Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24091 | 16 Feb 2026
Klinis : Px mengatakan mual,sakit perut,pusing memutar dan cenut" sebelemunya makan kerang muntah 3x sudah minum obat promaagh dan ranitidin
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: 00027
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular yang tidak diinginkan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Keseimbangan cairan. Keseimbangan antara asupan dan haluaran cairan tubuh dalam 24 jam. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk usia (denyut nadi, tekanan darah, frekuensi napas), turgor kulit baik, membran mukosa lembab, haluaran urin adekuat (≥ 30 ml/jam pada dewasa), dan tidak ada rasa haus yang berlebihan. Pasien juga menunjukkan pengetahuan tentang cara mempertahankan hidrasi yang adekuat.
Kode SIKI: 2120
Deskripsi : Manajemen cairan. Pengaturan asupan cairan dan elektrolit serta pencegahan komplikasi akibat ketidakseimbangan cairan dan/atau elektrolit. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Memonitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan) secara berkala untuk mendeteksi tanda awal syok atau dehidrasi. 2) Mengobservasi dan mencatat asupan serta haluaran cairan (balance cairan) secara akurat untuk menilai status hidrasi. 3) Memantau tanda-tanda klinis dehidrasi seperti turgor kulit, kelembaban membran mukosa mulut, rasa haus, dan produksi urin. 4) Memberikan cairan per oral atau intravena sesuai instruksi dokter untuk mengganti cairan yang hilang akibat muntah. 5) Memposisikan pasien dengan nyaman, kepala lebih tinggi jika mual, untuk mengurangi muntah lebih lanjut. 6) Kolaborasi pemberian obat antiemetik (obat anti mual/muntah) sesuai resep untuk menghentikan muntah sebagai penyebab utama kehilangan cairan. 7) Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan cairan bertahap, tanda-tanda dehidrasi yang harus diwaspadai, dan menghindari makanan yang memicu iritasi lambung sementara.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 00132
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 1409
Deskripsi : Kontrol nyeri. Kemampuan pasien untuk mengontrol dan mengurangi intensitas nyeri yang dialami. Kriteria hasil meliputi pasien melaporkan penurunan skala nyeri (misalnya dari skala 7/10 menjadi 3/10 atau kurang), menunjukkan perilaku nyaman (wajah rileks, dapat beristirahat), tanda-tanda vital stabil, dan mampu mendemonstrasikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri.
Kode SIKI: 2250
Deskripsi : Manajemen nyeri. Intervensi untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif menggunakan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Time) atau skala nyeri numerik (0-10) untuk menentukan karakteristik sakit perut dan pusing. 2) Mengobservasi respons nonverbal terhadap nyeri (ekspresi wajah, postur tubuh, gelisah) terutama jika pasien sulit mengkomunikasikan nyeri. 3) Memberikan lingkungan yang tenang dan nyaman, mengurangi stimulasi berlebihan yang dapat memperberat sensasi pusing. 4) Menerapkan teknik non-farmakologis seperti kompres hangat pada abdomen (jika tidak ada kontraindikasi seperti apendisitis akut) untuk relaksasi otot dan mengurangi nyeri kram perut. 5) Membantu pasien dalam posisi yang nyaman, seperti posisi semi-Fowler atau posisi sesuai keinginan pasien yang mengurangi ketegangan pada abdomen. 6) Melakukan kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep dokter setelah diagnosis jelas, dengan mempertimbangkan interaksi dengan obat yang sudah diminum (promaagh, ranitidin). 7) Mengevaluasi efektivitas intervensi penghilang nyeri yang diberikan dan mendokumentasikan respons pasien. 8) Memberikan edukasi pada pasien tentang penggunaan obat pereda nyeri yang tepat dan aman, serta kapan harus melaporkan nyeri yang tidak terkontrol.
Kondisi: Mual
Kode SDKI: 00134
Deskripsi Singkat: Sensasi tidak nyaman yang dirasakan di faring, posterior mulut, atau epigastrium yang mungkin atau tidak berhubungan dengan muntah.
Kode SLKI: 1416
Deskripsi : Kontrol mual. Kemampuan pasien untuk mengontrol dan mengurangi sensasi mual. Kriteria hasil mencakup pasien melaporkan penurunan atau hilangnya sensasi mual, tidak mengalami muntah lebih lanjut, mampu mentoleransi asupan cairan atau makanan ringan secara bertahap, dan menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil.
Kode SIKI: 1450
Deskripsi : Manajemen mual. Intervensi untuk mencegah dan meringankan sensasi mual. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Mengidentifikasi faktor pencetus mual (dalam kasus ini diduga kuat akibat konsumsi kerang yang mungkin terkontaminasi atau alergi). 2) Memonitor frekuensi, durasi, dan karakteristik mual serta muntah. 3) Menciptakan lingkungan yang bebas dari bau menyengat yang dapat memicu mual. 4) Menganjurkan teknik pernapasan dalam dan lambat untuk membantu mengontrol refleks mual. 5) Memberikan cairan jernih dingin atau hangat dalam jumlah kecil dan sering (misalnya air putih, teh jahe) untuk menjaga hidrasi tanpa membebani lambung. 6) Menganjurkan diet bertahap (dari cairan jernih, cairan penuh, hingga makanan lunak) setelah mual berkurang dan menghindari makanan berlemak, pedas, atau asam sementara waktu. 7) Melakukan kolaborasi pemberian obat antiemetik sesuai resep dokter, dengan mempertimbangkan efektivitas obat yang sudah diminam pasien (promaagh). 8) Memposisikan pasien dengan kepala lebih tinggi dari tubuh untuk mencegah aspirasi jika muntah terjadi lagi dan memberikan kenyamanan. 9) Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang manajemen mual di rumah, pentingnya hidrasi, dan kapan harus mencari bantuan medis jika mual dan muntah berlanjut.
-
Article No. 24092 | 16 Feb 2026
Klinis : Px mengatakan mual,sakit perut,pusing memutar dan cenut" sebelemunya makan kerang muntah 3x sudah minum obat promaagh dan ranitidin
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Mual
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman subjektif dari dorongan untuk muntah.
Kode SLKI: 1601
Deskripsi : Pasien melaporkan penurunan atau hilangnya mual. SLKI ini mengukur hasil akhir dari intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mengatasi mual. Tanda-tanda pencapaiannya meliputi pasien menyatakan perasaan mual telah berkurang atau hilang sama sekali, tidak ada perilaku seperti menahan atau memijat area epigastrium, ekspresi wajah yang nyaman, dan kemampuan untuk beristirahat atau beraktivitas dengan normal. Pengukuran dapat dilakukan melalui skala verbal (misalnya, dari 0-10) dimana skor yang dilaporkan pasien menurun secara signifikan menuju nol. Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa intervensi yang diberikan, baik farmakologis maupun non-farmakologis, telah berhasil mengatasi mekanisme pemicu mual, sehingga meningkatkan kenyamanan dan kualitas hidup pasien secara langsung.
Kode SIKI: 4230
Deskripsi : Manajemen Mual dan Muntah. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan kolaboratif dan mandiri perawat untuk mengurangi atau menghilangkan sensasi mual dan episode muntah. Penjelasan rinci meliputi: pertama, pemantauan frekuensi, durasi, dan faktor pemicu mual/muntah, serta menilai karakteristik emesis (warna, volume, konsistensi). Kedua, melakukan kolaborasi dalam pemberian terapi farmakologis sesuai resep (seperti antiemetik) dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. Ketiga, menerapkan intervensi non-farmakologis seperti modifikasi diet (makanan hambar, porsi kecil tapi sering, menghindari makanan berlemak atau berbumbu kuat), memastikan lingkungan yang nyaman dan bebas bau menyengat, serta teknik relaksasi napas dalam. Keempat, memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang cara mengidentifikasi pemicu, teknik manajemen mandiri, dan kapan harus mencari bantuan medis lebih lanjut. Kelima, memantau tanda-tanda dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit akibat muntah berlebihan, serta melakukan manajemen cairan sesuai kebutuhan. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan pendekatan fisiologis, psikologis, dan lingkungan untuk mengatasi akar penyebab dan gejala yang dialami pasien, seperti pada kasus keracunan makanan ringan akibat kerang.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau durasi terbatas.
Kode SLKI: 1701
Deskripsi : Tingkat nyeri terkontrol. SLKI ini mengindikasikan keberhasilan manajemen nyeri dimana pasien melaporkan pengurangan nyeri ke tingkat yang dapat ditoleransi atau hilang sama sekali, yang dibuktikan dengan skor nyeri yang menurun pada skala penilaian yang digunakan. Perilaku pasien menunjukkan kenyamanan, seperti ekspresi wajah rileks, postur tubuh normal, mampu beristirahat atau tidur, dan dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan tanpa gangguan nyeri yang signifikan. Pencapaian outcome ini sangat penting dalam kasus nyeri akut seperti sakit perut dan pusing memutar, karena tidak hanya meningkatkan kenyamanan tetapi juga mengurangi respons stres tubuh, mempercepat proses penyembuhan, dan mencegah perburukan kondisi. Pengukuran dilakukan secara berkala untuk memastikan nyeri tetap terkelola dengan baik sepanjang perjalanan penyakit.
Kode SIKI: 0810
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi ini merupakan pendekatan komprehensif untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Tahapan utamanya meliputi: pertama, penilaian menyeluruh dengan menggunakan alat seperti PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Time) atau skala numerik (0-10) untuk menentukan karakteristik, lokasi, intensitas, dan faktor yang memperberat atau meringankan nyeri. Pada kasus ini, penilaian difokuskan pada sakit perut dan pusing. Kedua, melakukan intervensi non-farmakologis seperti teknik distraksi, relaksasi, kompres hangat atau dingin pada area perut (sesuai indikasi), serta reposisi tubuh yang nyaman. Ketiga, berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik yang sesuai (misalnya, antispasmodik untuk nyeri perut) dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. Keempat, menciptakan lingkungan yang tenang dan mendukung untuk mengurangi stimulasi yang dapat memperberat nyeri, terutama nyeri kepala. Kelima, edukasi pasien tentang penggunaan teknik manajemen nyeri mandiri dan pentingnya melaporkan nyeri secara dini sebelum menjadi parah. Intervensi ini bersifat dinamis dan terus dievaluasi berdasarkan respons pasien.
Kondisi: Risiko Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan intravaskular, interstitial, dan/atau cairan intraselular.
Kode SLKI: 0602
Deskripsi : Keseimbangan cairan. SLKI ini menunjukkan bahwa status hidrasi pasien berada dalam kondisi seimbang. Parameter yang menunjukkan pencapaian outcome ini antara lain tanda-tanda vital dalam batas normal (terutama nadi dan tekanan darah), turgor kulit baik, membran mukosa lembab, produksi urin adekuat (output sekitar 30-50 mL/jam atau sesuai berat badan), dan tidak ada keluhan haus berlebihan. Dalam konteks pasien dengan muntah berulang, pencapaian SLKI 0602 menunjukkan bahwa intervensi rehidrasi (baik oral maupun parenteral) telah berhasil menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang, sehingga mencegah komplikasi seperti hipotensi, takikardia, atau gangguan fungsi ginjal. Pemantauan balance cairan (intake dan output) adalah kunci dalam mengevaluasi outcome ini.
Kode SIKI: 2120
Deskripsi : Manajemen Cairan/ Elektrolit. Intervensi ini bertujuan untuk mempertahankan atau memulihkan keseimbangan cairan dan elektrolit. Langkah-langkahnya mencakup: pertama, pemantauan ketat tanda-tanda defisit volume cairan seperti takikardia, hipotensi ortostatik, penurunan turgor kulit, mata cekung, dan penurunan output urin. Kedua, mendorong dan memfasilitasi intake cairan per oral secara bertahap (misalnya, cairan rehidrasi oral/ORS, air putih) dalam porsi kecil namun sering jika mual sudah berkurang, untuk menghindari stimulasi muntah kembali. Ketiga, berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi cairan intravena jika intake oral tidak memadai atau muntah terus berlanjut. Keempat, memantau hasil pemeriksaan laboratorium terkait elektrolit (seperti natrium, kalium, klorida) dan fungsi ginjal (ureum, kreatinin). Kelima, menimbang berat badan harian sebagai indikator tidak langsung status cairan. Keenam, memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang tanda-tanda dehidrasi yang perlu diwaspadai dan pentingnya rehidrasi bertahap. Intervensi ini sangat krusial pada kasus gastroenteritis atau keracunan makanan yang ditandai dengan muntah dan diare (potensial).
-
Article No. 24093 | 16 Feb 2026
Klinis : Mual muntah Telaahyang dialami memberat sejak 3 hari ini, mual +, muntah + dengan fq > 10 kali hari ini, nyeri ulu hati +, lemas+, pinggang terasa sakit +, os sedang hamil anak pertama HPHT : 12/01/2026 Riwayat Penyakit Dahulu- OSens : CM KU: lemah VAS: 7 Td: 139/83 HR: 98 RR: 20 Temp: 36,5 C SPO2: 98% Kepala : dbn Mata : Cekung +/+ Bibir : mukosa kering + Thorax: Sp: Vesikuler +/+, ST : Rhonki-/-, Wheezing -/- Jantung : S1-S2 reguler, gallop-, murmur- Abdomen : Soepel, peristaltik + normal nyeri tekan epigastrium, hipokondrium dextra dan sinistra, umbilikla dan lmbal sin + timpani Ekstremitas: Akral hangat +/+, CRT < 2”
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Mual dan Muntah Berat pada Kehamilan (Hyperemesis Gravidarum)
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SLKI: L.03103
Deskripsi : Keseimbangan Cairan
Kode SIKI: I.01239
<>Deskripsi : Pemantauan Tanda-Tanda Dehidrasi
Penjelasan Lengkap:
Berdasarkan data pasien, diagnosa keperawatan yang paling relevan adalah Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan (D.0016). Diagnosa ini ditetapkan karena pasien, seorang primigravida dengan HPHT 12 Januari 2026 (mengindikasikan usia kehamilan trimester pertama), mengalami mual dan muntah yang memberat dengan frekuensi lebih dari 10 kali per hari. Gejala klinis yang mendukung risiko dehidrasi dan defisit volume cairan adalah: keadaan umum lemah, mata cekung (+), mukosa bibir kering (+), dan nyeri pinggang yang dapat dikaitkan dengan ketosis atau gangguan elektrolit. Tanda vital seperti tekanan darah 139/83 mmHg dan denyut nadi 98 kali/menit menunjukkan kompensasi awal (takikardia) terhadap kemungkinan penurunan volume cairan. Data ini mengarah pada kecurigaan Hyperemesis Gravidarum, suatu kondisi mual muntah berlebihan pada kehamilan yang dapat mengakibatkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, dan penurunan berat badan.
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia) D.0016 - Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan didefinisikan sebagai keadaan rentan terhadap penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstisial, atau intraselular, yang dapat membahayakan kesehatan. Pada kasus ini, faktor risikonya adalah proses patofisiologis (muntah berlebihan) yang menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit secara aktif. Fokus diagnosa ini adalah pada antisipasi dan pencegahan komplikasi sebelum defisit volume cairan yang aktual terjadi, meskipun tanda-tanda dehidrasi sudah mulai tampak.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) L.03103 - Keseimbangan Cairan adalah luaran yang diharapkan dimana status hidrasi klien kembali seimbang. Kriteria luaran yang harus dicapai meliputi: membran mukosa lembab, turgor kulit elastis, mata tidak cekung, produksi urin adekuat (>30 ml/jam), tanda vital dalam rentang normal, dan keseimbangan elektrolit. Tujuan intervensi keperawatan adalah memandu pasien menuju kriteria ini, seperti mengurangi frekuensi muntah, menghilangkan mata cekung, dan memperbaiki kekeringan mukosa mulut.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) I.01239 - Pemantauan Tanda-Tanda Dehidrasi merupakan intervensi keperawatan spesifik yang direkomendasikan. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis: 1) Pengkajian: Memantau frekuensi, volume, dan karakteristik muntah; menilai tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, mata, mukosa) setiap 4-8 jam; memantau asupan dan haluaran cairan secara ketat; memantau berat badan harian; dan mengobservasi tanda vital serta kesadaran. 2) Tindakan: Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai resep untuk koreksi defisit dan pemeliharaan; edukasi dan bantu pasien untuk teknik pemberian makan sedikit-sering dan makanan kering; manajemen pemberian obat antiemetik sesuai kolaborasi; serta menjaga kebersihan mulut setelah muntah. 3) Edukasi: Memberikan penjelasan pada pasien dan keluarga tentang penyebab, tanda bahaya dehidrasi (seperti lemas berlebihan, tidak berkemih dalam 8 jam), dan pentingnya melaporkan setiap perubahan kondisi. Pemantauan yang berkelanjutan ini penting untuk mendeteksi kemunduran kondisi secara dini dan mengevaluasi efektivitas terapi yang diberikan, sehingga risiko ketidakseimbangan volume cairan dapat dicegah atau ditangani dengan tepat.
-
Article No. 24094 | 16 Feb 2026
Klinis : DS: Pada pukul 14.00 WIB pasien mengeluh sesak, batuk kering dan keringat dingin. DO: Pemeriksaan TTV didapatkan: - Suara napas terdengar ronchi lemah di lapang paru dextra - RR: 28X/menit takipnea - edema pulmonum (edema paru)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Pertukaran Gas. Tujuan keperawatan adalah mempertahankan atau memulihkan pertukaran gas yang adekuat. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Pasien menunjukkan perbaikan dalam pertukaran gas, dibuktikan dengan nilai analisis gas darah arteri (jika tersedia) dalam rentang normal atau mendekati normal untuk pasien, atau saturasi oksigen perifer (SpO2) ≥94% pada udara ruangan atau sesuai target terapi oksigen. 2) Frekuensi pernapasan (RR) dalam rentang normal untuk usia (pada dewasa: 12-20 kali/menit) tanpa upaya pernapasan yang berlebihan. 3) Bunyi napas jernih atau terdengar jelas di semua lapang paru. 4) Pasien melaporkan atau menunjukkan penurunan keluhan sesak napas (dispnea). 5) Tidak ada tanda sianosis sentral atau perifer. 6) Tingkat kesadaran baik (compos mentis) dan tidak menunjukkan tanda hipoksia serebral seperti gelisah, bingung, atau penurunan kesadaran. 7) Produksi sputum (jika ada) dapat dikeluarkan dengan efektif. 8) Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami dispnea yang memberat.
Kode SIKI: 3210
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk memastikan patensi jalan napas dan pertukaran gas yang optimal. Intervensi ini meliputi: 1) Memonitor status pernapasan secara ketat dan berkelanjutan, termasuk frekuensi, irama, kedalaman, upaya pernapasan, dan penggunaan otot bantu. 2) Auskultasi bunyi napas secara berkala untuk mendeteksi adanya suara tambahan seperti ronchi, wheezing, atau penurunan bunyi napas. 3) Memposisikan pasien dalam posisi yang memudahkan pernapasan, seperti posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi, untuk memaksimalkan ekspansi dada dan mengurangi tekanan abdominal pada diafragma. 4) Memberikan terapi oksigen sesuai dengan resep dokter dan protokol, memastikan alat pemberi oksigen berfungsi dengan baik, serta memantau efektivitasnya melalui SpO2 dan kondisi klinis. 5) Melakukan fisioterapi dada jika indikasi, seperti perkusi, vibrasi, dan postural drainage, untuk membantu mobilisasi sekret. 6) Melakukan suction atau penghisapan lendir pada jalan napas atas atau bawah (dengan indikasi dan keterampilan yang memadai) untuk membersihkan sekret yang menyumbat. 7) Mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam dan batuk efektif untuk meningkatkan ventilasi dan membersihkan jalan napas. 8) Memonitor status hemodinamik dan keseimbangan cairan, karena edema paru seringkali berhubungan dengan kelebihan cairan atau gagal jantung. 9) Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang tanda-tanda distress pernapasan yang perlu dilaporkan segera. 10) Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai resep, seperti diuretik (untuk mengurangi edema), bronkodilator, atau obat inotropik, dan memantau efek serta efek sampingnya. 11) Menciptakan lingkungan yang tenang, mengurangi kecemasan pasien karena kecemasan dapat meningkatkan konsumsi oksigen dan memperburuk sesak. 12) Memantau analisis gas darah arteri (AGD) dan hasil pemeriksaan penunjang lainnya seperti radiologi toraks.
-
Article No. 24064 | 15 Feb 2026
Klinis : Gangguan pertukaran gas b.d akumulasi udara di rongga pleura akibat pneumotoraks tegang (D.0004 – SDKI) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 30 menit, Respiratory Status: Gas Exchange (0402) tercapai, ditandai dengan: SpO₂ ≥ 95% Pola napas teratur Tidak ada sianosis Bunyi napas membaik Tanda vital stabil
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan pertukaran gas b.d akumulasi udara di rongga pleura akibat pneumotoraks tegang (D.0004 – SDKI)
Kode SDKI: D.0004
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah suatu keadaan dimana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen serta eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler. Pada kasus pneumotoraks tegang, akumulasi udara di rongga pleura menyebabkan peningkatan tekanan intrapleural yang sangat tinggi. Tekanan ini mendorong mediastinum ke sisi yang berlawanan (mediastinal shift), menekan paru-paru yang sehat, dan akhirnya menekan pembuluh darah besar. Akibatnya, terjadi kolaps paru-paru total pada sisi yang sakit dan gangguan perfusi pada paru-paru yang sehat. Proses ini secara drastis mengurangi luas permukaan membran alveolus-kapiler yang efektif untuk pertukaran gas. Oksigenasi darah arteri menurun drastis (hipoksemia) dan eliminasi karbon dioksida terganggu (hiperkapnia), yang merupakan kondisi mengancam nyawa yang memerlukan intervensi segera. Defisit utama adalah ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan oksigen dan karbon dioksida dalam darah akibat kerusakan mekanis pada sistem pernapasan.
Kode SLKI: L.0402
Deskripsi : Respiratory Status: Gas Exchange (Status Pernapasan: Pertukaran Gas) adalah luaran yang diharapkan dimana klien menunjukkan perbaikan atau pemeliharaan pertukaran gas yang adekuat, dibuktikan dengan data oksigenasi dan ventilasi yang normal. Luaran ini dicapai melalui serangkaian intervensi keperawatan dan medis yang bertujuan mengatasi penyebab gangguan. Indikator pencapaian yang spesifik, seperti yang terlihat pada kondisi pasien setelah 30 menit intervensi, meliputi: (1) Saturasi Oksigen (SpO₂) ≥ 95%, yang menunjukkan bahwa hemoglobin dalam darah arteri teroksigenasi dengan baik; (2) Pola napas teratur (eupnea), tanpa adanya takipnea, bradipnea, atau pernapasan Cheyne-Stokes yang mengindikasikan kompensasi atau kegagalan sistem; (3) Tidak ada sianosis pada membran mukosa, bibir, atau kuku, yang merupakan tanda fisik klasik dari hipoksemia berat; (4) Bunyi napas yang membaik (dari tidak terdengar/sangat menurun menjadi terdengar jelas dan simetris), mengindikasikan pengembangan kembali paru-paru yang sebelumnya kolaps dan terbukanya kembali jalan napas distal; serta (5) Tanda vital stabil (tekanan darah, nadi, suhu dalam rentang normal untuk pasien), yang menunjukkan bahwa sistem kardiovaskuler tidak lagi mengalami stres berat akibat hipoksia dan asidosis respiratorik. Pencapaian SLKI L.0402 ini menandakan bahwa ancaman langsung terhadap nyawa akibat gangguan pertukaran gas telah teratasi.
Kode SIKI: I.0906
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas adalah intervensi keperawatan untuk memfasilitasi patensi jalan napas dan memaksimalkan pertukaran gas. Pada konteks pneumotoraks tegang, intervensi ini bersifat mendesak dan kritis. Tindakan-tindakan spesifik yang dilakukan untuk mencapai luaran L.0402 meliputi: (1) Posisi: Menempatkan pasien pada posisi semi-Fowler atau duduk (jika kondisi hemodinamik memungkinkan) untuk memudahkan ekspansi dada dan mengurangi tekanan abdominal pada diafragma. (2) Pemberian Oksigen: Memberikan oksigen dengan aliran tinggi (misalnya melalui non-rebreathing mask) untuk memaksimalkan gradient difusi oksigen di alveolus yang masih berfungsi, mengatasi hipoksemia. (3) Monitoring Oksigenasi: Memantau saturasi oksigen (SpO₂) secara terus menerus dengan pulse oximetry dan analisis gas darah arteri jika diperlukan, sebagai evaluasi objektif terhadap keberhasilan intervensi. (4) Bantuan Tindakan Medis: Mempersiapkan dan membantu prosedur dekompresi darurat (seperti pemasangan jarum besar di ruang interkostal ke-2 linea midklavikula) untuk segera mengurangi tekanan intrapleural, yang merupakan tindakan penyelamatan nyawa utama. Selanjutnya, membantu pemasangan Water-Sealed Drainage (WSD) atau chest tube untuk mengalirkan udara terus-menerus dari rongga pleura dan memungkinkan paru-paru kembali mengembang. (5) Auskultasi: Melakukan auskultasi bunyi napas secara berkala sebelum dan sesudah tindakan untuk menilai kembalinya ventilasi. (6) Edukasi dan Dukungan: Memberikan penjelasan singkat tentang prosedur yang dilakukan dan mendorong pasien untuk bernapas dalam perlahan jika memungkinkan, serta memantau tanda-tanda distress pernapasan. I.0906 merupakan intervensi kompleks yang menggabungkan keterampilan teknis, pemantauan ketat, dan kolaborasi dengan tim medis untuk mengatasi penyebab fisiologis secara langsung dan mendukung fungsi pernapasan hingga stabil.
-
Article No. 24065 | 15 Feb 2026
Klinis : Gangguan pertukaran gas b.d akumulasi udara di rongga pleura akibat pneumotoraks tegang (D.0004 – SDKI) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 30 menit, Respiratory Status: Gas Exchange (0402) tercapai, ditandai dengan: SpO₂ ≥ 95% Pola napas teratur Tidak ada sianosis Bunyi napas membaik Tanda vital stabil
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan pertukaran gas b.d akumulasi udara di rongga pleura akibat pneumotoraks tegang (D.0004 – SDKI)
Kode SDKI: D.0004
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah keadaan dimana terjadi penurunan aliran oksigen dan/atau karbondioksida antara alveoli dan sistem vaskular pulmonal. Pada kasus pneumotoraks tegang, akumulasi udara di rongga pleura menyebabkan peningkatan tekanan intrapleural yang sangat tinggi, yang kemudian mengakibatkan kolaps paru pada sisi yang terkena, pergeseran mediastinum ke sisi yang berlawanan, dan kompresi pada paru yang sehat. Hal ini secara drastis mengurangi luas permukaan alveoli yang tersedia untuk pertukaran gas. Ventilasi menjadi tidak adekuat meskipun perfusi darah ke paru-paru mungkin masih berlangsung, sehingga terjadi ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (V/Q mismatch) yang berat. Hipoksemia (kadar oksigen darah rendah) dan hiperkapnia (peningkatan kadar karbondioksida darah) dapat terjadi, mengancam fungsi organ vital. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan medis yang memerlukan intervensi segera untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura dan mengembalikan tekanan intrapleural ke keadaan normal.
Kode SLKI: L.04002
Deskripsi : SLKI L.04002 adalah "Status Pernapasan: Pertukaran Gas". Standar Luaran Keperawatan ini mengukur pencapaian atau perbaikan dalam pertukaran gas oksigen dan karbondioksida di tingkat alveoli-kapiler. Luaran yang diharapkan mencakup parameter-parameter yang menunjukkan bahwa proses difusi gas berlangsung secara efektif untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Indikator pencapaiannya meliputi: nilai saturasi oksigen (SpO₂) dalam rentang normal (biasanya ≥ 95% pada udara ruangan), analisis gas darah arteri yang menunjukkan tekanan parsial oksigen (PaO₂) dan karbondioksida (PaCO₂) dalam batas normal, tidak adanya tanda klinis hipoksia (seperti sianosis, gelisah, penurunan kesadaran) atau hiperkapnia (seperti sakit kepala, vasodilatasi, penurunan respons saraf). Selain itu, pola pernapasan yang teratur dan tidak bekerja keras (eupnea), serta bunyi napas yang jelas dan simetris di semua lapang paru, juga menjadi indikator pendukung bahwa jalan napas terbuka dan pertukaran gas tidak lagi terhambat. Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan dan medis telah berhasil mengatasi penyebab gangguan, memulihkan integritas rongga pleura, dan mengoptimalkan kembali fungsi paru.
Kode SIKI: I.04080
Deskripsi : SIKI I.04080 adalah "Manajemen Jalan Napas". Intervensi keperawatan ini merupakan serangkaian tindakan sistematis yang ditujukan untuk mempertahankan atau memulihkan patensi (keterbukaan) jalan napas dan memastikan pertukaran gas yang adekuat. Pada konteks pneumotoraks tegang, tindakan ini bersifat kolaboratif dan mendesak. Implementasinya dimulai dengan penilaian jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi (Airway, Breathing, Circulation/ABC) yang cepat dan akurat. Tindakan utama yang kritis adalah membantu atau melakukan dekompresi jarum (needle thoracostomy) pada sela iga 2 garis midklavikula atau sela iga 4-5 garis aksilaris anterior sebagai pertolongan pertama untuk mengeluarkan udara bertekanan dari rongga pleura. Selanjutnya, mempersiapkan dan membantu pemasangan water-sealed drainage (WSD) atau chest tube yang terhubung dengan sistem drainase tertutup untuk mengeluarkan sisa udara dan mencegah akumulasi ulang. Perawat juga bertanggung jawab untuk memposisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau duduk untuk memudahkan ekspansi paru, memberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan dan protokol, serta memantau secara ketat saturasi oksigen (SpO₂) dan tanda-tanda vital. Tindakan lain termasuk melakukan fisioterapi dada sesuai indikasi, mendukung upaya batuk efektif, memastikan kepatenan dan keamanan selang dada, serta memberikan edukasi kepada pasien tentang pentingnya mobilisasi bertahap dan melaporkan segera jika ada sesak napas mendadak. Seluruh tindakan ini didokumentasikan dengan lengkap dan dievaluasi respons pasien secara terus-menerus.
-
Article No. 24066 | 15 Feb 2026
Klinis : Faktor Risiko: Hipotensi (74/42 mmHg) Takikardia Hipoksemia (SpO₂ ↓) Penurunan curah jantung Kondisi gawat darurat (tension pneumothorax)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Curah jantung tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: L.03120
Deskripsi : Curah jantung membaik. Indikator: Tekanan darah dalam rentang normal yang diharapkan, nadi perifer teraba kuat dan reguler, haluaran urin ≥ 0,5 mL/kgBB/jam, status mental baik (waspada dan berorientasi), kulit hangat dan kering, tidak ada dispnea atau ortopnea, laju nafas 12-20 kali/menit, tidak ada edema paru, dan kapasitas aktivitas meningkat.
Kode SIKI: I.01268
Deskripsi : Pemantauan Curah Jantung. Tindakan: Kaji tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan) setiap 15 menit sampai stabil, kemudian setiap 1-4 jam sesuai kondisi; pantau saturasi oksigen (SpO₂) secara terus menerus; kaji status hemodinamik (warna, kelembaban, suhu kulit, pengisian kapiler, nadi perifer); pantau haluaran urin setiap jam; kaji status neurologis (tingkat kesadaran, orientasi) setiap 1-2 jam; auskultasi bunyi jantung dan paru; pantau hasil pemeriksaan diagnostik (EKG, radiologi, gas darah arteri); pertahankan akses intravena; berikan terapi oksigen sesuai program; berikan obat-obatan sesuai program (inotropik, vasopresor); atur posisi pasien semi-Fowler atau sesuai toleransi; batasi aktivitas; berikan dukungan psikologis dan edukasi pada pasien/keluarga; kolaborasi dengan tim medis.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas paten.
Kode SLKI: L.03003
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif. Indikator: Jalan napas paten, suara napas bersih, tidak ada sianosis, frekuensi napas dalam rentang normal, mampu batuk efektif, sekresi dapat dikeluarkan, saturasi oksigen (SpO₂) dalam rentang normal, dan gas darah arteri dalam batas normal.
Kode SIKI: I.01205
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Tindakan: Kaji kepatenan jalan napas, suara napas, frekuensi, irama, dan upaya pernapasan; kaji kemampuan batuk dan karakter sekresi; pantau saturasi oksigen (SpO₂) dan tanda-tanda sianosis; lakukan penghisapan lendir (suction) jika diperlukan; bantu latihan napas dalam dan batuk efektif; atur posisi semi-Fowler atau high-Fowler untuk memudahkan ekspansi paru; berikan terapi oksigen sesuai program; lakukan fisioterapi dada jika diindikasikan; berikan nebulizer sesuai program; kolaborasi pemberian bronkodilator; berikan humidifikasi oksigen; ajarkan teknik batuk dan napas dalam; pantau analisa gas darah (AGD); siapkan alat bantu jalan napas (airway) dan alat emergensi di dekat pasien.
Kondisi: Pertukaran Gas Terganggu
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: L.03004
Deskripsi : Pertukaran gas membaik. Indikator: Saturasi oksigen (SpO₂) ≥ 95%, gas darah arteri dalam batas normal (PaO₂ 80-100 mmHg, PaCO₂ 35-45 mmHg, pH 7.35-7.45), tidak ada sianosis, frekuensi napas dalam rentang normal, tidak ada dispnea atau penggunaan otot bantu napas, status mental baik (waspada), dan tidak ada kecemasan.
Kode SIKI: I.01206
Deskripsi : Manajemen Pertukaran Gas. Tindakan: Pantau saturasi oksigen (SpO₂) secara terus menerus; kaji frekuensi, irama, kedalaman pernapasan, dan penggunaan otot bantu; kaji status mental dan tingkat kesadaran; observasi warna kulit dan membran mukosa (sianosis); auskultasi bunyi napas setiap 1-2 jam; berikan terapi oksigen sesuai program (nasal kanul, masker, non-rebreathing mask) dan evaluasi efektivitasnya; atur posisi semi-Fowler atau high-Fowler untuk optimalisasi ventilasi; bantu latihan napas dalam; pantau hasil analisa gas darah (AGD); kolaborasi pemberian obat bronkodilator sesuai program; hindari faktor yang meningkatkan konsumsi oksigen (aktivitas berlebihan, kecemasan); lakukan suction jika diperlukan; siapkan dan bantu prosedur emergensi (seperti pemasangan WSD pada tension pneumothorax) sesuai kolaborasi; berikan edukasi dan dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset yang tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol nyeri. Indikator: Ekspresi wajah rileks, dapat beristirahat/tidur, tanda vital stabil, mampu melakukan aktivitas sesuai kemampuan, melaporkan penurunan skala nyeri, dan tidak ada perilaku yang menunjukkan nyeri (merintih, gelisah).
Kode SIKI: I.09002
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan: Kaji nyeri secara komprehensif (lokasi, intensitas dengan skala 0-10, karakter, durasi, faktor pencetus dan pereda); observasi respons nonverbal nyeri (ekspresi wajah, postur tubuh, gelisah); kaji tanda vital yang dipengaruhi nyeri (takikardia, hipertensi); ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang; atur posisi yang nyaman untuk memfasilitasi pernapasan dan mengurangi ketegangan dada; ajarkan teknik distraksi dan relaksasi napas dalam; berikan analgetik sesuai program (baik farmakologis seperti opioid/non-opioid maupun non-farmakologis); evaluasi efektivitas dan efek samping pemberian analgetik setiap 15-30 menit setelah pemberian; kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan penyebab nyeri (seperti dekompresi pneumothorax); berikan edukasi pada pasien tentang penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan nyeri; dukung keluarga untuk membantu memberikan kenyamanan pada pasien.
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0050
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah, ketegangan, atau kekhawatiran yang tidak jelas dan tidak nyaman sebagai respons terhadap ancaman yang tidak spesifik.
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Kontrol ansietas. Indikator: Ekspresi wajah tenang, mampu mengidentifikasi penyebab ansietas, mampu mendemonstrasikan teknik relaksasi untuk mengurangi ansietas, tanda vital stabil, mampu beristirahat, dan melaporkan penurunan perasaan cemas.
Kode SIKI: I.14004
Deskripsi : Manajemen Ansietas. Tindakan: Kaji tingkat ansietas (ringan, sedang, berat, panik) dan manifestasinya (verbal, nonverbal, fisiologis seperti takikardia); dengarkan keluhan dan kekhawatiran pasien dengan penuh perhatian (terapeutik communication); berikan informasi yang jujur, jelas, dan singkat tentang kondisi, prosedur, dan pengobatan untuk mengurangi ketidakpastian; temani pasien, terutama selama periode distress; kurangi stimulus lingkungan yang tidak perlu; bantu teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam dan perlahan; libatkan keluarga untuk memberikan dukungan emosional; kolaborasi pemberian ansiolitik sesuai program jika diperlukan; bantu pasien mengidentifikasi mekanisme koping yang biasa digunakan; fasilitasi kebutuhan spiritual jika diinginkan pasien; pantau respons pasien terhadap intervensi yang diberikan.
-
Article No. 24067 | 15 Feb 2026
Klinis : lemah anggota gerak dan bicara ngawur Telaahdialami pasien sudah 2 hari ini. bicara ngawur dan sulit menalan. lemah anggota gerak sudah 2 hari ini. sesak napas tidak ada. kejang tidak ada. lemas. Riwayat Penyakit DahuluHT OSENS:CM GCS :15 TD: 165/80 MMHG HR: 96 x/i RR :20 x/iT: 36.8 C SPO2: 98 % VAS: 8 KEPALA : NORMAL MATA: KONJUNGTIVA ANEMIS -/-, SKLERA IKTERIK -/- MULUT: COATED TANGUE (-) HIDUNG DAN TELINGA: NORMAL LEHER: TRACHEA MEDIAL, BENJOLAN (-), TVJ (NORMAL) THORAKS: SIMETRIS FURIFORMIS, SONOR , VESIKULAR +/+, WH -/- RH -/- ABDOMEN: H/L TIDAK TERABA, SOEPEL +, PERISTALTIK + (NORMAL) EKSTREMITAS: AKRAL HANGAT, PITTING EDEMA -/-, CRT<2 KEKUATAN OTOT KIRI DAN KANAN : 33333/33333:33333/33333 ANUS/GENITALIA: TIDAK DILAKUKAN PEMERIKSAAN
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: 00085
Deskripsi Singkat: Keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan pergerakan fisik yang menyebabkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari atau berisiko mengalami komplikasi akibat imobilisasi.
Kode SLKI: 0400
Deskripsi : Mobilitas fisik pasien meningkat atau dipertahankan. Kriteria hasilnya meliputi: 1) Pasien menunjukkan kemampuan melakukan aktivitas fisik sesuai tingkat kemampuannya (dalam kasus ini, kekuatan otot 3/5 menunjukkan kelemahan yang signifikan, sehingga targetnya adalah mempertahankan dan mencegah penurunan lebih lanjut). 2) Pasien mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi otot yang terdampak. 3) Pasien menunjukkan partisipasi dalam aktivitas latihan rentang gerak (ROM) dan ambulasi sesuai anjuran. 4) Pasien tidak mengalami komplikasi imobilisasi seperti kontraktur, atrofi otot, atau ulkus dekubitus. 5) Pasien dan keluarga memahami program latihan yang dianjurkan. Pada pasien dengan kelemahan anggota gerak (kekuatan otot 3/5), SLKI ini difokuskan pada pencegahan komplikasi imobilisasi, mempertahankan kekuatan otot yang tersisa, dan meningkatkan kemandirian dalam mobilitas di tempat tidur secara bertahap dengan bantuan.
Kode SIKI: 4208
Deskripsi : Melakukan latihan rentang gerak (ROM) pasif dan/atau aktif. Intervensi ini mencakup: 1) Mengkaji tingkat mobilitas, kekuatan otot, nyeri, dan toleransi aktivitas sebelum memulai latihan. 2) Melakukan atau membantu pasien dalam melakukan latihan ROM pada semua ekstremitas, dimulai dari sisi yang tidak terdampak atau dengan intensitas ringan. 3) Pada kelemahan otot dengan skor 3, latihan dapat berupa ROM aktif dengan bantuan (active-assisted) untuk mempertahankan kekuatan dan fleksibilitas sendi. 4) Melakukan latihan secara perlahan dan lembut, tidak memaksa hingga titik nyeri. 5) Mengajarkan keluarga atau pengasuh cara melakukan ROM yang benar jika pasien tidak mampu melakukannya secara mandiri. 6) Menjadwalkan latihan secara teratur dan bertahap, misalnya 2-3 kali per hari. 7) Memberikan dukungan dan motivasi selama latihan. 8) Mendokumentasikan respons pasien dan perkembangan kekuatan otot. Intervensi ini sangat relevan untuk mencegah kontraktur, atrofi otot lebih lanjut, dan mempertahankan sirkulasi darah pada pasien dengan kelemahan anggota gerak.
Kondisi: Gangguan Komunikasi Verbal
Kode SDKI: 00051
Deskripsi Singkat: Keadaan di mana individu mengalami penurunan, keterlambatan, atau tidak mampu untuk menerima, memproses, mengirimkan, dan/atau menggunakan simbol-simbol sistem komunikasi, yang ditandai dengan bicara ngawur (inkoheren), sulit menemukan kata (afasia), atau kesulitan menelan yang dapat mempengaruhi artikulasi.
Kode SLKI: 3000
Deskripsi : Kemampuan komunikasi pasien membaik. Kriteria hasilnya meliputi: 1) Pasien mampu menyampaikan kebutuhan dasar dan memahami informasi sederhana yang disampaikan kepadanya. 2) Pasien menggunakan metode komunikasi alternatif atau augmentatif (seperti isyarat, gambar, tulisan) secara efektif ketika bicara verbal terganggu. 3) Keluarga atau pengasuh memahami cara berkomunikasi yang efektif dengan pasien. 4) Pasien menunjukkan penurunan tingkat frustrasi akibat kesulitan berkomunikasi. 5) Kebutuhan hidrasi dan nutrisi pasien terpenuhi dengan aman terkait dengan gangguan menelan yang menyertai. Pada pasien dengan bicara ngawur dan sulit menelan, SLKI ini difokuskan pada pemulihan pemahaman dan ekspresi, serta pencegahan aspirasi dengan memastikan metode komunikasi yang aman dan efektif.
Kode SIKI: 4974
Deskripsi : Meningkatkan komunikasi. Intervensi ini mencakup: 1) Mengkaji pola dan kemampuan komunikasi pasien, termasuk pemahaman, ekspresi, dan kemampuan menelan. 2) Menciptakan lingkungan yang tenang dan minim gangguan untuk memfasilitasi komunikasi. 3) Berbicara dengan pelan, jelas, dan menggunakan kalimat sederhana. 4) Memberikan waktu yang cukup bagi pasien untuk merespons, tidak terburu-buru. 5) Menggunakan alat bantu komunikasi seperti papan gambar, alat tulis, atau aplikasi jika diperlukan. 6) Memvalidasi dan mengkonfirmasi pesan yang disampaikan pasien untuk memastikan pemahaman yang benar ("Apakah maksud Anda...?"). 7) Melibatkan keluarga dalam sesi komunikasi dan mendidik mereka tentang teknik yang efektif. 8) Melakukan kolaborasi dengan terapis wicara (speech therapist) jika tersedia untuk penanganan lebih lanjut. 9) Memantau tanda-tanda frustrasi atau kelelahan saat pasien berusaha berkomunikasi. 10) Mengkaji dan mengelola faktor yang memperberat seperti kelelahan atau lingkungan yang bising. Intervensi ini penting untuk memenuhi kebutuhan dasar pasien, mengurangi kecemasan, dan mencegah miskomunikasi yang berbahaya.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: 00265
Deskripsi Singkat: Keadaan di mana individu berisiko mengalami variasi tekanan darah dari rentang normal yang dapat menyebabkan ketidakadekuatan perfusi jaringan atau cedera pada organ akhir.
Kode SLKI: 0903
Deskripsi : Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan. Kriteria hasilnya meliputi: 1) Tekanan darah sistolik dan diastolik pasien berada dalam rentang target yang ditetapkan (pada kasus hipertensi, targetnya adalah menurunkan tekanan secara bertahap). 2) Pasien tidak menunjukkan gejala hipoperfusi (seperti pusing, lemas bertambah) atau krisis hipertensi. 3) Denyut nadi dalam rentang normal dan teratur. 4) Pasien dan keluarga memahami pentingnya pemantauan tekanan darah dan modifikasi gaya hidup. 5) Pasien patuh terhadap regimen terapi farmakologis dan non-farmakologis. Mengingat pasien memiliki riwayat Hipertensi (HT) dan tekanan darah saat ini 165/80 mmHg (masih tinggi), SLKI ini bertujuan untuk mencapai kontrol tekanan darah yang lebih baik guna mencegah progresivitas kerusakan neurologis yang mungkin mendasari kelemahan dan bicara ngawur.
Kode SIKI: 4150
Deskripsi : Manajemen Hipertensi. Intervensi ini mencakup: 1) Memantau tekanan darah, nadi, dan status neurologis secara teratur (setiap 4-6 jam atau sesuai kondisi). 2) Mengkaji faktor penyebab peningkatan tekanan darah seperti nyeri (VAS: 8), ansietas, atau ketidakpatuhan minum obat. 3) Kolaborasi pemberian terapi farmakologis antihipertensi sesuai resep dokter, memastikan obat diminum tepat waktu dan evaluasi efek samping. 4) Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman, mengurangi stresor. 5) Mengajarkan dan mendorong teknik relaksasi. 6) Membatasi asupan natrium dan cairan sesuai anjuran. 7) Memposisikan pasien dengan nyaman, kepala agak tinggi. 8) Mendiskusikan pentingnya kontrol tekanan darah jangka panjang dan modifikasi gaya hidup dengan pasien serta keluarga. 9) Memantau tanda-tanda komplikasi seperti sakit kepala hebat, perubahan visus, atau penurunan kesadaran. Intervensi ini krusial karena hipertensi yang tidak terkontrol merupakan faktor risiko utama stroke, yang sangat mungkin menjadi etiologi dari kelemahan anggota gerak dan bicara ngawur yang dialami pasien.
-
Article No. 24068 | 15 Feb 2026
Klinis : masalah gangguan pada curah jantung, perifer, dan serebral
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gagal Jantung Kongestif dengan Gangguan Perfusi Perifer dan Serebral
Kode ICD-10: I50.9
Deskripsi Singkat : Kondisi ini merujuk pada gagal jantung yang tidak spesifik (I50.9), di mana kemampuan jantung untuk memompa darah tidak mencukupi, menyebabkan gangguan pada curah jantung. Curah jantung yang rendah ini berdampak langsung pada perfusi (aliran darah) ke jaringan perifer (seperti tangan dan kaki, menyebabkan pucat, dingin, atau sianosis) dan perfusi serebral (aliran darah ke otak, yang dapat menyebabkan pusing, kebingungan, atau penurunan kesadaran). Kode I50.9 digunakan sebagai kode umum untuk Gagal Jantung yang Tidak Ditentukan, yang mencakup manifestasi kegagalan pompa jantung secara keseluruhan. Dalam konteks klinis, gangguan perfusi yang dijelaskan merupakan komplikasi serius dari gagal jantung dekompensata, menandakan bahwa tubuh tidak menerima oksigen dan nutrisi yang cukup. Kodifikasi ini bersifat sementara untuk pelatihan; penentuan kode yang lebih spesifik (seperti I50.1 - Gagal jantung ventrikel kiri, atau I50.23 - Gagal jantung sistolik kronis dengan eksaserbasi akut) memerlukan evaluasi medis lengkap untuk mengidentifikasi tipe, etiologi, dan keadaan akut/kronis dari gagal jantung tersebut.***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24069 | 15 Feb 2026
Klinis : : Pasien datang dengan keluhan dernam sejak 3 hari amrs, demam nak turun, turun jika minum obat demam saja, mual (v) muntah (), nafsu makan berkurang, bapil (+), lemas (+), nyeri ulu hati (+), gusi berdarah mimisan RAB hitam disangkal, BAB dan BAK don. fllw HT, DM, Sakit Jantung dan Paru disangkal. OBJECTIVE B: sakit sedang CM OCS: 18 TD: 121/72 mming HR: 138 bpm 5:39.3 RR: 22 bpm Spo2: 98 persen HA VAS & Kepala nomocephal Mata: casi-Leher: jp dbr, kgb tidak besar Thoras dan Jantung by 12 reg, murmur gallop-Paru sn ves/th/wh-Abd: sopel, BU (+) N NTE (+) katok cva, tampak datar Eks akral hangat, crt 2 dtik, pitting odem plekie Motorik 5/5S/5
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermi
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal. Kriteria hasil: 1) Suhu tubuh 36-37,5°C (aksila) atau 36,5-38°C (rektal/tympani). 2) Kulit hangat, tidak kemerahan, dan tidak berkeringat berlebihan. 3) Frekuensi nadi dan pernapasan dalam rentang normal. 4) Pasien melaporkan tidak merasa demam atau kedinginan. 5) Tidak ada kejang atau perubahan status mental terkait demam.
Kode SIKI: 0801
Deskripsi : Manajemen Hipertermi. Intervensi: 1) Monitor suhu tubuh, nadi, pernapasan, dan tekanan darah secara teratur. 2) Observasi tanda-tanda kejang dan perubahan status mental. 3) Anjurkan dan bantu pasien untuk meningkatkan asupan cairan. 4) Lakukan kompres hangat/tepid sponge pada area lipatan (aksila, lipat paha) dan dahi. 5) Kolaborasi pemberian terapi antipiretik sesuai resep. 6) Anjurkan pasien untuk mengenakan pakaian tipis dan menyerap keringat. 7) Pertahankan sirkulasi udara ruangan yang baik. 8) Berikan pendidikan kesehatan tentang penyebab demam dan penanganan di rumah. Penjelasan: Intervensi ini ditujukan untuk menurunkan suhu tubuh melalui mekanisme konduksi dan evaporasi (kompres), mencegah dehidrasi, serta memantau komplikasi. Pemberian cairan sangat penting mengingat pasien juga mengalami mual dan nafsu makan berkurang. Kolaborasi pemberian obat diperlukan karena demam hanya turun dengan obat. Kompres hangat lebih direkomendasikan daripada dingin untuk mencegah pus set. Pendidikan kesehatan membantu pasien dan keluarga dalam manajemen mandiri.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: 00027
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: 0601
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai. Kriteria hasil: 1) Tanda vital dalam rentang normal. 2) Turgor kulit elastis, membran mukosa lembab. 3) Produksi urine adekuat (1-2 ml/kgBB/jam). 4) Balance cairan seimbang (intake dan output seimbang). 5) Tidak ada tanda dehidrasi atau overhidrasi (seperti edema).
Kode SIKI: 0601
Deskripsi : Manajemen Keseimbangan Cairan. Intervensi: 1) Monitor tanda vital (TD, Nadi, RR) dan suhu tubuh. 2) Observasi tanda klinis dehidrasi: turgor kulit, kelembaban membran mukosa, rasa haus. 3) Ukur dan catat intake dan output cairan secara akurat. 4) Anjurkan dan bantu peningkatan asupan cairan per oral bertahap dan sedikit-sedikit. 5) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai resep jika intake oral tidak adekuat. 6) Monitor status edema (pitting odem plekie yang ada pada pasien). 7) Timbang berat badan harian jika memungkinkan. 8) Observasi warna dan jumlah urine. Penjelasan: Pasien berisiko tinggi mengalami defisit volume cairan karena kehilangan cairan melalui mekanisme demam (peningkatan evaporasi) dan gejala mual serta nafsu makan berkurang yang mengurangi intake. Pemantauan ketat intake-output dan tanda klinis dehidrasi sangat penting. Pemberian cairan per oral harus hati-hati karena ada mual. Edema yang terlihat mungkin terkait kondisi lain atau ketidakseimbangan tertentu, sehingga perlu dipantau perkembangannya. Intervensi ini bertujuan mencegah dehidrasi berat dan komplikasinya seperti syok hipovolemik.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 00132
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Kriteria hasil: 1) Skala nyeri menurun (dari VAS 8 menjadi ≤3). 2) Ekspresi wajah rileks, tidak meringis. 3) Pasien dapat beristirahat dan tidur dengan cukup. 4) Pasien melaporkan peningkatan kenyamanan. 5) Tanda vital dalam rentang normal.
Kode SIKI: 1401
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (P, Q, R, S, T) dengan skala VAS. 2) Ajarkan teknik non-farmakologi untuk mengurangi nyeri: relaksasi napas dalam, distraksi. 3) Atur posisi pasien senyaman mungkin. 4) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep dokter, evaluasi efektivitas dan efek sampingnya. 5) Monitor tanda vital sebelum dan sesudah intervensi nyeri. 6) Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman. 7) Lakukan pendekatan terapeutik untuk mengurangi kecemasan yang dapat memperberat nyeri. Penjelasan: Pasien melaporkan nyeri ulu hati dengan skala tinggi (VAS 8). Nyeri ini dapat berasal dari gangguan gastrointestinal yang mungkin terkait dengan kondisi penyebab demam atau efek samping obat. Penanganan nyeri penting untuk meningkatkan kenyamanan, mengurangi stres, dan memungkinkan istirahat yang adekuat yang diperlukan untuk proses penyembuhan. Pendekatan kombinasi farmakologi dan non-farmakologi direkomendasikan. Evaluasi berkelanjutan diperlukan untuk memastikan intervensi efektif dan mendeteksi penyebab nyeri yang mendasarinya.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: 00098
Deskripsi Singkat: Kekurangan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: 0201
Deskripsi : Toleransi Aktivitas. Kriteria hasil: 1) Pasien dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan tanpa keluhan lemas berlebihan. 2) Tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan) dalam rentang normal sebelum, selama, dan setelah aktivitas. 3) Pasien melaporkan peningkatan energi. 4) Tidak terjadi dispnea, pucat, atau keringat dingin saat aktivitas.
Kode SIKI: 0201
Deskripsi : Manajemen Energi. Intervensi: 1) Kaji respons fisiologis terhadap aktivitas (tanda vital, kelemahan). 2) Bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan. 3) Rencanakan periode istirahat yang cukup di sela-sela aktivitas. 4) Ajarkan teknik penghematan energi (misalnya, duduk saat mandi atau menyikat gigi). 5) Tingkatkan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi. 6) Monitor adanya kelelahan ekstrem atau takikardia yang signifikan setelah aktivitas. 7) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memastikan asupan nutrisi yang adekuat sebagai sumber energi. Penjelasan: Pasien mengeluh lemas dan memiliki takikardia (HR 138 bpm), yang merupakan tanda jelas intoleransi aktivitas. Kondisi demam dan proses infeksi yang mendasari meningkatkan metabolisme tubuh dan konsumsi oksigen, sementara kondisi umum yang lemah mengurangi kapasitas aktivitas. Intervensi bertujuan untuk mencegah kelelahan yang memperberat kondisi, memastikan aktivitas penting tetap dilakukan dengan aman, dan memulihkan energi secara bertahap. Pengaturan antara aktivitas dan istirahat sangat krusial untuk pemulihan.