Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25130 | 16 Apr 2026
Klinis : Diagnosa utama global development delay
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Global Development Delay (Keterlambatan Perkembangan Global)
Kode SDKI: 0019
Deskripsi Singkat: Risiko keterlambatan perkembangan
Kode SLKI: 4306
Deskripsi : Perkembangan anak meningkat
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Fasilitasi perkembangan
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI): Risiko Keterlambatan Perkembangan (Kode 0019)
Diagnosa keperawatan SDKI 0019, "Risiko keterlambatan perkembangan," didefinisikan sebagai kondisi individu yang rentan mengalami keterlambatan dalam mencapai tonggak perkembangan fisik, kognitif, sosial, atau emosional yang diharapkan, yang dapat membahayakan kesehatan. Pada kasus Global Development Delay (GDD), kondisi ini bukan lagi sekadar risiko, tetapi telah menjadi masalah aktual. Namun, dalam konteks asuhan keperawatan yang berfokus pada peningkatan potensi dan pencegahan komplikasi lebih lanjut, penggunaan diagnosis "risiko" tetap relevan. Hal ini menekankan pada kerentanan anak untuk tidak mencapai perkembangan optimal di masa mendatang jika tidak diberikan intervensi yang tepat. Fokus perawat adalah mengidentifikasi area keterlambatan yang spesifik (motorik kasar/halus, bicara-bahasa, sosial-emosional, kognitif, aktivitas hidup sehari-hari) dan faktor-faktor yang memperberat, untuk kemudian merencanakan intervensi yang meminimalkan dampak dari keterlambatan tersebut dan memaksimalkan kemampuan anak.
Luaran Keperawatan (SLKI): Perkembangan Anak Meningkat (Kode 4306)
Luaran SLKI 4306, "Perkembangan anak meningkat," didefinisikan sebagai kemajuan dalam pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia. Luaran ini menjadi tujuan utama dari asuhan keperawatan pada anak dengan GDD. Peningkatan perkembangan di sini tidak selalu berarti mengejar ketertinggalan hingga setara dengan anak seusianya, tetapi lebih pada kemajuan yang bermakna dari titik awal kemampuan anak. Indikator luaran ini sangat komprehensif, mencakup: menunjukkan peningkatan keterampilan motorik kasar dan halus; menunjukkan peningkatan kemampuan komunikasi dan bahasa (reseptif dan ekspresif); menunjukkan peningkatan interaksi sosial dan respons emosional yang sesuai; menunjukkan peningkatan kemampuan kognitif seperti perhatian, memori, dan pemecahan masalah sederhana; serta mencapai tonggak perkembangan baru yang disesuaikan dengan potensi dan rencana intervensinya. Pengukuran luaran ini dilakukan melalui observasi terstruktur, alat skrining perkembangan, dan laporan dari orang tua/pengasuh tentang pencapaian anak.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Fasilitasi Perkembangan (Kode 4410)
Intervensi keperawatan SIKI 4410, "Fasilitasi perkembangan," didefinisikan sebagai memfasilitasi perkembangan yang optimal dengan menyediakan dukungan, sumber daya, dan lingkungan yang meningkatkan perkembangan. Intervensi ini adalah tindakan inti untuk mencapai luaran perkembangan anak yang meningkat. Aktivitasnya bersifat holistik dan kolaboratif. Pertama, Assessment: melakukan skrining perkembangan secara berkala menggunakan alat standar (seperti KPSP/Kuesioner Pra Skrining Perkembangan) dan observasi mendalam untuk memetakan kekuatan dan kelemahan anak. Kedua, Stimulasi: merancang dan menerapkan aktivitas stimulasi yang spesifik sesuai area keterlambatan, misalnya terapi bermain untuk motorik dan sosial, latihan komunikasi, atau aktivitas sensori-integrasi. Ketiga, Edukasi dan Pemberdayaan Keluarga: mengajarkan orang tua/keluarga teknik stimulasi yang dapat dilakukan di rumah, pentingnya konsistensi, dan cara menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung eksplorasi. Keempat, Kolaborasi dan Rujukan: bekerja sama dalam tim multidisiplin (dokter anak, terapis fisik, okupasi, wicara, psikolog, guru pendidikan khusus) untuk memastikan anak mendapatkan intervensi yang komprehensif. Kelima, Advokasi: mendukung keluarga dalam mengakses layanan kesehatan, pendidikan, dan dukungan sosial yang diperlukan. Inti dari intervensi ini adalah memampukan anak dan keluarganya untuk terlibat aktif dalam proses perkembangan, dengan perawat sebagai fasilitator, pendidik, dan koordinator asuhan.
-
Article No. 25116 | 15 Apr 2026
Klinis : pasien baru datang dengan keluhan sesak nafas sejak sore, keringat dingin, lemasRPD: PJK (+), HT (-), DM (-) RPD asam lambung Ku lemah, Kes CM TD : 117/73 Tekanan Darah 117/73 Suhu 36 Nadi 85 x/menit Pernafasan 24 x/menit Berat Badan Kg Tinggi Badan cm Mata CA -/-, SI -/- Thorax sdv +/+ wh +/+ rh +/+ Abdomen supel, BU (+), NT (+) epigastrium, undulasi (-) Ext atas akral hangat +/+, edem +/+ Ext Bawah akral hangat +/+, edem +/+ LAB HEMATOLOGI Darah Rutin - Hemoglobin 7.44 L g/dL 12.2 ~ 18.1 - Eritrosit 3.38 L juta/µL 4.04 ~ 6.13 - Hematokrit 23.8 L % 37.7 ~ 53.7 - Glukosa Darah Sewaktu 97 mg/dL < 200 Fungsi Hati - AST (SGOT) 73 H U/l < 37 - ALT (SGPT) 25 U/l < 42 Fungsi Ginjal - Ureum 40.7 mg/dL 10 ~ 50 - Kreatinin 0.74 mg/dL 0.6 ~ 1.1 Index Eritrosit - MCV 70.4 L fL 80 ~ 97 - MCH 22.0 L pg 27 ~ 31.2 - MCHC 31.3 L g/dL 31.8 ~ 35.4 - Lekosit 6.97 ribu/µL 4.6 ~ 10.2 - Trombosit 198 ribu/µL 150 ~ 450 - RDW-CV 17.28 H % 11.5 ~ 14.5 - MPV 7.83 fL 0 ~ 99.9 Hitung Jenis - Neutrofil 92.7 H % 37 ~ 80 - Limfosit 2.5 L % 19 ~ 48 - Monosit 4.2 % 0 ~ 12 - Eosinofil 0.02 % 0 ~ 7 - Basofil 0.6 % 0 ~ 2.5 - Total Neutrofil 6.46 ribu/µL 1,5 ~ 7 - Total Lymphosit 0.18 L ribu/µL 1 ~ 3,7 - Total Monosit 0.29 ribu/µL - Total Eosinofil 0.00 ribu/µL - Total Basofil 0.04 Gol. Darah (A B O) - Golongan Darah B KIMIA KLINIK ELEKTROLIT - Natrium (Na) 124 L mmol/L 135 ~ 150 - Kalium (K) 3.9 mmol/L 3.5 ~ 5.1 - Chlorida (Cl) 93 L mmol/L 98 ~ 109 - Calsium (Ca2+) 1.0 L mmol/L 1.1 ~ 1.4 - pH 7.41 13/4/2026 Foto Ro thoraks PA Thorax :AP, supine, simetris, inspirasi dan kondisi cukup, Hasil: - Tampak infiltrat di parenkim pulmo sinistra - Tampak opasitas homogen di hemithorax dextra - Diafragma dan sinus CF sinistra normal - Cor : tak valid dinilai Kesan : - Bronchopneumonia dengan efusi pleura dextra - Besar cor tak valid dinilai USG thoraks 14/4/2026 Telah dilakukan pemeriksaan USG thorax dengan marker ,pada penderita dengan klinis efusi pleura dextra, Hasil : - Supradiafragma dextra : tampak lesi anechoic di cavum pleura dextra, septa (+), volume : 822 ml . KESAN : Efusi pleura dextra, capsulated type, volume cairan l.k : 822 ml
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Keseimbangan Cairan & Elektrolit terkait Efusi Pleura dan Anemia
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Diagnosa Keperawatan "Gangguan Pertukaran Gas" didefinisikan sebagai kondisi dimana terjadi gangguan pada proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida antara alveoli dan sistem vaskular pulmonal. Pada pasien ini, kondisi ini secara langsung terkait dengan adanya efusi pleura dekstra yang masif (volume ~822 ml) dan infiltrat pneumonia di paru kiri. Efusi pleura menyebabkan kompresi jaringan paru, mengurangi luas permukaan alveoli yang efektif untuk pertukaran gas, sehingga mengakibatkan hipoksemia. Hal ini dimanifestasikan secara klinis melalui keluhan sesak napas (dispnea) dan temuan fisik takipnea (pernapasan 24x/menit). Selain itu, hasil analisis gas darah menunjukkan pH normal (7.41) namun data elektrolit dan hematologi mengarah pada kompleksitas kondisi. Gangguan pertukaran gas ini diperberat oleh kondisi anemia (Hb 7.44 g/dL) yang mengurangi kapasitas pengangkutan oksigen darah, menciptakan lingkaran setan dimana jantung harus bekerja lebih keras (nadi 85x/menit) untuk mengirimkan oksigen yang tidak adekuat ke jaringan, yang menjelaskan gejala lemas dan keringat dingin. Riwayat PJK juga menjadi faktor komorbid yang memperburuk toleransi tubuh terhadap kondisi hipoksia ini.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan (SLKI) "Perbaikan Pertukaran Gas" dengan kriteria: frekuensi pernapasan dalam rentang normal (16-20x/menit), tidak ada dispnea atau penggunaan otot bantu pernapasan, dan saturasi oksigen (SpO2) >94% pada udara ruangan. Target spesifik untuk pasien ini adalah penurunan frekuensi pernapasan dari 24x/menit mendekati rentang normal, hilangnya keluhan sesak napas, serta peningkatan saturasi oksigen yang stabil setelah intervensi drainase efusi dan terapi oksigen. Selain itu, luaran terkait status sirkulasi dan kenyamanan juga penting, seperti nadi dalam rentang normal (60-100x/menit), kulit hangat dan kering (mengatasi keringat dingin), serta penurunan kecemasan yang sering menyertai perasaan sesak napas. Pencapaian luaran ini akan menunjukkan keberhasilan dalam mengatasi hambatan mekanik (efusi) dan meningkatkan difusi gas.
Kode SIKI: I.08229, I.08002, I.09005
Deskripsi : Intervensi keperawatan (SIKI) yang utama adalah: I.08229: Manajemen Jalan Napas - Meliputi pemantauan pola, frekuensi, dan usaha pernapasan; pemberian oksigen sesuai indikasi; serta memposisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau miring ke sisi yang sehat (jika mungkin) untuk memaksimalkan ekspansi paru yang tidak terkena efusi. I.08002: Manajemen Nyeri - Meski tidak disampaikan keluhan nyeri, adanya nyeri tekan (NT +) di epigastrium dan ketidaknyamanan akibat sesak memerlukan manajemen nyeri non-farmakologis seperti teknik relaksasi napas untuk mengurangi konsumsi oksigen dan kecemasan. I.09005: Manajemen Keseimbangan Cairan dan Elektrolit - Ini adalah intervensi kritis mengingat hasil laboratorium: hiponatremia (Na 124 mmol/L), hipokloremia (Cl 93 mmol/L), dan hipokalsemia (Ca 1.0 mmol/L). Intervensi mencakup pemantauan ketat tanda vital dan status hidrasi, kolaborasi pemberian terapi cairan dan koreksi elektrolit secara intravena dengan kecepatan yang hati-hati (karena ada efusi dan risiko overload cairan), serta memonitor output urin. Penting juga untuk mengidentifikasi penyebab ketidakseimbangan ini, apakah terkait asupan, efek samping terapi, atau kondisi lain. Intervensi tambahan yang relevan adalah I.06020: Edukasi Kesehatan untuk menjelaskan prosedur tindakan (seperti torakosintesis jika diperlukan), proses penyakit, dan pentingnya melaporkan setiap perburukan sesak. Seluruh intervensi dilakukan dengan pendekatan holistik, mempertimbangkan kelemahan pasien (ku lemah) dan riwayat penyakit penyerta (PJK, asam lambung).
-
Article No. 25117 | 15 Apr 2026
Klinis : Seorang laki-laki berusia 57 tahun dirawat dengan keluhan perut membesar dan terasa tidak nyaman. Hasil pengkajian: mual sejak 2 minggu yang lalu, nafsu makan menurun, BB menurun 5 kg (dalam 1 bulan), frekuensi napas 21 x/menit, frekuensi nadi 89 x/menit, TD 100/75 mmHg. Pasien riwayat minum alkohol sejak 20 tahun yang lalu.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Diagnosa keperawatan ini merujuk pada keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pada pasien ini, faktor risiko utama adalah riwayat konsumsi alkohol kronis (selama 20 tahun), yang merupakan penyebab umum sirosis hepatis dan gangguan penyerapan nutrisi. Manifestasi klinis yang mendukung adalah penurunan berat badan yang signifikan (5 kg dalam 1 bulan), penurunan nafsu makan, mual, serta perut membesar yang mengindikasikan kemungkinan asites akibat penyakit hati. Tekanan darah yang cenderung rendah (100/75 mmHg) juga dapat menjadi tanda dari status nutrisi yang buruk. Kondisi ini berisiko memperburuk fungsi hati, menurunkan kekebalan tubuh, menghambat penyembuhan, dan meningkatkan morbiditas.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah status nutrisi klien membaik. Secara spesifik, tujuan dari intervensi keperawatan adalah untuk mencapai asupan nutrisi yang adekuat sesuai dengan kebutuhan dan toleransi klien. Indikator pencapaian luaran ini dapat meliputi: berat badan klien stabil atau mengalami peningkatan bertahap menuju berat badan ideal, keluhan mual dan tidak nyaman pada perut berkurang, nafsu makan klien membaik yang ditandai dengan kemampuan menghabiskan porsi makanan yang disajikan, serta nilai-nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin dan hemoglobin) menunjukkan perbaikan. Pencapaian luaran ini memerlukan waktu dan tergantung pada tingkat keparahan penyakit hati yang mendasarinya. Perawat akan memantau parameter tersebut secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas intervensi yang diberikan.
Kode SIKI: I.1.1.1
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama adalah Manajemen Nutrisi. Intervensi ini meliputi serangkaian tindakan yang komprehensif. Pertama, perawat akan berkolaborasi dengan ahli gizi untuk melakukan pengkajian kebutuhan nutrisi yang mendetail, menghitung kebutuhan kalori, protein, dan mikronutrien berdasarkan kondisi pasien. Kedua, perencanaan diet disesuaikan, biasanya dengan diet tinggi kalori dan tinggi protein, namun hati-hati pada kondisi ensefalopati hepatikum (dibatasi protein). Diet diberikan dalam porsi kecil namun sering (small frequent feeding) untuk mengatasi mual dan perut kembung. Ketiga, memodifikasi lingkungan makan yang nyaman, bebas bau yang memicu mual, dan mendukung posisi yang tepat saat makan. Keempat, memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi, jenis makanan yang dianjurkan dan dihindari (terutama pantang alkohol mutlak), serta cara mengatasi mual. Kelima, memantau dan mencatat asupan makanan dan cairan setiap hari, serta memantau berat badan secara teratur. Keenam, kolaborasi pemberian suplemen nutrisi (enteral atau parenteral) jika asumsi oral sangat tidak adekuat, serta pemberian obat antiemetik sesuai resep untuk mengendalikan mual. Seluruh tindakan ini dilakukan dengan pendekatan holistik, mempertimbangkan kondisi psikologis pasien dan dukungan keluarga, untuk mencapai tujuan perbaikan status nutrisi.
-
Article No. 25118 | 15 Apr 2026
Klinis : Anak usia 9 bulan 10 hari panjang badan dan berat badan sulit naik
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 00002
Deskripsi Singkat: Keadaan di mana individu berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Status Nutrisi: Asupan nutrisi dan cairan adekuat sesuai kebutuhan tubuh. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Berat badan sesuai dengan usia, jenis kelamin, dan potensi pertumbuhan (misalnya, berada dalam kurva pertumbuhan yang sesuai). 2) Tanda-tanda klinis nutrisi adekuat (misalnya, kulit kenyal, turgor baik, rambut berkilau, membran mukosa lembab). 3) Asupan makanan dan cairan sesuai dengan kebutuhan yang direkomendasikan. 4) Tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi seperti kelelahan, apatis, atau penurunan berat badan yang tidak diinginkan. 5) Nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin, hemoglobin) dalam rentang normal. Pada bayi dan anak, parameter khusus termasuk kenaikan berat badan dan panjang/tinggi badan yang adekuat sesuai kurva standar WHO, perkembangan psikomotor yang sesuai usia, serta kepatuhan terhadap jadwal imunisasi sebagai indikator kesehatan secara keseluruhan.
Kode SIKI: 0801
Deskripsi : Manajemen Nutrisi: Tindakan untuk memfasilitasi atau memberikan nutrisi yang seimbang. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Mengkaji status nutrisi secara komprehensif, termasuk riwayat diet, pola makan, alergi, kebiasaan, dan faktor penghambat asupan. 2) Memantau asupan dan output nutrisi serta cairan secara berkala. 3) Menimbang berat badan secara teratur dan memplotkan pada kurva pertumbuhan (misalnya, Kartu Menuju Sehat/KMS). 4) Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan nutrisi spesifik serta merencanakan diet. 5) Memberikan pendidikan kesehatan kepada orang tua/pengasuh tentang pentingnya nutrisi seimbang, pemberian ASI/MPASI yang tepat, frekuensi, dan porsi sesuai usia. 6) Mendemonstrasikan dan mengajarkan teknik pemberian makan yang tepat untuk bayi dan anak. 7) Menciptakan lingkungan yang nyaman dan bebas stres selama waktu makan. 8) Memodifikasi tekstur dan jenis makanan sesuai dengan kemampuan dan perkembangan anak (misalnya, MPASI sesuai tahap). 9) Memantau tanda-tanda klinis dehidrasi atau malnutrisi (turgor kulit, ubun-ubun, mata cekung). 10) Memberikan dukungan emosional dan motivasi kepada orang tua terkait kesulitan pemberian makan. 11) Mengidentifikasi dan mengatasi faktor penyebab sulit makan, seperti infeksi, gangguan pencernaan, atau masalah psikososial. 12) Merujuk ke tenaga kesehatan lain (dokter, gizi) jika ditemukan masalah medis yang mendasari (seperti gagal tumbuh/failure to thrive). 13) Mendorong dan mendukung pemberian ASI eksklusif hingga 6 bulan dan dilanjutkan dengan MPASI yang adekuat. 14) Memantau perkembangan dan pencapaian milestone anak sebagai indikator tidak langsung kecukupan nutrisi.
Kondisi: Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan
Kode SDKI: 00113
Deskripsi Singkat: Penyimpangan dari norma pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia.
Kode SLKI: 1301
Deskripsi : Status Perkembangan: Kemampuan mencapai tonggak perkembangan (milestone) sesuai usia. Kriteria hasil meliputi: 1) Mencapai milestone perkembangan sesuai usia dalam area motorik kasar, motorik halus, bahasa, dan sosialisasi. 2) Menunjukkan perilaku dan keterampilan yang sesuai dengan tahap perkembangan. 3) Berat badan, panjang/tinggi badan, dan lingkar kepala sesuai dengan kurva pertumbuhan standar. 4) Interaksi sosial yang sesuai usia dengan pengasuh dan lingkungan. 5) Eksplorasi lingkungan secara aktif dan aman sesuai usia. 6) Orang tua/pengasuh memahami tahap perkembangan anak dan mampu merangsangnya dengan tepat.
Kode SIKI: 1301
Deskripsi : Promosi Perkembangan: Memfasilitasi pencapaian milestone perkembangan yang optimal. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Melakukan skrining perkembangan menggunakan alat yang terstandar (seperti Kuesioner Pra Skrining Perkembangan/KPSP). 2) Mengkaji riwayat prenatal, natal, dan postnatal yang dapat memengaruhi perkembangan. 3) Memantau dan mendokumentasikan pertumbuhan fisik (berat, panjang, lingkar kepala) secara berkala pada kurva standar. 4) Mengobservasi dan mendokumentasikan pencapaian milestone perkembangan (misalnya, tengkurap, duduk, merangkak, babbling, mengenali orang tua). 5) Memberikan stimulasi perkembangan yang sesuai usia (stimulasi motorik, sensorik, kognitif, dan sosial) melalui bermain dan interaksi. 6) Mendidik dan mendemonstrasikan kepada orang tua cara memberikan stimulasi yang tepat di rumah. 7) Mengidentifikasi faktor risiko dan hambatan perkembangan (misalnya, nutrisi tidak adekuat, penyakit kronis, kurang stimulasi). 8) Berkolaborasi dengan tim kesehatan (dokter, terapis) jika ditemukan keterlambatan perkembangan. 9) Mendorong lingkungan yang aman dan mendukung untuk eksplorasi. 10) Memberikan dukungan emosional dan informasi kepada orang tua tentang perkembangan normal dan cara mengoptimalkannya. 11) Menekankan pentingnya nutrisi yang adekuat sebagai dasar untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. 12) Merujuk ke program intervensi dini atau layanan spesialis jika diperlukan. 13) Memantau perkembangan secara berkelanjutan untuk mendeteksi penyimpangan secara dini.
Kondisi: Ansietas (pada Orang Tua/Pengasuh)
Kode SDKI: 00146
Deskripsi Singkat: Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar-samar atau ancaman yang tidak jelas diketahui asalnya, disertai dengan respons otonom (sumbernya sering tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu).
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Ansietas: Kemampuan mengelola perasaan gugup, khawatir, atau ancaman. Kriteria hasil meliputi: 1) Mengenali dan mengungkapkan perasaan ansietas. 2) Menunjukkan perilaku koping yang adaptif untuk mengurangi ansietas. 3) Tanda-tanda fisiologis ansietas (seperti takikardia, tremor, berkeringat) berkurang atau terkontrol. 4) Fungsi sehari-hari tidak terganggu secara signifikan oleh ansietas. 5) Mampu mengidentifikasi sumber ansietas dan mencari solusi atau bantuan. 6) Menunjukkan relaksasi dan ketenangan dalam menghadapi situasi yang menegangkan.
Kode SIKI: 1401
Deskripsi : Pengurangan Ansietas: Meminimalkan perasaan khawatir, takut, dan gelisah. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Mengkaji tingkat ansietas orang tua, termasuk tanda verbal dan nonverbal, serta dampaknya terhadap perawatan anak. 2) Menciptakan lingkungan yang terapeutik dan mendukung untuk mengekspresikan perasaan. 3) Mendengarkan secara aktif dan empatik terhadap kekhawatiran orang tua. 4) Memberikan informasi yang akurat, jelas, dan jujur tentang kondisi anak, rencana perawatan, dan prognosis. 5) Melibatkan orang tua dalam perencanaan dan pemberian perawatan kepada anak untuk meningkatkan rasa kontrol. 6) Mengajarkan teknik relaksasi sederhana (seperti napas dalam, distraksi). 7) Membantu orang tua mengidentifikasi sumber dukungan sosial (keluarga, teman). 8) Memvalidasi perasaan orang tua bahwa kekhawatiran mereka adalah hal yang wajar. 9) Meningkatkan rasa percaya diri orang tua dalam merawat anak dengan memberikan pendidikan kesehatan dan pelatihan keterampilan perawatan. 10) Membantu orang tua menetapkan harapan yang realistis terkait pertumbuhan dan perkembangan anak. 11) Merujuk pada konseling atau dukungan psikososial jika ansietas berat atau menetap. 12) Memantau dan mendukung interaksi positif antara orang tua dan anak untuk mengurangi kecemasan kedua belah pihak.
-
Article No. 25121 | 15 Apr 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons inflamasi terhadap mikroorganisme patogen.
Kode SLKI: L.03114
Deskripsi : Pasien bebas dari infeksi. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5 – 37,5°C). 2) Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti kemerahan, bengkak, nyeri, atau drainase pus. 3) Hasil pemeriksaan laboratorium (seperti leukosit) dalam batas normal. 4) Mampu mendemonstrasikan perilaku pencegahan penularan infeksi (misalnya, menutup mulut saat batuk, membuang dahak di tempat yang aman). 5) Menunjukkan kepatuhan terhadap regimen terapi obat anti-tuberkulosis (OAT) jangka panjang. Pada pasien tuberkulosis, SLKI ini sangat krusial karena penyakit ini bersifat infeksius dan memerlukan pengobatan yang tuntas. Perawat berperan dalam edukasi untuk mencegah penularan kepada orang lain dan memastikan keberhasilan terapi, yang pada akhirnya akan menghilangkan risiko infeksi. Pencapaian SLKI ini ditandai dengan terkendalinya pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis, hilangnya gejala sistemik seperti demam, dan negatifnya hasil pemeriksaan dahak secara berulang.
Kode SIKI: I.05080
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Memantau tanda-tanda vital, terutama suhu, secara teratur untuk mendeteksi demam sebagai tanda respons infeksi. 2) Mengajarkan dan memastikan pasien menerapkan etika batuk (menggunakan masker, menutup mulut dengan tisu atau lengan atas) dan kebersihan tangan. 3) Menginstruksikan cara pembuangan dahak yang aman (dibakar atau ditimbun) untuk memutus rantai penularan. 4) Memastikan isolasi droplet di awal pengobatan sampai dinyatakan tidak menular. 5) Memantau kepatuhan minum OAT dan efek sampingnya, serta memberikan edukasi tentang pentingnya pengobatan lengkap meskipun gejala sudah membaik. 6) Kolaborasi dalam pengambilan spesimen dahak untuk pemeriksaan laboratorium. 7) Meningkatkan asupan nutrisi pasien untuk mendukung sistem imun. 8) Mengatur sirkulasi udara yang baik di ruangan. Intervensi ini bersifat komprehensif, tidak hanya berfokus pada aspek klinis mikrobiologis, tetapi juga pada aspek perilaku dan lingkungan untuk mengendalikan sumber infeksi dan meningkatkan daya tahan tubuh pasien.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0093
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: L.03015
Deskripsi : Pertukaran gas efektif. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Saturasi oksigen (SpO2) ≥ 95% dalam udara ruangan. 2) Frekuensi pernapasan dalam rentang normal (16-20 kali/menit). 3) Tidak mengeluh sesak napas (dispnea) baik saat istirahat maupun aktivitas ringan. 4) Tidak ditemukan sianosis. 5) Suara napas bersih (clear) atau kembali normal di seluruh lapang paru seiring pengobatan. 6) Hasil analisis gas darah dalam batas normal. Pada pasien dengan lesi di paru akibat TB, proses pertukaran gas terganggu karena konsolidasi jaringan dan peradangan yang mengurangi luas permukaan alveoli yang efektif. SLKI ini bertujuan memulihkan fungsi pernapasan hingga pasien dapat mempertahankan keseimbangan oksigen dan karbon dioksida tanpa distress pernapasan. Pencapaiannya bersifat bertahap, seiring dengan respons terapi OAT yang mengurangi inflamasi dan kerusakan jaringan.
Kode SIKI: I.08013
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Mengatur posisi pasien semi-Fowler atau Fowler untuk memudahkan ekspansi paru. 2) Memantau status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, penggunaan otot bantu), saturasi oksigen, dan tanda sianosis. 3) Melakukan fisioterapi dada dan latihan batuk efektif untuk membantu pengeluaran sekret/dahak yang menghambat jalan napas. 4) Mengajarkan teknik pernapasan dalam dan bibir mengerucut (pursed-lip breathing) untuk meningkatkan ventilasi. 5) Memastikan asupan cairan yang adekuat (kecuali kontraindikasi) untuk mengencerkan dahak. 6) Kolaborasi pemberian terapi oksigen jika diperlukan berdasarkan hasil pemeriksaan saturasi atau gas darah. 7) Memonitor respons terapi dan melaporkan jika ada perburukan sesak. Intervensi ini bertujuan mempertahankan jalan napas paten, mengoptimalkan ventilasi, dan memfasilitasi pengeluaran sekret sehingga pertukaran gas dapat berlangsung lebih efektif.
Kondisi: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0030
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Kode SLKI: L.02032
Deskripsi : Status nutrisi membaik. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Peningkatan berat badan menuju berat badan ideal secara bertahap. 2) Nilai indeks massa tubuh (IMT) dalam kategori normal (18,5 – 25,0 kg/m²). 3) Asupan makanan dan cairan dapat memenuhi kebutuhan harian yang dianjurkan. 4) Nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin dan hemoglobin) dalam batas normal. 5) Tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi seperti kelemahan, kulit kering, atau rambut tipus. Pada pasien TB, anoreksia (kehilangan nafsu makan), demam, dan proses infeksi yang meningkatkan metabolisme basal menyebabkan katabolisme protein dan penurunan berat badan yang signifikan. Pencapaian SLKI ini sangat penting karena status nutrisi yang baik mendukung sistem imun dan mempercepat proses penyembuhan, serta meningkatkan toleransi terhadap pengobatan.
Kode SIKI: I.01280
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Melakukan pengukuran antropometri (berat badan, IMT) secara berkala. 2) Memantau asupan dan output cairan serta kalori harian. 3) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet tinggi kalori dan tinggi protein sesuai kemampuan dan preferensi pasien. 4) Memberikan makanan dalam porsi kecil namun sering untuk mengatasi anoreksia. 5) Menciptakan lingkungan makan yang nyaman dan bebas bau yang dapat memicu mual. 6) Memberikan edukasi tentang pentingnya nutrisi dalam proses penyembuhan TB. 7) Memantau hasil laboratorium seperti albumin dan hemoglobin. 8) Kolaborasi pemberian suplemen nutrisi atau vitamin jika diperlukan. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan aspek monitoring, terapi diet, dan edukasi untuk mengatasi masalah nutrisi yang merupakan komorbid umum dan faktor prognostik penting dalam kesembuhan tuberkulosis.
-
Article No. 25122 | 15 Apr 2026
Klinis : Ny.H usia 50 tahun datang ke IRD dengan keluhan nyeri dada kiri yang tidak berkurang dengan istirahat sejak tadi pagi. Berdasarkan pengkajian didapatkan data: nyeri menjalar ke lengan dan punggung kiri, skala nyeri 7, pasien tampak gelisah, diaphoresis dan wajah gerimis. Berdasarkan pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan tekanan 140/90 mmHg, Nadi=120x/menit, Respiratory rate (RR)= 28x/menit dan suhu tubuh 37,6°C.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Sindrom Koroner Akut (Infark Miokard Akut dengan elevasi segmen ST - IMAEST)
Kode ICD-10: I21.9
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan infark miokard akut (serangan jantung) yang tidak spesifik, dengan kecurigaan kuat mengarah ke IMA dengan elevasi segmen ST (STEMI) berdasarkan presentasi klinis. Gejala khas meliputi nyeri dada kiri yang tidak membaik dengan istirahat, menjalar ke lengan dan punggung kiri, dengan skala nyeri tinggi (7). Tanda-tanda otonom seperti gelisah, diaphoresis (keringat berlebihan), dan wajah gerimis sangat menonjol. Tanda vital menunjukkan respons stres sistemik: takikardia (nadi 120x/menit), takipnea (RR 28x/menit), hipertensi ringan (140/90 mmHg), dan demam ringan yang dapat terjadi pada infark miokard. Kombinasi nyeri dada iskemik yang berkepanjangan dengan gejala sistemik yang berat sangat mengindikasikan oklusi akut arteri koroner yang menyebabkan kerusakan otot jantung. Kode I21.9 digunakan dalam konteks pelatihan ini sebagai placeholder awal, mewakili Infark Miokard Akut yang belum ditentukan lokasi pastinya. Dalam praktik kodifikasi resmi, kode yang lebih spesifik (seperti I21.0 untuk dinding anterior atau I21.1 untuk inferior) harus ditetapkan setelah konfirmasi elektrokardiografi (EKG) dan biomarker jantung.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 25123 | 15 Apr 2026
Klinis : Ny.H usia 50 tahun datang ke IRD dengan keluhan nyeri dada kiri yang tidak berkurang dengan istirahat sejak tadi pagi. Berdasarkan pengkajian didapatkan data: nyeri menjalar ke lengan dan punggung kiri, skala nyeri 7, pasien tampak gelisah, diaphoresis dan wajah gerimis. Berdasarkan pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan tekanan 140/90 mmHg, Nadi=120x/menit, Respiratory rate (RR)= 28x/menit dan suhu tubuh 37,6°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mencegah, mengurangi, atau menghilangkan nyeri. Pada kasus Ny. H, kondisi klinis yang mendasari (diduga sindrom koroner akut/infark miokard) menyebabkan nyeri dada hebat dengan skala 7, menjalar, dan tidak berkurang dengan istirahat. SLKI ini menjadi tujuan utama dimana perawat berkolaborasi untuk mencapai pengurangan hingga penghilangan nyeri. Intervensi keperawatan diarahkan untuk memastikan nyeri dapat dikendalikan, ditandai dengan penurunan skala nyeri (misalnya menjadi ≤3), pasien tampak tenang, tanda-tanda vital kembali ke rentang normal, dan pasien melaporkan peningkatan kenyamanan. Pencapaian SLKI ini sangat kritis karena nyeri yang tidak terkontrol tidak hanya menyebabkan penderitaan tetapi juga memperberat beban kerja jantung melalui peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis, yang dapat memperluas area kerusakan jantung.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Serangkaian intervensi sistematis yang dilakukan perawat untuk mengatasi nyeri akut pada Ny. H. Intervensi ini bersifat komprehensif dan segera. Pertama, Pengkajian Nyeri Komprehensif: Melakukan pengkajian nyeri secara mendetail menggunakan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Time) atau skala numerik (0-10) secara berkala untuk memantau perkembangan. Kedua, Intervensi Farmakologis: Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik yang sesuai (seperti nitrogliserin, morfin) sesuai protokol, memantau efektivitas, dan mengawasi efek samping (seperti hipotensi, depresi pernapasan). Ketiga, Intervensi Non-Farmakologis: Memberikan lingkungan yang tenang, melakukan teknik relaksasi napas dalam, memposisikan pasien dengan nyaman (biasanya semi-Fowler), serta memberikan penjelasan dan dukungan emosional untuk mengurangi kecemasan yang dapat memperberat persepsi nyeri. Keempat, Monitoring Respons Fisiologis: Memantau tanda-tanda vital (TD, Nadi, RR) dan gejala lain (diaphoresis, gelisah) sebagai indikator tidak langsung dari respons terhadap nyeri dan pengobatan. Kelima, Edukasi: Menjelaskan penyebab nyeri, tujuan pengobatan, dan pentingnya melaporkan nyeri dengan segera. Seluruh intervensi ini didokumentasikan dengan baik dan dievaluasi secara terus-menerus untuk menilai keberhasilan manajemen nyeri dan menentukan kebutuhan modifikasi intervensi. Pendekatan holistik ini penting karena nyeri pada kondisi jantung bersifat kompleks, melibatkan komponen fisik dan psikologis.
-
Article No. 25124 | 15 Apr 2026
Klinis : Pasangan suami istri Tn. A (34 tahun) dan Ny. M (30 tahun) datang ke klinik VCT untuk melakukan konseling. Hasil pemeriksaan menunjukkan Tn. A positif HIV (diagnosis 3 bulan lalu) sedangkan Ny. M negatif HIV, lama usia pernikahan 6 bulan dan belum memiliki anak Pasangan tersebut merencanakan kehamilan dalam 1 tahun ke depan. Tn. A sedang menjalani terapi ARV rutin sejak 2 bulan lalu dengan hasil viral load terakhir: 1.200 copies/mL (belum supresi). Dari hasil anamnesa didapat Ny. M merasa cemas tertular, Tn. A merasa bersalah dan takut ditolak dan mereka jarang menggunakan kondom karena ingin segera memiliki anak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan pada Pasangan Serodiskordan HIV dengan Rencana Kehamilan
Kode SDKI: 0028
Deskripsi Singkat: Risiko Penularan Infeksi
Kode SLKI: 4305
Deskripsi : Perilaku penularan infeksi dicegah.
Kode SIKI: 4501
<>Deskripsi : Edukasi kesehatan dilakukan.
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan pada Pasangan Serodiskordan HIV dengan Rencana Kehamilan
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Kecemasan
Kode SLKI: 1306
<>Deskripsi : Tingkat kecemasan menurun.
Kode SIKI: 1401
<>Deskripsi : Lingkungan terapeutik dipertahankan.
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan pada Pasangan Serodiskordan HIV dengan Rencana Kehamilan
Kode SDKI: 0018
Deskripsi Singkat: Ketidakefektifan Koping
Kode SLKI: 1501
<>Deskripsi : Koping efektif.
Kode SIKI: 1601
<>Deskripsi : Hubungan saling percaya dibina.
-
Article No. 25125 | 15 Apr 2026
Klinis : Pasangan suami istri Tn. A (34 tahun) dan Ny. M (30 tahun) datang ke klinik VCT untuk melakukan konseling. Hasil pemeriksaan menunjukkan Tn. A positif HIV (diagnosis 3 bulan lalu) sedangkan Ny. M negatif HIV, lama usia pernikahan 6 bulan dan belum memiliki anak Pasangan tersebut merencanakan kehamilan dalam 1 tahun ke depan. Tn. A sedang menjalani terapi ARV rutin sejak 2 bulan lalu dengan hasil viral load terakhir: 1.200 copies/mL (belum supresi). Dari hasil anamnesa didapat Ny. M merasa cemas tertular, Tn. A merasa bersalah dan takut ditolak dan mereka jarang menggunakan kondom karena ingin segera memiliki anak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas pada Pasangan (Ny. M) terkait Risiko Penularan HIV
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah perasaan khawatir, gelisah, atau tidak nyaman yang terkait dengan antisipasi ancaman atau peristiwa yang akan datang. Pada kasus ini, Ny. M mengalami kecemasan yang spesifik terkait ketakutannya tertular HIV dari suaminya (Tn. A) yang positif HIV dengan viral load yang belum tersupresi. Kecemasan ini diperparah oleh keinginan mereka untuk segera memiliki anak, yang berpotensi meningkatkan risiko penularan melalui hubungan seksual tanpa kondom. Ansietas ini dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis Ny. M, kualitas hubungan pernikahan, dan kepatuhan terhadap rencana pencegahan penularan yang aman.
Kode SLKI: L.07114
Deskripsi : Tercapainya tingkat kecemasan yang terkendali. Intervensi keperawatan diarahkan untuk membantu Ny. M: (1) Mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan cemas serta sumber ketakutannya secara verbal. (2) Mendemonstrasikan teknik relaksasi sederhana (seperti napas dalam) untuk mengelola gejala cemas saat muncul. (3) Menyatakan pemahaman tentang cara penularan HIV dan metode pencegahan yang efektif, termasuk PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis) dan konsep U=U (Undetectable = Untransmittable) sebagai tujuan pengobatan suaminya. (4) Berpartisipasi aktif dalam diskusi dengan konselor atau tenaga kesehatan mengenai perencanaan kehamilan yang aman (contohnya dengan program bayi tabung/inseminasi buatan untuk menghindari penularan). (5) Melaporkan penurunan tingkat kecemasan yang subyektif setelah mendapatkan edukasi dan konseling yang komprehensif.
Kode SIKI: I.01239
Deskripsi : Intervensi untuk mengurangi ansietas meliputi: (1) Menciptakan lingkungan yang tenang dan mendukung untuk konseling. (2) Mendengarkan secara aktif dan empatik kekhawatiran yang diungkapkan oleh Ny. M tanpa menghakimi. (3) Memberikan edukasi kesehatan yang akurat dan spesifik tentang HIV, cara penularan, dan langkah pencegahan berbasis bukti, termasuk pentingnya penggunaan kondom secara konsisten hingga viral load Tn. A mencapai supresi (tidak terdeteksi) dan opsi PrEP untuk Ny. M. (4) Mengajarkan teknik manajemen stres dan relaksasi. (5) Melibatkan Tn. A dalam sesi konseling bersama untuk membangun komunikasi terbuka dan dukungan pasangan. (6) Berkolaborasi dengan dokter untuk membahas rencana pengobatan ARV Tn. A agar mencapai supresi viral load dan merujuk ke layanan kesehatan reproduksi untuk konseling perencanaan kehamilan yang aman bagi pasangan serodiskordan. (7) Memberikan informasi tentang kelompok dukungan (support group) bagi pasangan yang menghadapi situasi serupa.
Kondisi: Risiko Cedera (Penularan HIV) pada Pasangan Negatif (Ny. M)
Kode SDKI: D.0079
Deskripsi Singkat: Risiko cedera di sini secara spesifik merujuk pada risiko penularan infeksi HIV dari Tn. A yang positif kepada Ny. M yang masih negatif. Risiko ini meningkat secara signifikan karena beberapa faktor: (1) Viral load Tn. A masih terdeteksi (1.200 copies/mL) yang menunjukkan risiko penularan masih ada. (2) Pasangan jarang menggunakan kondom karena keinginan untuk segera hamil, sehingga menghilangkan metode barrier pelindung utama. (3) Adanya rencana kehamilan dalam waktu dekat yang mungkin mendorong perilaku berisiko jika tidak diarahkan dengan strategi yang aman. Diagnosis keperawatan ini menekankan pada potensi terjadinya cedera/biologis (infeksi) dan perlunya intervensi preventif segera.
Kode SLKI: L.15021
Deskripsi : Pasangan bebas dari penularan HIV. Tujuan keperawatan adalah: (1) Ny. M tetap mempertahankan status HIV negatif. (2) Pasangan (Tn. A dan Ny. M) mampu menyebutkan minimal tiga strategi pencegahan penularan HIV dalam konteks hubungan pasangan serodiskordan yang menginginkan keturunan. (3) Pasangan menyatakan komitmen untuk menerapkan strategi pencegahan yang disepakati (seperti konsisten menggunakan kondom hingga viral load supresi, atau penggunaan PrEP). (4) Tn. A menunjukkan kepatuhan yang tinggi terhadap terapi ARV untuk mencapai dan mempertahankan viral load tidak terdeteksi (U=U). (5) Pasangan telah mendapatkan rujukan dan informasi lengkap mengenai layanan kesehatan reproduksi untuk program kehamilan aman (seperti inseminasi atau bayi tabung) guna meminimalkan risiko penularan.
Kode SIKI: I.05042
Deskripsi : Intervensi untuk mencegah penularan infeksi meliputi: (1) Melakukan edukasi komprehensif kepada kedua pasangan tentang cara penularan HIV dan faktor yang meningkatkan risiko. (2) Memfasilitasi diskusi terbuka antara suami-istri mengenai kekhawatiran, tanggung jawab, dan rencana bersama untuk mencegah penularan. (3) Mendorong dan memantau kepatuhan Tn. A terhadap terapi ARV, serta menjelaskan konsep U=U sebagai tujuan yang dapat menghilangkan risiko penularan seksual. (4) Merekomendasikan dan memfasilitasi akses Ny. M ke layanan PrEP sebagai perlindungan tambahan selama periode menuju supresi viral load suami atau jika ada pertimbangan lain. (5) Menekankan pentingnya penggunaan kondom secara konsisten dan benar sebagai metode barrier utama hingga tercapai viral load tidak terdeteksi selama minimal 6 bulan. (6) Merujuk pasangan ke klinik kesehatan reproduksi atau spesialis kandungan yang berpengalaman menangani pasangan serodiskordan untuk membahas opsi kehamilan aman (seperti sperm washing dan inseminasi intrauterin). (7) Menjadwalkan tes HIV berkala untuk Ny. M sesuai protokol.
Kondisi: Harga Diri Rendah Situasional pada Tn. A (Perasaan Bersalah dan Takut Ditolak)
Kode SDKI: D.0012
Deskripsi Singkat: Harga diri rendah situasional adalah perkembangan perasaan negatif terhadap diri sendiri sebagai respons terhadap suatu peristiwa atau situasi tertentu (dalam hal ini, diagnosis HIV dan dampaknya terhadap pasangan). Tn. A melaporkan perasaan bersalah (mungkin karena merasa telah membahayakan atau mengecewakan istri) dan takut ditolak (kekhawatiran akan ditinggalkan atau tidak diterima karena status HIV-nya). Perasaan ini dapat menghambat komunikasi terbuka dengan istri, memengaruhi kesehatan mental, dan berpotensi mengurangi motivasi untuk patuh berobat. Situasi ini diperberat oleh keinginan memiliki anak yang mungkin terasa terancam.
Kode SLKI: L.07016
Deskripsi : Meningkatnya harga diri. Tujuan keperawatan untuk Tn. A adalah: (1) Dapat mengungkapkan perasaan bersalah dan takutnya secara verbal kepada perawat atau konselor. (2) Menyatakan penerimaan terhadap kondisi dirinya (status HIV) sebagai bagian dari hidup yang dapat dikelola dengan pengobatan. (3) Menunjukkan perilaku proaktif dalam pengobatan (kepatuhan ARV) dan perlindungan pasangan sebagai bentuk tanggung jawab. (4) Melaporkan penurunan perasaan takut ditolak setelah melakukan komunikasi yang konstruktif dengan istrinya. (5) Berpartisipasi dalam perencanaan kehamilan aman bersama istri sebagai bentuk kontribusi positif dan harapan untuk masa depan.
Kode SIKI: I.05230
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan harga diri meliputi: (1) Pendekatan terapeutik dengan menerima kondisi klien tanpa syarat (unconditional positive regard). (2) Membantu Tn. A mengidentifikasi kekuatan dan sumber dukungan yang dimiliki (misalnya, istri yang masih mendampingi, akses pengobatan). (3) Memfasilitasi komunikasi antara Tn. A dan Ny. M dalam lingkungan yang aman untuk menyampaikan perasaan dan mendengarkan respons pasangan. (4) Memberikan reinforcement positif atas keputusannya untuk segera memulai ARV dan datang untuk konseling. (5) Menormalisasi perasaan yang dialami sebagai respons yang wajar, namun diarahkan pada penyelesaian yang konstruktif. (6) Mengedukasi bahwa dengan pengobatan yang baik, ia dapat hidup sehat, produktif, dan memiliki keturunan tanpa menularkan virus kepada pasangan dan anak (konsep U=U dan program PPTCT - Prevention of Parent-To-Child Transmission). (7) Mendorong keterlibatan dalam kelompok dukungan sebaya (ODHA) untuk berbagi pengalaman dan mengurangi perasaan terisolasi.
-
Article No. 25126 | 15 Apr 2026
Klinis : Pasangan suami istri Tn. A (34 tahun) dan Ny. M (30 tahun) datang ke klinik VCT untuk melakukan konseling. Hasil pemeriksaan menunjukkan Tn. A positif HIV (diagnosis 3 bulan lalu) sedangkan Ny. M negatif HIV, lama usia pernikahan 6 bulan dan belum memiliki anak Pasangan tersebut merencanakan kehamilan dalam 1 tahun ke depan. Tn. A sedang menjalani terapi ARV rutin sejak 2 bulan lalu dengan hasil viral load terakhir: 1.200 copies/mL (belum supresi). Dari hasil anamnesa didapat Ny. M merasa cemas tertular, Tn. A merasa bersalah dan takut ditolak dan mereka jarang menggunakan kondom karena ingin segera memiliki anak.ditemukan masalah keperawatan yaitu ansietas, kopong tidak efektif, risiko infeksi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0030
Deskripsi Singkat: Perasaan tidak nyaman atau ketakutan yang disertai dengan respons otonom (sumbernya sering tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan khawatir karena antisipasi bahaya. Ini adalah sinyal peringatan yang mengumumkan ancaman yang akan datang, memungkinkan individu untuk mengambil tindakan untuk menghadapi ancaman tersebut.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Perilaku ansietas menurun. Ditandai dengan: 1) Mengungkapkan perasaan ansietas menurun, 2) Mengungkapkan faktor penyebab ansietas, 3) Mengungkapkan strategi koping untuk mengatasi ansietas, 4) Melaporkan gejala ansietas menurun (seperti gelisah, jantung berdebar, sesak napas, tegang otot, sulit tidur, sulit konsentrasi), 5) Menggunakan strategi koping adaptif, 6) Menggunakan sumber dukungan sosial, 7) Melaporkan peningkatan kualitas tidur, 8) Melaporkan peningkatan nafsu makan, 9) Melaporkan peningkatan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, 10) Melaporkan peningkatan kualitas hidup.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen ansietas. Tindakan keperawatan meliputi: 1) Kaji tingkat ansietas, 2) Identifikasi faktor penyebab ansietas, 3) Dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan perasaan klien, 4) Ajarkan teknik relaksasi (napas dalam, relaksasi otot progresif, imajinasi terbimbing), 5) Bantu klien mengidentifikasi strategi koping yang digunakan, 6) Dorong klien untuk menggunakan strategi koping adaptif, 7) Libatkan keluarga atau orang terdekat dalam memberikan dukungan, 8) Rujuk ke profesional lain (psikolog, psikiater, konselor) jika diperlukan, 9) Berikan informasi tentang kondisi dan penatalaksanaannya untuk mengurangi ketidakpastian, 10) Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman, 11) Anjurkan aktivitas fisik ringan sesuai toleransi, 12) Anjurkan untuk menghindari konsumsi kafein dan stimulan lainnya.
Kondisi: Koping Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0014
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membentuk penilaian yang valid tentang stresor, pilihan respons yang tidak memadai, dan/atau ketidakmampuan untuk menggunakan sumber daya yang tersedia. Hal ini dapat terjadi pada individu, keluarga, atau komunitas.
Kode SLKI: L.07001
Deskripsi : Koping efektif. Ditandai dengan: 1) Mengungkapkan kesadaran terhadap kemampuan koping, 2) Mengidentifikasi stresor internal dan eksternal, 3) Mengidentifikasi sumber koping yang tersedia, 4) Menggunakan sumber koping yang tersedia, 5) Menggunakan strategi koping adaptif, 6) Mengungkapkan perasaan terkontrol, 7) Melaporkan penurunan perilaku maladaptif, 8) Melaporkan peningkatan kemampuan menyelesaikan masalah, 9) Melaporkan peningkatan kemampuan beradaptasi dengan perubahan, 10) Melaporkan peningkatan kualitas hidup.
Kode SIKI: I.07001
Deskripsi : Peningkatan koping. Tindakan keperawatan meliputi: 1) Kaji kemampuan koping klien dan keluarga, 2) Identifikasi stresor dan persepsi klien terhadap stresor, 3) Bantu klien mengidentifikasi kekuatan dan sumber dukungan yang dimiliki, 4) Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan, pikiran, dan kekhawatiran, 5) Bantu klien mengembangkan strategi penyelesaian masalah, 6) Ajarkan teknik relaksasi dan manajemen stres, 7) Libatkan keluarga dalam proses koping, 8) Berikan reinforcement positif terhadap upaya koping yang adaptif, 9) Bantu klien mengevaluasi efektivitas strategi koping yang digunakan, 10) Rujuk ke konselor atau support group jika diperlukan, 11) Fasilitasi komunikasi terbuka antara pasangan (Tn. A dan Ny. M) untuk membahas rasa bersalah, takut, dan rencana kehamilan.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0078
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi patogen, yang dapat mengancam kesehatan. Risiko ini terkait dengan adanya faktor risiko seperti pertahanan primer tidak adekuat (kerusakan kulit, penurunan mobilitas silia, perubahan pH sekresi, penurunan peristaltik), pertahanan sekunder tidak adekuat (penurunan hemoglobin, leukopenia, penekanan respons inflamasi), atau paparan lingkungan yang meningkatkan paparan patogen.
Kode SLKI: L.15002
Deskripsi : Risiko infeksi tidak terjadi. Ditandai dengan: 1) Tidak ada tanda dan gejala infeksi (demam, kemerahan, bengkak, nyeri, drainage purulen), 2) Hasil laboratorium dalam rentang normal (leukosit, LED), 3) Melaporkan pemahaman tentang faktor risiko infeksi, 4) Melaporkan pemahaman tentang cara pencegahan infeksi, 5) Mendemonstrasikan perilaku pencegahan infeksi, 6) Mempertahankan integritas kulit dan membran mukosa, 7) Mempertahankan status nutrisi yang adekuat, 8) Mendapatkan imunisasi sesuai kebutuhan, 9) Menghindari paparan sumber infeksi.
Kode SIKI: I.15001
Deskripsi : Pencegahan infeksi. Tindakan keperawatan meliputi: 1) Monitor tanda dan gejala infeksi, 2) Ajarkan dan tekankan pentingnya cuci tangan, 3) Lakukan tindakan aseptik dan antiseptik sesuai indikasi, 4) Ajarkan cara perawatan luka jika ada, 5) Anjurkan untuk menghindari kerumunan atau individu yang sakit, 6) Anjurkan untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan, 7) Anjurkan asupan nutrisi yang adekuat untuk meningkatkan sistem imun, 8) Pantau hasil laboratorium (hitung leukosit), 9) Berikan edukasi tentang pentingnya kepatuhan terapi ARV untuk mencapai supresi viral load sebagai upaya pencegahan penularan (Treatment as Prevention/TasP), 10) Berikan konseling pencegahan penularan pasangan (Pre-Exposure Prophylaxis/PrEP untuk Ny. M, penggunaan kondom yang konsisten, pemantauan viral load Tn. A, dan perencanaan kehamilan yang aman melalui program pencegahan penularan dari ibu ke anak/PPIA).