiapkan makanan yang mudah dikunyah dan ditelan, membantu toileting dengan bedpan/urinal atau ke kamar mandi). (2) **Melakukan konservasi energi** dengan mengatur jadwal aktivitas, memberikan istirahat sebelum dan setelah aktivitas, dan memecah tugas menjadi langkah-langkah kecil. (3) **Melatih dan memfasilitasi penggunaan alat bantu** seperti kursi roda, alat makan adaptif, pegangan di toilet, dan kursi mandi. (4) **Memposisikan dan memindahkan pasien** dengan teknik yang aman (seperti transfer dengan sabuk pengaman/transfer belt) untuk mencegah cedera perawat dan pasien. (5) **Memantau dan memelihara integritas kulit** selama perawatan, terutama di area tekanan. (6) **Melakukan kolaborasi** dengan fisioterapi untuk latihan rentang gerak pasif/aktif asistif dan terapi okupasi untuk pelatihan aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL). (7) **Mengatur lingkungan** agar aman dan mendukung (penataan perabot, pencahayaan, penempatan bel pemanggil). (8) **Memberikan edukasi dan dukungan emosional** kepada pasien dan keluarga tentang kondisi, teknik membantu, dan pentingnya mempertahankan otonomi sebanyak mungkin. Semua intervensi dilakukan dengan prinsip menghormati martabat pasien, mendorong partisipasi sejauh mampu, dan mencegah komplikasi imobilisasi seperti kontraktur, pneumonia, dan trombosis.
-
Article No. 23932 | 05 Feb 2026
Klinis : klien merasa tidak nyaman dengan penyakitnya. hal tersebut dibuktikan dengan klien tidak ingin melakukan HD saat ini dikarenakan klien merasa lelah melakukannya tiap bulan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Kelelahan
Kode SDKI: B.3
Deskripsi Singkat: Kelelahan adalah perasaan lelah yang mendalam dan terus-menerus serta berkurangnya kapasitas untuk kerja fisik dan mental pada tingkat biasa yang tidak dapat dihilangkan dengan istirahat.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Klien melaporkan penurunan kelelahan. Kelelahan, sebagai respons manusia terhadap penyakit kronis dan pengobatan yang melelahkan seperti hemodialisis (HD), merupakan pengalaman subjektif yang kompleks dan melemahkan. Pada kasus klien dengan penyakit ginjal kronis (PGK) yang menjalani HD rutin, kelelahan seringkali bersifat multifaktorial. Penyebabnya dapat berasal dari anemia uremik akibat penurunan produksi eritropoietin, akumulasi toksin uremik di antara waktu dialisis, ketidakseimbangan elektrolit, beban psikologis dari penyakit kronis, dan rutinitas terapi pengganti ginjal itu sendiri yang menguras energi secara fisik dan emosional. Klien yang menyatakan "lelah melakukannya tiap bulan" menunjukkan beban perawatan (treatment burden) yang tinggi, di mana rutinitas medis yang repetitif dan invasif menjadi sumber distress dan keletihan yang mendalam. Kelelahan ini bukan sekadar rasa kantuk biasa, tetapi suatu keadaan kekurangan energi yang mempengaruhi motivasi, fungsi kognitif, dan partisipasi dalam perawatan diri, termasuk kepatuhan menjalani HD. Oleh karena itu, tujuan SLKI L.08001 adalah agar klien dapat melaporkan penurunan tingkat kelelahan yang dirasakannya, yang diukur melalui skala kelelahan yang valid atau laporan verbal klien tentang peningkatan energi dan kemampuan untuk melakukan aktivitas yang diinginkan.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Kolaborasi pemberian terapi untuk mengurangi kelelahan. Intervensi keperawatan untuk mengatasi kelelahan pada pasien HD memerlukan pendekatan holistik dan kolaboratif. Pertama, perawat perlu melakukan asesmen komprehensif untuk mengidentifikasi faktor penyebab yang dapat dimodifikasi, seperti kadar hemoglobin, status gizi (asupan protein dan kalori), keseimbangan cairan, dan parameter dialisis yang adekuat (seperti Kt/V). Perawat berkolaborasi dengan tim medis untuk mengoptimalkan manajemen anemia melalui pemberian agen perangsang eritropoesis (ESA) dan suplementasi zat besi sesuai protokol. Kedua, perawat memberikan edukasi kepada klien dan keluarga tentang pentingnya HD yang teratur dan adekuat untuk mengurangi gejala uremik penyebab kelelahan. Perawat juga mendorong manajemen energi melalui teknik penghematan energi, seperti mengatur prioritas aktivitas, menyelingi aktivitas dengan istirahat, dan mendistribusikan tugas. Intervensi psikoedukasi sangat krusial; perawat memberikan dukungan emosional, mendengarkan keluhan klien, dan membantu klien mengekspresikan perasaan frustrasinya terhadap penyakit dan terapinya. Perawat dapat memperkenalkan teknik manajemen stres sederhana seperti latihan napas dalam atau distraksi. Selain itu, perawat mendorong aktivitas fisik ringan yang sesuai kondisi, seperti jalan kaki ringan di hari non-HD, karena aktivitas yang teratur justru dapat mengurangi perasaan lelah. Perawat juga berkolaborasi dengan ahli gizi untuk memastikan asupan nutrisi yang cukup guna mendukung produksi energi. Melalui pendekatan ini, intervensi tidak hanya berfokus pada gejala fisik tetapi juga pada aspek psikososial dan perilaku, dengan tujuan akhir meningkatkan kualitas hidup dan kepatuhan klien terhadap rencana terapi HD.